Tag Archives: Ramadhan

Keutamaan Ibadah di Luar Ramadhan

Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun” (Syeikh Bisyr Al Hafi)

Setiap tahun, baik dalam tarhib Ramadhan ataupun khutbah Jum’at di akhir Sya’ban atau awal Ramadhan, penceramah biasa menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan beribadah di dalamnya. Walaupun sudah mainstream, Ramadhan memang istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an, dan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. Kondisi yang tidak ditemui di bulan lain. Namun bicara tentang keutamaan ibadah di bulan Ramadhan adalah perkara lain yang dapat diperdebatkan.

Ibadah shaum Ramadhan yang hukumnya wajib dan termasuk Rukun Islam memang lebih utama dibandingkan shaum sunnah di luar Ramadhan. Berdosa jika ditinggalkan dengan sengaja dan wajib diganti jika ditinggalkan membuat shaum Ramadhan ada di level yang berbeda. Yang juga berbeda barangkali i’tikaf menghidupkan lailatul qadar yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Perbedaan ini kemudian diperkuat dengan ganjaran diampuni dosa bagi mereka yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan imanan wahtisaban.  Namun ketika menyoal tentang dampak puasa dan shalat malam terhadap fisik dan spiritual, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, diijabahnya do’a orang yang berpuasa hingga hal-hal yang perlu dijaga selama berpuasa tidaklah berbeda antara Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Bahkan beribadah di luar Ramadhan punya tantangan lebih.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Dia menimpakan cobaan kepadanya. Sedekah yang utama adalah dengan sesuatu yang paling disukai. Berat memang, karenanya menjadi istimewa. Shalat berjama’ah di masjid yang paling besar ganjarannya adalah shalat shubuh. Terjaga dan beribadah ketika orang lain nyenyak tidur tentu tidak mudah. Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Penuh risiko dan tidak sederhana, karenanya menjadikannya mulia. Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bergaul dan tidak bersabar. Begitulah sunnatullahnya. Semakin berat ujian, kian besar pengorbanan, makin banyak kesungguhan yang diperlukan, akan semakin besar ganjarannya. Belajar dari Qur’an Surah Al Balad, ketika dihadapkan pada dua jalan, tidak banyak yang memilih jalan menanjak yang sulit ditempuh dibandingkan jalan yang mudah.

Begitulah beribadah di luar Ramadhan, lebih penuh tantangan. Berpuasa sunnah ketika orang lain berpuas makan tidaklah mudah. Istiqamah tilawah selepas zhuhur di saat yang lain bergegas istirahat dan makan siang punya tantangan yang jauh berbeda dibandingkan ketika Ramadhan. Di saat lingkungan lebih kondusif untuk beribadah. Perbedaan ini jelas terlihat dari interaksi umat Islam dengan masjid dan dengan Al Qur’an, ketika dan di luar Ramadhan. Perbedaan nyata terlihat dari jama’ah shalat Shubuh dan Isya, apalagi jika diteliti qiyamul lail nya. Padahal ibadah sejatinya adalah aktivitas sepanjang hayat, bukan hanya semangat ketika lingkungan kondusif. Imam Hasan Al Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Alangkah tidak pantasnya jika gema takbir hari raya menjadi batas amal ibadah seorang muslim. Na’udzubillah

Salah satu indikator sukses Ramadhan adalah terjaganya amal ibadah selepas Ramadhan. ‘Kun Rabbaniyyan Wa Laa Takun Ramadhaniyyan’, begitulah para ulama terdahulu menyampaikan. Hendaklah kita menjadi hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi ‘penyembah’ Ramadhan. Ketahuilah, keutamaan beribadah bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Ibaratnya banyak orang berburu barang ketika cuci gudang, barang berlimpah dan banyak potongan harga. Mereka pun sekadar memperoleh barang murah yang tersedia. Sementara di hari biasa tidak banyak yang mencari barang, padahal walaupun sedikit lebih mahal, barang yang dipilih bisa lebih dijamin kualitasnya dan pelayanannya pun lebih optimal. Apalagi jika disadari bahwa barang yang dicari adalah kebutuhan sehari-hari, tidaklah tepat mengupayakannya hanya ketika cuci gudang. Ramadhan memang istimewa, namun satu tahun terdiri dari dua belas bulan, bukan hanya Ramadhan. Ada hak-hak Allah SWT yang tetap harus dijaga. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, serta membimbing kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya. Semoga kita tetap istiqamah beribadah sepanjang tahun, sepanjang hayat, serta dijauhkan dari sifat munafik. Aamiiin…

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8 )

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

EURO, EUforia ROmadhon 2016

Bulan Juni di tahun genap adalah bulan yang dinantikan oleh para penggemar sepakbola. Jika tahun genap tersebut habis dibagi empat seperti tahun 2016 ini, akan ada gelaran kompetisi sepakbola antar negara di benua Eropa yang biasa dikenal dengan Euro. Jika tahun genap tersebut tidak habis dibagi empat seperti tahun 2014 kemarin maka akan ada pesta bola yang lebih besar, yaitu piala dunia. Kompetisi sepakbola internasional memang biasa dilangsungkan di bulan Juni – Juli setelah kompetisi lokal/ nasional umumnya selesai. Tahun 2016 ini bahkan lebih spesial karena ada penyelenggaraan Copa America Centenario di waktu yang hampir bersamaan. Copa America Centenario adalah edisi khusus memperingati 100 tahun penyelenggaraan Copa America yang gelaran terakhirnya baru saja selesai medio 2015 lalu.

Bulan Juni tahun ini juga merupakan bulan yang dinantikan umat Islam karena bertepatan dengan masuknya bulan istimewa, yaitu Ramadhan. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut secara eksplisit dalam Al Qur’an, di dalamnya diturunkan Al Qur’an dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dimana pahala kebaikan dilipatgandakan, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Jika 1 Ramadhan 1437 Hijriah jatuh pada tanggal 6 Juni 2016 dan akan berakhir di tanggal 5 Juli 2016 (atau 4 Juli 2016 jika Ramadhan hanya 29 hari), Copa America Centenario berlangsung 4 – 27 Juni 2016 waktu Indonesia, sementara Euro akan dilangsungkan pada 11 Juni – 11 Juli 2016 waktu Indonesia. Euro akan disiarkan langsung dari malam hingga dini hari sementara Copa America Centenario disiarkan dari dini hari hingga menjelang siang.

Sepakbola dan Ramadhan mudah saja dibenturkan. Bukan hanya jadwal siaran sepakbola yang bentrok dengan jadwal tarawih, tadarusan, shalat malam, keberkahan waktu sahur, hingga waktu shubuh dan dhuha. Namun secara konten pun menonton sepakbola sulit dikategorikan sebagai ibadah. Jika bermain sepakbola masih ada unsur tarbiyah jasadiyah yang menyehatkan selama masih dalam koridor syar’i, menonton sepakbola lebih kental nuansa membuang waktu, jauh sekali dibandingkan dengan berbagai keutamaan ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan. Tidak perlu terburu-buru menghakimi menonton sepakbola sebagai suatu aktivitas yang makruh atau bahkan haram. Namun umat Islam memang perlu waspada akan kesia-siaan perkataan dan perbuatan, terutama di bulan Ramadhan ini.

Kompetisi sepakbola memang pada akhirnya banyak menjadi ujian Ramadhan dibandingkan sebagai factor pndukung. Namun alih-alih menghakimi para penggemar sepakbola, ada baiknya kita mengambil ibrah dari fenomena sepakbola. Setidaknya ada satu kesamaan antara Ramadhan dengan kompetisi sepakbola, keduanya disambut dengan euforia. Dalam KBBI, euforia didefinisikan sebagai perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Dan segala sesuatu yang berlebihan biasanya berkonotasi negatif. Euforia sepakbola membuat penggemarnya rela bangun malam atau bahkan tidak tidur demi menonton pertandingan. Malah ada yang rela menempuh jarak sangat jauh hanya demi menonton sepakbola. Euforia terhadap suatu klub bisa membuat seseorang berkata dan bersikap tidak sepantasnya untuk membela klubnya, bahkan bisa jadi tawuran antar supporter.

Ramadhan, sebagai bulan yang dinanti banyak orang, sangat mungkin mendatangkan euforia, dengan atau tanpa disadari. Lihat saja betapa ramainya tempat ibadah di hari pertama penyelenggaraan shalat tarawih. Euforia Ramadhan. Lihat juga betapa banyaknya makanan tersaji –dan akhirnya terbuang—ketika berbuka. Euforia Ramadhan. Tidak sedikit juga orang yang mendadak jadi islami, bukan karena hidayah tetapi hanya sebagai penyesuaian menyambut euforia Ramadhan. Dan yang namanya berlebihan biasanya tidak baik, terlalu cinta pun bisa berbuah bosan dan benci. Ternyata tidak banyak mereka yang mampu menjaga semangat Ramadhannya sepanjang dan selepas Ramadhan.

Euforia Ramadhan tidak hanya terkait dengan semangat menyambut datangnya Ramadhan, tetapi akan kembali diuji ketika akan datang hari Idul Fitri. Alih-alih memperbanyak ibadah, banyak orang yang malah sibuk dengan berbagai persiapan lebaran, termasuk sibuk menghabiskan uang THR yang baru saja diterimanya. Kegembiraan yang berlebihan memang kerap abai terhadap esensi. Padahal siapapun juara Copa America dan Euro tidak ada pengaruhnya terhadap kita yang ikut-ikutan gembira. Akhirnya, Ramadhan berlalu, kegembiraan kita seketika berubah kesedihan karena ternyata kita terlalu larut dalam kegembiraan sehingga lalai terhadap berbagai keutamaan Ramadhan yang mastinya bisa diraih. Atau mungkin euforia Ramadhan berganti dengan euforia lebaran, dan kemudian hampa. Karena ternyata Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lain.

Sepakbola mengajarkan kita untuk banyak berlatih sebelum bertanding. Mengajarkan kita untuk memilih formasi dan strategi yang tepat. Bahwa kemenangan bukan ditentukan dengan tidak kebobolan, namun juga harus membobol gawang lawan sebanyak mungkin. Bahwa tidak boleh lengah dan bersantai-santai, semangat harus terus terjaga sepanjang pertandingan. Masa-masa akhir jelang pertandingan berakhir adalah saat krusial. Lebih baik bersusah payah menahan lelah dan menunda perayaan kemenangan di saat-saat itu, dari pada kemenangan yang sudah di depan mata buyar karena inkonsistensi, gagal fokus dan euforia. Ya, mumpung Ramadhan belum lama dimulai, kita masih bisa menguatkan persiapan, menetapkan target dan strategi, serta menjaga semangat dan keikhlashan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Kita tunda euforia kita, sampai nanti ketika kita sudah masuk ke Surga-Nya. Aamiiin…

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan. Tinggikan hari dengan kesibukan Rabbani. Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa. Tiada hasil kecuali lapar dahaga. Ingatkan diri Sang Junjungan di bulan Rahmah. Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah. Cerah hari hari bercahayakan, indah menyinar ketakwaan…” (‘Ramadhan’, Izzatul Islam)

Ayat-ayat Ramadhan yang Unik

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya permulaan Al Qur’an sehingga disebut juga sebagai Syahrul Qur’an. Interaksi seseorang dengan Al Qur’an bahkan merupakan salah satu indikator keberhasilan Ramadhan. Sayangnya, masih banyak yang mengira bahwa interaksi dengan Al Qur’an ditentukan dengan banyaknya ayat yang dibaca ataupun frekuensi khatam Al Qur’an. Padahal selain membaca, juga ada keutamaan menghapal, mentadaburi dan mengamalkan Al Qur’an. Betapa banyak orang yang mengejar target tilawah Qur’an untuk khatam minimal sekali selama bulan Ramadhan namun mengabaikan ilmu tajwid dan tartilnya bacaan. Banyak sekali orang yang khatam Al Qur’an di bulan Ramadhan, namun bisa dihitung jumlahnya yang sudah khatam membaca tafsir Al Qur’an, atau paling tidak mengkhatamkan terjemah Al Qur’an. Padahal pengamalan Al Qur’an lebih ditentukan oleh baiknya pemahaman yang lahir dari tadabur, bukan frekuensi khatam Al Qur’an ataupun indahnya bacaan. Dalam kesempatan ini, penulis mencoba menadaburkan ayat-ayat Ramadhan yang termaktub dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183 sampai 187. Penulis yang bukan ahli tafsir tentu saja melihatnya dari sudut pandang keunikan, renungan dan yang menginspirasi, tidak mendalami asbabun nuzul, ilmu nahwu, ilmu tafsir, ilmu fiqh dan sebagainya. Untuk tafsir beneran bisa dibaca di kitab-kitab tafsir, namun penulis mendapati beberapa hal menarik seputar ayat-ayat yang berkisah tentang kewajiban berpuasa.

Pertama, banyak khatib yang menyampaikan bahwa dalil wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan adalah Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183 yang tercantum di atas lengkap dengan bunyi ayatnya yang mungkin sudah kita hapal karena sering sekali diulang di bulan Ramadhan. Namun penulis berpendapat lain. Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183 hanya menyampaikan kewajiban berpuasa seperti umat terdahulu tanpa ada penjelasan waktunya. Ayat berikutnya sudah disebutkan lebih spesifik, “(yaitu) pada hari-hari yang ditentukan…” (QS. Al Baqarah: 184), tapi kapan pastinya masih belum terjawab. Baru pada ayat berikutnya diperjelas, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al Baqarah: 185). Jadi, menurut penulis ayat ini lebih tepat dinobatkan sebagai dalil wajibnya puasa di bulan Ramadhan dibandingkan dua ayat sebelumnya. Ekstremnya, tanpa dua ayat sebelumnya pun ayat ini jelas menegaskan perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Pertanyaan kritisnya, mengapa tidak langsung saja disebutkan “…kutiba ‘alaikumush shiyam fi syahrur Ramadhan…” atau langsung disebut saja bulan Ramadhan tanpa “hari-hari yang ditentukan”? Disinilah menariknya. Perintah puasa kepada umat-umat terdahulu tidak dikhususkan di bulan Ramadhan, sehingga tidak tepat jika Ramadhan sudah disebut di awal dan disandingkan dengan informasi bahwa umat-umat terdahulu juga diperintahkan berpuasa. Sementara informasi bahwa umat-umat terdahulu juga diperintahkan berpuasa menjadi penting untuk menegaskan konektivitas agama tauhid sekaligus menghilangkan keraguan bahwa berpuasa itu sulit untuk dilakukan. Adapun menyebutkan ‘hari-hari yang ditentukan’ menunjukkan keistimewaan hari-hari tersebut, dibandingkan langsung menyebut bulan Ramadhan. Ada penekanan, sebagaimana perkataan “tugas harus dikumpulkan pada hari yang ditentukan”. Ada yang misteri yang spesial, sebagaimana perkataan “saya punya kejutan yang akan saya sampaikan pada hari yang ditentukan”.

Lalu, mengapa tidak disebut saja, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diwajibkan berpuasa…”. Semakin menarik, menegaskan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an akan memperlihatkan keterkaitan erat antara Ramadhan dengan Al Qur’an. Sepanjang pengetahuan penulis, Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, tidak ada penyebutan bulan Januari, Februari sampai dengan Desember dalam Al Qur’an (ya iya lah). Dan tidak ada pula penyebutan bulan hijriyah, dari Muharram sampai dengan Dzulhijjah dalam Al Qur’an. Kalaupun ada penyebutan nama bulan hijriyah, maknanya tidak merujuk pada nama bulan, misalnya penyebutan ‘Muharram‘ dalam Al Qur’an surah Ibrahim ayat 37 bermakna ‘yang dihormati’ bukan ‘bulan muharram’. Kalaupun ada penyebutan ‘syahrul haram‘ (bulan haram) dalam Al Qur’an, hal tersebut juga tidaklah merujuk hanya ke satu bulan. Semakin terlihat istimewanya Ramadhan dalam Al Qur’an.

Kedua, penjelasan bahwa orang sakit dan dalam perjalanan diperbolehkan menganti puasanya di hari yang lain diulang dalam dua ayat berurutan (QS. Al Baqarah: 184 – 185). Pengulangan perintah dalam Al Qur’an mungkin bukan hal asing, perintah berhukum dengan hukum Allah SWT misalnya, diulang dalam Al Qur’an surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47. Bahkan ada beberapa perintah yang diulang dalam ayat yang sama, misalnya perintah untuk bersabar yang diulang dalam Al Qur’an surah Al Imran ayat 200 atau perintah untuk bertaqwa yang diulang dalam Al Qur’an surah Al Hasyr ayat 18. Secara umum, pengulangan menunjukkan pentingnya sesuatu yang diulang tersebut, tidak terkecuali pengulangan ayat berkali-kali dalam Al Quran surah Ar Rahman dan Al Mursalat.

Jika yang diulang berupa perintah atau statement tentu mudah dimengerti, namun dalam hal ini yang diulang adalah keringanan atau kelonggaran (rukhshah). Pertanyaan kritisnya, seberapa penting sih keringanan ini sampai perlu diulang dua kali? Disinilah menariknya. Pun rukhshah ini diulang di dua ayat berurutan, namun penekanannya berbeda, perhatikan saja akhir ayatnya. Pada ayat 184, keringanan ini diiringi dengan sebuah statement bahwa berpuasa adalah lebih baik jika kamu mengetahui. Hal ini mengisyaratkan keutamaan syari’at berpuasa sedemikan besar sehingga jangan mudah untuk mengambil keringanan atas berbagai halangan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berbuka puasa sehari tanpa rukshah (alasan yang dibenarkan) atau sakit, maka tidak akan dapat ditebus (dosanya) dengan berpuasa seumur hidup meskipun dia melakukannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Bisa dibayangkan jika ayat tentang rukhshah ini sampai disini saja, umat Islam tentunya akan memaksakan diri untuk terus berpuasa bagaimanapun kondisinya, sebagaimana para shahabat memaksakan diri pergi berjihad dalam kondisi apapun.

Nah, pada ayat 185, keringanan ini diiringi dengan statement bahwa Allah SWT menghendaki kemudahan dan tidak hendak mempersulit. Berbagai kemudahan ini seharusnya dapat dioptimakan untuk meningkatkan rasa syukur. Statement yang mirip juga dapat ditemukan dalam Al Qur’an surah Al Maidah ayat 6 ketika Allah SWT memerintahkan untuk berwudhu sebelum shalat dan memberi keringanan dengan bertayamum. Dengan adanya keringanan kedua ini, umat Islam yang dalam kondisi tertentu tidak perlu memaksakan diri berpuasa, namun dapat menggantinya di hari yang lain. Kewajiban berpuasa sejatinya Allah SWT turunkan untuk memberikan banyak kebaikan, bukan hendak mempersulit, apalagi sampai menzhalimi hamba-Nya.

Ketiga, ada sebuah ayat yang tidak langsung berkaitan dengan ibadah Ramadhan terselip di ayat-ayat tentang puasa, yaitu “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah: 186). Ayat yang berbeda ini jelas terlihat dan sudah banyak tafsir yang menjelaskan bahwa ada keutamaan do’a yang menyertai ibadah puasa. Ibnu Katsir misalnya, menjelaskan bahwa firman Allah SWT pada ayat ini perihal motivasi berdo’a yang disebutkan di sela-sela ayat tentang hukum-hukum seputar puasa (Ramadhan), menyiratkan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam berdo’a saat menyempurnakan puasa, bahkan saat berbuka.

Orang yang berpuasa termasuk golongan orang yang do’anya tidak tertolak dan waktu berbuka adalah salah satu waktu diijabahnya do’a. “Ada tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak: seseorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzhalimi” (HR. At Tirmidzi). “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka tersedia do’a yang tidak akan ditolak” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud). Ada pula tafsir yang menjelaskan asbabun nuzul ayat tersebut, bahkan ada pula yang coba menghitung penyebutan kata ganti yang menunjukkan Allah SWT dan penyebutan kata ganti yang menunjukkan hamba Allah SWT pada ayat tersebut berjumlah sama, yaitu tujuh.

Pertanyaan kritisnya, tidak adakah hal lain yang lebih mengaitkan ayat tersebut dengan ibadah puasa? Disinilah menariknya, penulis melihat ada hal lain yang unik dari ayat tersebut, berbeda dengan (sekedar) perintah berdo’a sebagaimana disebutkan jelas dalam Al Qur’an surah Al Ghafir (Ha Mim) ayat 60. Muraqabatullah, itulah intinya. Merasa dalam pengawasan Allah SWT adalah persamaan antara shaum Ramadhan dengan do’a. Puasa adalah ibadah yang hanya manusia dan Allah SWT yang tahu, seperti halnya do’a yang dipanjatkan. Orang yang mengerjakan shalat dan membayar zakat bisa dilihat dan dibuktikan, ada bukti fisik, ada saksi, orang yang menunaikan ibadah haji apalagi. Namun berpuasa menyediakan banyak kesempatan untuk ingkar tanpa diketahui manusia. Orang yang terlihat lemas, belum tentu berpuasa. Sebaliknya, mereka yang terlihat bugar tidak bisa dicap sedang tidak berpuasa. Bahkan orang yang ikut makan sahur dan berbuka belum tentu tidak batal puasanya. Yang dapat dibuktikan adalah ketika seseorang tidak berpuasa, namun tidak dapat dibuktikan seseorang tersebut berpuasa atau tidak. Sebagaimana seseorang yang berdo’a, apa yang dipanjatkan dan seberapa besar harapan seorang hamba akan terkabulnya do’a tersebut hanya Allah SWT dan yang bersangkutan yang mengetahuinya. Ya, ayat di atas tidak hanya berbicara mengenai do’a, namun juga muroqobatullah yang dekat hubungannya dengan puasa sehingga Allah SWT menjanjikan ganjaran bagi orang yang berpuasa adalah langsung dari-Nya, berbeda dengan ibadah yang lain.

Keempat, ada filosofi indah tentang hubungan suami istri dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 187, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…”. Ya, analogi bahwa pasangan kita adalah pakaian kita cukup menarik. Banyak tafsir dan tulisan yang sudah coba mentadaburi filosofi ini. Sebagaimana pakaian untuk menutupi aurat, pasangan kita pun akan menutupi aib kita. Sebagaimana pakaian akan melindungi dari kotoran, panas dan hujan, pasangan kita juga akan melindungi kita. Dan sebagaimana pakaian akan memperindah diri kita, pasangan kita juga akan menghiasi kehidupan kita.

Pertanyaan kritisnya adalah mengapa filosofi ini perlu disampaikan dan mengapa pula persoalan becampur dengan istri perlu dijelaskan? Jika melihat lanjutan ayat tersebut dan asbabun nuzulnya, jawaban atas pertanyaan kedua dapat dipahami. Awalnya, perintah untuk meninggalkan syahwat kemaluan selama berpuasa dipahami berlaku selama sebulan penuh, ayat ini turun untuk menegaskan diperbolehkannya berhubungan dengan istri di malam hari Ramadhan. Namun pertanyaan pertama belum terjawab, mengapa perlu ada filosofi pakaian dalam rangkaian ayat Ramadhan? Mengapa tidak dicantumkan dalam Surah An Nisa saja yang banyak mengupas seluk beluk pernikahan? Atau mengapa tidak dicantumkan dekat Surah Al Baqarah ayat 223 saja yang memuat filosofi bahwa istri itu seperti lahan untuk bercocok tanam?

Sederhananya, apa hubungan filosofi pakaian ini dengan Ramadhan? Disinilah menariknya. Secara umum, kita dapat melihat bahwa Ramadhan erat kaitannya dengan rumah tangga, bulan Ramadhan adalah bulan keluarga. Aktivitas makan sahur dan berbuka bersama keluarga, membayar zakat fitrah, hingga i’tikaf dan Idul Fitri bersama keluarga hanya dapat terjadi di bulan Ramadhan. Karenanya ayat-ayat Ramadhan sudah sewajarnya memuat tentang urusan kerumahtanggaan karena memang ibadah puasa dapat mempererat hubungan kekeluargaan. Secara lebih spesifik, suasana Ramadhan yang kondusif lebih memudahkan perwujudan filosofi pakaian tersebut. Aktivitas yang dijalani bersama, termasuk menahan nafsu syahwat bersama pasangan selama bulan Ramadhan untuk mencapai derajat takwa, akan menyempurnakan filosofi tersebut. Ya, pakaian bukan sebatas untuk menutup aurat, melindungi dan menghias diri, namun pakaian tertentu yang diperoleh dari hasil perjuangan dan kerja keras, akan menjadi pembeda, identitas yang menunjukkan status. Karenanya sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian taqwa (QS. Al A’raf : 26). Begitulah, ibadah Ramadhan akan membuka jalan bagi kita dan ‘pakaian’ kita untuk mengenakan ‘sebaik-baik pakaian’ jika dioptimalkan.

Sementara ini, empat hal tersebut yang penulis anggap menarik dari ayat-ayat Al Qur’an terkait ibadah Ramadhan, mungkin ada yang terlewat dan masih menjadi bahan yang menarik untuk ditadaburi. Semoga Ramadhan ini mempererat hubungan kita dengan Al Qur’an, memberikan kita banyak kemudahan, mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan mengantarkan kita menjadi manusia yang berpredikat mulia di sisi Allah, yaitu orang-orang yang bertaqwa.

Wallahu a’lam bi shawwab

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…
(QS. Al Baqarah: 185)

A Story of Candle

The candle burned bright
So beautiful, decorated the dark night
Warmed the cold spirit
Awakened the heedless heart
Reassuring soul for more devout

The candle began to melt
Never stop give benefit
Illuminate the surrounding, day and night
Unnoticed, many missed tahajud when night
Unconscious, reading Qur’an also forgot

The candle-light shrinking
Stays on but is actually dying
Daily worship is no longer doing
Without food the soul also drying
Just realized that the time has running

The candle nearly exhausted
Regret always comes delayed
Can’t return the time that has elapsed
Hopefully still be given period
To meet with the month that blessed

Ramadhan, Lari Sprint atau Maraton?

”Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.Mereka diberi minim dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS Al Muthaffifin : 22 – 26)

Dalam suatu perlombaan lari, kemampuan sang pelari mengatur penggunaan energi merupakan salah satu kunci penting sukses menggapai kemenangan. Pemanasan harus terlebih dahulu dilakukan, start harus baik dan energi harus terjaga hingga akhir jarak yang ditempuh, pendek maupun panjang.

Fenomena Maraton yang Memprihatinkan…
Kebanyakan pelari Ramadhan memulai start dengan sangat baik. Shaum, tarawih, tilawah, shadaqoh dan amal ibadah lainnya dapat terjaga. Hanya saja banyak orang tidak memperhitungkan jarak tempuh yang tidak pendek. Di samping pemanasan yang kurang, penggunaan energi yang tidak terjaga membuat para pelari Ramadhan sudah terengah-engah di pertengahan jalan. Tidak sedikit pula yang justru lebih disibukkan dengan bagaimana dia akan merayakan kemenangannya dan membayangkan hadiah yang akan diterimanya padahal garis finish masih sepertiga jarak lagi. Dan sesungguhnya sepertiga jarak terakhir inilah yang benar-benar menentukan. Pada jarak inilah terdapat hadiah yang bernilai seribu tahun beribadah. Akhirnya, tanpa sadar, mereka roboh, hanya angan mereka saja yang menyampai finish. Kemudian mereka bermimpi indah merayakan kemenangan bergelimang hadiah yang mereka sukai bersama orang-orang yang mereka cintai…

Fenomena Sprint yang Melelahkan…
Lain lagi dengan banyak pelari tarawih. Perlombaan jalan santai, sesuai dengan namanya, berubah menjadi lari cepat. Satu Surat Al Fatihah dianalogikan sebagai satu langkah yang kurang afdhal kalau diselesaikan lebih dari satu nafas. Dan –maaf—senam ba’da Isya pun akhirnya menjadi rutinitas. Hasilnya, bukan tetes air mata yang mengalir tapi tetes peluh yang tertumpah…

Sudah menjadi keharusan bagi pelari yang hendak memperoleh hasil terbaik untuk benar-benar melakukan persiapan yang matang sebelum berlari. Dia harus betul-betul memahami medan tempuh, fokus pada tujuan akhir dan terus menjaga semangat dan staminanya bukan hanya di awal tapi hingga akhir. Ya, kini kita sedang sama-sama berlari. Perhatikan di depan, banyak orang yang lebih cepat dari kita dan kita harus mengejar mereka. Persiapkan segala sesuatunya, jangan sampai kita terseok-seok, terpeleset atau jatuh terjerembab ketika yang lain justru lagi cepat-cepatnya berlari. Mumpung garis finish Ar Royyan masih cukup jauh, bolehlah kita kembali mengatur nafas, mengumpulkan energi sambil terus berlari. Kita akan jauh tertinggal jika coba-coba hanya berjalan. Dan teruslah berlari, raih prestasi terbaik, karena bisa jadi inilah perlombaan lari terakhir yang kita ikuti…

Ramadhan, Musim Berbuat Baik

Jika telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan” (HR. Bukhari – Muslim)

Ramadhan memang membawa pengaruh yang luar biasa. Kapan lagi merasakan masjid & mushalla penuh ketika shalat isya dan shubuh selain di bulan Ramadhan? Kapan lagi televisi berlomba-lomba menampilkan ‘sisi islami’nya? Artis-artispun ‘hijrah’ dan dengan ‘bangga’nya berbusana islami? Ya, kapan lagi? Ketika manusia berlomba-lomba melakukan infaq & sedekah, ketika senantiasa terdengar tilawah setelah selesai shalat fardhu, ketika berbagai penyakit lisan mendapatkan kontrol sosial… “Puasa, ga boleh bohong! Eh, jangan nggosip, lagi puasa!… Ketika tempat-tempat penyalur syahwat ditutup, Ketika ramai manusia mengisi siang harinya dengan berpuasa dan malam harinya dengan shalat… Ya, hanya ada di bulan Ramadhan!

Membahagiakan, suasana religius yang mendukung tentunya akan sangat membantu peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Membanggakan, ternyata izzah keislaman itu masih ada, ternyata fitrah kebaikan itu masih nampak, ternyata kekuatan ummat itu sedemikian besar. Mengharukan, ketika inisiatif beramal begitu tinggi, bahkan oleh mereka yang sebelumnya tidak memperlihatkan kepeduliannya terhadap kondisi keislamannya. Sekaligus menyedihkan, karena hal ini hanya terjadi di (awal) bulan Ramadhan saja…

Padahal Allah menyukai amal yang berkesinambungan walaupun sedikit, padahal nikmat Allah tidak hanya diberikan-Nya di bulan Ramadhan, padahal kewajiban beribadah adalah setiap saat, padahal berbuat kebaikan tak perlu menunggu orang lain, padahal Allah membenci orang yang munafik, banyak melakukan riya’ & sum’ah, padahal belum tentu kita mati di bulan ini! Dan Islam bukanlah hanya ada di bulan Ramadhan!
Kenyataannya, hanya mereka yang sudah menciptakan suasana Ramadhan di setiap bulannyalah yang akan mampu bertahan. Mereka yang terjaga puasanya adalah mereka yang biasa berpuasa di luar Ramadhan, mereka yang terjaga tilawahnya adalah mereka yang biasa bertilawah di luar Ramadhan, mereka yang tetap terjaga tarawihnya adalah mereka yang bisa tahajud di luar Ramadhan… Merekalah orang-orang yang istiqomah, Insya Allah… Orang-orang yang amal kebaikan dan ibadahnyanya tidak menyurut karena waktu, tidak pula tergantung dari ada tidaknya orang lain yang melakukan hal serupa…

Akhirnya dapat dipahami mengapa tempat-tempat ibadah semakin sepi dari tilawah dan dzikir, shaf-shaf shalat kian menyusut seiring berlalunya Ramadhan. Karena banyak orang hanya menjadikan Ramadhan sebagai trend. Ya, “Ramadhan (maupun bukan Ramadhan adalah), musim berbuat baik”. Slogan yang sering didengungkan salah satu stasiun TV itu nampaknya perlu diartikan sebagai ironi. Akhirnya, kita perlu berintrospeksi dan berharap semoga Allah menjaga kita dari sifat munafiq dan ikut-ikutan, semoga Allah memelihara ibadah kita dari riya’ dan sum’ah, semoga madrasah Ramadhan dapat menjadikan kita lulusan Ramadhan yang dapat menjaga kualitas amalnya di luar Ramadhan…

Kisah Sebatang Lilin

Lilin itu menyala terang
Begitu indah menghiasi malam tak berbintang
Menghangatkan dinginnya jiwa kerontang
Membuat terjaga hati lalai nan bimbang
Menentramkan qalbu ‘tuk semakin tenang

Lilin itu mulai mencair
Kontribusi tiada akhir
Siang malam memenyinar sekitar
Melalui malam tanpa qiyam, tiada sadar
Melewati hari tanpa tilawah, menjadi wajar

Cahaya lilin itu kian meredup
Terus berpendar namun tak hidup
Ibadah harian menguap menjadi asap
Jiwa hampa tanpa makanan pun sesuap
Detik terlewat hanya menyisakan harap

Lilin itu hampir mati
Sesal selalu datang nanti
Waktu berlalu takkan kembali
Tinggal memohon diberi kesempatan lagi
Tuk bersua kembali dengan bulan yang diberkati