Tag Archives: rumaisha alifiandra

Fantasi Revolusi Edukasi 4.0

…Kita harus sering mencuci tangan, gunakan masker, lakukan social distancing & physical distancing, stay at home atau di rumah saja, tentunya berdoa kepada Allah SWT supaya virus COVID 19 ini segera berakhir. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada dokter, perawat, dan petugas lab yang sedang berjuang di rumah sakit untuk merawat COVID 19. Mari bersama-sama membantu mereka dengan disiplin di rumah saja…” (Rumaisha Alifiandra Udiutomo di Youtube)

Begitulah sekelumit celoteh anakku ketika diberi tugas dari sekolahnya untuk membuat video ucapan terima kasih kepada para petugas medis. Sudah empat pekan ini Kakak Isha belajar dari rumah karena wabah COVID 19, dan masih diperpanjang setidaknya hingga tiga pekan ke depan. Mekanismenya tidak terlalu rumit, ada jurnal belajar dan jurnal ibadah yang dikirim ke grup whatsapp setiap pekannya sebagai panduan target aktivitas belajar siswa selama sepekan. Untuk tilawah dan muraja’ah hapalan Al Qur’an ada jadwal untuk setor langsung by phone ke guru Al Qur’an. Sementara evaluasi penilaian tengah semester dibuat dalam googleform yang harus dijawab secara mandiri oleh siswa dalam rentang waktu tertentu.

Dunia pendidikan memang cukup terdampak wabah COVID 19 ini. Ujian Nasional dihapus lebih cepat dari rencana awal. Kegiatan belajar mengajar di banyak wilayah mulai dari tingkat pra sekolah hingga perguruan tinggi ditiadakan, dengan banyak di antaranya yang menggantinya dengan belajar jarak jauh dari rumah. Mekanismenya mulai dari yang sederhana hingga menggunakan platform digital khusus. Wabah COVID 19 ini memang banyak dikatakan mengakselerasi simulasi revolusi industri 4.0 dimana berbagai pekerjaan bisa dikerjakan online dari rumah, tanpa harus ke kantor atau bertatap muka. Termasuk di antaranya adalah aktivitas pembelajaran daring.

Pembelajaran dengan menggunakan teknologi digital berbasis web sebenarnya baru masuk dalam tahapan revolusi edukasi 3.0. Revolusi edukasi 4.0 lebih kompleks lagi, menggambarkan berbagai metode untuk mengintegrasikan teknologi cyber, baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Jadi bukan sebatas penyediaan konten edukasi daring dan ujian online, namun ada integrasi kemampuan digital dalam dunia pendidikan. Ruang kelas akan berubah menjadi kelas digital yang tak kenal batasan tempat. Pembelajaran lebih personal dengan banyak pilihan peminatan, sekat fakultatif akan semakin luruh. Manusia dan mesin, termasuk kecerdasan buatan dan robotik diselaraskan untuk problem solving dan inovasi pendidikan. Peran guru akan bergeser menjadi coach dan mentor karena teknologi sudah bisa menjalankan peran sebagai pengajar dengan lebih lengkap, aktual, dan tak pernah lupa. Akses informasi akan sangat terbuka, guru konvensional akan semakin tertinggal.

Hanya saja implementasi revolusi edukasi 4.0 saat ini masih sebatas fantasi. Bahkan di tengah wabah COVID 19 yang mengakselerasi simulasi revolusi industri 4.0 pun, penerapan revolusi edukasi 4.0 masih menghadapi banyak tantangan. Tantangan yang paling terlihat adalah dari segi fasilitas dan infrastruktur teknologi. Secanggih-canggihnya platform pendidikan digital, bisa urung terlaksana ketika gawai tidak mendukung. Sebagus-bagusnya pembelajaran daring pun tidak bisa terlaksana walaupun sudah ada gawai jika sinyal tidak ada, misalnya ketika mahasiswa pulang kampung. Monitoring jarak jauh penyelesaian penugasan siswa juga akan gagal diimplementasikan jika tidak memiliki gawai. Betapa banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki gawai, bahkan tidak sedikit daerah pelosok Indonesia yang belum teraliri listrik.

Selain tantangan keterbatasan fasilitas dan infrastruktur teknologi, tantangan lainnya adalah kecakapan atau kemampuan dalam menggunakan teknologi. Jangankan generasi baby boomer dan generasi X, generasi Y saja bahkan masih ada saja yang gagap teknologi. Padahal merekalah para pendidik generasi Z dan generasi Alpha yang saat ini menjadi peserta didik. Tidak sedikit guru dan dosen senior, terutama di daerah, yang kesulitan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Demikian pula dengan orang tua yang pada hakikatnya juga merupakan pendidik. Tidak jarang aktivitas belajar dari rumah terkendala karena keterbatasan kompetensi orang tua, bukan hanya kompetensi mengajar namun juga karena kompetensi digital dan literasi teknologi yang lalai terupdate. Bahkan barangkali kompetensi yang sangat penting di zaman sekarang tersebut belum terinstall, bagaimana mau update?

Ada juga tantangan lain yang tak kalah fundamental, yaitu tantangan mindset dan paradigma. Persoalan mindset ini banyak variannya, mulai dari yang sifatnya kolot, pragmatis, hingga skeptis. Ada yang melihat teknologi sebagai kemewahan yang tidak urgen dan tidak fundamental. Toh orang-orang dulu bisa pintar dan lebih struggle tanpa gawai dan internet. Ada yang mendikotomikan digitalisasi dengan etika dan adab. Toh sebelum ramai gadget, peserta didik lebih santun dan beretika. Ada yang menyerah untuk mengejar kemajuan teknologi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa perkembangan teknologi bagian dari konspirasi global. Tantangan yang sifatnya paradigmatik ini juga perlu menjadi perhatian sehingga revolusi edukasi 4.0 tidak sekadar angan.

Solusi sederhana untuk tantangan fasilitas dan infrastruktur teknologi adalah pemerataan pembangunan teknologi informasi ke setiap penjuru dunia, sehingga tidak ada wilayah yang tidak tersentuh kemajuan teknologi informasi. Tren pendidikan dunia mengarah ke solusi ini, lebih terkesan modern namun butuh investasi yang tidak murah. Padahal solusi ini masih akan terbentur tantangan kompetensi dan mindset tadi. Bagaimanapun, pemanfaatan teknologi butuh user. Karenanya, perlu ada solusi pendukung dan solusi alternatif. Solusi pendukung ini kata kuncinya adalah kebertahapan, karena ternyata revolusi edukasi 4.0 tidak mungkin terjadi secara serentak. Pembangunan teknologi informasi harus diselaraskan dengan pembangunan manusia, sehingga tercipta kesiapan, bukan keterpaksaan. Kebertahapan juga bermakna ada prioritas. Bagaimana membangun jiwa (ruh, pemahaman, dan mentalitas) perlu didahulukan ketimbang membangun badan (fasilitas, sarana prasarana, dan infrastruktur). Butuh waktu memang, namun fondasinya lebih kuat. Sehingga kemajuan IPTEK tidak berbuah kehancuran peradaban.

Adapun solusi alternatif dari implementasi revolusi edukasi 4.0 adalah membangun pendidikan berkualitas yang sesuai dengan kekhasan masyarakat. Bisa jadi berbeda di setiap wilayah. Bisa jadi optimalisasinya tidak memerlukan teknologi canggih. Namun pendidikan mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada di setiap wilayah, dan menjadi solusi atas berbagai permasalahan di tengah masyarakat. Solusi alternatif ini belum serius dilirik oleh dunia pendidikan Indonesia yang banyak terjebak pada arus modernisasi, formalisasi dan komersialisasi pendidikan. Padahal solusi alternatif ini akan mengembalikan fungsi pendidikan untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak, dan kepribadian, agar peserta didik menjadi pribadi yang bermartabat. Sekaligus mengembalikan definisi teknologi secara lebih luas sebagai alat bantu yang mempermudah atau sarana yang menjamin kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Berbagai solusi pembangunan pendidikan 4.0 bisa berjalan secara simultan. Namun ada baiknya kita memahami jati diri kita dan pendidikan kita. Tidak perlu mengukur baju orang di badan sendiri. Revolusi industri 4.0 bukan sekadar digitalisasi alat, tetapi juga revolusi mindset. Dan revolusi edukasi 4.0 bukan sebatas optimasi teknologi, namun juga revolusi budaya pendidikan. Karenanya fondasi pendidikan yang dibangun harus kuat, bukan cuma modal ikut-ikutan. Dan wabah COVID 19 ini seharusnya bisa jadi pelajaran berharga. Bukan hanya bagaimana pendidikan tetap berjalan ketika siswa tidak bisa ke sekolah, dengan pembelajaran online misalnya. Namun bagaimana pendidikan tetap berjalan ketika kemajuan teknologi sekalipun bahkan tidak mampu membantu akses siswa untuk memperoleh pendidikan. Yang akhirnya bermuara pada optimalisasi pendidikan dari unit terkecil, pendidikan keluarga kemudian pendidikan masyarakat. Disitulah simpul terkuat pendidikan (seharusnya) berada.

“Technology is just a tool. In terms of getting the kids working together and motivating them, the teacher is the most important.” (Bill Gates)

Perkenalkan, Muthiah Rheviani Udiutomo

Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

Alhamdulillah, prosesi aqiqah #DeMuthi terlaksana dengan lancar tepat di hari ketujuhnya, berbeda dengan prosesi aqiqah sang kakak yang tidak bisa tepat di hari ketujuh karena hampir seminggu masih harus dirawat di Rumah Sakit. Prosesi aqiqah kali ini juga lebih sederhana dan singkat, karena esensinya hanya menjalankan sunnah Rasulullah SAW sekaligus sebagai ungkapan syukur atas kehadiran buah hati dalam keadaan sehat. Tahadduts bin ni’mah. Apalagi kami belum genap satu tahun tinggal di perumahan baru sehingga menjadi penting membangun silaturahim dengan masyarakat sekitar.

Idealnya, pemberian nama juga dilakukan di hari ketujuh sebelum mencukur rambutnya, tetapi waktu seminggu tampaknya terlalu lama untuk bersabar menjawab pertanyaan ‘siapa namanya?’ dari rekan-rekan dan kerabat. Walaupun penentuan nama kali ini tidak semudah sebelumnya, bahkan sampai ketika bermalam di bidan pun nama belum difiksasi, namun akhirnya nama #DeMuthi sudah dilaunching sehari setelah kelahiran. Salah satu hal yang mempersulitnya adalah pergeseran waktu kelahiran dari yang diperkirakan di bulan Mei menjadi di awal Juni, tepatnya 3 Juni lalu. Si kakak yang sudah menyiapkan nama panggilan Mei-chan untuk adiknya juga harus dipahamkan bahwa nama adiknya adalah #DeMuthi. ^_^

Muthiah Rheviani Udiutomo, begitu kami (akhirnya) menamainya setelah melalui perenungan mendalam. Polanya tetap sama seperti nama kakaknya: nama shahabiyah/ orang shalih + nama yang bermakna baik + udiutomo. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan (anak-anak mereka) dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka”. Berbeda dengan anak laki-laki, nama shahabiyah relatif terbatas, dan tidak ada Nabi dan Rasul perempuan. Akhirnya pilihannya terbatas, padahal salah satu fungsi nama adalah sebagai pembeda. Nama Rumaisha yang digunakan kakaknya saja sudah banyak yang menggunakannya, apalagi nama-nama  yang lebih popular seperti Maryam, Khadijah, Fathimah atau ‘Aisyah.

Singkat kata, terpilihlah nama Muthiah yang berarti perempuan yang ta’at, karena bagaimanapun nama adalah do’a. Sama halnya dengan Rumaisha (atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim), Muthiah juga merupakan sosok shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Keta’atannya pada suaminya menjadi teladan yang sulit ditemui di masa sekarang ini. Terlepas dari kontroversi nama Muthiah yang mungkin akan dibahas dalam tulisan lain, menjadi hal yang unik ketika mendapati bahwa ustadzah yang mengisi taushiyah dalam prosesi aqiqah juga bernama Muthiah. Nama Muthiah jika disingkat menjadi Muthi sebagai nama panggilan juga mengandung makna yang baik: orang yang ta’at.

Rheviani berasal dari kata ‘Rheva’ yang dalam bahasa latin berarti lahir dengan kekuatan. Salah satu hal yang paling berkesan dalam persalinan #DeMuthi adalah lahir dengan proses kelahiran normal 5 hari setelah hari perkiraan lahirnya dengan berat dan tinggi badan (3.2kg/ 49cm) yang lebih besar dari kakaknya (2.9kg/ 46cm) yang lahir melalui SC. ‘Revia’ sendiri merupakan bentukan dari kata ‘Reva’ yang berarti mampu bertahan. Dalam referensi lain, ‘Reva’ juga bermakna cantik dan kuat, rajin, pekerja keras, menyukai perubahan dan variasi, intuitif dan penuh inspirasi, mandiri, kritis terhadap diri dan orang lain. Sementara akhiran ‘ni’ menunjukkan anak kedua (‘ni’ dalam bahasa Jepang artinya dua) sebagaimana kata ‘alif’ dalam nama kakaknya menunjukkan anak pertama. Akhiran ‘ni’ juga menunjukkan bulan ‘Juni’ sehingga ide awal panggilan ‘Mei-chan’ bisa menjadi ‘Ni-chan’.

Nama tengah ini disengaja tidak menggunakan nama dari bahasa Arab yang di masa sekarang kerap mempersulit mobilitas seseorang. Penekannya lebih kepada maknanya baik. Penggunaan tiga kata dalam nama juga disengaja untuk memudahkan seseorang memperoleh paspor untuk umroh dan haji tanpa harus menambahkan nama. Untuk nama belakang, ‘udiutomo’ yang berarti mencari keutamaan tetap digunakan karena seseorang sebaiknya menisbatkan dirinya kepada nama ayahnya. “Panggillah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah” (QS. Al-Ahzab: 5). Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud yang sedikit lemah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka pilihlah nama kalian yang paling baik”.

Salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberikan nama yang baik, nama yang sekaligus menjadi do’a kebaikan dari orang tua kepada anaknya. Semoga pemberian nama Muthiah Rheviani Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan kedua yang kuat, rajin, dan mandiri serta penuh ketaatan dalam kebaikan’… Aamiiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

“My Little Girl”, Maher Zain

You are a miracle
You are a blessing from above
You brought joy to my soul
And pleasure to my eyes
In my heart I can feel it
An unexplainable feeling
Being a father
The best thing that I could ever ask for

Just thinking of you makes me smile
Holding you, looking in your eyes
I’m so grateful for having you
And everyday I pray
I pray that you’ll find your way

You know I love you, I love you
My little girl, my little girl
I ask God to bless you, and protect you always
My little girl, my little girl

You’re like a shining star
So beautiful you are
My baby girl, you light up my world
I pray that I’ll get the chance
To be around and watch you grow
And witness your first steps
And the first time when you will call me “dad”

I could spend hours watching you
You’re so innocent, so wonderful and pure
O God I can not express my gratitude!
But I’ll raise her good,
‘cause all I want is to please You
And now I pray You’ll guide her steps forever