Tag Archives: rumaisha alifiandra udiutomo

Kaleidoskopku 2011

Januari
Awal Tahun Baru 2011 kuhabiskan di Semarang, bersepeda keliling Undip, menikmati wajah Kota Semarang dan sekitarnya dari atas menara Masjid Agung Semarang. Kunjungan ke Semarang menutup rangkaian Monitoring Evaluasi (Monev) Program Beastudi Etos semester ganjil 2010/ 2011 yang kulakukan sekaligus menjadi Monev terakhir di masa lajangku. Sepekan setelah kembali dari Semarang, aroma pernikahan semakin kuat. Pada tanggal 8 Januari 2011, keluargaku resmi melamar keluarga calon istriku sebagai besan. Acara khitbah yang dilakukan tepat 7 pekan dari waktu ta’aruf, pertemuan pertamaku dengan calon pendampingku, di sela kesibukanku ke luar kota, diakhiri dengan pengisian Naskah Penasehatan Calon Pengantin. Seiring dengan pembukaan pendaftaran seleksi beastudi etos dan beasiswa aktivis 2011, aku dan teman – teman panitia pernikahan PURwo – Endah (yang selanjutnya disebut ‘PurE Rangers’ mulai mempersiapkan acara pernikahan. Mulai dari membuat biodata diri, mengumumkan undangan hingga berbagai persiapan teknis.

Februari
Februari adalah salah satu bulan bersejarah tahun 2011. Pada 6 Februari, tepat di usia ke 27, aku mengakhiri masa lajangku. Beragam prosesi mulai dari akad nikah, pembacaan puisi syukur, memakan ‘telur dadar cinta’, menyenandungkan ‘Adalah Engkau‘ dalam iring-iringan sepeda dan becak pernikahan hingga resepsi yang meriah, mengantarkanku menyandang status baru, amanah baru, sebagai suami dari Endah Suyanti, yang baru 11 pekan kukenal. Ucapan selamat dan kado pun berdatangan. Kado – kado yang hingga akhir tahun masih menumpuk di kontrakan kami. Enam hari setelahnya, kami menghadiri tiga undangan pernikahan sekaligus. Menjadi spesial bukan karena ketiga rekan yang kami kunjungi turut menghadiri resepsi pernikahan kami, namun menghadiri undangan dengan menggandeng tangan istri tercinta menjadi begitu istimewa. Sebagai penutup di akhir bulan ini, pada tanggal 26 Februari, kami menghadiri Family Gathering LPI-DD di Taman Wisata Matahari sebagai pengantin baru. Bulan madu yang sederhana.

Maret
Tepat sebulan setelah akad dan resepsi pernikahan, pada tanggal 6 Maret 2011, bertepatan dengan milad ayahku, diselenggarakan acara Ngunduh Mantu di Casa Grande. Acara tak kalah meriah dari resepsi pernikahan pertama dan dihadiri ribuan tamu. Di akhir bulan ini juga pertama kalinya aku meninggalkan istriku ke luar kota, walau hanya beberapa hari di Sukabumi. Di awali dengan penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional Program Beastudi Etos 2011 tanggal 25 – 28 Maret 2011, dilanjutkan dengan Rapat koordinasi gabungan antar jejaring DD sekaligus mengadakan rafting di Sungai Citarik tanggal 30 Maret – 1 April 2011.

April
Istriku positif hamil!!! Itulah kabar gembira di awal bulan ini. Hasil test pack yang didukung pemeriksaan bidan mempertegas hal ini. Kondisinya yang lemah, membuat kami berencana untuk mengajukan surat permohonan pengunduran diri untuk istriku sehingga ia bisa fokus menjaga kandungannya. Sementara itu berbagai kesibukan di kantor, termasuk karnaval, berbagai talkshow, diskusi dengan Pak Parni Hadi selaku Ketua Dewan Pembina DD serta persiapan Try Out Etos Nasional (TOENAS) 2011 dan Festival Anak Shaleh Etos Bogor membuatku tak terlalu memperhatikan kondisi istri dan calon anakku. Sampai kemudian di akhir bulan ini aku dikejutkan dengan kabar bahwa istriku mengalami pendarahan. Sedihnya lagi, saat itu aku sedang monev di Surabaya hingga awal Mei.

Mei
Bulan Mei adalah bulan pendidikan, banyak sekali aktivitas di kantor yang dilakukan. Aku masih berada di Surabaya pada pelaksanaan TOENAS 2011 tanggal 1 Mei 2011. Terlepas dari segala kekurangan, acara Try Out serentak di 9 wilayah se-Indonesia ini berhasil diikuti hampir 10.000 peserta di tahun pertamanya. Sementara itu istriku harus bed rest untuk menjaga kesehatan dirinya dan kandungannya. Sejak saat itu ia melepas pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Aktivitas di kantor mencapai puncaknya di bulan ini. Mulai dari penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama yang menandakan dibukanya pendaftaran program baru bernama Beasiswa Prestasi Chevron, launching Komunitas Filantropi Pendidikan, Softlaunching Beasiswa Aktivis, wisuda SGEI angkatan II hingga pelaksanaan Festival Anak Shaleh di Bogor. Pengelolaan alumni, persiapan Temu Etos Nasional dan Olimpiade Etos Nasional serta seleksi Beastudi Etos 2011 juga hampir mencapai puncaknya.

Juni
Aku sepertinya memang butuh beristirahat sejenak. Untuk kali pertama sejak menikah, aku terkapar sakit. Vonis gejala tipes oleh dokter membuatku harus istirahat sepekan di rumah, sementara aktivitas di kantor mulai disibukkan dengan persiapan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan untuk tahun anggaran baru per Agustus 2011. Sepulihnya dari sakit, kabar tak kalah mengejutkan kuterima. GM Sosial DD, Direktur IMZ dan Direktur LPI-DD menugaskanku menempati posisi baru sebagai Manajer Riset Pendidikan. Penugasan yang begitu mendadak. Di saat beberapa agenda besar Beastudi Etos akan mencapai titik klimaksnya, aku harus menempati posisi baru yang bahkan belum ada grand designnya sama sekali, dan seorang diri tanpa rekan kerja. Bagiku sih menantang, namun tetap saja terbersit kekhawatiran akan menzhalimi amanah sebelumnya.

Juli
Amanah terakhirku terkait seleksi program Beastudi Etos 2011 kuselesaikan di bulan ini sebelum mulai bertugas sebagai Manajer Riset Pendidikan awal bulan depan. Kabar mengejutkan terkait penugasan mendadak juga terjadi di bulan ini. Bu Nuk selaku Direktur LPI diangkat menjadi GM Pendidikan DD dan LPI-DD akan ditiadakan. Gonjang – ganjing struktur baru pun dimulai. DD dan beberapa jejaringnya, termasuk LPI berulang tahun di bulan Juli, alhasil banyak kegiatan di bulan ini. Dimulai dengan wisuda SMART EI pada tanggal 2 Juli, berbagai kegiatan pun bergulir, termasuk sharing dengan Pak Erry Riyana, salah seorang Dewan Pembina DD dan Pelatihan Quality Control Circle. Namun yang paling berkesan tentunya penyelenggaraan Temu Etos Nasional 2011 di Yogyakarta. Aku mengajak istriku yang tengah hamil 5 bulan untuk menikmati suasana Yogyakarta selama sepekan. Selain mengunjungi beberapa tempat di Yogya, termasuk kaki Gunung Merapi, aku juga sempat mengajak istriku singgah di rumah kakek nenekku di Ponjong, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Agustus
Tidak banyak yang terjadi di tahun anggaran baru. Posisi baru yang menuntutku untuk membuat sistem baru dan mengoptimalkan kemampuan berpikir ternyata cukup membantuku lebih dekat dengan keluarga. Ya, aku dapat menata kerja sehingga tidak harus keluar kota sampai istriku melahirkan. Bulan Agustus yang beriringan dengan bulan Ramadhan ini menjadi berbeda karena ada istri yang menemani sahur dan berbuka. Tidak hanya itu, tahun ini aku melewati Hari Raya Idul Fitri di Cipajang, Brebes, kediaman kakek nenek dari istriku.

September
Setelah rehat sejenak di bulan Ramadhan, kegiatan di kantor mulai menggeliat di bulan ini. Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) angkatan ketiga resmi dibuka dengan Stadium General pada tanggal 19 Sepetember. Namun aku tidak dapat mengikuti acaranya karena pada saat yang sama aku diminta menjadi penguji atau juri Lomba Penelitian Tindakan Kelas untuk guru – guru SMART EI. Bulan ini juga ditandai dengan pembagian kartu asuransi untuk karyawan LPI dan kick off implementasi ISO. Bulan ini diakhiri dengan seremonial peresmian Pusat Sumber Belajar dan Radio Suara Cinta Dompet Dhuafa.

Oktober
Tidak banyak yang istimewa di bulan ini, semuanya terasa rutinitas, mulai dari pekerjaan membuat jurnal pendidikan hingga cek kandungan. Kedatangan tamu dari Korea di akhir bulan ini pun tidak terasa spesial.

November
Selepas masa menjemukan, datang kembali masa membahagiakan. Bulan November menjadi bulan bersejarah lainnya di tahun 2011. Di awal bulan ini, tepatnya 3 November, dilakukan pelatihan internal audit yang meloloskanku sebagai auditor implementasi ISO dengan nilai tes 83 (skala 100). Di pekan berikutnya, aku berhasil mendapat rekan kerja setelah penantian panjang berbulan – bulan. Kehadiran seorang asisten peneliti tentunya akan sangat membantuku dalam mencapai beberapa target terdekat hingga mewujudkan Grand Design Riset Pendidikan DD. Beberapa hari kemudian, pada 11 November 2011, aku merasakan pengalaman pertama menjadi dosen SGEI. Mengajar lulusan S1 pada mata kuliah ‘Penelitian Kualitatif’ yang bukan bidangku tanpa persiapan yang cukup tentu bukan hal mudah. Dan ternyata mengajar itu sangat menyenangkan, memotivasi untuk terus belajar, termasuk belajar menghargai dan dihargai. Pelatihan manajemen kearsipan dan shooting salah satu acara unggulan Trans TV di kantorku juga turut mewarnai hari – hari di bulan November 2011. Dan kebahagiaan di bulan ini ditutup dengan sempurna. Pada hari Rabu, 30 November 2011 jam 10.20 di RSIA Aulia, telah lahir putri pertama kami dengan selamat. Kecerdasan dan kecantikan terpancar dari bayi mungil seberat 2.9 kg dan panjang 46 cm ini. Ya, menjadi ayah dari Rumaisha Alifiandra Udiutomo melengkapi kebahagiaan di akhir tahun ini.

Desember
Status sebagai seorang ayah tidak banyak mengubah pola kerja dan amanah, kecuali kerinduan untuk segera pulang menemui dua bidadari tercinta. Awal bulan Desember ini ditandai dengan terselesaikannya Jurnal Pendidikan DD edisi perdana, dengan salah satu hasil risetku dimuat disana. Jurnal ini dilaunching bersamaan dengan acara Public Training ‘Guru Kreatif, Pendidikan Berkualitas’ pada tanggal 8 Desember 2011 di UIN. Di pekan yang sama, aqiqah untuk Rumaisha dilangsungkan. Selanjutnya audit internal ISO pertama dimulai, sebagai auditor dan auditee aku memperbaiki beberapa SOP lembaga untuk penguatan sistem ke depannya. Di akhir tahun ini, disosialisasikan struktur baru Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa yang mengisyaratkan tak lama lagi aku akan menempati posisi baru dalam kontribusi sosial di bidang pendidikan. Namun kepastiannya baru akan terlihat awal tahun depan. Akhir bulan ini aku juga mengakhiri penantian hampir 2 bulan tidak bermain futsal dengan mengikuti kompetisi futsal di kantor. Aku turut berkontribusi dalam mengantarkan timku merebut juara ketiga di bawah tim pantry dan security yang memang rutin berlatih. Akhir tahun ini ditutup dengan mengevaluasi, menyusun perencanaan dan target untuk hari – hari, pekan – pekan, bulan – bulan dan tahun – tahun ke depannya.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo

Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu ‘Montague’? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apa pun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalau pun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya” (Shakespeare dalam ‘Romeo & Juliet’)

Rangkaian kalimat di atas tertulis dalam teks drama yang dibuat William Shakespeare dalam roman Romeo & Juliet. Dikisahkan hubungan Romeo dari suku Montague dengan Juliet dari suku Capulet menemui jalan buntu karena kedua suku tersebut bermusuhan. Dalam keputusasaannya, Juliet mengangankan Romeo dapat mengganti namanya, apapun itu, sehingga dapat diterima oleh keluarga Juliet. Uniknya, hanya penggalan kalimat ‘Apalah arti sebuah nama?’ yang menjadi begitu terkenal, mengesankan penulisnya menjadi orang yang tidak mementingkan nama. Jika Shakespeare masih hidup, mungkin dia hanya akan geleng – geleng kepala, apalagi sebelumnya ia pernah mengingatkan, “Perhatikan arti di setiap kata, perhatikan makna di balik kalimatnya”.

Pentingnya nama seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan. Kehidupan kita dipenuhi nama, baik mahkluk hidup maupun benda mati. Tak dapat dibayangkan betapa merepotkannya jika semua benda di dunia tidak memiliki nama, bagaimana kita akan menyebut suatu benda? Pentingnya nama ini sudah jelas tergambar dari bagaimana Allah SWT mengajarkan Adam untuk mengenal nama benda dan segala sesuatu setelah penciptaannya (QS. Al Baqarah : 31). Bahkan dalam beberapa ayat, Allah SWT mengecam nama – nama sesembahan kaum musyrikin, misalnya dalam QS. An Najm : 19  – 23. Dalam beberapa hadits juga disebutkan betapa Rasulullah SAW kerap mengganti nama – nama yang buruk –bukan hanya nama orang, tapi juga nama kelompok masyarakat, bahkan nama kota– dengan nama yang lebih baik (HR. Abu Daud, Turmidzi dan beberapa ahli hadits).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa memberi nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud). Nama Abdullah dan Abdurrahman memang merupakan nama yang paling disukai dan nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam (HR. Abu Daud, Nasa’i dan lainnya), namun bukan berarti keempat nama tersebutlah yang harus digunakan dan tidak melulu harus berbahasa Arab. Purwo Udiutomo, misalnya, tidak berbahasa Arab, namun maknanya baik. Purwo (bahasa Jawa) atau Purwa (bahasa Sunda) artinya pertama atau terdahulu. Udiutomo berasal dari kata ‘ngudi’ dan ‘utomo’ (bahasa Jawa) yang berarti mencari keutamaan. Sehingga Purwo Udiutomo berarti anak pertama yang mencari keutamaan. Sebuah do’a orang tua yang baik.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo
Rumaisha dalam bahasa Arab dapat diartikan ‘yang mendamaikan’ atau ‘yang merukunkan’. Jika dipisahkan, Rumaisha terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rum’ yang dalam bahasa Kawi berarti ‘daya tarik, keindahan dan kecantikan’ dan ‘Aisha’ yang dalam bahasa Persia berarti ‘kehidupan’. Namun dasar pemberian nama Rumaisha bukanlah hal tersebut di atas, melainkan menamai dengan nama muslimah shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka” (HR. Muslim). Rumaisha (binti Milhan) atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim, adalah ibu kandung dari Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW yang meriwayatkan lebih dari 2200 hadits. Rumaisha adalah wanita yang menawan, keibuan, cerdas dan yang paling dikenang oleh para shahabat adalah wanita dengan mahar termahal, yaitu keimanan Abu Thalhah yang kemudian menjadi salah seorang pahlawan generasi sahabat. Ummu Sulaiam adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, da’iyah yang bijaksana, pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama di antara ulama Islam. Ketulusan dan komitmen Rumaisha mengantarkannya menjadi salah satu shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Profil lebih lengkap tentang Rumaisha insya Allah akan disampaikan pada tulisan selanjutnya.

Alifiandra terdiri dari dua kata, yaitu ‘Alif’ dan ‘Andra’. ‘Alif dalam bahasa Arab memiliki arti ‘ramah dan bersahabat’, sekaligus mengandung makna ‘pertama’, ‘lurus’ dan ‘benar’. Sementara ‘Andra’ dalam bahasa Skotlandia (dan beberapa negara di Eropa) berarti gagah berani. Sifat ‘ramah dan bersahabat’ dilengkapi dengan ‘gagah berani’ sehingga diharapkan dapat menghasilkan sifat ‘tidak kaku’ dan ‘dekat’, namun tetap ‘memiliki sikap dan integritas’. Sifat ‘lurus dan benar’ dioptimalkan dengan ‘gagah berani’ sehingga keistiqomahan di jalan kebenaran yang lurus tidak hanya dipertahankan, namun juga diperjuangkan dan disebarkan. Udiutomo adalah nama ayah yang umum diberikan sebagai nama belakang anak, maknanya sudah disampaikan di atas. Dalam Islam, nama ayah kerap dinisbatkan di belakang nama anak karena seseorang tidak boleh menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya (QS. Al Ahzab : 5, HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan ulama hadits lainnya). Jadi sebaiknya bukan nama suami yang dinisbatkan di belakang nama istri, tetapi nama ayah di belakang nama anak.

Nama yang baik = Awal pendidikan anak
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ditemui seorang pria yang mengadukan kenakalan anaknya. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Hai Fulan, tidak takutkah kamu kepada Allah karena berani melawan dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menimpali, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”. Umar r.a. menjawab, “Ada tiga, yakni memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya; memilihkan nama yang baik; dan mendidik mereka dengan Al Qur’an”. Mendengar uraian tersebut, sang anak menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, dan dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku, bahkan satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya”. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik, disamping berbagai hak lainnya mulai dari mendapatkan ibu yang baik hingga dinikahkan. Secara sederhana, hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan pemberian nama yang baik adalah awal pendidikan anak yang baik. Nama adalah do’a, memberi nama yang baik berarti mengharapkannya senantiasa dalam kebaikan. Dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhori – Muslim). Nama adalah motivasi yang akan mempengaruhi tindak tanduk penyandang nama. Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya“.

Semoga pemberian nama Rumaisha Alifiandra Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a’… Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

* * *

Rasulullah SAW bersabda, “Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, “Siapa itu?” Mereka berkata, “Dia adalah Rumaisha binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik”. (Al Hadits)

Wallahu a’lam bishawwab