Tag Archives: pemercepat perubahan

Sekilas tentang Community Development

Community Development Programs adalah program pengembangan masyarakat yang bertujuan membangun kemandirian, mengembangkan kapasitas dan mengintegrasikan masyarakat untuk membangun sendiri lingkungannya. Kegiatan ini umumnya berorientasi kepada proses dimana dikembangkan perluasan dan pemeliharaan sistem yang bertujuan untuk memapankan relasi kerjasama antar kelompok dalam suatu komunitas, menciptakan struktur pemecahan masalah komunitas yang terpelihara secara baik dalam atau oleh komunitas tersebut, menstimulasi masyarakat agar mempunyai minat & partisipasi luas terhadap isu-isu komunitas, mengembangkan sikap & perilaku suka bekerjasama & meningkatkan peranan kepemimpinan yang berasal dari komunitasnya.

Komunitas yang digarap biasanya masih berbentuk tradisional statis, dimana terjadi kemurungan dalam masyarakat & ketertutupan dari masyarakat luas. Kondisi di komunitas tersebut umumnya terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan relasi & kapasitas dalam memecahkan masalah secara demokratis. Stategi dasar yang dapat diterapkan adalah pelibatan sebanyak mungkin (kelompok) masyarakat dalam menentukan & memecahkan masalah mereka sendiri (self help) dan kooperatif berdasarkan kemauan dan kemampuan. Teknik perubahannya dengan konsensus, diskusi kelompok dan komunikasi antar kelompok & komunitas.

Adapun peran dari community worker (CW) adalah sebagai pemercepat perubahan (enabler-katalis) yang akan mengartikulasikan kebutuhan, mengidentifikasi masalah dan mengembangkan kapasitas masyarakat agar dapat menghadapi masalah dengan lebih efektif. Fungsinya adalah untuk membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka, mengembangkan dan membangkitkan organisasi dalam masyarakat, mengembangkan relasi interpersonal yang baik dan memfasilitasi perencanaan yang efektif. Selain itu, community worker juga berperan sebagai perantara (broker) untuk menghubungkan individu / kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan bantuan dengan pihak/ yayasan yang mengadakan layanan masyarakat. Selain itu, CW juga berperan sebagai koordinator dan edukator/ pendidik.

Karena peran berat yang harus dijalankan itulah seharusnya setiap CW dibekali dengan kemampuan khusus, setidaknya kemampuan komunikasi, problem solving & decision making, riset, dinamika kelompok, manajemen, administratif, dan lain sebagainya. Pendekatan yang dilakukan untuk pencapaian tujuan disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Umumnya, dilakukan upaya pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat guna memperoleh kepercayaan, dilanjutkan dengan kegiatan yang keuntungannya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, barulah memberikan pemahaman-pemahaman lebih yang pada akhirnya dapat menyadarkan masyarakat bahwa merekalah yang dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Pendekatan direktif dapat dilakukan pada masyarakat yang pasif dengan CW yang sudah cukup tahu kebutuhan masyarakat. Namun pendekatan ini potensial menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap CW, sehingga pendekatan yang banyak digunakan adalah pendekatan partisipatif dimana masyarakat turut dilibatkan dalam menentukan treatment yang sesuai bagi mereka. Pendekatan terakhir banyak memberikan keuntungan namun tetap harus dijaga ritmenya sehingga masyarakat tidak merasa terpaksa dan kontrolpun harus tetap dijalankan. Adapun tahapan intervensi komunitas dimulai dari persiapan, assessment, perencanaan alternatif program, pemformulasian rencana aksi, implementasi, evaluasi & pengawasan dan terakhir terminasi/ pemutusan. Masyarakat dapat dilibatkan tidak hanya dalam pelaksanaan tetapi juga dalam perencanaan.

Untuk optimalisasi pencapaian tujuan dibutuhkan ketersediaan kader, yaitu orang-orang yang berasal dari masyarakat yang dengan sukarela (ada kesadaran diri) bersedia ikut serta dalam pelaksanaan. Kader bertugas menjadi pelopor dalam melaksanakan kegiatan, pelaksana dan pemelihara kegiatan, menjaga keberlangsungan kegiatan dan membantu menghubungkan antara warga masyarakat dengan lembaga-lembaga yang terkait. Adapun kendala yang biasa dihadapi dalam proses pengambangan masyarakat dapat berasal dari kepribadian individu (homeostatis, kebiasaan, primacy, seleksi persepsi, ketergantungan, superego, minder, dsb) maupun dari sistem sosial (norma, kultur tertentu, kelompok kepentingan, keyakinan, penolakan intervensi, dsb).

*tulisan kala masih mengelola YDBI 13 tahun lalu