Tag Archives: keteladanan

Karakter Kepemimpinan ala Najmuddin

Rasulullah, kesempurnaan pribadimu tak henti dipujikan. Para sahabat pun musuhmu jua mengakui segala kelebihanmu. Liputan zaman dan kurun waktu, berkisah keluhuran budi pekertimu. Dalam dirimu terhimpun segala keutamaan insan mulia…” (‘Rasulullah’, Najmuddin)

Ada hal yang menggelitik ketika penulis mencoba menyelami konsep ‘kepemimpinan kenabian’ dalam beberapa buku referensi. Ada perbedaan yang cukup signifikan mengenai model kepemimpinan masing-masing nabi, tak ada standar baku. Inspirasi kepemimpinan Nabi Nuh a.s. yang gigih berdakwah hingga 950 tahun jelas berbeda dengan inspirasi kepemimpinan Nabi Yunus a.s. yang justru memperoleh banyak hikmah akibat ketidaksabarannya dalam berdakwah. Namun menjadikan kepemimpinan Nabi Nuh a.s. sebagai model terbaik juga tidak tepat. Dalam hal sederhana, misalnya tentang dakwah keluarga saja, tentu kita tidak dapat mengambil teladan dari Nabi Nuh a.s. Pun demikian jika kita coba membandingkan inspirasi kepemimpinan Nabi Sulaiman a.s. dengan segala kedigjayaannya dengan Nabi Musa a.s. yang kala itu justru tengah menggugat penguasa. Pada akhirnya, model kepemimpinan yang utuh baru akan kita dapati dalam lembar sejarah kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah pribadi paripurna yang menyempurnakan model kepemimpinan para nabi sebelumnya. Karenanya kita bisa meneladani banyak hal dari beliau termasuk yang terkait dengan keistimewaan Nabi-nabi sebelumnya. Misalnya tentang kesabaran berdakwah ala Nabi Nuh a.s, mencari dan memperjuangkan kebenaran ala Nabi Ibrahim a.s., kelapangan dada ala Nabi Yusuf a.s., keberanian revolusioner ala Nabi Daud a.s., dan sebagainya. Keteladanan Rasulullah SAW juga dikuatkan dengan berbagai dalil, bahkan dari testimoni orang-orang non muslim. Jika ada hal yang belum disepakati, itu adalah berkenaan dengan karakter utama keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW, karena ternyata shiddiq, fathonah, amanah, dan tabligh belum cukup lengkap untuk menggambarkan keteladanan kepemimpinan beliau.

Dalam sebuah nasyidnya, Najmuddin menggambarkan tentang berbagai keutamaan Rasulullah SAW yang secara sederhana terbagi dalam tiga bagian: Rasulullah SAW sebagai individu, sebagai hamba Allah, dan sebagai pemimpin. Dalam kaitannya Rasulullah SAW sebagai individu, Najmuddin mengungkapkan, “Tinta emas sejarah telah mencatat rapi keagungan budi perkerti. Kecerdasan fikiran, keutuhan pribadi, Rasul muara teladan suci”. Ada empat karakter penting individu yang perlu dimiliki: akhlak mulia, cerdas, integritas, dan keteladanan. Jika kita coba menyelami lembar demi lembar sirah Rasulllah SAW, kita akan mendapati keempat karakter ini senantiasa melekat dalam diri Rasulullah SAW sejak beliau muda. Reputasi beliau pun terbentuk karena berbagai keutamaan ini. Tidak hanya di mata manusia, tetapi juga mulia di mata Allah SWT. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al Qalam: 4).

Hamba Allah yang taat tawadhu, penyempurna risalah Allah yang suci. Pancaran pribadi agung nan tinggi, berikan teladan suci bagi insani”, begitu ungkap Najmuddin selanjutnya. Ada empat karakter penting sebagai hamba Allah: ta’at, tawadhu, gigih berdakwah, dan menenteramkan hati. Konsekuensi manusia sebagai hamba adalah ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Penghambaan juga menghancurkan kesombongan hingga tidak ada benih sekecil apapun. Namun perwujudan jati diri manusia sebagai hamba Allah tidak cukup hanya sampai pada dirinya, melainkan perlu disampaikan kepada orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun keteladanan. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Adapun terkait Rasulullah SAW sebagai pemimpin, Najmuddin mengatakan, “Pemimpin manusia bijak bersahaja, teguh berpegang pada kebenaran. Gigih menegakkan tonggak keadilan, berikan sentuhan yang mengagumkan. Dirimu telah tundukkan kepalsuan duniawi ‘tuk tuju surga yang abadi. Risalah yang kau sampaikan jaminan pembawa Rahmat bagi alam semesta”. Ada enam karakter kepemimpinan Rasulullah SAW: bijaksana, bersahaja, istiqomah, persisten, inspiratif, dan visioner. Fondasi dari karakter kepemimpinan ini adalah karakter personal dan karakter hamba, sehingga pemimpin tetap harus berakhlak mulia, cerdas, memiliki integritas dan keteladanan, ta’at kepada Allah SWT, rendah hati, menyebarkan kebaikan, dan mampu menyentuh hati.

Kebijaksanaan menjadi karakter penting bagi seorang pemimpin karena jihadnya seorang pemimpin adalah melalui kebijakannya. Kesederhanaan juga biasa melingkupi kehidupan para pemimpin besar sebab fitnah kepemimpinan sudah terlalu besar tanpa harus ditambah dengan gaya hidup glamour. Pemimpin yang kuat adalah yang punya sikap dan tegas dalam membuat keputusan. Pemimpin juga harus memberi teladan dan inspirasi, yang akan mempererat kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Menunjukkan arah tujuan beserta jalannya, sekaligus orang pertama yang memulai melangkah untuk sampai ke tujuan. Dan pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menundukkan berbagai fitnah kepemimpinan, termasuk menundukkan dirinya sendiri.

Rasulullah SAW ibarat telaga yang sangat luas dan dalam. Mengambil air ibrah darinya serasa tak ada habisnya. Karenanya, berbagai inspirasi itu sebaiknya segera diinternalisasi, beberapa pembelajaran tersebut seyogyanya dapat langsung diamalkan. Karena domain karakter kepemimpinan adalah domain amal, bukan sekadar pengetahuan, apalagi cuma hapalan. Kita memang bisa mengambil ibrah kepemimpinan dari siapa saja, namun jangan lupakan sudah ada manusia paripurna yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Semoga kita benar-benar apat menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW dengan meneladani beliau dalam diamnya ataupun bicaranya, dalam perkataannya ataupun perilakunya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab: 21)

Pemimpin Tepercaya, Pemimpin Memercaya

…Someone you know is on your side can set you free. I can do that for you if you believe in me. Why second-guess? What feels so right? Just trust your heart and you’ll see the light…
(‘True to Your Heart’, 98° feat Stevie Wonder)

Kepercayaan adalah hal penting yang harus ada dalam sebuah tim. Rasa percaya merupakan dasar dari kerja tim, dan sifatnya adalah resiprokal (timbal balik) bukan satu arah. Salah satu kriteria penting seorang pemimpin adalah dapat dipercaya. Kepercayaan kepada seorang pemimpin erat kaitannya dengan integritas, keteladanan, keadilan dan konsistensi. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan ini merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin untuk membangun dan melejitkan tim atau organisasi yang dipimpinnya.

Kepercayaan adalah hubungan resiprokal, namun bawahan akan lebih mudah memercayai pemimpinnya dibandingkan sebaliknya. Memiliki integritas, sejalan antara perkataan dengan perbuatan, jujur, adil, serta dapat memberi teladan yang baik sudah menjadi syarat cukup bagi seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan yang dipimpinnya. Apalagi jika pemimpin tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni, tentunya menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Belum lagi kekuasaan dan kewenangan seorang pemimpin bisa memperkuat kewajiban untuk percaya kepadanya, pun terpaksa. Ya, dalam titik ekstrim, seorang pemimpin bisa saja hanya memilih mereka yang memercayainya untuk dipimpin.

Persoalan klasik muncul ketika sosok pemimpin tidak lagi bisa dipercaya, terus berdusta, mengingkari janji, tidak adil dan transparan, serta gagal memberikan perasaan tenang pada yang dipimpinnya atas segala tindak tanduknya. Opsi menggulingkan kepemimpinan kerap butuh perjuangan keras dan biaya sosial yang tinggi. Sikap apatis seringkali menjadi opsi yang lebih realistis mengingat keterbatasan kemampuan untuk mengubah karakter kepemimpinan. Akhirnya, tim mungkin tidak hancur, namun tanpa kepercayaan tim sudah kehilangan ruhnya. Rutinitas organisasi mungkin masih bisa berjalan, dengan setiap elemen hanya berupaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Kepemimpinan tanpa kepercayaan hanyalah sebuah kehampaan dan omong kosong.

Masalah juga akan muncul ketika kepercayaan tidak menemukan hubungan timbal baliknya. Seorang pemimpin yang memercayai anggota timnya yang ternyata tidak amanah, bisa saja langsung memberikan treatment atau bahkan mengeluarkan ‘penyakit’ tersebut dari tim. Penyakit ini mudah didiagnosa karena pengaruh kekuasaan pemimpin akan terbantu oleh ketidaknyamanan dari anggota tim yang lain. Persoalan yang lebih rumit akan muncul ketika seorang pemimpin tidak atau kurang memercayai mereka yang dipimpinnya. Bisa jadi semua tanggung jawab dan beban kepemimpinan akan sepenuhnya dipikul oleh sang pemimpin. Padahal kepemimpinan bukan hanya seni memengaruhi orang lain, tetapi juga memercayai orang lain.

Tidak sedikit pemimpin dengan potensi yang luar biasa terjebak dalam kondisi ini: gagal sepenuhnya memercayai yang dipimpinnya. Fungsi delegasi hanya jadi formalitas layaknya dalang yang memainkan wayang. Super team tidak terbentuk karena pemimpin mengambil alih seluruh tanggung jawab, toh yang penting tujuan tercapai. Bukannya meringankan kerja anggota tim, pemimpin tanpa sadar justru tengah mengebiri potensi anggota tim. Barangkali tugas memang bisa selesai lebih cepat dan lebih berkualitas jika dikerjakan langsung oleh sang pemimpin, namun ketergantungan besar terhadap sosok pemimpin bukanlah hal ideal dalam kepemimpinan. Dinamika tim, termasuk belajar dari kesalahan, merupakan hal penting untuk terus bisa berkembang dan melakukan perbaikan. Pemimpin kadang lupa bahwa kepercayaan bersifat resiprokal, alih-alih menenangkan anggota tim, memberikan kepercayaan ‘setengah hati’ justru akan berbuah ketidakpercayaan.

Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang hebat, namun juga pemimpin yang menghebatkan mereka yang dipimpinnya. Dan memberikan kepercayaan adalah kunci pengembangan potensi anggota tim. Kepemimpinan ada siklusnya, kaderisasi adalah keniscayaan, membangun kepercayaan yang resiprokal antar anggota tim dan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah langkah strategis untuk memastikan kesinambungan suatu organisasi. Menjadi pemimpin yang tepercaya (dapat dipercaya) memang penting, namun menjadi pemimpin yang dapat memercaya (memberikan kepercayaan) tidak kalah penting. Karena kepercayaan adalah hubungan timbal baik, keduanya dapat seiring sejalan.

“Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?” (Tere Liye)

Pendidikan Karakter, Buat Apa?

“Most people say that is it is the intellect which makes a great scientist. They are wrong: it is character.” (Albert Einstein)

Beberapa tahun belakangan istilah ‘karakter’ menjadi populer di dunia pendidikan. Berbagai permasalahan bangsa yang kompleks disinyalir bersumber dari krisis karakter. Alhasil, pendidikan karakter kebangsaan dipandang sebagai solusi penting untuk mengatasi kompleksitas permasalahan pendidikan nasional, mulai dari kecurangan dalam ujian, maraknya hubungan seks pra nikah, kasus aborsi, pornografi dan pornoaksi, meningkatnya penderita HIV/ AIDS di kalangan remaja, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, tawuran dan kenakalan pelajar, minuman keras, hingga kekerasan dan bullying. Pendidikan karakter kebangsaan ini diharapkan mampu menciptakan SDM yang unggul karena berbagai hasil penelitian juga mendukung bahwa faktor terbesar penentu kesuksesan seseorang adalah karakter atau kepribadiannya.

Gagalnya Pendidikan Karakter
Mungkin tidak banyak yang mengenal Lawrence Kohlberg, seorang profesor Psikologi Pendidikan dan Sosial di Harvard University yang mengunjungi Kibbutz, pemukiman kolektif di Israel dengan sistem kepemilikan bersama dan dengan struktur-struktur dasar demokratis yang berdampak positif terhadap perkembangan moral anak-anak muda disana. Aktivis Yahudi ini kemudian membangun sekolah-sekolah cluster yang menerapkan sistem yang sama sehingga melengkapi penelitiannya mengenai Teori Tahapan Perkembangan Moral yang kemudian menjadi cikal bakal pendidikan karakter. Mungkin tidak banyak juga yang mengetahui bahwa pelopor pendidikan karakter ini menutup usianya dengan menenggelamkan dirinya ke Samudera Atlantik akibat depresi berkepanjangan atas penyakit yang dideritanya. Ironis, segudang teori tentang moralitas yang dikembangkannya dikalahkan oleh parasit bernama Giardia Lamblia. Tragis, mengapa semangat pendidikan karakternya tidak menjadikan dirinya cukup tangguh dan mampu bersabar?

Pada tanggal 23 Januari 1997, Presiden AS Bill Clinton meminta para guru memasukkan Pendidikan Karakter sebagai kurikulum pengajaran. Namun ternyata moralitas remaja Amerika relatif tidak banyak mengalami kemajuan, angka kehamilan remaja, pemakaian obat-obat terlarang, kekerasan di sekolah, dan kriminalitas jalanan terus meningkat. Edward Wyne and Kevin Ryan, dua tokoh pendidikan ternama di Amerika sudah memperkirakan kegagalan ini karena model pendidikan karakter telah gagal untuk menjawab nilai-nilai apa yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter. Pendidikan karakter sebenarnya juga bukan hal baru bagi pendidikan Indonesia. Pendidikan budi pekerti yang diajarkan dalam Pendidikan Moral Pancasila ataupun berbagai penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sejatinya adalah model Pendidikan Karakter. Nilai-nilai yang diajarkan sudah jelas terkait ke-Pancasila-an, namun mengapa krisis moral dan krisis karakter tetap melanda bangsa ini?

Menurut hemat penulis, ada dua hal mendasar yang menyebabkan pendidikan karakter menemui kegagalan. Pertama, pengajaran pendidikan karakter cenderung bersifat kognitif dan menambah pengetahuan. Padahal esensi pendidikan karakter ada pada keteladanan dan pembiasaan. Harus ada pemahaman yang implementatif. Mungkin beberapa di antara kita masih ingat betapa pendidikan moral di Indonesia seolah diarahkan untuk menghapal pada sila dan butir Pancasila keberapa suatu nilai atau karakter sesuai. Bagaimana implementasinya dan sudahkah terimplementasi tidak menjadi hal yang diperhatikan. Segudang teori pun berbenturan dengan realita. Pengetahuan tentang karakter tidak lantas membuat orang tersebut menjadi berkarakter. Tahu bahwa berzina itu haram namun tetap pergi ke tempat prostitusi, tahu jujur itu baik namun tetap korupsi, tahu ketangguhan moral harus dijunjung namun tetap bunuh diri, tahu karakter ini baik dan itu buruk namun tidak terimplementasi dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan karakterpun gagal.

Kedua, pengajaran pendidikan karakter cenderung indoktrinasi, tidak mencerdaskan dan tidak membuat peserta didik berkembang. Butir-butir Pancasila menjadi sabda dewa, nilai baik-buruk menjadi fatwa tanpa ada pemahaman dalam akan makna dan ruang diskusi yang terbuka. Akhirnya, pendidikan karakter justru menggiring seseorang yang mempelajarinya menjadi karakter lain. Untuk dunia militer yang banyak mencetak ‘robot’ mungkin pendidikan ini berhasil, namun tidak untuk dunia pendidikan yang memanusiakan manusia. Belum lagi sebuah fakta bahwa karakter dasar seseorang tidaklah dapat dipaksakan sama. Pendidikan karakter seharusnya bukan mengubah karakter, melainkan mengarahkannya. Abu Bakar r.a. yang lemah lembut dapat bersikap tegas dalam memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat. Umar bin Khattab r.a. yang keras kerap menangis dalam shalatnya dan seperti anak kecil di hadapan istrinya. Karakter lemah lembut dan keras tersebut tidak berubah, namun terarah dan terimplementasi tepat pada porsinya. Pemaksaan dalam pendidikan karakter, pada suatu titik akan mengalami penolakan. Pendidikan karakterpun gagal.

Jangan Terjebak Label
Sebelum membahas lebih jauh lagi, apa sih karakter itu? Menarik, penulis tidak menemukan definisi karakter dalam ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’. Adapun dalam bahasa Inggris, character memiliki beragam makna, mulai dari watak dan sifat, peran, hingga huruf. Dari sini sudah terlihat bahwa Bahasa Indonesia lebih kaya karena definisi watak berbeda dengan sifat, apalagi dengan peran dan huruf. Ketika kita berbicara tentang ‘karakter utama’ misalnya, pembicaraan akan mengarah ke seni peran, bukan terkait tingkah laku dan kebiasaan yang utama. Lalu mengapa harus menggunakan istilah karakter? Sekedar ikut tren? Padahal karakter bangsa takkan terbentuk dengan sikap ikut-ikutan, bahkan identitas bangsa bisa tergadaikan.

Jika kita telaah lebih jauh, istilah pendidikan karakter sebenarnya mereduksi makna dari pendidikan itu sendiri. Dalam KBBI, pendidikan didefinisikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Selain itu, pendidikan juga didefinisikan sebagai proses, cara, perbuatan mendidik. Definisi mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sikap dan tata laku adalah buah dari karakter dan akhlak yang merupakan kata serapan dari Bahasa Arab adalah apa yang disebut karakter di dunia barat. Jika mau berprasangka, sudah terjadi sekulerisasi pendidikan di Indonesia sehingga istilah akhlak, iman dan takwa pun harus diganti dengan karakter dan religius yang mengacu ke dunia Barat. Intinya, jelas sudah tanpa embel-embel karakter, pendidikan sudah seharusnya menyentuh aspek sikap, tingkah laku dan akhlak, bukan sebatas kecerdasan pikiran.

Sekali lagi, bahasa Indonesia lebih kaya. Untuk karakter dengan makna positif sudah tersedia kata-kata seperti akhlak dan budi pekerti, sedangkan untuk yang berkonotasi negatif ada kata-kata seperti tabiat dan perangai. Religius, jujur, toleransi, disiplin, dan seterusnya yang termasuk nilai-nilai karakter berlandaskan budaya bangsa sejatinya adalah akhlak dan budi pekerti. Demikian pula dengan karakter pokok, karakter pilihan, dan berbagai istilah karakter lainnya, merupakan bagian dari akhlak dan budi pekerti. Krisis karakter adalah krisis akhlak, membangun karakter adalah membangun budi pekerti. Karenanya, pendidikan karakter bukanlah hal baru, karena kita sebelumnya sudah mengenal pendidikan akhlak, pendidikan budi pekerti ataupun pendidikan moral yang gagal diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun perlu ditegaskan, yang menjadi fokus bukanlah pergantian nama pendidikan karakter menjadi pendidikan akhlak atau pendidikan budi pekerti, karena semuanya itu hanyalah label. Esensi pendidikan sudah mencakup itu semua. Yang perlu dikuatkan adalah landasan kemunculan pendidikan karakter, jangan sampai hanya sekedar ikut-ikutan. Yang perlu dikritisi adalah muatan pendidikan karakter, jangan sampai ada agenda tersembunyi yang merusak di dalamnya. Yang perlu dicermati adalah implementasi pendidikan karakter, jangan sampai cuma sebatas jargon dan label. Yang perlu dipastikan adalah bagaimana esensi pendidikan benar-benar dapat tersampaikan, jangan sampai tereduksi dengan berbagai istilah baru dalam kebijakan baru.

Pendidikan Karakter, Perlukah?
Pertanyaan retoris. Dalam konteks membina aspek sikap, tingkah laku dan akhlak, pendidikan karakter jelas perlu dan penting, bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Institusi pendidikan didorong untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi standar kompetensi. Ketika berbicara tentang kompetensi, bukan hanya kompetensi pengetahuan (knowledge) yang disyaratkan, namun juga kompetensi keterampilan (skill) dan sikap (attitude). Pendidikan teoritis akan menyokong kompetensi pengetahuan, pendidikan praktek akan memenuhi kompetensi keterampilan dan pendidikan karakter akan melengkapi kompetensi sikap. Sekali lagi, pendidikan karakter sejalan dengan hakikat dan tujuan pendidikan.

Permasalahan kecilnya adalah jebakan label dan istilah yang kerap mengganggu hal yang lebih fundamental. Perbedaan antara karakter, moral, akhlak, sikap, watak, budi pekerti, perangai dan sebagainya bukanlah hal yang penting. Penggunaan istilah karakter pokok, karakter pilihan, karakter unggul dan sebagainya bukanlah hal yang esensi, demikian pula dengan istilah character building atau character education. Permasalahan lainnya yang sempat ditemukan dalam penerapan pendidikan karakter di Amerika adalah mengenai karakter apa yang seharusnya diajarkan. Jika hendak dipersoalkan, 18 karakter bangsa bisa jadi terlalu banyak. Jangankan untuk diinternalisasi dan diimplementasi, dihapalkan saja tidak mudah. Fokus pendidikan pada pemenuhan karakter-karakter dasar yang paling diperlukan adalah penting. Karakter baik, sebagaimana karakter buruk, sifatnya menular, mengantarkan pada karakter lain dengan karakteristik yang sejenis (karakter dan karakteristik, satu lagi jejak ambiguitas penggunaan istilah karakter yang juga memuat definisi kekhasan). Religius misalnya, akan mendorong seseorang untuk lebih jujur, disiplin dan bertanggung jawab.

Namun, permasalahan yang lebih mendasar adalah bagaimana agar pendidikan karakter tidak sia-sia dan gagal. Secara normatif jelas dapat disimpulkan bahwa keteladanan adalah kunci keberhasilan pendidikan karakter. Sayangnya, bangsa ini sekarang masih krisis keteladanan. Bagaimana peserta didik akan berlalu jujur jika guru mendukung kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Bagaimana sarjana akan memiliki integritas jika dosen yang mengajarnya kerap melakukan plagiat. Bagaimana seorang anak dapat mengimplementasi nilai-nilai karakter bangsa sementara dalam kesehariannya nilai-nilai yang dijumpainya berseberangan dengan karakter yang diajarkan. Disinilah diperlukan adanya sinergi antar setiap komponen pendidikan (keluarga, institusi pendidikan dan masyarakat) dalam membangun karakter seorang anak. Kesuksesan pendidikan karakter menjadi kompleks karena juga melibatkan sinergi peran dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

Di samping sinergi tersebut, secara lebih taktis, perlu ada perubahan paradigma pendidikan karakter dari menjawab apa, siapa, kapan dan dimana yang cenderung satu arah memenuhi sisi kognitif, menjadi menjawab mengapa dan bagaimana yang juga menyentuh sisi afektif dan psikomotorik. Jawaban atas pertanyaan apa, siapa, kapan dan dimana hanya akan menambah pengetahuan tanpa mengarahkannya pada makna yang lebih dalam: pengamalan. Pertanyaan mengapa akan menggugah daya cipta untuk menginternalisasi karakter menjadi pemahaman, bukan sekedar pengetahuan. Pertanyaan bagaimana akan menggugah daya gerak untuk menginternalisasi karakter menjadi pengamalan dan pengalaman. Daya cipta dan daya gerak untuk menginternalisasi karakter ini tinggal dibiasakan dan diarahkan untuk membangun karakter seseorang. Sifatnya lebih mengalir, tidak dipaksakan.

Setiap manusia lahir dengan kondisi sosio-geografis yang berbeda, karakternyapun beragam. Tidak ada yang buruk, yang ada hanya porsi yang belum seimbang dan kurang diarahkan. Seseorang yang jahat pasti masih ada yang dikhawatirkannya, masih ada yang diperjuangkannya, masih punya nilai kebaikan dalam dirinya. Iblis sekalipun masih memiliki karakter kerja keras dan kreativitas yang dapat ditiru, sayangnya porsi percaya dirinya terlalu besar sekali menjadi kesombongan dan mengantarkannya pada banyak perangai buruk lainnya. Potensi kebaikan yang tidak terarah jelas berpotensi salah arah. Disitulah pendidikan karakter memegang peran. Generasi muda penuh gairah, energi dan vitalitas, namun ketika porsinya kurang tepat dan tidak terarah, kenakalan remaja yang menjadi hasilnya. Pendidikan karakter tidak dalam posisi mematikan energi dan kreativitas tersebut, tetapi dengan pemberian pemahaman yang baik disertai dengan contoh dapat mengarahkan karakter remaja menjadi keunggulan, dengan berbagai macam bentuknya yang tidak perlu dipaksakan sama. Mungkin ada yang porsi dan arahnya sesuai untuk menekuni seni, ada yang olah raga, ada yang organisasi dan lain sebagainya.

Menyoal pendidikan karakter di sekolah, selain penyajian yang lebih praktis dan sarat contoh, ada faktor lain yang perlu mendapat perhatian khusus: guru. Ya, guru sangat menentukan efektifitas pendidikan karakter di sekolah, sebagaimana orang tua di rumah. Bukan hanya dari segi cara menyampaikan, integritas guru yang bersangkutan sangat menentukan. Guru juga harus mengajarkan pendidikan karakter secara sederhana dan relevan sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan oleh peserta didik. Guru juga harus mampu menjaga semangat perbaikan peserta didik karena pendidikan karakter berproses, tidak serta merta selesai dalam waktu singkat. Sederhananya, untuk efektivitas pendidikan karakter di sekolah, seorang guru harus memenuhi karakter pendidik yang digambarkan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Namun berapa banyak guru yang memenuhi kualifikasi tersebut?

Pendidikan (karakter) memang tidak lantas menjamin terselesaikannya berbagai masalah yang kompleks di Indonesia, namun menjadi upaya strategis untuk mencegah timbulnya berbagai masalah sosial di kemudian hari. Ketidaksempurnaan dalam implementasi pendidikan karakter bukan berarti konsep tersebut salah dan harus ditinggalkan. Karena memang mewujudkannya secara sempurna tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi. Dan perlu disadari juga bahwa buah pendidikan (karakter) tidak dapat dirasakan instan, semuanya berproses, karenanya kontinyuitasnya harus terjaga dengan melibatkan seluruh pihak yang terkait. Mungkin terdengar terlalu absurd, namun upaya menyelamatkan suatu bangsa bisa jadi dimulai dengan penerapan pendidikan (karakter) yang baik, dalam keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.

The function of education is to teach one to think intensively and to think critically. Intelligence plus character – that is the goal of true education.” (Martin Luther King Jr.)

Karena Mendidik dan Memanjakan Tidaklah Sama

“Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita” (Abu Syauqi)

Belakangan ini istilah ‘pendidikan karakter’ begitu familiar dengan dunia pendidikan. Dalam lingkup sekolah, pembentukan karakter siswa sangat dipengaruhi oleh karakter guru. Guru yang berkarakter adalah guru yang bisa digugu (dipercaya dan dipatuhi) dan ditiru (diteladani), guru yang benar-benar mendidik, bukan sekedar menyampaikan materi ajar. Berbicara tentang guru berkarakter, penulis teringat akan sebuah dorama Jepang yang berjudul “The Queen’s Classroom”. Adalah Maya Akutsu, guru yang mendidik siswa dengan menerapkan metode yang sangat ketat dan disiplin. Siswa tidak boleh terlambat masuk kelas, tidak diperkenankan ke toilet selama pelajaran berlangsung dan tidak boleh menyisakan makan siang. Selain kedisiplinan siswa, nilai tentang kompetisi juga ditanamkan. Tes dilakukan setiap pekan, dua orang siswa dengan nilai terendah akan menjadi ‘pembantu’ di kelas, mulai dari menghapus papan tulis, menyiapkan makan siang, hingga membersihkan WC sekolah. Upaya untuk melaporkan guru mereka ke sekolah maupun orang tua selalu gagal karena kelihaian Oni Sensei (Devil Teacher) dalam berargumentasi. Belum lagi Oni Sensei mengetahui semua rahasia dari para siswa. Alhasil, walaupun dalam tekanan dan ketakutan para siswa pun mematuhi semua aturan yang dibuatnya.

Adalah Kanda Kazumi, siswi yang ceria, ramah dan setia kawan yang mencoba mengembalikan ‘keceriaan’ kelas seperti sebelumnya. Cengkraman Oni Sensei yang begitu kuat di lingkungan sekitarnya justru membuatnya berkali-kali terlibat masalah hingga nyaris putus asa. Disinilah mulai terlihat maksud baik dari Oni Sensei di balik segala sikap dingin dan menakutkannya. Metode yang diterapkan tanpa disadari terbukti mampu menyatukan kelas, membuat siswa tidak ada yang terlambat, gemar belajar dan lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jika sebelumnya, Oni Sensei begitu menyebalkan, akhirnya justru malah dicintai. Maya Akutsu telah mengajarkan bahwa mencintai siswa bukan berarti selalu menuruti kemauan mereka dan harus tetap ada jarak antara pendidik dengan peserta didik sehingga guru tetap dihormati dan tidak diremehkan. Maya Akutsu menunjukkan totalitas dalam mendidik, di balik sikap dinginnya, ternyata ia nyaris tidak tidur hanya untuk memastikan semua siswanya dalam keadaan baik dan ia dapat membuat laporan perkembangan harian per siswa. Berbagai pengalaman pahitnya dalam mengajar membuatnya harus mengajarkan kepada siswa realita kehidupan yang keras, tidak ada waktu untuk bersikap malas dan manja, sekaligus mengajarkan bagaimana bisa tegar dan keluar dari keputusasaan.

Sudah lumrah, cinta memang akan membuat seseorang mencintai segala yang dicintai oleh yang dicintainya. Kecintaan kita terhadap seseorang yang kita didik kerap kali membuat kita memanjakannya dengan mencoba memenuhi segala keinginannya. Padahal mendidik jelas berseberangan dengan menuruti syahwat orang yang didik dan membiarkan mereka merasa aman dari berbagai kesalahan. Pendidik harus berani menegakkan aturan main yang kadangkala harus juga menjalankan peran antagonis terhadap yang dididik, mulai dari menegur, memarahi bahkan menghukum. Hukuman atas penyelewengan terhadap aturan main merupakan bagian dari mendidik karakter selama tidak dilandasi kebencian dan tidak dilakukan berlebihan, baik verbal, fisik maupun mental. Pun demikian, aturan main tidak seharusnya berupa ancaman yang menakutkan dan hukuman pun hendaknya disesuaikan dengan motif/ alasan seseorang yang kita didik sehingga tidak menimbulkan trauma yang berdampak buruk di masa mendatang.

Keteladanan, ketegasan dan konsistensi adalah tiga hal yang menjadi syarat sekaligus tantangan dalam mendidik. Tanpa keteladanan, tiada arti segala aturan, tiada makna segala aturan. Tanpa ketegasan takkan lahir kedisiplinan. Dan tanpa konsistensi, perbaikan yang terjadi akan segera terhenti. Lalu bagaimana dengan memanjakan? Memanjakan dalam artian mencurahkan kasih sayang jelas tidak bertentangan dengan tiga hal di atas. Memanjakan dalam konteks upaya memberikan yang terbaik, dari harapan dan kenangan orang yang dicintai juga tidak akan saling melemahkan dengan upaya mendidik. Namun ketika memanjakan didefinisikan sebagai menuruti semua kemauan dan memenuhi segala keinginan, ia akan kontraproduktif dengan esensi pendidikan. Ketika memanjakan diartikan sebagai tidak pernah menegur, memarahi apalagi sampai menghukum, maka yang terbentuk hanyalah seonggok manusia arogan yang merasa tidak pernah salah.

Mendidik berarti menguatkan nilai-nilai positif dalam hidup, sedangkan memanjakan akan melemahkan jiwa. Mendidik akan membentuk mental yang kuat, sedangkan memanjakan akan melahirkan penakut dan pecundang. Mendidik akan membentuk sikap dan karakter yang kuat, sedangkan seseorang yang terbiasa dimanjakan akan mudah terbawa arus. Pendidikan akan mengajarkan kesulitan dalam realita hidup dan cara mengatasinya, sementara seseorang yang terus dimanjakan akan rapuh ketika menghadapi masalah, mengeluh ketika menemui kesulitan dan cepat putus asa ketika usahanya tak jua menemukan hasil. Di satu sisi, ia akan urakan, tidak taat aturan. Di sisi lain, ia tergantung orang lain, tidak bisa mandiri.

Semasa SMA, ada seorang guru yang sangat ditakuti, tegas dan tidak segan mengeluarkan siswanya dari kelas. Penulis bahkan pernah memperoleh nilai 0 (nol) karena dinilainya tidak serius (bercanda) ketika ulangan. Namun ternyata kelas yang diajarnya selalu lebih unggul dibandingkan kelas lain. Metodenya terbukti efektif bagi siswa dalam menagkap pelajaran. Dan dibalik ketegasan almarhumah, penulis tahu benar besarnya perhatian beliau pada siswa-siswanya. Ya, karena mendidik berbeda dengan sekedar mengajar, apalagi memanjakan. Selain ilmu, ada nilai-nilai tentang kehidupan yang menyertainya. Ayah penulis bukan seseorang yang dekat dengan anak-anaknya karena ketegasannya, namun beliau menjadi figur ayah yang dihormati dan tidak diragukan kecintaannya kepada keluarganya. Ya, karena cinta tidak melulu ditunjukkan dengan keakraban tanpa jarak, apalagi jika kita berbicara tentang pendidikan anak.

Bicara tentang pendidikan, berarti berbicara tentang kualitas SDM di masa mendatang. Untuk menyukseskannya dibutuhkan pendidik yang dapat menjadi teladan, tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan. Sudah terlalu banyak aturan yang dilanggar karena pola didik yang memanjakan. Egaliter dalam mendidik jangan sampai menurunkan wibawa pendidik yang sudah sewajarnya ada ‘di atas’ yang dididik. Ketegasan dan kedisiplinan mungkin akan terasa tidak menyenangkan bahkan membebani, namun seperti itulah perwujudan cinta. Buah hasil pendidikan memang baru dapat dinikmati di masa mendatang. Kegigihan dan ketegaran yang lahir dari sikap tidak memanjakan mungkin baru akan terasa manfaatnya ketika yang didik sudah tidak lagi bersama pendidiknya. Mereka yang dididik dengan tidak dimanja akan lebih siap menghadapi dunia. Tidak salah nasehat Abu Syauqi, “Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita”.

Open your eyes. Of course there are going to be worries in life. The important things are not losing confidence, not paying attention to rumors, and not hurting others…
(Maya Akutsu, “The Queen’s Classroom)