Tag Archives: pengetahuan

Klasifikasi Pengetahuan – 2 (KM Ed.4)

Explicit Knowledge
Kalau pengetahuan yang sifatnya tacit ini kemudian dikeluarkan, ditulis atau direkam, maka sifatnya lantas menjadi eksplisit. Explicit knowledge adalah pengetahuan manusia yang berada diluar kepala, dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, rumus, spesifikasi, dan manual serta dapat langsung ditransfer secara lengkap kepada orang lain dengan didengar, dilihat, dirasa atau disentuh. Sifat dari explicit knowledge adalah tercetak dalam kode-kode, deklaratif, formal dan keras (hard). Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) : “Explicit knowledge can be expressed in words and numbers and can easily communicated and shared in the form of hard data, scientific formula, codified procedures and universal principles”.

Bentuk pengetahuan eksplisit ini berupa bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/ terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari baik yang dimiliki secara pribadi, biasanya dalam bentuk catatan, buku harian, alamat teman, fotokopi dan segala bentuk eksplisit yang disimpan perorangan secara pribadi maupun bentuk eksplisit yang dipakai bersama-sama oleh sekelompok orang dalam bentuk tulisan tangan sampai internet. Dengan kata lain pengetahuan eksplisit yang di-share atau dibagikan agar dapat dikses oleh banyak pihak. Contohnya adalah manual, buku, laporan, koran, lukisan, dokumen, surat, file-file elektronik, dsb.

Tacit – Explicit Knowledge dan Manajemen Pengetahuan
Untuk membuat keris atau ayam goreng yang rasanya khas mBok Berek diperlukan pengetahuan, keterampilan, termasuk cita rasa dan mungkin kesaktian yang hanya dimiliki oleh seseorang dan sulit untuk disosialisasikan kepada orang lain. Pengetahuan seperti itu tergolong pengetahuan Tacit, yang dari dulu hingga kini kerap dijadikan andalan untuk bisnis. Karenanya orang rela antri untuk makan soto Pak Soleh atau sate kambing muda Tegal, atau membayar sangat mahal untuk batik tulis kraton Solo atau suatu lukisan karya Picasso.

Dalam prakteknya di lingkungan kerja, terkadang suatu informasi sengaja dijadikan pengetahuan tacit sehingga orang lain bergantung kepada pemilik informasi itu, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi kekuasaan, meningkatkan status, maupun menuntut kenaikan gaji. Di sisi lain, pengetahuan tacit tidak bisa dikembangkan dengan sebaik-baiknya, bahkan cenderung mati dan punah. Itulah yang menyebabkan orang tidak bisa lagi membuat piramid (Mesir) atau Borobudur (Jawa) atau karya-karya agung lain dari umat manusia di jaman dahulu.

Lain halnya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu engineering, misalnya, bisa berkembang sangat pesat sampai ke kondisinya yang sekarang, sejak pengetahuan dalam ilmu itu dibuat explisit, yaitu bisa dipelajari oleh siapa saja yang mau dan mampu sehingga sekarang orang bisa membuat roket sampai ke bulan, atau ilmu fisika yang kini memungkinkan orang sudah sampai kepada teknologi nano (membuat benda sampai 1/10 pangkat sekian) sehingga bisa dibuat alat-alat kedokteran yang bisa memeriksa bagian dalam tubuh manusia tanpa operasi, atau membuat komputer sekecil telapak tangan. Dalam ilmu, pengetahuan sengaja dibuat eksplisit, agar terus-menerus bisa dikembangkan[1].

Prinsip tacit dan explicit ini kemudian menjadi benang merah dari konsep KM. Kegiatan KM dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan proses perubahan dari tacit pribadi menjadi tacit milik bersama, dari tacit milik bersama jadi eksplisit, dari eksplisit jadi tersimpan. Semua proses ini berlaku dalam proses kerja, kehidupan, sosial, politik dan lain-lain. KM mengurus inovasi, perubahan dan dokumentasi serta lebih luas dari sekedar sistem informasi manajemen (Management Information Systems/ MIS). MIS adalah kegiatan yang memikirkan bagaimana informasi eksplisit disimpan dan menjadi milik bersama. Di situ ada keperluan pengaturan yang menyangkut bagaimana menyimpan, apa yang disimpan, bagaimana menemukan kembali, berapa lama disimpan, apa yang perlu dan tidak perlu disimpan. Keperluan-keperluan inilah yang dibuat sistematik menjadi sistem.


Pembentukan Pengetahuan (KM ed.2)

Data adalah kumpulan angka atau fakta objektif mengenai suatu kejadian atau hal tanpa konteks dan penafsiran. Dengan menambah nilainya melalui konteks, kategorisasi, kalkulasi, koreksi dan pengendapan, data dapat diubah menjadi informasi. Informasi adalah data yang diorganisasikan/ dikelola sehingga mempunyai arti[1]. Informasi dikemas sebagai sebuah pesan, biasanya dalam bentuk dokumen atau komunikasi yang terdengar atau terlihat (audio visual) yang bertujuan untuk mengubah cara pandang penerimanya terhadap sesuatu, yang berpengaruh pada penilaian dan tingkah laku. Para ahli dibidang informasi menyebutkan bahwa informasi adalah pengetahuan yang disajikan kepada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami atau data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti. Sedangkan pengetahuan berasal dari informasi yang relevan yang diserap dan dipadukan dalam pikiran seseorang, artinya pengetahuan berkaitan dengan apa yang diketahui dan dipahami oleh seseorang. Informasi cenderung nyata, sedangkan pengetahuan adalah informasi yang diinterpretasikan dan diintegrasikan.

Menurut F.N. Teskey dalam tulisannya, “User Models and World Models for Data, Information, and Knowledge“, data merupakan hasil pengamatan langsung terhadap suatu kejadian atau suatu keadaan. Ia merupakan entitas yang dilengkapi dengan nilai tertentu. Informasi merupakan kumpulan data yang terstruktur untuk memperlihatkan adanya hubungan antar entitas. Pengetahuan merupakan model yang digunakan manusia untuk memahami dunia, dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran manusia[2].

Model yang hampir sama ditawarkan Mike Powell dalam bukunya, Information Management for Development Organizations. Menurut Powell, data adalah koleksi terstruktur dari kumpulan fakta, informasi adalah data atau fakta dengan arti dan pengetahuan merupakan hasil atau keluaran atau nilai dari informasi[3]. Model serupa juga dikemukakan Nathan Shedroff, dengan menambahkan kebijaksanaan (wisdom) sebagai satu tahap sesudah pengetahuan, seperti dikutip Richard Saul Wurman dalam Information Anxiety 2[4].

Hierarchy decision to act
(Sumber : Kuliah Kapita Selekta, Rudy Siahaan, 2004)

Jadi, secara sederhana kita peroleh bahwa data ialah sekumpulan fakta tentang sebuah kejadian sesaat, seperti data transaksi belanja, jadwal penerbangan, dll. Data akan berubah menjadi informasi apabila diinterpretasikan oleh manusia dan diberikan konteks (sehingga memberikan pengertian kontekstual), seperti misalkan terjadinya trend kenaikan harga saham, kenaikan pembelian popok bayi, dll. Sedangkan, pengetahuan merupakan efek langsung dari adanya informasi.

 


[3] idem.

[4] idem.

Pengantar Knowledge Management (KM ed.1)

Beberapa ratus tahun yang lalu, di Pulau Jawa ini banyak Mpu yang ahli membuat keris. Kala itu, sesuai dengan busana adat, setiap bangsawan dan ksatria menyandang keris. Namun kini, keris menjadi barang langka yang mahal sekali harganya dan hanya bisa dimiliki oleh orang yang memang menyimpan keris sebagai warisan turunan dari nenek moyangnya atau kolektor kaya. Masalahnya para Mpu itu hampir punah, sehingga hanya segelintir orang saja yang mampu memproduksi benda itu. Tak ada yang diuntungkan dengan tingginya harga keris, kecuali para perantara yang biasa memperdagangkan keris untuk para kolektor. Sementara itu, baik pemilik maupun keturunan dari para pembuatnya, termasuk pembuat yang masih hidup hampir-hampir tidak mendapat keuntungan apa-apa.

Hal yang sama juga terjadi pada ayam goreng. Sejak dulu ayam goreng mBok Berek Yogyakarta sangat terkenal dan digemari konsumennya dari berbagai kota. Tetapi perkembangan restoran ayam goreng itu sangat bereda dari Kentucky Fried Chicken (KFC). Kalau KFC yang dari Amerika itu bisa berkembang dan menyebar ke seluruh dunia, ayam goreng mBok Berek hanya meluas ke beberapa kota, itupun setelah terpecah menjadi beberapa versi mBok Berek karena masalah intern keluarga. Perbedaan itu terjadi bukan karena faktor Amerikanya, melainkan karena perbedaan fokus dalam pengetahuan per-ayamgoreng-an.

Dewasa ini para praktisi dan pakar manajemen telah melihat peran yang signifikan dari modal yang tidak terlihat dalam menciptakan nilai. Modal maya ini mencakup modal intelektual, sosial, kredibilitas, pengaruh, semangat/ motivasi dan modal-modal lainnya yang tidak kasat mata. Dalam lingkungan yang sangat cepat berubah, modal maya inipun mengalami keusangan, sebab itu perlu terus menerus diperbarui. Proses pembaruan ini dapat dilakukan melalui proses belajar.

Belajar dalam era ledakan pengetahuan seperti sekarang ini menuntut tiap anggota organisasi untuk dapat belajar bersama dengan cepat, dengan mudah dan gembira, kapan dan dimana saja. Hal ini mendorong berkembangnya konsep organisasi belajar yang tidak memisahkan antara proses belajar dan bekerja. Pengetahuan yang melekat pada anggota suatu organisasi juga perlu diperbarui, diuji, dimutahirkan, dialihkan, diakumulasikan, agar tetap memiliki nilai. Hal ini menyebabkan para praktisi dan pakar manajemen mencari pendekatan untuk mengelola pengetahuan yang sekarang dikenal dengan manajemen-pengetahuan atau knowledge management (KM)[1]. Mengelola pengetahuan bukanlah hal yang mudah, pengelolaan pengetahuan merupakan aktifitas yang kompleks dan membutuhkan perencanaan yang matang. Agar dapat mencapai tujuannya, suatu organisasi harus mampu mengelola pengetahuan yang dimilikinya dengan baik.

Data, Informasi dan Pengetahuan
Sebelum memahami konsep manajemen pengetahuan ini ada beberapa istilah yang harus dipahami yaitu data, informasi dan pengetahuan serta proses membentuk pengetahuan dari data, informasi kemudian menjadi pengetahuan. Data adalah kumpulan angka atau fakta objektif mengenai sebuah kejadian (bahan mentah informasi)[2]. Informasi adalah data yang diorganisasikan/ diolah sehingga mempunyai arti[3]. Informasi dapat berbentuk dokumen, laporan ataupun multimedia.

Davenport & Prusak[4] mendefinisikan pengetahuan sebagai berikut : “Knowledge is a fluid mix of framed experience, values, contextual information, and expert insight that provides a framework for evaluating and incorporating new experiences and information. In organizations, it often becomes embedded not only in documents or repositories but also in organizational routines, processes, practices and norms”. Pengetahuan (knowledge) adalah kebiasaan, keahlian/ kepakaran, keterampilan, pemahaman atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman, latihan atau melalui proses belajar. Istilah ini kerap bias dengan ilmu pengetahuan (science) yang merupakan ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya. Pengetahuan diproteksi dan dijaga oleh context. Sehingga, meski pihak lain dapat mengakses pengetahuan tersebut, belum tentu mereka dapat menerapkannya, karena pengetahuan sebuah organisasi sangat terkait dengan nilai, budaya, dan kondisi dari organisasi tersebut[5].

Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai keyakinan seseorang yang menjustifikasi sebuah kejadian berdasarkan pengalaman yang telah mereka alami.[6] Pengetahuan juga dapat diartikan sebagai campuran dari pengalaman, keyakinan, informasi, pandangan para ahli dan intuisi yang memberikan sebuah cara pandang untuk mengevaluasi dan memberikan respons terhadap informasi dan pengalaman baru.[7] Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pengetahuan ialah cara pandang seseorang terhadap sebuah kejadian/ informasi baru yang dipengaruhi oleh keyakinan dan pengalaman mereka. Seseorang yang memiliki kandungan pengetahuan yang berbeda bisa saja memiliki cara pandang yang berbeda sebuah kejadian yang sama


[3] idem.

[6] Ikujiro Nonaka dan Hiro Takeuchi, The Knowledge Creating Company: How Japanese Companies Create the Dynamics of Innovation, Oxford University Press, New York, 1995 hal. 8

[7] Thomas Davenport dan Laurence Prusak, Working Knowledge : How Orgaization Manage What They Know, Harvard Business School Press, Boston, 1998 hal. 10

Pengaruh Program Pembinaan dan Pendampingan terhadap Peningkatan Kompetensi Mahasiswa

PENGARUH PROGRAM PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN TERHADAP PENINGKATAN KOMPETENSI MAHASISWA
(STUDI KASUS : BEASTUDI ETOS DOMPET DHUAFA)

oleh : Purwa Udiutomo1

ABSTRAK

Kemajuan suatu negara banyak ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia di negara tersebut dan kualitas hidup manusia banyak dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Rantai kemiskinan memang tidak terlepas dari faktor ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Karenanya, salah satu upaya memutus rantai kemiskinan adalah dengan memberi pendidikan yang layak. Dompet Dhuafa melalui Beastudi Etos melakukan pemberdayaan pendidikan dengan memberi pembinaan, pendampingan dan bantuan pembiayaan pendidikan. Dengan pembinaan dan pendampingan, penerima beasiswa diharapkan tidak hanya dapat berkuliah, namun juga memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pembinaan program Beastudi Etos terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan mengambil sampel di lima perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan dan pendampingan yang dilakukan Beastudi Etos dapat meningkatkan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa. Pengaruhnya sangat signifikan terhadap nilai keagamaan, namun kurang berpengaruh terhadap keterampilan teknologi informasi.

Kata kunci : kompetensi, pembinaan mahasiswa, beasiswa, pengetahuan, keterampilan, sikap

 

ABSTRACT

Progress of a country largely determined by quality of its human resources and quality of human life is much influenced by educational factors. Chains of poverty absolutely cannot be separated from economic, health and educational factors. Therefore, one effort to break chains of poverty is to provide proper education. Dompet Dhuafa through Beastudi Etos had conducting educational empowerment with provide training, mentoring and financial assistance for poor students. With training and mentoring, scholarship recipients are expected not only can studying, but also have knowledge, skills and attitudes competency. This research aims to see the effect of Beastudi Etos’s training and mentoring programs to improve students competencies. Research methodology used is descriptive analytical by taking samples at five universities. The results showed that Beastudi Etos’s training and mentoring programs can improve knowledges, skills and attitudes competency of students. Its significantly improve religious values, but less effect to IT skill.

Keywords : competency, training and mentoring, scholarship, knowledge, skills, attitudes

1Penulis adalah peneliti pendidikan di Dompet Dhuafa

Menang Kompetisi dengan Kompetensi

“Obscurity and competence : that is the life that is worth living” (Mark Twain)

Sindhuja Rajamaran (14 tahun) mungkin tidak pernah menyangka namanya akan masuk dalam Guinness World Record sebagai CEO termuda di dunia. Pada saat anak seusianya disibukkan dengan gossip dan jejaring sosial, dia sudah memimpin perusahaan animasi bernama Seppan di India. Sejak usia belia, ia telah menguasai banyak software komputer, seperti Flash, Photoshop, Corel Painter, After Effects dan Maya. Kompetensi sebagai pembuat karikatur digital dan kartun termuda membuatnya layak membawahi banyak karyawan yang usianya jauh lebih tua.

* * *

Berbicara tentang kompetensi, ada beragam definisi yang dapat ditemukan. Terkait kompetensi di dunia kerja dapat dilihat dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan redaksi yang sedikit berbeda, definisi kompetensi tersebut juga dapat ditemukan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada tiga aspek kompetensi yang saling melengkapi, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Tidak cukup satu atau dua aspek yang dipenuhi untuk menyatakan bahwa seseorang memiliki kompetensi, melainkan harus mencakup ketiga aspek diatas.

Dunia kerja memang erat kaitannya dengan kompetensi. Tidak sedikit lowongan pekerjaan yang mensyaratkan pengalaman tertentu karena perusahaan memang berupaya untuk mencari SDM yang berkompeten, baik secara pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Perguruan tinggi merupakan salah satu institusi penghasil SDM yang kompeten pada berbagai bidang ilmu, sehingga diharapkan dapat mengisi kebutuhan SDM dunia kerja dengan standar mutu yang optimal. Karenanya, menyiapkan kondisi yang dapat ‘mendekatkan’ antara perguruan tinggi dengan dunia kerja merupakan hal penting yang harus dilakukan.

Realita yang terjadi di Indonesia saat ini adalah terjadinya ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi SDM sehingga tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang bekerja di bidang yang berlainan dengan keahlian akademiknya. Lebih jauh lagi, yang kerap menjadi permasalahan adalah SDM yang setelah memenuhi dunia kerja ternyata mereka tidak memiliki kecakapan dalam bidang pekerjaannya. Padahal orang – orang sukses umumnya memiliki kompetensi spesifik yang menjadi nilai tambah mereka. Lihat saja Mark Zuckerberg (26 tahun), kemahirannya dalam membangun jejaring sosial Facebook kini menadikannya sebagai milyarder termuda di dunia. Pun terpaksa drop out dari Harvard, Zuckerberg telah jelas – jelas memiliki kompetensi yang punya nilai jual tinggi.

Antara Hardskill dan Softskill
Beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran penting dalam hal kualifikasi, kompetensi, dan persyaratan untuk memasuki dunia kerja. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan pengangguran terdidik –baik pengangguran terbuka maupun terselubung— karena perkembangan IPTEK dan pendidikan tinggi serta perubahan struktur sosio-ekonomi dan politik global. Saat ini, kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja lebih ditekankan pada kualitas softskills yang baik dibandingkan dengan kemampuan ilmu pengetahuan spesifik yang tinggi. Dalam riset Depdiknas (2007) terungkap bahwa faktor yang memberikan keberhasilan dalam dunia kerja adalah soft-skills (40%), networking (30%), hard-skills (20%), dan financial (10%). Pentingnya soft skill dalam dunia kerja ini juga diungkapkan dalam berbagai penelitan, dalam dan luar negeri.

Teichler (1999) mengungkapkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan sehingga softskill lebih diminati dunia kerja. Menurutnya, pengetahuan spesifik cenderung cepat menjadi usang, sedangkan softskill dapat digunakan untuk mengatasi masalah dalam konteks profesional dan mengatasi ketidakpastian (uncertainty) yang merupakan kunci untuk bertahan di dunia kerja. Selain itu, persyaratan dunia kerja dewasa ini tampak semakin universal dan menunjukkan harmoni antara ekonomi neoliberal yang global dan peningkatan tanggung jawab sosial serta solidaritas secara bersamaan. Belum lagi adanya pergeseran anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi sekedar mempersiapkan seseorang untuk bekerja, namun lebih kepada mempersiapkan seseorang untuk hidup lebih baik. Dan kesemuanya itu lebih membutuhkan softskill daripada sekedar hardskill.

Hal senada juga diungkapkan Kasubdit Pengembangan Karir Mahasiswa DPKHA IPB, Iin Sholihin. Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB ini menyampaikan bahwa secara garis besar dunia kerja terbagi menjadi dua, dunia kerja yang butuh kepakaran tertentu dan dunia kerja yang bersifat multidisiplin. Menurutnya, lulusan PTN di Indonesia secara hardskill tidak terlalu bermasalah, namun masih ada kelemahan dari sisi softskill. Softskill yang dimaksud diantaranya kemampuan komunikasi, adapasi dan penampilan yang masih perlu ditingkatkan, tambahnya. Bapak kelahiran Kuningan ini juga mengungkapkan kecenderungan lulusan PTN untuk berwirausaha semakin meningkat setiap tahunnya. Kampus dan dunia kerja pun menyambut baik. Meskipun demikian, usaha-usaha yang dirintis oleh mahasiswa memang kadang kala tidak selalu sukses. Menurut pria kelahiran 10 Desember 1970 ini, hal ini dilatarbelakangi oleh fokus mahasiswa yang belum sepenuhnya tercurah pada usaha, mudahnya mahasiswa meninggalkan usaha ketika mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan dan motif mengikuti program kewirausahaan seringkali sekedar untuk mengambil dana saja.

Meningkatkan Kompetensi
Ada berbagai cara untuk meningkatkan kompetensi diri, tidak hanya dilakukan secara personal, tidak sedikit lembaga yang mencoba memfasilitasinya. Career Development Center Universitas Indonesia (CDC – UI), misalnya. Selain mengadakan program rekrutment dan UI Career Expo, CDC – UI juga mengadakan program persiapan karir yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri lulusan agar bisa memasuki dunia kerja sebagai tenaga siap pakai. Seminar dan pelatihan pengembangan karir diberikan secara rutin oleh praktisi dunia kerja agar lulusan bisa mendapatkan gambaran tentang persiapan kerja yang harus dilakukan.

Dua hal mendasar yang perlu dilakukan untuk dapat terus meningkatkan kompetensi diri adalah fokus dan mau terus belajar. Orang yang berkompeten biasanya memiliki bidang keahlian khusus yang dikuasai hingga hal – hal yang sifatnya detail. Orang yang berkompeten biasanya tidak mau berhenti belajar, aktif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta terus memperbaiki sikap kerjanya. Untuk dapat fokus dibutuhkan tujuan yang jelas berserta tahapan dan timeline pencapaian tujuan serta kesungguhan untuk dapat mencapainya, termasuk membuat pengingatan dan motivasi diri. Untuk termotivasi agar terus belajar perlu disadari bahwa masih banyak potensi yang belum digali, ilmu yang belum diraih, tempat yang belum dikunjungi, keahlian yang belum dimiliki, prestasi yang belum diraih dan orang – orang hebat yang belum diambil inspirasinya.

Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa upaya meningkatkan kompetensi tidak hanya didapat di ruang – ruang kelas, seminar ataupun pelatihan, tetapi bisa dimana saja dan kapan saja. Pihak yang dapat membantu peningkatan kompetensi pun tidak terbatas pada lembaga pengembangan karir & SDM saja. Perkembangan dunia akan melesat ketika setiap orang memiliki kompetensi dan terus mengembangkannya. Dan keseimbangan dunia akan tercipta ketika setiap orang memiliki kompetensi dan mengaplikasikannya dalam kebermanfaatan. Sebelum jatuh dalam impian panjang, baiknya kita refleksi diri, apa kompetensi yang sudah kita miliki dan apa kebermanfaatannya bagi dunia?

Menang Kompetisi dengan Kompetensi

 

“Bila seseorang bekerja sebagai penyapu jalan, semestinya ia tetap menyapu jalan meski Michelangelo sedang mengecat di sana, atau Beethoven sedang menggubah lagu, atau Shakespeare sedang menulis puisi. Ia harus tetap menyapu jalan sebaik mungkin sehingga seluruh penghuni surga dan bumi terpesona berkata, “Hai, ada penyapu jalan yang melakukan pekerjaannya dengan baik.” (Martin Luther King)

* * *

Siapa yang tidak mau memiliki penghasilan mencapai $181.850 (atau sekitar Rp. 1,6 milyar) per bulan? Penghasilan yang beberapa kali lipat lebih besar dari gaji presiden AS atau bahkan sekjen PBB itu adalah gaji tertinggi milik seorang ahli bedah. Pekerjaan sebagai dokter bedah memang menyangkut nyawa, namun ternyata penghasilan seorang ahli IT ataupun video game designer yang sepertinya tidak terlalu beresiko juga terbilang ‘wah’. Kompetensi, itulah kata kuncinya. Pekerjaan dengan penghasilan tertinggi di dunia selalu dimiliki oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan suatu peran atau tugas, mampu mengintegrasikan dan membangun pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai pribadi yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Atau sederhananya biasa disebut kompetensi.

Berbicara tentang kompetensi memang tidak dapat terlepas dari profesionalitas, namun bukan pula berarti melulu bicara tentang tingginya penghasilan. Definisi kompetensi yang dipahami selama ini adalah mencakup penguasaan terhadap 3 jenis kemampuan, yaitu pengetahuan (knowledge, science), keterampilan teknis (skill, technology) dan sikap perilaku (attitude). Kemampuan inilah yang kemudian dihargai tinggi. Permasalahan SDM bangsa ini pun tidak dapat dipisahkan dari kompetensi SDMnya yang masih kurang mampu bersaing. Kalau tidak lemah secara pengetahuan, lemah secara keterampilan atau kurang dari segi perilaku. Padahal tidak sedikit catatan emas sejarah dan prestasi anak bangsa di kancah internasional yang membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan keturunan ataupun potensi bangsa ini.

Adalah sebuah ironi dalam sistem pendidikan ketika kompetensi coba diperoleh dengan cara yang tidak elegan. Kelulusan mungkin bisa dipaksakan, namun kompetensi tidak serta merta menyertainya. Ijazah mungkin dapat diperdagangkan, namun kompetensi tidaklah bisa dibeli. Berbagai titel dan gelar demi gengsi bisa diraih dengan berbagai kecurangan, namun kompetensi di dunia nyata tidaklah bisa dikelabui. Padahal kompetensi akan mendatangkan penghargaan tanpa harus dicari. Padahal kompetensi selayaknya dimaknai dengan integritas pribadi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta melandasinya dengan perilaku terpuji demi kebermanfaatan yang lebih luas.

Fokus pada kompetensi bukan berarti menyempitkan sudut pandang. Analoginya, jika kita menggali lubang di tanah, semakin dalam lubang yang kita gali, akan semakin luas pula tanah bagian atas yang tergali. Semakin dalam kompetensi (spesifik), semakin luas pula wawasan umum (kompetensi dasar) yang dimiliki. Fokus pada kompetensi tidak juga mengajarkan kita untuk egois karena muara kompetensi adalah kemaslahatan bersama. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa suatu urusan yang dipercayakan pada orang yang tidak berkompeten (bukan ahlinya), maka tinggal menunggu kehancurannya. Karenanya perubahan ke arah kebaikan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kompetensi. Dengan kompetensi, kita dapat mengukir lebih banyak prestasi, melakukan lebih banyak kontribusi dan berjuang lebih cerdas untuk membangun negeri. Mari terus kita kembangkan kompetensi diri!!

(tulisan ini dimuat dalam kolom ‘Gugah’, bulletin Etosmorphosa edisi perdana)

Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya, ketika ia lihat ternyata itu bukan biji biasa melainkan batu permata yang begitu berharga. Ya, kontestan terakhir memenangkan sayembara dan memperoleh sesuatu yang begitu berharga yang tidak semua orang mampu memilikinya.

* * *

Semuanya dimulai dari impian. Tidak semua orang berani memiliki impian karena tidak yakin impiannya dapat terwujud, karena tidak percaya dirinya memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan impiannya. Padahal pemikiran besar lah yang dapat mewujudkan karya besar. Impian yang tinggi lah yang akan memotivasi dan terus meningkatkan kemampuan. Dan orang – orang hebat takkan memilih untuk mengubur mimpinya atau cukup puas hanya menjadi penonton. Penonton yang hanya meminta orang lain untuk bergerak, puas mencemooh atas kegagalan dan puas bertepuk tangan atas keberhasilan. Bukankah kesuksesan hanya dapat dimulai oleh orang – orang yang berani?

Dari orang – orang yang berani untuk mencoba meraih impian, ada yang gagal karena ketidaktahuannya tentang bagaimana cara untuk meraih impian, ada yang terhambat geraknya karena keterpaksaan. Biar bagaimanapun ilmu dan keikhlashan menjadi modal penting dalam meraih mimpi. Sekedar mempunyai mimpi tanpa upaya untuk meraihnyapun takkan berbuah keberhasilan. Untuk meraih mimpi, butuh bekal perjuangan yang cukup. Sebagian bekal mungkin dapat dikumpulkan sambil jalan, sebagian lagi harus dipersiapkan dari awal, termasuk kesiapan mental ataupun kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tanpanya, tampaknya harus berulang kali naik – turun untuk menggapai impian, itupun jika jiwa pembelajar dimiliki.

Sebagian lain orang gagal meraih mimpi karena takut ‘jatuh’ dan akhirnya memilih untuk ‘turun’. Ada pula yang gagal meraih mimpi karena tidak tahan terhadap ujian – ujian selama perjalanan. Kesabaran mutlak dibutuhkan untuk meraih mimpi. Ada pula yang gagal karena tidak cukup kuat energi dan keyakinannya untuk meraih mimpi. Tidak cukup tepat strateginya dan tidak cukup keras usahanya. Yang paling menyedihkan adalah orang yang gagal meraih mimpi karena tertipu oleh tujuan – tujuan semu lainnya. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, perjuangannya pun akan sia – sia. Impian besar hanya dapat diraih dengan keteguhan dan keistiqomahan. Istirahat sejenak tetap diperlukan namun tidak boleh sampai melenakan.

Menggapai impian memang tidak mudah, butuh keberanian, ilmu, keikhlashan, kesabaran, kesungguhan dan keikhlashan. Memulai mengejar impian juga sangat berat, tidak kalah berat dari menghadapi berbagai macam gangguan dan ujian selama menjalani medan perjuangan menuju impian. Fisik dan jiwa harus siap menahan luka. Pikiran harus tetap jernih menghadapi berbagai rongrongan. Dan bekerja sama tentunya akan mempermudah menggapai impian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah bermuara segala urusan. Dan impian itu hakikatnya ada untuk diwujudkan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Teruntuk saudara/i ku yang tengah merajut mimpi, tetaplah bermimpi dan berupaya untuk meraihnya…