Tag Archives: peradaban

Menengok Negara Paradoks Bernama India

Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata “India”? Bollywood? Joget-joget everywhere? Kemajuan teknologi? Anda benar. Atau slumdog? Kemiskinan everywhere? Penerapan sistem kasta yang diskriminatif? Anda tidak salah. India ibarat Dewa Janus dalam mitologi Romawi Kuno yang memiliki dua wajah yang saling berseberangan. Agak mirip dengan Dewa Yama dalam ajaran Hindu. Apapun analoginya, setidaknya paradoks itulah yang kami rasakan dalam perjalanan singkat di India. Dua kondisi yang tampaknya bertolakbelakang namun nyata terjadi di satu tempat, di satu waktu.

Asal nama India berasal dari nama sungai Indus, salah satu pusat peradaban kuno (3000 SM), membuat India kaya sejarah dan budaya. Tradisi masih coba dijaga, pakaian sari masih mudah ditemui dikenakan oleh wanita India. Sayangnya penerapan tradisi kasta sama artinya dengan pelestarian kemiskinan. India yang kaya sejarah justru terkesan sebagai Negara yang kotor dan jorok. Hampir semua tempat dapat menjadi toilet, untuk laki-laki maupun perempuan. Safety riding dan mematuhi peraturan lalu lintas menjadi hal langka di berbagai Negara bagian. Keselamatan dan keamananpun tidak terjamin, dengan sekitar 32 ribu kasus per tahun, India merupakan Negara dengan kasus pembunuhan terbanyak di dunia. Jauh dari kata beradab. Ketika seekor sapi menjadi makhluk yang dihormati, seorang janda dianggap pembawa sial. Di beberapa wilayah bahkan masih menerapkan ritual suttees, dimana istri yang ditinggal suaminya akan membakar dirinya hidup-hidup.

India adalah Negara demokrasi terbesar dengan penduduk mencapai 1.2 miliar, jumlah penduduk yang hanya kalah oleh China yang menerapkan sistem pemerintahan sosialis – komunis. Di satu sisi, demokratisasi di India membawa banyak perbaikan, terutama dari aspek pendidikan, ekonomi dan sosial. Pun demikian, angka kemiskinan, kelaparan dan penduduk buta huruf di India masih sangat tinggi. Demokratisasi juga tidak berbanding lurus dengan terpenuhinya hak-hak perempuan. Angka perkosaan dan pelecehan seksual masih tinggi. Sistem kasta yang diskriminatif dan bertentangan dengan nilai demokrasi juga masih diterapkan di lapangan. Bahkan pembahasan tentang kasta di tengah demokrasi India pun seolah menjadi suatu hal yang tabu. Ya, India bisa dikatakan sebagai paradoks Negara demokrasi (semu) terbesar di dunia.

India memang Negara besar dengan penduduk yang banyak, tersebar dalam 28 negara bagian dan 7 serikat. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di India termasuk Top 10 di dunia, namun PDB per kapitanya merupakan yang terendah di antara Negara berkembang di Asia. Kesenjangan dan nilai kemandirian menjadi paradoks di India. Subsidi pangan yang diberlakukan belum mampu mengatasi tingginya angka kelaparan, padahal India dikenal sebagai Negara penghasil teh dan susu terbesar di dunia. Wajah ‘kota mimpi’ Mumbai sebagai kota industri film terbesar dalam banyak film Bollywood sangat bertolak belakang dengan banyaknya slumdog area di penjuru India. Kesederhanaan memang menjadi salah satu wajah India, tetapi belum cukup menutupi wajah kemiskinan.

Lebih dari satu juta penduduk India adalah biliuner, bahkan aset bersih 25 orang terkaya mencapai 174.8 miliar dollar. Lalu mengapa kemiskinan tampak di hampir setiap sudut India? Bagaimana tidak, jika ternyata sekitar setengah miliar penduduk India terkategori miskin dengan pendapatan kurang dari 1 US$ per hari. Harga pangan memang murah namun biaya untuk membangun rumah sangatlah besar, tidak heran tidak sedikit penduduk India yang tinggal di jalanan. Yang mengherankan adalah seorang Mukesh Ambani, orang terkaya di India dengan aset senilai 24.2 miliar dollar, memiliki rumah pribadi senilai 1 miliar dollar!

India merupakan salah satu negara penghasil doktor terbesar, buah manis dari fokus ke pendidikan tinggi, pun di sisi lain angka putus sekolah tergolong tinggi. Lulusan kampus India memang diakui di dunia internasional, namun Indeks Pembangunan Manusianya bahkan lebih rendah dari Indonesia. Koran dan buku murah serta mudah didapat, perpustakaan pun relatif ramai. Ironisnya, India termasuk negara dengan jumlah penduduk buta huruf terbesar. Biaya kuliah terbilang murah, apalagi untuk mahasiswa pribumi, ditambah lagi adanya beasiswa untuk mahasiswa dari kasta rendah. Pun kuota untuk kasta rendah sudah disediakan, bahkan dalam dunia politik, realitanya peluang untuk ‘naik kasta’ tidak semudah itu. Profesor dan doktor, apalagi pimpinan perguruan tinggi masih didominasi kasta atas, betapapun kasta sudra dan dalit (non-kasta) berupaya keras.

Kemajuan teknologi di India juga sudah diakui di kancah internasional. Indian Institutes of Technology (IIT) termasuk kampus teknologi ternama di dunia dengan lulusan yang berkualitas. Bangalore (yang sekarang bernama Bengaluru) merupakan kota IT yang terkenal sebagai Silicon Valley of India. Ada juga kota Hyderabad yang dijuluki Cyberabad, semakin menunjukkan identiknya India dengan teknologi. Namun sisi lain India justru menunjukkan wajah gagap teknologi. Laptop yang dibawa mahasiswa asal Indonesia disana kerap dianggap barang mewah di beberapa kampus. Powerbank yang saya bawa tidak dikenali bahkan dicurigai oleh petugas keamanan. Sisi lain inilah yang menempatkan India sebagai Negara dengan birokrasi dan administrasi terburuk di Asia. Terdapat lebih dari 150 ribu kantor pos, tetapi pengiriman surat biasa terlambat berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Entah dikemanakan teknologi canggih itu.

Di dunia kesehatan, India memiliki dokter-dokter terbaik dan rumah sakit terbaik, namun rasio dokter : pasien di India mencapai 1 : 2000. Mayoritas penduduknya tidak menerapkan pola hidup bersih dan sehat, angka kematian dan tingkat aborsi di India juga tinggi. WHO mencatat ada sekitar 900 ribu jiwa yang meninggal per tahun di India dikarenakan air minum terkontaminasi. Kota Delhi yang tampak lebih beradab saja dicatat WHO sebagai ibukota dengan udara paling tercemar (tingkat partikulat 2.5 μm).

Menengok negara paradoks bernama India sejatinya melongok ke dalam negara kita sendiri, Indonesia. Ada potret yang sama terkait kesenjangan dan diskriminasi. Ada teguran yang serupa tentang kemiskinan dan keberadaban. Dan tidak semua paradoks berkonotasi negatif, sebagaimana yin dan yang ada untuk saling melengkapi. Ada pembelajaran tentang kesederhanaan dan kemandirian yang bisa didapat dari India. Ada pula pembelajaran tentang inovasi dan kefokusan yang menjadi catatan menarik dari India. Namun di sisi lain, hikmah tentang rasa syukur dan kepedulian menjadi hal lain yang tidak kalah bermakna.

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” (Mahatma Ghandi)

Memilih Tempat Tinggal untuk Membangun Peradaban

Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.
(HR. Ibnu Hibban)

Kebahagiaan sejati memang adanya di hati, namun ada beberapa indikator yang dapat mengakselerasi hadirnya kebahagiaan. Empat diantaranya disebut dalam hadits di atas. Di tulisan sebelumnya, penulis sudah kerap menyampaikan tentang seni mencari dan memilih istri. Tulisan ini hadir untuk membahas indikator kebahagiaan yang lainnya, yaitu bagaimana memilih tempat tinggal untuk membangun keluarga dan rumah tangga bahagia. Dan sesuai dengan hadits di atas, ada empat indikator kebahagiaan, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal.

Pertama, istri yang shalihah mencerminkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang diisi oleh pribadi-pribadi yang baik. Rumah yang berisi entitas-entitas yang baik. Porsi besar tanggung jawab untuk membangun dan membina pribadi-pribadi yang ada di dalam keluarga memang ada di pundak suami selaku kepala keluarga. Namun porsi besar untuk mengelola entitas-entitas tersebut ada pada istri selaku manajer rumah tangga. “…Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya, sedangkan perempuan adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Disinilah dibutuhkan sinergi suami istri untuk menciptakan tempat tinggal yang baik. Jadi, syarat pertama untuk memperoleh tempat tinggal yang baik adalah menghadirkan kepala keluarga dan manajer rumah tangga yang baik sehingga aktivitas di dalamnya penuh dengan kebaikan.

Kedua, tempat tinggal yang luas menunjukkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang membuat nyaman, baik secara materi maupun non-materi. Dalam memilih tempat tinggal, kenyamanan materi tentu perlu menjadi pertimbangan. Tidak perlu memaksakan jika harganya tidak terjangkau, harga yang membebani hanya akan menambah utang dan berpotensi mengacaukan pengelolaan keuangan rumah tangga. Memang materi bukan faktor penentu keharmonisan rumah tangga, namun nyatanya banyak rumah tangga berantakan karena faktor materi semata. Dan kenyamanan yang sangat penting untuk diperhatikan adalah kenyamanan non-materi. Pilihan tempat tinggal merupakan salah satu tahap yang menentukan pilihan masa depan sehingga kesepakatan penentuan tempat tinggal sebaiknya melibatkan suami istri, bukan salah satu pihak saja. Mufakat tersebut akan menjadi awal kenyamanan. Faktor keselamatan dan keamanan juga perlu menjadi perhatian. Rumah semegah apapun tidaklah akan menghadirkan kenyamanan jika berada di kawasan rawan kejahatan. Faktor-faktor lain yang menentukan kenyamanan seringkali subjektif, mulai dari keasrian lingkungan, hingga penggunaan sistem syari’ah dalam hal pembiayaan, namun faktor-faktor ini tetap penting untuk diperhatikan. Keluarga dan rumah tangga yang penuh kasih sayang dan bertabur Rahmat Allah SWT (mawaddah wa rahmah), hanya dapat diwujudkan ketika ada ketenangan dan kenyamanan (sakinah). Karenanya kenyamanan menjadi salah satu indikator penting tempat tinggal yang baik.

Ketiga, tetangga yang shalih menggambarkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang memiliki lingkungan yang baik. Lingkungan masyarakat yang religius, akrab dan saling tolong menolong. Bagaimanapun kedekatan kita dengan keluarga sedarah kita, orang-orang yang pertama kali akan menolong kita jika kita tertimpa musibah, bahkan menyolatkan dan mengurusi jenazah kita ketika kita mati adalah tetangga kita. Tidak heran dalam banyak riwayat Rasulullah SAW begitu memperhatikan adab bertetangga dan memuliakan hak tetangga, diantaranya Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris” (HR. Bukhari-Muslim). Lingkungan yang baik juga dicirikan dengan kemudahan untuk beribadah, saling berinteraksi, saling memberi, saling menasehati dan saling bantu. Lingkungan yang baik juga akan mendorong kita untuk terus mengembangkan diri dan lebih produktif.

Keempat, tunggangan yang nyaman menyiratkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang menunjang mobilitas untuk beraktivitas dan kemudahan akses terhadap berbagai fasilitas. Dalam kehidupan, ada berbagai fase yang berpotensi mempengaruhi kualitas dan produktivitas kita misalnya lulus kuliah, mulai bekerja, menikah ataupun memiliki anak. Menempati tempat tinggal yang baru juga merupakan fase hidup yang berpotensi mempengaruhi aktivitas. Tempat tinggal yang baik akan mendorong kita untuk semakin produktif dalam bekerja, berkarya, berkontribusi dan menjalankan segudang amanah kita. Berbagai fasilitas yang tersedia tentunya juga perlu menjadi perhatian. Keberadaan fasilitas seperti sarana transportasi, instansi pemerintahan, layanan pendidikan dan kesehatan, hingga fasilitas olah raga dan hiburan tentunya akan menunjang mobilitas dan produktivitas kita. Jadi, kita perlu memastikan bahwa tempat tinggal yang kita pilih tidak justu menghambat aktivitas kita dan menurunkan produktivitas kita.

Tempat Tinggal untuk Peradaban
Salah satu penyebab mandegnya pembangunan peradaban adalah ketika kebutuhan pokok atas sandang, pangan dan papan masih sulit untuk didapatkan. Ironis, mereka yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sandangnya banyak yang justru mengumbar aurat, sementara di sisi lain harga sandang yang memenuhi kaidah syari’at, misalnya jilbab, tidaklah murah. Atau perhatikan bagaimana orang-orang membuang-buang makanan sementara di belahan bumi yang lain tidak sedikit orang yang sakit atau bahkan mati karena kelaparan. Belum lagi jika kita mempersoalkan sulitnya menemukan pangan yang sehat di dunia yang penuh penyakit dan kecurangan ini. Dalam hal papan, pembangunan rumah susun dan rumah subsidi seringkali masih belum tepat sasaran. Banyak keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal karena rumah layak bagi mereka hanya sebatas impian. Padahal ketercukupan kebutuhan pokok merupakan syarat sekaligus tolok ukur kemajuan peradaban.

Dan jika kita memfokuskan pada ketersediaan papan untuk membangun peradaban, kita akan menemukan bahwa pemilihan tempat tinggal akan menentukan maju mundurnya peradaban. Pemilihan kota Mekkah dan Madinah sebagai pusat penyebaran peradaban Islam bukan tanpa alasan, ada berbagai pertimbangan strategis di dalamnya. Ketika dikaji lebih dalam, pemilihan rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai madrasah awal, pembangunan pasar dan masjid di Madinah juga menggambarkan betapa pertimbangan lokasi untuk beraktivitas menjadi penting dalam membangun peradaban. Di setiap peradaban yang tercatat dalam sejarah, selalu ada kota dan tempat tinggal yang menjadi pusat peradaban, tidak terkecuali peradaban di Mesir, Yunani ataupun Mesopotamia. Banyak tokoh pengukir sejarah berhasil membangun lingkungan tempat tinggalnya untuk membangun peradaban yang lebih maju. Ya, individu-individu hebat akan membangun diri dan lingkungannya dulu sebelum membangun peradaban.

Memilih tempat tinggal yang baik sepertinya merupakan perkara kecil bila dibandingkan dengan membangun peradaban. Namun ketika setiap orang memperhatikan tempat tinggal dan tetangganya serta membangun lingkungannya, niscaya akan tercipta kebahagiaan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dan terbentuknya peradaban yang lebih maju tinggal menunggu waktunya. Dan tugas berat membangun peradaban dari tempat tinggal memang bukan perkara yang mudah diwujudkan. Butuh sekelompok orang yang menjadi motor perubahan, butuh sekelompok keluarga yang dapat menjadi teladan dan butuh sekelompok masyarakat yang rela berjuang dan berkorban. Tidak hanya itu, peran berbagai pihak yang mengembangkan lingkungan tempat tinggal yang baik dan terjangkau masyarakat juga diperlukan. Peran pemerintah dalam memperhatikan tata kota dan ketersediaan tempat tinggal juga dibutuhkan. Dan yang menjadi keniscayaan, ketika lingkungan tempat tinggal siap untuk berubah, perbaikan dan kemajuan akan menjadi realita. Sebaliknya, ketika lingkungan tempat tinggal rusak, kehancuran peradaban tinggal menunggu waktunya saja.

Andai kota itu peradaban, rumah-rumah di dalamnya haruslah menjadi binaan budaya, dan tiang seri setiap rumah yang didirikan itu hendaklah agama, dan agama yang dimaksudkan tentulah agama yang berpaksikan tauhid
(Faisal Tehrani dalam ‘Tuhan Manusia’)