Tag Archives: rutinitas

Rumah Sempit yang Meluas

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan 4 perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Awalnya mungkin menyenangkan beraktivitas di rumah, namun lama-kelamaan rasa bosan datang menyertai. Kebosanan adalah hal yang lumrah, apalagi jika kita menjalankan aktivitas monoton. Namun kebosanan ini perlu dikelola sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kondisi kejiwaan. Selain gejala penyakit Covid-19, ada gejala lain yang perlu diwaspadai di masa pandemik seperti ini, yaitu gejala cabin fever. Cabin fever merupakan istilah lama yang kembali mengemuka, menggambarkan emosi atau perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama terisolasi di dalam rumah ataupun tempat tertentu. Jika sebatas bosan atau sedih tentu masih wajar, namun cabin fever ini dapat menimbulkan kegelisahan, turunnya motivasi, mudah tersinggung, mudah putus asa, sulit berkonsentrasi, pola tidur tidak teratur, lemah lesu, sulit mempercayai orang lain, tidak sabaran, bahkan depresi untuk waktu yang lama.

Cara sederhana untuk mengatasi cabin fever adalah pergi ke luar rumah, namun di tengah kondisi wabah seperti ini aktivitas ke luar rumah tentu dibatasi. Bahkan dapat dikatakan, semua aktivitas saat ini dibawa ke rumah. Kerja dari rumah, belajar di rumah, hingga beribadah di rumah. Ketika kantor dipindah ke rumah, sekolah dipindah ke rumah, sampai masjid pun pindah ke rumah, bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya rumah kita. Ruang untuk urusan pribadi, keluarga, pendidikan, kantor, hingga urusan ibadah semua bertumpuk di rumah. Jika sebelumnya barangkali ada orang-orang yang sulit memisahkan urusan pribadi atau keluarga dengan urusan kantornya, sekarang banyak orang akan mengalaminya sebab sekat antar ruang itu sudah tak lagi ada. Jika sebelumnya ada orang-orang yang cakap dalam menempatkan segala urusannya, kini mereka harus bekerja keras menatanya sebab segala urusan hanya punya satu tempat bernama rumah.

Kebosanan di rumah tampak tak terelakkan, apalagi alternatif solusi mengatasi kebosanan tampak tidak variatif. Ke luar rumah untuk berolahraga atau berkebun misalnya, punya batasan waktu dan kondisi. Atau menata ulang perabotan misalnya, selain melelahkan, jika terlalu sering dilakukan juga justru akan menimbulkan kebosanan baru. Atau bahkan tetap menjaga interaksi dengan banyak orang melalui media digital juga hanya menjadi solusi semu, sebab tentu kita bisa merasakan tidaklah sama interaksi by phone atau by video dengan interaksi langsung.

Lantas apakah kita cukup pasrah terpenjara dalam kebosanan? Tunggu dulu, kebosanan itu sejatinya hanya masalah perspektif. Dalam KBBI, bosan didefinisikan sebagai ‘sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak’. Jadi yang menentukan kadar kebosanan adalah ‘tidak suka’, ‘terlalu sering’, dan ‘terlalu banyak’, yang kesemuanya adalah sesuatu yang relatif. Tidak mengherankan cabin fever tidak termasuk dalam gangguan psikologis, sebab gejala tersebut takkan ditemukan pada mereka yang memandangnya secara positif. Dan artinya, solusi atas kebosanan ini sebenarnya sederhana, mengelola ‘kesukaan’ kita dan mengatur kadar intensitasnya.

Dari sudut pandang yang positif, ketika kantor dipindah ke rumah, sekolah dipindah ke rumah, sampai masjid pun pindah ke rumah, bisa dibayangkan betapa luasnya rumah kita sebenarnya. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan banyak spot yang bisa dieksplorasi dari bangunan luas bernama rumah, apalagi jika ditambah pekarangan dan lingkungan sekitarnya. Luar biasanya lagi, kita mempunyai kemampuan teleportasi ala pahlawan fiksi, berpindah dari rumah, sekolah, kantor, masjid, dan tempat-tempat lain dalam sekejap. Karena kebosanan adalah perkara ‘kesukaan’, semakin kita menikmati prosesnya, kebosanan akan kian menjauh.

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, demikian ungkap Bung Hatta. Bagaimana mungkin ada kebebasan dalam penjara hanya bermodalkan buku? Lagi-lagi ini hanya masalah perspektif. Penjara bagi jiwa adalah ketika kita dipaksa melalukan sesuatu yang tidak kita sukai. Karenanya ketika kita dapat melakukan apa yang kita sukai, dan menyukai apa yang kita lakukan, jiwa kita akan bebas, tidak dipenjara ataupun dikarantina. Dan ternyata sekadar ‘suka’ saja tidak cukup, aktivitas yang dilakukan perlu merangsang kreativitas agar tidak monoton. Melakukan hal yang berbeda, atau melakukan hal yang sama dengan cara berbeda dapat mengatur kadar intensitas. Karena itulah, membuat rencana aktivitas dan menata ruang yang terkesan teknis administratif bisa jadi lebih efektif dalam mengusir kebosanan dibandingkan melakukan gerakan olahraga yang itu-itu saja. Sebagaimana mengisi TTS akan lebih produktif dibandingkan menonton televisi. Dan membuat tulisan akan lebih membebaskan dibandingkan bermain game.

A house is made of bricks and beams. A home is made of hopes and dreams”, begitulah kata pepatah. Penjara kebosanan bernama rumah hanya akan muncul ketika kita gagal menjadikan harapan sebagai bata-batanya dan impian sebagai tiang-tiangnya. Rumahpun terasa sempit karena terbatasi dinding dan pagar. Lain halnya dengan rumah yang diisi dengan cinta dan kebahagiaan, energi positifnya mampu menempuh jarak yang teramat luas, sehingga rumahpun terasa lapang. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Ar Rafi’i dalam Wahyul Qalam, “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang semakin kecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya”. Kebosanan muncul dalam kesempitan dan hilang dalam kelapangan. Karenanya, rumah di surga kelak tidak menghadirkan kebosanan, sebab isinya penuh cinta dan kebahagiaan. Semoga kita mampu melapangkan rumah-rumah kita, dan membuka jalan untuk memiliki rumah yang lapang kelak di Jannah-Nya. Aamiiin…

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)

Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah SWT. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’ilrahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadhan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadhan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadhan.

Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadhan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadhan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.

Pengingatan akan bekal Ramadhan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadhan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.

Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadhan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadhan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadhan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadhan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.

Jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadhan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadhan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.

Pun demikian jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadhan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadhan yang fokus pada tema ‘Ramadhan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadhan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Tarhib Ramadhan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadhan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadhan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadhan.

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Ketika Kebosanan Tak Jemu Menghampiri

Wahai manusia, hendaknya kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR.Muslim)

Hadits di atas adalah tanggapan Rasulullah SAW ketika A’isyah r.a. bercerita kepada beliau tentang Haulah binti Tuwait, muslimah ahli ibadah yang tidak pernah tidur malam. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kemampuan setiap orang tidaklah sama, termasuk kemampuan dalam mengatasi kejenuhan. Mungkin ada sedikit orang yang jarang sekali dihinggapi kebosanan karena mampu mengalihkan kebosanan tersebut pada aktivitas yang bermanfaat. Pun demikian rasa jemu dan bosan sebenarnya merupakan hal yang wajar, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bazzar “Tiap-tiap amal itu ada masa-masa jemunya, dan pada tiap-tiap masa jemu itu ada peralihannya. Barangsiapa yang peralihannya itu kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk, dan barangsiapa yang peralihannya kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat”. Usahlah risau ketika rasa bosan datang menghampiri, namun risaulah ketika kita gagal menghadapi kebosanan tersebut dengan penyikapan yang tepat.

Alkisah, ada seorang tua bijak ditanya oleh tamunya, “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, Pak Tua?”. Orang bijak itu pun menjawab, “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu”. “Kenapa kita merasa bosan?”, tanya tamunya lagi. “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki”, jawab orang bijak tersebut. “Lalu, bagaimana menghilangkan kebosanan?”, tanyanya lagi. Orang bijak itu menjawab, “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya”. Tamu tersebut kembali bertanya, “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”. Orang bijak itu bertanya balik, “Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”. “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua”, jawab sang tamu. “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang”, jawab Orang Bijak tersebut. “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya…”, lanjutnya.

Tamu itu pun pergi, namun selang beberapa hari, ia kembali mengunjungi Orang Bijak tersebut dengan wajah kusut. Tamu tersebut bertanya, “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”. Orang Bijak tersebut menjawab, “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan. Misalnya, mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu”. Tamu itu kembali beranjak, beberapa minggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Orang Bijak tersebut dengan wajah ceria. Ia berkata, “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”. Sambil tersenyum Orang Bijak tersebut berkata, “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria”.

* * *

Sekali lagi, rasa bosan adalah sesuatu yang wajar, bukan aib. Rasa jenuh adalah sunatullah, sebagaimana iman tidaklah statis, bisa naik bisa turun. Kehidupan tidaklah datar, semangat manusia pun ada masa pasang surutnya. Rentang waktunya bisa jadi beragam, kadarnya pun boleh jadi berbeda setiap orang. Manusia berbeda dengan malaikat yang selalu taat, berbeda dengan iblis yang tak pernah jemu menggoda manusia. Rasa bosan, jenuh dan jemu tersebut mungkin memang tidak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak perlu diantisipasi dan disikapi. Rasa jenuh yang tidak dikelola akan menghasilkan energy negatif, kebosanan yang dituruti akan berujung pada sikap kontraproduktif. Lalu bagaimana mengarahkan rasa bosan menjadi sesuatu yang bermanfaat?

Benda tajam pun butuh saatnya untuk diasah agar tetap tajam, begitu juga dengan jiwa, pikiran dan tubuh manusia. Jiwa yang jenuh butuh istirahat sejenak dengan kontemplasi, guna mengembalikan dan mengumpulkan kembali energi yang telah tercurah. Jiwa yang tengah butuh istirahat jangan dipaksa terus berlari karena bisa jadi malah membuatnya mati. Pikiran pun dapat terjangkiti rasa bosan sehingga butuh dibuat lebih rileks agar kembali cemerlang. Jika pikiran terus diforsir hasilnya pasti tidak akan optimal, buah pikiran tak akan jernih, kreatifitas pun justru semakin tumpul. Begitupun tubuh manusia, butuh masa rehat dan santai. Kondisi tidak sehat yang dipaksa terus berbuat berpotensi mendatangkan sakit yang berlipat. Sesekali memang perlu memanjakan tubuh agar semakin tangguh. Jadi, kebosanan bisa jadi waktu yang tepat untuk mengasah kembali ‘pisau’ kita, asal jangan terlalu lama sehingga ‘pisau’ kita semakin menipis dan habis.

Kebosanan biasanya timbul karena rutinitas, aktivitas yang monoton dan mengekang potensi untuk berkembang. Karena timbul dari rutinitas, rasa jenuh sebenarnya dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas. Variasi kita dalam melakukan sesuatu akan sangat mempengaruhi ketahanan kita sebelum rasa jenuh datang menghampiri. Optimalisasi otak kanan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dalam aktivitas yang sama akan menjadikan aktivitas tersebut lebih menyenangkan, ibarat permainan. Mungkin atas dasar inilah berkembang metode fun learning dalam pembelajaran ataupun stimulasi otak tengah ataupun kanan, sebagai penyeimbang aktivitas otak kiri yang biasanya lebih dominan sehingga lebih rentan dengan kejenuhan. Tidak hanya sebagai antisipasi dan pencegahan dari kebosanan, variasi aktivitas dapat pula menjadi pertolongan pertama dan obat bagi penyakit jenuh akibat rutinitas.

Mengisi kebosanan dengan ‘mengasah pisau’ ataupun dengan variasi aktivitas akan mendatangkan manfaat di balik kejenuhan kita. Namun ada lagi sikap yang lebih produktif, yaitu dengan mengalihkan kebosanan dengan aktivitas lain di luar rutinitas yang tidak kalah bermanfaat. Lihatlah Bilal bin Rabbah yang menghibur dirinya dengan shalat. Orang-orang shaleh biasa memanfaatkan rasa jenuh yang dirasakannya untuk semakin mendekat kepada Allah SWT, dengan shalat, tilawah Qur’an, dzikir, do’a, dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang mengalihkan kejenuhannya dengan membaca ataupun menulis buku. Ada pula yang masa jemunya dialihkan untuk produktif mengerjakan amanah lain. Kalau meminjam istilah Anis Mata dalam buku “Mencari Pahlawan Indonesia”, hal inilah yang disebut sebagai siasat pengalihan. Kala kebosanan datang, ia segera dialihkan kepada aktivitas lain yang produktif. James S. Ritty, seorang pemilik sebuah bar di Dayton, Ohio, AS. Ketika jenuh di pekerjaannya, ia pergi berwisata dengan kapal laut. Selama istirahatnya di atas kapal, ia memperhatikan suatu alat penghitung kecepatan baling-baling kapal, ia pun mendapat ide untuk membuat mesin penghitung uang. Dengan bantuan saudaranya, terciptalah mesin kas pertama yang dipatenkan pada November 1879. Kurang lebih seperti itulah contoh menyikapi kebosanan dengan lebih produktif.

Namun perlu juga dicermati dan diwaspadai bahwa kebosanan kadang kita yang mendatangi, bukannya menghampiri kita. Ya, kita lah yang menciptakan kebosanan, bukan sesuatu di luar diri kita. Jiwa kita yang tidak menjalani aktivitas dengan penuh keceriaan, pikiran kita yang tidak mau berkembang sehingga menjalani hari dengan rutinitas, atau tubuh kita yang terlalu dimanjakan sehingga tidak juga sampai pada performa optimalnya. Dalam hal ini kebosanan harus dilawan, rasa jenuh harus dihadapi karena berpotensi menjadi penyakit bagi diri kita. Jiwa harus dibangun dan diperkokoh, pikiran harus dijernihkan dengan hal-hal positif, tubuh pun harus dipaksa berbuat untuk mengusir kemalasan. Ketika kebosanan terjadi karena kelemahan jiwa, tidak ada kata lari dan beristirahat, yang ada adalah bangkit dan lawan.

Dinamika kehidupan silih berganti, begitupun suasana hati. Kebosanan selalu siap datang menyergap, namun tidak boleh terlalu lama menetap. Kala kebosanan datang menghampiri, mungkin memang saatnya untuk berhenti sejenak, introspeksi dan memperbaiki diri. Ketika rasa jemu itu datang, mungkin memang tantangan bagi kita untuk tidak terkekang dan terus berkembang. Tatkala kejenuhan hadir kembali, mungkin ada ladang kebaikan lain yang menanti, mengalihkan perhatian sejenak untuk tetap produktif dalam berkontribusi. Kebosanan takkan jemu menyapa, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tidak berlama-lama dilanda kebosanan, tidak jemu melawan kejenuhan yang melalaikan, tidak bosan berbuat, bertahan menghadapi kebosanan dan terus menebar kebermanfaatan. Karena hanya ada satu tempat dimana kebosanan tak dapat tinggal, hanya ada satu masa dimana kejenuhan tidak memiliki tempat untuk menetap. Tempat tinggal yang kekal, masa yang abadi, di akhirat nanti…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah.” (Ust. Rahmat Abdullah)