Tag Archives: kesabaran

Dikira Enak Jadi Guru? (2/2)

Selepas istirahat, waktunya pelajaran matematika yang paling jadi momok menakutkan buat siswa. Bu Guru menyadari bahwa ia harus membuat kelasnya seaktif dan semenyenangkan mungkin. Bu Guru memulai kelas dengan bertanya kepada Sandi, “Sandi, apa yang sudah kita pelajari di pekan lalu?”. “Plis lah Bu, yang udah lalu ga usah diingat-ingat lagi, saya mau move on nih…”, jawab Sandi seraya menunjukkan mimik aneh diiringi tawa murid yang lain. “Sudah! Tenang! Hari ini kita lanjutkan materi tentang sudut segitiga…”, ujar Bu Guru sambil membawa kapur dan penghapus menuju papan tulis. Bu Guru menghapus tulisan dari pelajaran sebelumnya kemudian menggambar sebuah segitiga sama sisi.

“Baik anak-anak, ini adalah segitiga ABC. Segitiga sama sisi yang panjang ketiga sisinya sama”, jelas Bu Guru menunjuk segitiga yang digambarnya. “Besar sudut A adalah 60 dera…?”, tanya Bu Guru. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Besar sudut B adalah 60 dera…?”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Dan besar sudut C juga 60 dera…?”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Jadi, ketiga sudut segitiga sama sisi sama be…”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak sambil tertawa. “Haduh, yang benar ketiga sudutnya sama besar!!”, teriak Bu Guru sambil memukulkan penghapus di papan tulis agar para murid terdiam. “Kalian ini kelas berapa sih? Kok pada ga bisa serius. Ibu kasih soal yang mudah biar tahu kalian fokus atau tidak”, lanjutnya. Para murid pun (seolah-olah) menatapnya serius. “Pertanyaannya, jika tante kalian memberi 5 permen kepada kalian, kemudian di tambah lagi dengan 7 permen, ditambah lagi 12 permen, ditambah lagi 19 permen maka jawabannya adalah…?”, tanya Bu Guru berharap muridnya mau sedikit berpikir. “Terima kasih, Tanteee!!”, jawab murid-murid serentak sambil tergelak. Bu Guru hanya menepuk jidatnya, tak sadar masih memegang penghapus, sehingga jidatnya jadi putih. Tawa para siswa pun kian membahana.

Pelajaran Matematika pun berjalan dengan tidak kondusif, mungkin para siswa kekenyangan jajan pas jam istirahat tadi. Laper galak, kenyang bego. Melihat murid-murid malah asyik ngobrol atau sibuk sendiri, Bu Guru pun marah,“Kalian ini pada ngobrol aja! Apa kalian tidak ada yang mau mendengarkan pelajaran?”. ”Tidak, Buuu…”, jawab serentak murid-murid menambah kesal. “Dasar nakal! Kalau begitu kenapa kalian datang ke sekolah?”, tanya Bu Guru. “Biar pintar, Buuu…”, jawab para murid serentak. “Baik, kalau begitu siapa yang masih merasa bodoh silakan berdiri, nanti biar Ibu ajari!”, tegas Bu Guru. Murid-murid terdiam, tidak ada yang bersuara, tidak ada yang berdiri. “Hmm, jadi sudah merasa pintar semua ya? Jadi ga ada yang mau belajar?”, sindir Bu Guru. Tiba-tiba Lutfi berdiri. “Bagus Lutfi, kamu masih merasa bodoh dan perlu belajar ya? Cuma kamu sendiri?”, tanya Bu Guru. “Tidak, Bu. Saya cuma kasihan..”, jawab Lutfi. “Hah? Kasihan kenapa?”, tanya Bu Guru. “Kasihan lihat Ibu berdiri sendirian”, jawab Lutfi sambil kembali duduk. Tampak para murid cekikikan menahan tawa sementara Bu Guru sudah tidak bisa berkata-kata. Untungnya jam penanda pergantian pelajaran tiba-tiba berbunyi.

Jam pelajaran terakhir adalah IPS. Cukup membosankan karena belajar sejarah banyak hapalannya, apalagi ini waktu-waktu kritis menjelang pulang. “Anak-anak, kemerdekaan RI diperoleh dengan perjuangan keras para pahlawan yang rela berkorban jiwa dan raga. Namun saat ini kita harus mengupayakan perdamaian dan menghindari peperangan. Kenapa kira-kira?”, pancing Bu Guru agar para muridnya berpartisipasi aktif. “Saya, Bu!”, Galih mengacungkan tangannya. “Agar tidak bertambah daftar para pahlawan yang harus kami hapal, Bu!”, lanjutnya. Seisi kelas pun memberikan koor setuju. Bu Guru hanya geleng-geleng kepala seraya mengulek-ulek kapur yang dipegangnya.

Pelajaran pun dilanjutkan. “Siapa saja para pahlawan revolusi?”, tanya Bu Guru di kesempatan lain. “Parah nih Ibu, pahlawan revolusi siapa aja ga tau…”, jawab Alan. “Dengar ya, Bu. Kami tuh datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk ditanya-tanyain kayak gini. Bikin pusing saja…”, timpal Lutfi. “Bu, kalau banyak nanya, mendingan Ibu jadi polisi aja…”, tambah Galih. Aarrrgghh… teriak Bu Guru sambil mencoret-coret buku presensi kehadiran siswa. Bu Guru merasa menyerah, jam pelajaran juga akan berakhir. “Baik, jika kalian sudah ingin pulang. Bagi yang bisa menjawab boleh pulang lebih dulu…”, ucapnya lemah. “Pertanyaannya, dimana Jendral Soedirman dimakamkan?”, tanya Bu Guru. “Saya, Bu!”, beberapa siswa mengacungkan tangannya dengan penuh semangat. “Ya, kamu Heri”, ucap Bu Guru kepada Heri yang cukup pendiam dan tidak terlihat nakal. “Di kuburan, Bu”, jawab Heri polos. Anak-anak tertawa, Bu Guru semakin lemas. “Lho, benar kan? Dimakamkan di kuburan? Emangnya dimana?”, ucap Heri tampak kebingungan. Tiba-tiba Asep mengangkat tangannya dan berkata, “Bu Guru, saya boleh tanya?”. “Silakan…”, jawab Bu Guru singkat. “Bicara dimana dimakamkan, semua manusia pasti mati kan, Bu?”, tanyanya. “Betul”, jawabnya singkat dan serius. “Pertanyaannya, kalau Bu Guru rencananya kapan?”, tanyanya lagi disertai gelak tawa seisi kelas. Bu Guru yang gregetan guma bisa gigit-gigit kalender di mejanya.

* * *

Alhamdulillah, selesai juga pembelajaran untuk hari ini. Lelah fisik ini tidak seberapa dibandingkan lelah hati dan pikiran. Aku tidak boleh mengeluh, masih banyak guru-guru yang bernasib lebih buruk dari pada aku. Masih mending murid-muridku masih aktif menanggapi pertanyaanku, se-ngaco apapun jawabannya, itu tandanya mereka masih memperhatikanku. Dengan atau tanpa mereka sadari. Ada temanku sesama guru yang benar-benar diacuhkan sepanjang pelajaran layaknya berbicara dengan tembok. Ada juga rekanku yang lain yang lelah diintervensi oleh kepala sekolah dan para wali murid dalam men-treatment peserta didiknya. Temanku di salah satu sekolah elit malah dibentak muridnya yang berkata, “Ibu kan ngajar disini kami yang bayar!”. Sedih. Bahkan ada salah seorang rekanku yang dilecehkan secara fisik dan verbal oleh muridnya. Entah apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kewibawaan pendidik dan pendidikan. Yang pasti kesabaran dan keikhlashan ini harus terus dirawat. Karena pengabdian butuh keikhlashan. Karena mendidik memang butuh kesabaran.

*humor dikompilasi dari berbagai sumber

Dikira Enak Jadi Guru? (1/2)

Memang ironis nasib guru di Indonesia. Setelah masa ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dimana guru digaji ala kadarnya –dan sekarang tidak sedikit guru honorer yang masih merasakannya—, sekarang masuk zaman terbolak-balik dimana guru harus hormat pada muridnya. Guru yang berani menghukum murid siap-siap saja kena sanksi, dipecat, dipukuli orang tua murid, atau bahkan dipidanakan. Padahal reward dan punishment adalah hal yang wajar –bahkan perlu—ada dalam dunia pendidikan. Bahasan serius mengenai hukuman dari guru ke murid (dan sebaliknya) ini mungkin bisa dieksplorasi di lain waktu. Tulisan ini hanyalah tulisan fiksi ringan yang sedikit banyak coba menggambarkan betapa seorang guru butuh kesabaran ekstra dalam mendidik murid-muridnya, apalagi di era sekarang dimana murid semakin berani membantah gurunya.

* * *

Bel masuk baru saja berbunyi, siswa-siswi di SDN 1 Sukahumor bergegas memasuki kelas. Seorang guru honorer yang baru beberapa bulan bertugas di sekolah ini tampak masuk ke ruang kelasnya. Baru saja ia lewat di depan kelas, belum lagi sempat duduk di kursinya, salah seorang muridnya yang bernama Sandi menyapanya, “Pagi, Bu! Bu Guru kelihatan cantik banget hari ini…”. Bu Guru pun tersenyum sambil tersipu-sipu berkata, “Ah… Masak sih??!”. “Benar Bu, liat aja tuh gambar garudanya aja sampe nengok pas Ibu lewat…”, jawab Sanji. Seisi kelas pun tertawa tanpa memerhatikan wajah guru mereka yang semakin memerah.

Presensi kehadiran selesai dibacakan, tinggal Zahra yang belum datang, sama seperti hari-hari sebelumnya. “Asep, mengapa kamu kemarin tidak masuk sekolah?”, tanya Bu Guru. “Saya sakit, Bu”, jawab Asep. “Lalu kenapa kamu tidak mengirim surat?”, tanyanya lagi. “Habisnya, percuma, Bu”, jawab Asep. “Percuma bagaimana?”, Bu Guru tampak tidak paham. “Ya, karena setiap saya mengirim surat, Bu Guru tidak pernah membalas surat saya…”, jawab Asep sambil cengengesan. Geerrr… seisi kelaspun tertawa sementara Bu Guru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelas mendadak terdiam ketika Zahra datang dan masuk kelas. Bu Guru yang mood-nya sudah jelek pun bertanya, “Zahra, kamu itu setiap hari kerjaannya terlambat. Sebenarnya kamu tuh niat sekolah nggak sih?. “Lho, tapi kan, Bu. Katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar…”, jawabnya enteng sambil berlalu untuk duduk di kursinya. Bu Guru hanya bisa menghela nafas.

Jam pertama adalah pelajaran IPA. Siswa-siswi di sekolah ini sangat aktif dan sulit diajak serius sepanjang jam pelajaran. Menjelang akhir jam pelajaran Bu Guru bertanya, “Sebutkan binatang yang bisa hidup di dua alam!”. Para siswa berebut mengacungkan tangannya. “Coba, Nami”, ujar Bu Guru sambil menunjuk dengan pulpen yang dipegangnya. “Katak, Bu! Bisa hidup di darat dan di air”, jawab Nami. “Baguuss. Coba kamu Lutfi sebutkan contoh binatang lainnya…”, ujar Bu Guru lagi sambil menggigit pulpennya. “Babi ngepet, Bu! Bisa hidup di alam nyata dan alam gaib…”, jawab Lutfi diikuti riuh tawa seisi kelas. Sementara Bu Guru hampir tersedak pulpen yang tadi digigitnya.

Tak mau kalah, Bu Guru lanjutkan bertanya, “Sekarang sebutkan binatang yang alat kelaminnya ada di punggung”. Seisi kelas sejenak terdiam sampai Sandi nyeletuk, “Hahaha, kalo pipis muncratnya ke udara dong, Bu…”. Kelas pun kembali ramai, Lutfi yang merasa Bu Guru coba membalasnya pun berkata, “Ngaco nih Ibu, mana ada binatang yang kelaminnya di punggung”. “Ada kok”, jawab Bu Guru sambil tersenyum misterius. “Apaan, Bu?”, tanya kepo murid-murid. “Kuda lumping!”, jawab Bu Guru. Kelas seketika hening, loading, berpikir. Tiba-tiba bel tanda ganti jam pelajaran berbunyi. Ternyata humor Bu Guru ketinggian. (Anda para pembaca mengerti kah? ^_^)

Jam pelajaran kedua adalah Bahasa Inggris, ada PR pekan lalu yang harusnya diperiksa. Tiba-tiba saja Galih berseru, “Maaf Bu, beberapa hari lalu rumah saya kemalingan”. “Tapi kamu gak kenapa-kenapa, kan?”, tanya Bu Guru dengan penuh selidik. “Saya sih ga apa-apa, Bu. Tapi buku PR-nya hilang…”, jawab Galih. Kelas pun riuh, Bu Guru hanya menepok jidatnya. Tiba-tiba Alan turut berseru, “Bu Guru, apakah boleh seseorang dihukum karena sesuatu yang belum diperbuatnya?”. “Tentu saja tidak, jika belum melakukan ya belum boleh dihukum”, jawab Bu Guru mencoba untuk sabar. “Syukurlah, berarti saya tidak boleh dihukum karena saya belum mengerjakan PR… hehehe…”, ujar Alan. Kelas kembali ramai sementara Bu Guru mulai mencakar-cakar mejanya. Lutfi yang tertawa paling keras ditanya oleh Bu Guru, “Tertawa saja. Mana PR kamu? Kalau tidak dikerjakan nanti kamu dihukum”. “Baik, Bu. Tapi kalo saya ngerjain, Ibu yang saya hukum ya?”, jawab Lutfi. Arrgghh… Bu Guru semakin emosi sambil gigit-gigit meja. Kelas pun kian bergemuruh.

Pelajaran tentang kosakata Bahasa Inggris berjalan ramai. Bu Guru mengetes para muridnya dengan bertanya, “Anak-anak, apa bahasa Inggris-nya ‘hari’??”. “Day, Bu.”, jawab murid serentak. “Baguuss… sekarang apa bahasa Inggrisnya seminggu??”, tanya kembali Bu Guru. “Day day day day day day day, Bu…”, jawab murid serentak yang membuat Bu Guru tersentak. Menyadari tanya jawab bisa dipelesetin, Bu Guru pun mengubah metodenya. Ia mulai dengan memberi penjelasan singkat. “Work artinya kerja, kalau working artinya bekerja, paham anak-anak??”, jelasnya. “Paham, Bu.”, jawab murid serentak. “Baik, sekarang silakan kalian cari kata lain, mulai dari kamu Eko”, perintahnya sambil menunjuk Eko dengan penggaris. Eko menjawab, “Sing artinya nyanyi, jadi singing artinya bernyanyi”. “Pintar, sekarang kamu Narto”, ujarnya seraya menunjuk Narto. “Hmm, song artinya lagu, jadi kalo songong artinya belagu”, jawab Narto dengan wajah polosnya. Aarrggh… penggaris yang dipegangnya pun remuk redam. Kelaspun ramai sampai kemudian Lutfi bertanya, “Bu, kalo bahasa Inggris tomorrow tuh artinya apa ya?”. “Besok”, jawab Bu Guru bete. “Yah, Ibu pelit. Cuma nanya gitu doang aja jawabannya mesti nunggu besok”, protes Lutfi sambil tersenyum senang. Bu Guru pun refleks melempar penggaris rusaknya ke Lutfi yang malahan melet. Bel penanda waktu istirahat berbunyi, seketika anak-anak pun bergegas keluar untuk istirahat.

(to be continued)

Syukur dan Sabar dalam Berumah Tangga

Pada suatu hari, Imran bin Haththan menemui dan menatap istrinya. Secara fisik, Imran adalah laki-laki buruk rupa dan bertubuh pendek. Sedangkan istrinya cantik jelita dan tinggi semampai. Semakin lama dipandang, sang istri kian terlihat cantik di mata Imran. Merasa dipandangi terus-menerus, istri Imran pun bertanya, “Ada apa dengan dirimu?”. Imran menjawab, “Segala puji bagi Allah. Demi Allah, kamu perempuan yang cantik.” Sang istri kemudian berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya saya dan kamu akan masuk surga.” Imran pun bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?”. Istrinya menjawab, “Sebab, kamu telah dianugerahi istri seperti aku, dan engkau bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan suami seperti kamu, dan aku bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur ada di dalam surga.

Kisah tersebut dengan berbagai versinya kerap disampaikan sebatas humor mengenai pasangan ‘Beauty and the beast’. Padahal jika diselami maknanya lebih dalam, syukur dan sabar merupakan hal utama dalam berumah tangga. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa penyebab terbesar perceraian adalah masalah finansial, kemudian perselingkuhan, baru faktor-faktor lainnya termasuk KDRT, masalah anak dan keluarga, ataupun karena perbedaan prinsip. Jika perselingkuhan erat kaitannya dengan iman serta kesetiaan (dan biasanya hanya merupakan dampak bukan akar masalah); masalah keuangan (dan berbagai faktor penyebab perceraian lainnya) lebih dekat dengan manajemen syukur dan sabar.

Tanpa bermaksud mendikotomikan, syukur memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan sabar. Karenanya dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah SWT mengungkapkan betapa sedikit manusia yang pandai bersyukur. Karenanya ketika Aisyah r.a. bertanya mengapa Rasulullah SAW shalat sampai sebegitunya padahal dosa beliau sudah pasti diampuni, Rasulullah SAW hanya menjawab, “Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Padahal tetap beribadah hingga kaki bengkak-bengkak adalah wujud kesabaran, namun syukurlah yang menjadi tujuan. Misi sebagai hamba dijalani dengan bersyukur, sementara misi sebagai khalifah dihadapi dengan bersabar. Dimensi syukur lebih abstrak, bahkan kita perlu bersyukur atas karunia mampu bersyukur.

Problematika berumah tangga biasa dimulai dari keluhan-keluhan yang muncul diikuti dengan sikap suka membandingkan dengan nikmat yang diperoleh orang lain. Bukti nyata terkikisnya rasa syukur dan sabar. Rasa syukur untuk bisa bersabar dan kesabaran untuk terus bersyukur. Pernikahan biasanya diawali dengan kesyukuran, kecuali dalam beberapa kasus misalnya kawin paksa atau married by accident. Bahtera rumah tangga yang mengarungi samudera kehidupan tentu tidak terlepas dari hujan badai dan ujian. Disinilah kesabaran dibutuhkan. Sabar adalah sikap aktif untuk mengatasi permasalahan dengan penuh kesungguhan. Kerja keras tanpa batas.

Bersabar itu sulit, namun bersyukur lebih rumit dan kerap dilupakan. Kala ujian datang menghadang, manusia sering alpa akan segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk lain. Orang sakit mungkin ingat akan nikmat sehat, namun lupa bahwa adanya keluarga yang menemani juga merupakan nikmat. Ketika masalah finansial menerpa bahtera rumah tangga, suami istri tentu tidak tinggal diam dan bekerja keras. Itu adalah kesabaran. Namun tanpa kesyukuran, kesabaran tersebut biasanya tak mampu bertahan. Suami istri seakan lupa nikmat ketika mereka baru menapaki mahligai pernikahan, kebahagiaan dikaruniai keluarga yang mendukung dan anak yang terlahir sempurna, termasuk nikmat keharmonisan rumah tangga yang pernah dirasakan. Toh rezeki tidak harus berupa uang.

Ketika kesyukuran tiada, yang tersisa adalah sikap emosional dan kesombongan. Sebab rasa syukur ditandai dengan ketenangan dan berbagi. Dan saat kesabaran juga terkikis, yang muncul adalah ego dan menyalahkan pihak lain. Sebab kesabaran menghadirkan sikap solutif dan mau bekerja sama. Bisa dibayangkan neraka rumah tangga tanpa kesyukuran dan kesabaran. Dalam beberapa hadits yang menyampaikan bahwa penghuni neraka didominasi oleh wanita, Rasulullah SAW mengemukakan penyebabnya adalah karena para wanita banyak melaknat/ mengeluh dan durhaka pada suaminya. Mengingkari banyak kebaikan pada suaminya ketika menemukan suatu hal yang tidak disukainya. “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i).

Jika istri perlu lebih banyak bersyukur untuk mengikis sikap gengsi dan ketidakstabilan emosinya, suami perlu lebih banyak bersabar untuk meruntuhkan egonya. Laki-laki memang pemimpin dalam rumah tangga, namun mengedepankan statement tersebut bukan solusi dalam mengatasi problematika rumah tangga. Sebab istri perlu dihargai sebagai tulang rusuk bukan alas kaki. “Tulang rusuk yang bengkok”, kata Rasulullah SAW. Harus bersabar untuk meluruskannya karena akan patah jika dipaksa. Bukan hanya bersabar untuk tidak menyakiti, tetapi juga bersabar atas berbagai sikap istri yang kadang emosional, moody, suka menuntut, kekanak-kanakan dan kurang bijaksana. “…Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Kesyukuran dan kesabaran ini harus terinternalisasi dalam nurani dan pikiran dan terimplementasi dalam perbuatan. Mulai dari hal yang sederhana misalnya suami yang biasa meminta maaf pun tidak salah dan istri yang berterima kasih atas pemberian sekecil apapun. Kesyukuran pasti akan menambah nikmat. Sementara kesabaran akan mendatangkan solusi atas berbagai permasalahan dari arah yang tidak terduga. Bahtera rumah tangga akan kokoh dengan kesabaran, dan akan semakin indah dengan kesyukuran. Semoga kita –dan pasangan hidup kita– menjadi hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan khalifah-khalifah di muka bumi yang teguh besabar.

“Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Quote Ranah 3 Warna

Sudah cukup lama berselang, tulisan baru sepertinya belum kunjung muncul. Perubahan status seharusnyanya tidak bisa jadi alasan untuk kurang produktif menulis, toh blog pendamping hidupku bulan ini saja sudah ada 5 postingan baru. Kayaknya harus ke “Rumah Sakit Malas” nih seperti Alif dan Togar dalam trilogi ‘Ranah 3 Warna’. Berbicara tentang buku karya Ahmad Fuadi tersebut, berikut adalah beberapa quote yang sepertinya menarik untuk dibagi. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

#1 Bersabar dan ikhlashlah dalam setiap langkah perbuatan. Terus – meneruslah berbuat baik ketika di kampung dan di rantau. Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bum dan di atas bumi. Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir. Sunguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai. Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu. Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda. Singsingkan lengan baju dan besungguh – sungguhlah menggapai impian. Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan. Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan, karena debat kusir adalah pangkal keburukan.

#2 Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amilu. Berusaha di atas rata – rata orang lain.

#3 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

#4 Sungguh do’a itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita.

#5 Menuntut ilmu itu perlu banyak hal, termasuk tamak dengan ilmu, waktu yang panjang dan menghormati guru.

#6 Aku baru saja kedatangan tamu. Dia datang sendirian mengetuk – ngetuk pintu hidup. Kursi yang didudukinya masih hangat dan desir angin ketika dia lewat masih mengapung di udara… Tamu yang tidak ada seorang pun yang kuasa menolaknya. Tamu yang membuat semua jantung, hati dan pandangan mata seorang raja diraja pun goyah dan bertekuk lutut. Tamu yang ditakuti umat mansia sepanjang masa. Tamu yang mengisap segenap udara kehidupan. Tamu yang baru berlalu dari rumahku itu bergelar sendu : kematian.

#7 Berjalanlah sampai batas. Berlayarlah sampai pulau.

#8 Latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti.

#9 Idza shadaqul azmu wadaha sabil. Kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.

#10 Sebuah sya’ir Arab mengatakan, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesabaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar.

#11 Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelu sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kososng yang ada hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Tuhan telah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.

#12 Apapun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.

#13 Janganlah putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita – cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufik-Nya. Maka berbuatlah, berpkirlah dan bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa.

#14 Man jadda wajada : siapa yang bersungguh – sungguh akan sukses, man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung, man sara ‘ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

#15 Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapapun kuatnya badak itu, lama – lama dia akan pening dan kelelahan. Bahkan culanya bisa patah. Ternyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang dinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tetapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan sebuah keikhlashan. Perjuanagn tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlashan untuk mendapat tujuan yang diinginkan.

#16 Lan tarji’ ayyamulatil madhat. Tak akan kembali hari – hari yang telah berlalu.

#17 Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang – kadang perlu berpisah untuk menghargai pertemanan ini. Sekali – kali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.

#18 Otak yang biasa – biasa saja selalu bisa diperkuat dengan ilmu dan pengalaman. Usaha yang sungguh – sungguh dan sabar akan mengalahkan usaha yang biasa – biasa saja. Kalau bersungguh – sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal. Kombinasi sungguh – sungguh dan sabar adalah keberhasilan. Kombinasi man jadda wajada dan man shabara zhafira adalah kesuksesan.

#19 Semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Punya budaya literasi. Tanpa keduanya mereka punah dimakan zaman.

#20 Suka dan cinta datang dari Allah. Suka boleh saja, tapi jangan sampai kalian berduaan, karena banyak mudharatnya. Nanti kalau berdua – duaan, ada makhluk ketiga yang diam – diam ada di antara kalian. Dia adalah setan yang membisikkan berbagai hal buruk yang bisa membuat kalian terbawa arus dan melanggar aturan agama. Jadi berteman boleh saja, tapi jangan berpacaran. Kalu nanti tiba masanya, umur kalian cukup dan kemampuan ada, barulah kalian berpasang – pasangan menjadi sebuah keluarga, melalui pernikahan. Percayalah, sesungguhnya itu lebih baik dan aman buat kalian semua.

#21 Tapi sedekat apapun ‘hampir’ itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

#22 Akan tiba masa kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

#23 Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

#24 Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya, laut bada ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?

#25 Antara sungguh – sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentmeter, tetapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun, Jarak antara sungguh – sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan – akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do’a dan sabar yang berlebih – lebih.

#26 Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis – habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh – sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya, ketika ia lihat ternyata itu bukan biji biasa melainkan batu permata yang begitu berharga. Ya, kontestan terakhir memenangkan sayembara dan memperoleh sesuatu yang begitu berharga yang tidak semua orang mampu memilikinya.

* * *

Semuanya dimulai dari impian. Tidak semua orang berani memiliki impian karena tidak yakin impiannya dapat terwujud, karena tidak percaya dirinya memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan impiannya. Padahal pemikiran besar lah yang dapat mewujudkan karya besar. Impian yang tinggi lah yang akan memotivasi dan terus meningkatkan kemampuan. Dan orang – orang hebat takkan memilih untuk mengubur mimpinya atau cukup puas hanya menjadi penonton. Penonton yang hanya meminta orang lain untuk bergerak, puas mencemooh atas kegagalan dan puas bertepuk tangan atas keberhasilan. Bukankah kesuksesan hanya dapat dimulai oleh orang – orang yang berani?

Dari orang – orang yang berani untuk mencoba meraih impian, ada yang gagal karena ketidaktahuannya tentang bagaimana cara untuk meraih impian, ada yang terhambat geraknya karena keterpaksaan. Biar bagaimanapun ilmu dan keikhlashan menjadi modal penting dalam meraih mimpi. Sekedar mempunyai mimpi tanpa upaya untuk meraihnyapun takkan berbuah keberhasilan. Untuk meraih mimpi, butuh bekal perjuangan yang cukup. Sebagian bekal mungkin dapat dikumpulkan sambil jalan, sebagian lagi harus dipersiapkan dari awal, termasuk kesiapan mental ataupun kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tanpanya, tampaknya harus berulang kali naik – turun untuk menggapai impian, itupun jika jiwa pembelajar dimiliki.

Sebagian lain orang gagal meraih mimpi karena takut ‘jatuh’ dan akhirnya memilih untuk ‘turun’. Ada pula yang gagal meraih mimpi karena tidak tahan terhadap ujian – ujian selama perjalanan. Kesabaran mutlak dibutuhkan untuk meraih mimpi. Ada pula yang gagal karena tidak cukup kuat energi dan keyakinannya untuk meraih mimpi. Tidak cukup tepat strateginya dan tidak cukup keras usahanya. Yang paling menyedihkan adalah orang yang gagal meraih mimpi karena tertipu oleh tujuan – tujuan semu lainnya. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, perjuangannya pun akan sia – sia. Impian besar hanya dapat diraih dengan keteguhan dan keistiqomahan. Istirahat sejenak tetap diperlukan namun tidak boleh sampai melenakan.

Menggapai impian memang tidak mudah, butuh keberanian, ilmu, keikhlashan, kesabaran, kesungguhan dan keikhlashan. Memulai mengejar impian juga sangat berat, tidak kalah berat dari menghadapi berbagai macam gangguan dan ujian selama menjalani medan perjuangan menuju impian. Fisik dan jiwa harus siap menahan luka. Pikiran harus tetap jernih menghadapi berbagai rongrongan. Dan bekerja sama tentunya akan mempermudah menggapai impian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah bermuara segala urusan. Dan impian itu hakikatnya ada untuk diwujudkan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Teruntuk saudara/i ku yang tengah merajut mimpi, tetaplah bermimpi dan berupaya untuk meraihnya…