Tag Archives: prioritas

Program Kartu Prakerja Buat (Si)Apa?

It’s a recession when your neighbor loses his job; it’s a depression when you lose yours.”
(Harry S. Truman)

Akhirnya, Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan salah satu janji kampanye Jokowi yaitu Kartu Prakerja. Walaupun Menkeu Sri Mulyani sempat mengatakan ‘sakit perut’ mencari sumber anggaran Kartu Prakerja, seiring dengan wabah Covid-19, anggaran Kartu Prakerja naik dua kali lipat menjadi 20 triliun rupiah. Kemenko Perekonomian Darmin Nasution mengumumkan bahwa hingga penutupan pendataran tahap pertama pada 16 April 2020 lalu, tercatat jumlah pendaftar program Kartu Prakerja sebanyak 5.965.048 orang. Dari serangkaian verifikasi, sebanyak 2.078.026 orang dinyatakan lolos dan akan diseleksi menjadi 200 ribu peserta pelatihan gelombang pertama.

Sejak masa kampanye pilpres 2019, program Kartu Prakerja ini sudah menuai kontroversi, bahkan sempat dilaporkan ke Banwaslu. Jika tahun lalu ada mispersepsi tentang Kartu Prakerja dimana dikesankan pemerintah akan membiayai para pengangguran, kontroversi Kartu Prakerja tahun ini lebih kompleks lagi. Mulai dari konflik kepentingan, urgensi atau ketermendesakannya, prioritas peruntukan anggaran 5,6 triliun rupiah di tengan pandemi Covid-19, hingga teknis implementasi program Kartu Prakerja. Beragamnya kontroversi ini dapat dimaklumi, sebab ketika masa kampanye ‘barangnya’ belum ada, sehingga Kartu Prakerja barangkali masih diidentikkan dengan kartu-kartu ‘sakti’ Jokowi yang lain.

“Materi Kursus Mirip Konten Youtube”, demikian headline surat kabar harian Jawa Pos pada Jum’at, 17 April 2020 seraya menampilkan data beberapa pelatihan online program Kartu Prakerja, mitra penyedia pelatihan, dan nominal biayanya. Wajar saja jika publik mempertanyakan, sebab jika kursus yang diselenggarakan Kartu Prakerja berupa menonton video pelatihan, konten Youtube jauh lebih banyak, variatif, dan gratis. Sementara paket pelatihan dalam skema Kartu Prakerja dibandrol variatif mulai dari Rp. 168.000 hingga 1 juta rupiah. Memang biaya pelatihannya akan ditanggung pemerintah dengan skema Kartu Prakerja, namun itu artinya pemerintah ‘menyumbang’ anggaran senilai plafon harga pelatihan per orang dikali jumlah penerima kartu prakerja kepada para mitra platform pelatihan online. Sementara konten serupa bisa dipelajari di YouTube dengan gratis. Sementara beberapa perusahaan besar semisal Microsoft, Google, Oracle, Nikon, dan sebagainya justru menyediakan pelatihan online gratis di tengah wabah Covid-19 ini.

Kritik pun merembet ke conflict of interest, dimana Belva Devara, Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi merupakan Pendiri dan CEO Ruangguru, salah satu mitra platform digital Kartu Prakerja. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, Andi Taufan, Staf Khusus Milenial yang lain disoroti setelah surat dengan kop Sekretariat Kabinet kepada perangkat desa guna mendukung program yang dijalankan perusahaannya. Bhelva mengatakan bahwa proses pemilihan penyedia layanan Kartu Prakerja dilakukan oleh Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, namun aroma konflik kepentingan tak terhindarkan.

Jika memperhatikan kondisi aktual pandemik Covid-19 saat ini, pertanyaan publik terhadap Kartu Prakerja lebih banyak lagi. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah mengatakan total ada 114.340 perusahaan yang telah terpukul oleh wabah Covid-19, dampaknya tercatat 1.943.916 tenaga kerja telah dirumahkan dan atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Itu yang tercatat, jumlah yang terdampak apalagi di sektor informal tentu lebih banyak lagi. Gagasan awal Kartu Prakerja untuk membekali para pengangguran dengan keterampilan vokasional untuk membantunya dalam mencari pekerjaan atau berwirausaha sudah baik. Namun gagasan baik tidaklah cukup, harus diperhatikan pula ketepatan waktu, ketepatan sasaran, dan keefektifan cara.

Banyak kalangan beranggapan bahwa Kartu Prakerja lebih tepat diimplementasikan dalam keadaan normal, dengan mekanisme melibatkan BLK dan LPK seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Karena pada saat pandemik seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat adalah kebutuhan untuk dapat bertahan hidup day to day, sehingga pola bantuan sosial atau bantuan langsung tunai dinilai lebih relevan. Apalagi anggaran 20 triliun rupiah bukan jumlah yang sedikit. Dengan menghitung standar garis kemiskinan masyarakat Indonesia dari BPS per Maret 2019 sebesar Rp. 425.250 per kapita per bulan, maka anggaran Rp. 20 triliun bisa membantu lebih dari 15,6 juta orang selama 3 bulan. Pemerintah boleh saja berkelit sudah memiliki program bantuan langsung dengan anggaran yang jauh lebih besar, namun itu bukan berarti menjadikan Kartu Prakerja sebagai prioritas.

Belum lagi jika konsep Kartu Prakerja dikuliti lebih detail. Untuk mengakses pelatihan online, dibutuhkan modal berupa perangkat/ gawai, modem/ kuota internet dan jaringan yang stabil. Buat masyarakat yang benar-benar membutuhkan, modal tersebut kemungkinan lebih prioritas digunakan untuk survive dibandingkan ikut pelatihan online. Apalagi Kartu Prakerja diprioritaskan bagi mereka yang tidak mendapatkan bantuan sosial. Di tambah lagi, sebagian besar masyarakat marjinal memiliki keterbatasan fasilitas dan kemampuan dalam mengikuti pelatihan online. Akhirnya, penerima Kartu Prakerja semakin tidak tepat sasaran. Beberapa konten materi pelatihan juga tidak relevan dengan kondisi aktual, misalnya paket teknik melamar pekerjaan. Wong pekerja saja banyak yang dirumahkan dan di-PHK, apa gunanya belajar teknik melamat pekerjaan di saat lowongan kerja tidak tersedia. Atau paket pelatihan ojol yang tidak relevan di masa pandemi Covid-19,  dimana ojek online menjadi salah satu pekerjaan terdampak PSBB. Ada juga pelatihan vokasional yang sifatnya pratik bukan teori, misalnya pelatihan salon dan tata rias. Pembelajarannya tidak akan efektif jika hanya belajar online tanpa praktik.

Sebelum ada Kartu Prakerja, pelatihan vokasional untuk mengurangi pengangguran sudah lama dilakukan pemerintah melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Di akhir tahun 2019, terdapat 303 BLK yang tersebar di seluruh Indonesia, dan Kemenaker menargetkan adanya 2.000 BLK komunitas di tahun 2020. Bahkan dua bulan lalu, Jokowi menjanjikan akan membangun 3.000 BLK komunitas di tahun 2020. Pelatihan vokasional ini biasanya diselenggarakan di lokasi BLK, dan bukan hanya gratis, peserta juga mendapatkan konsumsi dan uang transport. Ada juga yang di lokasi peserta. Sistemnya lebih banyak praktiknya daripada teori. Pelatihannya dipandu instruktur bersertifikasi dengan kurikulum mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sehingga kualitas kompetensi lulusannya lebih dapat dipastikan, sertifikat bukan sekadar formalitas. Seleksi peserta pun bisa lebih tepat sasaran.

Dari berbagai argumentasi di atas, pelaksanaan Kartu Prakerja seharusnya tidak perlu dipaksakan jika pada akhirnya hanya sebatas menggugurkan janji, tidak efektif, dan tidak tepat sasaran. Jika tetap diteruskan dengan format online, akan lebih baik tetap melibatkan BLK dan LPK yang sudah berpengalaman mengisi pelatihan offline. Alih-alih menggandeng mitra platform digital, kondisi saat ini bisa menjadi momentum BLK dan LPK bertransformasi menjawab tantangan era digital. Beberapa softskills dan teori pelatihan vokasional bisa mulai diajarkan secara online. Namun pendalaman kompetensi keterampilan dan sikap sebaiknya tetap dengan praktik langsung. Agar kualitas lebih terjamin. Praktik pelatihan ini barangkali belum cocok dengan situasi wabah Covid-19 saat ini, karenanya sumberdaya yang ada memang sebaiknya diprioritaskan pada program-program yang langsung membantu masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi risiko pandemi Covid-19.

Dan ketika ternyata tidak ada perubahan pola implementasi program Kartu Prakerja, barangkali publik akan semakin bertanya: program ini sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Masyarakat jelas bukan pihak yang paling diuntungkan sebab ada kebutuhan mendesak lainnya. Memang pelunasan janji ini akan memberikan manfaat dibanding dengan program dan kebijakan penanganan wabah Covid-19 lain yang lebih kontroversial. Yah, siapa tahu para narapidana yang telah dibebaskan bisa tertarik mengikuti pelatihan online daripada kembali melakukan aksi kriminal. Atau masyarakat yang masih bandel keluar rumah tanpa menghiraukan protokol penanganan Covid-19 bisa lebih produktif dengan program Kartu Prakerja. Yah, siapa tahu? Dan barangkali memang tidak ada yang tahu mengapa program trial and error ini harus segera diimplementasikan dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan. Selain mereka, pihak yang paling diuntungkan dengan diluncurkannya program Kartu Prakerja ini.

Sungguh aku benci kepada seseorang yang aku lihat sedang menganggur, tidak mengerjakan amal dunia maupun amal akhirat.” (Ibnu Mas’ud)

Sibuk? Tak Punya Waktu? Masuk Sini, Gan!!

Waktu sering kali dianiaya dengan menuduhnya ‘tak ada’ padahal sebenarnya ia hadir, hanya saja kita tidak mau menemuinya” (M. Quraish Shihab)

Berbicara tentang waktu, ada kutipan menarik yang penulis ingat, “Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Kata-kata yang indah, bukan? Masalahnya adalah apakah waktu kita cukup untuk berpikir, bermain, berdo’a, belajar, mencintai dan dicintai, bersahabat, tertawa, memberi,bekerja dan beramal? Belum lagi waktu untuk makan dan minum, beribadah, mandi, dalam perjalanan, berolah raga, istirahat dan tidur. Sepertinya waktu 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk melakukan semua hal yang ingin dan harus kita kerjakan. Membuat agenda dan menyusun jadwal untuk manajemen waktu juga butuh waktu. Dan implementasinya seringkali tidak sesederhana yang tersusun rapih dalam perencanaan. Ada kesibukan dadakan lah, ada target yang belum tercapai lah, ada aktivitas yang harus diulang lah, ada kerjaan yang terhambat di luar kemampuan kita memprediksinya lah, dan berbagai kendala lain yang kerap ditemui dalam upaya mengelola waktu. Lalu harus bagaimana?

Arti pentingnya waktu tidak bisa disangkal tanpa perlu banyak dalil untuk menegaskannya. Kehidupan kita yang serba dibatasi oleh waktu sudah cukup menggambarkan betapa berharganya waktu. Umar bin Abdul Aziz pernah merasa sangat lelah di masa awal pengangkatannya sebagai khalifah sehingga setelah semalaman tidak sempat tidur, menjelang zhuhur ia hendak istirahat sejenak. Belum lagi merebahkan diri, anaknya, Abdul Malik menghampirinya dan mengingatkannya untuk segera mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi oleh khalifah sebelumnya. Umar mengatakan bahwa dirinya sudah tak punya tenaga, setelah shalat zhuhur berjama’ah nanti, hak-hak kaum muslimin akan segera dikembalikannya. Abdul Malik menimpali, “Siapa yang bisa menjamin dirimu akan hidup sampai Zuhur, wahai Amirul Mukminin?“. Serta merta Umar bangkit, mencium dan merangkul anaknya, serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku seseorang yang menolongku dalam beragama“. Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya diumumkan kepada orang-orang bahwa barangsiapa yang merasa teraniaya, hendaklah dia mengajukan perkaranya.

Begitulah kehidupan, mengejar dan dikejar waktu. Tidak ada jaminan kita akan terus memiliki waktu dan tidak ada ketentuan kapan jatah waktu itu akan habis. Waktu yang ada memang terbatas sementara kewajiban terhadap waktu tersebut sangatlah banyak. Dan kewajiban kita ibarat ombak, yang lama belum surut sudah datang lagi yang baru. Seolah tanpa istirahat. Tidak berlebihan jika Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa seorang hamba baru dapat beristirahat setelah kakinya menginjak surga. Kembali ke persoalan menyiasati waktu yang terbatas, cukuplah penulis mengingatkan nasehat Hasan Al Bana, “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan jika anda mempunyai keinginan atau tugas selesaikan segera“.

Dari nasehat tersebut, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyiasati kesibukan kita di tengah waktu yang terbatas. Pertama, kewajiban kita sangatlah banyak, baik terhadap diri kita (fisik, intelektual dan spiritual), kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia, mulai dari orang tua, keluarga, saudara, tetangga, teman hingga manusia pada umumnya. Belum lagi terhadap makhluk hidup dan benda lainnya. Sementara waktu yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Karenanya untuk menyiasati waktu yang terbatas, kita harus pandai mengatur prioritas, tidak harus ngotot memenuhi semua kewajiban secara bersamaan. Memilih prioritas aktivitas yang tepat bisa jadi menyelesaikan beberapa kewajiban sekaligus. Memang semua kewajiban, sekecil apupun, akan dimintai pertanggungjawabannya, namun memilih kewajiban yang diutamakan untuk ditunaikan juga merupakan bagian dari hal yang harus dipertanggungjawabkan.

Kedua, tidak semua hal mampu kita lakukan dan tidak segala kewajiban dapat kita selesaikan. Disinilah kita membutuhkan orang lain, mulai dari mengingatkan, mendukung, hingga secara langsung membantu kita dalam mengatur waktu, memilih prioritas dan menyiasati kesibukan. Ada kewajiban-kewajiban yang memang hanya dapat diselesaikan dengan bantuan orang lain, karenanya saling membantu menjadi kekuatan penting untuk menyelesaikan banyak kewajiban dengan waktu terbatas. Ketiga, prokrastinasi atau suka menunda merupakan musuh terbesar pengelolaan waktu. Padahal kita tidak tahu persis kapan waktu kita akan habis. Penundaan akan menyebabkan berbagai tugas akan menumpuk dan semakin sulit untuk diselesaikan. Karenanya, ‘jangan menunda’ menjadi syarat penting untuk menyiasati kesibukan yang padat di tengah waktu yang singkat.

Selain ketiga hal di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan dalam pengelolaan waktu, yaitu bijak dalam menyikapi waktu luang. Waktu luang merupakan salah satu nikmat yang kerap terabaikan (HR. Bukhari), padahal sikap sembrono terhadap waktu luang justru mempersulit terpenuhinya tugas dan kewajiban. Salah satu waktu luang yang dapat dioptimalkan untuk pemenuhan kewajiban adalah ketika menunggu dan berdiam diri (termasuk ketika di toilet) serta waktu dalam perjalanan. Potensi untuk mengoptimalkan serpihan waktu luang juga dapat kita peroleh dari aktivitas menonton TV dan menggunakan intenet yang tidak jarang kontraproduktif. Selain itu juga perlu diperhatikan pengelolaan konsentrasi dan pengoptimalan waktu tidur untuk meminimalisir penggunaan waktu yang tidak bermanfaat. Untuk dua hal terakhir, sepertinya perlu ada pembahasan khusus di lain kesempatan.

Penggunaan waktu yang tepat akan mengantarkan pada kesuksesan sementara penyelewengan terhadap waktu hanya akan mempersulit hidup. Tugas dan kewajiban yang sedemikian banyak hanya dapat disikapi dengan pandai dalam menentukan prioritas, saling membantu, tidak suka menunda dan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang kita miliki. Syarat-syarat tersebut terkesan berat, terlalu serius dan sulit untuk dilakukan. Karenanya, ada hal lain yang perlu mengimbanginya: sikap bersyukur dan menikmati segala kesibukan kita. Banyaknya kewajiban akan meningkatkan kualitas diri kita, akan memuliakan kita, karenanya patut disyukuri, layak untuk dinikmati. Waktu kita terbatas, alangkah tidak berharganya hidup tanpa amal produktif. Sikap bersyukur dan menikmati kesibukan sama artinya dengan menghargai hidup. Waktu adalah karunia yang telah diberikan oleh Sang Pemilik Waktu dan keberadaannya pasti. Kita perlu mengelolanya dan kita akan mempertanggungjawabkannya. Waktu sebenarnya selalu tersedia, hanya saja mungkin kita kurang mencarinya. Waktu selalu ada, kecuali bagi para pemalas dan mereka yang suka menunda. Dan waktu selalu hadir, bagi mereka yang senantiasa mencoba mengisinya dengan aktivitas produktif.

The man who says he never has time is the laziest man” (Lichterberg)

Kebijakan Revitalisasi Pendidikan di Beranda Indonesia, Efektifkah?

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan merevitalisasi perguruan tinggi yang ada di perbatasan, pulau terluar, dan terpencil menjadi beranda depan Indonesia dengan meningkatkan mutu pendidikan tingginya. Saat ini, sudah enam perguruan tinggi di wilayah perbatasan yang diubah statusnya menjadi PTN, yaitu Politeknik Nusa Utara di Sangihe, Universitas Musamus di Merauke, Universitas Borneo di Tarakan, Universitas Bangka Belitung, Poltek Batam dan Poltek Riau (Seputar Indonesia, 12/9). Sebelumnya, Kemendiknas juga sudah menandatangani kerja sama dengan TNI untuk pendidikan di wilayah perbatasan. TNI akan membantu pelaksanaan program layanan pendidikan dari tiap-tiap unit utama, menyediakan fasilitas yang diperlukan sesuai dengan ruang lingkup kerja sama (Republika, 7/9). Berbagai upaya itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM di wilayah perbatasan.

Potret buram pendidikan di wilayah perbatasan bukan hal baru. Beranda terdepan Indonesia itu seolah menjadi gudang (ter)belakang. Bagaimana tidak, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia misalnya, mencetak hatrick sebagai provinsi dengan angka kelulusan UN terendah. Angka melek huruf disana tidak beranjak dari 85.5%, padahal pemerintah mengungkapkan bahwa 92.7% masyarakat Indonesia sudah melek huruf. Itu belum seberapa, data dari Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, lebih ironis. 30% masyarakatnya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf, 5 – 10% anak usia pendidikan dasar putus sekolah. Masih banyak lagi fakta yang sudah ataupun belum terungkap dari beranda negara ini, dari 34 kota/ kabupaten di 12 provinsi yang berbatasan dengan 10 negara tetangga. Ya, beranda itu berantakan, mirip kapal pecah. Mulai dari keterbatasan sarana dan fasilitas, akses pendidikan dan kesehatan yang begitu sulit hingga minimnya kesejahteraan.

Lalu, apakah langkah mengubah status perguruan tinggi dan melibatkan TNI dalam mengajar adalah langkah yang tepat? Tergantung sejauh mana implementasinya menyentuh hal mendasar yang perlu menjadi perhatian dalam membangun pendidikan di wilayah perbatasan. Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga kata kunci untuk membenahi beranda Indonesia. Kata kunci pertama adalah pemerataan. Menurut laporan World Bank tahun 2008, di Indonesia terdapat 55% sekolah yang memiliki kelebihan tenaga guru, namun ironisnya 66% sekolah terpencil justru kekurangan guru. Hal itu jelas memperlihatkan ketimpangan dalam pemerataan SDM. Belum lagi bicara pembangunan dan ekonomi. Tak mengherankan anak – anak usia sekolah di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat lebih memilih sekolah di Malaysia dengan alasan sederhana : fasilitas lengkap & gratis. Ketimpangan ini jelas terlihat di wilayah perbatasan yang hidup dalam rumah kayu tanpa penerangan dan untuk mencapainya harus melewati jalan penuh batu dan semak belukar. Sementara hanya terpaut beberapa meter di seberang sana, rumah dan halaman tersusun rapi, jalan halus berlapis aspal dan listrik selalu tersedia. Upaya membangun pendidikan di wilayah perbatasan –apapun bentuknya– harus mengupayakan pemerataan pembangunan dan kualitas pendidikan.

Kata kunci kedua adalah prioritas. Hal mendasar yang perlu dibenahi untuk memajukan pendidikan di wilayah perbatasan adalah pada aspek paradigma dan mentalitas. Ketika pendidikan belum dipandang sebagai prioritas, maka upaya perbaikan akan mengalami kebuntuan. Lihat saja kasus disegelnya satu – satunya SMP Negeri di Sangihe yang berbatasan dengan Filipina karena masalah hak milik tanah. Puluhan anak sekolah terlantar hanya karena kepentingan pribadi, dan itu masalah mentalitas. Kesiapan mental itu juga yang menyebabkan menurunnya jumlah guru di Kalimantan Barat karena lebih memilih mengajar di kota atau menyeberang ke Malaysia. Padahal kebutuhan guru di wilayah perbatasan sedikitnya 2000 orang dan tidak mungkin hanya mengandalkan TNI atau ‘guru instan’ dari ibukota yang belum teruji dedikasinya. Selanjutnya, menyelesaikan pendidikan dasar jelas lebih prioritas dibanding membangun pendidikan tinggi. Paradigma masyarakat wilayah perbatasan bahwa tujuan sekolah sebatas bisa baca tulis perlu diluruskan. Belum perlu berkoar tentang membangun SDM berkualitas sementara masih banyak yang buta huruf. Belum perlu bangunan sekolah yang megah sementara ribuan anak sekolah masih harus berjalan ribuan meter melewati bukit dan hutan untuk dapat menikmati layanan pendidikan. Tak perlu janji – janji pendidikan gratis sementara mendapati anak – anak yang mau, mampu dan sempat bersekolah saja sudah alhamdulillah. Selanjutnya, melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pendidikan lebih prioritas daripada memanjakan masyarakat sehingga menimbulkan ketergantungan pada bantuan dari pusat.

Kata kunci ketiga adalah kesungguhan. Kesungguhan ini akan melahirkan komitmen yang akan memastikan perbaikan yang kontinyu. Contoh sederhana dapat dilihat dari kontrol anggaran pendidikan 20% dari APBN dan berbagai janji untuk memprioritaskan wilayah perbatasan. Realitanya, dana BOS saja tidak sepenuhnya dapat dirasakan manfaatnya sehingga tidak mengherankan hampir separuh ruang kelas SD – SMP di wilayah perbatasan dalam kategori rusak. Kesejahteraan guru juga masih jadi mimpi di siang hari. Provinsi Papua bahkan hanya menganggarkan 6% dari APBDnya untuk pendidikan. Pembangunan pendidikan setengah hati ini dapat dirasakan oleh masyarakat sehingga keterlibatan mereka pun setengah hati. Padahal perbaikan hanya dapat optimal jika ada partisipasi aktif dari seluruh komponen terkait.

Perubahan status perguruan tinggi takkan memberi manfaat yang signifikan jika pemerataan pembangunan tidak dilakukan. Lulusannya hanya akan menambah jumlah pengangguran terdidik jika tidak ada saluran implementasi keilmuannya. SDM berkualitas yang didambakan pun bisa jadi memilih untuk keluar dari wilayah perbatasan untuk dapat membangun karir dan profesinya, jika tak ada yang dapat dikembangkan di tanah kelahirannya. Hadirnya PTN di wilayah perbatasan takkan berarti apa – apa jika pendidikan dasar dan menengah tidak dibangun. Angka partisipasi pendidikan tinggi di Kaltim saja yang merupakan provinsi dengan pendapatan daerah tertinggi hanya 2%. Akhirnya hanya akan timbul pertanyaan untuk siapa PTN di wilayah perbatasan. Gagasan revitalisasi perguruan tinggi juga hanya akan menjadi wacana tanpa kesungguhan. Membangun PTN berkualitas tidak mudah dan tidak murah. Butuh kesiapan jiwa untuk bisa menjadi peserta didik dan pendidik di wilayah perbatasan. Tidak terkecuali anak – anak yang harus berjuang untuk bisa memperoleh pelajaran. Tidak terkecuali TNI yang didaulat menjadi guru dadakan. Namun dengan kesungguhan, semua orang bisa menjadi peserta didik dan pendidik. Dan dengan kesungguhan, cita mulia mencetak generasi unggul dapat menjadi nyata.

Tawazun (Keseimbangan)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan yang payah.”
(QS. Al Mulk : 3 – 4)

* * *

Secara alamiah, kehidupan ini penuh dengan keseimbangan, selalu ada sisi yang akan dilengkapi dengan sisi yang lain. Ada panas, ada dingin. Ada siang, ada malam. Ada laki – laki, ada perempuan. Ada miskin, ada kaya. Ada tua, ada muda. Dan seterusnya. Dalam falsafah Tao pun dikenal istilah Yin dan Yang, yang menggambarkan dua sisi yang saling melengkapi tersebut. Secara alamiah, keseimbangan ini terjaga. Perhatikan bagaimana keteraturan susunan tubuh, keteraturan tata surya, komposisi udara ataupun konfigurasi elektron. Kesemuanya menuju titik keseimbangan. Sikap berlebihan manusia lah yang kerap mengganggu keseimbangan tersebut sehingga menimbulkan kerusakan.

Pun demikian halnya dengan manusia, secara fitrahnya ia terlahir dalam keadaan seimbang. Baik ruh, fisik, maupun akalnya. Sikap manusia dalam pemenuhan unsur – unsur dirinya lah yang kemudian menyebabkan ketidakseimbangan. Akhirnya ada dikotomi antara pemenuhan fungsi manusia sebagai individu dengan fungsi sosialnya, atau antara amanah dengan prestasi akademisnya, atau antara pekerjaan dengan keluarganya, atau antara akal dengan keimanannya, atau bahkan antara dunia dengan akhiratnya. Dikotomi ini yang kerap memaksa kita dihadapkan pada pilihan. Seolah aspek kehidupan kita saling melemahkan, seakan lini kehidupan kita saling meniadakan.

Belajar Dari Pemain Sirkus
Keseimbangan tercipta ketika kita dapat menempatkan segala sesuatunya secara proporsional. Analogi sederhana yang kerap digunakan adalah neraca, dimana kita harus mengatur porsi tertentu untuk setiap item yang akan kita seimbangkan, tidak harus sama tentunya, sehingga kondisinya stabil pada satu titik keseimbangan. Tugas kita selanjutnya adalah menjaga keseimbangan dari pola yang sudah tercipta dengan cara menjaga proporsi item yang akan diseimbangkan. Ketika ada yang lebih berat, maka yang perlu dilakukan adalah menambah porsi di bagian yang lebih ringan atau mengurangi porsi di bagian yang berat tersebut sehingga neraca kembali seimbang.

Menurut hemat penulis, analogi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Item – item yang harus diseimbangkan tidaklah statis, sehingga sebenarnya tidak ada porsi baku untuk setiap item. Titik keseimbangan hidup kita secara dinamis terus berubah, hari ini tidak sama dengan tahun lalu dan akan berbeda pula dengan tahun depan. Analogi yang lebih mendekati adalah pemain sirkus yang berdiri di atas papan bundar yang di bawahnya ada sebuah bola besar yang membuatnya terus bergerak secara seimbang. Di atas papan itulah terbagi komponen kehidupan kita yang harus diseimbangkan, komposisinya bisa jadi berbeda – beda seiring berjalannya waktu, baik ukuran maupun kontennya. Komponen karir misalnya, mungkin kontennya belum ditemui ketika kita masih bayi dan ukurannyapun akan berbeda ketika masa sekolah dengan ketika baru masuk kerja, dan sebagainya.

Menariknya dalam analogi ini, keseimbangan hanya dapat diperoleh dengan bergerak, hampir tidak ada kondisi statis seimbang. Komponen yang diseimbangkanpun bergerak harmonis karena terletak di satu papan yang sama, sehingga pergerakan satu atau lebih komponen pasti diikuti dengan pergerakan komponen yang lain. Posisi keseimbangan setiap detik bisa berubah, namun kondisinya tetap sama, pemain sirkus itu tidak jatuh ke tanah. Lebih jauh lagi, pada saat pemain sirkus menjaga keseimbangan dengan kakinya, tangannya tidak tinggal diam melakukan ‘juggling’ (teknik melempar, menangkap dan memutar bola). Dan semuanya menjadi lebih menarik. Fokus terhadap beberapa hal sekaligus ternyata membiasakannya untuk mengatur keseimbangan dari alam bawah sadarnya.

Menjadi Pribadi yang Seimbang
Keseharian kehidupan manusia yang meliputi individu, keluarga, profesi, sosial dan sebagainya dituntut untuk dijalani secara seimbang sehingga tidak ada yang terlantarkan. Namun upaya mencapai keseimbangan ini tidaklah gampang, membagi segala sesuatunya sesuai proporsi bukanlah hal yang mudah, menempatkan skala prioritas dengan tepat butuh pengambilan keputusan yang cermat. Penulis mencatat ada beberapa syarat untuk mencapai keseimbangan dalam hidup. Syarat pertama adalah mengenal diri, memahami kelebihan dan kekurangan diri guna mengoptimakan peluang dalam mencapai impian. Disinilah konsep diri seseorang akan menetapkan proporsi tiap komponen diri dan prioritas hidup yang kemudian akan menentukan pola keseimbangan hidup.

Setelah memahami kondisi diri, sikap mental positif menjadi syarat berikutnya. Secerdas apapun perencanaan yang disusun, upaya untuk mencapai keseimbangan hidup tidak akan mulus. Bukan hanya berbagai keterbatasan diri yang kerap menjadi tantangan untuk dilampaui, akan banyak terpaan energi negatif dari luar sana ketika kita hendak menjadi pribadi yang unggul dalam banyak aspek kehidupan. Disinilah optimisme, kejernihan pikiran dan kebesaran jiwa akan memegang peranan penting. Sikap mental positif ini kemudian perlu didukung dengan syarat berikutnya, penyikapan yang positif dalam bentuk kedisiplinan. Disiplin dalam menjalankan perencanaan, disiplin dalam mengedepankan prioritas, disiplin dalam mengalokasikan sumber daya sesuai porsinya dan disiplin dalam menghindari sikap berlebih – lebihan. Akan selalu ada rongrongan kelemahan dan kemalasan yang menghambat kita dalam mencapai tujuan, kedisplinan dalam menghadapi berbagai godaan yang merusak keseimbangan mutlak diperlukan.

Syarat selanjutnya adalah terus bergerak guna menciptakan kebiasaan positif untuk mencapai keseimbangan. Semakin banyak komponen yang perlu diseimbangkan, gerak semakin dinamis dan akselerasi pembiasaan pun akan semakin cepat. Kita akan mendapati teladan keseimbangan hidup pada seseorang dengan banyak aspek keunggulan, dengan ritme aktivitas yang cepat dan terus bergerak dengan produktif. Tidak hanya itu, kita juga akan mendapati mereka menikmati aktivitas produktif tersebut. Ya, keseimbangan hidup hanya dapat diperoleh mereka yang tidak menjadikan kesibukannya sebagai beban, semuanya dijalani dengan penuh kegembiraan. Last but not least, untuk menjadi pribadi yang seimbang, butuh alokasi waktu khusus untuk introspeksi diri. Mencermati kembali kondisi diri akan menghadirkan pribadi yang terus berusaha meningkatkan kualitas diri. Menata kembali mentalitas akan melahirkan semangat dan energi positif yang menanti untuk disalurkan. Mengevaluasi kedisiplinan akan menghasilkan banyak pembelajaran guna perbaikan di masa yang akan datang. Merenungi aktivitas yang sudah dijalani akan mendatangkan kekuatan untuk meningkatkan produktivitas tanpa kehilangan keseimbangan. Sesibuk apapun, harus ada waktu yang diluangkan untuk kontemplasi yang akan menciptakan keseimbangan hidup baru yang lebih tinggi.

Fitrahnya manusia diciptakan dalam keadaan seimbang, karenanya menjaga keseimbangan dalam hidup merupakan perwujudan dari kesyukuran. Mereka yang hidupnya seimbang akan meraih kebahagiaan lahir batin yang merupakan salah satu tanda kesuksesan. Ketenangan dan keharmonisan hidup pun serta merta dapat diraih. Mereka yang hidupnya seimbang akan memiliki ’nafas lebih lama’ dalam menyelami samudera kehidupan yang penuh dengan cobaan. Tidak mudah memang, namun keseimbangan hidup bukanlah sesuatu yang mustahil untuk direalisasikan, tinggal bagaimana kita memenuhi syarat – syaratnya. Mari kita kembalikan keseimbangan dunia dengan terlebih dahulu menyeimbangkan diri kita.

* * *

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahman : 7 – 9)

Tentang Amal

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk 1 – 2)

Saudaraku,
Marilah sejenak kita perhatikan diri kita. Hidup kita menjelang mati kita. Sungguh, tidak ada yang akan menemani kita di liang kubur selain amal kta. Bukan harta kita, tidak pula orang – orang yang kita cintai. Bekal hidup setelah mati adalah amal. Amal baik yang mengantarkan kepada ridho-Nya atau amal buruk yang akan menggiring kepada kemurkaan-Nya…

Saudaraku,
Ada dua hal yang seharusnya mendahului segala amal, yaitu ilmu dan keikhlashan. Ilmu akan melahirkan amal yang benar, tidak ternoda bid’ah, sesuai dengan ketentuan syar’i dan prioritas amal. Ilmu akan mengorientasikan amal sehingga tidak salah arah. Tidak akan berguna amal yang tidak dilandasi dengan ilmu, tidak akan terjaga kontinuitasnya, tidak akan diterima oleh Allah. Beruntunglah mereka yang senantiasa mencari ilmu, mempelajari dan mengajarkannya, serta mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Karena ilmu juga tidak cukup tanpa amal…

Saudaraku,
Keikhlashan mungkin mudah diucapkan, namun sulit untuk dijalani padahal ikhlash menjadi syarat diterimanya amal. Keikhlashan akan melipatgandakan kekuatan amal, memeliharanya dari awal hingga akhir. Betapa banyak amal besar yang menjadi kecil nilainya di mata Allah karena ketidakmurnian niatnya. Betapa banyak pula amal kecil yang menjadi besar nilainya di mata Allah karena ketulusan niatnya. Bahkan, Iblispun sudah bersumpah akan menyesatkan seluruh umat manusia, kecuali mereka yang ikhlash. Beruntunglah mereka yang senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan setiap aktivitasnya. Sebagai gantinya, Allah pasti akan memberikan berbagai pertolongan dan kemudahan terhadap segala urusannya…

Saudaraku,
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan banyak ganjaran bagi mereka yang beramal shaleh. Amal shaleh akan mendatangkan ampunan dari Allah, akan menambah rizki dan karunia-Nya serta hidayah-Nya. Amal shaleh jua yang menjadi syarat diberikannya kekuasaan yang diberkahi oleh Allah SWT. Belum lagi limpahan kebaikan yang akan terus mengalir karena amal baik pasti akan membawa kepada kebaikan yang lain sebagaimana amal buruk akan menggiring kepada keburukan lainnya. Masihkah kita tak termotivasi untuk beramal?

Saudaraku,
Mari perhatikan kualitas amal kita. Betapa sering terjebak pada amal jasadi. Shalat tanpa kehadiran hati, shaum yang hanya berbuah lapar dan dahaga, shadaqoh yang sarat dengan riya. Padahal Allah tidak melihat jasad dan bentuk, melainkan hati. Tidak akan sama mereka yang mencuri dalam shalatnya dengan yang khusyu dalam shalat. Atau mereka yang banyak berkoar-koar melakukan kebaikan dengan yang menyembunyikan amal terbaiknya dari pandangan manusia. Ya, tidaklah sama mereka yang terobsesi dengan kuantitas dan amalan jasadi dengan yang memprioritaskan kualitas dan amalan hati…

Saudaraku,
Sekarang mari perhatikan signifikansi pengaruh amal kita. Betapa banyak amal shaleh yang tidak men-shalehkan. Padahal kita tidak dapat hidup sendirian dan tak mungkin masuk surga sendirian. Padahal sebaik-baik manusia adalah yang paling luas kontribusinya bagi sekitarnya. Padahal kebermanfaatan kita untuk orang lain akan banyak memberi manfaat bagi diri kita. Ya, kita akan tertolong dengan menolong orang lain. Sungguh naif jika kita hanya beramal untuk diri kita sementara ada peluang amal yang lebih luas manfaatnya …

Saudaraku,
Pernahkah kita mendengar kisah tentang seorang pelacur yang kemudian diampuni Allah dan dimasukkan ke dalam surga karena memberi minum seekor anjing? Atau seseorang yang diselamatkan oleh persaksian bulu matanya kala si pendosa pernah menangis karena takut kepada Allah? Ternyata tak ada amal yang pantas untuk diremehkan. Kita tak pernah tahu amal kita yang mana yang akan mendatangkan keridhoan-Nya, atau amal mana yang akan mengantarkan kita ke surga-Nya…

Saudaraku,
Mari tetap beramal dalam kondisi apapun. Buta mata bukan alasan untuk meninggalkan shalat berjamaah. Cacat kaki bukan dalih untuk meninggalkan medan jihad. Bahkan jika sekiranya kiamat datang esok hari dan di tangan kita masih ada benih yang dapat ditanam, maka tanamlah. Pun benih itu mungkin belum akan sempat tumbuh, namun yakinlah tidak ada amal baik yang sia – sia. Ironisnya, kita kerap lemah beramal padahal hanya dihadapkan pada kilau gemerlap dunia…

Saudaraku,
Tidak ada kata lelah dalam beramal. Jadikan istirahat sebagai amal sebagaimana pesan Rasulullah kepada Bilal untuk menjadikan shalat sebagai istirahatnya. Beramal saja, lakukan yang terbaik, biarkan Allah yang mengatur tempat peristirahatan kita kelak. Kontinyuitas amalpun harus tetap terjaga sehingga kita terhindar dari amalnya orang munafik. Sekedar mengikuti trend ibadah, semangat ketika ramai, kendur ketika sendirian. Apa bedanya dengan beramal karena orang lain…

Saudaraku,
Mari kita terus beramal dan terus meningkatkan kualitas amal shaleh kita. Melandaskan amal kita dengan ilmu dan melengkapi ilmu kita dengan amal. Mengikhlashkan segala amal kita dan beramal sebagai bukti nyata keikhlashan kita. Mengisi amal jasadi kita dengan amal hati dan mewujudkan amalan hati kita dengan amal jasadi. Menshalehkan orang lain dengan amal shalih kita sambil terus men-shalihkan diri kita. Memberikan manfaat luas dengan amal kita, menjaga konsistensi amal kita dan tidak lemah beramal dalam kondisi apapun. Sesungguhnya Allah tidak akan membebani kita melebihi kemampuan kita. Dan Allah tak akan menyiakan amal kebaikan sekecil apapun…

Saudaraku,
Sudahkah kita persembahkan yang terbaik dari amal – amal kita?

”Dan Katakanlah: ’Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan’.” (QS. At Taubah : 105)

Wallahu a’lam bi shawwab

Secercah Kenangan di Penghujung SMU (1/4)

”…Dan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Mujadilah : 11 – 12)

“Si Dullah anak musholla, rajin ibadah giat berdakwah, status mahasiswa tapi jarang kuliah, ujian tak tahu apa-apa. Si Mukhlis aktivis ROHIS, rutin puasa Senin dan Kamis, tiap ujian dia cuma meringis, tak tahu apa yang harus ditulis. Bukan gitu muslim yang sejati, tak seimbang akhirat dan dunia. Bikin orang hilang rasa simpati karena lihat ketertinggalannya” (Nasyid Kaca Diri)

Senin, 12 Maret 2001
Diri ini tertegun. Ku coba renungi nasihat Bapak yang mengawali hari ini. ” … Wali kelasmu bilang sebenarnya kamu bisa ranking 1 tapi kamunya yang tidak mau nurut ama orang tua dan guru untuk ngelepas kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan akademis, tidak meremehkan pelajaran dan tidak merasa sempurna… ”, ujar beliau. Dua hari lalu, Bapakku datang ke sekolah untuk mengambil raport catur wulan II. Dengan nilai yang turun 3 poin, akupun terlempar dari peringkat 3 besar yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti PMDK ke UI. Dan aku sudah merelakannya, kelasku memang kelas unggulan, tentunya tidak mudah bersaing.

Aku adalah seorang siswa kelas III IPA di sebuah SMAN favorit di Depok. Dibanding teman – teman lain yang memperoleh ranking, aku memang terbilang lebih aktif. Menurutku, tidak ada dikotomi antara akademis dengan organisasi. Toh prestasi terbaikku menjadi juara umum di sekolah justru terjadi ketika kelas II, saat lagi aktif – aktifnya. Hingga kelas III pun ternyata tidak mudah meninggalkan adik – adik begitu saja dan menghentikan aktivitas lain untuk hanya fokus belajar. Aku menyukai matematika dan aktif di kegiatan keislaman, bahkan kerap dijadikan rujukan. Makanya ketika pagi ini Bapak bertanya kenapa nilai agama dan matematikaku bisa turun, aku tak bisa menjawabnya.

”Terus satu lagi, wali kelas kamu bilang sebenarnya dia sangat salut sama kamu, tapi nilai kamu harus turun karena tidak menyukseskan program sekolah. Memangnya kamu ngapain sih di sekolah?”, lanjut ayahku tadi pagi. Aku hanya terdiam. Ketika ada masalah, aku kerap bertanya pada hati, apa yang sebenarnya terjadi. Dan shalat maghrib hari ini menjadi begitu syahdu, ada kesadaran dan motivasi untuk mengembalikan cahaya keteladanan yang meredup, menjawab harapan yang begitu besar. Air mata ini tak sanggup lagi kubendung dihadapan-Nya, Dzat Yang Maha Mengetahui yang Zhohir dan Yang Bathin, Dzat yang Maha Pengampun dan Pemilik Segala Ilmu dan Kekuatan…

* * *

Pikiranku melayang ke belakang. Catur wulan kedua ini ruhiyah dan hatiku memang tidak dalam kondisi cukup terjaga. Fitnah wanita bahkan sempat keras menerpa. Belum lagi kasus dengan guru karena bolos untuk sekedar menenangkan pikiran. Kasus dengan guru memang bukan hal baru, aku menyebutnya sebagai dinamika semasa sekolah. Namun kelas III ini agak berbeda, terlalu banyak kasus antara siswa seangkatanku dengan pihak sekolah maupun guru. Tak heran jika salah satu program sekolah batal diadakan. Ya, dan nampaknya pihak sekolah menganggapku salah seorang yang bertanggung jawab atas gagalnya program sekolah tersebut.

Pernah suatu ketika, saat kami masih di kelas II, sekolahku hanya dihuni angkatanku karena kelas I dan kelas III melakukan karya wisata. Dan untuk menghapus kesan diskriminatif terhadap angkatanku, nampaknya pihak sekolah juga ingin kami melakukan karya wisata ketika kelas III. Memang angkatan 2001 dikenal sebagai ’angkatan revolusioner’ karena sikap ekspresifnya sekaligus sebagai ’angkatan 38’ yang diremehkan karena jarang sekali sekolahku menerima NEM masuk dibawah 40, dan untuk angkatanku NEM 38 pun masih diterima.

Pembahasan tentang karya wisata dalam rapat perwakilan kelas dimulai di akhir November lalu ketika kelasku tengah ulangan Biologi. Bagiku tidak cukup representatif, karena kelasku tidak mendapatkan kesempatan berbicara, apalagi hak suara, padahal mantan aktivis berkumpul di kelasku. Sebut saja mantan ketua OSIS, wakil ketua I OSIS, wakil ketua II OSIS, Sekum OSIS, Bendum OSIS, Kaput ROHIS, Ketua Pramuka, Ketua Pecinta Alam dan beberapa orang yang punya pengaruh di angkatan lainnya berkumpul di kelasku. Akhirnya kami terpaksa menerima keputusan adanya karyawisata ke Pangandaran pertengahan Maret ini.

Konon, keputusan ini dicetuskan oleh teman– teman non muslim yang memang berencana menjadikan pantai sebagai tema foto untuk buku tahunan. Karenanya mereka berdatangan pas rapat perwakilan kelas. Dan yang namanya pantai, image tentang adab pergaulan, lingkungan dan busana cenderung tidak baik. Teman – teman ROHIS sendiri terpecah, ada yang ingin memboikot ada juga yang hendak menjaga teman – teman yang lain. Aku punya sikap sendiri yang selalu kusampaikan jika ada seseorang yang meminta pendapatku. Bagiku, karya wisata kali ini bukan prioritas baik dari sisi waktu maupun dari sisi biaya. Dari sisi waktu tidak tepat karena menjelang EBTA dan EBTANAS. Dari sisi biaya (200 ribu rupiah/ siswa) tidak tepat karena ada alokasi dana lain yang lebih bermanfaat, misalnya untuk masuk bimbingan belajar atau untuk persiapan masuk perguruan tinggi.

Dalam silaturahimku ke rumah beberapa guru ketika lebaranpun kuungkapkan hal yang sama ketika ditanya tentang keikutsertaanku dalam karya wisata. Alhasil, walau sudat edaran untuk orang tua sudah beredar, respon dari teman – teman relatif minim. Aku bersama teman – teman eks. OSIS pernah diajak berdiskusi dengan pihak sekolah. Untuk permasalahan biaya disepakati adanya subsidi silang, namun secara pribadi sikapku tidak berubah. Sampai akhirnya ada gejala akan batalnya kegiatan karya wisata yang sudah sekolah rencanakan.

Masih teringat ketika wali kelasku masuk ke kelasku untuk mendata siapa saja yang mau ikut karya wisata. Beberapa teman mengacungkan jarinya, banyak yang tidak mengacung dan sisanya malah memandang ke arahku yang tidak mengacung. Jelas saja, aku ditanya langsung di depan kelas kenapa tidak mau ikut. Ya, tidak ada alasan lain, aku ungkapkan sikapku. Wali kelasku sempat mendebat dengan berbagai argumen, tapi kupikir teman – teman sudah cukup paham pandangan mana yang lebih rasional. Akhirnya, wali kelas menyerah untuk membujukku. Kemudian ketika beliau mencoba mendata ulang teman sekelasku yang mau ikut karya wisata, hanya sedikit sekali yang mengacungkan jari. Beberapa orang yang awalnya sempat mengacungkan jari, hanya memandang ke arahku. Dan akupun tertunduk. Singkat kata, karya wisata dibatalkan. Dari informasi yang kuterima, sekolah rugi beberapa juta karena sudah survey, mem-booking transportasi dan penginapan. Aku yang tidak merasa – sengaja — mengompori teman – teman yang lain, seharusnya tidak dapat disalahkan. Namun nampaknya harus ada yang dijadikan kambing hitam. Ya sudahlah…

(to be continued)