Tag Archives: kesungguhan

Bismillah… Belajar Menulis Lagi…

Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. Medan berbuat tidak semudah medan berbicara. Medan jihad tidak semudah medan bertindak. Dan medan jihad yang benar itu tidak semudah medan jihad yang keliru. Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benaknya mampu diucapkan dengan lisan. Betapa banyak orang yang dapat berbicara namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan dari yang sedikit itu banyak diantaranya yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad.” (Hasan Al Banna)

Mungkin tak banyak yang menyadari, dua hari terakhir website ini sempat suspend. Kendala teknisnya memang mudah teratasi, namun sebagai bahan refleksi sepertinya ini pengingatan bahwa sudah lebih dua bulan lamanya website ini tidak diupdate. Alasan klasik kesibukan atau fokus beribadah Ramadhan bisa saja menjadi dalih, namun ketidakkonsistenan semangat dalam menulis sejatinya menjadi faktor utama. Waktu masih bisa diupayakan, apalagi ide tulisan sungguh tidak kekurangan. Permasalahannya tinggal kesungguhan. Ya, medan menulis memang tidak semudah medan berkhayal. Tidak semua lintasan pikiran serta merta bisa menjadi tulisan yang dapat dinikmati banyak orang.

Medan berbicara dengan medan menulis barangkali punya beban yang relatif tergantung orangnya. Ada yang pandai berbicara namun kesulitan untuk merangkai apa yang disampaikannya dalam bentuk tulisan yang layak dibaca. Ada juga yang kurang cakap menyampaikan gagasannya secara lisan, namun buah karya tulisannya bisa jadi sangat tajam. Ada juga yang menguasai keduanya. Bagaimanapun, keduanya lebih sulit dari sekadar berpikir, apalagi berangan. Dan keduanya butuh dilatih. Buat penulis sendiri, medan menulis tidaklah semudah medan berbicara. Menyampaikan secara lisan apa yang terlintas di pikiran jauh lebih mudah dibandingkan menuliskannya. Sebab dalam menulis ada aktivitas membaca, berbicara (setidaknya dalam hati), dan menggerakkan pena atau mengetik di tuts keyboard. Lebih kompleks. Lebih mendekati medan bertindak.

Tidak semua lintasan pikiran perlu dipikirkan, dan tidak semua yang dipikirkan perlu untuk disampaikan, baik secara lisan ataupun tulisan. Ada jarak nyata antara berpikir, berbicara dan menulis. Sementara ada yang berbicara dan menulis tanpa berpikir, di sisi lain ada yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Berbicara setelah berpikir tentu lebih bijak, pun demikian dengan menulis setelah berpikir. Kesan bijak tentu bukan hal yang utama, namun membayangkan betapa mengerikannya lisan dan tulisan yang keluar tanpa pemikiran panjang tentu perlu menjadi pertimbangan. Ada kesan negatif bagi mereka yang mudah mengumbar lisan dan tulisannya tanpa ilmu, tanpa malu, dan tanpa manfaat. Padahal akhlak kita bisa tercermin dari apa yang kita sampaikan, baik lisan maupun tulisan.

Lantas apakah diam benar menjadi pilihan cerdas? Tidak selalu. Jika tidak berpikir mencerminkan kebodohan, tidak menyampaikan sama saja mencerminkan ketidakpedulian. Karenanya tabligh (menyampaikan) menjadi salah satu sifat wajib bagi Rasul. Diam lebih baik daripada berbicara atau menulis yang tidak baik, namun berbicara dan menulis yang baik tentu lebih utama dibandingkan sekadar terdiam. Bisa jadi ada jiwa yang tercerahkan dan tercerahkan. Dan tulisan, punya efek yang lebih panjang daripada tulisan. Menjadi bukti otentik yang melintas ruang dan waktu. Dampak kebaikan ataupun keburukannya bisa lebih luas, dan lebih abadi.

Ketika kehilangan gagasan menulis, banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan membaca, berdiskusi, atau pergi mencari inspirasi. Namun sejatinya gagasan itu ada dimana-mana. Apa yang kita pikirkan atau apa yang kita bicarakan bisa diolah menjadi sebuah tulisan. Bagian tersulit dalam menghasilkan tulisan adalah menuliskannya. Tak heran tips utama untuk bisa menulis adalah menulis. Medan bertindak yang tak semudah medan berkhayal ataupun berbicara. Karenanya cara paling ampuh untuk memunculkan motivasi menulis adalah dengan belajar menulis. Tak perlu dipusingkan dengan berbagai teori dan pemikiran. Cukup dengan menulis. Seraya memahami mengapa harus menulis. Sambil memperhatikan apa yang ditulis. Dan hasilnya, jadilah sebuah tulisan, seperti tulisan ini, yang semula hanya merupakan sebuah ikhtiar sederhana untuk kembali aktif menulis di website yang sempat suspend ini. Yuk, sama-sama belajar menulis lagi… Bismillah…

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”  (Pramoedya Ananta Toer)

Kebijakan Revitalisasi Pendidikan di Beranda Indonesia, Efektifkah?

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan merevitalisasi perguruan tinggi yang ada di perbatasan, pulau terluar, dan terpencil menjadi beranda depan Indonesia dengan meningkatkan mutu pendidikan tingginya. Saat ini, sudah enam perguruan tinggi di wilayah perbatasan yang diubah statusnya menjadi PTN, yaitu Politeknik Nusa Utara di Sangihe, Universitas Musamus di Merauke, Universitas Borneo di Tarakan, Universitas Bangka Belitung, Poltek Batam dan Poltek Riau (Seputar Indonesia, 12/9). Sebelumnya, Kemendiknas juga sudah menandatangani kerja sama dengan TNI untuk pendidikan di wilayah perbatasan. TNI akan membantu pelaksanaan program layanan pendidikan dari tiap-tiap unit utama, menyediakan fasilitas yang diperlukan sesuai dengan ruang lingkup kerja sama (Republika, 7/9). Berbagai upaya itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM di wilayah perbatasan.

Potret buram pendidikan di wilayah perbatasan bukan hal baru. Beranda terdepan Indonesia itu seolah menjadi gudang (ter)belakang. Bagaimana tidak, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia misalnya, mencetak hatrick sebagai provinsi dengan angka kelulusan UN terendah. Angka melek huruf disana tidak beranjak dari 85.5%, padahal pemerintah mengungkapkan bahwa 92.7% masyarakat Indonesia sudah melek huruf. Itu belum seberapa, data dari Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, lebih ironis. 30% masyarakatnya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf, 5 – 10% anak usia pendidikan dasar putus sekolah. Masih banyak lagi fakta yang sudah ataupun belum terungkap dari beranda negara ini, dari 34 kota/ kabupaten di 12 provinsi yang berbatasan dengan 10 negara tetangga. Ya, beranda itu berantakan, mirip kapal pecah. Mulai dari keterbatasan sarana dan fasilitas, akses pendidikan dan kesehatan yang begitu sulit hingga minimnya kesejahteraan.

Lalu, apakah langkah mengubah status perguruan tinggi dan melibatkan TNI dalam mengajar adalah langkah yang tepat? Tergantung sejauh mana implementasinya menyentuh hal mendasar yang perlu menjadi perhatian dalam membangun pendidikan di wilayah perbatasan. Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga kata kunci untuk membenahi beranda Indonesia. Kata kunci pertama adalah pemerataan. Menurut laporan World Bank tahun 2008, di Indonesia terdapat 55% sekolah yang memiliki kelebihan tenaga guru, namun ironisnya 66% sekolah terpencil justru kekurangan guru. Hal itu jelas memperlihatkan ketimpangan dalam pemerataan SDM. Belum lagi bicara pembangunan dan ekonomi. Tak mengherankan anak – anak usia sekolah di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat lebih memilih sekolah di Malaysia dengan alasan sederhana : fasilitas lengkap & gratis. Ketimpangan ini jelas terlihat di wilayah perbatasan yang hidup dalam rumah kayu tanpa penerangan dan untuk mencapainya harus melewati jalan penuh batu dan semak belukar. Sementara hanya terpaut beberapa meter di seberang sana, rumah dan halaman tersusun rapi, jalan halus berlapis aspal dan listrik selalu tersedia. Upaya membangun pendidikan di wilayah perbatasan –apapun bentuknya– harus mengupayakan pemerataan pembangunan dan kualitas pendidikan.

Kata kunci kedua adalah prioritas. Hal mendasar yang perlu dibenahi untuk memajukan pendidikan di wilayah perbatasan adalah pada aspek paradigma dan mentalitas. Ketika pendidikan belum dipandang sebagai prioritas, maka upaya perbaikan akan mengalami kebuntuan. Lihat saja kasus disegelnya satu – satunya SMP Negeri di Sangihe yang berbatasan dengan Filipina karena masalah hak milik tanah. Puluhan anak sekolah terlantar hanya karena kepentingan pribadi, dan itu masalah mentalitas. Kesiapan mental itu juga yang menyebabkan menurunnya jumlah guru di Kalimantan Barat karena lebih memilih mengajar di kota atau menyeberang ke Malaysia. Padahal kebutuhan guru di wilayah perbatasan sedikitnya 2000 orang dan tidak mungkin hanya mengandalkan TNI atau ‘guru instan’ dari ibukota yang belum teruji dedikasinya. Selanjutnya, menyelesaikan pendidikan dasar jelas lebih prioritas dibanding membangun pendidikan tinggi. Paradigma masyarakat wilayah perbatasan bahwa tujuan sekolah sebatas bisa baca tulis perlu diluruskan. Belum perlu berkoar tentang membangun SDM berkualitas sementara masih banyak yang buta huruf. Belum perlu bangunan sekolah yang megah sementara ribuan anak sekolah masih harus berjalan ribuan meter melewati bukit dan hutan untuk dapat menikmati layanan pendidikan. Tak perlu janji – janji pendidikan gratis sementara mendapati anak – anak yang mau, mampu dan sempat bersekolah saja sudah alhamdulillah. Selanjutnya, melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pendidikan lebih prioritas daripada memanjakan masyarakat sehingga menimbulkan ketergantungan pada bantuan dari pusat.

Kata kunci ketiga adalah kesungguhan. Kesungguhan ini akan melahirkan komitmen yang akan memastikan perbaikan yang kontinyu. Contoh sederhana dapat dilihat dari kontrol anggaran pendidikan 20% dari APBN dan berbagai janji untuk memprioritaskan wilayah perbatasan. Realitanya, dana BOS saja tidak sepenuhnya dapat dirasakan manfaatnya sehingga tidak mengherankan hampir separuh ruang kelas SD – SMP di wilayah perbatasan dalam kategori rusak. Kesejahteraan guru juga masih jadi mimpi di siang hari. Provinsi Papua bahkan hanya menganggarkan 6% dari APBDnya untuk pendidikan. Pembangunan pendidikan setengah hati ini dapat dirasakan oleh masyarakat sehingga keterlibatan mereka pun setengah hati. Padahal perbaikan hanya dapat optimal jika ada partisipasi aktif dari seluruh komponen terkait.

Perubahan status perguruan tinggi takkan memberi manfaat yang signifikan jika pemerataan pembangunan tidak dilakukan. Lulusannya hanya akan menambah jumlah pengangguran terdidik jika tidak ada saluran implementasi keilmuannya. SDM berkualitas yang didambakan pun bisa jadi memilih untuk keluar dari wilayah perbatasan untuk dapat membangun karir dan profesinya, jika tak ada yang dapat dikembangkan di tanah kelahirannya. Hadirnya PTN di wilayah perbatasan takkan berarti apa – apa jika pendidikan dasar dan menengah tidak dibangun. Angka partisipasi pendidikan tinggi di Kaltim saja yang merupakan provinsi dengan pendapatan daerah tertinggi hanya 2%. Akhirnya hanya akan timbul pertanyaan untuk siapa PTN di wilayah perbatasan. Gagasan revitalisasi perguruan tinggi juga hanya akan menjadi wacana tanpa kesungguhan. Membangun PTN berkualitas tidak mudah dan tidak murah. Butuh kesiapan jiwa untuk bisa menjadi peserta didik dan pendidik di wilayah perbatasan. Tidak terkecuali anak – anak yang harus berjuang untuk bisa memperoleh pelajaran. Tidak terkecuali TNI yang didaulat menjadi guru dadakan. Namun dengan kesungguhan, semua orang bisa menjadi peserta didik dan pendidik. Dan dengan kesungguhan, cita mulia mencetak generasi unggul dapat menjadi nyata.

Quote Ranah 3 Warna

Sudah cukup lama berselang, tulisan baru sepertinya belum kunjung muncul. Perubahan status seharusnyanya tidak bisa jadi alasan untuk kurang produktif menulis, toh blog pendamping hidupku bulan ini saja sudah ada 5 postingan baru. Kayaknya harus ke “Rumah Sakit Malas” nih seperti Alif dan Togar dalam trilogi ‘Ranah 3 Warna’. Berbicara tentang buku karya Ahmad Fuadi tersebut, berikut adalah beberapa quote yang sepertinya menarik untuk dibagi. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

#1 Bersabar dan ikhlashlah dalam setiap langkah perbuatan. Terus – meneruslah berbuat baik ketika di kampung dan di rantau. Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bum dan di atas bumi. Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir. Sunguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai. Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu. Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda. Singsingkan lengan baju dan besungguh – sungguhlah menggapai impian. Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan. Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan, karena debat kusir adalah pangkal keburukan.

#2 Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amilu. Berusaha di atas rata – rata orang lain.

#3 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

#4 Sungguh do’a itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita.

#5 Menuntut ilmu itu perlu banyak hal, termasuk tamak dengan ilmu, waktu yang panjang dan menghormati guru.

#6 Aku baru saja kedatangan tamu. Dia datang sendirian mengetuk – ngetuk pintu hidup. Kursi yang didudukinya masih hangat dan desir angin ketika dia lewat masih mengapung di udara… Tamu yang tidak ada seorang pun yang kuasa menolaknya. Tamu yang membuat semua jantung, hati dan pandangan mata seorang raja diraja pun goyah dan bertekuk lutut. Tamu yang ditakuti umat mansia sepanjang masa. Tamu yang mengisap segenap udara kehidupan. Tamu yang baru berlalu dari rumahku itu bergelar sendu : kematian.

#7 Berjalanlah sampai batas. Berlayarlah sampai pulau.

#8 Latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti.

#9 Idza shadaqul azmu wadaha sabil. Kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.

#10 Sebuah sya’ir Arab mengatakan, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesabaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar.

#11 Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelu sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kososng yang ada hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Tuhan telah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.

#12 Apapun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.

#13 Janganlah putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita – cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufik-Nya. Maka berbuatlah, berpkirlah dan bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa.

#14 Man jadda wajada : siapa yang bersungguh – sungguh akan sukses, man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung, man sara ‘ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

#15 Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapapun kuatnya badak itu, lama – lama dia akan pening dan kelelahan. Bahkan culanya bisa patah. Ternyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang dinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tetapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan sebuah keikhlashan. Perjuanagn tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlashan untuk mendapat tujuan yang diinginkan.

#16 Lan tarji’ ayyamulatil madhat. Tak akan kembali hari – hari yang telah berlalu.

#17 Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang – kadang perlu berpisah untuk menghargai pertemanan ini. Sekali – kali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.

#18 Otak yang biasa – biasa saja selalu bisa diperkuat dengan ilmu dan pengalaman. Usaha yang sungguh – sungguh dan sabar akan mengalahkan usaha yang biasa – biasa saja. Kalau bersungguh – sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal. Kombinasi sungguh – sungguh dan sabar adalah keberhasilan. Kombinasi man jadda wajada dan man shabara zhafira adalah kesuksesan.

#19 Semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Punya budaya literasi. Tanpa keduanya mereka punah dimakan zaman.

#20 Suka dan cinta datang dari Allah. Suka boleh saja, tapi jangan sampai kalian berduaan, karena banyak mudharatnya. Nanti kalau berdua – duaan, ada makhluk ketiga yang diam – diam ada di antara kalian. Dia adalah setan yang membisikkan berbagai hal buruk yang bisa membuat kalian terbawa arus dan melanggar aturan agama. Jadi berteman boleh saja, tapi jangan berpacaran. Kalu nanti tiba masanya, umur kalian cukup dan kemampuan ada, barulah kalian berpasang – pasangan menjadi sebuah keluarga, melalui pernikahan. Percayalah, sesungguhnya itu lebih baik dan aman buat kalian semua.

#21 Tapi sedekat apapun ‘hampir’ itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

#22 Akan tiba masa kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

#23 Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

#24 Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya, laut bada ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?

#25 Antara sungguh – sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentmeter, tetapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun, Jarak antara sungguh – sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan – akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do’a dan sabar yang berlebih – lebih.

#26 Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis – habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh – sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya, ketika ia lihat ternyata itu bukan biji biasa melainkan batu permata yang begitu berharga. Ya, kontestan terakhir memenangkan sayembara dan memperoleh sesuatu yang begitu berharga yang tidak semua orang mampu memilikinya.

* * *

Semuanya dimulai dari impian. Tidak semua orang berani memiliki impian karena tidak yakin impiannya dapat terwujud, karena tidak percaya dirinya memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan impiannya. Padahal pemikiran besar lah yang dapat mewujudkan karya besar. Impian yang tinggi lah yang akan memotivasi dan terus meningkatkan kemampuan. Dan orang – orang hebat takkan memilih untuk mengubur mimpinya atau cukup puas hanya menjadi penonton. Penonton yang hanya meminta orang lain untuk bergerak, puas mencemooh atas kegagalan dan puas bertepuk tangan atas keberhasilan. Bukankah kesuksesan hanya dapat dimulai oleh orang – orang yang berani?

Dari orang – orang yang berani untuk mencoba meraih impian, ada yang gagal karena ketidaktahuannya tentang bagaimana cara untuk meraih impian, ada yang terhambat geraknya karena keterpaksaan. Biar bagaimanapun ilmu dan keikhlashan menjadi modal penting dalam meraih mimpi. Sekedar mempunyai mimpi tanpa upaya untuk meraihnyapun takkan berbuah keberhasilan. Untuk meraih mimpi, butuh bekal perjuangan yang cukup. Sebagian bekal mungkin dapat dikumpulkan sambil jalan, sebagian lagi harus dipersiapkan dari awal, termasuk kesiapan mental ataupun kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tanpanya, tampaknya harus berulang kali naik – turun untuk menggapai impian, itupun jika jiwa pembelajar dimiliki.

Sebagian lain orang gagal meraih mimpi karena takut ‘jatuh’ dan akhirnya memilih untuk ‘turun’. Ada pula yang gagal meraih mimpi karena tidak tahan terhadap ujian – ujian selama perjalanan. Kesabaran mutlak dibutuhkan untuk meraih mimpi. Ada pula yang gagal karena tidak cukup kuat energi dan keyakinannya untuk meraih mimpi. Tidak cukup tepat strateginya dan tidak cukup keras usahanya. Yang paling menyedihkan adalah orang yang gagal meraih mimpi karena tertipu oleh tujuan – tujuan semu lainnya. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, perjuangannya pun akan sia – sia. Impian besar hanya dapat diraih dengan keteguhan dan keistiqomahan. Istirahat sejenak tetap diperlukan namun tidak boleh sampai melenakan.

Menggapai impian memang tidak mudah, butuh keberanian, ilmu, keikhlashan, kesabaran, kesungguhan dan keikhlashan. Memulai mengejar impian juga sangat berat, tidak kalah berat dari menghadapi berbagai macam gangguan dan ujian selama menjalani medan perjuangan menuju impian. Fisik dan jiwa harus siap menahan luka. Pikiran harus tetap jernih menghadapi berbagai rongrongan. Dan bekerja sama tentunya akan mempermudah menggapai impian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah bermuara segala urusan. Dan impian itu hakikatnya ada untuk diwujudkan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Teruntuk saudara/i ku yang tengah merajut mimpi, tetaplah bermimpi dan berupaya untuk meraihnya…

Antara Idealita dan Realita

Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka,berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy).

Beberapa saat yang lalu, ada SMS meminta pendapat tentang ’idealis tapi realistis’. Ketika penulis menanyakan balik tentang apa yang dipahaminya, orang tersebut mengatakan : “…Kalo ana berpikir semua harus berawal dari yang ideal, sampai sejauh ana ana mampu itulah titik dimana ana bertemu realita. Jadi bukannya sejak awal ingin bergerak sudah harus menurunkan target karena mengupayakan realita kemampuan, padahal belum dilakukan seideal mungkin… ”.

Menarik, SMS itu mengingatkan penulis pada SMS seorang saudara yang dua tahun duduk satu meja : ”Keterbatasan, kata yang tidak mau tidak, suka atau tidak suka, ada dalam diri seorang hamba. Ia adalah realita hidup. Rasulullahpun terbatas berdakwah, mautlah yang membatasi. Problematikanya hari ini bukan ada atau tidak suatu keterbatasan, tetapi seberapa tepat kita mengukur batas kita. Apakah kelumpuhan jadi batas Syaikh Ahmad Yasin dalam berjihad? Mungkin bagi kita ya, tapi tidak bagi beliau. Usamah bin Ziad, apakah usia muda menjadi batas ia tuk memimpin para sahabat? Akhi, sudah tepatkah kita mengukur keterbatasan kita? Jika batas kita hanya sebegitu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kapasitas kita yang dengan itu menjadi bertambah kekuatan kita…

Bicara tentang idealita, bagi penulis, seperti berbicara tentang impian. Begitu indah dan untuk mencapainya pasti tidaklah mudah. Dan seperti harapan, idealita harus tetap ada dan dipertahankan, kecuali jika kita hanya punya cita-cita menjadi manusia seadanya. Berbeda dengan realita yang identik dengan dunia nyata, yang membatasi dan membelenggu. Realita menjadi perhatian karena disanalah kita ada dan disanalah tempat kita akan jatuh dari ketinggian. Ya, semakin tinggi jarak antara idealita dengan realita, akan semakin sakit pula jatuhnya. Itulah mengapa manusia umumnya menjadikan realitanya sebagai idealitanya…

Dalam konteks perencanaan (diambil dari mata kuliah ‘Manajemen Industri’), tahap pertama yang harus dilakukan adalah ’establish the goal’. Penulis sepakat dalam tahap ini seharusnya semuanya diawali dengan idealita bukan realita. Nah, yang perlu diperhatikan adalah tahapan berikutnya ’define the present situation’. Disinilah realita mulai mengambil peran. Target adalah sesuatu yang menantang bukan yang biasa saja dan semuanya akan tetap bersandar pada realita selama resourcesnya tersedia dan mungkin untuk disediakan. Resources disini bisa berupa man, material, machine, equipment, methode, financial, time ataupun information. Artinya perlu diperhatikan ketersediaan SDM, kondisi sasaran, kesiapan organisasi, ketersediaan sarana/ perangkat yang dibutuhkan, kerapihan sistem kerja, ketersediaan pendanaan dan waktu, dsb. Semuanya masih realistis selama kebutuhan sumber daya untuk mencapai tujuan tersebut dapat dipenuhi. Dan konteks disini adalah tim, bukan Cuma perorangan. Itulah sebabnya dikenal metode SMART dalam penetapan target, ada point ‘dapat dicapai’ dalam metode itu. Tahap berikutnya baru identify the aids and barriers to the goals yang gampangnya buat SWOT analysis. Kemudian baru dilakukan develop a plan or set of actions for reaching the goal(s).

Kembali ke idealita dan realita, saya teringat salah satu cerita di film Kungfu Boy. Dalam pertarungan Chinmi melawan Shifan, Chinmi yang tidak terkalahkan di kuil Dairin dengan mudah dapat dikalahkan Shifan, dua kali bahkan. Guru Shosu kemudian memperlihatkannya jangkrik yang ditaruh dalam kotak dengan yang langsung diambil dari alam bebas. Ternyata jangkrik dari alam bebas yang dianalogikan sebagai Shifan dapat melompat lebih tinggi dibandingkan yang disimpan di dalam kotak (Chinmi) padahal speciesnya sama. Kemudian Guru Shosu memberikan kedua jangkrik itu ke Chinmi dan ditaruh di dalam kotak. Malam harinya Chinmi ga bisa tidur dan penasaran kenapa lompatan jangkriknya bisa berbeda. Ketika dia membuka kotak itu, ternyata lompatan kedua jangkrik sama. Ternyata ’kotak’lah yang membuat batas lompatan. Selama kita berpikir masih di dalam kotak, ya hanya segitu kita dapat melompat. Ya, seringkali kitalah yang membuat batas bagi diri kita sendiri, batasan yang terlalu rendah bahkan. Karenanya banyak orang pasrah oleh realita bukan mencoba seoptimal mungkin untuk mencapai realitanya yang sesungguhnya.

Berangkat dari cerita itu, perlu ada refleksi diri tentang idealita dan realita. Idealisme kita takkan bermasalah selama kita masih ’menginjak bumi’, memperhitungkan kondisi faktual dan tidak memaksakan idealisme kita kepada orang lain. Cemoohan tentang idealisme hanya dilakukan oleh mereka yang iri, tidak bisa bermimpi atau takut untuk ’terbang’. Tapi perlu ada refleksi tentang idealisme ketika tujuan tidak tercapai, kita berjuang sendirian atau banyak pihak termasuk diri kita yang terzhalimi dengan idealisme tadi. Yang menarik ketika kita mencoba melakukan refleksi tentang realita. Benarkah batasan kita hanya segitu? Sudah optimalkah yang kita lakukan? Yah, ternyata kitalah yang menciptakan realita. Idealisme yang realistispun takkan menjadi realita tanpa kesungguhan untuk mewujudkannya. Ya, dan dalam kesungguhan ada pengorbanan, dalam kesungguhan ada kesigapan, dalam kesungguhan ada optimalisasi potensi dan mengatasi segala hambatan. Semoga kita bukan termasuk idealis yang berhenti dalam tataran mimpi ataupun orang lemah yang mengkambinghitamkan realita.

Wallahu a’lam bishawwab

Mentalitas Perubahan itu Bernama Jiddiyah

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah duperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka…”
(QS. At Taubah : 41 – 42)

* * *

Hari terus berjalan, siang dan malam silih berganti, pekan dan bulanpun terus bergulir. Detik-detik pergantian tahun berlalu, banyak air mata yang menetes, menyesal atas berbagai kekhilafan yang telah dilakukan dan kesia-siaan waktu yang telah terlewat. Tahun lalu, air mata itupun menetes, atas kekhilafan yang sama. Ya, waktu silih berganti namun kesalahan yang sudah disadari tak kunjung diperbaiki. Berbagai pembenaran coba diungkapkan namun tidak juga mampu meyakinkan bahwa perubahan yang diharapkan sudah dilakukan. Ada pula fragmen kehidupan yang berisi suka maupun duka yang kadang mengingatkan akan perbaikan yang ternyata hanya ada dalam tataran kesadaran saja tanpa pernah ada realisasinya. Dimanakah salahnya? Mengapa perubahan itu sedemikian sulit? Apakah ada kesalahan dalam analisa kondisi? Ataukah kita terjebak dalam lamanya perencanaan? Ataukah….?

Suatu perubahan ke arah yang lebih baik tidak seharusnya berhenti dalam tataran kesadaran atau perencanaan saja. Namun seharusnya terus dilaksanakan dengan kesungguhan. Ya, kesungguhan (jiddiyah) menjadi hal penting yang harus ada setelah adanya niat dan tekad berubah. Kesungguhan dalam merencanakan agenda perbaikan, kesungguhan dalam mengimplementasikan perencanaan aktivitas perbaikan, kesungguhan dalam menjaga kontinuitas upaya perbaikan dan kesungguhan untuk mengontrol capaian perubahan ke arah yang lebih baik yang sudah dilakukan.

* * *

Jiddiyah secara istilah didefinisikan sebagai pelaksanaan perintah syari’ah dan dakwah secara langsung disertai dengan ketekunan dan kegigihan, mengeluarkan segala kemampuan maksimal untuk menyukseskannya dan mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya.

Kecepatan melaksanakan tugas sebagai bentuk jiddiyah tergambar dalam peristiwa peralihan kiblat (QS Al Baqarah : 142 – 144). Tatkala ayat pemindahan kiblat turun, para shahabat di Madinah yang sedang melakukan shalat Zhuhur menghadap ke Masjid Al-Aqsha di Palestina (utara) segera berpindah arah 180 derajat ke Ka`bah di Mekkah (selatan). Kecepatan melaksanakan tugas sebagai wujud jiddiyah juga diperlihatkan oleh wanita anshor ketika turun ayat tentang kerudung (QS An Nur : 31). Sesaat setelah turunnya ayat, para shahabat segera pulang dan membacakan ayat tersebut kepada para wanitanya. Para wanita Anshor segera mengambil kain dan dijadikan kerudung hingga dikisahkan keadaan di atas kepala mereka itu seolah-olah burung gagak karena kain kerudung-kerudung mereka. Sikap wanita Anshor yang sangat sigap membenarkan dan beriman kepada apa yang telah diturunkan Allah dalam Al Qur’an ini sangat dipuji A’isyah r.a. (HR. Abu Daud).

Kesigapan sebagai bentuk kesungguhan juga ditunjukkan para shahabat ketika turun ayat tentang pelarangan khamar (QS. Al Maidah : 90 – 93). Kekuatan dan keteguhan sebagai bentuk jiddiyah tergambar dalam peristiwa hijrahnya Umar bin Khatab yang secara terang-terangan mendeklarasikan kepergian hijrahnya sekaligus ‘menantang’ kaum Quraisy di Mekkah saat itu.

Kegigihan sebagai wujud jiddiyah juga tercermin dalam kisah syahidnya Ja’far bin Abi Thalib dalam perang Mu’tah. Kala tangan kanannya yang memegang panji putus, panji dipegang dengan tangan kiri. Ketika akhirnya tangan kiri itupun putus, dia tidak menyerah dan terus mempertahankan panji itu dengan membawanya dengan kedua lengannya. Ketahanan dan kegigihan inipun tercermin dari kata-kata Rasulullah kepada Abu Thalib, pamannya – yang juga kasihan melihat kondisi keponakannya yang terus dizhalimi– ketika meneruskan tawaran para pembesar Quraisy berupa wanita, perhiasan emas, permata, bahkan kekuasaan untuk meninggalkan dakwah : ”Demi Allah, jika engkau letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, maka tidak akan aku tinggalkan dakwah ini hingga Allah memperlihatkan (kemenangan) Nya atau membinasakan selainNya”

Mencurahkan segenap kemampuan sebagai bentuk jiddiyah tercermin dalam kisah Mush’ab bin Umair yang meninggalkan seluruh kehidupan mewahnya demi Islam yang bahkan dalam akhir hidupnya sebagai syuhada tidak meninggalkan kafan kecuali selembar kain yang bila ditutupkan ke wajahnya maka kakinya akan kelihatan dan jika ditutupkan ke kakinya maka wajahnya akan terlihat. Mencurahkan segenap kemampuan ini juga tergambar dari kisah hijrahnya Abu Bakar yang datang dengan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan untuk keluarganya : Allah dan RasulNya.

Mengatasi rintangan sebagai wujud jiddiyah dapat terlihat dari kisah Amru bin Jamuh r.a yang tetap bersikeras untuk pergi ke perang Badar walau dilarang anaknya karena kakinya mengalami cacat berat. Bahkan Rasulullahpun sudah menyampaikan keringanan baginya untuk tetap tinggal di Madinah. Namun Amru bin Jamuh tetap meminta diizinkan Rasulullah untuk pergi ke medan jihad : “Ya Rasulullah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersamamu. Demi Allab, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga…!”. Mengatasi hambatan juga terlukis dari kisah para sahabat yang memenuhi panggilan beliau di pagi hari setelah perang Uhud menuju Hamra’ul Asad. Tak lama beristirahat dari perang sebelumnya, tanpa kehabisan energi, mereka mengatakan : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS 3:173).

* * *

Dapat dibayangkan sulitnya upaya perubahan dilakukan tanpa kesungguhan, tanpa kesigapan dalam melaksanakan agenda perbaikan, tanpa keteguhan dan kegigihan, tanpa mengerahkan segenap kemampuan , tanpa upaya mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya dalam melakukan perbaikan. Kesigapan memang bukan hal yang mudah — setidaknya sikap menunda pastinya lebih mudah — namun disitulah ujian awal sebuah komitmen perubahan dimulai. Segalanya memang berproses, namun tetap harus ada awalan yang menjadi titik keberangkatan perubahan ke arah yang lebih baik. Dan titik awal itu bukanlah hanya pada aktivitas perencanaan tetapi lebih kepada momen memulai suatu implementasi aktivitas perbaikan.

Keteguhan dan kegigihan tentunya juga tidak mudah – apalagi jika dibandingkan mengerjakan sesuatu seadanya – namun disitulah kelurusan niat dan kebulatan tekad akan dibuktikan. Perubahan tanpa keteguhan dan kegigihan hanyalah omong kosong, takkan kuat menghadapi tribulasi dalam mencapai cita. Mengerahkan segenap kemampuanpun bukan perkara yang mudah karena mengandung nilai perjuangan yang disertai pengorbanan dan perhatian lebih. Tentunya lebih mudah berkorban seadanya namun efektivitas suatu gagasan perubahan takkan terwujud tanpa optimalisasi potensi dan sumber daya yang ada.

Dan menghadapi hambatan dan rintanganpun tak mudah, apalagi bila dibandingkan dengan mundur menyerah kalah ataupun putus asa. Didalamnya terdapat inti kesabaran dan kesungguhan yang akan sulit dicapai oleh mereka yang ‘lembek’. Didalamnya pula banyak terdapat bimbingan dan pertolongan Allah bagi mereka yang ikhlash dan bersungguh-sungguh. Bila hari-hari yang terlewati masih belum menunjukkan suatu perbaikan yang signifikan dari yang seharusnya padahal sudah ada kesadaran akan perbaikan yang mestinya dilakukan, patut kita renungi sudahkah ada kesungguhan yang kita tunjukkan.

Jika hingga saat ini nampaknya perubahan seperti yang diharapkan belum juga nampak hasilnya, perlu kita bercermin sudahkah ada kesigapan, keteguhan dan kegigihan kita dalam mengusung agenda perubahan. Kalau aktivitas perbaikan yang ada hanya sampai tahap kesadaran dan perencanaan tanpa implementasi, pantas kita pikirkan, sudahkah potensi kita tercurah, sudahkah segenap kemampuan terkerahkan. Dan apabila bimbingan dan pertolongan Allah nampak jauh dari upaya perbaikan yang dilakukan, layak kita perhatikan sudahkah segala sesuatunya kita jalani dengan benar, ikhlash dan pantang menyerah.

Kesungguhan sangatlah utama karena tugas dan kewajiban ataupun sebuah rencana perbaikan dapat diselesaikan dengannya, sehingga halangan dan rintangan dapat diatasi serta cita dapat tercapai dengan memuaskan. Tanpa kesungguhan, usaha akan sia-sia belaka, perencanaan akan runtuh, pelaksanaan akan kehilangan ruh dan cahaya bahkan amanah yang diemban dapat hilang. Dan kesungguhan dapat terlihat dengan memanfaatkan waktu dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi senda gurau, mengambil hukum dasar (azimah) bukan keringanan (rukhshah), sigap dengan tugas, tidak menunda, instropeksi diri dan tidak melemah dengan kesulitan

* * *

Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah yang bertekad mengembalikan Masjidil Aqsha yang tertawan ketika ditanya kenapa tidak nampak gembira, tersenyum dan tertawa berkata : “Sesungguhnya saya malu jika Allah melihatku tertawa sementara Baitul Maqdis berada di tangan orang-orang salib, bagaimana saya bisa gembira, tersenyum dan tertawa sementara tanah Palestina berada di tangan musuh Allah, Masjid al Aqsha terampas dari tangan umat Islam.”

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukkan kepada mereka Jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Al Ankabut : 69)

Wallahu a’lam Januari 2005 Ps : Ikhwahfillah, detik-detik pergantian tahun sudah kita lewati, saat-saat evaluasi telah kita lalui, sekarang adalah saatnya melakukan perbaikan dengan kesungguhan