Tag Archives: peduli

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(QS. Ash-Shaffat: 108-111)

Salah satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

 

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131). Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini. Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

 

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am. Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

 

Visioner dan Amanah

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37). Pemimpin harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas. Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat. Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s. Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

 

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar, klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Berkah Ramadhan

“Bukanlah puasa itu puasa dari makan dan minum, sesungguhnya puasa itu adalah puasa dari perbuatan sia-sia dan keji…” (Hadits riwayat Ibnu Huzaimah dan Hakim dengan sanad shahih)

Dikisahkan di sebuah pondok kecil pada suatu bulan Ramadhan, tersebutlah seorang santri yang mendatangi ustadznya untuk mendapatkan bimbingan. Santri ini walau belum lama tinggal di pondok dikenal aktif untuk memperdalam ilmu agama. Sesampainya ia menemui ustadznya, ia bertanya, “Ustadz, bagaimana caranya agar aku dapat merasakan berkah di bulan Ramadhan ini?” Seraya tersenyum, Sang Ustadz menjawab, “Pergilah ke desa seberang, carilah seorang pengemis yang ada di ujung jalan, tanyalah padanya.

Bergegas, santri tersebut pergi ke desa seberang. Setelah berjalan cukup jauh, didapatinya seorang pengemis di ujung jalan. Tubuhnya kurus kering dengan pakaian yang terlihat lusuh, tampaknya ia telah berhari-hari memakai pakaian tersebut di jalan yang penuh debu ini. Santri tersebut kemudian mendekati pengemis itu kemudian menceritakan ‘petunjuk’ dari gurunya. Setelah itu ia bertanya, “Lalu, bagaimana caraku untuk merasakan berkah Ramadhan itu?” Singkat, pengemis itu menjawab. “Carilah jawabannya di rumah Allah.” Santri tersebut langsung berpikir bahwa rumah Allah yang dimaksud adalah masjid, namun ia tidak tahu bagaimana ia dapat menemukan masjid di desa ini, kemudian ia kembali bertanya, “Lalu, dimanakah aku dapat menemukan rumah Allah?” Dengan agak enggan, pengemis itu berkata, “Pergilah ke desa seberang, carilah seorang pengemis yang ada di pasar, tanyalah padanya.”

Santri tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke desa seberang yang jaraknya cukup jauh. Setelah bertanya kesana kemari, didapatilah sebuah pasar tradisional yang kumuh. Di sudut pasar, dilihatnya seorang pengemis yang kondisinya lebih memprihatinkan dari pengemis sebelumnya. Pakaiannya compang camping dan tubuhnya banyak dikerumuni lalat. Belum lagi lengan kirinya ternyata hanya sampai siku. Kakinya pun tampak kurus penuh koreng yang mulai mengering. Kelihatannya ia tinggal di pasar ini, terlihat dari beberapa helai kardus bekas dan sebuah buntalan lusuh yang ada di samping tubuhnya. Setelah memastikan tidak ada pengemis lain, santri itu kemudian mendekat, menceritakan perjalanannya dan menutupnya dengan pertanyaan, “Dimana aku bisa mendapati rumah Allah?“. Dengan tatapan nanar, pengemis tersebut menjawab, “Lanjutkan perjalananmu ke desa seberang, carilah seorang pengemis yang tinggal di bawah pohon besar, tanyalah padanya.”

Kembali, santri tersebut melanjutkan perjalanan. Matahari terasa semakin menyengat, desa seberang yang dimaksud ternyata sangat tandus. Dari kejauhan, terlihat sebuah pohon besar yang kering, daunnya banyak berguguran. Dalam terik panas, santri tersebut melihat seorang ibu tua bersama anak-anaknya di bawah pohon besar. Santri tersebut mendekat. Sang Ibu nampaknya sedang menanak nasi yang tampak tidak bersih. Disampingnya, beralaskan tikar nampak seorang anak kecil yang pucat wajahnya dengan tubuhnya yang menggigil. Kemudian, terdengar tangisan bayi yang ditaruh di dekat akar pohon. Sang ibu segera beranjak menuju bayinya, langkahnya sejenak terhenti ketika tubuh lemahnya tak sengaja menyenggol panci nasi yang nampak usang sehingga membuatnya terjatuh dan menumpahkan sebagian isinya. Sambil menahan tangis, ibu itu menenangkan bayinya seraya kembali menaruh nasi yang masih tersisa ke atas kompor minyak. Di dekatnya ada seorang anak, yang nampaknya paling besar, yang hanya duduk memandangi sekitarnya. Dari perilakunya, nampaknya anak tersebut mengalami keterbelakangan mental.

Santri tersebut tertegun, kemudian dengan mata berkaca-kaca ia memberanikan diri untuk menyatakan maksudnya kepada sang Ibu, “Maaf Bu, apa Ibu tahu dimana aku bisa mendapati rumah Allah?“. Sang Ibu hanya terdiam dan menyibukkan diri dengan masakan dan ketiga orang anaknya. Santri itu mulai putus asa hingga sang Ibu tiba-tiba bertanya, “Apakah kau kesini atas petunjuk pengemis pasar di desa seberang?“. Sambil menyeka air mata yang tak sadar mulai mengalir, santri itu segera meng-iyakan. Tanpa menoleh, Ibu tersebut kembali bertanya, “Lalu, apakah yang sudah kau berikan untuknya?” Sang santri tergugu, “Aku tidak memberikan apa-apa” dan selanjutnya hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ibu tersebutpun kembali diam dan melanjutkan pekerjaannya. Dengan tangan hampa, santri itu kemudian kembali ke pondok dan menceritakan semuanya kepada ustadznya.

* * *

Saudaraku, sesungguhnya berkah Ramadhan itu begitu dekat untuk dapat kita rasakan. Lihatlah di sekeliling kita, bersyukurlah, dan berkah itu akan terhampar. Berkah itu ada bukan karena dicari, tapi karena dilakukan. Berkah itu akan kita dapat bukan karena diberikan, tapi karena kita berbuat. Ya, berbuat…

Saudaraku, seringkali kita disibukkan dengan aktivitas mencari, bermimpi dan mengharapkan Allah melimpahkan begitu saja kebaikan kepada kita. Tapi sering kita lupa untuk bersyukur, peduli dan memulai segala pencarian, impian dan harapan dengan amal nyata. Kita akan memperoleh apa yang kita dambakan dengan berbuat. Carilah kebenaran dengan melakukan kebenaran, raih kebaikan dengan melakukan kebaikan, gapai cinta Allah dengan mencintai-Nya…

Dan saudaraku, sesungguhnya berkah Ramadhan itu hanya akan benar-benar dapat kita rasakan kelak ketika kita telah menginjakkan kaki di rumah yang telah Allah janjikan bagi mereka yang berbuat baik dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, rumah di Jannah-Nya. Rumah yang hanya diperoleh dengan kerja keras penuh kesungguhan & keikhlashan…
Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Inspired from my mentee

Kisah Si Buta Dengan Pelita

“Katakanlah: Siapakah pencipta langit dan bumi? Jawablah: ‘Allah’. Katakanlah: Apakah kalian mengambil pelindung-pelindung selain Allah yang tidak memiliki manfaat untuk diri mereka ataupun madharat-madharat? Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang buta dan orang-orang yang melihat? Atau samakah kegelapan dengan cahaya?…” (Q.S. Ar-Ra’du: 16)

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: ”Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.” Dengan lembut sahabatnya menjawab, ”Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, ”Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, merekapun saling berlalu. Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, ”Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, ”Kamu yang huta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”. Si buta tertegun. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, ”Oh, maaf, sayalah yang ’buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah seorang buta.” Si buta tersipu menjawab,”Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta.

Merekapun melanjutkan perjalanan masing-masing. Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, ”Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab,”Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak, secara berbarengan mereka bertanya, Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, ”Iya”, sembari meledak dalam tawa. Merekapun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, ”Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”

* * *

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (dalam cerita diatas: tubrukan). Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan ’pulang’, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang mereka memilih untuk ’membuta’ walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorangpun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sekarang kembali ke diri kita masing-masing, sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaanpun takkan pernah habis terbagi. Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Bila telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan. Wallahu a’lam

(Taken from KITA dengan perubahan seperlunya)

Ps : Ada yang punya buku/ bahan tentang ”Knowledge Management” ga? Butuh nih