Tag Archives: perubahan

Asal, Ganti, Jangan!

Bagi generasi muda, perubahan itu terlalu lambat. Bagi kaum tradisionalis tua, perubahan itu menghujat” (Dan Brown)

Ganti, Jangan, Ganti, Jangan? Pergantian memiliki makna yang sama dengan pertukaran, peralihan, ataupun perubahan. Ada yang muncul dan menggantikan, ada yang hilang dan digantikan. Pergantian juga mengandung unsur ketidakpastian. Berganti atau tidak, keduanya punya peluang untuk lebih baik atau semakin buruk. Pergantian membawa angin segar perubahan yang penuh tantangan, sekaligus mengusik kenyamanan status quo. Menggantikan tidak selamanya mudah, ada tanggung jawab yang menyertainya. Digantikan pun tak selamanya tercela, ada belenggu amanah yang akhirnya lepas sudah. Semuanya ada masanya. Selalu ada pelajaran dari pergantian masa kejayaan dan kehancuran.

Asal Jangan Ganti! Sebagian orang menolak untuk berganti dan diganti disebabkan potensi kehilangan yang akan dirasakan. Kehilangan materiil ataupun immaterial. Ada kerja panjang yang berpotensi terbengkalai, tidak dilanjutkan. Apalagi pergantian bisa berefek domino sehingga potensi kehilangannya akan semakin besar. Akibatnya, ada saja orang yang keras hati dan keras kepala, antipati dengan pergantian. Biaya pergantian dipandangnya terlalu besar, tidak sebanding dengan ketidakpastian keuntungan yang akan diperoleh. Berbagai argumentasi dan toleransi bisa dimunculkan demi memastikan tak ada pergantian atau dirinya tak tergantikan. Pokoknya, jangan janti!

Asal Ganti! Sebagian orang lainnya begitu memuja pergantian yang menjanjikan dinamika perubahan. Motifnya beragam mulai dari sekadar menyukai tantangan baru sampai potensi memperoleh keuntungan dari pergantian. Pergantianlah yang diyakini bisa mengubah masa depan, baik ataupun buruk. Pergantian dianggap satu-satunya solusi perbaikan atas berbagai kekurangan yang tentunya pasti ada. Akibatnya, ada saja orang yang ngotot harus ganti, anti dengan status quo. Pergantian dipercaya membawa asa dan harapan perbaikan, yang pasti tidak akan berubah –atau bahkan semakin buruk—jika dilanjutkan tanpa pergantian. Berganti atau mati. Bagaimana setelah berganti, itu perkara nanti!

Jangan Asal Ganti! Sebagian orang lainnya memilih untuk rasional. Menimbang manfaat dan mudharat. Bisa jadi tidak atau belum perlu diganti, bisa jadi sebaiknya atau bahkan harus diganti. Hal ini didasari bahwa pergantian perlu dilakukan di saat yang tepat, dengan cara yang tepat. Dan semua ada landasan argumentasinya. Ada ruang diskusi dan dialektika. Tidak perlu fanatik dengan pro atau kontra status quo. Dan tentu tidak anti pergantian. Jika tidak berganti, lakukan dengan penuh pertanggungjawaban. Jika harus berganti, lakukan dengan tidak asal-asalan. Mempersiapkan opsi terbaik, apapun keputusan yang akan diambil. Semua opsi dipandang mungkin, asalkan tidak asal.

Ganti, Jangan Asal! Jika dihadapkan pada dua pilihan ekstrim, ganti atau tidak ganti, jawaban ‘tidak ganti’ mungkin lebih aman, namun jawaban ‘ganti’ barangkali lebih tepat. Pergantian memang tidak lantas menjamin terselesaikannya masalah, namun masalah lebih berpotensi tidak terselesaikan tanpa pergantian. Sebab mereka yang nyaman di status quo akan cenderung menyepelekan masalah. Butuh keberanian dan cara baru untuk menyelesaikan masalah, dan hal itu lebih mungkin diraih dengan pergantian. Boleh berganti, tapi jangan asal. Perlu diperkuat alasan mengapa harus berganti, manfaat apa yang akan didapat dari pergantian, kemana arah pergantian dan bagaimana pergantian akan dilakukan. Semakin jelas dan detail, berarti semakin serius dan tidak asal. Sementara pihak pro status quo tidak harus memberi banyak alasan, cukup dengan melemahkan gerakan dan argumentasi, pergantian dapat dihindarkan. Sebab, kebanyakan orang cenderung cari aman dan sekadar ikut kemana angin berhembus. Bagaimanapun, perubahan adalah keniscayaan, pergantian adalah kepastian. Tinggal momentumnya yang perlu diupayakan. Siap berganti? Boleh, tapi jangan asal.

Beberapa orang melihat hal-hal dan mereka berkata, “Mengapa?”. Saya memimpikan hal-hal yang tidak pernah ada dan berkata, “Mengapa tidak?” (George Bernard Shaw)

Puasa: Metamorfosis Kupu-kupu atau Lebah?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 68 – 69)

Ibadah puasa kerap dianalogikan sebagai proses metamofosis yang dilakukan ulat untuk berubah menjadi kupu‑kupu, yaitu perubahan dari sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan (ulat) menjadi sesuatu yang indah dan menarik serta memberi banyak manfaat bagi makhluk lain (kupu-­kupu). Analogi menarik, dan lebih menarik dibandingkan jika mengambil analogi metamorfosis yang dilakukan binatang lain, seperti capung, jangkrik, belalang, lalat, ataupun nyamuk. Apalagi jika dibandingkan metamorfosis katak atau kecoa. Puasanya ulat juga lebih menarik untuk diambil hikmahnya dibandingkan dengan puasanya hewan lain seperti unta, kukang, ular, biawak, ataupun ayam betina.

Namun ada binatang yang juga melakukan metamorfosis sempurna –melewati fase telur, larva (ulat), pupa (kepompong), imago (dewasa)– yang seakan dilupakan. Salah satu dari tiga serangga yang menjadi nama surah dalam Al Qur’an, yaitu lebah. Jika kata An Nahl (lebah) dijadikan nama surah ke-16 Al Qur’an dan disebutkan dalam ayat ke-68 di surah tersebut, kata Al Farasya (kupu-kupu) justru disebutkan dalam surah Al Qari’ah yang menggambarkan kondisi manusia ketika datang hari kiamat. “Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran” (QS. Al Qari’ah: 4). Lalu bagaimana perbandingan analogi metamorfosis pada kupu-kupu dan lebah dengan puasa Ramadhan?

Fase telur kupu-kupu dan lebah relatif sama. Bedanya kupu-kupu bertelur di outdoor sementara lebah bertelur dalam sarangnya. Lebih aman, dijaga lebah dewasa pula. Selanjutnya telur menetas menjadi larva (ulat). Larva kupu-kupu (ulat) sangat menjijikkan bentuknya, kadang bahkan tubuhnya diselimuti duri yang beracun. Tidak sampai mematikan manusia sih, tapi cukup membuat bengkak dan gatal-gatal. Tidak hanya itu, ulat ini sangat aktif makan (jika tidak bisa dibilang serakah) sehingga merusak tumbuhan yang ditinggalinya. Sementara larva lebah tetap tinggal di sarangnya, makanannya pun disediakan oleh lebah yang merawatnya. Secara fisik memang agak menggelikan –istilah yang sepertinya lebih tepat dibandingkan menjijikkan—namun larva lebah tidak merusak. Bahkan dengan komposisi yang dikandungnya, larva lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menganalogikan manusia sebelum Ramadhan dengan ulat berarti memandang calon kontestan Ramadhan sebagai pribadi menakutkan yang berbuat kerusakan. Analogi yang lebih cocok untuk menggambarkan orang kafir sebelum memperoleh hidayah. Padahal sebelum Ramadhan, umat muslim seharusnya sudah mulai membiasakan amal shalih yang nantinya akan diperkuat di bulan Ramadhan. Bekal Ramadhan bukanlah dengan makan sebanyak mungkin atau berbuat kerusakan sebesar mungkin. Dalam konteks muhasabah (introspeksi) mungkin boleh, tetapi terlalu hina memandang diri sendiri juga bisa membuat manusia berputus asa dari Rahmat Allah. Yang lebih tepat adalah menyadari kekurangan diri, memperbanyak bekal persiapan, tidak berbuat kerusakan dan terus mencoba memberikan manfaat. Bisa saja Allah tidak menyampaikan pada bulan Ramadhan. Ya, seperti larva lebah.

Selanjutnya, larva kupu-kupu dan lebah akan menjadi pupa selama beberapa hari, pekan atau bulan (tergantung spesiesnya) dan berkembang ke bentuk yang lebih baik mengandalkan cadangan makanan yang diperolehnya ketika menjadi larva. Proses di dalam pupa kupu-kupu lebih radikal karena terjadi histolisis atau penghancuran dari dalam jaringan atau tubuh sendiri menggunakan cairan yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan. Lalu histoblast pada larva akan menyusun ulang tubuh tersebut sehingga mampu menghasilkan bentuk yang (jauh) berbeda dengan fase larvanya. Kondisi pupa ini tidak boleh bocor atau mendapat gangguan berarti karena dapat menggangu jalannya histogenesis atau proses penyusunan ulang. Lebah lebih beruntung karena selama fase pupa dijaga oleh lebah dewasa, selain itu cadangan makanan yang ada di sarang (luar tubuh) membuat histolisisnya tidak terlalu radikal.

Seberapa revolusioner puasa mampu mengubah seseorang memang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah hidayah dan persiapan menjelang Ramadhan. Persiapan Ramadhan yang cukup tidak akan mendatangkan lonjakan semangat tinggi sesaat ketika Ramadhan yang kemudian lenyap setelah Ramadhan berlalu. Namun memang ada manusia yang memperoleh pencerahan sebagai titik baliknya di bulan Ramadhan. Ia akan berubah secara signifikan keluar dari Ramadhan. Apalagi di dalam Ramadhan ada malam Lailatur Qadar yang juga menjanjikan hal tersebut. Namun ada juga yang berubah secara inkremental atau continuous improvement. Perubahan yang biasanya lebih terjaga.

Kemudian, dari pupa tersebut keluarlah kupu-kupu dan lebah dewasa. Kupu-kupu harus berjuang hidup dalam kemandirian, sementara lebah hidup dalam koloni. Bukan sekedar berjama’ah, lebah juga itqon (profesional). Koloni lebah memiliki pembagian tugas yang jelas, teratur, tertib, disiplin, dan penuh semangat bergotong-royong. Sementara kupu-kupu lebih individualis. Lebah juga gesit dan pekerja keras. Sayapnya berkepak hingga ratusan kali per detik. Dalam sehari, lebah pekerja mampu mengumpulkan nektar dari 250 ribu tangkai bunga dan butuh jarak tempuh lebih dari 1 juta kilometer untuk menghasilkan 1 kg madu. Lebah juga berani dan rela berkorban, menyengat musuh akan membawanya pada kematian. Sementara kupu-kupu lebih indah dipandang. Ya, hanya itu. Pun lebah juga arsitek pembuat sarang indah sih. Kupu-kupu dan lebah sama-sama berperan sebagai polinator yang membantu proses penyerbukan, dan sama-sama makan yang baik tanpa merusaknya. Bedanya, lebah akan menghasilkan madu, lilin lebah, tepung sari (pollen), propolis, susu lebah (royal jelly), hingga sengat lebah yang semuanya bermanfaat. Sedangkan kupu-kupu menghasilkan telur yang akan menjadi larva (ulat) yang menjijikkan dan merusak.

Keberkahan ibadah Ramadhan seseorang dapat dilihat selepas Ramadhan, bukan hanya secara fisik, namun juga dari kekuatan ruhiyah dan apa yang ditinggalkan. Ramadhan bukanlah bulan untuk menguruskan badan sehingga lebih enak untuk dilihat. Bukan pula bertujuan menghasilkan lulusan madrasah Ramadhan yang seakan berbeda dengan sebelum Ramadhan. Ramadhan mengharapkan ada jejak perbaikan jelas yang ditinggalkan, kontribusi nyata yang diberikan, dan kebaikan yang diwariskan. Menghadirkan banyak kebaikan secara berjama’ah dan terorganisir. Tidak hilang kebaikannya seiring berlalunya Ramadhan. Tidak kembali membuat kerusakan dan terlalaikan oleh tipu daya dunia. Ya, menjadi seperti lebah, bukan belalang kupu-kupu yang inkonsisten.

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku” (HR. Muslim)

Islam dan Filosofi Continuous Improvement

“The best revenge is to improve yourself” (Ali bin Abi Thalib)

Terminologi Continuous Improvement tidak terlepas dari konsep Kaizen di Jepang yang bermakna perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan ini bersifat sedikit demi sedikit (step by step improvement), komprehensif dan terintegrasi dengan filosofi Total Quality Management (TQM). Karena terintegrasi dengan TQM, pembahasan tentang Continuous Improvement kerap melebar ke ranah manajemen mutu, mulai dari siklus Plan-Do-Check-Action (Deming Cycle), waste management (Muda, Mura, Muri), hingga konsep zero defect atau bahkan six sigma lengkap dengan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Kajian teori yang menarik pun sebenarnya filosofi continuous improvement lebih sederhana dan aplikatif.

Filosofi Continuous Improvement mendorong tercapainya standar kualitas yang optimal melalui beberapa langkah perbaikan yang sistematis dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai aksi perbaikan yang sederhana dan terus-menerus akan memunculkan gagasan dan aksi perbaikan yang lebih banyak sehingga sedikit demi sedikit berbagai permasalahan akan terselesaikan. Dan perbaikan ini dilakukan oleh setiap personal dalam organisasi. Continuous Improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk terus berkembang dan melakukan perbaikan. Filosofi yang ternyata sejalan dengan konsep Islam yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Continuous Improvement adalah perubahan memelihara nikmat Allah SWT. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’du: 11). ‘Keadaan’ disini ditafsirkan sebagai nikmat –bukan nasib—sebagaimana tersebut dalam Surah Al Anfal ayat 53. Kelalaian dan kemaksiatan dapat menghilangkan nikmat, sehingga upaya merawat dan meningkatkan nikmat perlu disertai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Disinilah continuous improvement mulai menjalankan peran, mulai dari diri sendiri, senantiasa melakukan perubahan untuk memelihara nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Continuous Improvement adalah merawat produktivitas. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7). Kata ‘faraghta’ berasal dari kata ‘faragha’ yang berarti kosong setelah sebelumnya terisi penuh. Sebagian mufassir menafsirkan ayat tersebut adalah bahwa apabila kamu telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat; apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa. M. Quraish Shihab cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan yang dimaksud karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kesungguhan, selama dibenarkan syariat. Kewajiban manusia bersifat simultan, terus menerus tanpa putus. Demikian pula dengan filosofi continuous improvement, selesai melakukan perbaikan, ada hal lain yang menanti untuk diperbaiki. Tetap produktif dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Continuous Improvement adalah perbaikan kualitas. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan bahwa amal yang lebih baik adalah yang dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang paling menarik adalah penggunaan diksi ‘yang lebih baik amalnya’, bukannya ‘yang lebih banyak amalnya’, menunjukkan bahwa ada perhatian lebih pada dimensi kualitas amal, bukan sekedar kualitas. Dan penggunaan kata ‘lebih baik’ (comparative) bukan ‘paling baik’ (superlative) menunjukkan esensi dari filosofi continuous improvement bahwa tidak ada yang paling baik, namun selalu ada yang lebih baik. Kualitas terbaik artinya sempurna, tidak ada lagi yang bisa di-improve. Justru tidak manusiawi. Yang diminta hanyalah terus berupaya lebih baik setiap saatnya, menuju kualitas amal optimum yang bisa dilakukan.

Continuous Improvement adalah konsistensi kerja. “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud). Continuous improvement tidak menghendaki perubahan yang radikal, tetapi inkremental. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebaikan dan perbaikan ketika terbiasa dilakukan akan menghasilkan kebaikan dan perbaikan selanjutnya. Continuous improvement. Kontinyuitas ini pula yang akan memastikan kerja lebih langgeng dan akan berakhir yang baik. Pembiasaan juga akan meminimalisir kebosanan dalam beraktivitas, dengan syarat kontinyuitas yang dilakukan disertai dengan penambahan kualitas ataupun kuantitas, bukan sekedar pengulangan dan rutinitas. Itulah sejatinya filosofi continuous improvement.

Continuous Improvement adalah proses seumur hidup. Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barangsiapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat. Ungkapan tersebut banyak dinilai sebagai hadits palsu dan hanya bersandar pada perkataan Rasulullah SAW dalam mimpi seorang ulama. Selalu lebih baik setiap harinya juga dianggap tidak realistis, namun ungkapan tersebut sejatinya sangat sejalan dengan filosofi continuous improvement. Pertama, ungkapan tersebut menunjukkan tekad untuk lebih baik setiap harinya. Kedua, nilai ‘lebih baik’ tidak harus pada seluruh aspek, bisa jadi hanya tambahan kebaikan kecil di beberapa aspek. Ketiga, rentang hari ini dengan sebelumnya tidak harus dimaknai sempit. Sungguh dalam kerugian orang-orang yang berlalu bulan dan tahun usianya namun kebaikannya tidak bertambah, apalagi kalau sampai berkurang. Filosofi continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Kompetisi menuntut setiap diri dan organisasi untuk terus semakin baik setiap saatnya. Diam tetap di tempat akan tertinggal, apalagi jika mundur. Dan proses ini adalah pembelajaran seumur hidup (life-long learning).

Perjalanan menuju visi besar, baik visi hidup maupun visi organisasi merupakan perjalanan jauh yang membutuhkan nafas panjang. Barangkali butuh momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup yang bersifat revolusioner, namun istiqomah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinyuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus menerus. Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?” Beliau bersabda, “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

*dimuat di republika online 27 Maret 2016

Kembali Meniti Jalan Ini

Kembali meniti jalan ini setelah empat tahun bertualang ke medan juang yang lain. Ada romantika masa lalu yang sempat menyeruak. Mulai dari diskusi ringan dengan adik-adik, bermalam bersama di rumah kedua, hingga kebahagiaan melihat pancaran sinar mata mereka yang penuh harapan. Ada trauma menggelitik yang turut menyertai. Mulai dari mengurai masalah mereka yang tak merasa salah, mencoba memenuhi tuntutan dengan tidak memanjakan, hingga berbagai problematika dan dinamika dalam membina manusia.

Kembali meniti jalan juang ini, ternyata sudah banyak yang berubah. Rekan-rekan seperjuangan sudah banyak yang berganti peran. Adik-adik yang dulu dididik sudah beralih fungsi dan posisi turut menentukan arah perjalanan ini. Masalah kian bertambah seiring bertambahnya usia, kebijakan pun sudah banyak berubah. Rasa kepemilikan dan semangat perjuangan juga mengalami transformasi. Sekat – sekat yang terlihat dan tidak terlihat semakin kuat terasa. Entah mungkin diri ini yang semakin menua. Atau sekadar dilema adaptasi di masa transisi. Atau mungkin sebatas post power syndrome?

Kembali menyusuri jalan penuh kenangan. Ada tawa, tangis, suka, duka, marah, dan gembira di masa lalu yang terlintas. Menumbuhkan kembali cinta yang sempat teralihkan, menghapus kelelahan yang pernah bersemayam. Di jalan ini hubungan silaturahim banyak terjalin. Di jalan ini pula bertebaran berbagai hikmah dan pembelajaran yang mendewasakan. Tantangan yang berbeda tidak dapat dihadapi dengan cara yang sama. Terus berkembang dan tumbuh bersama.

Kembali meniti kanal kontribusi ini, banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, paradigma yang perlu diluruskan, konsep dan struktur yang perlu diperbaiki, dan jembatan yang perlu dibangun. Waktu untuk berbenah tidak banyak, tidak boleh larut dalam gagasan sebatas angan. Selalu ada kebaikan dalam setiap ketentuan-Nya. Seorang pejuang sejati tidak memikirkan bagaimana dirinya akan ditempatkan dalam sejarah, namun ia akan berpikir bagaimana kelak dirinya akan ditempatkan di sisi Rabb-nya. Jalan ini, adalah jalan kontribusi ‘tuk meraih Ridha Ilahi…

Klasifikasi Pengetahuan – 2 (KM Ed.4)

Explicit Knowledge
Kalau pengetahuan yang sifatnya tacit ini kemudian dikeluarkan, ditulis atau direkam, maka sifatnya lantas menjadi eksplisit. Explicit knowledge adalah pengetahuan manusia yang berada diluar kepala, dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, rumus, spesifikasi, dan manual serta dapat langsung ditransfer secara lengkap kepada orang lain dengan didengar, dilihat, dirasa atau disentuh. Sifat dari explicit knowledge adalah tercetak dalam kode-kode, deklaratif, formal dan keras (hard). Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) : “Explicit knowledge can be expressed in words and numbers and can easily communicated and shared in the form of hard data, scientific formula, codified procedures and universal principles”.

Bentuk pengetahuan eksplisit ini berupa bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/ terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari baik yang dimiliki secara pribadi, biasanya dalam bentuk catatan, buku harian, alamat teman, fotokopi dan segala bentuk eksplisit yang disimpan perorangan secara pribadi maupun bentuk eksplisit yang dipakai bersama-sama oleh sekelompok orang dalam bentuk tulisan tangan sampai internet. Dengan kata lain pengetahuan eksplisit yang di-share atau dibagikan agar dapat dikses oleh banyak pihak. Contohnya adalah manual, buku, laporan, koran, lukisan, dokumen, surat, file-file elektronik, dsb.

Tacit – Explicit Knowledge dan Manajemen Pengetahuan
Untuk membuat keris atau ayam goreng yang rasanya khas mBok Berek diperlukan pengetahuan, keterampilan, termasuk cita rasa dan mungkin kesaktian yang hanya dimiliki oleh seseorang dan sulit untuk disosialisasikan kepada orang lain. Pengetahuan seperti itu tergolong pengetahuan Tacit, yang dari dulu hingga kini kerap dijadikan andalan untuk bisnis. Karenanya orang rela antri untuk makan soto Pak Soleh atau sate kambing muda Tegal, atau membayar sangat mahal untuk batik tulis kraton Solo atau suatu lukisan karya Picasso.

Dalam prakteknya di lingkungan kerja, terkadang suatu informasi sengaja dijadikan pengetahuan tacit sehingga orang lain bergantung kepada pemilik informasi itu, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi kekuasaan, meningkatkan status, maupun menuntut kenaikan gaji. Di sisi lain, pengetahuan tacit tidak bisa dikembangkan dengan sebaik-baiknya, bahkan cenderung mati dan punah. Itulah yang menyebabkan orang tidak bisa lagi membuat piramid (Mesir) atau Borobudur (Jawa) atau karya-karya agung lain dari umat manusia di jaman dahulu.

Lain halnya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu engineering, misalnya, bisa berkembang sangat pesat sampai ke kondisinya yang sekarang, sejak pengetahuan dalam ilmu itu dibuat explisit, yaitu bisa dipelajari oleh siapa saja yang mau dan mampu sehingga sekarang orang bisa membuat roket sampai ke bulan, atau ilmu fisika yang kini memungkinkan orang sudah sampai kepada teknologi nano (membuat benda sampai 1/10 pangkat sekian) sehingga bisa dibuat alat-alat kedokteran yang bisa memeriksa bagian dalam tubuh manusia tanpa operasi, atau membuat komputer sekecil telapak tangan. Dalam ilmu, pengetahuan sengaja dibuat eksplisit, agar terus-menerus bisa dikembangkan[1].

Prinsip tacit dan explicit ini kemudian menjadi benang merah dari konsep KM. Kegiatan KM dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan proses perubahan dari tacit pribadi menjadi tacit milik bersama, dari tacit milik bersama jadi eksplisit, dari eksplisit jadi tersimpan. Semua proses ini berlaku dalam proses kerja, kehidupan, sosial, politik dan lain-lain. KM mengurus inovasi, perubahan dan dokumentasi serta lebih luas dari sekedar sistem informasi manajemen (Management Information Systems/ MIS). MIS adalah kegiatan yang memikirkan bagaimana informasi eksplisit disimpan dan menjadi milik bersama. Di situ ada keperluan pengaturan yang menyangkut bagaimana menyimpan, apa yang disimpan, bagaimana menemukan kembali, berapa lama disimpan, apa yang perlu dan tidak perlu disimpan. Keperluan-keperluan inilah yang dibuat sistematik menjadi sistem.


DDR = Dikit – Dikit Rubah

The foolish cling to what they have and fear change; their lives are going nowhere. The clever learn to accept uncertainty and ride through changes, capable of starting a new any where. The wise realize the value of uncertainty, accepting all changes without changing; for them, having is the same as not having” (Charles Akara)

* * *

Kehidupan selalu dilingkupi dengan perubahan sampai ada idiom yang menyatakan bahwa tidak ada yang abadi (tidak berubah) kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan kadang terjadi begitu cepat, tanpa disangka sehingga menciptakan keterkejutan. Hal inilah yang aku (dan rekan – rekan di kantor) rasakan, berkenaan dengan kebijakan mutasi yang terkesan dadakan. Informasi perubahan pun disampaikan terlalu cepat, hari yang sama ketika aku kembali masuk kantor setelah istirahat lebih sepekan. Ya, untuk kepentingan lembaga dan pengembangan diriku, aku mendapat amanah baru sebagai peneliti pendidikan independen dengan target kerja yang tidak sedikit.

Perubahan adalah kepastian dan memang perlu ada untuk mengatasi stagnasi menuju performa yang lebih tinggi. Dalam rencana hidupku pun, menjadi peneliti dan pengembang program pendidikan sebenarnya memang menjadi salah satu target di tahun depan. Pun demikian, transisi yang terlalu cepat tetap saja menimbulkan kegamangan karena mengganggu kenyamanan. Apalagi tidak sedikit agenda yang masih dikawal dan keluarga besar departemen pemuda dan komunitas yang harus diinformasikan perihal perubahan tersebut. Ke depan, tim kerjaku sebelumnya akan dikelola oleh seseorang yang kupercaya mumpuni, tinggal bagaimana aku menyikapi masa transisi dengan melakukan lompatan besar sehingga tidak tertinggal.

Perubahan adalah keniscayaan dan tidak ada istilah mundur. “See change as an opportunity, not a threat!”, kata Jack Welch, CEO General Electric tersukses yang baru saja pensiun. Perubahan memberikan banyak kesempatan untuk membuat kita menjadi ‘a climber‘ yang terus memperbaiki kualias diri, berinovasi dan terus berupaya menjadi yang terbaik. Orang – orang yang mempelopori pembaharuan hampir dapat dipastikan adalah mereka yang menyukai perubahan dan melihat adanya tantangan untuk maju dalam setiap perubahan. Bahkan Bruce Barton, seorang penulis, politisi dan pengusaha periklanan tersukses di zamannya mengungkapkan, “Saat Anda menolak untuk berubah, riwayat Anda sudah tamat!”

Perubahan pasti terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Charles Akara membagi manusia dalam menyikapi perubahan ke dalam tiga kategori : ‘Si Bodoh’ yang mendekap erat apa yang ia miliki dan mengkhawatirkan perubahan, hidup mereka tidak akan mencapai apa-apa; ‘Si Pandai’ yang belajar menerima ketidakpastian dan menyesuaikan diri dengan perubahan, mereka siap untuk menjadi baru setiap saat; dan ‘Si Arif’ yang menghargai nilai ketidakpastian, menerima ketidakpastian tanpa berubah, baginya, memiliki sama saja dengan tidak memiliki. Berpuas dengan status quo dan takut terhadap perubahan hanya akan membuat kita berjalan di tempat bahkan tertinggal. Mereka yang cerdas akan beradaptasi dengan perubahan sehingga mereka dapat terus meningkatkan performanya. Sedangkan orang yang bijak tidak terpengaruh dengan perubahan yang merupakan keniscayaan, perubahan hanyalah tangga naik yang pasti dan harus dijalani manusia.

Perubahan adalah tantangan untuk maju, karenanya harus dihadapi. Kembali menciptakan impian – impian di masa depan, menata orientasi dan kerja ke depan serta melanjutkan menebar kebermanfaatan tanpa terusik oleh transisi, tanpa terganggu oleh perubahan. Semoga perubahan berbuah banyak kebaikan.

* * *

Tuhan, berikan saya kemampuan untuk mengubah apa yang dapat saya ubah, kepasrahan untuk menerima apa yang tidak dapat saya ubah, dan kearifan untuk dapat membedakan antara keduanya”

Menghadapi Masa Transisi

Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri” (Heraklitos)

Dunia terus berubah dengan berbagai kisahnya, dengan segala skalanya, pun demikian dengan kehidupan manusia. Seperti digambarkan William Shakespeare dalam puisinya “The seven ages of man” yang mendeskripsikan beberapa perjalanan transisi kehidupan manusia. Perubahan memang pasti terjadi, baik dalam organisasi maupun individu. Perhatikan bagaimana ketika bayi baru disapih, anak yang baru masuk sekolah, perpindahan jenjang pendidikan, memasuki dunia kerja, dan sebagainya. Ada penyesuaian peran dan aktifitas yang senantiasa mengiringi perubahan, penyesuaian yang kerap kali menimbulkan rasa tidak nyaman, membuka kerinduan akan masa sebelumnya bahkan kekhawatiran berlebih hingga timbul keinginan untuk ‘melarikan diri’. Padahal keberhasilan perubahan banyak tergantung apakah yang terkena perubahan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda atau tidak.

Sebenarnya yang mengganggu bukanlah perubahan, tetapi transisi. Ya, dalam setiap perubahan selalu ada transisi yang kerap kali menimbulkan gangguan dan jika tidak dikelola dapat berpotensi menjadi masalah. Perubahan sifatnya situasional, dari suatu kondisi ke kondisi lainnya, sedangkan transisi lebih bersifat psikologis. Proses keluarnya seseorang dari dunia lama dan masuk ke dunia baru kerap kali bersifat emosional. Padahal perubahan harus dilakukan agar tidak stagnan bahkan tertinggal, sehingga transisipun otomatis harus dijalani. Ada tiga fase transisi yang harus diperhatikan dan dikawal sehingga transisi dapat berjalan baik dan perubahan positif dapat dihasilkan, yaitu :

  1. Menanggalkan cara dan identitas lama. Fase pertama transisi ini adalah sebuah pengakhiran dan saat dimana yang perlu ditangani adalah perasaan kehilangan.
  2. Melewati satu periode antara ketika yang lama telah pergi tetapi yang baru belum berfungsi secara penuh (zona netral). Inilah waktu ketika penyatuan kembali (realignment) dan pemolaan kembali (repatterning) psikologis terjadi.
  3. Keluar dari transisi dan membuat suatu permulaan baru. Ini adalah periode ketika identitas baru dikembangkan dan kesadaran akan tujuan (sense of purpose) baru ditemukan yang membuat perubahan mulai berjalan

Pada fase pertama, perlu dikenali siapa yang akan kehilangan apa dan mengantisipasi tanda ‘kedukaan’ yang dapat berupa kemarahan, bargaining, kecemasan, kesedihan, disorientasi bahkan depresi. Perasaan kehilangan ini harus diterima sebagai realitas, bukan dipungkiri dan dianggap tidak ada.  Namun tidak perlu juga bereaksi secara berlebihan. Cari dan berikan informasi sejelas mungkin, bahkan jika perlu kompensasi atas kehilangan, terkait transisi yang dijalani. Perlakukan masa lalu dengan hormat bahkan mungkin perlu dibiarkan dibawa sepenggal cara lama, untuk mengurangi resistensi sekaligus menjamin kontinyuitas.

Fase kedua adalah zona tidak bertuan yang kerap ditandai dengan kecemasan yang meningkat, motivasi yang menurun, kehilangan arah, meragukan diri sendiri, marah, mencurigai, energi dialihkan untuk menyelamatkan diri, tugas terbengkalai, banyak ketidakpastian dan kekecewaan, kehilangan kepercayaan dan produktifitas merosot. Lamanya fase ini tidak pasti dan kerap diiringi dengan munculnya masalah lama, kacaunya prioritas, kesalahpahaman informasi dan polarisasi. Fase yang sangat rapuh, sehingga tidak semua orang dapat bertahan. Di sisi lain, fase ini penuh kreatifitas dan merupakan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baru dan menarik. Untuk mengarahkannya agar tetap dalam jalur, perlu diciptakan sistem sementara yang akan menjaga dari dampak perubahan lanjutan sambil menemukan keseimbangan sekaligus dapat meningkatkan integritas. Komitmen dan peran perlu ditelaah kembali dan tujuan jangka pendek perlu dirancang.

Fase ketiga adalah ekspresi identitas baru, fase yang diinginkan tetapi pada saat yang sama takut terhadapnya karena beresiko dan dapat membangkikan kembali kecemasan dan luka lama. Dalam fase ini perlu diperjalas kembali tujuan, gambaran bahkan langkah demi langkah perencanaan. Kemudian peran baru harus mulai dimainkan. Untuk memperkuat fase terakhir ini, perlu adanya konsistensi dalam penerapan. Selain itu juga diperlukan simbol identitas baru dan keberhasilan awal yang cepat bisa dinikmati bersama.

Kenyamanan sering kali hanya membawa pada stagnasi bahkan kemunduran. Tidak jarang bahkan membuahkan kehancuran ketika ada tantangan yang tidak siap ditangani. Perlu dibangun kesiapan untuk menghadapi perubahan, termasuk kesiapan dalam menghadapi resistensi terhadap perubahan. Tidak sedikit orang yang begitu membela status quo yang sebenarnya disadarinya tidak cukup baik karena kekhawatiran berlebihannya akan kehilangan sesuatu. Banyak yang mengharapkan kondisi yang lebih baik namun enggan menanggalkan zona nyamannya. Beberapa bahkan memilih untuk pergi karena kesulitan dan ketidakpastian selama berada dalam masa transisi, padahal ‘lompatan besar’ sudah menantinya di depan sana. Seolah tidak sadar bahwa dimanapun transisi akan dirasakan. Ada juga yang memilih bertahan namun larut dalam masa lalunya sehingga perbaikan tidak begitu dirasakan.

Transisi adalah selingan yang dinamis antar tahapan. Realitanya perubahan bersifat simultan dan ketiga fase itu akan tumpang tindih. Setumpuk teori sepertinya tidak cukup untuk menjawab setiap permasalahan yang mungkin timbul selama menjalani transisi. Namun perubahan adalah kepastian dan transisi adalah keniscayaan. Alur natural segala sesuatu setelah lahir adalah tumbuh berkembang, kemudian matang dan akhirnya mati. Agar tidak mati, siklus harus dilakukan dengan melakukan perubahan. Melakukan perubahan dan pembaruan atau tertinggal. Jalan pembaruan harus dipilih dengan menemukan kembali impian yang lebih tinggi, mendapatkan kembali semangat yang lebih membara dan melakukan pekerjaan dengan tantangan yang lebih besar. Persimpangan adalah realita yang mesti dihadapi, bukan masalah melainkan kesempatan untuk dapat meningkatkan kualitas diri dan membuat lompatan yang lebih tinggi.

Wallahu a’lam bishawwab
dhaifman010410
terinspirasi dari buku “Managing Transitions”, William Bridges

Kala Demonstrasi Tak Lagi Menghasilkan Perubahan

(Sebuah analisa dengan pendekatan Change Management)

Pada umumnya manusia enggan beranjak dari zona nyaman. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi resitensi seseorang terhadap perubahan. Manusiawi. Orang takut tidak dapat menghadapi persoalan karena perubahan. Perubahan mengandung unsure ketidakpastian (uncertainly). Selain itu perubahan dapat menimbulkan kerugian pribadi (personal loss) bagi mereka yang memiliki investasi pada status quo. Status, uang, kekuasaan, teman, kesenangan, dll dapat hilang karena perubahan. Pertaruhan yang besar. Makin besar investasi seseorang dalam sistem berjalan, makin besar kemungkinan penolakannya terhadap perubahan. Selain perubahan memang tidak juga dapat menjamin pasti hadirnya perbaikan.

Teori Perubahan
Menurut teori medan gaya (force field theory), peningkatan driving forces akan meningkatkan kinerja sekaligus restraining forces. Perubahan –yang biasanya dilakukan dengan menekan (push)— akan mendapat reaksi balik. Jadi, cara efektif untuk mendorong perubahan bukan dengan peningkatan driving forces tapi dengan pengurangan restraining forces. Suatu program perubahan terencana dapat dilakukan dengan internalisasi manfaat perubahan (mengurangi restraining forces) dan secara bersamaan memperkuat driving forces di dalam organisasi.

Menurut teori/ model proses perubahan (model of change process, Kurt Lewin & Edgar H Schein), masalah yang menyulitkan perubahan adalah ketidaksiapan orang merubah kebiasaan & perilaku lama serta perubahan pada seseorang yang tidak lama. Pada fase unfreezing terjadi proses menjadikan kebutuhan perubahan sebagai suatu yang nyata. Tiap lini siap untuk berubah, biasanya terjadi ketika ketidakidealan jelas dirasakan. Setelah itu, melalui identifikasi dan internalisasi nilai-nilai terciptalah perubahan, dimana agen perubah mampu menciptakan situasi dan nilai-nilai baru, sesuai kebutuhan perubahan. Kemudian dibutuhkan proses mengunci perubahan ketika manfaatnya sudah dapat dirasakan. Untuk mengunci hasil dan pola perilaku yang baru diperlukan mekanisme penunjang berupa apresiasi, penghargaan, reward, pengakuan dan penguatan lainnya.

Menurut teori Kesiapan Sistem (Systems Readiness, David B Gleicher), suatu perubahan bisa gagal karena perubahan system ke suatu keseimbangan baru membutuhkan energi yang besar, memenuhi rumus :

dimana :
C = Change/ perubahan
A = Tingkat ketidakpuasan terhadap status quo
B = Kejelasan bentuk perubahan yang diinginkan
D = Kejelasan langkah praktis perubahan yang akan dilakukan
X = Biaya perubahan

Dan perubahan hanya dapat terjadi ketika faktor-faktor pendukung perubahan lebih besar dari biaya perubahan. Terakhir, dikenal teori perubahan yang cepat ketika pekerjaan berhadapan dengan interupsi yang konstan. Kala itu kondisi berada pada batas kekacauan, ada tuntutan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya & banyak aktivitas yang dikendalikan oleh aturan-aturan yang dibuat sambil jalan (the white water rapids metaphor).

Menangani Resistensi
Berlawanan dengan status quo, secara fitrah, manusia ingin terus lebih baik dan menjadi yang terbaik. Dari sinilah titik tolak perubahan dilakukan. Ada banyak cara yang dapat diperbuat untuk menangani resistensi diantaranya memberikan pemahaman dan berkomunikasi, melakukan pelibatan/ partisipasi dalam pengambilan keputusan, meningkatkan ketrampilan, melakukan manipulasi, kooptasi, negosiasi bahkan koersi kepada pihak yang melakukan penolakan.

Demonstrasi dan Perubahan
Terlepas dari sebagai upaya melakukan pencerdasan sekaligus menunjukkan kepedulian dan menyuarakan aspirasi masyarakat, sering muncul pertanyaan: “Dapatkah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa membuat perubahan?”. Tentu ada pro dan kontra. Dan jika menilik pada perjalanan sejarah, memang demonstrasi kadang dapat menghasilkan perubahan dan kadang tidak.

Berdasarkan teori tentang manajemen perubahan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk efektivitas perubahan yang diusung suatu gerakan mahasiswa. Pertama, pentingnya membangun kesadaran akan pentingnya perubahan. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya dibutuhkan waktu, data dan fakta sehingga timbul pemahaman bersama bahwa kita memang harus berubah. Gerakan mahasiswa tidak seharusnya eksklusif dan hal ini sering dilupakan. Jangankan upaya pewarnaan dan pengarahan opini ke para pejabat maupun masyarakat, demonstranpun sering tidak memahami mengapa mereka harus melakukan demonstrasi. Kedua, perjelas arah dan bentuk perubahan, bahkan bila perlu beserta langkah-langkah taktis menuju perubahan yang diinginkan. Solutif dan mudah dipahami. Hal ini –mungkin— yang dapat menjawab tantangan disorientasi gerakan mahasiswa sekaligus menjadi detail format membangun gerakan.

Ketiga, pastikan tidak bermasalahnya hal-hal yang terkait dengan komunikasi (koordinasi, negosiasi, audiensi, diplomasi, dsb). Opini banyak tergantung pada efektivitas komunikasi dan perubahan banyak tergantung pada manajemen opini. Selama proses komunikasi internal dan antar linmi masih bermasalah, maka perubahan yang diharapkan relatif sulit terjadi. Keempat, berani bukan nekad. Ada unsure intelektualitas dan persiapan matang yang harus senantiasa mengiringi. Perubahan tidak akan efektif dan akan sangat mungkin destruktif jika dilakukan serampangan. Juga jangan berharap perubahan ‘turun dari langit’ sehingga pasrah menunggu ‘hidayah’. Semuanya harus terencana dan cerdas, walau pastinya tidak akan terlepas dari resiko.

Terakhir, membangun mentalitas pejuang-pejuang perubahan. Baiknya dimulai dari diri sendiri yang mau mendengarkan (kritikan) orang lain, mau menerima perbedaan, berani mengalah, meminta maaf dan berlapang dada/ memaafkan. Mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk diri, rela berkorban, berani menerima resiko, terus meningkatkan kemampuan diri dan tetap bersemangat dalam berjuang. Selanjutnya dibangun mentalitas perubahan dalam komunitas kecil, organisasi kemahasiswaan hingga sekup yang lebih besar.

Dapatkah demonstrasi membuat perubahan? Tentu saja! Sejarah pernah membuktikannya. Jika diiringi dengan niat ikhlash tanpa cacat, cara yang cerdas dan tepat serta mentalitas penuh semangat. Dan Allah SWT pun takkan berat menghadirkan perubahan yang hebat. Selanjutnya tinggal bagaimana dan dimana kita?

Wallahu a’lam bishawwab