Tag Archives: ma’iyatullah

Ramadhan Bulan Peningkatan (2/2)

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 184 yang menyampaikan tentang keringanan (rukhshah) bagi orang-orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan atau bagi orang-orang yang berat menjalankannya, diakhiri dengan kalimat “…wa an tashumu khairullakum in kuntum ta’lamun”. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Ayat-ayat rukhshah biasanya diiringi dengan penjelasan mengenai kemurahan Allah SWT. Misalnya dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 173, Al Maidah ayat 3, Al An’am ayat 145, dan An Nahl ayat 115 yang memberi rukhshah bagi mereka yang memakan bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan dengan menyebut nama selain Allah SWT, karena terpaksa dan tidak melampaui batas, kesemua ayat tersebut diakhiri dengan Sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al Ghafur) lagi Maha Penyayang (Ar Rahim). Atau dalam Al Qur’an Surah An Nisa terkait rukhshah berupa tayammum, juga ditutup dengan Sifat Allah Yang Maha Pema’af (Al Afuww) lagi Maha Pengampun (Al Ghafur).

Adapun dalam Al Qur’an Surah Al Maidah ayat 6 tentang rukhshah berupa tayammum diakhiri dengan kalimat: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Kalimat yang mirip dengan rukhshah mengganti puasa bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan dalam Surah Al Baqarah ayat 185: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”. Hal ini menunjukkan kemurahan Allah SWT tetaplah ada, walaupun ada keutamaan jika tidak mengambil rukhshah. Ya, cara selanjutnya untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah menjalaninya dengan penuh kesungguhan, tidak mudah memberikan excuse ke diri sendiri. Target besar Ramadhan hanya dapat dicapai bahkan dilampaui dengan persistensi dan determinasi tinggi. Tidak mudah menyerah, mencari alasan ataupun berusaha seadanya dan sekadar melakukan yang mudah. Peningkatan kualitas diri itu justru terletak pada perjuangan dan pengorbanan yang mengiringinya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186). Apa hubungan berdo’a dengan berpuasa? Apa pula hubungannya dengan peningkatan kualitas diri? Persamaan terbesar antara do’a dengan puasa adalah ibadah yang sifatnya langsung ke Allah SWT. Kuat pada aspek kesertaan Allah (ma’iyatullah) dan pengawasan Allah (muraqabatullah).

Pun demikian dengan peningkatan kualitas diri, tantangan terbesarnya justru pada diri sendiri. Target Ramadhan yang sudah dibuat bisa saja dengan mudah diturunkan standarnya jika tidak tercapai, toh yang mengevaluasi diri sendiri. Aktivitas peningkatan kualitas diri selama bulan Ramadhan gampang saya ditunda atau dialihkan dengan berbagai alasan toh yang merancangnya adalah diri sendiri. Tanpa ma’iyatullah dan muraqabatullah tidak sulit mentolerir berbagai kelalaian dalam upaya peningkatan kualitas diri. Toh masih ada hari lain, toh masih ada Ramadhan tahun depan. Disinilah ihsanul amal dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas diri. Terus berbuat baik dengan atau tanpa orang lain mengetahuinya. Cermat mengawasi diri sendiri, kalaupun lalai, tetap menyadari bahwa Allah SWT tak pernah lalai mengawasi. Nuansa Ramadhan memberi stimulan yang cukup untuk bisa belajar beramal dengan ihsan dan ikhlash. Imanan wahtisaban. Tak heran jika salah satu do’a yang tidak tertolak adalah adalah do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka.

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 187 ada analogi yang menarik tentang suami istri, “…hunna libasullakum wa antum libasullahunna…”. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Analogi pakaian (libas) menggambarkan suami istri yang saling melengkapi dan melindungi, menjadi perhiasan dan menutupi aib, memberikan kebahagiaan dan kenyamanan. Mengapa ada analogi seperti ini dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan? Apa pula kaitannya dengan peningkatan kualitas diri? Sehebat apapun pribadi seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Peningkatan kualitas diri amatlah berat untuk diusung sendirian, harus ada (sekumpulan) orang lain yang mendampingi. Jangan sendirian!

Jelas sudah, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Momentum berharga untuk melakukan perbaikan diri yang terus-menerus (continuous self-improvement). Guna menjadi pribadi yang bertakwa, pribadi yang pandai bersyukur, pribadi yang diberi petunjuk. Untuk menghadirkan sekumpulan orang yang bertakwa, sebagaimana telah dijanjikan Allah SWT dalam Al Qur’an. Peningkatan kualitas diri akan hadir ketika ada tujuan yang jelas, upaya nyata penuh kesungguhan untuk mewujudkannya, kecermatan dalam menjalankannya, dan sekumpulan orang yang mendukungnya. Bagaimanapun, Ramadhan bukan hanya untuk pribadi kita, namun Ramadhan ada untuk kita semua.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)