Tag Archives: kolaborasi

Menyikapi Corona: Tenang atau Waspada?

“…Dan untuk temen-temenku yang masih suka bilang, ‘Elah Tang, santai aja, nyawa kita di tangan Tuhan’, wet Paman Boboho, kalau emang itu prinsip ente, noh lu jongkok tengah jalan tol sambil bilang ‘nyawa kita di tangan Tuhan’ kalau nggak dicipok Inova lu. Emang nyawa kita di tangan Tuhan, cuma kan harus usaha kitanya, ada ikhtiar sebelum tawakal. Nah makanya lu pas pelajaran agama, jangan main QQ, kagak masuk di kepala lu. ‘Tapi gue nggak apa-apa Tang kalau meninggal’, ya gue juga nggak apa-apa kalau lu meninggal. Asal lu meninggal jasad lu nguap gitu, ngilang. Lah lu kalau meninggal karena ngeremehin Corona, yang lain bisa kena. Yang mandiin lu, yang nguburin lu, orang catering tahlilan lu, kena. Ya Allah jahat banget lu. Dia nggak ngerti apa-apa, cuma ngebungkusin lemper doang, kena. Beda cerita kalau lu udah waspada gitu kan. Pasti ada penanganannya…” (Bintang Emon)

Per hari Jum’at, 27 Maret 2020 ini, jumlah penduduk Indonesia yang positif corona menembus angka psikologis 1.000 orang, tepatnya 1.046 orang. Lebih menyedihkannya, jumlah korban meninggal akibat virus corona mencapai 87 orang sehingga case fatality rate Indonesia sebesar 8,3%. Dari 50an negara dengan kasus positif virus corona tertinggi, di atas 500 kasus, case fatality rate Indonesia ini hanya kalah oleh Italia yang mencapai 10,6%. Sebagai catatan, Italia merupakan negara dengan angka kematian akibat COVID 19 terbesar di dunia, yakni sebanyak 9.134 orang. Hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan China sebagai negara dimana wabah virus corona bermula. Jumlah kasus positif corona di Italia juga telah melampaui China dan hanya kalah oleh Amerika Serikat yang telah menembus 100 ribu kasus positif corona.

Mendapati berita terkait wabah COVID 19 selalu saja membuat hati was-was. Padahal kadang informasi memang kita butuhkan untuk lebih memahami masalah dan mencari solusi. Namun seringkali tidak mudah menyikapi informasi secara proporsional. Bukan sebatas informasi, dalam banyak hal memang tidak mudah menyikapi sesuatu secara berimbang. Padahal jika kita kaji lebih dalam, kunci pengelolaan wabah COVID 19 ini terletak pada bagaimana penyikapan kita, baik sebagai individu, masyarakat, atau sebagai negara. Sebagai individu yang menjadi bagian dalam bermasyarakat dan bernegara, saat ini ada dua kecenderungan orang dalam menyikapi wabah COVID 19 ini. Yang pertama tetap tenang, yang kedua terus waspada. Tetap tenang ini ekstrimnya santuy, sementara waspada ini ekstrimnya paranoid. Mana kira-kira penyikapan yang lebih pas?

Jika ditanya seperti itu, banyak orang barangkali akan menjawab sebaiknya ada di tengah-tengah, jangan terlalu santuy, tapi jangan juga terlalu paranoid. Atau tetap tenang namun juga waspada, atau waspada tetapi tetap tenang, dan sebagainya. Sayangnya, menyeimbangkan kedua sikap ini tidak sesederhana itu. Diucapkan memang mudah, namun perilaku yang ditunjukkan kerap cenderung ke salah satunya. Karena bagaimanapun, sikap tenang berkontradiksi dengan panik atau paranoid sementara sikap waspada berkontradiksi dengan abai atau santuy. Di satu sisi masyarakat diminta tenang dan tidak panik, di sisi lain diminta tetap waspada dan jangan cuek. Bisakah keduanya dilakukan secara simultan?

Jikalau memang sulit merealisasikan ketenangan sekaligus kewaspadaan dalam sebuah sikap yang jelas, atau dalam proporsi yang tepat disebabkan kontradiksi alami yang menyertainya, maka sikap tenang dan sikap waspada ini cukup kita tempatkan dalam dimensi yang berbeda. Perlu diingat, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sehingga kita bisa menempatkan kedua kecenderungan penyikapan tadi dalam dimensi personal dan sosial.

Secara personal, sikap tenang lebih utama. Ketenangan ini akan melahirkan kejernihan pikiran. Pribadi yang tenang akan memiliki banyak kelebihan ketika menghadapi ujian. Pribadi yang tenang akan mudah berpikir positif dan berprasangka baik. Sudah banyak fakta yang menjelaskan betapa banyak masalah dan penyakit yang muncul dari ketidaktenangan hati dan pikiran. Untuk meningkatkan imunitas, ada yang menyarankan untuk mengetuk kelenjar timus dan meridian limpa. Aktivitas sederhana ini tentu tidak sebanding dengan makan makanan dengan gizi seimbang, cukup olahraga dan cukup istirahat dalam hal peningkatan imunitas. Namun aktivitas tersebut bisa menjadi sugesti positif yang akan memberikan dampak. Bagaimanapun, sistem di dalam tubuh kita termasuk sistem imun ini erat kaitannya dengan kondisi kejiwaan. Stress akan menghambat imunitas ini. Karenanya tidak sedikit mereka yang bisa sembuh dari penyakit karena sugesti positifnya. Dan disinilah anjuran berdo’a dan berdzikir menjadi relevan untuk menghadirkan ketenangan dan kesehatan.

Selanjutnya, orang yang tenang juga relatif akan terhindar dari tindakan yang tidak bermoral dan tidak masuk akal. Masih ingat kasus langkanya masker, hand sanitizer, tisu toilet, hingga vitamin C di berbagai pusat perbelanjaan di beberapa negeri karena wabah COVID 19? Panic buying hanya dilakukan oleh mereka yang tidak tenang. Sementara orang yang bersikap tenang akan membeli masker atau makanan seperlunya di tengah wabah sekalipun karena meyakini badai pasti berlalu. Hanya mereka yang kehilangan ketenanganlah yang terpikirkan untuk meludahi atau menjilati benda-benda yang berpotensi banyak disentuh orang, agar tertular virus corona tidak sendirian. Selain itu, orang yang tenang biasanya akan lebih mudah mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang menimpanya.

Di sisi lain, secara sosial, sikap waspada perlu diutamakan. Pribadi yang waspada ini bukan hanya akan survive di tengah masyarakat, namun mereka dapat berkontribusi positif dalam menghadapi wabah COVID 19 ini. Menghambat penularan virus dengan kewaspadaannya, sekaligus mempercepat masa recovery dari bencana ini. Mereka yang waspada tak hanya peduli akan kesehatan dirinya, namun juga kesehatan orang-orang di sekitarnya. Mereka yang waspada bukan hanya menghindari terjangkit virus corona, namun juga akan terhindar dari aktivitas yang riskan dan tidak bermanfaat. Diam di rumah tanpa harus meningkatkan risiko tertular, menjadi carrier bagi virus, atau bahkan menularkan penyakit. Jika harus keluar rumah pun persenjataan lengkap. Ada masker, bawa hand sanitizer, jika perlu pakai baju berlapis-lapis. Senantiasa menjaga diri kapanpun dimanapun, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang ini ‘tak ada waktu’ untuk nongkrong-nongkrong gak jelas di pinggir jalan, atau pergi liburan ke tempat wisata di tengah wabah melanda. Mereka memahami keutamaan berikhtiar dan menyadari bahwa dirinya tidak boleh membawa kemudharatan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Nah, kolaborasi sikap tenang secara personal dan waspada secara sosial inilah yang dibutuhkan untuk mengatasi wabah COVID 19. Bukan hanya salah satunya. Mereka yang hanya asyik dalam ketenangan akan berpotensi abai sekaligus ngeyel. Merasa aman dari kematian karena merasa sehat-sehat saja padahal sudah banyak orang yang positif terpapar virus corona tiba-tiba tanpa gejala. Santai beraktivitas di keramaian tanpa peduli potensi dirinya membawa dan menularkan virus corona. Meyakini bahwa maut di tangan Allah, namun abai bahwa dirinya bisa menjadi perantara maut bagi orang lain. Di sisi lain, mereka yang hanya asyik dalam kewaspadaan akan berpotensi terjebak dalam aura negatif penyakit. Ke luar rumah tidak, tapi di rumah kayak lagi marahan. Mojok sambil Work From Home, sementara istri di pojokan yang lain, dan anak-anak di sudut yang lain. Ke luar rumah udah kayak mau perang, panik ketika bertemu orang, apalagi kalau ada yang batuk atau bersin. Langsung semprot sana semprot sini. Merasa berikhtiar semaksimal mungkin, namun lupa akan hubungan antar personal, atau bahkan mungkin lupa hakikat takdir.

Tantangan utama penanganan wabah COVID 19 adalah menghadirkan penyikapan yang tepat dalam menghadapi wabah ini. Dan disinilah pendidikan memegang peran. Fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian, serta peradaban yang bermartabat. Menghadirkan pribadi yang tenang secara personal sekaligus waspada secara sosial butuh edukasi, butuh pendidikan. Mereka yang masih ngeyel tetap berkeliaran di jalan tanpa keperluan, butuh penyadaran, butuh pendidikan. Mereka yang masih belum aware bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, dimana saja, butuh penyuluhan, butuh pendidikan. Mereka yang khawatir tidak bisa makan jika tidak keluar rumah, butuh pembinaan, butuh pendidikan. Semoga wabah COVID 19 ini dapat menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk kembali menjalankan fungsi utamanya: memanusiakan manusia.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Fath: 4)

Berkolaborasi dalam Kompetisi, Berkompetisi untuk Kolaborasi

Alkisah di sebuah desa, ada seorang petani yang menanam jagung kualitas terbaik. Panennya selalu berhasil dan ia kerap memperoleh penghargaan sebagai petani dengan jagung terbaik sepanjang musim. Seorang wartawan lokal tertarik untuk mewawancara petani tersebut. Ia datang ke rumah petani kemudian disambut dengan ramah dan dijamu dengan baik. Dalam suasana wawancara yang hangat, ia menanyakan rahasia kesuksesan petani tersebut.

“Mudah saja, saya selalu membagi-bagikan benih terbaik yang saya miliki kepada para tetanggga”, jawab si petani. “Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya? Bukannya itu justru akan membuat Anda rugi dan kalah bersaing?”, tanya wartawan itu penuh keheranan. Sejenak petani itu terdiam kemudian menjelaskan, “Kami para petani ini telah diajarkan oleh alam. Angin yang berhembus menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jadi, jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula”.

* * *

Pilih mana kompetisi atau kolaborasi? Tidak sedikit orang yang mendikotomikan antara keduanya. Kompetisi yang bersinonim dengan persaingan kemudian diidentikkan dengan saling menjatuhkan, tingkat stres tinggi, hingga menghalalkan segala cara. Sementara kolaborasi yang bermakna kerja sama dipahami sebagai aktivitas saling membangun dan saling menguntungkan. Ibarat baik dan buruk, tentu tidak sulit menentukan pilihan. Bahkan ada yang ‘mengharamkan’ kompetisi, terutama di dunia pendidikan, karena hanya mengedepankan ego yang berbuah kerusakan, sementara setiap individu punya keunikan yang tidak bisa dan tidak seharusnya dikompetisikan.

Pembunuhan pertama oleh manusia juga didorong oleh menang – kalah dalam kompetisi. Namun bukan kompetisinya yang salah, melainkan bagaimana menyikapi kompetisi tesebut. Habil mempersembahkan kurban ternak terbaik sementara Qabil memberikan kurban hasil tani terburuk. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata orientasi, cara berkompetisi dan bagaimana menyikapi hasil kompetisilah yang menentukan dampak dari kompetisi. Sementara kompetisi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kompetisi sudah dimulai sejak pembuahan sel telur oleh satu dari jutaan sperma, hingga perjalanan hidup yang hakikatnya adalah kompetisi dengan waktu. Karenanya tidak heran jika Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berkompetisi menuju Ridha dan Jannah-Nya.

Kompetisi akan mendorong kreativitas dan inovasi, bersungguh-sunguh untuk terus menjadi lebih baik. Hidup tanpa kompetisi adalah stagnasi di zona nyaman. Meniadakan keindahan akan dinamika hidup. Coba saja bayangkan tiada kompetisi dalam memasuki jenjang pendidikan baru, atau dalam rekrutmen karyawan, atau bahkan dalam memilih pasangan. Meniadakan kompetisi sama saja mengingkari hakikat hidup manusia. Dan jika tidak didikotomikan, kompetisi sesungguhnya membuka ruang besar untuk tercipta kolaborasi. Ya, berkolaborasi dalam kompetisi.

Dunia semakin kompetitif dan kian menyempitkan makna kompetisi. Hanya ada satu juara, yang kalah akan tergilas zaman. Paradigma kompetisi untuk ‘saling membunuh’ mendorong manusia untuk melakukan apa saja untuk dapat bertahan hidup. Ketika manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sendirian, kolaborasi menjadi opsi strategis untuk dapat terus eksis. Sayangnya, kolaborasi yang dihasilkan dari paradigma seperti ini sifatnya transaksional. Ada selama masih ada kepentingan. Untuk berkolaborasi dengan benar, perlu paradigma kompetisi yang benar. Bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk terus berkembang. Bukan untuk memperoleh pengakuan, tetapi untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas. Mengubah mindset dari win-lose menjadi win-win.

Kolaborasi adalah berbagi peran dan potensi untuk mencapai tujuan bersama tanpa harus mengeliminasi jati diri. Perbedaan adalah hal yang perlu ada dalam sebuah kolaborasi, hal itulah yang membedakannya dengan sebatas koordinasi. Kolaborasi akan memperbesar peluang pengembangan dan keberhasilan. Kemenangan milik bersama. Kolaborasi adalah berbagi untuk bisa saling melengkapi. Berbagi dan memberi, itulah makna strategis kolaborasi yang tidak dimiliki oleh kompetisi.Kolaborasi akan meredam syahwat kompetisi yang takkan pernah terpuaskan, menyeimbangkan sisi manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya sebagai makhluk individu. Realitanya, kolaborasi mungkin tidak bisa membahagiakan dan menguntungkan semua orang, namun setidaknya tidak perlu hasil akhir yang mencelakakan atau menghancurkan pihak lain.

Hidup penuh dengan kompetisi sehingga terlibat dalam kompetisi seringkali bukan pilihan. Namun membangun paradigma kompetisi yang sehat adalah pilihan. Menggunakan cara-cara yang baik dalam berkompetisi adalah pilihan. Menyikapi kemenangan dan kekalahan dengan benar adalah pilihan yang mendewasakan. Mempersiapkan diri untuk bijak dalam menghadapi kompetisi dan hasilnya lebih realistis dibandingkan menghindari kompetisi dan berharap semua akan jadi pemenang. Namun jika kompetisi adalah keniscayaan, kolaborasi adalah pilihan. Pilihan para pemenang sejati. Betapa banyak orang yang menginjak-injak orang lain untuk mencapai puncak, dibandingkan mereka yang bergandengan tangan bersama mencapai puncak. Hampir semua manusia tengah berkompetisi, namun sedikit di antaranya yang berkolaborasi. Padahal kebermanfaatan adalah ukuran keberhasilan. Mari berlomba berkolaborasi dalam kebaikan. Berkompetisi untuk kolaborasi.

Competition make us faster, collaboration make us better

7 Mitos dalam Berinovasi (2/2)

Inovasi butuh biaya mahal
Di beberapa negara maju, ada bagian jalan yang dipasangi sel surya sebagai sumber energi alternatif. Memasang solar cell di sepanjang jalan tentu butuh biaya besar, dan memang tidak sedikit produk inovasi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, misalnya kereta api cepat ataupun mobil listrik. Biaya yang dianggap wajar untuk sebuah pembaharuan, tetapi apakah inovasi harus berbiaya mahal? Tentu tidak. Grameen Bank sebagai sebuah contoh inovasi sosial yang saat ini asetnya sudah mencapai miliaran dolar ternyata dimulai hanya dengan modal 20 sen. Wikipedia yang jauh mengalahkan Microsoft Encarta bahkan Encyclopedia Britannica dari segi jumlah kontributor dan banyaknya pengetahuan yang tersimpan di dalamnya, ternyata biaya pembuatan dan perawatannya jauh lebih murah dibandingkan ensiklopedia besar lain yang sudah lebih dulu eksis. Inovasi tidak harus berbiaya mahal, dan inovasi berbiaya mahal belum tentu juga lebih baik dari inovasi rendah biaya.

Semakin banyak produk inovatif yang ditawarkan berarti semakin baik
Perusahaan-perusahaan besar memiliki perhatian yang sangat besar terhadap produk inovasi, ketatnya kompetisi membuat mereka terus berinovasi. Hanya saja tidak jarang inovasi yang dilakukan justru kontraproduktif dengan keberhasilan yang mereka harapkan. Terus berinovasi memang penting namun tidak semua produk inovasi akan cocok di pasaran. Coca Cola dan Pepsi pernah mengalaminya ketika membuat varian rasa baru. Alih-alih menarik konsumen, inovasi produk tersebut justru berakhir pada kegagalan. Bahkan perusahaan sekelas Microsoft dan Google pun pernah mengeluarkan produk inovasi yang justru mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Inovasi tidak seharusnya sekadar menawarkan hal yang baru namun tidak sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan pasar. Perhatian terhadap kekhasan dan keunggulan produk juga perlu menjadi perhatian. Memperbanyak varian produk –seinovatif apapun—belum tentu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh.

Inovasi yang berhasil adalah inovasi yang berbeda, besar, dan berkualitas
Era industri yang telah berlalu, digantikan dengan era informasi dan pengetahuan ternyata turut memberi dampak pada paradigma inovasi. Di masa lalu, semakin baru dan canggih sebuah produk inovasi, maka semakin hebat. Saat ini, ukuran kualitas sebuah inovasi justru lebih banyak dilihat kesesuaian dengan kebutuhan dan permintaan pasar, serta dampak dan kebermanfaatannya. Jika dahulu karya inovasi yang unggul adalah yang unik dan sulit ditiru, di era pengetahuan justru kemudahan sebuah produk inovasi untuk bisa digunakan oleh semua orang menjadi nilai keunggulan. Tidak perlu benar-benar berbeda dan rumit, karya inovasi yang sederhana namun dapat dimanfaatkan secara luas akan lebih dianggap berkualitas.

Inovator adalah sosok luar biasa dan berbakat
Apakah inovasi merupakan bakat atau dapat dibentuk? Setiap manusia sejatinya dikaruniai kemampuan berpikir dan mengeluarkan ide, tetapi berapa banyak di antara mereka yang mengimplementasikan ide tersebut dalam sebuah karya inovatif. Sebesar apapun bakat kreativitas seseorang, jika tidak disertai dengan aksi nyata, tentu takkan berbuah inovasi. Aksi seadanya ternyata tidak cukup, belajar dari para inovator hebat seperti Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs, inovasi harus disertai dengan konsistensi dan persistensi. Kesungguhan dalam menghasilkan sebuah karya inovasi lebih menentukan dibandingkan sekadar bakat. Dan ternyata hampir semua karya inovatif adalah hasil kolaborasi bukan karya seorang individu, pun mungkin sosok yang muncul dikenal public hanya seorang. Ya, selain imajinasi, transformasi, aksi dan konsistensi, inovasi juga butuh kolaborasi. Sehingga tidak ada seseorang yang paling layak menjadi seorang innovator, sebab setiap diri kita punya bakat untuk menjadi seorang inovator.

“I believe in being an innovator” (Walt Disney)