Tag Archives: kreativitas

Ayo (Berhenti) Rapikan Meja Kerja Anda!

Jika meja yang berantakan adalah tanda pikiran yang berantakan, maka sebuah meja kosong merupakan tanda dari apa?” (Albert Einstein)

Kata-kata tersebut kerap menjadi pembenaran bagi mereka yang meja kerjanya tidak rapi. Seraya menambahkan bahwa meja kerja orang sekaliber Albert Einstein, Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs pun jauh dari kata rapi. Argumen ini diperkuat dengan berbagai penelitian terkait. Misalnya peneliti di University of Minnesota (USA) menguji seberapa baik responden dapat mengemukakan gagasan baru saat bekerja di lingkungan yang rapi dan berantakan. Hasilnya, gagasan yang jauh lebih menarik dan kreatif muncul dari responden di meja kerja yang berantakan. Sementara responden di meja kerja yang rapi cenderung mengikuti peraturan dan enggan mencoba hal baru. Penelitian lain dari University of Northwestern (USA) juga menemukan bahwa orang dengan meja kerja berantakan lebih dapat menyimpulkan inspirasi kreatif dan mampu memecahkan masalah lebih cepat ketimbang orang yang meja kerjanya rapi.

Tapi bukankah berantakan tanda malas membereskan? Dan lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bersih dan rapi? Ada benarnya, namun tidak sepenuhnya. Sebelumnya perlu kita pahami perbedaan antara lingkungan kerja, tempat kerja, dan meja kerja. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja pada saat bekerja, baik berbentuk fisik atau nonfisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi diri dan pekerjaannya saat bekerja. Lingkungan kerja yang baik tentu akan berdampak positif terhadap pekerjaan. Dan lingkungan kerja ini juga mencakup aspek nonfisik, misalnya hubungan kerja dengan atasan, rekan atau bawahan.

Adapun definisi tempat kerja menurut OHSAS 18001 (standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah lokasi manapun yang berkaitan dengan aktivitas kerja di bawah kendali organisasi (perusahaan). Tempat kerja ini perlu dikelola untuk menghilangkan pemborosan (waste) sehingga sumber daya bisa optimal. Salah satu metodologi penataan dan pemeliharaan tempat kerja yang banyak dikenal adalah 5S, yang merupakan gerakan untuk mengadakan pemilahan (seiri), penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan kondisi yang mantap (seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke). Di Indonesia, metode 5S ini diadopsi menjadi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang merupakan suatu program terstruktur yang secara sistematis menciptakan ruang kerja (workplace) yang bersih, teratur dan terawat dengan baik. 5R juga bertujuan meningkatkan moral, kebanggaan dalam pekerjaan serta rasa kepemilikan dan tanggung jawab pekerja. 5R digunakan juga dalam konsep Lean Management lainnya, seperti: Single Minute Exchange of Dies (SMED), Total Productive Maintenance (TPM), dan Just In Time (JIT).

Tempat kerja adalah bagian dari lingkungan kerja, tempat kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas kerja. Pekerjaan bisa terhambat karena kesulitan menemukan alat kerja, mobilitas pun terganggu jika penataan ruang kerja tidak efektif dan efisien. Lalu bagaimana dengan meja kerja yang tentunya juga merupakan bagian dari lingkungan kerja? Meja kerja bisa menjadi bagian dari tempat kerja (workplace) yang harus memenuhi standar tertentu, misalnya untuk meja perakitan (assembly table) dan meja pengemasan (packing table). Namun meja kerja bisa jadi merupakan area pribadi yang lebih menggambarkan tentang karakter personal dibandingkan dengan kualitas pekerjaan. Dalam buku “Snoop: What Your Stuff Says About You”, Sam Gosling, profesor psikologi University of Texas (USA) menuliskan bahwa salah satu alasan ruang fisik, termasuk meja kerja seseorang, dapat mengungkapkan sesuatu adalah karena hal-hal itu pada dasarnya merupakan perwujudan dari sejumlah tingkah laku sepanjang waktu. Lebih jauh lagi, Lily Bernheimer, peneliti di University of Surrey (UK) dan Direktur Space Works Consulting, telah mengembangkan lima jenis kepribadian meja untuk sebuah perusahaan Inggris, Headspace Group. Dari hasil kajian Gosling dan psikolog kepribadian maupun lingkungan, meja kerja dapat menunjukkan lima potret dasar kepribadian: ekstrover, penyetuju, berhati-hati, cemas, dan terbuka untuk pengalaman.

Sebagai area pribadi, meja kerja tidak harus rapi. Karena ‘rapi’ disini sifatnya menjadi relatif, tidak perlu distandardisasi. Craig Knight, seorang psikolog dan pendiri Haddington Knight (sebuah perusahaan di Inggris yang menggunakan sains untuk meningkatkan kinerja usaha) telah melakukan penelitian mendalam dalam personalisasi ruang kerja. Knight menemukan bahwa para pekerja yang meletakkan sedikitnya satu foto atau tanaman di meja mereka akan 15% lebih produktif . Para pekerja yang bisa menghias meja kerja seperti yang mereka inginkan akan 25% lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di meja yang lebih kosong. Tiga peneliti lain yang menulis di Jurnal Psikologi Lingkungan juga mendapati bahwa dengan membuat tempat kerja lebih personal  akan memberikan kontrol lebih dan rasa kepemilikan di lingkungan kerja. “Menciptakan sebuah tempat milik pribadi di sebuah lingkungan kerja milik publik akan berkontribusi dalam kognitif positif dan kondisi afektif seseorang, yang kemudian menghasilkan sumber daya mental yang meningkat, dan dapat mengatasi dengan lebih baik gangguan yang berpotensi melemahkan karena rendahnya privasi.” tulis mereka.

It’s pointless to have a nice clean desk, because it means you’re not doing anything”, demikian ungkap Michio Kaku, seorang Profesor Fisika, yang rasa-rasanya senada dengan apa yang dikatakan Albert Einstein di awal. Ketika sebagian orang nyaman dengan meja kerja yang tertata rapi, sebagian yang lain justru menemukan gairah beraktivitas dalam meja kerja yang ‘ramai’. Seperti halnya pilihan cara belajar, kondisi meja kerja kerapkali hanya merupakan pilihan cara bekerja. Tidak harus sama antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. Pernyataan bahwa meja kerja boleh saja berantakan ketika dipakai namun harus kembali bersih ketika ditinggalkan terdengar bijak namun sebenarnya tidaklah tepat. Tidak sedikit orang yang sengaja tidak merapikan mejanya untuk mengingatkannya bahwa ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Merapikan mejanya justru membuatnya lupa akan pekerjaannya. Bukankah untuk mengingat lebih mudah (dan rapi) cukup dengan membuat note kecil di tempat yang mudah terlihat? Kembali ke pilihan cara bekerja. Tidak semua orang sama. Bruce Mau, seorang desainer Kanada pun berkata, “Don’t clean your desk. You might find something in the morning that you can’t see tonight.”. Sekali lagi, tidak rapi tidak sama dengan tidak produktif.

If your company has a clean-desk policy, the company is nuts and you’re nuts to stay there”, demikian ungkap Tom Peters, seorang penulis tentang praktik manajemen bisnis. Terdengar ekstrim. Namun dapat dimaklumi jika kita melihat meja kerja sebagai tempat aktualisasi yang punya privacy. Karenanya tak mengherankan banyak perusahaan menyediakan tempat khusus untuk bertemu dengan pihak internal atau eksternal, tidak membawanya ke meja kerja kecuali untuk alasan khusus. Meja kerja harus nyaman untuk mendukung produktivitas, namun parameter kenyamanan ini tentu beragam. Tidak harus semua orang mejanya serapi Bill Gates (Microsoft) atau seberantakan Steve Jobs (Apple), sesuaikan saja dengan karakteristik masing-masing orang untuk optimalisasi kerja. Namun perlu diingat, tidak rapi berbeda dengan kotor dan jorok. Sampah yang berserakan atau kotoran dimana-mana bukan kebiasaan produktif. Alih-alih menjadi kreatif dan kian produktif, yang ada malah menambah tingkat stress dan jadi sumber penyakit. Pun ada irisan, malas tidaklah sama dengan kreatif. Jadi, ayo (berhenti) rapikan meja kerja kita!

Then there’s the joy of getting your desk clean, and knowing that all your letters are answered, and you can see the wood on it again” (Lady Bird Johnson)

Prokrastinasi VS The Power of Kepepet

Pada suatu hari, seorang sahabat yang merasa iba melihat kesibukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Wahai Khalifah, tangguhkanlah pekerjaan ini sampai besok!”. Namun dengan tegas Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Pekerjaan satu hari saja sudah membuatku letih, bagaimana dengan pekerjaan dua hari yang terkumpul menjadi satu?”. Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah SAW pernah memegang bahuku sambil bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau pengembara’. Ibnu Umar r.a. berkata, “Kalau datang waktu sore jangan menanti waktu pagi. Kalau tiba waktu pagi jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu.” (HR. Bukhari).

Menunda pekerjaan memang menyenangkan, ada beban yang seakan terlepaskan. Apalagi ada istilah ‘The Power of Kepepet’ yang seolah menegaskan bahwa kreativitas dan beragam potensi akan muncul dalam keadaan terdesak. Pekerjaan pun dapat diselesaikan lebih cepat. ‘Buat apa ngerjain berhari-hari kalau dapat selesai dalam beberapa jam sebelum deadline?’, pikiran sederhananya mungkin seperti itu. Kualitas hasil pekerjaannya debatable. Pekerjaan yang disegerakan penyelesaiannya belum tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan yang selesai jelang deadline, yang tak jarang sarat inspirasi entah dari mana. Setidaknya penulis pernah merasakan hal tersebut kala mengerjakan skripsi dalam kurun waktu (hanya) 12 hari mulai dari menulis judul, Bab I – V, daftar pustaka, lampiran dan daftar isi, termasuk pengumpulan dan pengolahan data. Alhasil, skripsi sekitar 150-an halaman yang sempat terbengkalai hampir 3 semester tersebut mendapatkan nilai A-. Sebuah pencapaian luar biasa mengingat dosen penguji seminar berani bertaruh bahwa skripsinya takkan selesai sebelum jadwal sidang keluar. Sebuah pencapaian yang sejatinya tidak membanggakan.

Bersegera melakukan kebaikan, apalagi yang orientasinya akhirat sudah tidak perlu diperdebatkan lagi nilai keutamaannya. Shalat di awal waktu, tidak menunda menunaikan zakat dan infak, segera bertaubat, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan sebagainya. Tanpa perlu banyak dalil sekalipun, ketika kita menyadari bahwa hari esok belum tentu akan kita temui, menyegerakan berbuat kebaikan tentu menjadi sikap paling bijak. Lalu bagaimana dengan upaya mengoptimalkan kekuatan tersembunyi dari ketermendesakan, yang bahkan bisa membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien? Lagipula, bukankah yang terpenting adalah akhir atau kesudahannya?

Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertama, pekerjaan para deadliners belum tentu lebih efektif dikarenakan ada unsur ketergesa-gesaan yang akan memengaruhi kualitas suatu pekerjaan. Kedua, mengakhirkan suatu pekerjaan belum tentu lebih efisien, terutama dalam hal waktu. Bisa jadi waktu pengerjaannya lebih cepat karena dikejar deadline, namun waktu inteval antara ‘seharusnya bisa mulai dikerjakan’ dengan ‘realitanya baru dikerjakan’ semestinya juga diperhitungkan. Apalagi faktanya sepanjang waktu ‘kosong’ tersebut, ada beban ‘pekerjaan tertunda’ yang menyertai. Ketiga, hasil akhir memang penting dan menentukan, namun kualitas proses tak bisa dikesampingkan. Ada perbedaan yang cukup mendasar antara suatu pekerjaan yang diselesaikan secara terburu-buru dengan yang dinikmati penyelesaiannya secara tenang.

Idealnya, potensi ‘the power of kepepet’ bisa dioptimalkan tanpa menunggu deadline. Pekerjaan terselesaikan dengan cepat di awal waktu sehingga ada banyak waktu untuk melakukan hal produktif lainnya. Namun sekiranya tidak memungkinkan, yang perlu dilakukan adalah menunda untuk menyelesaikan, bukan menunda untuk mengerjakan. Menunda untuk mengerjakan adalah suatu bentuk kemalasan, pelakunya biasanya terjebak untuk menggantikan aktivitas penting yang seharusnya dilakukan dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Atau pelakunya menunda pekerjaan karena harus mengerjakan pekerjaan lain yang tertunda. Itulah hakikat prokrastinasi. Bahkan tidak ada jaminan pekerjaan tersebut akhirnya benar-benar dikerjakan apalagi diselesaikan. Menjelang akhir yang ada hanyalah keluhan, frustasi, keputusasaan dan penyesalan.

Menunda untuk menyelesaikan berarti mulai mengerjakan. Namun masih membuka ruang improvement akan berbagai ide ataupun inspirasi yang bisa jadi muncul belakangan. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan, pun itu dilakukan di awal, berpotensi tidak menghasilkan yang terbaik. Jadi yang ditunda adalah penyelesaiannya untuk memberikan hasil terbaik. Interval waktu antara penyelesaian awal dengan finishing bisa digunakan dengan produktif, tidak terlalu membebani toh hasil akhirnya sudah ada, tinggal disempurnakan, jika perlu. Dan yang pasti semuanya terencana.

Lulus tepat waktu mungkin baik, tetapi lulus di waktu yang tepat lebih baik. Bisa jadi dipercepat, bisa juga ditunda jika memang ada aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan bekal penting yang harus dipenuhi. Lulus tepat waktu tidak menjamin kualitas lulusan karena fokusnya hanya ke ‘waktu’. Mirip dengan pilihan menyegerakan menikah atau menikah di waktu yang tepat. Lebih cepat belum tentu lebih baik. Ada pertimbangan yang lebih kompleks dari sekadar ‘segera berubah status’. Pepatah ‘kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda’ juga menunjukkan bahwa penundaan tidak semuanya prokrastinatif. Selama sudah memulai dan mengisinya dengan aktivitas produktif, maka menunggu momentum untuk menyempurnakan pekerjaan berbeda dengan prokrastinasi. Lalu bagaimana dengan ‘the power of kepepet’? Yah, pada akhirnya mereka yang memiliki ketergantungan terhadap ketermendesakan untuk optimalisasi potensi, selamanya tidak akan pernah optimal potensinya. Ya, ‘the power of kepepet’ bukan alasan untuk melakukan prokrastinasi, namun meyakini bahwa ada jalan keluar untuk kondisi sesulit apapun. Pasti!

Musuh terbesar dalam mencapai tujuan adalah penundaan. Kenapa banyak orang suka menunda? Karena ketakutan! Takut gagal, takut ditolak, takut kecewa, takut diejek, dan segala macam ketakutan yang lain” (Jaya Setiabudi dalam ‘The Power of Kepepet’)

7 Mitos dalam Berinovasi (1/2)

“Innovation distinguishes between a leader and a follower” (Steve Jobs)

Dalam KBBI, inovasi didefinisikan sebagai pembaharuan, atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi berbeda dengan penemuan (invention/ discovery) yang hanya menghasilkan pengetahuan (knowledge) baru. Inovasi merupakan sebuah proses transformasi yang memberikan nilai tambah sehingga menghasilkan produk baru, baik berupa barang, jasa, sistem, dan sebagainya.

Inovasi bukan sekedar membedakan antara pemimpin dengan pengikut sebagaimana penuturan Steve Jobs, namun inovasi akan sangat menentukan jatuh bangun bahkan hidup matinya sebuah organisasi atau perusahaan. Daur hidup produk (product life cycle) mulai dari development, introduction, growth, mature, hingga decline juga dirasakan dalam lingkup organisasi atau perusahaan. Tidak sedikit organisasi dan perusahaan yang berhasil tumbuh lalu kemudian mati karena gagal berinovasi. Terlena dengan zona nyaman, sekadar mengerjakan hal yang itu-itu saja, dan lalai dalam berinovasi sehingga tertinggal. Perusahaan game Atari mungkin salah satu contohnya, sempat menguasai pasar namun pada akhirnya tersisihkan dengan berbagi produk inovasi dari kompetitornya seperti Nintendo, Sega dan PlayStation. Hal serupa juga dialami Nokia dan BlackBerry dalam bisnis gadget dan telekomunikasi, tergerus oleh iOS dan Android. Atari dan Nokia perlahan memang mencoba bangkit namun era keemasan sudah berlalu.

Arti pentingnya inovasi untuk tetap survive di organisasi ataupun perusahaan seringkali sudah dipahami. Namun dalam implementasinya, ada berbagai mitos ataupun jebakan yang menghambat sebuah inovasi. Padahal urgensi inovasi bukan hanya menyoal baik tidaknya sebuah produk inovasi, tetapi juga cepat lambatnya inovasi dilakukan. Di tengah dunia yang semakin bergerak cepat, sedikit terlambat saja bisa jadi akan tertinggal. Berikut beberapa mitos yang kerap menjadi jebakan dalam berinovasi.

Inovasi membutuhkan kreativitas tinggi
Tidak sedikit mereka yang urung berinovasi berdalih bahwa mereka kurang kreatif dalam menelurkan sebuah karya inovatif. Apakah inovasi membutuhkan kreativitas? Bisa jadi. Namun kreativitas bukan syarat pokok. Ada tiga komponen penting inovasi: ide, implementasi, dan dampak. Ide tidak harus bersumber dari kreativitas, bahkan idealnya sumber ide inovatif adalah untuk menjawab kebutuhan atau mengatasi masalah yang dihadapi. Kondisi mendesak juga bisa memunculkan produk inovasi, misalnya uang kertas dan makanan kaleng yang merupakan produk inovasi di masa perang. Bahkan produk inovasi bisa lahir dari ketidaksengajaan, misalnya penisilin dan resep Cocacola. Jadi, kreativitas memang penting untuk melahirkan inovasi, namun ketiadaannya tidak dapat menjadi alasan untuk tidak berinovasi.

Inovasi butuh landasan riset yang rumit
Dalam organisasi konvensional, inovasi biasanya diampu oleh tim penelitian dan pengembangan, karenanya inovasi tidak terlepas dari riset dan kajian mendalam. Produk hasil inovasi dapat dipastikan mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun organisasi modern memandang inovasi lebih sederhana dan fleksibel, sehingga dapat dilakukan oleh seluruh anggota organisasi tanpa kecuali. Riset dan pengembangan tentu tetap dibutuhkan, tetapi untuk menguatkan produk inovasi, bukan membuatnya. Alhasil, semakin banyak produk inovasi yang bersumber dari ideyang sederhana, dibuat secara sederhana oleh orang-orang yang tidak harus memahami dunia penelitian dan pengembangan.

Inovasi tidak jauh dari produk teknologi
Terminologi inovasi saat ini identik dengan pembaharuan teknologi, misalnya telepon genggam, kendaraan bermotor, ataupun peralatan elektronik. Padahal inovasi banyak jenisnya, tidak hanya berupa barang hasil pembaharuan teknologi, tetapi bisa juga berupa inovasi sistem, jaringan, bisnis, hingga inovasi pendidikan, sosial ataupun budaya. Inovasi kurikulum pendidikan tentu tidak melulu bicara tentang alih teknologi, demikian pula dengan inovasi sistem lembaga keuangan syariah, misalnya. Banyak produk inovasi yang nyata bermanfaat bagi masyarakat namun tidak dihasilkan oleh para ilmuwan, insinyur, ataupun teknolog. Dimana masih ada gap atau masalah, disitulah terbuka peluang untuk melakukan inovasi.

(bersambung)