Tag Archives: pernikahan

Berkolaborasi dalam Kompetisi, Berkompetisi untuk Kolaborasi

Alkisah di sebuah desa, ada seorang petani yang menanam jagung kualitas terbaik. Panennya selalu berhasil dan ia kerap memperoleh penghargaan sebagai petani dengan jagung terbaik sepanjang musim. Seorang wartawan lokal tertarik untuk mewawancara petani tersebut. Ia datang ke rumah petani kemudian disambut dengan ramah dan dijamu dengan baik. Dalam suasana wawancara yang hangat, ia menanyakan rahasia kesuksesan petani tersebut.

“Mudah saja, saya selalu membagi-bagikan benih terbaik yang saya miliki kepada para tetanggga”, jawab si petani. “Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya? Bukannya itu justru akan membuat Anda rugi dan kalah bersaing?”, tanya wartawan itu penuh keheranan. Sejenak petani itu terdiam kemudian menjelaskan, “Kami para petani ini telah diajarkan oleh alam. Angin yang berhembus menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jadi, jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula”.

* * *

Pilih mana kompetisi atau kolaborasi? Tidak sedikit orang yang mendikotomikan antara keduanya. Kompetisi yang bersinonim dengan persaingan kemudian diidentikkan dengan saling menjatuhkan, tingkat stres tinggi, hingga menghalalkan segala cara. Sementara kolaborasi yang bermakna kerja sama dipahami sebagai aktivitas saling membangun dan saling menguntungkan. Ibarat baik dan buruk, tentu tidak sulit menentukan pilihan. Bahkan ada yang ‘mengharamkan’ kompetisi, terutama di dunia pendidikan, karena hanya mengedepankan ego yang berbuah kerusakan, sementara setiap individu punya keunikan yang tidak bisa dan tidak seharusnya dikompetisikan.

Pembunuhan pertama oleh manusia juga didorong oleh menang – kalah dalam kompetisi. Namun bukan kompetisinya yang salah, melainkan bagaimana menyikapi kompetisi tesebut. Habil mempersembahkan kurban ternak terbaik sementara Qabil memberikan kurban hasil tani terburuk. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata orientasi, cara berkompetisi dan bagaimana menyikapi hasil kompetisilah yang menentukan dampak dari kompetisi. Sementara kompetisi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kompetisi sudah dimulai sejak pembuahan sel telur oleh satu dari jutaan sperma, hingga perjalanan hidup yang hakikatnya adalah kompetisi dengan waktu. Karenanya tidak heran jika Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berkompetisi menuju Ridha dan Jannah-Nya.

Kompetisi akan mendorong kreativitas dan inovasi, bersungguh-sunguh untuk terus menjadi lebih baik. Hidup tanpa kompetisi adalah stagnasi di zona nyaman. Meniadakan keindahan akan dinamika hidup. Coba saja bayangkan tiada kompetisi dalam memasuki jenjang pendidikan baru, atau dalam rekrutmen karyawan, atau bahkan dalam memilih pasangan. Meniadakan kompetisi sama saja mengingkari hakikat hidup manusia. Dan jika tidak didikotomikan, kompetisi sesungguhnya membuka ruang besar untuk tercipta kolaborasi. Ya, berkolaborasi dalam kompetisi.

Dunia semakin kompetitif dan kian menyempitkan makna kompetisi. Hanya ada satu juara, yang kalah akan tergilas zaman. Paradigma kompetisi untuk ‘saling membunuh’ mendorong manusia untuk melakukan apa saja untuk dapat bertahan hidup. Ketika manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sendirian, kolaborasi menjadi opsi strategis untuk dapat terus eksis. Sayangnya, kolaborasi yang dihasilkan dari paradigma seperti ini sifatnya transaksional. Ada selama masih ada kepentingan. Untuk berkolaborasi dengan benar, perlu paradigma kompetisi yang benar. Bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk terus berkembang. Bukan untuk memperoleh pengakuan, tetapi untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas. Mengubah mindset dari win-lose menjadi win-win.

Kolaborasi adalah berbagi peran dan potensi untuk mencapai tujuan bersama tanpa harus mengeliminasi jati diri. Perbedaan adalah hal yang perlu ada dalam sebuah kolaborasi, hal itulah yang membedakannya dengan sebatas koordinasi. Kolaborasi akan memperbesar peluang pengembangan dan keberhasilan. Kemenangan milik bersama. Kolaborasi adalah berbagi untuk bisa saling melengkapi. Berbagi dan memberi, itulah makna strategis kolaborasi yang tidak dimiliki oleh kompetisi.Kolaborasi akan meredam syahwat kompetisi yang takkan pernah terpuaskan, menyeimbangkan sisi manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya sebagai makhluk individu. Realitanya, kolaborasi mungkin tidak bisa membahagiakan dan menguntungkan semua orang, namun setidaknya tidak perlu hasil akhir yang mencelakakan atau menghancurkan pihak lain.

Hidup penuh dengan kompetisi sehingga terlibat dalam kompetisi seringkali bukan pilihan. Namun membangun paradigma kompetisi yang sehat adalah pilihan. Menggunakan cara-cara yang baik dalam berkompetisi adalah pilihan. Menyikapi kemenangan dan kekalahan dengan benar adalah pilihan yang mendewasakan. Mempersiapkan diri untuk bijak dalam menghadapi kompetisi dan hasilnya lebih realistis dibandingkan menghindari kompetisi dan berharap semua akan jadi pemenang. Namun jika kompetisi adalah keniscayaan, kolaborasi adalah pilihan. Pilihan para pemenang sejati. Betapa banyak orang yang menginjak-injak orang lain untuk mencapai puncak, dibandingkan mereka yang bergandengan tangan bersama mencapai puncak. Hampir semua manusia tengah berkompetisi, namun sedikit di antaranya yang berkolaborasi. Padahal kebermanfaatan adalah ukuran keberhasilan. Mari berlomba berkolaborasi dalam kebaikan. Berkompetisi untuk kolaborasi.

Competition make us faster, collaboration make us better

Romantika Bulan Syawal

…Mengapa ujan gerimis aje, pergi berlayar ke Tanjung Cina. Mengapa Adek menangis aje, kalo emang jodoh nggak kemana, hey, hey! Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje, bulan Syawal mau dikawinin…” (‘Hujan Gerimis’, Benyamin S. & Ida Royani)

Romantika itu bernama ikatan hati. Kembali memasuki bulan Syawal, ada yang tidak berubah selama sewindu terakhir: maraknya undangan pernikahan. Terinspirasi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., bulan Syawal kemudian identik dengan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.  “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad). Selain dengan Aisyah r.a., Rasulullah SAW juga menikahi Ummu Salamah r.a. pada bulan Syawal.

Bulan Syawal konon artinya adalah peningkatan, namun referensi lain mengungkapkan bahwa penamaan Syawal berasal dari istilah “Syalat an-naqah bi dzanabiha” yang berarti onta betina menaikkan ekornya. Bulan Syawal adalah masa dimana onta betina mengangkat ekornya ketika didekati pejantan sebagai tanda tidak mau dikawini. Keadaan ini memunculkan keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa ada kesialan yang menyertai Bulan Syawal. Ditambah lagi adanya musibah yang pernah terjadi di Bulan Syawal semakin menguatkan keyakinan tersebut. Karenanya, di masa jahiliyah ada pantangan untuk menikah di Bulan Syawal, hingga Islam datang dan membantah anggapan sial tersebut.

Romantika itu bernama semangat juang. Dalam Kitab “Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin”, Ibnul ‘Allan Asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang”. Jika perang Badar terjadi di Bulan Ramadhan, sejarah mencatat bahwa banyak perang besar yang dijalani Rasulullah SAW terjadi di Bulan Syawal, termasuk Perang Hunain, Perang Uhud, hingga Perang Ahzab atau Khandaq.

Semangat perjuangan yang menyala selama Ramadhan tidak boleh meredup di Bulan Syawal. Salah satu amalan yang disunnahkan untuk dilakukan di Bulan Syawal adalah puasa. Mengapa harus puasa padahal baru saja diwajibkan berpuasa sebulan penuh? Karena predikat takwa harus dilalui dengan perjuangan dan proses yang panjang. Kebaikan yang terus terjaga, bukan sekadar ikut-ikutan menjadi baik di bulan baik. Tidak heran, Bulan Syawal kemudian dikaitkan dengan peningkatan paska menjalani madrasah Ramadhan. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Romantika itu bernama kerinduan. Baru sejenak Ramadhan pergi, sudah banyak kondisi yang berubah. Serta merta timbul kerinduan akan riuhnya suasana sahur di dini hari dan ramainya shalat berjama’ah di masjid khususnya di awal Ramadhan yang kini (kembali) tergantikan sunyi. Hadir rasa rindu akan ramainya suara tilawah Al Qur’an selepas shalat zhuhur berjama’ah yang sekarang tergantikan (lagi) dengan kesibukan mencari makan siang. Kangen dengan kebahagiaan saat berbuka. Kangen juga dengan tontonan yang ‘agak’ lebih berkualitas ataupun orang dan suasana yang mendadak lebih Islami. Bahkan canda-canda ringan seperti ‘orang puasa gak boleh marah’ atau ‘jangan bohong nanti puasanya batal’ juga membuat rindu.

Seorang salafush shalih pernah menjual budak wanitanya kepada seseorang. Ketika Ramadhan tiba, tuan barunya menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan untuk persiapan selama Ramadhan. Budak wanita itu heran dengan apa yang dilakukan oleh tuan barunya karena hal tersebut tidak pernah ia temui ketika masih mengabdi kepada tuannya yang lama. “Maaf tuan, kelihatannya anda sibuk sekali, sepertinya akan datang masa paceklik yang panjang?” tanyanya. “Kami sedang mempersiapkan menyambut Bulan Ramadhan” jawab tuannya. Budak itu berkata, “Memangnya kalian tidak berpuasa selain bulan ini? Demi Allah, aku dulu hidup bersama orang yang sepanjang masanya adalah Ramadhan, kembalikan saya kepada tuanku itu”.

Romantika itu tetap produktif dalam kesedihan. Yang sudah berlalu takkan kembali, namun masih bisa disongsong kehadirannya di masa depan. Penyesalan mendalam bukanlah merutuki nasib, tetapi memastikan hari-hari selanjutnya akan lebih baik. Romantika itu terus memupuk kerinduan dengan kontinyuitas amal shalih. Menghadirkan suasana yang dirindukan dalam keseharian hingga takdir yang akan mempertemukan kembali atau tidak lagi sempat bersua namun penuh dengan persiapan. Mumpung Ramadahan belum lama berselang, mari terus sibukkan diri dengan romantika produktif.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan –seperti gunung yang Nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” (‘Perpisahan’, Kahlil Gibran)

“Adalah Engkau”, Seismic

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh kalbu
Di perjalananku, di perjalananku

Tibalah waktu yang telah kurindu
Tuk selalu bersama denganmu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
Dinda marilah melangkah

Dinda temanilah aku di setiap detikku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
Tetaplah di sini di dalam hatiku

Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk selalu hadir di hidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
acuan hidup ini

Ikan Bawal Diasinin

“… Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin, eh jangan menangis aje, bulan Syawal mau dikawinin…” Hmm, senandung lagu ‘Hujan Gerimis’nya (alm.) Benyamin S tersebut mendadak terngiang lagi beberapa hari terakhir ini. Bagaimana tidak, selama bulan Syawal 1430 H ini setidaknya ada 20 undangan pernikahan yang kuterima –baik langsung, via SMS, FB ataupun milis. Jika dalam satu bulan terdapat empat pekan dan pernikahan umumnya dilangsungkan di akhir pekan, artinya setiap akhir pekan selama bulan Syawal rata-rata ada dua undangan pernikahan yang kuterima. Sayangnya, persebarannya tidak merata. Dan aktivitas akhir pekan saya tentunya bukan cuma datang kondangan.

Menarik sekali fenomena ‘cuci gudang’ di bulan Syawal. Dalam sebuah hadits hasan shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menikahi dan ‘memasuki’ Aisyah r.a di bulan Syawal. Sa’udah dan Ummu Salamah –radhiallahu anhuma– juga beliau nikahi pada bulan Syawal. Pun memang kebaikan menikah tidak harus di bulan Syawal. Beberapa isteri beliau dinikahi di bulan Dzulqo’idah, ada juga yang dinikahi di bulan Sya’ban. Syawal adalah bulan peningkatan. Syawal juga sarat dengan nilai silaturahim. Tidak salah Syawal dianggap momen yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Pun tidak pula berkurang nilainya jika dilakukan di bulan lain. Hmm, saya juga jadi tertarik dengan ’ikan bAWAL diasinin’ nih, tapi kayaknya ga harus nunggu bulan SyAWAL sih, bisa aja Rabiul AWAL atau Jumadil AWAL… hehehe.. ^_^

Nah, terkhusus untuk teman-temanku yang akan menyambut hari pernikahan mereka yang berbahagia, saya ucapkan
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ
“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.”

Selamat menempuh hidup baru yang memiliki berbagai kelebihan dan keutamaan. Kelebihan tanggung jawab yang disertai kelebihan ganjaran, kelebihan limpahan berkah dan rizki. Semoga terbina keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, keluarga yang bahagia dan juga bermanfaat bagi lingkungannya. Mohon maaf jika mungkin tidak dapat memenuhi hak persaudaraan untuk memenuhi semua undangan karena berbagai keterbatasan. Semoga Allah memudahkan segala urusan sebelum, selama dan setelah pernikahan berlangsung…

Special for :
# Wiwi – Jajat, 27 Sept/ 8 Syawal @ Depok
# Anggita – Fajar, 3 Okt/ 14 Syawal @ Jaksel
# Ikhsan – Pipi, 3 Okt/ 14 Syawal @ Jaksel
# Indri – Gerry, 3 Okt/ 14 Syawal @ Bandung
# Kiki – Yus, 3 Okt/ 14 Syawal @ Jaksel
# Syami – Dahlia, 3 Okt/ 14 Syawal @ Jaktim
# Nta – Adek, 3 Okt/ 14 Syawal @ Depok
# Lia – Andri, 4 Okt/ 15 Syawal @ Cibinong
# Dimas – Imairi, 5 Okt/ 16 Syawal @ Bukittinggi
# Budi – Mitra, 10 Okt/ 21 Syawal @ Condet
# Nasri – Syifa, 10 Okt/ 21 Syawal @ UI Depok
# Andree – Irma, 11 Okt/ 22 Syawal @ Depok
# Etika – Eko, 11 Okt/ 22 Syawal @ Depok
# Manda – Taufan, 11 Okt/ 22 Syawal @ Jaksel
# Umar – Vidya, 17 Okt/ 28 Syawal @ Jaksel
# Kikau – Arfan, 17 Okt/ 28 Syawal @ Pondok Gede
# Pandu – Silmia, 17 Okt/ 28 Syawal @ Bekasi
# Mas Agus – Kiki, 17 Okt/ 28 Syawal @ Palembang
# Romi – Gigif, 18 Okt/ 29 Syawal @ Jakbar
# anaknya Mang Ujang (lupa namanya), 18 Okt/ 29 Syawal @ Sumedang

“Jika seseorang telah menikah, dia telah melengkapi separuh agamanya. Hendaklah dia bertaqwa kepada Allah dalam separuhnya lagi” (HR. Baihaqi dan Hakim)

Ghozwul Fikri itu Bernama Menikah

“…Berbahagialah manusia yang tlah menemukan fitrahnya, untuk membentuk keluarga yang sakinah. Menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba, jangan carikan alasan untuk menunda… Menikah, mengurangi dosa dan maksiat. Menikah, menyatukan bahagia dan nikmat. Rezeki manusia Allah mengaturnya, jangan takut bila kau niat untuk menikah…” (“Ayo Menikah”, Ar Royyan)

Beberapa saat yang lalu aku dikejutkan dengan pertanyaan salah seorang ‘adik’ku tentang pernikahan dini. Ia hendak menyegerakan menikah karena khawatir tidak mampu menjaga syahwatnya. Bingung juga menjawabnya, bukan hanya karena yang ditanya juga belum menikah, tapi mendapati dia lulus SMApun belum… hmm… Beda kasus, keesokan harinya tiba-tiba saja ada SMS masuk dari seorang teman minta tolong dicarikan akhwat. Dengan ‘polos’ kutanya ‘buat apa?’ dan dengan simplenya dijawab ‘Ya, buat nikah lah! Kalo bisa anak UI…’ Argh… Kondisi ini memang bukan pertama kalinya, tapi tetap saja ‘bikin males’, apalagi aku bertekad untuk tidak ‘merekomendasikan seseorang’ sebelum aku menikah dan tidak akan meminta rekomendasi dari seseorang yang belum menikah. Kayaknya tidak ada landasan syar’inya sih, tapi begitulah…

Pembicaraan seputar pernikahan belakangan ini semakin menghangat di sekitarku. Banyak yang bilang, mungkin memang sudah masanya. Beberapa bulan yang lalu, aku termasuk orang yang tidak tertarik untuk membahasnya, bahkan terasa menjadi ‘ghazwul fikri’ baru di kalangan ikhwah. Iya, melalaikan. Membuang banyak energi padahal banyak isu keumatan yang lebih penting untuk dibahas. Tapi sekarang, pertanyaan ‘antum kapan?’ begitu sering sehingga sudah jengah kudengar, pembicaraan seriuspun kerap diselingi dengan hal-hal yang menjurus kesana. Hingga beberapa hari lalu ketika seorang teman yang serius menawarkan akhwat dengan bertanya ‘antum siap nggak?’, kuanggap sebagai candaan… ‘Serius, akhwatnya ana yakin lebih baik tingkat ekonominya dari antum, dia siap membiayai semuanya…’, lanjutnya. Allah…

Secara pribadi, aku sebenarnya sudah punya perencanaan hidup sehingga tidak perlu ‘panas’ dan mudah terprovokasi, tidak perlu terburu-buru mencari ‘bidadari’. Semua ada waktunya lah. Tapi belakangan nampaknya kecenderungan untuk ‘mancing’ dan memprovokasi (serta ‘terpancing’) semakin besar seiring dengan masuknya diri ini ke area paska kampus. Satu-persatu teman seangkatan mendahului, bahkan adik kelas. Bebanpun semakin berat ditanggung sendirian. Entah sampai kapan masih dapat bertahan. Belum lama ini bahkan sempat juga tuh tertarik untuk nemenin teman yang lagi ‘ta’aruf’. Belajar ga ada salahnya kan? Tapi yah, kalo mau jujur sih emang menikah tuh nampaknya begitu indah…

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)

“Ada tiga kelompok manusia yang pasti ditolong Allah: pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri, budak yang berusaha memerdekakan diri agar leluasa beribadah dan mujahid di jalan Allah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i)

“Orang yang menikah dengan dilandasi keyakinan dan pengharapan kepada Allah, pasti ditolong dan diberkahi-Nya” (HR. Thabrani)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi).

“Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud)

“Jika seseorang telah menikah, dia telah melengkapi separuh agamanya. Hendaklah dia bertaqwa kepada Allah dalam separuhnya lagi” (HR. Baihaqi dan Hakim)

“Orang yang ingin menjumpai Allah dalam keadaan suci dan tersucikan, hendaklah dia menikah dengan wanita yang terhormat.” (HR. Ibnu Majah)

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady)

“Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya.” (Al Hadits)

“Tidak ada yang menghalangimu menikah kecuali kelemahan atau kekejian” (Umar bin Khattab)

“Dalam kondisi apapun, engkau tetap harus menikah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan berbahagia. Jika engkau mendapatkan istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana. Singkatnya, keduanya menguntungkanmu.” (Socrates)

Tuh, gimana ga terprovokasi? Yah, akhir-akhir ini aku malah merasa seperti konsultan pernikahan bagi mereka yang ‘ngebet’ nikah. Agak bingung juga karena nampaknya perbincangan tentang hal tersebut tidak berujung dan justru menurunkan militansi. Iya sih, memang harus diakui, jangankan diperbincangkan, dipikirkan saja sering menurunkan produktivitas. Tapi ibarat candu, nampaknya tidak mudah untuk melepaskan kebiasaan untuk membicarakan tentang ‘masa depan’. Ahh… kayak gini nih yang kusebut sebagai ghozwul fikri… Ga berbeda dengan food, film, fashion, song, sport, dsb…

Dan parahnya sebagai dampaknya, dalam beberapa kesempatan bahkan sempat terpikir, ‘bidadari dunia’ seperti apa sih yang kuinginkan?? Untuk detailnya sih memang masih dirahasiakan, namun terinspirasi oleh artikel berjudul ikhwan GANTENG, partner sejati akhwat yang beberapa bulan yang lalu sempat kuterima, akupun tertarik untuk membuat kriteria bidadari JELITA, idaman ikhwan. Bagaimanakah bidadari JELITA itu? Akan bersambung ke tulisan selanjutnya, Insya Allah…

“Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka.” (Al Hadits)

Beri Aku yang Terbaik

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah : 216)

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab. Kemudian saya tidak hanya meminta kepada Tuhan, saya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya,” HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.” Saya bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.” Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?”

Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”

Kemudian Ia berkata kepada saya, “Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu.” (sumber : anonim)

* * *

Manusia memang punya hasrat, penuh keinginan. Bagi dirinya sendiri, tentu yang terbaiklah yang diharapkan. Termasuk dalam hal jodoh. Baik disini mungkin memang relatif dan tergantung kecenderungan hati seseorang. Seorang teman bercerita bahwa dia pernah tertarik dengan seorang akhwat, kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk berproses. Gayung bersambut, sang akhwatpun menerimanya. Namun memang bukan jodoh, proses mereka terhenti di orang tua akhwat tersebut. Lain waktu, ikhwan tersebut merekomendasikan seorang akhwat kepada temannya. Merekapun berproses, tapi tak lama proses itupun gagal. Dan tanpa direncanakan, kini, ikhwan tersebut telah menikah dengan akhwat yang pernah dia rekomendasikan kepada temannya dengan proses yang begitu dimudahkan.

Lain lagi dengan kisah ikhwan yang menolak dua biodata yang diterimanya karena masih satu organisasi. Ia kemudian hendak berproses dengan akhwat ketiga yang memang tidak dia kenal. Dalam istikharahnya, ternyata akhwat pertamalah yang selalu jadi jawaban. Akhirnya (dengan malu-malu) ia menceritakannya ke murabbinya, menerima sesuatu yang pernah ditolaknya. Kini mereka telah menjadi sepasang suami isteri. Ya, demikianlah Allah menetapkan takdirnya. Jodoh takkan kemana, ia sudah tersedia. Allah dengan ilmu-Nya yang meliputi alam semesta akan memberikan yang paling sesuai dengan kita. Disitulah konsep “sekufu” lahir. Ya, jangan berharap terlalu tinggi jika diri ini masih rendah. Akhirnya, keikhlashan atas segala ketentuan-Nya dapat menjadi penguat untuk terus berusaha menjadi orang yang berazzam untuk dapat lebih baik setiap harinya…

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (Q.S. An Nur : 26)