Tag Archives: kerja otak

Berpikir Kritis atau Berpikir Kreatif? Pilih Mana?

“Thinking is the hardest work there is, which is probably the reason so few engage in it” (Henry Ford)

Berpikir dalam KBBI didefinisikan sebagai menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, atau menimbang-nimbang dalam ingatan. Berpikir banyak macamnya, di antaranya memiliki makna yang saling bertolak belakang. Misalnya antara berpikir subjektif (menurut pandangan/ perasaan sendiri) dengan berpikir objektif (menurut keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi). Atau berpikir deduktif (menyimpulkan dari yang umum ke yang khusus) dengan berpikir induktif (menyimpulkan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlakukan secara umum). Berpikir realistik dengan berpikir autestik. Berpikir rasional dengan berpikir irrasional. Berpikir logis dengan berpikir emosional. Berpikir ilmiah dengan berpikir alamiah. Berpikir sistematis dengan berpikir acak. Berpikir analisis dengan berpikir sintesis. Lantas bagaimana dengan berpikir kritis? Apa yang menjadi lawannya?

Berpikir kritis adalah seni menganalisis gagasan berdasarkan penalaran logis. Ada proses analisis dan evaluasi yang menyertainya. Sikap tidak kritis bisa jadi muncul karena apatis, skeptis, atau karena taklid buta. Hanya saja berpikir apatis, skeptis, apalagi taklid buta seringkali tidak butuh benar-benar berpikir. Tidak perlu banyak pertimbangan, apalagi mengedepankan akal budi. Karenanya berpikir kritis jarang ‘dibenturkan’ dengan ketiga hal ini. Dalam berbagai literatur, ‘lawan’ dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif. Hal ini didasarkan pada karakteristiknya yang saling berseberangan. Berpikir kritis dicirikan sebagai berpikir analisis, konvergen, vertikal, fokus, dan objektif dengan mengoptimalkan otak kiri. Sementara berpikir kreatif memiliki karakteristik generatif, divergen, lateral, menyebar, dan subjektif dengan mengoptimalkan otak kanan. Lalu mana yang lebih baik? Berpikir kritis atau berpikir kreatif?

Berpikir kreatif adalah seni menghubungkan informasi menjadi gagasan baru. Gagasan spektakuler adalah buah dari berpikir kreatif. Bagi yang menggunakan referensi taksonomi Bloom, berpikir kreatif ini ada di level yang lebih tinggi dari berpikir kritis. Dimensi proses kognitif secara berurut dimulai dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (mengaplikasikan), analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi), hingga creating (membuat/ menciptakan). Berpikir kritis ada di level menganalisis dan mengevaluasi, sementara berpikir kreatif ada di level membuat dan menciptakan. Dapat dipahami bahwa mengkritisi sebuah karya (film, buku, dsb) akan jauh lebih mudah dibandingkan membuatnya. Lalu apakah artinya untuk dapat berpikir kreatif, seseorang harus mampu berpikir kritis terlebih dahulu? Mungkinkah berpikir kritis dan berpikir kreatif dapat dilakukan secara simultan?

Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Sebagaimana setiap manusia pasti memiliki belahan otak sebelah kiri maupun kanan, antara berpikir kritis dengan berpikir kreatif seharusnya tidak perlu didikotomikan. Keduanya ada di dimensi yang berbeda. Justru harus digunakan secara simultan. Misalnya dalam menulis sebuah buku, berpikir kreatif akan menghasilkan ide tulisan. Namun ide-ide tersebut harus ditata dalam sebuah outline atau gunung alur dengan berpikir kritis. Pemilihan diksi atau gaya bahasa lahir dari berpikir kreatif. Judul buku atau bab yang menarik pun hadir karena proses berpikir kreatif. Hanya saja buku yang rapi dengan proses editing yang baik membutuhkan sentuhan berpikir kritis. Review buku perlu berpikir kritis, sementara membuat buku baru perlu diawali dengan berpikir kreatif. Semakin tampak jelas perbedaannya kan? Atau justru kian tampak ‘simbiosis mutualisme’ antara keduanya?

Berpikir kritis dan kreatif adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menghasilkan gagasan program inovatif butuh berpikir kreatif, namun merencanakannya secara detail termasuk menguji kelayakan gagasan tersebut perlu proses berpikir kritis. Kelincahan dalam mengelola dinamika organisasi butuh berpikir kreatif, sementara melakukan improvement (perbaikan) perlu berpikir kritis. Untuk menghasilkan gagasan ideal yang dapat diimplementasikan dan terus dikembangkan, berpikir kritis dan kreatif keduanya perlu untuk dilakukan secara simultan. Dan simultan disini sangatlah realistis, bukan utopis. Contoh sederhananya, bagaimana judul dan setiap paragraf dalam tulisan ini diawali dengan kata ‘berpikir’ dan diakhiri dengan dua pertanyaan membutuhkan proses berpikir kritis sekaligus kreatif. Menarik bukan? Jadi, pilih mana, berpikir kritis atau berpikir kreatif?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 190-191)

Meneliti, Menelaah dengan Hati

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata riset atau penelitian? Mungkin tidak sedikit orang yang akan menjawab sesuatu hal yang sulit, rumit atau kompleks. Penelitian diidentikkan dengan serangkaian eksperimen di laboratorium lengkap dengan formula njimet yang hanya mampu dipahami oleh orang ‘aneh’. Pun demikian persepsi umum masyarakat tentang peneliti, yang terbayang adalah orang ber-IQ jenius, berkacamata tebal dengan kepala yang botak sebagian. Peneliti kemudian diidentikkan dengan orang yang gemar bekerja keras dalam kesendirian, tidak pandai bersosialisasi karena sahabatnya hanya buku, alat dan otak mereka sendiri.

Penelitian dianggap aktivitas kerja otak, sistematis namun kaku, jauh dari kerja hati. Tidak humanis. Dikotomi ini justru menjadi salah satu akar problematika penelitian. Alasan mengapa penelitian di Indonesia masih kurang secara kuantitas dan kualitas lebih didominasi oleh perkara hati, bukan keterbatasan kemampuan otak. Publikasi riset Indonesia di jurnal internasional yang hanya sekitar 4000 per tahun adalah perkara niat, bukan keterbatasan sumber daya, mengingat jumlah perguruan tinggi saja sekitar 3200 dengan 60 ribuan dosen. Minimnya jumlah paten per tahun atau jumlah jurnal yang terakreditasi internasional dan terindeks di Scopus misalnya, bukan masalah ketidakmampuan otak bangsa Indonesia untuk bersaing di kancah global, melainkan masalah mentalitas. Ketika penelitian tidak didasarkan pada panggilan hati, yang terjadi adalah formalitas yang berujung pada kejumudan dan justru berimbas menghambat produktifitas.

Anggaran penelitian Indonesia yang hanya 0.08% dari Produk Domestik Bruto (PDB) memang berdampak pada kerja peneliti, namun meneliti adalah menelaah dengan hati. Para peneliti dan penemu produktif nyatanya lebih banyak berupaya untuk terus menghasilkan sesuatu yang dapat menghasilkan nilai tambah, dibandingkan menghabiskan waktu mereka untuk mengeluh akan keterbatasan anggaran. Terus berkontribusi pun kurang dihargai adalah kerja hati. Kerja hati memang butuh apresiasi yang tidak hanya bicara dana, namun orientasinya adalah mencoba memberikan yang terbaik dan biarkan hukum kausalitas itu berjalan. Penghargaan akan sebuah karya unggul tentu hanya masalah waktu. Apresiasi akan muncul seiring dengan pembuktian, dan itu butuh kerja hati, bukan hanya kerja fisik dan otak.

Menghasilkan penelitian yang aplikatif dengan dunia industri dan kehidupan sehari-hari memang butuh kerja keras, namun meneliti adalah menelaah dengan hati. Banyaknya penelitian yang berjarak dengan implementasi dan akhirnya hanya menjadi tumpukan kertas di perpustakaan jelas memperlihatkan gap antara teori dengan praktik. Penelitian yang dilakukan hanya untuk prasyarat gelar akademik, tambahan poin untuk jenjang karir ataupun cuma sekedar untuk mendapatkan dana hibah penelitian adalah persoalan niat, perkara hati. Penelitian yang bersifat formalitas dan rutinitas hanya akan menjadi cinderamata usang, bukti tidak bergerak yang tidak pula bermanfaat. Keterlibatan hati akan mendorong relevansi penelitian yang dilakukan dengan kebutuhan, karena orientasinya adalah kebermanfaatan yang luas, bukan bagi diri sendiri. Butuh itikad baik untuk menghasilkan penelitian yang tepat guna, dan itu butuh kerja hati, bukan hanya kerja fisik dan otak.

Plagiarisme merupakan tantangan lain bagi dunia penelitian dan ketidaktersediaan pusat data penelitian memang membuat kasus plagiat sulit dikontrol, namun meneliti sejatinya adalah menelaah dengan hati. Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya, keanekaragaman sosial budaya, hingga kaya tema dan gagasan. Artinya, plagiarisme muncul tentu semestinya bukan karena kekurangan ide, tetapi persoalan mentalitas. Mentalitas ingin serba instan, pemalas dan kurang menghargai buah karya orang lain adalah permasalahan hati, bukan semata perkara otak. Bahkan otak picik seorang peneliti senior untuk mengklaim hasil karya peneliti junior sebagai karyanya misalnya, justru akan semakin melanggengkan budaya menjiplak ini. Dan menganggap wajar penuh pemakluman suatu pencurian karya orang lain akan kian memperparah tradisi plagiat ini. Membuat suatu karya yang unggul dan orisinil memang tidak mudah, butuh kerja hati, bukan hanya kerja fisik dan otak.

Penelitian itu sebenarnya mudah dan menyenangkan, tinggal bagaimana hati kita memposisikannya. Penelitian itu sesungguhnya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, tinggal bagaimana kita mampu memotretnya, mengolah gagasan segar secara runut untuk menghasilkan suatu karya yang aplikatif. Kerja otak –dan juga fisik—tentu sangat diperlukan, namun para peneliti besar melahirkan karya unggul sebagai sarana aktualisasi diri mereka. Dan aktualisasi diri adalah kerja hati. Ada kebesaran jiwa dan kejernihan budi yang menyertai, sehingga penelitian yang sekiranya menguras banyak energi justru menjadi hiburan yang menggembirakan. Semakin kompleks kajian dan analisa suatu penelitian, kian menarik dan menambah semangat.

Dunia pendidikan sudah banyak mengajarkan kita bahwa dominasi pemenuhan aspek intelektual di atas aspek mental, emosional dan spiritual justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Testimoni orang-orang sukses juga banyak mengungkapkan bahwa kerja cerdas dan kerja keras saja tidak cukup tanpa kerja ikhlas. Untuk mengurai permasalahan penelitian –dan penelitian– di negeri ini tidak cukup hanya memperhatikan ukuran-ukuran tangible yang dapat dilihat, ada faktor intangible yang ternyata memberi dampak besar. Niat dan komitmen yang tidak dapat dilihat akan membawa pengaruh dahsyat terhadap aktivitas perbaikan. Mari kita terus berkarya, mempersiapkan hati dan pikiran dengan penuh kesungguhan agar segala energi yang tercurah berbuah berkah. Memberi kebermanfaatan yang terus mengalir jauh melampaui usia kita…