Tag Archives: keterampilan

Program Kartu Prakerja Buat (Si)Apa?

It’s a recession when your neighbor loses his job; it’s a depression when you lose yours.”
(Harry S. Truman)

Akhirnya, Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan salah satu janji kampanye Jokowi yaitu Kartu Prakerja. Walaupun Menkeu Sri Mulyani sempat mengatakan ‘sakit perut’ mencari sumber anggaran Kartu Prakerja, seiring dengan wabah Covid-19, anggaran Kartu Prakerja naik dua kali lipat menjadi 20 triliun rupiah. Kemenko Perekonomian Darmin Nasution mengumumkan bahwa hingga penutupan pendataran tahap pertama pada 16 April 2020 lalu, tercatat jumlah pendaftar program Kartu Prakerja sebanyak 5.965.048 orang. Dari serangkaian verifikasi, sebanyak 2.078.026 orang dinyatakan lolos dan akan diseleksi menjadi 200 ribu peserta pelatihan gelombang pertama.

Sejak masa kampanye pilpres 2019, program Kartu Prakerja ini sudah menuai kontroversi, bahkan sempat dilaporkan ke Banwaslu. Jika tahun lalu ada mispersepsi tentang Kartu Prakerja dimana dikesankan pemerintah akan membiayai para pengangguran, kontroversi Kartu Prakerja tahun ini lebih kompleks lagi. Mulai dari konflik kepentingan, urgensi atau ketermendesakannya, prioritas peruntukan anggaran 5,6 triliun rupiah di tengan pandemi Covid-19, hingga teknis implementasi program Kartu Prakerja. Beragamnya kontroversi ini dapat dimaklumi, sebab ketika masa kampanye ‘barangnya’ belum ada, sehingga Kartu Prakerja barangkali masih diidentikkan dengan kartu-kartu ‘sakti’ Jokowi yang lain.

“Materi Kursus Mirip Konten Youtube”, demikian headline surat kabar harian Jawa Pos pada Jum’at, 17 April 2020 seraya menampilkan data beberapa pelatihan online program Kartu Prakerja, mitra penyedia pelatihan, dan nominal biayanya. Wajar saja jika publik mempertanyakan, sebab jika kursus yang diselenggarakan Kartu Prakerja berupa menonton video pelatihan, konten Youtube jauh lebih banyak, variatif, dan gratis. Sementara paket pelatihan dalam skema Kartu Prakerja dibandrol variatif mulai dari Rp. 168.000 hingga 1 juta rupiah. Memang biaya pelatihannya akan ditanggung pemerintah dengan skema Kartu Prakerja, namun itu artinya pemerintah ‘menyumbang’ anggaran senilai plafon harga pelatihan per orang dikali jumlah penerima kartu prakerja kepada para mitra platform pelatihan online. Sementara konten serupa bisa dipelajari di YouTube dengan gratis. Sementara beberapa perusahaan besar semisal Microsoft, Google, Oracle, Nikon, dan sebagainya justru menyediakan pelatihan online gratis di tengah wabah Covid-19 ini.

Kritik pun merembet ke conflict of interest, dimana Belva Devara, Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi merupakan Pendiri dan CEO Ruangguru, salah satu mitra platform digital Kartu Prakerja. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, Andi Taufan, Staf Khusus Milenial yang lain disoroti setelah surat dengan kop Sekretariat Kabinet kepada perangkat desa guna mendukung program yang dijalankan perusahaannya. Bhelva mengatakan bahwa proses pemilihan penyedia layanan Kartu Prakerja dilakukan oleh Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, namun aroma konflik kepentingan tak terhindarkan.

Jika memperhatikan kondisi aktual pandemik Covid-19 saat ini, pertanyaan publik terhadap Kartu Prakerja lebih banyak lagi. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah mengatakan total ada 114.340 perusahaan yang telah terpukul oleh wabah Covid-19, dampaknya tercatat 1.943.916 tenaga kerja telah dirumahkan dan atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Itu yang tercatat, jumlah yang terdampak apalagi di sektor informal tentu lebih banyak lagi. Gagasan awal Kartu Prakerja untuk membekali para pengangguran dengan keterampilan vokasional untuk membantunya dalam mencari pekerjaan atau berwirausaha sudah baik. Namun gagasan baik tidaklah cukup, harus diperhatikan pula ketepatan waktu, ketepatan sasaran, dan keefektifan cara.

Banyak kalangan beranggapan bahwa Kartu Prakerja lebih tepat diimplementasikan dalam keadaan normal, dengan mekanisme melibatkan BLK dan LPK seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Karena pada saat pandemik seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat adalah kebutuhan untuk dapat bertahan hidup day to day, sehingga pola bantuan sosial atau bantuan langsung tunai dinilai lebih relevan. Apalagi anggaran 20 triliun rupiah bukan jumlah yang sedikit. Dengan menghitung standar garis kemiskinan masyarakat Indonesia dari BPS per Maret 2019 sebesar Rp. 425.250 per kapita per bulan, maka anggaran Rp. 20 triliun bisa membantu lebih dari 15,6 juta orang selama 3 bulan. Pemerintah boleh saja berkelit sudah memiliki program bantuan langsung dengan anggaran yang jauh lebih besar, namun itu bukan berarti menjadikan Kartu Prakerja sebagai prioritas.

Belum lagi jika konsep Kartu Prakerja dikuliti lebih detail. Untuk mengakses pelatihan online, dibutuhkan modal berupa perangkat/ gawai, modem/ kuota internet dan jaringan yang stabil. Buat masyarakat yang benar-benar membutuhkan, modal tersebut kemungkinan lebih prioritas digunakan untuk survive dibandingkan ikut pelatihan online. Apalagi Kartu Prakerja diprioritaskan bagi mereka yang tidak mendapatkan bantuan sosial. Di tambah lagi, sebagian besar masyarakat marjinal memiliki keterbatasan fasilitas dan kemampuan dalam mengikuti pelatihan online. Akhirnya, penerima Kartu Prakerja semakin tidak tepat sasaran. Beberapa konten materi pelatihan juga tidak relevan dengan kondisi aktual, misalnya paket teknik melamar pekerjaan. Wong pekerja saja banyak yang dirumahkan dan di-PHK, apa gunanya belajar teknik melamat pekerjaan di saat lowongan kerja tidak tersedia. Atau paket pelatihan ojol yang tidak relevan di masa pandemi Covid-19,  dimana ojek online menjadi salah satu pekerjaan terdampak PSBB. Ada juga pelatihan vokasional yang sifatnya pratik bukan teori, misalnya pelatihan salon dan tata rias. Pembelajarannya tidak akan efektif jika hanya belajar online tanpa praktik.

Sebelum ada Kartu Prakerja, pelatihan vokasional untuk mengurangi pengangguran sudah lama dilakukan pemerintah melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Di akhir tahun 2019, terdapat 303 BLK yang tersebar di seluruh Indonesia, dan Kemenaker menargetkan adanya 2.000 BLK komunitas di tahun 2020. Bahkan dua bulan lalu, Jokowi menjanjikan akan membangun 3.000 BLK komunitas di tahun 2020. Pelatihan vokasional ini biasanya diselenggarakan di lokasi BLK, dan bukan hanya gratis, peserta juga mendapatkan konsumsi dan uang transport. Ada juga yang di lokasi peserta. Sistemnya lebih banyak praktiknya daripada teori. Pelatihannya dipandu instruktur bersertifikasi dengan kurikulum mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sehingga kualitas kompetensi lulusannya lebih dapat dipastikan, sertifikat bukan sekadar formalitas. Seleksi peserta pun bisa lebih tepat sasaran.

Dari berbagai argumentasi di atas, pelaksanaan Kartu Prakerja seharusnya tidak perlu dipaksakan jika pada akhirnya hanya sebatas menggugurkan janji, tidak efektif, dan tidak tepat sasaran. Jika tetap diteruskan dengan format online, akan lebih baik tetap melibatkan BLK dan LPK yang sudah berpengalaman mengisi pelatihan offline. Alih-alih menggandeng mitra platform digital, kondisi saat ini bisa menjadi momentum BLK dan LPK bertransformasi menjawab tantangan era digital. Beberapa softskills dan teori pelatihan vokasional bisa mulai diajarkan secara online. Namun pendalaman kompetensi keterampilan dan sikap sebaiknya tetap dengan praktik langsung. Agar kualitas lebih terjamin. Praktik pelatihan ini barangkali belum cocok dengan situasi wabah Covid-19 saat ini, karenanya sumberdaya yang ada memang sebaiknya diprioritaskan pada program-program yang langsung membantu masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi risiko pandemi Covid-19.

Dan ketika ternyata tidak ada perubahan pola implementasi program Kartu Prakerja, barangkali publik akan semakin bertanya: program ini sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Masyarakat jelas bukan pihak yang paling diuntungkan sebab ada kebutuhan mendesak lainnya. Memang pelunasan janji ini akan memberikan manfaat dibanding dengan program dan kebijakan penanganan wabah Covid-19 lain yang lebih kontroversial. Yah, siapa tahu para narapidana yang telah dibebaskan bisa tertarik mengikuti pelatihan online daripada kembali melakukan aksi kriminal. Atau masyarakat yang masih bandel keluar rumah tanpa menghiraukan protokol penanganan Covid-19 bisa lebih produktif dengan program Kartu Prakerja. Yah, siapa tahu? Dan barangkali memang tidak ada yang tahu mengapa program trial and error ini harus segera diimplementasikan dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan. Selain mereka, pihak yang paling diuntungkan dengan diluncurkannya program Kartu Prakerja ini.

Sungguh aku benci kepada seseorang yang aku lihat sedang menganggur, tidak mengerjakan amal dunia maupun amal akhirat.” (Ibnu Mas’ud)

Klasifikasi Pengetahuan – 2 (KM Ed.4)

Explicit Knowledge
Kalau pengetahuan yang sifatnya tacit ini kemudian dikeluarkan, ditulis atau direkam, maka sifatnya lantas menjadi eksplisit. Explicit knowledge adalah pengetahuan manusia yang berada diluar kepala, dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, rumus, spesifikasi, dan manual serta dapat langsung ditransfer secara lengkap kepada orang lain dengan didengar, dilihat, dirasa atau disentuh. Sifat dari explicit knowledge adalah tercetak dalam kode-kode, deklaratif, formal dan keras (hard). Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) : “Explicit knowledge can be expressed in words and numbers and can easily communicated and shared in the form of hard data, scientific formula, codified procedures and universal principles”.

Bentuk pengetahuan eksplisit ini berupa bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/ terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari baik yang dimiliki secara pribadi, biasanya dalam bentuk catatan, buku harian, alamat teman, fotokopi dan segala bentuk eksplisit yang disimpan perorangan secara pribadi maupun bentuk eksplisit yang dipakai bersama-sama oleh sekelompok orang dalam bentuk tulisan tangan sampai internet. Dengan kata lain pengetahuan eksplisit yang di-share atau dibagikan agar dapat dikses oleh banyak pihak. Contohnya adalah manual, buku, laporan, koran, lukisan, dokumen, surat, file-file elektronik, dsb.

Tacit – Explicit Knowledge dan Manajemen Pengetahuan
Untuk membuat keris atau ayam goreng yang rasanya khas mBok Berek diperlukan pengetahuan, keterampilan, termasuk cita rasa dan mungkin kesaktian yang hanya dimiliki oleh seseorang dan sulit untuk disosialisasikan kepada orang lain. Pengetahuan seperti itu tergolong pengetahuan Tacit, yang dari dulu hingga kini kerap dijadikan andalan untuk bisnis. Karenanya orang rela antri untuk makan soto Pak Soleh atau sate kambing muda Tegal, atau membayar sangat mahal untuk batik tulis kraton Solo atau suatu lukisan karya Picasso.

Dalam prakteknya di lingkungan kerja, terkadang suatu informasi sengaja dijadikan pengetahuan tacit sehingga orang lain bergantung kepada pemilik informasi itu, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi kekuasaan, meningkatkan status, maupun menuntut kenaikan gaji. Di sisi lain, pengetahuan tacit tidak bisa dikembangkan dengan sebaik-baiknya, bahkan cenderung mati dan punah. Itulah yang menyebabkan orang tidak bisa lagi membuat piramid (Mesir) atau Borobudur (Jawa) atau karya-karya agung lain dari umat manusia di jaman dahulu.

Lain halnya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu engineering, misalnya, bisa berkembang sangat pesat sampai ke kondisinya yang sekarang, sejak pengetahuan dalam ilmu itu dibuat explisit, yaitu bisa dipelajari oleh siapa saja yang mau dan mampu sehingga sekarang orang bisa membuat roket sampai ke bulan, atau ilmu fisika yang kini memungkinkan orang sudah sampai kepada teknologi nano (membuat benda sampai 1/10 pangkat sekian) sehingga bisa dibuat alat-alat kedokteran yang bisa memeriksa bagian dalam tubuh manusia tanpa operasi, atau membuat komputer sekecil telapak tangan. Dalam ilmu, pengetahuan sengaja dibuat eksplisit, agar terus-menerus bisa dikembangkan[1].

Prinsip tacit dan explicit ini kemudian menjadi benang merah dari konsep KM. Kegiatan KM dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan proses perubahan dari tacit pribadi menjadi tacit milik bersama, dari tacit milik bersama jadi eksplisit, dari eksplisit jadi tersimpan. Semua proses ini berlaku dalam proses kerja, kehidupan, sosial, politik dan lain-lain. KM mengurus inovasi, perubahan dan dokumentasi serta lebih luas dari sekedar sistem informasi manajemen (Management Information Systems/ MIS). MIS adalah kegiatan yang memikirkan bagaimana informasi eksplisit disimpan dan menjadi milik bersama. Di situ ada keperluan pengaturan yang menyangkut bagaimana menyimpan, apa yang disimpan, bagaimana menemukan kembali, berapa lama disimpan, apa yang perlu dan tidak perlu disimpan. Keperluan-keperluan inilah yang dibuat sistematik menjadi sistem.


Pengaruh Program Pembinaan dan Pendampingan terhadap Peningkatan Kompetensi Mahasiswa

PENGARUH PROGRAM PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN TERHADAP PENINGKATAN KOMPETENSI MAHASISWA
(STUDI KASUS : BEASTUDI ETOS DOMPET DHUAFA)

oleh : Purwa Udiutomo1

ABSTRAK

Kemajuan suatu negara banyak ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia di negara tersebut dan kualitas hidup manusia banyak dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Rantai kemiskinan memang tidak terlepas dari faktor ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Karenanya, salah satu upaya memutus rantai kemiskinan adalah dengan memberi pendidikan yang layak. Dompet Dhuafa melalui Beastudi Etos melakukan pemberdayaan pendidikan dengan memberi pembinaan, pendampingan dan bantuan pembiayaan pendidikan. Dengan pembinaan dan pendampingan, penerima beasiswa diharapkan tidak hanya dapat berkuliah, namun juga memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pembinaan program Beastudi Etos terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan mengambil sampel di lima perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan dan pendampingan yang dilakukan Beastudi Etos dapat meningkatkan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa. Pengaruhnya sangat signifikan terhadap nilai keagamaan, namun kurang berpengaruh terhadap keterampilan teknologi informasi.

Kata kunci : kompetensi, pembinaan mahasiswa, beasiswa, pengetahuan, keterampilan, sikap

 

ABSTRACT

Progress of a country largely determined by quality of its human resources and quality of human life is much influenced by educational factors. Chains of poverty absolutely cannot be separated from economic, health and educational factors. Therefore, one effort to break chains of poverty is to provide proper education. Dompet Dhuafa through Beastudi Etos had conducting educational empowerment with provide training, mentoring and financial assistance for poor students. With training and mentoring, scholarship recipients are expected not only can studying, but also have knowledge, skills and attitudes competency. This research aims to see the effect of Beastudi Etos’s training and mentoring programs to improve students competencies. Research methodology used is descriptive analytical by taking samples at five universities. The results showed that Beastudi Etos’s training and mentoring programs can improve knowledges, skills and attitudes competency of students. Its significantly improve religious values, but less effect to IT skill.

Keywords : competency, training and mentoring, scholarship, knowledge, skills, attitudes

1Penulis adalah peneliti pendidikan di Dompet Dhuafa

Membentuk Lulusan Perguruan Tinggi yang Berkompeten

“Obscurity and competence : that is the life that is worth living” (Mark Twain)

Sindhuja Rajamaran (14 tahun) mungkin tidak pernah menyangka namanya akan masuk dalam Guinness World Record sebagai CEO termuda di dunia. Pada saat anak seusianya disibukkan dengan gossip dan jejaring sosial, dia sudah memimpin perusahaan animasi bernama Seppan di India. Sejak usia belia, ia telah menguasai banyak software komputer, seperti Flash, Photoshop, Corel Painter, After Effects dan Maya. Kompetensi sebagai pembuat karikatur digital dan kartun termuda membuatnya layak membawahi banyak karyawan yang usianya jauh lebih tua.

* * *

Berbicara tentang kompetensi, ada beragam definisi yang dapat ditemukan. Terkait kompetensi di dunia kerja dapat dilihat dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan redaksi yang sedikit berbeda, definisi kompetensi tersebut juga dapat ditemukan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada tiga aspek kompetensi yang saling melengkapi, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Tidak cukup satu atau dua aspek yang dipenuhi untuk menyatakan bahwa seseorang memiliki kompetensi, melainkan harus mencakup ketiga aspek diatas.

Dunia kerja memang erat kaitannya dengan kompetensi. Tidak sedikit lowongan pekerjaan yang mensyaratkan pengalaman tertentu karena perusahaan memang berupaya untuk mencari SDM yang berkompeten, baik secara pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Perguruan tinggi merupakan salah satu institusi penghasil SDM yang kompeten pada berbagai bidang ilmu, sehingga diharapkan dapat mengisi kebutuhan SDM dunia kerja dengan standar mutu yang optimal. Karenanya, menyiapkan kondisi yang dapat ‘mendekatkan’ antara perguruan tinggi dengan dunia kerja merupakan hal penting yang harus dilakukan.

Realita yang terjadi di Indonesia saat ini adalah terjadinya ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi SDM sehingga tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang bekerja di bidang yang berlainan dengan keahlian akademiknya. Lebih jauh lagi, yang kerap menjadi permasalahan adalah SDM yang setelah memenuhi dunia kerja ternyata mereka tidak memiliki kecakapan dalam bidang pekerjaannya. Padahal orang – orang sukses umumnya memiliki kompetensi spesifik yang menjadi nilai tambah mereka. Lihat saja Mark Zuckerberg (26 tahun), kemahirannya dalam membangun jejaring sosial Facebook kini menadikannya sebagai milyarder termuda di dunia. Pun terpaksa drop out dari Harvard, Zuckerberg telah jelas – jelas memiliki kompetensi yang punya nilai jual tinggi.

Antara Hardskill dan Softskill
Beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran penting dalam hal kualifikasi, kompetensi, dan persyaratan untuk memasuki dunia kerja. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan pengangguran terdidik –baik pengangguran terbuka maupun terselubung— karena perkembangan IPTEK dan pendidikan tinggi serta perubahan struktur sosio-ekonomi dan politik global. Saat ini, kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja lebih ditekankan pada kualitas softskills yang baik dibandingkan dengan kemampuan ilmu pengetahuan spesifik yang tinggi. Dalam riset Depdiknas (2007) terungkap bahwa faktor yang memberikan keberhasilan dalam dunia kerja adalah soft-skills (40%), networking (30%), hard-skills (20%), dan financial (10%). Pentingnya soft skill dalam dunia kerja ini juga diungkapkan dalam berbagai penelitan, dalam dan luar negeri.

Teichler (1999) mengungkapkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan sehingga softskill lebih diminati dunia kerja. Menurutnya, pengetahuan spesifik cenderung cepat menjadi usang, sedangkan softskill dapat digunakan untuk mengatasi masalah dalam konteks profesional dan mengatasi ketidakpastian (uncertainty) yang merupakan kunci untuk bertahan di dunia kerja. Selain itu, persyaratan dunia kerja dewasa ini tampak semakin universal dan menunjukkan harmoni antara ekonomi neoliberal yang global dan peningkatan tanggung jawab sosial serta solidaritas secara bersamaan. Belum lagi adanya pergeseran anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi sekedar mempersiapkan seseorang untuk bekerja, namun lebih kepada mempersiapkan seseorang untuk hidup lebih baik. Dan kesemuanya itu lebih membutuhkan softskill daripada sekedar hardskill.

Hal senada juga diungkapkan Kasubdit Pengembangan Karir Mahasiswa DPKHA IPB, Iin Sholihin. Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB ini menyampaikan bahwa secara garis besar dunia kerja terbagi menjadi dua, dunia kerja yang butuh kepakaran tertentu dan dunia kerja yang bersifat multidisiplin. Menurutnya, lulusan PTN di Indonesia secara hardskill tidak terlalu bermasalah, namun masih ada kelemahan dari sisi softskill. Softskill yang dimaksud diantaranya kemampuan komunikasi, adapasi dan penampilan yang masih perlu ditingkatkan, tambahnya. Bapak kelahiran Kuningan ini juga mengungkapkan kecenderungan lulusan PTN untuk berwirausaha semakin meningkat setiap tahunnya. Kampus dan dunia kerja pun menyambut baik. Meskipun demikian, usaha-usaha yang dirintis oleh mahasiswa memang kadang kala tidak selalu sukses. Menurut pria kelahiran 10 Desember 1970 ini, hal ini dilatarbelakangi oleh fokus mahasiswa yang belum sepenuhnya tercurah pada usaha, mudahnya mahasiswa meninggalkan usaha ketika mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan dan motif mengikuti program kewirausahaan seringkali sekedar untuk mengambil dana saja.

Meningkatkan Kompetensi
Ada berbagai cara untuk meningkatkan kompetensi diri, tidak hanya dilakukan secara personal, tidak sedikit lembaga yang mencoba memfasilitasinya. Career Development Center Universitas Indonesia (CDC – UI), misalnya. Selain mengadakan program rekrutment dan UI Career Expo, CDC – UI juga mengadakan program persiapan karir yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri lulusan agar bisa memasuki dunia kerja sebagai tenaga siap pakai. Seminar dan pelatihan pengembangan karir diberikan secara rutin oleh praktisi dunia kerja agar lulusan bisa mendapatkan gambaran tentang persiapan kerja yang harus dilakukan.

Dua hal mendasar yang perlu dilakukan untuk dapat terus meningkatkan kompetensi diri adalah fokus dan mau terus belajar. Orang yang berkompeten biasanya memiliki bidang keahlian khusus yang dikuasai hingga hal – hal yang sifatnya detail. Orang yang berkompeten biasanya tidak mau berhenti belajar, aktif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta terus memperbaiki sikap kerjanya. Untuk dapat fokus dibutuhkan tujuan yang jelas berserta tahapan dan timeline pencapaian tujuan serta kesungguhan untuk dapat mencapainya, termasuk membuat pengingatan dan motivasi diri. Untuk termotivasi agar terus belajar perlu disadari bahwa masih banyak potensi yang belum digali, ilmu yang belum diraih, tempat yang belum dikunjungi, keahlian yang belum dimiliki, prestasi yang belum diraih dan orang – orang hebat yang belum diambil inspirasinya.

Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa upaya meningkatkan kompetensi tidak hanya didapat di ruang – ruang kelas, seminar ataupun pelatihan, tetapi bisa dimana saja dan kapan saja. Pihak yang dapat membantu peningkatan kompetensi pun tidak terbatas pada lembaga pengembangan karir & SDM saja. Perkembangan dunia akan melesat ketika setiap orang memiliki kompetensi dan terus mengembangkannya. Dan keseimbangan dunia akan tercipta ketika setiap orang memiliki kompetensi dan mengaplikasikannya dalam kebermanfaatan. Sebelum jatuh dalam impian panjang, baiknya kita refleksi diri, apa kompetensi yang sudah kita miliki dan apa kebermanfaatannya bagi dunia?