Tag Archives: membaca

Al Qur’an Addict (2/2)

Faktanya, fenomena ketagihan Al Qur’an kerap tak bisa terbendung. Di bulan Ramadhan khususnya, para ulama biasa mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari. Al Aswad bin Yazid mengkhatamkan Al Qur’an setiap dua malam di bulan Ramadhan (biasanya khatam dalam enam malam). Qatadah bin Da’amah biasa mengkhatamkan Al Qur’an dalam sepekan, namun di bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an setiap tiga hari, dan di sepuluh malam terakhir Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an tiap malam. Ibnu ‘Asakir biasa mengkhatamkan Al Qur’an setiap pekan, namun di bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an setiap malam. Bahkan diriwayatkan Imam Syafi’ie biasa mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali di dalam shalatnya.

Dalam konteks kekinian pun dikenal istilah famiybisyauqin yang mengkhatamkan Al Qur’an dalam sepekan. Famiybisyauqin terdiri dari tujuh huruf yang merupakan akronim dari manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) setiap harinya, yaitu Al Fatihah, Al Maidah, Yunus, Bani Israil (Al Isra’), Asy Syuara Wa Shaafat, dan Qaf. Jadi untuk khatam dalam sepekan, hari pertama membaca surah Al Fatihah hingga An Nisa, hari kedua membaca surah Al Maidah hingga At Taubah, dan seterusnya sesuai dengan manzilnya, hingga di hari ketujuh membaca surah Qaf sampai khatam di An Naas. Metode famiybisyauqin ini juga biasa diterapkan sebagai wirid harian para penghafal Al Qur’an sehingga mereka bisa khatam muraja’ah Al Qur’an dalam sepekan. Manzil famibisyauqin lebih pas dibandingkan juz yang kadang memotong surah pada ayat yang sebenarnya masih saling berkaitan.

Konon, orang sudah dianggap fasih belajar Bahasa Inggris jika dalam mimpinya pun menggunakan Bahasa Inggris. Bisa jadi demikian dengan Al Qur’an. Barangkali para pecandu Al Qur’an memenuhi mimpinya dengan membaca atau menghapal Al Qur’an. Sehingga jika mengigau atau latahpun yang terucap adalah ayat Al Qur’an. Pun demikian ketika sakaratul maut. Para pecandu Al Qur’an juga akan merasakan sakaw kala lama tidak berinteraksi dengan Al Qur’an. Dan saat itu terjadi, Al Qur’an pun seakan memanggil. Karenanya kita perlu waspada ketika tak hadir kerinduan pun lama tak berinteraksi dengan Al Qur’an. Bukankah rasa rindu menjadi salah satu indikasi perasaan cinta yang mendalam?

Lalu mana yang lebih baik, mendengarkan Al Qur’an atau membacanya? Menghapal Al Qur’an atau mengamalkan isinya? Para pecinta Al Qur’an tidak mengenal dikotomi dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Semuanya saling terkait dan menguatkan. Ibarat sayang anak ya harus mau mendengarkan, berdialog, bercanda, bermain, dan sebagainya. Tidak dikatakan sayang jika hanya mengutamakan salah satunya dengan meninggalkan yang lainnya. Sekali lagi, para pecandu Al Qur’an mencintai Al Qur’an secara menyeluruh, tidak parsial dan dikotomis.

Karenanya, pertanyaan yang lebih esensi adalah apa lagi apologi kita untuk tetap mengabaikan Al Qur’an? Jika kendalanya adalah waktu, sejatinya waktu sudah definitif, setiap orang memiliki jatah waktu yang sama 12 bulan per tahun, 24 jam per hari, 60 detik per menit. Jika sebagian orang mampu menyediakan waktunya untuk Al Qur’an, maka sebagian yang lain juga semestinya mampu. Jika kendalanya adalah banyaknya amanah dan kesibukan, korelasinya adalah dengan bagaimana Al Qur’an kita tempatkan. Prioritas muncul ketika ada benturan dan erat kaitannya dengan bagaimana kita mengelola kesibukan. Dari situ muncul pilihan tentang apa yang akan diprioritaskan dan apa yang akan dikorbankan. Para pecinta sejati tentu akan mengorbankan kenikmatan sesaat mereka demi memperjuangkan cintanya. Misalnya dengan mengurangi jam tidur mereka untuk menambah interaksi dengan Al Qur’an. Jika kendalanya adalah kemampuan, hal tersebut tentu bisa diupayakan secara kontinyu dan bertahap. Jika kendalanya adalah kemauan, mungkin kita perlu bertanya tentang apa salah Al Qur’an? Kenapa ia harus ditelantarkan?

Bagaimanapun Al Qur’an adalah Kalam Allah SWT. Ibarat surat cinta, para pecinta sejati pasti merawatnya sebagai salah satu sarana penting untuk memperoleh cinta. Agar cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Jika shalat adalah momentum bercakap dengan Allah SWT, maka ayat-ayat-Nya adalah bahan percakapan yang sangat disukai-Nya. Dan cinta sama artinya dengan mencintai apa yang dicintai oleh yang dicintai. Karenanya, mencintai Allah SWT menjadi omong kosong tanpa wujud nyata mencintai Al Qur’an. Semakin jauh interaksi seorang manusia dengan Al Qur’an, semakin jauh pula ia dengan Allah SWT. Dan cinta akan mendatangkan ketenangan, serta kenyamanan. Selama kita belum benar-benar merasa nyaman dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, bisa jadi itu sebuah indikasi bahwa kita belum benar-benar mencintai Allah SWT.

Dan cinta bukan sebatas retorika. Butuh pembuktian, butuh pengorbanan. Mungkin butuh paksaan di awal untuk menjadi pembiasaan. Orang yang tak suka membaca, harus tetap membaca Al Qur’an untuk membuktikan cintanya pada Allah SWT. Orang yang merasa memiliki daya ingat yang kurang baik, harus tetap mencoba menghapal Al Qur’an pun hanya satu kalimat. Orang yang merasa belum baik harus berupaya untuk mengamalkan Al Qur’an pun hanya satu ayat. Seorang pecinta akan dihargai dari usahanya, sementara untuk hasil akhir biarlah Allah SWT yang memberikan kemudahan. Kualitas interaksi dengan Al Qur’an penting untuk diperhatikan, soal kuantitas lambat laun akan mengikuti. Nah pertanyaannya, sudahkah kita mencintai Al Qur’an? Apa buktinya? Jika belum, tunggu apa? Terakhir, mengutip kata-kata Ibnu Qayyim dalam Kitab Al Jawab Al Kafi, “Semoga kita menjadi orang yang mencintai Allah dengan membuktikannya lewat mencintai Kalam-Nya yaitu Al Qur’an. Mencintainya berarti rajin membacanya, merenungkannya, menghayatinya, mengimani dan mengamalkan isinya, serta rajin mengambil ibrah dari kisah-kisah di dalamnya”. Aamiiin…

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Hanya Satu Kata : Menulislah!

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq : 1 – 5)

* * *

Beberapa saat lalu saya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan inspirasi dalam menulis. Sejujurnya saya tidak mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan. Bukan hanya karena saya bukan penulis profesional dan belum menjadi penulis handal, bukan pula karena pada saat itu saya sedang tidak mood untuk menulis, namun memang selama ini yang saya rasakan inspirasi itu keluar begitu saja dalam tiap jenak perjalanan hidup. Apalagi dalam interaksi dengan banyak orang, di berbagai waktu dan tempat, pengalaman baru sumber inspirasi tentu terus bermunculan. Yang perlu dilakukan tinggal ‘merekamnya’ dan mengikat maknanya dengan menuliskannya. Beberapa waktu kemudian, saya dingatkan tentang bagaimana produktivitas ulama – ulama besar dalam menulis dan bagaimana kebermanfaatan tulisan itu terus mengalir bahkan ratusan tahun setelah ulama itu wafat. Produktivitas menulis yang tenyata tidak begitu saja dapat diwariskan. Bukan karena kecerdasan, pemikiran dan pengetahuan yang kurang mumpuni, namun rasa takut dan tidak percaya diri lah yang kerap membuat menulis menjadi aktivitas yang begitu berat dan membebani.

Antara Membaca dan menulis
Pernah suatu waktu ada yang menanyakan tentang sumber inspirasi status facebook saya. Saya dengan berbagai keterbatasan hanya dapat menjawab, ’perbanyaklah membaca’. Membaca tentu tidak didefinisikan sesempit ’reading a book’, tetapi bagaimana kita dapat menyelami hikmah melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan. Dan menulis tentu bukan sebatas ’mengikat’ hikmah itu, tetapi dapat pula menyebarkannya. Tentu bukan tanpa alasan Allah menurunkan wahyu pertama-Nya berupa perintah membaca dan menjadikan pena sebagai benda pertama yang diciptakan. Ilmu pengetahuan memang tak dapat dipisahkan dari membaca dan menulis, dan membaca adalah sumber kekuatan untuk menulis. Inspirasi bisa datang kapanpun dan dari manapun, mulai dari spanduk di pinggir jalan sampai koran bungkus gorengan.

Berdakwah lewat pena
Dalam Al Qur’an Allah berfirman, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan”. Dalam ayat pertama Surah Al Qalam ini Allah bersumpah dengan kalam (pena) dan dengan apa yang mereka tuliskan. Dan tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu kecuali hal tersebut penting untuk diperhatikan. Dalam salah satu riwayat, Abdullah bin ’Amr bin ’Ash berkata, ”Dulu aku menulis semua perkara yang aku dengar dari Rasulullah SAW untuk aku hafalkan. Namun, orang-orang Quraisy melarangku dan bertanya, ”Kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang berbicara ketika senang dan ketika marah?” Aku pun berhenti menulis. Lalu, aku menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau memberi isyarat ke mulutnya dengan jarinya seraya bersabda, ”Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.” Nah, tradisi menulis ini kemudian dilanjutkan oleh para imam, ahli hadits, ilmuwan dan ulama – ulama besar yang pernah tercatat dalam sejarah. Imam Syafi’i misalnya, jumlah tulisannya berjumlah sekitar 174 kitab. Atau Ibnu Taimiyah yang karyanya mencapai kurang lebih 500 buah. Buat mereka, menulis sama artinya dengan aktivitas yang dapat menghimpun upaya mengikat ilmu, menyampaikan ilmu, sekaligus amar ma’ruf nahi munkar.

Problematika ummat masih sedemikian kompleksnya, disadari atau tidak, setiap diri kita memiliki kewajiban untuk membantu menatasinya. Bisa dengan kekuasaan, lisan maupun hati. Pun masih tetap dibutuhkan, dakwah bil lisan ternyata relatif lebih mudah terlupakan dan hilang dari ingatan. Berdakwah dengan pena pun menjadi salah satu stategi pengingatan yang cerdas. Selain lebih tahan lama, tulisan dapat lebih luas dan cepat tersampaikan dengan alternatif media yang banyak. Selain itu, baik menulis ataupun membacanya relatif dapat dilakukan dalam kondisi apapun. Yup, lebih efektif dan efisien. Dan dakwah bil qalam tidak melulu harus dalam bentuk artikel yang penuh dengan dalil dari Al Qur’an dan hadits, tetapi dapat pula berupa cerpen, novel, puisi, pantun bahkan cerita humor. Variasi penyajian ini tentunya akan sangat memungkinkan untuk pengembangan, lihat saja betapa banyak film yang diangkat dari buku atau novel yang laris. Dan bentuk visual dari tulisan akan lebih menghadirkan kesan mendalam karena akan berpadu dengan pengalaman diri dan kebebasan imajinasi.

Menulislah!
Menulis sebenarnya mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Agak berlebihan mungkin, tapi setidaknya menulis memang tidak sulit, karenanya anak SD bahkan TKpun dapat melakukanya. Menulis sejatinya tidak jauh berbeda dengan mengobrol atau berdiskusi. Menulis adalah berbicara lewat media tulisan, apa yang ada di hati dan pikiran, disampaikan lewat untaian huruf dan kata yang memiliki makna. Bukan sekedar mudah, menulis itu menyenangkan. Bagaimana tidak, dengan menulis kita dapat berbagi, dapat menjadi sarana aktualisasi diri, dapat berekspresi sekaligus menjalin silaturahim. Jika membaca adalah jendela ilmu dan buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan, maka menulis adalah upaya membangun ilmu pengetahuan. Tanpanya, bangunan ilmu itu tak akan bisa dinikmati. Menulis adalah berbagi ilmu sekaligus ekspresi dari ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana cara membuat tulisan? Dalam sebuah talkshow tahun lalu yang diantaranya menghadirkan seorang penulis novel ternama di Indonesia, pembicara menyampaikan ada tiga tips untuk dapat menulis. Pertama adalah menulis, kedua adalah menulis dan ketiga adalah menulis. Ya, menulis adalah praktek yang tidak semestinya direpotkan dengan segudang teori. Bukan tidak boleh membuat mind map atau apalah namanya yang terkait dengan teori menulis, namun jangan sampai malah dipusingkan dan terjebak oleh kompleksitas teori. Sebuah tulisan sebagus apapun tetaplah dimulai dari satu huruf, tidak terkecuali tulisan yang dapat menghadirkan pencerahan ataupun tulisan yang dapat mengguncang dunia. Dan satu huruf, kata, kalimat, paragraf ataupun tulisan itu hanya dapat dimulai dengan mulai mencoba menulis, karenanya niat dan keberanian untuk memulai menjadi hal yang utama. Mari angkat pena, berjuang lewat media tulisan, agar kebermanfaatan berkepanjangan, agar ummat tercerdaskan.

* * *

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)