Tag Archives: meminta maaf

Syukur dan Sabar dalam Berumah Tangga

Pada suatu hari, Imran bin Haththan menemui dan menatap istrinya. Secara fisik, Imran adalah laki-laki buruk rupa dan bertubuh pendek. Sedangkan istrinya cantik jelita dan tinggi semampai. Semakin lama dipandang, sang istri kian terlihat cantik di mata Imran. Merasa dipandangi terus-menerus, istri Imran pun bertanya, “Ada apa dengan dirimu?”. Imran menjawab, “Segala puji bagi Allah. Demi Allah, kamu perempuan yang cantik.” Sang istri kemudian berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya saya dan kamu akan masuk surga.” Imran pun bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?”. Istrinya menjawab, “Sebab, kamu telah dianugerahi istri seperti aku, dan engkau bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan suami seperti kamu, dan aku bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur ada di dalam surga.

Kisah tersebut dengan berbagai versinya kerap disampaikan sebatas humor mengenai pasangan ‘Beauty and the beast’. Padahal jika diselami maknanya lebih dalam, syukur dan sabar merupakan hal utama dalam berumah tangga. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa penyebab terbesar perceraian adalah masalah finansial, kemudian perselingkuhan, baru faktor-faktor lainnya termasuk KDRT, masalah anak dan keluarga, ataupun karena perbedaan prinsip. Jika perselingkuhan erat kaitannya dengan iman serta kesetiaan (dan biasanya hanya merupakan dampak bukan akar masalah); masalah keuangan (dan berbagai faktor penyebab perceraian lainnya) lebih dekat dengan manajemen syukur dan sabar.

Tanpa bermaksud mendikotomikan, syukur memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan sabar. Karenanya dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah SWT mengungkapkan betapa sedikit manusia yang pandai bersyukur. Karenanya ketika Aisyah r.a. bertanya mengapa Rasulullah SAW shalat sampai sebegitunya padahal dosa beliau sudah pasti diampuni, Rasulullah SAW hanya menjawab, “Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Padahal tetap beribadah hingga kaki bengkak-bengkak adalah wujud kesabaran, namun syukurlah yang menjadi tujuan. Misi sebagai hamba dijalani dengan bersyukur, sementara misi sebagai khalifah dihadapi dengan bersabar. Dimensi syukur lebih abstrak, bahkan kita perlu bersyukur atas karunia mampu bersyukur.

Problematika berumah tangga biasa dimulai dari keluhan-keluhan yang muncul diikuti dengan sikap suka membandingkan dengan nikmat yang diperoleh orang lain. Bukti nyata terkikisnya rasa syukur dan sabar. Rasa syukur untuk bisa bersabar dan kesabaran untuk terus bersyukur. Pernikahan biasanya diawali dengan kesyukuran, kecuali dalam beberapa kasus misalnya kawin paksa atau married by accident. Bahtera rumah tangga yang mengarungi samudera kehidupan tentu tidak terlepas dari hujan badai dan ujian. Disinilah kesabaran dibutuhkan. Sabar adalah sikap aktif untuk mengatasi permasalahan dengan penuh kesungguhan. Kerja keras tanpa batas.

Bersabar itu sulit, namun bersyukur lebih rumit dan kerap dilupakan. Kala ujian datang menghadang, manusia sering alpa akan segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk lain. Orang sakit mungkin ingat akan nikmat sehat, namun lupa bahwa adanya keluarga yang menemani juga merupakan nikmat. Ketika masalah finansial menerpa bahtera rumah tangga, suami istri tentu tidak tinggal diam dan bekerja keras. Itu adalah kesabaran. Namun tanpa kesyukuran, kesabaran tersebut biasanya tak mampu bertahan. Suami istri seakan lupa nikmat ketika mereka baru menapaki mahligai pernikahan, kebahagiaan dikaruniai keluarga yang mendukung dan anak yang terlahir sempurna, termasuk nikmat keharmonisan rumah tangga yang pernah dirasakan. Toh rezeki tidak harus berupa uang.

Ketika kesyukuran tiada, yang tersisa adalah sikap emosional dan kesombongan. Sebab rasa syukur ditandai dengan ketenangan dan berbagi. Dan saat kesabaran juga terkikis, yang muncul adalah ego dan menyalahkan pihak lain. Sebab kesabaran menghadirkan sikap solutif dan mau bekerja sama. Bisa dibayangkan neraka rumah tangga tanpa kesyukuran dan kesabaran. Dalam beberapa hadits yang menyampaikan bahwa penghuni neraka didominasi oleh wanita, Rasulullah SAW mengemukakan penyebabnya adalah karena para wanita banyak melaknat/ mengeluh dan durhaka pada suaminya. Mengingkari banyak kebaikan pada suaminya ketika menemukan suatu hal yang tidak disukainya. “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i).

Jika istri perlu lebih banyak bersyukur untuk mengikis sikap gengsi dan ketidakstabilan emosinya, suami perlu lebih banyak bersabar untuk meruntuhkan egonya. Laki-laki memang pemimpin dalam rumah tangga, namun mengedepankan statement tersebut bukan solusi dalam mengatasi problematika rumah tangga. Sebab istri perlu dihargai sebagai tulang rusuk bukan alas kaki. “Tulang rusuk yang bengkok”, kata Rasulullah SAW. Harus bersabar untuk meluruskannya karena akan patah jika dipaksa. Bukan hanya bersabar untuk tidak menyakiti, tetapi juga bersabar atas berbagai sikap istri yang kadang emosional, moody, suka menuntut, kekanak-kanakan dan kurang bijaksana. “…Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Kesyukuran dan kesabaran ini harus terinternalisasi dalam nurani dan pikiran dan terimplementasi dalam perbuatan. Mulai dari hal yang sederhana misalnya suami yang biasa meminta maaf pun tidak salah dan istri yang berterima kasih atas pemberian sekecil apapun. Kesyukuran pasti akan menambah nikmat. Sementara kesabaran akan mendatangkan solusi atas berbagai permasalahan dari arah yang tidak terduga. Bahtera rumah tangga akan kokoh dengan kesabaran, dan akan semakin indah dengan kesyukuran. Semoga kita –dan pasangan hidup kita– menjadi hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan khalifah-khalifah di muka bumi yang teguh besabar.

“Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Belajar Memaafkan, Bukan (Cuma) Meminta Maaf

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS al-A’raaf : 199)

Memaafkan tidaklah menambah apa-apa kepada seorang hamba, kecuali kemuliaan. Oleh sebab itu perbanyaklah kalian memaafkan, niscaya Allah akan memuliakan kalian.” (HR Ibnu Abiddunya).

Menjelang Idul Fitri (juga menjelang Ramadhan tiba), banyak orang yang ramai minta maaf. Bahkan kurang lengkap rasanya ucapan ”Selamat Idul Fitri” tanpa embel – embel ”Mohon maaf lahir batin”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan budaya saling meminta maaf karena secara adab ketika kita melakukan kesalahan kepada orang lain sudah sepatutnya kita meminta maaf. Namun sebenarnya ada hal yang lebih penting yaitu saling memaafkan, baik memaafkan orang lain maupun memaafkan diri sendiri.

Memaafkan adalah salah satu sifat mulia yang dianjurkan Al Qur’an (QS. Asy Syura : 43) bahkan menjadi salah satu ciri orang beriman (QS. Ali Imran : 134). Walau kadang terhambat gengsi namun meminta maaf itu relatif mudah dan mengatakan ”saya sudah memaafkan” mungkin juga tidak sulit. Namun benar – benar membebaskan diri dari rasa benci, marah dan dendam tidaklah mudah. Padahal disitulah esensi memaafkan. Sikap pemaaf adalah suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam konteks bahasa, memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati.Untuk menjadi pemaaf sejati memang butuh sikap ksatria, seperti kata Sherina, ”… setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan, hanya yang berjiwa ksatria yang mampu memaafkan…

Memaafkan Orang Lain
Tidak mudah memang menyembuhkan luka batin atau perasaan dan melupakan orang yang sudah menyakiti perasaan kita, apalagi jika kita direndahkan di depan umum. Rasa kesal dan kecewa yang begitu menghujam di hati hanya akan menjadi beban yang takkan berbuah kebaikan, malah bisa jadi penyakit. Sebenarnya ketika kita menyadari tak ada manusia yang sempurna dan terlepas dari kesalahan maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan. Bahkan ketika orang yang berbuat salah kepada kita tidak berubah dari kejahiliyahannya, juga tidak dapat menjadi alasan untuk belum memaafkannya. Tugas kita sekedar mengingatkan bukan memberi hidayah, jangan sampai kejahiliyahan justru tertular ke kita.

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baghawy). Perhatikan kisah Nabi Yusuf yang memaafkan saudaranya yang telah mencoba untuk membunuhnya. Atau Rasulullah SAW yang memaafkan orang yang meludahi dan melempari beliau dengan kotoran. Atau ketika seruan kebaikan beliau dibalas dengan lemparan batu penduduk Thaif sehingga Jibrilpun geram dan hendak menimpakan gunung atas mereka, namun Rasulullah memaafkannya.

Belajar dari kisah diatas, jika kezhaliman yang kita rasakan belum seberapa rasanya tak layak bagi kita untuk tidak memaafkan. Dan bagaimana mungkin kita yang sering berbuat dosa tidak dapat memaafkan orang lain sementara Allah terus memaafkan dosa kita dengan tidak begitu saja mencabut nikmat-Nya. Pemahaman inilah yang kemudian menyadarkan seorang Abu Bakar untuk memaafkan dan tidak melaksanakan sumpah untuk tidak memberi apa-apa kepada kerabatnya yang terlibat dalam menyiarkan berita dusta tentang Aisyah (QS.An Nur : 22). Sedemikian mulianya sikap memaafkan, tak heran dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ada seseorang yang oleh Rasulullah disebut sebagai calon ahli syurga, dan ketika salah seorang shahabat menyelidikinya ternyata amal istimewanya adalah selalu memaafkan, berlapang dada dan tidak menyimpan sedikitpun kedengkian terhadap saudaranya.

Memaafkan Diri Sendiri
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Ketika kita berbuat salah pada orang lain, kita seharusnya segera meminta maaf pada orang itu. Orang itu kemudian bisa jadi sudah memaafkan, namun kita sendiri kerap masih dibebani rasa bersalah dan belum dapat memaafkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri jelas bukan solusi bahkan hanya menunjukkan kelemahan kita menyikapi takdir Allah SWT. Selain meminta maaf, sikap seharusnya dalam menyikapi kesalahan kita adalah dengan tidak mengulangi perbuatan salah tersebut, memperbanyak amal shaleh dan menerima yang telah terjadi sebagai bagian dari skenario Allah SWT. Nah, yang terakhir ini kadang terlalaikan sehingga tak jarang kita masih dihantui mimpi-mimpi buruk yang membuat kita krisis percaya diri.

Krisis percaya diri sebagai akibat dari sulitnya kita memaafkan diri sendiri ini akan menjadi momok yang menakutkan. Kita akan selalu menganggap diri kita tidak berguna, lemah, bodoh, tidak bisa apa-apa, minder dan lain sebagainya. Kalau sudah seperti ini, kita jadi sensitif, sempit hati, curigaan, gelisah, terlalu mengagungkan orang lain dan berbagai sikap negatif yang hanya merugikan diri sendiri. Bahkan lebih jauh lagi, keadaan ini akan membuat kecenderungan untuk mencari jalan pintas sebagai pelarian yang bisa jadi menimbulkan masalah baru. Yang seharusnya dapat dilakukan adalah berdamai dengan kenyataan tanpa harus melupakan kesalahan yang pernah kita lakukan. Kita memang tidak bisa mengubah yang sudah terlanjur terjadi namun kesempatan untuk membenahi diri itu masih ada dan akan selalu ada.

Kesalahan seharusnya dapat menjadi pengingat agar ke depan dapat lebih baik bukan justru menimbulkan rasa bersalah yang terus menerus, takut berbuat kesalahan lagi dan kehilangan kepercayaan diri. Ketidakmampuan kita untuk memaafkan diri sendiri bisa menjadikan kita terhenti, tidak bisa maju dalam melanjutkan hidup. Dr. Phil McGraw, psikolog Amerika mengatakan bahwa kita punya pilihan untuk menjadi orang yang menyedihkan karena memikirkan rasa bersalah itu terus menerus atau mengizinkan diri sendiri untuk sembuh dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri adalah membuka hati dan pikiran, memberi pilihan kepada diri sendiri untuk kembali mencintai, menghadapi rasa bersalah dan coba memahaminya, mengizinkan diri untuk menyembuhkan diri dan membuat suatu hubungan baru. Sudah semestinya kita buang rasa takut atas sesuatu yang belum tentu terjadi. Menatap jauh ke depan karena masih banyak lahan kebaikan yang bisa kita tanami. Jika Allah SWT bisa mengampuni kita, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa memafkan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri memang tidak mudah, membutuhkan keberanian dan keteguhan hati yang besar serta kadang tidak bisa dilakukan sendiri.

* * *

Hasil penelitian dari sejumlah ahli jiwa di seluruh dunia menyimpulkan bahwa orang-orang yang memelihara ’sakit hati’ benar-benar menjadi sakit organ hatinya (lever). Juga telah banyak diketahui bahwa para pasien kanker dan penyakit berat lain bisa mencapai kesembuhan hanya karena melepas amarahnya secara sadar dengan cara memaafkan orang-orang yang membuatnya sakit hati dan memendam amarah yang membuatnya menderita luka batin. Para ilmuwan Amerika telah membuktikan bahwa orang yang mampu memaafkan lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Telah dibuktikan bahwa gejala-gejala kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress, susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini. Dalam bukunya, ’Forgive for Good’, Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

Cinta dan memaafkan adalah dua hal yang saling mendukung untuk hidup damai sejahtera, sehat lahir batin. Memaafkan bukanlah sebuah perasaan, tetapi sebentuk tindakan, sebentuk kemauan dari diri seseorang. Kita bisa memaafkan jika kita menghendakinya. Jika tidak, kita sendiri yang akan merasakan konsekuensi dari memelihara ingatan yang membuat kita sempit hati. Memaafkan adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang Memaafkan adalah suatu karunia terindah dalam hidup seseorang, baik memaafkan diri sendiri maupun memaafkan orang lain, walau tidak banyak di antara kita mampu melakukannya dengan mudah.

Wallahu a’lam bi shawwab

…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(QS. An Nuur :22)

“Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan” (Andrew Jackson)