Tag Archives: komunikasi

Niat Baik, Prasangka, dan Komunikasi

Kadangkala kita sendiri yang merusak jalan cerita. Yang sudah berjalan baik, tidak ada masalah, kita rusak karena tidak sabar, prasangka, terlalu sensitif dan sebagainya.” (Tere Liye)

Neng Salma bingung, Kang Dede suaminya menyampaikan bahwa tahun ini mereka tidak bisa memberikan santunan anak yatim dikarenakan pandemi Covid-19. Sementara Neng Salma sudah terlanjur menjanjikan kepada pihak panti asuhan bahwa tahun ini santunan tetap diberikan walaupun harus memperhatikan prosedur kesehatan. Dan tidak seperti biasanya, suasana hangat yang menyertai rumah tangga Kang Dede tiba-tiba menjadi dingin.

Akang, pokoknya santunan anak yatim harus tetap jadi! Eneng kan udah bilang ke Kang Mus yang dampingi anak-anak…”, ujar Neng Salma. “Bukannya Akang ga mau, tapi kan kondisi emang lagi begini. Lagian salah sendiri Eneng udah bilang duluan. Kang Mus juga pasti ngertiin kok…”, timpal Kang Dede. “Lho, bukannya pas puasa kemarin Akang dapat proyek besar, emangnya uangnya udah habis?”, tanya Neng Salma. “Neng, kebutuhan sekarang lagi pada naik. Banyak masyarakat yang butuh dibantu…”, jawab Kang Dede. “Ntuh Mpok Dona yang biasanya kasih sedekah, kemarin datang malah minta dibantu karena bisnis travelnya lagi ngap-ngapan gegara corona… Karyawan Akang juga harus dites Covid dan disiapkan APD sesuai peraturan, dan itu butuh dana…”, lanjut Kang Dede.

Dengan muka ditekuk, Neng Salma menimpali, “Kalo Akang ga mau bantu kasih santunan, biar Eneng cari sendiri deh uangnya… Lagian banyak orang kok yang mau bantu… Ngerti kalo sedekah tuh membuka pintu rejeki…”. “Dibilang bukannya Akang ga mau tapi emang uangnya ga ada… Ya udah kalo mo cari uang sendiri silakan…”, balas Kang Dede seraya menggerutu. “Ya udah, Eneng cari dana sendiri, ga usah bawa-bawa nama Akang!”, sambut Neng Salma. “Lho, gimana ga bawa-bawa Akang? Orang juga taunya Eneng istri Akang. Lagian rekening buat santuan kan selama ini pake nama Akang…”, Kang Dede menanggapi. “Ya udah, Eneng tinggal bikin rekening sendiri…”, serobot Neng Salma. “Terserah kamu aja!”, tegas Kang Dede seraya pergi tak ingin melanjutkan perdebatan. “Lho kok terserah?! Dasar nggak bertanggung jawab!!”, balas Neng Salma tak kalah sengit. Suasanapun menjadi hening…

* * *

Dasar istri tidak pengertian… Kondisi ekonomi kayak gini kok masih maksa kasih santunan… Buat makan aja susah… Mana segala kasih janji ga tanya-tanya dulu… Selama ini uangnya emang darimana, ga pernah pusing nyari duit sih… Biarin aja, emangnya gampang cari duit… Dibilangin cuma ngelawan, apa perlu cari yang lain aja ya…”, batin Kang Dede.

Dasar suami ga bertanggung jawab… Mau dibantuin jaga reputasi malah marah-marah… Emangnya Eneng ga tau uang proyeknya dipake buat apa… Lagian sok kaya utang dimana-mana… Makanya harus banyak sedekah biar rejekinya berkah… Liat aja, banyak kok yang mau bantuin. Dimana ada kemauan pasti ada jalan… Hmm, atau jangan-jangan Akang udah ga sayang Eneng ya…”, batin Neng Salma.

* * *

Sementara itu di dunia paralel…

Akang minta maaf ya Neng, sepertinya tahun ini kita ga bisa kasih santuan ke binaannya Kang Mus kayak tahun-tahun sebelumnya…”, ujar Kang Dede kepada istrinya selepas makan malam. “Kenapa Kang?”, tanya Neng Salma. “Anggarannya ga cukup. Pengeluarannya lagi banyak karena Covid dan ada beberapa prioritas lain”, jawab Kang Dede. “Oh gitu, semoga Allah memberikan kita rezeki yang berkah. Kalo Eneng bantu cari donatur gimana, Kang?”, tanya Neng Salma. “Boleh aja. Tapi ga malah ngerepotin Eneng?”, Kang Dede bertanya balik. “InsyaAllah nggak, Kang. Kalo niatnya membantu orang, pasti Allah membantu kita. Orang-orang juga pasti bantu. Nanti seberapa terkumpulnya aja disalurkan, Kang Mus pasti paham kondisinya lagi begini. Kasihan juga anak-anak kalo ga dikasih santunan, mereka juga pasti membutuhkan…”, jelas Neng Salma. “Iya, alhamdulillah, Akang senang punya istri yang pengertian kayak Eneng. Akang paling cuma bisa bantu untuk transport dan beberapa bingkisan…”, jawab Kang Dede. “Iya Akang, terima kasih udah bersedia bantu. Sekalian izin pake nomor rekening Akang ya buat penghimpunan donasi. Semoga rezeki Akang semakin lancar…”, ujar Eneng. “Terima kasih, Eneng sayang…”, balas Kang Dede seraya memeluk istrinya.

Sementara itu di tempat lain, seseorang berjubah hitam tampak menggerutu. “Haduh, itu kok rumah tangga Kang Dede masih adem ayem aja… Padahal saya udah ngomporin Neng Salma dengan informasi yang berbeda dengan yang saya sampaikan ke Kang Dede… Kalo mereka sampai cekcok kan saya bisa ambil kesempatan… Harus pake strategi lain nih…”, gumam orang itu.

Komunikasi adalah kunci untuk membuka hubungan (apapun). Lantas kepercayaan adalah kunci penggenapnya agar awet dan langgeng…” (Tere Liye)

Pemimpin Tepercaya, Pemimpin Memercaya

…Someone you know is on your side can set you free. I can do that for you if you believe in me. Why second-guess? What feels so right? Just trust your heart and you’ll see the light…
(‘True to Your Heart’, 98° feat Stevie Wonder)

Kepercayaan adalah hal penting yang harus ada dalam sebuah tim. Rasa percaya merupakan dasar dari kerja tim, dan sifatnya adalah resiprokal (timbal balik) bukan satu arah. Salah satu kriteria penting seorang pemimpin adalah dapat dipercaya. Kepercayaan kepada seorang pemimpin erat kaitannya dengan integritas, keteladanan, keadilan dan konsistensi. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan ini merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin untuk membangun dan melejitkan tim atau organisasi yang dipimpinnya.

Kepercayaan adalah hubungan resiprokal, namun bawahan akan lebih mudah memercayai pemimpinnya dibandingkan sebaliknya. Memiliki integritas, sejalan antara perkataan dengan perbuatan, jujur, adil, serta dapat memberi teladan yang baik sudah menjadi syarat cukup bagi seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan yang dipimpinnya. Apalagi jika pemimpin tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni, tentunya menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Belum lagi kekuasaan dan kewenangan seorang pemimpin bisa memperkuat kewajiban untuk percaya kepadanya, pun terpaksa. Ya, dalam titik ekstrim, seorang pemimpin bisa saja hanya memilih mereka yang memercayainya untuk dipimpin.

Persoalan klasik muncul ketika sosok pemimpin tidak lagi bisa dipercaya, terus berdusta, mengingkari janji, tidak adil dan transparan, serta gagal memberikan perasaan tenang pada yang dipimpinnya atas segala tindak tanduknya. Opsi menggulingkan kepemimpinan kerap butuh perjuangan keras dan biaya sosial yang tinggi. Sikap apatis seringkali menjadi opsi yang lebih realistis mengingat keterbatasan kemampuan untuk mengubah karakter kepemimpinan. Akhirnya, tim mungkin tidak hancur, namun tanpa kepercayaan tim sudah kehilangan ruhnya. Rutinitas organisasi mungkin masih bisa berjalan, dengan setiap elemen hanya berupaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Kepemimpinan tanpa kepercayaan hanyalah sebuah kehampaan dan omong kosong.

Masalah juga akan muncul ketika kepercayaan tidak menemukan hubungan timbal baliknya. Seorang pemimpin yang memercayai anggota timnya yang ternyata tidak amanah, bisa saja langsung memberikan treatment atau bahkan mengeluarkan ‘penyakit’ tersebut dari tim. Penyakit ini mudah didiagnosa karena pengaruh kekuasaan pemimpin akan terbantu oleh ketidaknyamanan dari anggota tim yang lain. Persoalan yang lebih rumit akan muncul ketika seorang pemimpin tidak atau kurang memercayai mereka yang dipimpinnya. Bisa jadi semua tanggung jawab dan beban kepemimpinan akan sepenuhnya dipikul oleh sang pemimpin. Padahal kepemimpinan bukan hanya seni memengaruhi orang lain, tetapi juga memercayai orang lain.

Tidak sedikit pemimpin dengan potensi yang luar biasa terjebak dalam kondisi ini: gagal sepenuhnya memercayai yang dipimpinnya. Fungsi delegasi hanya jadi formalitas layaknya dalang yang memainkan wayang. Super team tidak terbentuk karena pemimpin mengambil alih seluruh tanggung jawab, toh yang penting tujuan tercapai. Bukannya meringankan kerja anggota tim, pemimpin tanpa sadar justru tengah mengebiri potensi anggota tim. Barangkali tugas memang bisa selesai lebih cepat dan lebih berkualitas jika dikerjakan langsung oleh sang pemimpin, namun ketergantungan besar terhadap sosok pemimpin bukanlah hal ideal dalam kepemimpinan. Dinamika tim, termasuk belajar dari kesalahan, merupakan hal penting untuk terus bisa berkembang dan melakukan perbaikan. Pemimpin kadang lupa bahwa kepercayaan bersifat resiprokal, alih-alih menenangkan anggota tim, memberikan kepercayaan ‘setengah hati’ justru akan berbuah ketidakpercayaan.

Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang hebat, namun juga pemimpin yang menghebatkan mereka yang dipimpinnya. Dan memberikan kepercayaan adalah kunci pengembangan potensi anggota tim. Kepemimpinan ada siklusnya, kaderisasi adalah keniscayaan, membangun kepercayaan yang resiprokal antar anggota tim dan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah langkah strategis untuk memastikan kesinambungan suatu organisasi. Menjadi pemimpin yang tepercaya (dapat dipercaya) memang penting, namun menjadi pemimpin yang dapat memercaya (memberikan kepercayaan) tidak kalah penting. Karena kepercayaan adalah hubungan timbal baik, keduanya dapat seiring sejalan.

“Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?” (Tere Liye)

Agar Kebersamaan Ini Terus Terjaga

Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek – nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar pasangan tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Singkat kata, pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Disela-sela acara makan malam, pasangan ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan mereka, telah tersedia hidangan ikan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya ia berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan MENERIMA dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku MENERIMA hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap MENERIMAnya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Dan suamiku, aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

Sang kakekpun terkejut dan sedihlah hatinya mendengarkan penuturan sang nenek. Akhirnya, iapun menjawab,”Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan MEMBERIKAN YANG TERBAIK untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin MEMBERIKAN YANG TERBAIK bagimu. Sungguh istriku, semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

***

 

Saudaraku, dalam kebersamaan ini seringkali timbul pertengkaran yang disebabkan karena perbedaan dan ketidakcocokan antara satu dengan yang lain. Kemudian muncul egoisme dan prasangka yang pada akhirnya menimbulkan konflik antar personal yang kerapkali merusak irama langkah perjalanan yang sedang kita jalani. Seolah memang tak banyak pengaruh, namun berjuang tanpa ikatan hati sungguh tidak mudah. Dan memang persaudaraan ini tidak menjamin ada kecocokan di antara semua komponen penyusunnya, tinggal bagaimana kita dapat menjadi sosok yang tidak bermasalah bagi setiap orang.

Belajar dari kisah hidangan ikan diatas, ternyata keharmonisan tidak harus dibangun atas dasar kesamaan dalam segala hal. Namun ada beberapa hal kunci yang dapat membangun keharmonisan dan membuat kebersamaan ini semakin indah.

Pertama, sikap menerima rekan kerja. Yah, rekan kerja kita bukan malaikat yang tidak pernah melakukan hal diluar apa yang diperintahkan Allah. Mungkin saja dia kurang tegas padahal kita berharap figur yang berkarakter. Atau mungkin saja dia kurang perhatian padahal kita butuh pengayoman. Atau mungkin saja rekan kerja kita terkesan ga konkret, lambat, lemah komitmen, dsb. Namun pun bagaimana dia tetap rekan kerja kita yang memang tidak sempurna. Kalo udah sempurna, apalagi yang bisa ditingkatkan? Siapa yang bisa mengingatkan? Sikap menerima rekan kerja akan menghindarkan kita dari prasangka dan terlalu banyak menuntut, karena bisa jadi dalam beberapa hal kita tidak lebih baik dari rekan kerja kita. Sikap ini akan sinergis dengan keikhlashan karena dapat menghindarkan kita dari sikap suka mengeluh dan ketergantungan tinggi terhadap orang lain. Namun implementasi sikap ini bukan berarti menafi’kan pentingnya taushiyah dan pengingatan, bukan berarti kualitas diri tidak perlu ditingkatkan.

Kedua, prinsip untuk memberikan yang terbaik. Fokus kita adalah pada apa yang telah kita berikan bukan apa yang seharusnya bisa kita terima. Tidak perlu menyesal ketika kita sudah berusaha optimal sementara rekan kita belum menunjukkan kontribusi terbaiknya. Tidak perlu iri kepada mereka yang tidak berpeluh penuh kepayahan dalam berjuang. Penilaian hakiki ada di mata Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui, bukan manusia. Karenanya, sikap inipun akan sejalan dengan keikhlashan. Tidak menjadi lebih semangat untuk berbuat karena seorang manusia, tidak juga melemah tekad berkontribusi hanya karena rekan kerja. Terus berikan yang terbaik. Teguh, istiqomah, tidak menghiraukan pujian yang melenakan, tidak mempedulikan cercaan yang menyakitkan, tidak lemah oleh fitnah yang mewabah kian parah. Hanya berikan yang terbaik, untuk Allah… mengharapkan yang terbaik pula, di sisi Allah. Dan sekali lagi, implementasi sikap ini bukan berarti menafi’kan pentingnya taushiyah dan pengingatan, bukan berarti hanya asyik dan angkuh dengan diri sendiri.

Selain kedua hal diatas, ada lagi resep yang sangat mendasar untuk mengobati benih-benih persengketaan sekaligus untuk melezatkan rasa kekeluargaan. KOMUNIKASI. Ah, bisa panjang lagi jika saya paparkan tentang hal ini. Lagipula nampaknya sudah jadi pemahaman bersama bahwa banyak masalah yang seharusnya tidak jadi masalah jika dikomunikasikan dengan tepat. Banyak kok contohnya. Yah, gampangnya, coba bayangin aja bagaimana jadinya, bagaimana kelapangan hati yang terjalin antara kakek dan nenek dalam cerita diatas, jika sejak mereka ta’aruf mereka saling mengKOMUNIKASIkan bagian yang paling disukai dari makanan favorit mereka??? Yang pasti ceritanya jadi gak seru!
Wallahu a’lam bi shawwab

Ps : Mohon maaf ya kalo saya banyak salah, yah, beginillah Purwo, Hamba Allah yang lemah. Buat yang masih berantem, damai lebih enak lho. Buat yang belum mengikhlashkan saudaranya, semoga Allah melapangkan dadanya. Buat yang belum memberikan yang terbaik yang dipunya, kesempatan masih selalu ada sebelum ajal datang menyapa…

Kala Demonstrasi Tak Lagi Menghasilkan Perubahan

(Sebuah analisa dengan pendekatan Change Management)

Pada umumnya manusia enggan beranjak dari zona nyaman. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi resitensi seseorang terhadap perubahan. Manusiawi. Orang takut tidak dapat menghadapi persoalan karena perubahan. Perubahan mengandung unsure ketidakpastian (uncertainly). Selain itu perubahan dapat menimbulkan kerugian pribadi (personal loss) bagi mereka yang memiliki investasi pada status quo. Status, uang, kekuasaan, teman, kesenangan, dll dapat hilang karena perubahan. Pertaruhan yang besar. Makin besar investasi seseorang dalam sistem berjalan, makin besar kemungkinan penolakannya terhadap perubahan. Selain perubahan memang tidak juga dapat menjamin pasti hadirnya perbaikan.

Teori Perubahan
Menurut teori medan gaya (force field theory), peningkatan driving forces akan meningkatkan kinerja sekaligus restraining forces. Perubahan –yang biasanya dilakukan dengan menekan (push)— akan mendapat reaksi balik. Jadi, cara efektif untuk mendorong perubahan bukan dengan peningkatan driving forces tapi dengan pengurangan restraining forces. Suatu program perubahan terencana dapat dilakukan dengan internalisasi manfaat perubahan (mengurangi restraining forces) dan secara bersamaan memperkuat driving forces di dalam organisasi.

Menurut teori/ model proses perubahan (model of change process, Kurt Lewin & Edgar H Schein), masalah yang menyulitkan perubahan adalah ketidaksiapan orang merubah kebiasaan & perilaku lama serta perubahan pada seseorang yang tidak lama. Pada fase unfreezing terjadi proses menjadikan kebutuhan perubahan sebagai suatu yang nyata. Tiap lini siap untuk berubah, biasanya terjadi ketika ketidakidealan jelas dirasakan. Setelah itu, melalui identifikasi dan internalisasi nilai-nilai terciptalah perubahan, dimana agen perubah mampu menciptakan situasi dan nilai-nilai baru, sesuai kebutuhan perubahan. Kemudian dibutuhkan proses mengunci perubahan ketika manfaatnya sudah dapat dirasakan. Untuk mengunci hasil dan pola perilaku yang baru diperlukan mekanisme penunjang berupa apresiasi, penghargaan, reward, pengakuan dan penguatan lainnya.

Menurut teori Kesiapan Sistem (Systems Readiness, David B Gleicher), suatu perubahan bisa gagal karena perubahan system ke suatu keseimbangan baru membutuhkan energi yang besar, memenuhi rumus :

dimana :
C = Change/ perubahan
A = Tingkat ketidakpuasan terhadap status quo
B = Kejelasan bentuk perubahan yang diinginkan
D = Kejelasan langkah praktis perubahan yang akan dilakukan
X = Biaya perubahan

Dan perubahan hanya dapat terjadi ketika faktor-faktor pendukung perubahan lebih besar dari biaya perubahan. Terakhir, dikenal teori perubahan yang cepat ketika pekerjaan berhadapan dengan interupsi yang konstan. Kala itu kondisi berada pada batas kekacauan, ada tuntutan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya & banyak aktivitas yang dikendalikan oleh aturan-aturan yang dibuat sambil jalan (the white water rapids metaphor).

Menangani Resistensi
Berlawanan dengan status quo, secara fitrah, manusia ingin terus lebih baik dan menjadi yang terbaik. Dari sinilah titik tolak perubahan dilakukan. Ada banyak cara yang dapat diperbuat untuk menangani resistensi diantaranya memberikan pemahaman dan berkomunikasi, melakukan pelibatan/ partisipasi dalam pengambilan keputusan, meningkatkan ketrampilan, melakukan manipulasi, kooptasi, negosiasi bahkan koersi kepada pihak yang melakukan penolakan.

Demonstrasi dan Perubahan
Terlepas dari sebagai upaya melakukan pencerdasan sekaligus menunjukkan kepedulian dan menyuarakan aspirasi masyarakat, sering muncul pertanyaan: “Dapatkah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa membuat perubahan?”. Tentu ada pro dan kontra. Dan jika menilik pada perjalanan sejarah, memang demonstrasi kadang dapat menghasilkan perubahan dan kadang tidak.

Berdasarkan teori tentang manajemen perubahan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk efektivitas perubahan yang diusung suatu gerakan mahasiswa. Pertama, pentingnya membangun kesadaran akan pentingnya perubahan. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya dibutuhkan waktu, data dan fakta sehingga timbul pemahaman bersama bahwa kita memang harus berubah. Gerakan mahasiswa tidak seharusnya eksklusif dan hal ini sering dilupakan. Jangankan upaya pewarnaan dan pengarahan opini ke para pejabat maupun masyarakat, demonstranpun sering tidak memahami mengapa mereka harus melakukan demonstrasi. Kedua, perjelas arah dan bentuk perubahan, bahkan bila perlu beserta langkah-langkah taktis menuju perubahan yang diinginkan. Solutif dan mudah dipahami. Hal ini –mungkin— yang dapat menjawab tantangan disorientasi gerakan mahasiswa sekaligus menjadi detail format membangun gerakan.

Ketiga, pastikan tidak bermasalahnya hal-hal yang terkait dengan komunikasi (koordinasi, negosiasi, audiensi, diplomasi, dsb). Opini banyak tergantung pada efektivitas komunikasi dan perubahan banyak tergantung pada manajemen opini. Selama proses komunikasi internal dan antar linmi masih bermasalah, maka perubahan yang diharapkan relatif sulit terjadi. Keempat, berani bukan nekad. Ada unsure intelektualitas dan persiapan matang yang harus senantiasa mengiringi. Perubahan tidak akan efektif dan akan sangat mungkin destruktif jika dilakukan serampangan. Juga jangan berharap perubahan ‘turun dari langit’ sehingga pasrah menunggu ‘hidayah’. Semuanya harus terencana dan cerdas, walau pastinya tidak akan terlepas dari resiko.

Terakhir, membangun mentalitas pejuang-pejuang perubahan. Baiknya dimulai dari diri sendiri yang mau mendengarkan (kritikan) orang lain, mau menerima perbedaan, berani mengalah, meminta maaf dan berlapang dada/ memaafkan. Mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk diri, rela berkorban, berani menerima resiko, terus meningkatkan kemampuan diri dan tetap bersemangat dalam berjuang. Selanjutnya dibangun mentalitas perubahan dalam komunitas kecil, organisasi kemahasiswaan hingga sekup yang lebih besar.

Dapatkah demonstrasi membuat perubahan? Tentu saja! Sejarah pernah membuktikannya. Jika diiringi dengan niat ikhlash tanpa cacat, cara yang cerdas dan tepat serta mentalitas penuh semangat. Dan Allah SWT pun takkan berat menghadirkan perubahan yang hebat. Selanjutnya tinggal bagaimana dan dimana kita?

Wallahu a’lam bishawwab