Tag Archives: produktif

Monitoring dan Evaluasi Produktif (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Dalam catatan sejarah, shalat Jum’at dengan jama’ah terbanyak pernah terjadi pada tahun 1453 sekitar 1,5 km di depan benteng Konstantinopel. Sejarah juga mencatat kisah inspiratif di balik terpilihnya Sultan Muhammad sebagai imam shalat dengan jama’ah sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn tersebut. Awalnya, tidak ada yang berani menawarkan diri hingga Sultan Muhammad meminta seluruh kaum muslimin yang hadir saat itu untuk berdiri seraya berkata, “Siapa di antara kalian yang sejak akil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”. Ternyata tak seorang pun yang duduk. Sultan Muhammad kemudian melanjutkan, “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silakan duduk!”. Sebagian kaum muslimin pun duduk. Beliau pun melanjutkan, “Siapa diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”. Semua kaum muslimin pun duduk kecuali Sultan Muhammad –yang bergelar Al Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel—yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan kemudian dipilih sebagai imam.

Di luar dari inspirasi keteladanan seorang Muhammad Al Fatih, kisah di atas juga menunjukkan pentingnya evaluasi sebagai dasar pembuatan keputusan. Sudah banyak referensi tentang definisi, urgensi, variasi hingga tahapan implementasi dalam monitoring dan evaluasi yang biasa disingkat monev. Sayangnya, berbagai teori tersebut tidak lantas memberikan gambaran utuh tentang monev yang efektif. Jika kita mencermati Deming Cycle atau siklus PDCA misalnya, tahapan Check memegang peranan penting dalam melahirkan suatu perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement). Dalam konsep POAC atau POACE misalnya, Control dan Evaluation menjadi salah dua fungsi utama dalam manajemen yang tak tergantikan. Hal ini menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan.

Ada motivasi dan inspirasi perbaikan yang menyertai aktivitas monev. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) saat berkumpul bersama para shahabat selepas shalat subuh. Kala itu, hanya Abu Bakar As-Siddiq r.a. yang didapati tengah berpuasa, sudah menjenguk orang sakit dan bersedekah sepagi itu sehingga Rasulullah SAW menggembirakannya dengan balasan surga. Evaluasi yang sangat memotivasi sahabat lainnya. Evaluasi juga beliau lakukan dalam berbagai kesempatan mulai dari bacaan Al Qur’an, pemahaman agama, hingga dalam pemilihan duta dakwah dan pasukan perang. Pentingnya evaluasi ini juga tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Tirmidzi).

Adapun monitoring telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. jauh sebelum istilah blusukan dikenal. Ada berbagai kisah inspiratif dari aktivitas monitoring yang dilakukan Khalifah Umar r.a. Salah satu yang dikenal adalah kisahnya dengan janda yang memasak batu untuk membuat anaknya tertidur sehingga Umar r.a. langsung memikul karung gandum, menyerahkannya kepada janda tersebut, bahkan memasakkannya untuk makan anak dari perempuan tua tersebut. Ada berbagai kisah blusukan Umar Al Faruq lainnya, di antaranya dengan perempuan tua yang buta, dengan ibu yang hendak menyapih anaknya ataupun dengan ibu yang hendak melahirkan. Kisah lain yang juga masyhur adalah monitoring yang mengantarkan Umar memperoleh menantu. Muraqabatullah yang ditunjukkan seorang gadis penjual susu yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susunya dengan air, menjadi penyebab Khalifah Umar menikahkan anaknya dengan gadis tersebut. Monitoring yang berkah. Apalagi dari pernikahan tersebut kelak lahir Ibunda dari sosok Umar bin Abdul Aziz yang melegenda.

Monitoring dan evaluasi dapat menghadirkan banyak inspirasi perbaikan asalkan dilakukan tidak sekadar rutinitas, formalitas, apalagi hanya untuk menggugurkankewajiban sekaligus jalan-jalan. Agenda monev juga dapat berujung pada perbaikan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya ketika ada tindak lanjut konkret yang menyertai implementasi monev. Salah satu kisah monev penuh hikmah dapat kita temui dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. yang cukup panjang dituturkan dalam Al Qur’an Surah An Naml. Nabi Sulaiman a.s. dikaruniai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (QS. An Naml: 15), bahkan memahami bahasa binatang (QS. An Naml:16) dan menjadi pemimpin bagi para jin dan manusia. Nabi Sulaiman a.s. biasa mengatur dengan tertib tentaranya dari para jin, manusia dan burung (QS. An Naml: 17), hingga suatu ketika beliau tidak menemukan Hud-hud di barisan burung (QS. An Naml: 20).

Hikmah pertama dari monev ala Nabi Sulaiman a.s. adalah konsistensi dalam mengevaluasi. Tanpa konsistensi dan mengenal benar personil yang dibawahinya, tidak mungkin akan terdeteksi ketidakhadiran seekor burung kecil dengan jambul ini. Konsistensi ini juga ditunjukkan Rasulullah SAW dalam mengevaluasi para sahabat, serta Umar bin Khattab r.a. dalam melakukan monitoring ke warganya. Konsistensi ini bukan berarti tidak melakukan inspeksi mendadak (sidak), namun menunjukkan ada kesinambungan proses monev yang dilakukan. Bukan hanya saat ada kepentingan untuk memenuhi dokumen audit atau sertifikasi, misalnya. Atau sekadar aktivitas mendadak di akhir tahun saat serapan anggaran tidak terlalu baik, misalnya. Konsistensi ini erat kaitannya dengan pemahaman utuh akan urgensi monev, termasuk sebagai upaya menghadirkan perbaikan berkesinambungan.

Konsistensi ini juga terkait dengan ketegasan terhadap aturan main, karenanya Nabi Sulaiman a.s. tak segan untuk menghukum Hud-hud yang mangkir (QS. An Naml: 21). Namun hukuman tidak serta merta diberikan tanpa memberi kesempatan kepada Hud-hud untuk memberikan penjelasan, bahkan pembelaan. Disini ada hikmah kedua aktivitas monev, setegas apapun ketentuan yang diterapkan, tetap perlu dibuka ruang diskusi agar tak sekadar menghakimi. Perlu ditegaskan bahwa esensi monev bukanlah mencari kesalahan, namun mencari peluang perbaikan. Istilahnya ‘tegas namun santun’. Karena ketegasan dan kesantunan bukanlah dua perkara yang layak didikotomikan.

(bersambung)

Romantika Bulan Syawal

…Mengapa ujan gerimis aje, pergi berlayar ke Tanjung Cina. Mengapa Adek menangis aje, kalo emang jodoh nggak kemana, hey, hey! Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje, bulan Syawal mau dikawinin…” (‘Hujan Gerimis’, Benyamin S. & Ida Royani)

Romantika itu bernama ikatan hati. Kembali memasuki bulan Syawal, ada yang tidak berubah selama sewindu terakhir: maraknya undangan pernikahan. Terinspirasi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., bulan Syawal kemudian identik dengan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.  “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad). Selain dengan Aisyah r.a., Rasulullah SAW juga menikahi Ummu Salamah r.a. pada bulan Syawal.

Bulan Syawal konon artinya adalah peningkatan, namun referensi lain mengungkapkan bahwa penamaan Syawal berasal dari istilah “Syalat an-naqah bi dzanabiha” yang berarti onta betina menaikkan ekornya. Bulan Syawal adalah masa dimana onta betina mengangkat ekornya ketika didekati pejantan sebagai tanda tidak mau dikawini. Keadaan ini memunculkan keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa ada kesialan yang menyertai Bulan Syawal. Ditambah lagi adanya musibah yang pernah terjadi di Bulan Syawal semakin menguatkan keyakinan tersebut. Karenanya, di masa jahiliyah ada pantangan untuk menikah di Bulan Syawal, hingga Islam datang dan membantah anggapan sial tersebut.

Romantika itu bernama semangat juang. Dalam Kitab “Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin”, Ibnul ‘Allan Asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang”. Jika perang Badar terjadi di Bulan Ramadhan, sejarah mencatat bahwa banyak perang besar yang dijalani Rasulullah SAW terjadi di Bulan Syawal, termasuk Perang Hunain, Perang Uhud, hingga Perang Ahzab atau Khandaq.

Semangat perjuangan yang menyala selama Ramadhan tidak boleh meredup di Bulan Syawal. Salah satu amalan yang disunnahkan untuk dilakukan di Bulan Syawal adalah puasa. Mengapa harus puasa padahal baru saja diwajibkan berpuasa sebulan penuh? Karena predikat takwa harus dilalui dengan perjuangan dan proses yang panjang. Kebaikan yang terus terjaga, bukan sekadar ikut-ikutan menjadi baik di bulan baik. Tidak heran, Bulan Syawal kemudian dikaitkan dengan peningkatan paska menjalani madrasah Ramadhan. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Romantika itu bernama kerinduan. Baru sejenak Ramadhan pergi, sudah banyak kondisi yang berubah. Serta merta timbul kerinduan akan riuhnya suasana sahur di dini hari dan ramainya shalat berjama’ah di masjid khususnya di awal Ramadhan yang kini (kembali) tergantikan sunyi. Hadir rasa rindu akan ramainya suara tilawah Al Qur’an selepas shalat zhuhur berjama’ah yang sekarang tergantikan (lagi) dengan kesibukan mencari makan siang. Kangen dengan kebahagiaan saat berbuka. Kangen juga dengan tontonan yang ‘agak’ lebih berkualitas ataupun orang dan suasana yang mendadak lebih Islami. Bahkan canda-canda ringan seperti ‘orang puasa gak boleh marah’ atau ‘jangan bohong nanti puasanya batal’ juga membuat rindu.

Seorang salafush shalih pernah menjual budak wanitanya kepada seseorang. Ketika Ramadhan tiba, tuan barunya menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan untuk persiapan selama Ramadhan. Budak wanita itu heran dengan apa yang dilakukan oleh tuan barunya karena hal tersebut tidak pernah ia temui ketika masih mengabdi kepada tuannya yang lama. “Maaf tuan, kelihatannya anda sibuk sekali, sepertinya akan datang masa paceklik yang panjang?” tanyanya. “Kami sedang mempersiapkan menyambut Bulan Ramadhan” jawab tuannya. Budak itu berkata, “Memangnya kalian tidak berpuasa selain bulan ini? Demi Allah, aku dulu hidup bersama orang yang sepanjang masanya adalah Ramadhan, kembalikan saya kepada tuanku itu”.

Romantika itu tetap produktif dalam kesedihan. Yang sudah berlalu takkan kembali, namun masih bisa disongsong kehadirannya di masa depan. Penyesalan mendalam bukanlah merutuki nasib, tetapi memastikan hari-hari selanjutnya akan lebih baik. Romantika itu terus memupuk kerinduan dengan kontinyuitas amal shalih. Menghadirkan suasana yang dirindukan dalam keseharian hingga takdir yang akan mempertemukan kembali atau tidak lagi sempat bersua namun penuh dengan persiapan. Mumpung Ramadahan belum lama berselang, mari terus sibukkan diri dengan romantika produktif.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan –seperti gunung yang Nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” (‘Perpisahan’, Kahlil Gibran)

Ketika Kebosanan Tak Jemu Menghampiri

Wahai manusia, hendaknya kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR.Muslim)

Hadits di atas adalah tanggapan Rasulullah SAW ketika A’isyah r.a. bercerita kepada beliau tentang Haulah binti Tuwait, muslimah ahli ibadah yang tidak pernah tidur malam. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kemampuan setiap orang tidaklah sama, termasuk kemampuan dalam mengatasi kejenuhan. Mungkin ada sedikit orang yang jarang sekali dihinggapi kebosanan karena mampu mengalihkan kebosanan tersebut pada aktivitas yang bermanfaat. Pun demikian rasa jemu dan bosan sebenarnya merupakan hal yang wajar, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bazzar “Tiap-tiap amal itu ada masa-masa jemunya, dan pada tiap-tiap masa jemu itu ada peralihannya. Barangsiapa yang peralihannya itu kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk, dan barangsiapa yang peralihannya kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat”. Usahlah risau ketika rasa bosan datang menghampiri, namun risaulah ketika kita gagal menghadapi kebosanan tersebut dengan penyikapan yang tepat.

Alkisah, ada seorang tua bijak ditanya oleh tamunya, “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, Pak Tua?”. Orang bijak itu pun menjawab, “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu”. “Kenapa kita merasa bosan?”, tanya tamunya lagi. “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki”, jawab orang bijak tersebut. “Lalu, bagaimana menghilangkan kebosanan?”, tanyanya lagi. Orang bijak itu menjawab, “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya”. Tamu tersebut kembali bertanya, “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”. Orang bijak itu bertanya balik, “Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”. “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua”, jawab sang tamu. “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang”, jawab Orang Bijak tersebut. “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya…”, lanjutnya.

Tamu itu pun pergi, namun selang beberapa hari, ia kembali mengunjungi Orang Bijak tersebut dengan wajah kusut. Tamu tersebut bertanya, “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”. Orang Bijak tersebut menjawab, “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan. Misalnya, mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu”. Tamu itu kembali beranjak, beberapa minggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Orang Bijak tersebut dengan wajah ceria. Ia berkata, “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”. Sambil tersenyum Orang Bijak tersebut berkata, “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria”.

* * *

Sekali lagi, rasa bosan adalah sesuatu yang wajar, bukan aib. Rasa jenuh adalah sunatullah, sebagaimana iman tidaklah statis, bisa naik bisa turun. Kehidupan tidaklah datar, semangat manusia pun ada masa pasang surutnya. Rentang waktunya bisa jadi beragam, kadarnya pun boleh jadi berbeda setiap orang. Manusia berbeda dengan malaikat yang selalu taat, berbeda dengan iblis yang tak pernah jemu menggoda manusia. Rasa bosan, jenuh dan jemu tersebut mungkin memang tidak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak perlu diantisipasi dan disikapi. Rasa jenuh yang tidak dikelola akan menghasilkan energy negatif, kebosanan yang dituruti akan berujung pada sikap kontraproduktif. Lalu bagaimana mengarahkan rasa bosan menjadi sesuatu yang bermanfaat?

Benda tajam pun butuh saatnya untuk diasah agar tetap tajam, begitu juga dengan jiwa, pikiran dan tubuh manusia. Jiwa yang jenuh butuh istirahat sejenak dengan kontemplasi, guna mengembalikan dan mengumpulkan kembali energi yang telah tercurah. Jiwa yang tengah butuh istirahat jangan dipaksa terus berlari karena bisa jadi malah membuatnya mati. Pikiran pun dapat terjangkiti rasa bosan sehingga butuh dibuat lebih rileks agar kembali cemerlang. Jika pikiran terus diforsir hasilnya pasti tidak akan optimal, buah pikiran tak akan jernih, kreatifitas pun justru semakin tumpul. Begitupun tubuh manusia, butuh masa rehat dan santai. Kondisi tidak sehat yang dipaksa terus berbuat berpotensi mendatangkan sakit yang berlipat. Sesekali memang perlu memanjakan tubuh agar semakin tangguh. Jadi, kebosanan bisa jadi waktu yang tepat untuk mengasah kembali ‘pisau’ kita, asal jangan terlalu lama sehingga ‘pisau’ kita semakin menipis dan habis.

Kebosanan biasanya timbul karena rutinitas, aktivitas yang monoton dan mengekang potensi untuk berkembang. Karena timbul dari rutinitas, rasa jenuh sebenarnya dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas. Variasi kita dalam melakukan sesuatu akan sangat mempengaruhi ketahanan kita sebelum rasa jenuh datang menghampiri. Optimalisasi otak kanan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dalam aktivitas yang sama akan menjadikan aktivitas tersebut lebih menyenangkan, ibarat permainan. Mungkin atas dasar inilah berkembang metode fun learning dalam pembelajaran ataupun stimulasi otak tengah ataupun kanan, sebagai penyeimbang aktivitas otak kiri yang biasanya lebih dominan sehingga lebih rentan dengan kejenuhan. Tidak hanya sebagai antisipasi dan pencegahan dari kebosanan, variasi aktivitas dapat pula menjadi pertolongan pertama dan obat bagi penyakit jenuh akibat rutinitas.

Mengisi kebosanan dengan ‘mengasah pisau’ ataupun dengan variasi aktivitas akan mendatangkan manfaat di balik kejenuhan kita. Namun ada lagi sikap yang lebih produktif, yaitu dengan mengalihkan kebosanan dengan aktivitas lain di luar rutinitas yang tidak kalah bermanfaat. Lihatlah Bilal bin Rabbah yang menghibur dirinya dengan shalat. Orang-orang shaleh biasa memanfaatkan rasa jenuh yang dirasakannya untuk semakin mendekat kepada Allah SWT, dengan shalat, tilawah Qur’an, dzikir, do’a, dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang mengalihkan kejenuhannya dengan membaca ataupun menulis buku. Ada pula yang masa jemunya dialihkan untuk produktif mengerjakan amanah lain. Kalau meminjam istilah Anis Mata dalam buku “Mencari Pahlawan Indonesia”, hal inilah yang disebut sebagai siasat pengalihan. Kala kebosanan datang, ia segera dialihkan kepada aktivitas lain yang produktif. James S. Ritty, seorang pemilik sebuah bar di Dayton, Ohio, AS. Ketika jenuh di pekerjaannya, ia pergi berwisata dengan kapal laut. Selama istirahatnya di atas kapal, ia memperhatikan suatu alat penghitung kecepatan baling-baling kapal, ia pun mendapat ide untuk membuat mesin penghitung uang. Dengan bantuan saudaranya, terciptalah mesin kas pertama yang dipatenkan pada November 1879. Kurang lebih seperti itulah contoh menyikapi kebosanan dengan lebih produktif.

Namun perlu juga dicermati dan diwaspadai bahwa kebosanan kadang kita yang mendatangi, bukannya menghampiri kita. Ya, kita lah yang menciptakan kebosanan, bukan sesuatu di luar diri kita. Jiwa kita yang tidak menjalani aktivitas dengan penuh keceriaan, pikiran kita yang tidak mau berkembang sehingga menjalani hari dengan rutinitas, atau tubuh kita yang terlalu dimanjakan sehingga tidak juga sampai pada performa optimalnya. Dalam hal ini kebosanan harus dilawan, rasa jenuh harus dihadapi karena berpotensi menjadi penyakit bagi diri kita. Jiwa harus dibangun dan diperkokoh, pikiran harus dijernihkan dengan hal-hal positif, tubuh pun harus dipaksa berbuat untuk mengusir kemalasan. Ketika kebosanan terjadi karena kelemahan jiwa, tidak ada kata lari dan beristirahat, yang ada adalah bangkit dan lawan.

Dinamika kehidupan silih berganti, begitupun suasana hati. Kebosanan selalu siap datang menyergap, namun tidak boleh terlalu lama menetap. Kala kebosanan datang menghampiri, mungkin memang saatnya untuk berhenti sejenak, introspeksi dan memperbaiki diri. Ketika rasa jemu itu datang, mungkin memang tantangan bagi kita untuk tidak terkekang dan terus berkembang. Tatkala kejenuhan hadir kembali, mungkin ada ladang kebaikan lain yang menanti, mengalihkan perhatian sejenak untuk tetap produktif dalam berkontribusi. Kebosanan takkan jemu menyapa, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tidak berlama-lama dilanda kebosanan, tidak jemu melawan kejenuhan yang melalaikan, tidak bosan berbuat, bertahan menghadapi kebosanan dan terus menebar kebermanfaatan. Karena hanya ada satu tempat dimana kebosanan tak dapat tinggal, hanya ada satu masa dimana kejenuhan tidak memiliki tempat untuk menetap. Tempat tinggal yang kekal, masa yang abadi, di akhirat nanti…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah.” (Ust. Rahmat Abdullah)

Tamasya Ramadhan ke Negeri Impian

Aku terbangun dari tidur, kepalaku agak pening, entah apa yang terjadi tadi malam. Perlahan kesadaranku pulih. Dini hari ini hening, penuh kedamaian, hanya lantunan tilawah qur’an yang kudengar mengalun indah dari masjid dekat rumah. Bergegas ku ke kamar mandi untuk menyucikan diri, bersiap menghidupkan malam untuk bermunajat kepada-Nya. Malam ini begitu khidmat, seolah aku bisa bercengkerama langsung dengan Allah SWT. Kuhentikan dzikir dan tilawahku mendengar pengingatan dari masjid bahwa waktu shubuh sudah semakin dekat. Bersegera aku menutup shalat malam agar dapat makan sahur yang menambah keberkahan Ramadhan yang tengah kujalani. Sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, aku dan keluarga mengakhirkan sahur, namun tentunya tidak mengurangi kesiapanku untuk mendirikan shalat shubuh berjama’ah di masjid.

Jalan menuju masjid begitu ramai dipenuhi kaum muslimin yang hendak memburu shaf pertama shalat berjama’ah. Kudengar suasana seperti ini tidak dapat dirasakan di negeri sebelah. Di sepertiga malam terakhir, para pemuda disana berteriak-teriak berkeliling kampung sambil memukul-mukul apa saja yang bisa ditabuh. Sangat bising. Suara yang ditimbulkan bukan saja tidak merdu, bayi-bayi terkejut dan menangis, orang-orang yang dibangunkan menggerutu, shalat malampun terganggu. Di negeri sebelah, kebiasaan orang yang terbangun adalah langsung menuju meja makan sambil mencari remote TV. Ya, makan sahur sambil menonton TV sudah jadi kebiasaan. Tontonannyapun hanya lawakan konyol yang tidak mendidik. Dan ibarat berbekal, makan sahur harus sebanyak-banyaknya sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh selama sehari berpuasa, jika perlu dilengkapi dengan berbagai suplemen. Di negeriku, waktu imsak hanya sebagai pengingat bahwa waktu shubuh akan segera tiba, namun di negeri sebelah, waktu imsak dianggap batas waktu boleh makan sahur. Dan bukannya bersiap shalat shubuh, mungkin juga karena kekenyangan, para penduduk negeri sebelah lebih suka mengisi waktu menjelang shalat shubuh dengan tidur-tiduran yang pada akhirnya tidur beneran sehingga shalat shubuhnya kebablasan.

Tak terasa, kakiku sudah melangkah ke halaman masjid. Beberapa orang tetanggaku mengucapkan salam menyapaku. Kamipun masuk untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum shubuh berjama’ah. Shalat shubuh di masjid dekat rumahku hampir seramai shalat Jum’at, seluruh penjuru masjid dipenuhi orang-orang yang hendak beribadah. Waktu antara adzan dan iqomatpun benar-benar dimanfaatkan untuk berdzikir dan berdo’a, padahal hampir tidak ada warga yang terlambat datang ke masjid. Usai shalat shubuh yang khidmat, sebagian besar jama’ah tidak beranjak dari masjid, kami biasa i’tikaf disini hingga matahari terbit. Kabarnya, kondisi di negeri sebelah cukup berbeda. Karena tidur lebih disukai daripada shalat, tidak banyak yang mendatangi masjid ketika shubuh. Mereka yang tidak tidur memilih untuk bersiap berangkat ke kantor agar tidak terlambat mengejar dunia. Kalaupun ada yang shalat shubuh, pasti hanya segelintir orang yang sudah berumur. Anak muda yang shalat shubuh berjama’ah akan mendapat tatapan aneh karena mungkin dinilai masih banyak waktu untuk lebih menikmati dunia. Namun di awal Ramadhan kondisi agak berbeda, masjid-masjid di negeri sebelah dapat dikatakan ramai, anak-anak mudanya juga banyak, aku pernah sekali merasakannya. Namun suasananya berbeda, sulit untuk dilukiskan. Mungkin karena ketidaktenangan jama’ah ketika melakukan shalat, mungkin juga karena begitu cepatnya masjid kosong selepas salam tanpa banyak yang berdo’a dan berdzikir, atau mungkin karena banyaknya bunyi petasan yang mengganggu i’tikafku. Kabarnya, sepulang dari shalat shubuh, anak-anak muda disana malah perang petasan. Astaghfirullah…

Pagi ini entah mengapa aku benar-benar semangat, seakan aku baru saja menjadi manusia baru. Aku sangat bersyukur tinggal di negeri ini, negeri yang disiplin. Tidak ada kemacetan karena semua tertib berlalu lintas, tidak ada yang merasa gengsi naik kendaraan umum karena rendah hati dan berbagi sudah menjadi budaya disini. Berpuasa juga tidak menjadi alasan untuk menurunkan produktivitas karena di luar Ramadhanpun kami terbiasa berpuasa, kami terbiasa mengoptimalkan waktu yang kami miliki. Tidak ada yang terlambat datang ke kantor, tidak ada yang tertidur di kantor, tidak ada pekerjaan yang terbengkalai dengan dalih berpuasa. Negeri sebelah menyebut negeriku negeri idaman, padahal bagiku hal seperti ini biasa saja. Kami terbiasa menjadwalkan untuk melakukan shalat dhuha, di negeri sebelah hanya segelintir yang menyempatkannya. Padahal waktu yang tersedia sama saja, hal inilah diantaranya yang mengherankan beberapa orang dari negeri sebelah yang sempat berkunjung kesini.

Potensi negeri kami sebenarnya sama saja dengan negeri sebelah, tidak ada yang istimewa, namun entahlah mengapa suasananya berbeda. Kabarnya shalat zhuhur di negeri sebelah juga ramai, terutama di bulan Ramadhan. Bedanya, di negeri sebelah banyak yang menunggu iqomat baru beranjak ke masjid sehingga banyak yang ketinggalan takbir pertama bersama imam, sementara kami menunggu iqamat di masjid dengan shalat, dzikir dan do’a. Bedanya, di negeri sebelah, ba’da zhuhur manusianya bertebaran beristirahat bagai ikan yang sedang dijemur, sementara kami, ah ternyata banyak bedanya, sekeluarnya dari masjidpun aktivitas kami memang berbeda. Tapi aku bersikeras bahwa ini tidak aneh, penduduk negeri sebelahlah yang aneh. Warung makan bahkan tempat prostitusi bertebaran di bulan Ramadhan, laki-lakinya gemar merokok, perempuannya gemar buka aurat, pemimpinnya tidak amanah, rakyatnya tidak ta’at. Merekalah yang aneh, kejujuran dan berbuat baik adalah hal yang biasa, menolong orang lain juga tidak butuh alasan. Sungguh aneh orang-orang yang berbuat curang, merugikan orang lain dan bersikap egois, padahal mereka sadar mereka tidak dapat hidup sendirian. Keanehan itu sebenarnya berkurang ketika bulan Ramadhan, ya, hanya ketika berpuasa bohong dan menggunjing dianggap tidak boleh. Marah juga dianggap membatalkan puasa. Negeri yang aneh.

Keanehan negeri sebelah belum usai sampai disitu. Disaat kami disini mengoptimalkan waktu menjelang berbuka untuk bermunajat karena merupakan salah satu waktu diijabahnya do’a, di negeri sebelah orang-orang malah sibuk ngabuburit tidak jelas. Menghabiskan waktu tanpa manfaat. Ketika berbukapun penduduk negeri sebelah seolah kalap, melahap apa saja sehingga perut mereka kekenyangan, sementara kami hanya berbuka dengan kurma dan air putih serta makan secukupnya, itupun tidak meninggalkan shalat maghrib berjama’ah. Belum lagi shalat tarawih, di negeri sebelah, imam yang dapat menyelesaikan shalat tarawih dengan lebih cepat itu yang dicari. Sementara imam yang bacaannya tartil akan dicibir. Ayat unggulannya adalah Surah Al Ikhlash dan Al Qadr, seakan tidak sah shalat tarawih tanpa salah satu dari surah tersebut dibacakan dalam satu salam. Anak mudanya menjadikan momen tarawih sebagai kesempatan untuk ngelaba lawan jenis. Namun hal paling aneh di negara sebelah menurutku adalah budaya i’tikaf yang dipindah tempatnya dari masjid ke pusat-pusat perbelanjaan. Sepuluh malam terakhir Ramadhan habis untuk shopping dan mempersiapkan Idul Fitri, padahal ibadah Ramadhannya belum tentu diterima.

Entah mengapa malam ini aku begitu lelah, aktivitas yang kulakukan seharian ini sepertinya agak berbeda kurasakan. Dan seperti biasa, sebelum beranjak ke pembaringan, berdzikir dan muhasabah untuk selanjutnya beristirahat, aku terlebih dahulu mengisi lembar mutaba’ah yaumiyahku. Alhamdulillah, hari ini aku begitu bersemangat dan memenuhi berbagai target yang kubuat, mulai dari menjaga wudhu dan shalat berjama’ah, do’a dan dzikir, shadaqah hingga berbagai shalat sunnah. Hari ini aku juga sempat membaca setengah buku, membuat tulisan, belajar bahasa asing dan membagi ilmu ke orang lain. Berbagai target di kantor juga berhasil kuselesaikan. Lingkungan yang kondusif memang dapat meningkatkan produktivitas. Hanya target silaturahim yang belum sempat kulakukan hari ini. Tiba-tiba terbayang berbagai keunikan aktivitas silaturahim di negera sebelah, mulai dari kerelaan bermacet-macet ria untuk sekedar dapat pulang ke kampung halaman, saling bertukar makanan di malam takbiran hingga ritual maaf-maafan seusai shalat Idul Fitri. Tiba-tiba kepalaku sakit, sepertinya harus segera istirahat, entah mengapa hari ini aku begitu peduli dengan keadaan di negeri sebelah.

* * *

Aku terbangun dari tidur, kepalaku agak pening, entah apa yang terjadi tadi malam. Perlahan kesadaranku pulih. Suara berisik teriakan anak-anak yang membangunkan orang untuk makan sahur disertai bunyi tetabuhan tak beraturan seakan memekakkan telingaku. Sayup-sayup kudengar suara orang tertawa terbahak-bahak menyaksikan acara televisi pengantar makan sahur. Aku mendesah lirih, rupanya aku baru saja bermimpi, mimpi indah menjadi penduduk negeri idaman. Ingin rasanya kulanjutkan tidur dan mimpiku dan berharap kembali membuka mata di negeri impian lagi, namun batinku menolaknya. Perjalananku di alam mimpi seolah menyadarkanku bahwa negeri impian itu tidak berbeda dengan kehidupan yang kujalani, tinggal bagaimana aku memaknai dan menjalani kehidupan ini. Negeri impian itu ada disini dan hanya dapat terwujud jika aku mau beramal nyata dan berhenti berangan kosong. Negeri dimanapun akan menjadi negeri impian jika setiap elemen negerinya berbuat dan bersungguh-sungguh untuk dapat mewujudkannya. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil dan dimulai sekarang juga. Bergegas ku ke kamar mandi untuk menyucikan diri, bersiap menghidupkan malam untuk bermunajat kepada-Nya dan bertekad untuk memulai mewujudkan negeri impian yang baru saja kutinggalkan…

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus. Betapa banyak orang yang bangun (Shalat) malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.” (HR. Al-Baihaqi)

Ramadhan Itu Menyehatkan

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…
(Al Baqarah : 185)

Akhirnya, masuk juga ke bulan Ramadhan. Tak sabar rasanya untuk mengoptimalkan setiap detik Ramadhan dengan amal produktif. Tak perlu mengurangi aktifitas bermanfaat, toh sudah terbukti bahwa Ramadhan ternyata tidak hanya menempa ruhiyah tapi juga menyehatkan tubuh.

Ramadhan itu menyehatkan. Bagaimana tidak?
Rasulullah bersabda, “Puasalah kalian, niscaya kalian sehat”. Terlepas dari lemahnya hadits tersebut (bahkan sebagian ulama menganggapnya hadits maudhu’), tapi memang sudah terbukti secara ilmiah bahwa puasa baik untuk kesehatan. Syari’at Islam yang sudah turun temurun dari umat – umat terdahulu inipun ditiru mulai dari Aristoteles hingga dokter – dokter sekarang. Yah, bukan dalam kapasitas saya bicara tentang metabolisme tubuh selama berpuasa, dan sebagainya…

Ramadhan itu menyehatkan. Bagaimana tidak?
Tiap malam berolah raga. Naik turun setidaknya empat ditambah sebelas kali, nyaris tanpa istirahat. Tempat ibadahpun jadi bau keringat. Dan keringat itu konon tanda sehat. Semuanya dikebut kurang dari satu jam, malah kerap kali makin cepat dianggap makin baik, makin memuaskan. Padahal ‘rahah‘ asal kata tarawih artinya istirahat. Yah, delapan rakaat zaman Rasulullah dulu mungkin hanya setengah dari dua puluh rakaat sekarang. Luar biasa, benar – benar enerjik dan penuh vitalitas…

Ramadhan itu menyehatkan. Bagaimana tidak?
Makan sahur dua porsi. Dalihnya sebagai cadangan makanan untuk siang karena enggak makan siang. Makin banyak makan, makin sehat dong. Lucunya, pas berbukapun segala yang ada dilahap, kalo perlu sekalian ama piring – piringnya. Wajar aja, kan udah abis bekerja keras dan seharian belum makan. Biasanya kan kalo siang makan. Lho, makan siangnya diitung dua kali ?! Kalo gitu gimana madrasah Ramadhan enggak meluluskan alumni Ramadhan yang semakin MAPAN? Iya, perutnya semakin MAju ke dePAN…

Ramadhan itu menyehatkan. Bagaimana tidak?
Abis sahur tidur. Masih untung ga lupa shalat shubuh. Siang tidur dengan alasan menteladani Rasulullah. Lagipula konon tidurnya orang yang berpuasa kan ibadah. Daripada bangun berbuat maksiat mendingan tidur yang bernilai ibadah. Terus tarawih udah nggak konsen, nggak bisa ingat udah berapa rakaat. Pas witir kepala udah berat, badanpun mulai oleng. Apalagi kalo ada ceramah, rasa kantuk semakin menyerang. Bawaannya hari ini semoga lekas berlalu sehingga tubuh bisa istirahat. Sekali – kali memanjakan tubuh nggak apa – apa kan? Toh baik memenuhi hak tubuh. Hmm… sekali – kali?

Ramadhan itu menyehatkan. Bagaimana tidak?
Sepanjang hari online di depan komputer, chatting ga penting atau meng-khatam-kan game terbaru atau duduk tenang menonton televisi. Nyaris tidak beranjak karena tidak perlu dipotong jam istirahat untuk makan siang atau aktifitas – aktifitas yang melelahkan. Terus memanjakan tubuh yang dianggap kekurangan energi. Ruh Ramadhan semakin hilang tergantikan oleh aktifitas keduniaan yang berorientasi pada kepentingan individu, bukan ummat…

Yah, masih di hari – hari awal Ramadhan. Pagi ini saya mendengar berita telah terjadi kemacetan panjang di daerah Kebon Jeruk karena adanya mobil yang berhenti dan terlihat bahwa sang sopir tengah tertidur. Wah, pasti tadi malam i’tikafnya tidak putus di masjid sehingga sepagi ini dia sudah selelah itu… Dan… Yah, mumpung masih hari – hari awal di bulan Ramadhan, masih banyak waktu untuk mengoreksi cara kita menyehatkan badan dengan berpuasa. Membenahi penggunaan waktu – waktu kita dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala. Meluruskan aktivitas yang kita lakukan untuk mencapai Ridha-Nya….

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al Ahzab : 35)

Wallahu a’lam …
Ps. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Sejatinya tulisan itu untuk diri saya sendiri

Belajar dari Pohon Pisang

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : ‘Ya Rabbku, tidaklah Kau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka selamatkanlah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imron 190 – 191)

* * *

Saudaraku, setiap kita tentunya pernah merasa begitu lelah dan membutuhkan orang lain dalam meniti jalan panjang kehidupan ini. Masing-masing dari kita tentunya pernah merasa sedemikian jenuh dan butuh nasihat dari orang lain. Namun bagaimana jika orang yang dinanti tak kunjung tiba sementara jiwa kita sangat membutuhkan penyegaran?

Saudaraku, sungguh Allah telah menciptakan banyak hal di dunia ini yang dapat menjadi renungan bagi kita, hamba-Nya yang mau bertafaqur. Biarlah alam yang mengajari kita banyak hal, mengajari tanpa menggurui, karena kita jualah yang menginterpretasikan pelajaran dari alam.

Saudaraku, pohon pisang rasanya bukan satu jenis pohon yang asing bagi kita. Pohon berbatang lunak dan berdaun lebar itu rasanya masih dapat kita temukan pun mungkin kini keberadaannya mulai tersaingi dengan ‘pohon-pohon’ lain yang berbatang beton. Dan pernahkah kita memikirkan suatu pembelajaran yang dapat kita petik dari pohon pisang?

Pohon pisang adalah pohon yang seluruh anggota tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari akarnya untuk obat sakit perut, batangnya dalam pembuatan janur ataupun dalam proses mengkremasi mayat, daunnya untuk pembungkus hingga buahnya yang dapat dimakan. Saudaraku, begitulah seharusnya setiap kita, dapat memberikan manfaat bagi orang lain dengan segenap apa yang kita miliki…

Pohon pisang senantiasa dapat berbuah tanpa mengenal musim. Pohon pisang akan menyimpan cadangan airnya pada musim hujan dan menggunakannya pada musim kemarau. Kita tidak mengenal adanya musim pisang, berbeda dengan musim durian atau rambutan. Saudaraku, janganlah mengenal waktu dalam beramal, janganlah mengenal masa dalam berbuat kebaikan, janganlah kontribusi hanya dapat kita berikan pada saat-saat tertentu di kala kita menginginkannya. Kontinyuitas suatu kebermanfaatan seharusnya senantiasa dapat kita jaga…

Pohon pisang dalam habitat aslinya selalu hidup berkelompok. Jika ada pohon pisang yang tumbuh menyendiri tentulah karena perbuatan manusia yang jika dibiarkan terus tumbuh akan membentuk komunitas pohon pisang juga. Saudaraku, ternyata untuk dapat bermanfaat kita juga membutuhkan teman sebagai penguat, kita butuh saudara-saudara kita sebagai pengingat, kita perlu orang lain untuk optimalisasi potensi kebermanfaatan kita. Ketika kondisi menuntut kita untuk mandiri, maka ’ciptakanlah pohon pisang’ lain sehingga kita tetap tak sendiri. Ya, untuk mencapai puncak produktivitas kontribusi, kita perlu berjama’ah…

Pohon pisang umumnya takkan mati sebelum ia berbuah, pohon pisangpun senantiasa meninggalkan tunas-tunas baru sebelum akhirnya ia mati. Saudaraku, layak untuk kita renungi, sudahkah ada prestasi tertinggi sebelum ajal kita tiba? Sudahkah ada amal terbaik sebelum Izrail mencabut nyawa kita? Sudahkah ada kontribusi besar bagi ummat sebelum akhirnya kita harus pergi meninggalkan dunia ini menuju alam yang kekal abadi? Jika belum, berbuatlah. Dan sudahkah kita menyiapkan generasi berkualitas yang dapat memberi kontribusi lebih bagi lingkungannya? Sudahkah kita tinggalkan kader-kader unggul yang siap berjibaku untuk terus beramal dan memberikan kebermanfaatannya bagi alam? Jika belum, siapkanlah.

* * *

Saudaraku, hidup ini terlalu sempit untuk hanya memikirkan diri sendiri, hidup ini teramat singkat tanpa kebermanfaatan kita bagi orang lain. Dan sebenarnya tak perlu sebesar pohon durian ataupun setinggi pohon pinang untuk dapat memberikan manfaat, yang terpenting adalah kontribusi nyata. Dan biarlah Allah SWT yang akan menilai dan memberikan balasan…

”Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani)

Ps. Inspired by HAMKA, dimuat di Majalah Tarbawi