Tag Archives: rasa syukur

Monitoring dan Evaluasi Produktif (2/2)

Burung Hud-hud pun bercerita panjang lebar tentang negeri Saba’ yang penduduknya menyembah matahari dan dipimpin oleh seorang wanita (QS. An Naml: 22 – 26). Laporan yang detail disampaikan Hud-hud sebagai jawaban atas ketelitian Nabi Sulaiman a.s. Hikmah ketiga dalam melakukan monev efektif adalah dengan memperhatikan hal-hal detail. Hal-hal yang umum tampak akan terlihat lumrah, bahkan bisa ‘dikondisikan’ sehingga terlihat baik. Karenanya Rasulullah SAW mengevaluasi sahabat hingga amalan spesifik, karenanya Umar r.a. melakukan monitoring hingga ke pelosok-pelosok. Sehingga menjadi lumrah ketika menilai kebersihan sebuah rumah misalnya, bukan dilihat dari tampilan luar, melainkan harus dilihat bagaimana dapur dan kamar mandinya, bahkan perlu diperiksa apakah ada debu di perabotan rumahnya.

Menariknya, Nabi Sulaiman a.s. tak lantas meng-iya-kan laporan dari Hud-hud. Beliau akan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (QS. An Naml: 27) dan menugaskan Hud-hud untuk menindaklanjuti temuan tersebut (QS. An Naml: 28). Hikmah keempat dalam melakukan monev efektif adalah memverifikasi temuan. Triangulasi temuan menjadi perlu sebab perspektif manusia beragam, belum lagi karakter manusia juga berbeda-beda, ada yang suka mengeluh, ada yang gemar melebih-lebihkan, ada pula yang terlalu tawadhu. Pembuatan keputusan ataupun aksi tindak lanjut monev sangatlah ditentukan oleh kesahihan temuan, karenanya konfirmasi begitu penting agar tidak ‘salah obat’.

Jalur diplomasi pun ditempuh, mulai dengan pengiriman surat dan memberikan kesempatan bagi Ratu Negeri Saba untuk mendiskusikannya beserta para punggawanya (QS. An Naml: 28 – 35). Ada tahapan dalam melakukan perbaikan, termasuk pelibatan pihak yang dimonev untuk berpikir dan bersikap. Inilah hikmah kelima, memberikan ruang untuk introspeksi, berdiskusi dan menyikapi temuan monev menjadi penting agar hadir kepemilikan terhadap tindakan perbaikan yang diharapkan akan terealisasi. Sikap langsung memberikan umpan balik yang spesifik justru terkesan menghakimi dan meniadakan berpikir kritis yang akan mengeliminasi tumbuhnya kesadaran. Akan lebih baik lagi jika solusi lahir dari wawas diri pihak yang dimonev, komitmen perbaikan tentu akan lebih kuat.

Hal yang cukup menonjol dari surat yang dikirim Nabi Sulaiman a.s. adalah diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan berisi ajakan untuk tunduk memeluk Islam (QS. An Naml: 30 – 31). Ada misi perbaikan yang diusung sebagai hikmah keenam. Monev harus didasari keikhlasan untuk melakukan perbaikan dengan rangkaian aktivitas yang penuh kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam aktivitas monev adalah integritas. Integritas inilah yang membuat Nabi Sulaiman a.s. menolak harta yang dihadiahkan kepadanya (QS. An Naml: 35 – 37). Integritas inilah yang menjadi hikmah ketujuh. Penilaian hasil monev tidak seharusnya terganggu oleh jamuan yang dihidangkan atau pun akomodasi yang disediakan, apalagi dipengaruhi oleh agenda jalan-jalan yang difasilitasi. Semangat perbaikan yang penuh berkah harusnya dirawat dengan niat baik dan proses yang baik pula.

Setelah itu Nabi Sulaiman a.s. berdiskusi dengan para pembesarnya untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya. Beliau menawarkan kepada para pembesarnya fastabiqul khairat untuk memindahkan singgasana Ratu Saba (QS. An Naml: 38 – 40). Hikmah kedelapan itu adalah musyawarah. Sehebat apapun figur individu, akan lebih efektif dan penuh keberkahan segala sesuatu yang diputuskan melalui musyawarah. Hasil keputusan akan lebih ringan untuk dilaksanakan dengan komitmen bersama. Musyawarah juga akan meminimalisir perkara-perkara yang luput karena keterbatasan perseorangan. Dan musyawarah akan memunculkan potensi-potensi untuk berkontribusi melakukan perbaikan.

Strategi menarik yang digunakan Nabi Sulaiman a.s. untuk mengokohkan keimanan Ratu Saba adalah dengan memberikan semacam studi kasus yang menunjukkan keterbatasan Ratu Saba sebagai hamba Allah. Pertama, setelah singgasana Ratu Saba dipindahkan, Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan punggawanya untuk mengubahnya, untuk melihat apakah Ratu Saba mengenalinya atau tidak. Ratu Saba tentu terkejut mendapati Nabi Sulaiman a.s. memiliki singgasana yang serupa dengan miliknya (QS. An Naml: 41 – 42). Kedua, lantai istana yang dibuat seperti kolam air semakin menghadirkan kesadaran Ratu Saba bahwa kekuasaan dirinya tak ada apa-apanya. Ia pun lantas mengakui kebesaran Allah SWT (QS. An Naml: 43). Strategi pemberian contoh dan studi kasus ini memperkuat hikmah kelima mengenai pentahapan dan pelibatan secara lebih teknis. Karena sebaik-baik perbaikan hendaknya dimulai dari kesadaran dan pemahaman, bukan karena paksaan. Semakin jelas gambaran perbaikan yang disadari perlu dilakukan, semakin besar pula potensi perubahan yang akan terjadi.

Hikmah terakhir yang tidak dapat luput dari kisah Nabi Sulaiman a.s. adalah senantiasa bersyukur. Dengan segala kekuasaannya, Nabi Sulaiman a.s. tidak pernah lalai dalam bersyukur. “…Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia)” (QS. An Naml: 40). Jika tidak ada temuan mayor dalam aktivitas monev, maka hal tersebut perlu disyukuri. Pun bila ada temuan penting juga perlu disyukuri karena hal tersebut berarti membuka peluang untuk improvement. Masalah kesyukuran ini juga terkait dengan motivasi untuk melakukan perbaikan karena syukur akan berbanding lurus dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Termasuk nikmat ditunjukkan kekurangan untuk bisa diperbaiki, nikmat untuk bisa membenahi diri, dan nikmat untuk dapat terus bersyukur.

Jadi jika aktivitas monev hanya jadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam ataupun belum menghasilkan perbaikan seperti yang diharapkan, bisa jadi ada yang salah dalam pemahaman, niat awal, proses yang dilakukan, atau pun penyikapan yang keliru terhadap temuan. Kisah monev ala Nabi Sulaiman a.s. banyak memberi inspirasi tentang menjalani monev secara efektif, mulai dari konsistensi hingga rasa syukur yang hendaknya menyertai setiap aktivitas monev. Dan ada baiknya juga jika inspirasi ini juga menggerakkan setiap kita untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi diri. Senantiasa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya sebelum hari dimana amalan manusia akan dievaluasi langsung oleh Allah SWT.

…Wahai Rabbku, perkenankanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu (Allah) yang telah Engkau  anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih
(QS. An Naml: 19)

Syukur dan Sabar dalam Berumah Tangga

Pada suatu hari, Imran bin Haththan menemui dan menatap istrinya. Secara fisik, Imran adalah laki-laki buruk rupa dan bertubuh pendek. Sedangkan istrinya cantik jelita dan tinggi semampai. Semakin lama dipandang, sang istri kian terlihat cantik di mata Imran. Merasa dipandangi terus-menerus, istri Imran pun bertanya, “Ada apa dengan dirimu?”. Imran menjawab, “Segala puji bagi Allah. Demi Allah, kamu perempuan yang cantik.” Sang istri kemudian berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya saya dan kamu akan masuk surga.” Imran pun bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?”. Istrinya menjawab, “Sebab, kamu telah dianugerahi istri seperti aku, dan engkau bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan suami seperti kamu, dan aku bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur ada di dalam surga.

Kisah tersebut dengan berbagai versinya kerap disampaikan sebatas humor mengenai pasangan ‘Beauty and the beast’. Padahal jika diselami maknanya lebih dalam, syukur dan sabar merupakan hal utama dalam berumah tangga. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa penyebab terbesar perceraian adalah masalah finansial, kemudian perselingkuhan, baru faktor-faktor lainnya termasuk KDRT, masalah anak dan keluarga, ataupun karena perbedaan prinsip. Jika perselingkuhan erat kaitannya dengan iman serta kesetiaan (dan biasanya hanya merupakan dampak bukan akar masalah); masalah keuangan (dan berbagai faktor penyebab perceraian lainnya) lebih dekat dengan manajemen syukur dan sabar.

Tanpa bermaksud mendikotomikan, syukur memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan sabar. Karenanya dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah SWT mengungkapkan betapa sedikit manusia yang pandai bersyukur. Karenanya ketika Aisyah r.a. bertanya mengapa Rasulullah SAW shalat sampai sebegitunya padahal dosa beliau sudah pasti diampuni, Rasulullah SAW hanya menjawab, “Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Padahal tetap beribadah hingga kaki bengkak-bengkak adalah wujud kesabaran, namun syukurlah yang menjadi tujuan. Misi sebagai hamba dijalani dengan bersyukur, sementara misi sebagai khalifah dihadapi dengan bersabar. Dimensi syukur lebih abstrak, bahkan kita perlu bersyukur atas karunia mampu bersyukur.

Problematika berumah tangga biasa dimulai dari keluhan-keluhan yang muncul diikuti dengan sikap suka membandingkan dengan nikmat yang diperoleh orang lain. Bukti nyata terkikisnya rasa syukur dan sabar. Rasa syukur untuk bisa bersabar dan kesabaran untuk terus bersyukur. Pernikahan biasanya diawali dengan kesyukuran, kecuali dalam beberapa kasus misalnya kawin paksa atau married by accident. Bahtera rumah tangga yang mengarungi samudera kehidupan tentu tidak terlepas dari hujan badai dan ujian. Disinilah kesabaran dibutuhkan. Sabar adalah sikap aktif untuk mengatasi permasalahan dengan penuh kesungguhan. Kerja keras tanpa batas.

Bersabar itu sulit, namun bersyukur lebih rumit dan kerap dilupakan. Kala ujian datang menghadang, manusia sering alpa akan segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk lain. Orang sakit mungkin ingat akan nikmat sehat, namun lupa bahwa adanya keluarga yang menemani juga merupakan nikmat. Ketika masalah finansial menerpa bahtera rumah tangga, suami istri tentu tidak tinggal diam dan bekerja keras. Itu adalah kesabaran. Namun tanpa kesyukuran, kesabaran tersebut biasanya tak mampu bertahan. Suami istri seakan lupa nikmat ketika mereka baru menapaki mahligai pernikahan, kebahagiaan dikaruniai keluarga yang mendukung dan anak yang terlahir sempurna, termasuk nikmat keharmonisan rumah tangga yang pernah dirasakan. Toh rezeki tidak harus berupa uang.

Ketika kesyukuran tiada, yang tersisa adalah sikap emosional dan kesombongan. Sebab rasa syukur ditandai dengan ketenangan dan berbagi. Dan saat kesabaran juga terkikis, yang muncul adalah ego dan menyalahkan pihak lain. Sebab kesabaran menghadirkan sikap solutif dan mau bekerja sama. Bisa dibayangkan neraka rumah tangga tanpa kesyukuran dan kesabaran. Dalam beberapa hadits yang menyampaikan bahwa penghuni neraka didominasi oleh wanita, Rasulullah SAW mengemukakan penyebabnya adalah karena para wanita banyak melaknat/ mengeluh dan durhaka pada suaminya. Mengingkari banyak kebaikan pada suaminya ketika menemukan suatu hal yang tidak disukainya. “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i).

Jika istri perlu lebih banyak bersyukur untuk mengikis sikap gengsi dan ketidakstabilan emosinya, suami perlu lebih banyak bersabar untuk meruntuhkan egonya. Laki-laki memang pemimpin dalam rumah tangga, namun mengedepankan statement tersebut bukan solusi dalam mengatasi problematika rumah tangga. Sebab istri perlu dihargai sebagai tulang rusuk bukan alas kaki. “Tulang rusuk yang bengkok”, kata Rasulullah SAW. Harus bersabar untuk meluruskannya karena akan patah jika dipaksa. Bukan hanya bersabar untuk tidak menyakiti, tetapi juga bersabar atas berbagai sikap istri yang kadang emosional, moody, suka menuntut, kekanak-kanakan dan kurang bijaksana. “…Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Kesyukuran dan kesabaran ini harus terinternalisasi dalam nurani dan pikiran dan terimplementasi dalam perbuatan. Mulai dari hal yang sederhana misalnya suami yang biasa meminta maaf pun tidak salah dan istri yang berterima kasih atas pemberian sekecil apapun. Kesyukuran pasti akan menambah nikmat. Sementara kesabaran akan mendatangkan solusi atas berbagai permasalahan dari arah yang tidak terduga. Bahtera rumah tangga akan kokoh dengan kesabaran, dan akan semakin indah dengan kesyukuran. Semoga kita –dan pasangan hidup kita– menjadi hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan khalifah-khalifah di muka bumi yang teguh besabar.

“Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. (HR. Muslim)