Tag Archives: penyesalan

Ilmu Kalau-kalau VS Berandai-andai

Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah ini: “Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata ‘seandainya’ itu akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Beberapa hari lalu, penulis mengikuti training awareness ISO 45001:2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Salah satu ilmu baru yang diperoleh adalah ‘ilmu kalau-kalau’ untuk antisipasi bahaya atau risiko terjadinya insiden. Upaya preventif dalam analisis risiko memang memerlukan serangkaian jawaban atas pertanyaan ‘kalau begini’ atau ‘kalau begitu’. Berbagai kemungkinan, yang terburuk sekalipun, dibutuhkan untuk meminimalisir risiko yang bisa saja terjadi di masa mendatang. Mengingat kata ‘kalau’ bersinonim dengan ‘seandainya’, ‘ilmu kalau-kalau’ barangkali ada kesamaan juga dengan ‘ilmu berandai-andai’ yang dilarang. Benarkah demikian?

Dalam hadits di atas, kata ‘seandainya’ yang membuka pintu perbuatan setan adalah yang berorientasi ke belakang. Menengok masa lalu. Ada penyesalan, bahkan mempermasalahkan takdir Allah SWT yang menyertai. Padahal meratapi masa lalu takkan mengubah apapun. Terjebak dalam dua kekeliruan: membenarkan kesalahan atas nama takdir, atau menyalahkan pemberi takdir. Berbeda dengan ‘ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke depan. Memprediksi berbagai risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang. Ada harapan bahwa risiko tersebut tidak perlu terjadi, dan ada optimisme akan dapat melaluinya dengan mudah sebab setiap risiko sudah dipetakan solusi penanganannya. Belum tentu terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Masa depan tidak berubah, hanya saja ketika risiko benar-benar terjadi, ada upaya meminimalisir risiko yang sudah disiapkan, akan berbeda sekali dengan menghadapi risiko tanpa persiapan.

Berandai-andai dengan masa lalu tidak selamanya buruk. Jika penekanannya pada aspek informasi dan refleksi diri sebagai bahan introspeksi dan mengambil ibroh tentu masih dapat dibenarkan. Kalimat pengandaian dengan maksud agar dapat diambil pelajaran ini banyak terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam hal ini, menengok ke belakang diperlukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Menjadi pribadi yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan. Sebagaimana syarat taubat, penyesalan disikapi dengan produktif: berhenti berbuat dosa dan tidak mengulanginya kembali. Jadi dalam ‘berandai-andai’ bukan penyesalannya yang dipermasalahkan, menggugat takdirlah yang dilarang. Atau melihat ke belakang untuk mengoptimalkan kebaikan yang pernah ada dalam sejarah masa lalu. Belajar keshalihan dari orang-orang shalih.

‘Ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke masa depan juga tidak seluruhnya baik. Selain risk assessment, upaya envisioning untuk merumuskan visi ke depan juga sah-sah saja. Kata ‘kalau’ atau ‘seandainya’ merupakan kata penghubung untuk menandai syarat. Syaratnya bisa merupakan hal yang positif (misalnya andai saya jadi pimpinan), netral (misalnya kalau saya sudah berusia 30 tahun), atau negatif (misalnya seandainya saya jatuh miskin). Envisioning biasanya mengambil syarat positif sebagai inspirasi impian di masa mendatang. Sementara analisis risiko mengambil syarat negatif untuk ‘jaga-jaga’. Setelah syarat terpenuhi, apa yang akan dilakukan lah yang menjadi penting untuk diperhatikan. Pun berorientasi ke masa depan, menjadi bermasalah ketika ‘ilmu kalau-kalau’ digunakan untuk merencanakan perbuatan yang tidak baik di masa mendatang. Misalnya, kalau jadi pejabat saya akan korupsi. Godaan untuk korupsi mungkin merupakan risiko yang perlu diwaspadai bagi para pejabat. Namun tidak perlu berandai-andai menjadi koruptor, ataupun menganalisis penyelamatan seperti apa jika ternyata harus jadi koruptor. Perlu diingat bahwa ada dimensi do’a dalam setiap harapan dan angan. Karenanya, merencanakan perbuatan buruk bukanlah implementasi ‘ilmu kalau-kalau’ yang dibenarkan.

Selain itu, ada juga ‘ilmu kalau-kalau’ dan berandai-andai yang tidak perlu dilakukan. Terutama untuk hal-hal yang tidak realistis atau pada hal-hal yang hanya mendatangkan kecemasan yang berlebihan atau pada hal-hal yang diluar kendali untuk menanganinya. Tidak perlu membuang energi untuk menandai syarat yang mustahil terjadi. Kalau saya mempunyai kekuatan super, misalnya. Selain itu, penerapan  ‘Ilmu kalau-kalau’ adalah untuk menghadirkan ketenangan karena sudah mengantisipasi segala risiko yang mungkin muncul. Bukan untuk membuat fobia dan memandang masa depan dengan penuh kekhawatiran. Karenanya jangan menggunakan ‘ilmu kalau-kalau’ secara berlebihan. ‘Ilmu kalau-kalau’ dapat digunakan untuk syarat yang di luar kendali, namun tidak untuk tindakan penanganan yang di luar kendali. Hal tersebut masuknya ke bab do’a dan tawakal.

‘Ilmu kalau-kalau’ mengajarkan kita untuk merekayasa masa depan dengan memperhatikan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Jika dikembangkan, ilmu ini bisa memotivasi dan menginspirasi akan masa depan yang lebih baik. Berandai-andai mengajarkan kita untuk berkubang dalam masa lalu yang kelam. Jika berlebihan, akan cenderung melenakan diri, menyalahkan orang lain, bahkan kecewa terhadap Tuhan. Kita dapat belajar dari masa lalu tanpa harus berlebihan meratapi ketidakoptimalan di masa lalu. Dan kita juga bisa merencanakan masa depan tanpa lupa untuk berbuat yang terbaik di hari ini. Menyoal takdir yang telah terjadi, artinya berbicara tentang mengambil ibroh. Menyongsong takdir yang belum terjadi, berarti menguatkan perbekalan dan amal nyata di hari ini. Dan mereka yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esoknya lebih baik dari hari ini.

Dear Past, thanks for all the lessons. Dear Future, I’m ready…

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

Jangan Lewatkan Kesempatan

“Kulihat bunga di taman, indah berseri menawan. Cantik anggun nan jelita, melambai – lambai mempesona…. Ada bertangkai mawar kaya akan wewangian, khasanah yang memerah, kuning, ungu dan merah jambu. Ada si lembut melati pantulkan putih nan suci, tebarkan harumnya yang khas tegar baja di medan ganas. Si kokoh anggrek berbaris serumpun, menanti siraman kasih sejuk air jernih. Senyum lembut dahlia palingkan gundah lara…”
(‘Bimbang’, Suara Persaudaraan)

Suatu hari, seorang guru dan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon di tengah padang rumput. Kemudian si pemuda bertanya, “Guru, saya ingin bertanya bagaimana cara menemukan pasangan hidup? Bisakah Guru membantu saya?”. Sang Guru diam sesaat kemudian menjawab, “Itu pertanyaan yang gampang – gampang susah”. Pemuda itu dibuat bingung oleh jawaban gurunya. Sang Guru meneruskan, “Begini, coba kamu lihat ke depan, banyak sekali rumput disana. Coba kamu berjalan kesana tapi jangan berjalan mundur, tetap berjalan lurus ke depan. Ketika berjalan, coba kamu temukan sehelai rumput yang paling indah, kemudian berikan kepada saya, tapi ingat, hanya sehelai rumput”

Pemuda itu berjalan menyusuri padang rumput yang luas. Dalam perjalanan itu dia menemukan sehelai rumput yang indah namun tidak diambilnya karena dia berfikir akan menemukan yang lebih indah di depan. Terus begitu sehingga tanpa pemuda itu sadari, ia telah sampai di ujung padang rumput. Akhirnya, dia mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada kemudian kembali ke Gurunya. Sang Guru berkata, “Saya tidak melihat ada yang spesial pada rumput yang ada di tanganmu”. Pemuda itu menjelaskan, “Dalam perjalanan saya menyusuri padang rumput tadi, saya menemukan beberapa helai rumput yang indah, namun saya berfikir saya akan menemukan yang lebih indah dalam perjalanan saya. Tetapi tanpa saya sadari saya telah berada di akhir padang rumput dan kemudian saya mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada di akhir padang rumput itu karena Guru melarang saya untuk kembali.”

Guru menjawab dengan tersenyum, “Itulah yang terjadi di kehidupan nyata. Rumput andaikan orang – orang yang ada di sekitarmu, rumput yang indah bagaikan orang yang menarik perhatianmu dan padang rumput bagaikan waktu. Dalam mencari pasangan hidup, jangan selalu membandingkan dan berharap bahwa ada yang lebih baik. Karena dengan melakukan itu kamu telah membuang – buang waktu dan ingat waktu tidak pernah kembali”

* * *

Hari berganti hari, waktu terus berputar tiada henti. Usia terus bertambah, tak terasa banyak kesempatan yang berlalu sudah. Alangkah beruntung mereka yang dapat mengoptimalkan waktu dan setiap kesempatan yang dimilikinya untuk kebaikan. Waktu dan kesempatan adalah karunia termahal yang Allah berikan kepada hamba-Nya namun kerap dilalaikan. Ketika karunia tersebut telah terlewat, baru seringkali penyesalan mengiringinya, padahal waktu dan kesempatan tidak dapat kembali meskipun ditebus dengan apapun, dengan harga berapapun. Lebih parahnya lagi, kebiasaan menyia-nyiakan waktu dan melewatkan kesempatan dapat menjadi penyakit akut yang sulit diobati. Waktu demi waktu begitu saja berlalu, kesempatan demi kesempatan begitu mudah terlewatkan. Imam Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan dari waktu, bila berlalu waktumu maka berlalulah sebagian dari dirimu. Dan bila sebagian sudah berlalu, maka dekat sekali akan berlalu semuanya.”

Melalaikan waktu dan melewatkan kesempatan memang tidak selalu menimbulkan kerugian yang jelas tampak, namun mereka yang memahami hakikat waktu dan kesempatan pastilah menyadari bahwa tiap jenak waktu yang tersia adalah musibah dan tiap kesempatan yang terlewat adalah kerugian. Syaikh As-Sa’di berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya –padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya— maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan mudharat terhadap dirinya.”

Begitu berharganya waktu dan kesempatan ini, sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah berpesan kepada Ibnu Umar, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan. Kalau engkau berada di waktu pagi jangan menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” Dan kesempatan ini harus dimanfaatkan sesegera mungkin, tanpa harus menundanya. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133)

Salah satu karakter waktu adalah cepat berlalu dan salah satu karakter kesempatan adalah mudah terlewatkan. Karenanya, sikap malas dan suka menunda dalam menyikapi waktu dan kesempatan ini punya dampak lebih jauh lagi, yaitu dapat mengeraskan hati. Sehingga betapapun banyak kesempatan yang ditawarkan, masukan yang disampaikan ataupun bantuan yang diberikan, tidak akan memberikan pengaruh dikarenakan penyikapan negatif yang terpelihara tersebut. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid : 16)

Kesempatan seperti taufik dan hidayah, sumbenya dari Allah dan tidak semua orang mendapatkannya. Ketika kesempatan itu datang, yang perlu dilakukan adalah menyambutnya dalam rangka bersegera dalam kebaikan. Jika kita terus melewatkan kesempatan yang tidak selalu datang, kita akan semakin mudah untuk melewatkan banyak kesempatan lain dan pada akhirnya nanti hanya penyesalan yang ada ketika kesempatan tersebut tak lagi ada. Perlu disadari bahwa kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, ataupun itu terbatas. Lakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan kesempatan yang masih diberikan sehingga menimbulkan efek bola salju kebaikan yang lebih besar. Dan Ibnu Qayyim telah mengatakan, ”Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya”

* * *

“Kesenangan yang datang tak akan selamanya, begitulah selepas susah ada kesenangan. Seperti selepas malam, datangnya siang. Oleh itu, waktu senang jangan lupa daratan. Gunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum segalanya terlepas dari genggaman. Kelak menyesal nanti tak berkesudahan, apa gunanya sesalan hanya menekan jiwa…” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Ps. Kali ini kesempatan yang diberikan jangan lagi dilewatkan begitu saja… ^_^

Kisah Sebatang Lilin

Lilin itu menyala terang
Begitu indah menghiasi malam tak berbintang
Menghangatkan dinginnya jiwa kerontang
Membuat terjaga hati lalai nan bimbang
Menentramkan qalbu ‘tuk semakin tenang

Lilin itu mulai mencair
Kontribusi tiada akhir
Siang malam memenyinar sekitar
Melalui malam tanpa qiyam, tiada sadar
Melewati hari tanpa tilawah, menjadi wajar

Cahaya lilin itu kian meredup
Terus berpendar namun tak hidup
Ibadah harian menguap menjadi asap
Jiwa hampa tanpa makanan pun sesuap
Detik terlewat hanya menyisakan harap

Lilin itu hampir mati
Sesal selalu datang nanti
Waktu berlalu takkan kembali
Tinggal memohon diberi kesempatan lagi
Tuk bersua kembali dengan bulan yang diberkati