Tag Archives: menulislah

Bismillah… Belajar Menulis Lagi…

Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. Medan berbuat tidak semudah medan berbicara. Medan jihad tidak semudah medan bertindak. Dan medan jihad yang benar itu tidak semudah medan jihad yang keliru. Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benaknya mampu diucapkan dengan lisan. Betapa banyak orang yang dapat berbicara namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan dari yang sedikit itu banyak diantaranya yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad.” (Hasan Al Banna)

Mungkin tak banyak yang menyadari, dua hari terakhir website ini sempat suspend. Kendala teknisnya memang mudah teratasi, namun sebagai bahan refleksi sepertinya ini pengingatan bahwa sudah lebih dua bulan lamanya website ini tidak diupdate. Alasan klasik kesibukan atau fokus beribadah Ramadhan bisa saja menjadi dalih, namun ketidakkonsistenan semangat dalam menulis sejatinya menjadi faktor utama. Waktu masih bisa diupayakan, apalagi ide tulisan sungguh tidak kekurangan. Permasalahannya tinggal kesungguhan. Ya, medan menulis memang tidak semudah medan berkhayal. Tidak semua lintasan pikiran serta merta bisa menjadi tulisan yang dapat dinikmati banyak orang.

Medan berbicara dengan medan menulis barangkali punya beban yang relatif tergantung orangnya. Ada yang pandai berbicara namun kesulitan untuk merangkai apa yang disampaikannya dalam bentuk tulisan yang layak dibaca. Ada juga yang kurang cakap menyampaikan gagasannya secara lisan, namun buah karya tulisannya bisa jadi sangat tajam. Ada juga yang menguasai keduanya. Bagaimanapun, keduanya lebih sulit dari sekadar berpikir, apalagi berangan. Dan keduanya butuh dilatih. Buat penulis sendiri, medan menulis tidaklah semudah medan berbicara. Menyampaikan secara lisan apa yang terlintas di pikiran jauh lebih mudah dibandingkan menuliskannya. Sebab dalam menulis ada aktivitas membaca, berbicara (setidaknya dalam hati), dan menggerakkan pena atau mengetik di tuts keyboard. Lebih kompleks. Lebih mendekati medan bertindak.

Tidak semua lintasan pikiran perlu dipikirkan, dan tidak semua yang dipikirkan perlu untuk disampaikan, baik secara lisan ataupun tulisan. Ada jarak nyata antara berpikir, berbicara dan menulis. Sementara ada yang berbicara dan menulis tanpa berpikir, di sisi lain ada yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Berbicara setelah berpikir tentu lebih bijak, pun demikian dengan menulis setelah berpikir. Kesan bijak tentu bukan hal yang utama, namun membayangkan betapa mengerikannya lisan dan tulisan yang keluar tanpa pemikiran panjang tentu perlu menjadi pertimbangan. Ada kesan negatif bagi mereka yang mudah mengumbar lisan dan tulisannya tanpa ilmu, tanpa malu, dan tanpa manfaat. Padahal akhlak kita bisa tercermin dari apa yang kita sampaikan, baik lisan maupun tulisan.

Lantas apakah diam benar menjadi pilihan cerdas? Tidak selalu. Jika tidak berpikir mencerminkan kebodohan, tidak menyampaikan sama saja mencerminkan ketidakpedulian. Karenanya tabligh (menyampaikan) menjadi salah satu sifat wajib bagi Rasul. Diam lebih baik daripada berbicara atau menulis yang tidak baik, namun berbicara dan menulis yang baik tentu lebih utama dibandingkan sekadar terdiam. Bisa jadi ada jiwa yang tercerahkan dan tercerahkan. Dan tulisan, punya efek yang lebih panjang daripada tulisan. Menjadi bukti otentik yang melintas ruang dan waktu. Dampak kebaikan ataupun keburukannya bisa lebih luas, dan lebih abadi.

Ketika kehilangan gagasan menulis, banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan membaca, berdiskusi, atau pergi mencari inspirasi. Namun sejatinya gagasan itu ada dimana-mana. Apa yang kita pikirkan atau apa yang kita bicarakan bisa diolah menjadi sebuah tulisan. Bagian tersulit dalam menghasilkan tulisan adalah menuliskannya. Tak heran tips utama untuk bisa menulis adalah menulis. Medan bertindak yang tak semudah medan berkhayal ataupun berbicara. Karenanya cara paling ampuh untuk memunculkan motivasi menulis adalah dengan belajar menulis. Tak perlu dipusingkan dengan berbagai teori dan pemikiran. Cukup dengan menulis. Seraya memahami mengapa harus menulis. Sambil memperhatikan apa yang ditulis. Dan hasilnya, jadilah sebuah tulisan, seperti tulisan ini, yang semula hanya merupakan sebuah ikhtiar sederhana untuk kembali aktif menulis di website yang sempat suspend ini. Yuk, sama-sama belajar menulis lagi… Bismillah…

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”  (Pramoedya Ananta Toer)

Hanya Satu Kata : Menulislah!

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq : 1 – 5)

* * *

Beberapa saat lalu saya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan inspirasi dalam menulis. Sejujurnya saya tidak mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan. Bukan hanya karena saya bukan penulis profesional dan belum menjadi penulis handal, bukan pula karena pada saat itu saya sedang tidak mood untuk menulis, namun memang selama ini yang saya rasakan inspirasi itu keluar begitu saja dalam tiap jenak perjalanan hidup. Apalagi dalam interaksi dengan banyak orang, di berbagai waktu dan tempat, pengalaman baru sumber inspirasi tentu terus bermunculan. Yang perlu dilakukan tinggal ‘merekamnya’ dan mengikat maknanya dengan menuliskannya. Beberapa waktu kemudian, saya dingatkan tentang bagaimana produktivitas ulama – ulama besar dalam menulis dan bagaimana kebermanfaatan tulisan itu terus mengalir bahkan ratusan tahun setelah ulama itu wafat. Produktivitas menulis yang tenyata tidak begitu saja dapat diwariskan. Bukan karena kecerdasan, pemikiran dan pengetahuan yang kurang mumpuni, namun rasa takut dan tidak percaya diri lah yang kerap membuat menulis menjadi aktivitas yang begitu berat dan membebani.

Antara Membaca dan menulis
Pernah suatu waktu ada yang menanyakan tentang sumber inspirasi status facebook saya. Saya dengan berbagai keterbatasan hanya dapat menjawab, ’perbanyaklah membaca’. Membaca tentu tidak didefinisikan sesempit ’reading a book’, tetapi bagaimana kita dapat menyelami hikmah melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan. Dan menulis tentu bukan sebatas ’mengikat’ hikmah itu, tetapi dapat pula menyebarkannya. Tentu bukan tanpa alasan Allah menurunkan wahyu pertama-Nya berupa perintah membaca dan menjadikan pena sebagai benda pertama yang diciptakan. Ilmu pengetahuan memang tak dapat dipisahkan dari membaca dan menulis, dan membaca adalah sumber kekuatan untuk menulis. Inspirasi bisa datang kapanpun dan dari manapun, mulai dari spanduk di pinggir jalan sampai koran bungkus gorengan.

Berdakwah lewat pena
Dalam Al Qur’an Allah berfirman, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan”. Dalam ayat pertama Surah Al Qalam ini Allah bersumpah dengan kalam (pena) dan dengan apa yang mereka tuliskan. Dan tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu kecuali hal tersebut penting untuk diperhatikan. Dalam salah satu riwayat, Abdullah bin ’Amr bin ’Ash berkata, ”Dulu aku menulis semua perkara yang aku dengar dari Rasulullah SAW untuk aku hafalkan. Namun, orang-orang Quraisy melarangku dan bertanya, ”Kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang berbicara ketika senang dan ketika marah?” Aku pun berhenti menulis. Lalu, aku menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau memberi isyarat ke mulutnya dengan jarinya seraya bersabda, ”Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.” Nah, tradisi menulis ini kemudian dilanjutkan oleh para imam, ahli hadits, ilmuwan dan ulama – ulama besar yang pernah tercatat dalam sejarah. Imam Syafi’i misalnya, jumlah tulisannya berjumlah sekitar 174 kitab. Atau Ibnu Taimiyah yang karyanya mencapai kurang lebih 500 buah. Buat mereka, menulis sama artinya dengan aktivitas yang dapat menghimpun upaya mengikat ilmu, menyampaikan ilmu, sekaligus amar ma’ruf nahi munkar.

Problematika ummat masih sedemikian kompleksnya, disadari atau tidak, setiap diri kita memiliki kewajiban untuk membantu menatasinya. Bisa dengan kekuasaan, lisan maupun hati. Pun masih tetap dibutuhkan, dakwah bil lisan ternyata relatif lebih mudah terlupakan dan hilang dari ingatan. Berdakwah dengan pena pun menjadi salah satu stategi pengingatan yang cerdas. Selain lebih tahan lama, tulisan dapat lebih luas dan cepat tersampaikan dengan alternatif media yang banyak. Selain itu, baik menulis ataupun membacanya relatif dapat dilakukan dalam kondisi apapun. Yup, lebih efektif dan efisien. Dan dakwah bil qalam tidak melulu harus dalam bentuk artikel yang penuh dengan dalil dari Al Qur’an dan hadits, tetapi dapat pula berupa cerpen, novel, puisi, pantun bahkan cerita humor. Variasi penyajian ini tentunya akan sangat memungkinkan untuk pengembangan, lihat saja betapa banyak film yang diangkat dari buku atau novel yang laris. Dan bentuk visual dari tulisan akan lebih menghadirkan kesan mendalam karena akan berpadu dengan pengalaman diri dan kebebasan imajinasi.

Menulislah!
Menulis sebenarnya mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Agak berlebihan mungkin, tapi setidaknya menulis memang tidak sulit, karenanya anak SD bahkan TKpun dapat melakukanya. Menulis sejatinya tidak jauh berbeda dengan mengobrol atau berdiskusi. Menulis adalah berbicara lewat media tulisan, apa yang ada di hati dan pikiran, disampaikan lewat untaian huruf dan kata yang memiliki makna. Bukan sekedar mudah, menulis itu menyenangkan. Bagaimana tidak, dengan menulis kita dapat berbagi, dapat menjadi sarana aktualisasi diri, dapat berekspresi sekaligus menjalin silaturahim. Jika membaca adalah jendela ilmu dan buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan, maka menulis adalah upaya membangun ilmu pengetahuan. Tanpanya, bangunan ilmu itu tak akan bisa dinikmati. Menulis adalah berbagi ilmu sekaligus ekspresi dari ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana cara membuat tulisan? Dalam sebuah talkshow tahun lalu yang diantaranya menghadirkan seorang penulis novel ternama di Indonesia, pembicara menyampaikan ada tiga tips untuk dapat menulis. Pertama adalah menulis, kedua adalah menulis dan ketiga adalah menulis. Ya, menulis adalah praktek yang tidak semestinya direpotkan dengan segudang teori. Bukan tidak boleh membuat mind map atau apalah namanya yang terkait dengan teori menulis, namun jangan sampai malah dipusingkan dan terjebak oleh kompleksitas teori. Sebuah tulisan sebagus apapun tetaplah dimulai dari satu huruf, tidak terkecuali tulisan yang dapat menghadirkan pencerahan ataupun tulisan yang dapat mengguncang dunia. Dan satu huruf, kata, kalimat, paragraf ataupun tulisan itu hanya dapat dimulai dengan mulai mencoba menulis, karenanya niat dan keberanian untuk memulai menjadi hal yang utama. Mari angkat pena, berjuang lewat media tulisan, agar kebermanfaatan berkepanjangan, agar ummat tercerdaskan.

* * *

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)