Tag Archives: kontribusi

Menggugat Ketimpangan Pendidikan Tinggi Indonesia (2/3)

Potensi pengembangan ekonomi lokal menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun atau merevitalisasi perguruan tinggi. Keberadaan kampus sebenarnya secara otomatis akan menggeliatkan perekonomian di wilayah tersebut, karenanya pemerataan kampus bisa menjadi salah satu solusi untuk pemerataan ekonomi. Setidaknya bisnis kuliner, stasionery, dan sewa tempat tinggal (kost/ kontrakan) akan tumbuh subur di sekitar kampus. Dan bisa lebih dari itu. Lihat saja bagaimana pesatnya perkembangan wilayah Dramaga paska IPB pindah kesana, atau Tembalang (Undip), ataupun Jatinangor (Unpad dan ITB). Pun demikian nantinya dengan wilayah Indralaya (Unsri). Idealnya, wilayah sekitar kampus dapat menjadi laboratorium produktif untuk pengembangan mahasiswa. Misalnya, revitalisasi akademi pariwisata seharusnya didukung dengan wilayah yang dekat dengan berbagai sentra wisata atau setidaknya dengan potensi wisata. Demikian pula revitalisasi Sekolah Tinggi Perikanan misalnya, memang didukung dengan wilayah yang kaya akan potensi ikan. Link and match dengan dunia usaha dan dunia industri yang relevan dengan kompetensi mahasiswa sudah dibangun sejak dini. Kalaupun pada akhirnya lulusan mahasiswa akan kembali untuk membangun daerahnya masing-masing, mereka sudah melihat model bagaimana kompetensi mereka diimplementasikan.

Jadi setelah direvitalisasi, tidak ada lagi mahasiswa kehutanan yang tak pernah melihat hutan, atau mahasiswa Teknik Perkapalan yang tak pernah melihat kapal. Sebab laboratorium pengembangan kompetensi mahasiswa ada di sekitar mereka. Dan perlu diperhatikan bahwa yang diharapkan adalah terciptanya simbiosis mutualisme dimana kampus dapat membantu pengembangan wilayah, dan wilayah dapat menjadi laboratorium pengembangan kampus. Jadi bukan menjadikan kampus sebagai sentra bisnis. Walaupun sah-sah saja kampus mempunyai unit bisnis, namun dominasi orientasi bisnis dapat memalingkan kampus dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Setelah perguruan tinggi dibangun dan direvitalisasi, langkah kedua untuk pemerataan pendidikan tinggi adalah dengan merekrut calon pemimpin pemberdaya masyarakat terbaik dari setiap pelosok nusantara. Tidak semua anak Indonesia harus mengenyam pendidikan tinggi, bisa jadi ada di antara mereka yang lebih siap dan lebih tepat merasakan langsung dunia kerja dan dunia usaha. Karenanya perlu dicari bibit terbaik untuk menjadi calon pemimpin pemberdaya masyarakat. Upaya pencarian bibit terbaik ini dulu dikenal sebagai jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), yang saat ini barangkali sudah menyempit maknanya dengan jalur SNMPTN. Esensinya adalah bahwa selalu ada calon pahlawan di suatu wilayah yang perlu ditemukenali untuk kemudian direkrut dan dibina. Kawah candradimukanya seharusnya tidak melulu kampus besar di kota besar, tetapi perguruan tinggi terdekat yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan wilayahnya.

Ada beberapa kekeliruan yang selama ini terjadi dalam upaya merekrut calon mahasiswa terbaik ini, diluar kegagalan pihak sekolah menemukenali bibit terbaik di sekolahnya. Pertama, ketergantungan pada teknologi informasi dan komunikasi. Sosialisasi tidak menyentuh ke pelosok sebab belum semua wilayah memiliki akses internet. Padahal bisa jadi bibit terbaik ada disana. Karenanya pendekatan kultural dan struktural lewat perangkat pendidikan sangatlah penting. Kedua, penilaian kompetensi yang generalis tidak spesialis. Dianggap terbaik ketika unggul di semua mata pelajaran, padahal bisa jadi keunggulannya dibangun melalui bidang ilmu yang spesifik, atau bahkan bisa jadi keunggulannya tidak diajarkan di sekolah. Misalnya siswa yang mahir dalam bercocok tanam atau mengolah bahan pangan karena pengalaman mereka membantu orang tua, takkan terdeteksi bakatnya karena tidak terfasilitasi oleh mata pelajaran, apalagi jika nilai mata pelajaran dasar mereka biasa saja. Padahal mereka bisa jadi bibit terbaik di Sekolah Tinggi Pertanian atau Akademi Tata Boga, misalnya.

Dan kekeliruan yang paling sering terjadi adalah ‘mencerabut’ mereka dari akar masyarakatnya. Ditarik ke kota dan dididik sehingga nyaman dengan kondisinya. Tidak bisa kembali untuk membangun daerah sebab kompetensinya tidak relevan atau sumber daya di daerahnya sangat terbatas. Bibit terbaik ini memang sejak awal dikondisikan untuk meninggalkan masyarakat. Kalaupun diikat dengan pengabdian, ikatannya takkan bertahan lama. Alhasil, kesenjangan baru tercipta. Menjadi penting untuk merekrut dengan benar, mendidik dengan benar, dan melepas dengan benar, sehingga dapat dipastikan mereka yang berasal dari masyarakat akan kembali memberikan kontribusinya untuk masyarakat.

Setelah perguruan tinggi dan bibit terbaiknya tersedia, langkah ketiga untuk pemerataan pendidikan tinggi adalah menghadirkan kualitas pendidikan tinggi terbaik ke daerah, setidaknya dari tenaga pendidiknya. Mengapa kualitas ini tidak dibangun sejak awal? Sebab membangun kualitas membutuhkan proses dan sumber daya yang tidak sedikit. Tidak bisa serta merta muncul. Mengubah status PTS menjadi PTN mungkin hanya butuh beberapa dokumen, namun membangun PTN tersebut menjadi PTN berkualitas tidak mudah. Merekrut mahasiswa barangkali hanya butuh selembar kertas, namun menjadikannya mahasiswa yang berkualitas tidaklah sederhana. Dan bagaimanapun, kualitas adalah conformance to requirements, sehingga harus jelas dulu kebutuhan dan persyaratannya. Dan kualitas adalah fitness for use, sehingga mesti clear dulu yang dikehendaki user seperti apa.

Menghadirkan tenaga pendidik berkualitas menjadi catatan tersendiri sebab ujung tombak pendidikan terletak di pendidiknya, walau proses pembelajarannya andragogi yang melibatkan peserta didik sekalipun. Sayangnya, tidak mudah menghadirkan tenaga pendidik berkualitas ke daerah. Tenaga pendidik berkualitas banyak berkumpul di kota besar yang kaya sumber daya, sementara daerah sangatlah sulit bersaing untuk menghadirkan sumber daya tersebut. Pun demikian, keunggulan kompetitif dan komparatif wilayah sebenarnya bisa diangkat guna menggugah semangat pengabdian para tenaga pendidik berkualitas ini. Secara umum, daerah relatif lebih kaya data, dan kebermanfaatan dari tindak lanjut hasil riset dan pengembangan dapat lebih mudah dirasakan. Hal ini bisa menjadi kenikmatan tersendiri. Belum lagi suasana yang lebih kondusif, jauh dari hiruk pikuk juga bisa menjadi nilai tambah. Bahkan nilai-nilai kemanusiaan dan nasionalisme bisa menguatkan motif para tenaga pendidik berkualitas ini untuk berkontribusi. Selain itu, sistem penugasan sementara dan mekanisme reward bisa menjadi opsi lain yang dapat dilakukan.

Karenanya, menjadi penting untuk terlebih dahulu mengondisikan wilayah dan peserta didiknya. Sumber daya primer di wilayah perlu disediakan dan potensi sumber daya wilayah terus dikembangkan. Bahkan tidak semua filantropis siap memulai perjuangan dari nol. Peserta didik yang potensial dan siap untuk bertumbuh berkembang akan memantapkan semangat berkontribusi dan berkolaborasi para pendidik berkualitas ini. Dan tantangan yang lebih tinggi akan membuktikan sejatinya kualitas diri.

(bersambung)

Menyikapi Corona: Tenang atau Waspada?

“…Dan untuk temen-temenku yang masih suka bilang, ‘Elah Tang, santai aja, nyawa kita di tangan Tuhan’, wet Paman Boboho, kalau emang itu prinsip ente, noh lu jongkok tengah jalan tol sambil bilang ‘nyawa kita di tangan Tuhan’ kalau nggak dicipok Inova lu. Emang nyawa kita di tangan Tuhan, cuma kan harus usaha kitanya, ada ikhtiar sebelum tawakal. Nah makanya lu pas pelajaran agama, jangan main QQ, kagak masuk di kepala lu. ‘Tapi gue nggak apa-apa Tang kalau meninggal’, ya gue juga nggak apa-apa kalau lu meninggal. Asal lu meninggal jasad lu nguap gitu, ngilang. Lah lu kalau meninggal karena ngeremehin Corona, yang lain bisa kena. Yang mandiin lu, yang nguburin lu, orang catering tahlilan lu, kena. Ya Allah jahat banget lu. Dia nggak ngerti apa-apa, cuma ngebungkusin lemper doang, kena. Beda cerita kalau lu udah waspada gitu kan. Pasti ada penanganannya…” (Bintang Emon)

Per hari Jum’at, 27 Maret 2020 ini, jumlah penduduk Indonesia yang positif corona menembus angka psikologis 1.000 orang, tepatnya 1.046 orang. Lebih menyedihkannya, jumlah korban meninggal akibat virus corona mencapai 87 orang sehingga case fatality rate Indonesia sebesar 8,3%. Dari 50an negara dengan kasus positif virus corona tertinggi, di atas 500 kasus, case fatality rate Indonesia ini hanya kalah oleh Italia yang mencapai 10,6%. Sebagai catatan, Italia merupakan negara dengan angka kematian akibat COVID 19 terbesar di dunia, yakni sebanyak 9.134 orang. Hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan China sebagai negara dimana wabah virus corona bermula. Jumlah kasus positif corona di Italia juga telah melampaui China dan hanya kalah oleh Amerika Serikat yang telah menembus 100 ribu kasus positif corona.

Mendapati berita terkait wabah COVID 19 selalu saja membuat hati was-was. Padahal kadang informasi memang kita butuhkan untuk lebih memahami masalah dan mencari solusi. Namun seringkali tidak mudah menyikapi informasi secara proporsional. Bukan sebatas informasi, dalam banyak hal memang tidak mudah menyikapi sesuatu secara berimbang. Padahal jika kita kaji lebih dalam, kunci pengelolaan wabah COVID 19 ini terletak pada bagaimana penyikapan kita, baik sebagai individu, masyarakat, atau sebagai negara. Sebagai individu yang menjadi bagian dalam bermasyarakat dan bernegara, saat ini ada dua kecenderungan orang dalam menyikapi wabah COVID 19 ini. Yang pertama tetap tenang, yang kedua terus waspada. Tetap tenang ini ekstrimnya santuy, sementara waspada ini ekstrimnya paranoid. Mana kira-kira penyikapan yang lebih pas?

Jika ditanya seperti itu, banyak orang barangkali akan menjawab sebaiknya ada di tengah-tengah, jangan terlalu santuy, tapi jangan juga terlalu paranoid. Atau tetap tenang namun juga waspada, atau waspada tetapi tetap tenang, dan sebagainya. Sayangnya, menyeimbangkan kedua sikap ini tidak sesederhana itu. Diucapkan memang mudah, namun perilaku yang ditunjukkan kerap cenderung ke salah satunya. Karena bagaimanapun, sikap tenang berkontradiksi dengan panik atau paranoid sementara sikap waspada berkontradiksi dengan abai atau santuy. Di satu sisi masyarakat diminta tenang dan tidak panik, di sisi lain diminta tetap waspada dan jangan cuek. Bisakah keduanya dilakukan secara simultan?

Jikalau memang sulit merealisasikan ketenangan sekaligus kewaspadaan dalam sebuah sikap yang jelas, atau dalam proporsi yang tepat disebabkan kontradiksi alami yang menyertainya, maka sikap tenang dan sikap waspada ini cukup kita tempatkan dalam dimensi yang berbeda. Perlu diingat, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sehingga kita bisa menempatkan kedua kecenderungan penyikapan tadi dalam dimensi personal dan sosial.

Secara personal, sikap tenang lebih utama. Ketenangan ini akan melahirkan kejernihan pikiran. Pribadi yang tenang akan memiliki banyak kelebihan ketika menghadapi ujian. Pribadi yang tenang akan mudah berpikir positif dan berprasangka baik. Sudah banyak fakta yang menjelaskan betapa banyak masalah dan penyakit yang muncul dari ketidaktenangan hati dan pikiran. Untuk meningkatkan imunitas, ada yang menyarankan untuk mengetuk kelenjar timus dan meridian limpa. Aktivitas sederhana ini tentu tidak sebanding dengan makan makanan dengan gizi seimbang, cukup olahraga dan cukup istirahat dalam hal peningkatan imunitas. Namun aktivitas tersebut bisa menjadi sugesti positif yang akan memberikan dampak. Bagaimanapun, sistem di dalam tubuh kita termasuk sistem imun ini erat kaitannya dengan kondisi kejiwaan. Stress akan menghambat imunitas ini. Karenanya tidak sedikit mereka yang bisa sembuh dari penyakit karena sugesti positifnya. Dan disinilah anjuran berdo’a dan berdzikir menjadi relevan untuk menghadirkan ketenangan dan kesehatan.

Selanjutnya, orang yang tenang juga relatif akan terhindar dari tindakan yang tidak bermoral dan tidak masuk akal. Masih ingat kasus langkanya masker, hand sanitizer, tisu toilet, hingga vitamin C di berbagai pusat perbelanjaan di beberapa negeri karena wabah COVID 19? Panic buying hanya dilakukan oleh mereka yang tidak tenang. Sementara orang yang bersikap tenang akan membeli masker atau makanan seperlunya di tengah wabah sekalipun karena meyakini badai pasti berlalu. Hanya mereka yang kehilangan ketenanganlah yang terpikirkan untuk meludahi atau menjilati benda-benda yang berpotensi banyak disentuh orang, agar tertular virus corona tidak sendirian. Selain itu, orang yang tenang biasanya akan lebih mudah mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang menimpanya.

Di sisi lain, secara sosial, sikap waspada perlu diutamakan. Pribadi yang waspada ini bukan hanya akan survive di tengah masyarakat, namun mereka dapat berkontribusi positif dalam menghadapi wabah COVID 19 ini. Menghambat penularan virus dengan kewaspadaannya, sekaligus mempercepat masa recovery dari bencana ini. Mereka yang waspada tak hanya peduli akan kesehatan dirinya, namun juga kesehatan orang-orang di sekitarnya. Mereka yang waspada bukan hanya menghindari terjangkit virus corona, namun juga akan terhindar dari aktivitas yang riskan dan tidak bermanfaat. Diam di rumah tanpa harus meningkatkan risiko tertular, menjadi carrier bagi virus, atau bahkan menularkan penyakit. Jika harus keluar rumah pun persenjataan lengkap. Ada masker, bawa hand sanitizer, jika perlu pakai baju berlapis-lapis. Senantiasa menjaga diri kapanpun dimanapun, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang ini ‘tak ada waktu’ untuk nongkrong-nongkrong gak jelas di pinggir jalan, atau pergi liburan ke tempat wisata di tengah wabah melanda. Mereka memahami keutamaan berikhtiar dan menyadari bahwa dirinya tidak boleh membawa kemudharatan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Nah, kolaborasi sikap tenang secara personal dan waspada secara sosial inilah yang dibutuhkan untuk mengatasi wabah COVID 19. Bukan hanya salah satunya. Mereka yang hanya asyik dalam ketenangan akan berpotensi abai sekaligus ngeyel. Merasa aman dari kematian karena merasa sehat-sehat saja padahal sudah banyak orang yang positif terpapar virus corona tiba-tiba tanpa gejala. Santai beraktivitas di keramaian tanpa peduli potensi dirinya membawa dan menularkan virus corona. Meyakini bahwa maut di tangan Allah, namun abai bahwa dirinya bisa menjadi perantara maut bagi orang lain. Di sisi lain, mereka yang hanya asyik dalam kewaspadaan akan berpotensi terjebak dalam aura negatif penyakit. Ke luar rumah tidak, tapi di rumah kayak lagi marahan. Mojok sambil Work From Home, sementara istri di pojokan yang lain, dan anak-anak di sudut yang lain. Ke luar rumah udah kayak mau perang, panik ketika bertemu orang, apalagi kalau ada yang batuk atau bersin. Langsung semprot sana semprot sini. Merasa berikhtiar semaksimal mungkin, namun lupa akan hubungan antar personal, atau bahkan mungkin lupa hakikat takdir.

Tantangan utama penanganan wabah COVID 19 adalah menghadirkan penyikapan yang tepat dalam menghadapi wabah ini. Dan disinilah pendidikan memegang peran. Fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian, serta peradaban yang bermartabat. Menghadirkan pribadi yang tenang secara personal sekaligus waspada secara sosial butuh edukasi, butuh pendidikan. Mereka yang masih ngeyel tetap berkeliaran di jalan tanpa keperluan, butuh penyadaran, butuh pendidikan. Mereka yang masih belum aware bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, dimana saja, butuh penyuluhan, butuh pendidikan. Mereka yang khawatir tidak bisa makan jika tidak keluar rumah, butuh pembinaan, butuh pendidikan. Semoga wabah COVID 19 ini dapat menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk kembali menjalankan fungsi utamanya: memanusiakan manusia.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Fath: 4)

Pemuda yang Menginspirasi dalam Sunyi

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika di-list, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Kembali Meniti Jalan Ini

Kembali meniti jalan ini setelah empat tahun bertualang ke medan juang yang lain. Ada romantika masa lalu yang sempat menyeruak. Mulai dari diskusi ringan dengan adik-adik, bermalam bersama di rumah kedua, hingga kebahagiaan melihat pancaran sinar mata mereka yang penuh harapan. Ada trauma menggelitik yang turut menyertai. Mulai dari mengurai masalah mereka yang tak merasa salah, mencoba memenuhi tuntutan dengan tidak memanjakan, hingga berbagai problematika dan dinamika dalam membina manusia.

Kembali meniti jalan juang ini, ternyata sudah banyak yang berubah. Rekan-rekan seperjuangan sudah banyak yang berganti peran. Adik-adik yang dulu dididik sudah beralih fungsi dan posisi turut menentukan arah perjalanan ini. Masalah kian bertambah seiring bertambahnya usia, kebijakan pun sudah banyak berubah. Rasa kepemilikan dan semangat perjuangan juga mengalami transformasi. Sekat – sekat yang terlihat dan tidak terlihat semakin kuat terasa. Entah mungkin diri ini yang semakin menua. Atau sekadar dilema adaptasi di masa transisi. Atau mungkin sebatas post power syndrome?

Kembali menyusuri jalan penuh kenangan. Ada tawa, tangis, suka, duka, marah, dan gembira di masa lalu yang terlintas. Menumbuhkan kembali cinta yang sempat teralihkan, menghapus kelelahan yang pernah bersemayam. Di jalan ini hubungan silaturahim banyak terjalin. Di jalan ini pula bertebaran berbagai hikmah dan pembelajaran yang mendewasakan. Tantangan yang berbeda tidak dapat dihadapi dengan cara yang sama. Terus berkembang dan tumbuh bersama.

Kembali meniti kanal kontribusi ini, banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, paradigma yang perlu diluruskan, konsep dan struktur yang perlu diperbaiki, dan jembatan yang perlu dibangun. Waktu untuk berbenah tidak banyak, tidak boleh larut dalam gagasan sebatas angan. Selalu ada kebaikan dalam setiap ketentuan-Nya. Seorang pejuang sejati tidak memikirkan bagaimana dirinya akan ditempatkan dalam sejarah, namun ia akan berpikir bagaimana kelak dirinya akan ditempatkan di sisi Rabb-nya. Jalan ini, adalah jalan kontribusi ‘tuk meraih Ridha Ilahi…

Dari Etoser Untuk Indonesia

Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, hidup ini tampak sangat pendek dan kerdil. Ia bermula saat kita mulai mengerti dan berakhir bersama berakhirnya usia kita yang terbatas. Tapi apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk (memperjuangkan) sebuah idealisme dan kebermanfaatan, maka kehidupan ini terasa panjang dan memilki (makna) yang dalam. Ia bermula bersama mulainya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi” (Ibnu Qayyim)

* * *

Sejarah telah mencatat, bahwa mahasiswa memiliki andil penting dalam membuat perubahan dunia. Arah sejarah dapat berubah ketika mahasiswa selaku intelektual muda bergerak dan membuat dinamika produktif. Idealisme yang teguh, pemikiran yang kritis dan semangat yang menyala – nyala didukung potensi fisik yang kokoh menjadi kekuatan tak terbatas mahasiswa sebagai anasir perubahan. Dan kesemuanya itu dimulai dengan satu kata : kepedulian. Gerakan mahasiswa menjadi melemah ketika wabah apatisme merajalela, ketika fungsi sosial mahasiswa tertutupi dengan egoisme dan individualisme, ketika mahasiswa semakin jauh dengan masyarakatnya. Atau dengan kata lain ketika mahasiswa kehilangan kepeduliannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan selalu dimulai oleh mereka yang peduli. Dan sudah lumrah juga bahwa penggagas ini jumlahnya tidak banyak. Pun pengabdian kepada masyarakat sudah menjadi salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, tidak menjadi jaminan mahasiswa akan bergerak melakukan perbaikan di tengah masyarakat. Mahasiswa seakan lupa bahwa mereka lahir dan tumbuh dari masyarakat, masyarakat turut membantu penyelenggaraan pendidikan dan masyarakat pula tempat pembuktian sejati kualitas lulusan perguruan tinggi.

Berbagai organisasi dan kegiatanpun dilakukan untuk mengarahkan potensi besar anasir perubahan ini dengan mengasah kepeduliannya, salah satunya dengan memberikan bantuan pembiayaan pendidikan dengan konsekuensi mengembalikan kebermanfaatan untuk masyarakat, seperti yang dilakukan oleh Program Beastudi Etos yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa. Beastudi Etos sejak awal kelahirannya memang didedikasikan untuk menebar kebermanfaatan yang lebih besar. Sebagai program investasi SDM, para penerima beasiswa diharapkan akan menjadi pemimpin – pemimpin di masa depan yang berpihak kepada masyarakat.

Perhatian besar terhadap perbaikan kultural di tengah masyarakat ini tercermin dalam salah satu misinya yaitu mengoptimalkan peran SDM Beastudi Etos dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya itu, kurikulum pembinaan yang disusunpun mengakomodir kontribusi sosial penerima beasiswa. Selain domain agama, akademik dan pengembangan diri yang menjadi landasan etoser (sebutan untuk penerima Beastudi Etos) dalam berpikir dan bersikap, ada juga domain sosial yang tidak kalah pentingnya. Pembinaan domain sosial ini yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya sekaligus mengantarkan etoser pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri. Etoser diharapkan dapat menjadi lulusan perguruan tinggi yang bertaqwa, cerdas, progresif dan peduli. Dapat mengembalikan kebermanfaatan dengan menjadi penebar manfaat sehingga roda pemberdayaan terus berputar, terus membesar dan membesar…

Dan Mutiara Itu Kembali Berbenturan

Aku adalah sebongkah batu kecil di tengah sekumpulan batu yang tersimpan dalam sebuah wadah. Dan kebetulan batu-batu itu adalah sekumpulan mutiara yang mungkin kerap membuat orang lain takjub dan iri. Di sekelilingku banyak kujumpai mutiara lain yang nampaknya lebih lama terbungkus di dalam kerang daripada diriku yang masih ‘baru’. Dan hari ini kami berkumpul untuk memberikan yang terbaik yang kami miliki bagi pemilik kami…

Awalnya biasa saja hingga ada sebongkah mutiara ‘lama’ yang menawarkan diri untuk dipersembahkan sebagai hadiah terbaik. Segera saja mutiara-mutiara ‘senior’ lainnya melakukan hal yang serupa. Jelas saja situasi mulai ramai karena setiap mutiara punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Suasana semakin ricuh ketika hampir semua mutiara berlomba bersuara dan berpendapat, tidak terkecuali aku. Saling desak sana sini disertai gemuruh suara yang memekakkan telinga makin mengacaukan pertemuan kami…
Dan benturan keraspun terjadi, ada mutiara yang memilih pergi, ada yang retak bahkan ada yang hampir pecah. Aku tergugu… aku malu…

Rasanya tidak ada yang bisa disalahkan, aku tak sepenuhnya salah, ‘kakak-kakakku’pun punya alasan yang cukup untuk melakukan itu atau mungkin semuanya salah? Ah, bodohnya aku, bukan saatnya untuk mencari siapa yang menyebabkan kekacauan ini, tapi seharusnya kucari kedewasaan dan ke’tawadhu’an yang dapat menghentikan semua kebodohan ini…
Akupun membayangkan seandainya kami tidak saling adu tentulah tidak ada yang dirugikan, jika kami memilih untuk saling menggosok tentulah kami akan saling menghasilkan kilau dan dapat menjadi hadiah yang indah…

Aku adalah sebongkah batu kecil yang kini tergores karena benturan. Tapi aku punya tekad untuk menjadi batu terakhir yang harus tergores. Goresan ini akan mengingatkanku untuk memadukan potensi yang kami miliki untuk menghasilkan kontribusi yang lebih besar… dan perjuangan ini belumlah berakhir…

Pusgiwa UI, 28 Juli 2005 pukul 21.33 WIB
Ps. Teman-teman, sekumpulan mutiara itu indah bukan?

Karena Engkau Begitu Berharga

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu Diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah : 105)

* * *

Pada suatu musim semi, Ibnu Jad’an melihat unta miliknya tumbuh besar dan susunya siap diperah, diapun berujar, “Demi Allah, saya akan sedekahkan unta betina ini beserta anaknya kepada tetanggaku sebab Allah SWT berfirman : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imron : 92). Sungguh barang yang paling aku cintai adalah unta betina ini”. Lalu iapun membawa unta betina tersebut beserta anaknya kepada tetangganya sambil berkata, “Ambillah sebagai hadiah dariku untukmu”. Tetangganyapun tampak sangat bahagia menerima sesuatu yang sangat berharga tersebut.

Musim semi selesai, tibalah musim kemarau yang kering dan panas. Ibnu Jad’an dan ketiga anaknya berjalan untuk mencari ad-duhul (lubang dalam tanah yang menyambung dengan sumber air yang memiliki mulut di

Belajar dari Pohon Pisang

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : ‘Ya Rabbku, tidaklah Kau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka selamatkanlah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imron 190 – 191)

* * *

Saudaraku, setiap kita tentunya pernah merasa begitu lelah dan membutuhkan orang lain dalam meniti jalan panjang kehidupan ini. Masing-masing dari kita tentunya pernah merasa sedemikian jenuh dan butuh nasihat dari orang lain. Namun bagaimana jika orang yang dinanti tak kunjung tiba sementara jiwa kita sangat membutuhkan penyegaran?

Saudaraku, sungguh Allah telah menciptakan banyak hal di dunia ini yang dapat menjadi renungan bagi kita, hamba-Nya yang mau bertafaqur. Biarlah alam yang mengajari kita banyak hal, mengajari tanpa menggurui, karena kita jualah yang menginterpretasikan pelajaran dari alam.

Saudaraku, pohon pisang rasanya bukan satu jenis pohon yang asing bagi kita. Pohon berbatang lunak dan berdaun lebar itu rasanya masih dapat kita temukan pun mungkin kini keberadaannya mulai tersaingi dengan ‘pohon-pohon’ lain yang berbatang beton. Dan pernahkah kita memikirkan suatu pembelajaran yang dapat kita petik dari pohon pisang?

Pohon pisang adalah pohon yang seluruh anggota tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari akarnya untuk obat sakit perut, batangnya dalam pembuatan janur ataupun dalam proses mengkremasi mayat, daunnya untuk pembungkus hingga buahnya yang dapat dimakan. Saudaraku, begitulah seharusnya setiap kita, dapat memberikan manfaat bagi orang lain dengan segenap apa yang kita miliki…

Pohon pisang senantiasa dapat berbuah tanpa mengenal musim. Pohon pisang akan menyimpan cadangan airnya pada musim hujan dan menggunakannya pada musim kemarau. Kita tidak mengenal adanya musim pisang, berbeda dengan musim durian atau rambutan. Saudaraku, janganlah mengenal waktu dalam beramal, janganlah mengenal masa dalam berbuat kebaikan, janganlah kontribusi hanya dapat kita berikan pada saat-saat tertentu di kala kita menginginkannya. Kontinyuitas suatu kebermanfaatan seharusnya senantiasa dapat kita jaga…

Pohon pisang dalam habitat aslinya selalu hidup berkelompok. Jika ada pohon pisang yang tumbuh menyendiri tentulah karena perbuatan manusia yang jika dibiarkan terus tumbuh akan membentuk komunitas pohon pisang juga. Saudaraku, ternyata untuk dapat bermanfaat kita juga membutuhkan teman sebagai penguat, kita butuh saudara-saudara kita sebagai pengingat, kita perlu orang lain untuk optimalisasi potensi kebermanfaatan kita. Ketika kondisi menuntut kita untuk mandiri, maka ’ciptakanlah pohon pisang’ lain sehingga kita tetap tak sendiri. Ya, untuk mencapai puncak produktivitas kontribusi, kita perlu berjama’ah…

Pohon pisang umumnya takkan mati sebelum ia berbuah, pohon pisangpun senantiasa meninggalkan tunas-tunas baru sebelum akhirnya ia mati. Saudaraku, layak untuk kita renungi, sudahkah ada prestasi tertinggi sebelum ajal kita tiba? Sudahkah ada amal terbaik sebelum Izrail mencabut nyawa kita? Sudahkah ada kontribusi besar bagi ummat sebelum akhirnya kita harus pergi meninggalkan dunia ini menuju alam yang kekal abadi? Jika belum, berbuatlah. Dan sudahkah kita menyiapkan generasi berkualitas yang dapat memberi kontribusi lebih bagi lingkungannya? Sudahkah kita tinggalkan kader-kader unggul yang siap berjibaku untuk terus beramal dan memberikan kebermanfaatannya bagi alam? Jika belum, siapkanlah.

* * *

Saudaraku, hidup ini terlalu sempit untuk hanya memikirkan diri sendiri, hidup ini teramat singkat tanpa kebermanfaatan kita bagi orang lain. Dan sebenarnya tak perlu sebesar pohon durian ataupun setinggi pohon pinang untuk dapat memberikan manfaat, yang terpenting adalah kontribusi nyata. Dan biarlah Allah SWT yang akan menilai dan memberikan balasan…

”Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani)

Ps. Inspired by HAMKA, dimuat di Majalah Tarbawi