Tag Archives: kuat

Perkenalkan, Muthiah Rheviani Udiutomo

Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

Alhamdulillah, prosesi aqiqah #DeMuthi terlaksana dengan lancar tepat di hari ketujuhnya, berbeda dengan prosesi aqiqah sang kakak yang tidak bisa tepat di hari ketujuh karena hampir seminggu masih harus dirawat di Rumah Sakit. Prosesi aqiqah kali ini juga lebih sederhana dan singkat, karena esensinya hanya menjalankan sunnah Rasulullah SAW sekaligus sebagai ungkapan syukur atas kehadiran buah hati dalam keadaan sehat. Tahadduts bin ni’mah. Apalagi kami belum genap satu tahun tinggal di perumahan baru sehingga menjadi penting membangun silaturahim dengan masyarakat sekitar.

Idealnya, pemberian nama juga dilakukan di hari ketujuh sebelum mencukur rambutnya, tetapi waktu seminggu tampaknya terlalu lama untuk bersabar menjawab pertanyaan ‘siapa namanya?’ dari rekan-rekan dan kerabat. Walaupun penentuan nama kali ini tidak semudah sebelumnya, bahkan sampai ketika bermalam di bidan pun nama belum difiksasi, namun akhirnya nama #DeMuthi sudah dilaunching sehari setelah kelahiran. Salah satu hal yang mempersulitnya adalah pergeseran waktu kelahiran dari yang diperkirakan di bulan Mei menjadi di awal Juni, tepatnya 3 Juni lalu. Si kakak yang sudah menyiapkan nama panggilan Mei-chan untuk adiknya juga harus dipahamkan bahwa nama adiknya adalah #DeMuthi. ^_^

Muthiah Rheviani Udiutomo, begitu kami (akhirnya) menamainya setelah melalui perenungan mendalam. Polanya tetap sama seperti nama kakaknya: nama shahabiyah/ orang shalih + nama yang bermakna baik + udiutomo. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan (anak-anak mereka) dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka”. Berbeda dengan anak laki-laki, nama shahabiyah relatif terbatas, dan tidak ada Nabi dan Rasul perempuan. Akhirnya pilihannya terbatas, padahal salah satu fungsi nama adalah sebagai pembeda. Nama Rumaisha yang digunakan kakaknya saja sudah banyak yang menggunakannya, apalagi nama-nama  yang lebih popular seperti Maryam, Khadijah, Fathimah atau ‘Aisyah.

Singkat kata, terpilihlah nama Muthiah yang berarti perempuan yang ta’at, karena bagaimanapun nama adalah do’a. Sama halnya dengan Rumaisha (atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim), Muthiah juga merupakan sosok shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Keta’atannya pada suaminya menjadi teladan yang sulit ditemui di masa sekarang ini. Terlepas dari kontroversi nama Muthiah yang mungkin akan dibahas dalam tulisan lain, menjadi hal yang unik ketika mendapati bahwa ustadzah yang mengisi taushiyah dalam prosesi aqiqah juga bernama Muthiah. Nama Muthiah jika disingkat menjadi Muthi sebagai nama panggilan juga mengandung makna yang baik: orang yang ta’at.

Rheviani berasal dari kata ‘Rheva’ yang dalam bahasa latin berarti lahir dengan kekuatan. Salah satu hal yang paling berkesan dalam persalinan #DeMuthi adalah lahir dengan proses kelahiran normal 5 hari setelah hari perkiraan lahirnya dengan berat dan tinggi badan (3.2kg/ 49cm) yang lebih besar dari kakaknya (2.9kg/ 46cm) yang lahir melalui SC. ‘Revia’ sendiri merupakan bentukan dari kata ‘Reva’ yang berarti mampu bertahan. Dalam referensi lain, ‘Reva’ juga bermakna cantik dan kuat, rajin, pekerja keras, menyukai perubahan dan variasi, intuitif dan penuh inspirasi, mandiri, kritis terhadap diri dan orang lain. Sementara akhiran ‘ni’ menunjukkan anak kedua (‘ni’ dalam bahasa Jepang artinya dua) sebagaimana kata ‘alif’ dalam nama kakaknya menunjukkan anak pertama. Akhiran ‘ni’ juga menunjukkan bulan ‘Juni’ sehingga ide awal panggilan ‘Mei-chan’ bisa menjadi ‘Ni-chan’.

Nama tengah ini disengaja tidak menggunakan nama dari bahasa Arab yang di masa sekarang kerap mempersulit mobilitas seseorang. Penekannya lebih kepada maknanya baik. Penggunaan tiga kata dalam nama juga disengaja untuk memudahkan seseorang memperoleh paspor untuk umroh dan haji tanpa harus menambahkan nama. Untuk nama belakang, ‘udiutomo’ yang berarti mencari keutamaan tetap digunakan karena seseorang sebaiknya menisbatkan dirinya kepada nama ayahnya. “Panggillah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah” (QS. Al-Ahzab: 5). Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud yang sedikit lemah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka pilihlah nama kalian yang paling baik”.

Salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberikan nama yang baik, nama yang sekaligus menjadi do’a kebaikan dari orang tua kepada anaknya. Semoga pemberian nama Muthiah Rheviani Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan kedua yang kuat, rajin, dan mandiri serta penuh ketaatan dalam kebaikan’… Aamiiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Manajemen Pemeliharaan Tubuh Manusia

Sebagaimana halnya mesin ataupun sistem, tubuh kita perlu dipelihara agar dapat terus digunakan dengan baik (terhindar dari sakit). Pemeliharaannyapun harus komprehensif dan tidak asal-asalan untuk menghasilkan sosok manusia idaman yang terpelihara. Secara umum, tubuh kita terdiri dari tiga bagian utama, yaitu jiwa (ruhiyah), fisik (jasadiyah) dan akal (fikriyah) yang harus senantiasa dipelihara agar manusia mencapai titik keseimbangan yang akan mengoptimalkan segenap potensinya bagi kebermanfaatan dirinya dan orang lain. Pemenuhan sisi jiwa dan fisik tanpa akal akan melahirkan seorang yang bodoh dan terbelakang. Pemenuhan sisi jiwa dan akal tanpa fisik akan melahirkan seorang yang lemah dan tidak produktif. Pemenuhan sisi fisik dan akal akan melahirkan seorang yang zhalim dan tidak terkendali.

Pemeliharaan Jiwa
Sebagaimana halnya fisik manusia, jiwa manusiapun dapat sakit. Dampak dari penyakit kejiwaan ini tidak kalah parah dampaknya bagi manusia dibandingkan penyakit fisik ataupun penyakit akal. Perasaan sombong, dengki, buruk sangka dan berbagai penyakit jiwa lainnya dapat menggerakkan jasad dan akal untuk berbuat suatu keburukan. Karenanya, jiwa manusia harus dipelihara. Adapun pemeliharaan jiwa dapat dilakukan dengan :

  1. Memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah dan mengingat Sang Pencipta Alam Semesta
  2. Mendalami ajaran agama
  3. Menyediakan waktu untuk menyendiri dan merenungi aktivitas yang sudah dilakukan sekaligus reorientasi keberadaan diri sebagai manusia
  4. Menyibukkan diri dengan perbuatan baik
  5. Membangun konsep diri yang efektif dengan menyadari kelebihan dan kekurangan diri serta terus mencoba untuk memperbaiki diri
  6. Bergaul dengan orang-orang yang baik jiwanya dan benar ibadahnya
  7. Berusaha untuk ikhlash dalam setiap aktivitas
  8. Memperhatikan dan memikirkan alam semesta dan hakikat penciptaan manusia
  9. Perbanyak membantu sesama
  10. Menjaga penglihatan, pendengaran dan hati dari kemaksiatan dan hal-hal yang dapat merusak jiwa
  11. Senantiasa mengedepankan pikiran dan sikap positif

Pemeliharaan Fisik
Fisik manusia memiliki keterbatasan, terlalu sedikit aktivitas pemeliharaan fisik akan melemahkan fisik, namun terlalu banyakpun tidak baik untuk fisik. Jadi, aktivitas pemeliharaan fisik harus dijaga kadarnya. Sakitnya fisik akan berdampak luas bagi produktivitas manusia, termasuk dalam memenuhi kebutuhan jiwa dan akalnya. Adapun pemeliharaan fisik dapat dilakukan dengan :

  1. Memelihara pola makan yang teratur dan memenuhi standar gizi
  2. Memelihara pola tidur yang efektif
  3. Membiasakan diri berolahraga secara teratur dan kontinyu
  4. Menghindari makan dan tidur secara berlebihan
  5. Menjauhi kebiasaan begadang
  6. Membiasakan diri bangun pagi
  7. Membiasakan diri berpuasa
  8. Tidak membebani diri terlalu berat dalam pekerjaan
  9. Menjaga kebersihan fisik diri dan lingkungan
  10. Sebaiknya memiliki kemampuan dasar bela diri
  11. Menjauhi rokok, alkohol dan berbagai makanan dan minuman lain yang dapat mengganggu kesehatan
  12. Secara berkala memeriksakan kondisi kesehatan

Hal-hal diatas adalah pemeliharaan fisik secara umum, adapun pemeliharaan fisik secara khusus (per anggota tubuh) sangatlah banyak dan beragam metodenya. Misalnya untuk pemeliharaan mata dapat dilakukan dengan memperhatikan jarak baca ataupun jarak menonton TV, memperbanyak konsumsi vitamin A, tidak membaca di tempat gelap atau membaca tulisan yang terlalu kecil, dan sebagainya. Belum lagi pemeliharaan telinga, mulut, wajah, gigi, tangan, kuku, kaki, rambut dan berbagai anggota tubuh lainnya.

Pemeliharaan Akal
Seperti halnya jiwa dan fisik manusia yang membutuhkan pemeliharaan dan ’makanan’, akal manusiapun butuh pemeliharaan dan butuh suplai ’makanan’ secara teratur. Makanan bagi akal adalah ilmu dan kurangnya pasokan makanan ini akan mengakibatkan kelambanan dalam berpikir. Sakitnya akal, cepat atau lambat, akan menyebabkan sakitnya jiwa dan fisik manusia. Karenanya, akal manusia harus dipelihara dengan baik. Adapun pemeliharaan akal dapat dilakukan dengan :

  1. Melakukan aktivitas pemeliharaan jiwa dan fisik. Ruhiyah yang bagus dan fisik yang sehat akan mengoptimalkan sisi fikriyah manusia
  2. Gemar menuntut ilmu, kapanpun, dimanapun, sampai kapanpun
  3. Mengaplikasikan dan mengajarkan secara positif ilmu yang dimiliki, walaupun sedikit
  4. Aktif dalam bertanya dan menggali ilmu pengetahuan
  5. Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
  6. Gemar berdiskusi dan saling tukar pikiran/ informasi
  7. Membiasakan diri untuk mengembangkan dan menyampaikan ide/ gagasan
  8. Konsentrasi dan teliti dalam menjalankan aktivitas
  9. Tidak menumpuk masalah
  10. Mengoptimalkan kelebihan dan fasilitas yang dimiliki untuk optimalisasi akal
  11. Menjauhi sikap sombong dan kikir terhadap ilmu pengetahuan
  12. Menyediakan waktu khusus untuk menenangkan pikiran

Total (Human) Maintanance Management
Mengingat pentingnya pemeliharaan terhadap komponen-komponen penyusun tubuh manusia, maka diperlukan satu upaya memfasilitasi kesemuanya dalam satu sistem yang terintegrasi. Tentunya bukan sistem yang menggembar-gemborkan pemeliharaan fisik yang berorientasi kepada rupa manusia. Sistem yang mungkin melakukannya adalah sistem pendidikan terintegrasi. Hanya saja, saat ini kondisinya sistem pendidikan yang ada lebih menekankan pada sisi kognitif yang lebih identik dengan pemeliharaan akal saja. Padahal yang dibutuhkan adalah figur manusia yang mantap ruhiyahnya, kuat fisiknya dan cerdas, mungkin figur seperti Rasulullah Muhammad SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a, yang terbina dengan sistem pendidikan yang bersumber pada manhaj (metode) ilahiyah.

Wallahu a’lam bishawwab