Tag Archives: Sepakbola

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (2/2)

Kurva Covid-19 di Spanyol juga sudah mulai menurun sepekan terakhir walaupun tidak sedrastis Jerman. Dengan fatality rate sebesar 10.2% dan recovery rate 57.6%, setidaknya butuh waktu sebulan bagi Spanyol untuk pulih dari pandemi Covid-19. Artinya, jika penurunan kasus Coronanya sesuai tren, rencana La Liga untuk kembali bergulir pada 6 atau 13 Juni 2020 masih mungkin terjadi. Di puncak klasemen, Barcelona sementara ini unggul dua pon dari rivalnya, Real Madrid. Sementara di dasar klasemen, Espanyol hanya berjarak enam poin dari Celta Vigo di posisi ke-17. Dengan masih adanya 11 pertandingan tersisa, klasemen akhir masih sangat mungkin berubah. Namun rencana melanjutkan La Liga sangatlah berisiko mengingat Spanyol merupakan negara dengan kasus Corona tertinggi ke-2 di dunia, kasus baru per harinya masih di atas 2.700 kasus dan jumlah korban jiwa baru setiap harinya di masih di atas 250 orang. Belum lagi, pertandingan Liga Champion yang disinyalir menyebarkan virus Corona di Eropa dua di antaranya melibatkan klub La Liga, yaitu Valencia (vs Atalanta) pada 10 Maret 2020 dan (Liverpool vs) Atletico Madrid pada 11 Maret 2020. Jika La Liga akan kembali bergulir, pengelolaannya harus sangat ketat.

Beberapa hari lalu, Perancis menyusul Belgia dan Belanda membatalkan liga domestiknya. Paris Saint-Germain (PSG) yang unggul 12 angka di atas Marseille di posisi runnerup dan masih mempunyai tabungan satu pertandingan lebih banyak baru saja disahkan menjadi juara Ligue 1. Dua peringkat terbawah, Toulouse dan Amiens terdegradasi digantikan juara Ligue 2 Lorient dan runner-upnya Lens. Nimes tetap bertahan di Ligue 1 walaupun ada di posisi ke-18 sebab tidak ada playoff promosi-degradasi dengan peringkat ke-2 Ligue 2. Seperti halnya Belgia, kurva Covid-19 baru akan mencapai puncak, dengan fatality rate 14.6% dan recovery rate 29,6%. Dengan jumlah kasus yang jauh lebih banyak dibandingkan Belgia dan Belanda, sepertinya butuh lebih dari dua bulan bagi Perancis untuk pulih dari pandemi Covid-19. Entah bagaimana nasib Lyon dan PSG di Liga Champions. Laga Liga Champions antara Lyon (vs Juventus) pada 26 Februari 2020 dan PSG (vs Dortmund) pada 11 Maret 2020 sendiri dianggap mempercepat penyebaran virus corona di Perancis.

Italia termasuk negara yang dianggap kurang baik dalam penanganan Covid-19. Kurvanya sudah mulai menurun 11 hari terakhir namun tidak signifikan. Jika trennya tetap tanpa terjadi percepatan, masih butuh sekitar 5 bulan untuk Italia agar kembali normal. Dengan fatility rate 13.6% dan recovery rate 37%, Italia sebenarnya tidak lebih buruk dari Belgia atau Perancis. Bahkan jumlah kasus baru dan korban jiwa baru di Italia masih lebih rendah dari Spanyol. Namun kecepatan pemulihannya masih sangat rendah untuk jumlah kasus yang sedemikian besar. Pemain Serie A rencana akan mulai latihan mandiri pada 4 Mei 2020 dan bersama tim pada 18 Mei 2020. Serie A sendiri rencananya akan dimulai kembali 2 Juni 2020 tanpa penonton hingga akhir tahun ini. Di klasemen sementara, Juventus memimpin klasemen dengan poin 63, dibayang-bayangi Lazio (poin 62) dan Inter Milan (poin 54, dengan 1 pertandingan lebih banyak). Sementara juru kunci Brescia (poin 16) hanya berjarak 9 poin dari Genoa di posisi ke-17. Dengan masih menyisakan 12 – 13 pertandingan, klasemen akhir masih mungkin berubah. Namun keputusan melanjutkan Liga Italia memiliki risiko yang sangat tinggi, apalagi setidaknya ada 16 pemain dari 6 klub Serie-A yang pernah dan masih positif Corona.

Sementara itu, total kasus corona di Inggris mencapai 118.343 dengan fatality rate mencapai 20.4%, tertinggi di antara negara lainnya, dengan kasus terbesar di London yang mencapai 24.297 kasus. Walaupun risikonya masih sangat tinggi, Premier League direncanakan akan dimulai kembali pada 8 atau 13 Juni 2020. Di klasemen sementara, Liverpool sendirian di puncak dengan keunggulan 25 poin dari posisi runner-up Manchester City yang memiliki satu pertandingan lebih banyak. Dengan 9 pertandingan tersisa, Liverpool hanya butuh dua kemenangan untuk mengunci gelar juara setelah penantian 30 tahun. Sementara perebutan jatah Liga Champion, Liga Eropa, dan tidak terdegradasi masih cukup ketat.

Hanya klub-klub dari lima liga terbaik di Eropa yang masuk fase gugur 16 besar Liga Champions, sementara untuk Liga Eropa jumlah negara yang terlibat lebih banyak lagi. Di fase gugur 16 besar Liga Eropa masih ada Istanbul Basaksehir (Turki), FC Copenhagen (Denmark), LASK (Austria), FC Basel (Swiss), Olympiacos (Yunani), Rangers (Skotlandia), Shakhtar Donetsk (Ukraina). Kurva Covid-19 di Turki dan Denmark mulai turun, mungkin butuh 1.5 bulan untuk kembali normal. Austria dan Swiss bahkan bisa pulih lebih cepat. Yunani dan Skotlandia juga relatif turun, hanya Ukraina yang kurva Covid-19nya masih relatif naik. Secara umum, jika kompetisi di Eropa akan dilanjutkan pada Agustus 2020 relatif masih memungkinkan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Asia, Korea Selatan dan Vietnam bersiap untuk kembali memulai liga domestiknya beberapa waktu ke depan. Dengan recovery rate di atas 80%, kedua negara ini hampir berhasil menuntaskan pandemi Covid-19 di negaranya. Indonesia sepertinya perlu lebih bersabar dan tidak tergesa-gesa untuk memulai kembali liga domestik. Walaupun fatality ratenya sudah turun ke angka 7.8%, recovery rate Indonesia baru di angka 15%. Kurva belum mencapai puncak pula. Setidaknya butuh waktu dua bulan lebih bagi Indonesia untuk kembali pulih. Bagaimanapun, lanjutnya liga domestik bukan cuma perkara olahraga, namun ada kepentingan bisnis di dalamnya. Karenanya, selain pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan, faktor keuangan dan ekonomi juga akan menjadi pertimbangan. Indonesia perlu wawas diri, tidak perlu ikut-ikutan apalagi sombong. Yakinlah, badai Corona akan berlalu, dan sepakbola akan kembali memulai babak baru.

You hear now more and more it’s not only the elderly and weaker – it’s not only that, there are younger people involved who can die of it as well. It’s not about that, it’s about just, show heart and a bit of sensibility and do the right thing: stay at home as long as we have to. And then at one point we will play football again as well, 100 per cent. I couldn’t wish more for it because of a few really good reasons, how you can imagine. I can’t wait actually, but even I have to be disciplined and I try to be as much as I can.” (Jurgen Klopp)

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (1/2)

Pemerintah dan otoritas sepak bola memperlakukan para pemain seperti kelinci percobaan selama pandemik virus corona.” (Wayne Rooney)

Per 30 April 2020, jumlah kasus corona di Indonesia menembus lima digit menjadi 10.118 kasus. Walaupun tingkat kesembuhannya sudah lebih meningkat dibandingkan dengan tingkat kematian, namun angkanya masih di bawah jumlah kasus baru. Sehingga secara umum kurvanya belum turun. Amerika Serikat masih tak terkejar di peringkat teratas dengan 1.066.885 kasus atau sekitar 32.8% dari total kasus dunia. Jika melihat jumlah kasus baru sebulan terakhir yang di atas 20 ribu setiap harinya, ditambah faktor pemerintah dan masyarakatnya, pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sepertinya masih akan lama. Tepat di bawah Amerika Serikat, negara-negara dengan kasus corona terbanyak berturut-turut adalah Spanyol (239.639 kasus), Italia (203.591), Perancis (166.420), United Kingdom (165.221), dan Jerman (161.985). Lima negara Eropa yang sekaligus memiliki liga sepakbola terbaik di Eropa. Liga-liga terbaik yang saat ini tidak dapat berlangsung terimbas pandemi Covid-19.

Tiga tahun terakhir, final liga champions 2017 – 2019 terjadi di bulan Ramadhan (1438 – 1440H), menemani makan sahur. Sementara pada Ramadhan 1437H ada gelaran Piala Eropa 2016 yang menemani santap sahur. Terlepas dari aktivitas yang lebih produktif seperti shalat dan tilawah di bulan Ramadhan, bagi para pencinta sepakbola terasa ada yang hilang selama sebulan lebih ini. Apalagi jika dalam kondisi normal, beberapa pekan ke depan seharusnya bisa ada beberapa partai penentuan juara liga-liga top dunia. UEFA berharap liga-liga domestik dilanjutkan dan diselesaikan paling lambat 2 Agustus 2020, namun yang terjadi justru beberapa negara menghentikan liga sepakbolanya. Belgia menjadi negara pertama yang membatalkan liga domestiknya pada 2 April 2020 lalu, dan menetapkan Club Brugge sebagai juara Jupiler League 2019/2020. Club Brugge memang sudah mengunci gelar sebelum Jupiler League dihentikan akibat Covid-19. Club Brugge mengakhiri kompetisi sebagai pemuncak klasemen dengan selisih 15 poin dari Gent di posisi runner-up dengan hanya satu pertandingan tersisa. Tidak ada degradasi di Jupiler League, namun dua tim teratas di Divisi II yang memang sudah menyelesaikan turnamennya akan promosi ke Jupiler League.

Belgia ada di urutan ke-13 kasus positif Corona dengan 48.519 kasus. Fatality rate yang mencapai 15.7% termasuk yang tertinggi di dunia sementara recovery ratenya hanya 23.9%. Kurvanya baru akan mencapai puncak sehingga mungkin butuh dua bulan lagi bagi Belgia untuk pulih. Pekan lalu giliran liga Belanda yang dibatalkan dan beberapa hari lalu liga Argentina juga mengambil sikap yang sama. Berbeda dengan liga Belgia, tidak ada juara dan tidak ada degradasi di liga Belanda dan liga Argentina. Keputusan ini jelas tidak menguntungkan Ajax Amsterdam yang menjadi pemuncak klasemen sementara Eredivisie dengan 56 poin yang hanya unggul selisih gol dengan AZ Alkamaar di posisi runner-up. Dengan menyisakan 9 pertandingan, Feyenoord (50 poin) dan PSV Eindhoven (49 poin) masih berpeluang mengejar. Jatah playoff Liga Eropa (posisi 4 – 7) pun masih ketat. Namun keputusan ini jelas menguntungkan RKC Waalwijk dan ADO Den Haag yang ada di posisi degradasi. Belanda ada di urutan ke-14 kasus positif Corona dengan 39.316 kasus dan fatality rate 12.2%. Kurvanya juga belum mencapai puncak dan mungkin butuh sedikit lebih lama untuk pulih dibandingkan Belgia. Sementara itu di Argentina, Boca Junior yang memimpin klasemen dengan keunggulan satu poin dari River Plate juga gagal menjadi juara Superliga. Namun dengan liga yang baru separuh jalan, apapun masih mungkin terjadi di Superliga. Memang kurva Covid-19 nya masih relatif naik, namun Argentinya sebenarnya hanya ada di urutan ke-53 kasus positif Corona dengan 4.285 kasus, fatality rate 5% dan recovery rate 28%. Jauh lebih baik dari negara Amerika Selatan lainnya semisal Brazil, Peru, atau Ekuador yang masuk peringkat 20 besar kasus Corona.

Jika melihat data dan kurva penyebaran Covid-19, dari lima liga top Eropa, barangkali hanya liga Jerman yang relatif realistis untuk melanjutkan liga. Walaupun jumlah kasus Corona di Jerman ada di peringkat ke-6 dunia dan berjarak cukup jauh dari Turki (117.589 kasus) di peringkat ke-7, namun kasus Corona yang terselesaikan di Jerman mencapai 80.3%. Case fatality ratenya hanya 4% sementara recovery ratenya mencapai 76.2%. Dalam tiga pekan terakhir, jumlah pasien yang sembuh di Jerman relatif lebih banyak dibandingkan jumlah kasus, sehingga jumlah orang yang terinfeksi menurun drastis dari 72.865 orang pada 6 April 2020 menjadi hanya 32.886 orang per 30 April 2020. Jika tren ini berlanjut, pandemi Covid-19 akan berlalu dari Jerman dalam waktu kurang dari tiga pekan ke depan. Atau mungkin sedikit lebih lama mengingat sudah lebih dari sebulan ini Jerman turut membantu merawat pasien Covid-19 dari negara lain. Liga Jerman rencana dilanjutkan pada 9 Mei 2020 tanpa penonton. Kalaupun harus diundur sampai akhir Mei 2020, dengan sisa 9 pertandingan (kecuali Eintracht Frankfurt dan Werder Bremen yang punya 1 pertandingan lebih banyak), Bundesliga masih sangat realistis diselesaikan sebelum 2 Agustus 2020. Bundesliga saat ini bisa dikatakan menjadi liga terketat dari lima liga top Eropa. Bayern Munchen di puncak klasemen (55 poin) dibayang-bayangi oleh Borussia Dortmund (51), RasenBallsport Leipzig (50), Borussia M.Gladbach (49), dan Bayer Leverkusen (47). Perebutan tempat terakhir di fase knockout Liga Eropa (peringkat 6) juga masih sangat ketat. Sementara di jurang degradasi, Paderborn, Werder Bremen, dan Fortuna Duesseldolf masih harus bekerja keras untuk bisa selamat.

(bersambung)

Ikutan Iseng Tentang Sepakbola

Klub Favorit : AFC Ajax
Negara Favorit : Brazil
Pemain yang tidak disukai : Zlatan Ibrahimovic
Klub yang tidak disukai : Barcelona
Pemain Favorit : Cristiano Ronaldo
Pelatih Favorit : Otto Rehhagel
Pemain Legendaris Favorit : Pele
Kiper Favorit : Gianluigi Buffon
Bek Favorit : Dani Alves
Gelandang Favorit : Andrea Pirlo
Sayap Favorit : Ryan Giggs
Playmaker Favorit : Ronaldinho
Penyerang Favorit : Miroslav Klose

Jika kamu menyukai sepak bola salin, edit dan posting yuk!

Begitulah status facebook saya hari ini setelah lama tidak nulis status. Ikutan iseng barangkali karena kangen juga sama sepakbola yang sudah beberapa pekan vakum akibat wabah COVID 19. Bukan cuma liga-liga top dunia dan Indonesia yang sementara ditiadakan, main futsal rutin juga terpaksa off karena physical distancing. Di tulisan ini barangkali saya akan sampaikan sedikit penjelasan mengenai jawaban yang diberikan dalam status di atas. Singkat saja, soalnya kalau dijabarkan setiap pertanyaan bisa jadi satu tulisan.

Untuk klub favorit saya memilih AFC Ajax karena konsistensinya dalam melahirkan dan menemukan pemain sepakbola berkualitas. Beberapa akademi sepakbola lain juga bagus, misalnya Barcelona dan MU. Namun klub-klub tersebut banyak uang sehingga kerap juga membeli pemain instan. Berbeda dengan AFC Ajax yang seakan jadi supplier pemain sepakbola. Nama-nama seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, Edwin van der Sar, Clarence Seedorf, Edgar Davids, Patrick Kluivert, dan Wesley Sneijder adalah beberapa pemain yang dibina di AFC Ajax sebelum bergabung dengan klub-klub besar Eropa lainnya. Selain menjadi klub paling sukses di Belanda dengan 34 gelar Eredivisie dan 19 piala KNVB, AFC Ajax juga konsisten bersaing di kancah Eropa meskipun silih berganti ditinggalkan pemain bintangnya.

Gelaran Piala Dunia yang pertama kali saya tonton adalah Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dimana Brazil menjadi juaranya. Sejak saat itu saya memfavoritkan timnas Brazil yang bermain indah dan tidak individualis. Sepakbola bisa dikatakan sudah menjadi budaya keseharian masyarakat Brazil, karenanya kaderisasi pemain sepakbola terbaik di Brazil tidak pernah putus. Bukan hanya menjadi negara yang terbanyak memenangi Piala Dunia dengan 5 trofi, Brazil merupakan satu-satunya timnas yang selalu tampil dalam setiap edisi Piala Dunia tanpa pernah absen. Bahkan tidak pernah melalui jalur playoff. Konsisten di level tertinggi.

Untuk pemain yang tidak disukai, sempat terpikir nama pemain seperti Pepe dan Sergio Ramos yang sering bermain ‘kotor’. Atau pemain bengal semacam Mario Balotelli atau Joey Barton. Tapi sepertinya saya lebih tidak suka pemain yang kelewat sombong, walaupun Zlatan termasuk pemain binaan AFC Ajax. Jika sesumbar sekadar buat psy war kayak Mourinho sih mendingan, ini mah sombongnya sudah jadi tabiat keseharian. Bukan cuma terlalu tinggi menilai dirinya, tetapi pernyataannya kerap merendahkan pihak lain. Kayaknya masa kecilnya yang suram membuat Zlatan mengidap narsistik akut. Bahkan dalam sebuah wawancara, Zlatan menyamakan dirinya dengan Tuhan. Padahal walaupun sering juara liga di beberapa klub, Zlatan terancam tidak akan pernah merasakan juara liga champions, juara Euro, apalagi juara Piala Dunia. Dan yang lebih bikin kesal lagi adalah namanya ada embel-embel ‘Ibrahim’nya, padahal kelakuannya jauh dari keteladanan Abul Anbiya.

Untuk klub yang tidak disukai, sebenarnya saya kurang menyukai klub yang ‘membeli gelar’ dengan gelontoran uang semisal Chelsea, PSG, atau Manchester City. Apalagi Barcelona punya akademi yang bagus juga. Hanya saja Barcelona terlalu sering –dan terlalu jelas—dibantu wasit dalam beberapa pertandingan, terutama di tingkat Eropa. Bukan hanya rivalnya di Spanyol seperti Real Madrid dan Atletico Madrid, klub-klub Eropa seperti AC Milan, Chelsea, hingga PSG pernah jadi korbannya. Sampai ada istilah uefalona untuk menggambarkan bahwa Barcelona sangat dianakemaskan oleh UEFA.

Untuk pemain favorit di era sekarang sepertinya tidak jauh dari nama Cristiano Ronaldo dan Leonel Messi. Pemilihan Ronaldo bukan karena Messi dari Barcelona, namun CR7 menurut saya adalah paket lengkap. Dengan tubuh atletis proporsional, kaki kanan dan kiri serta kepalanya sama berbahayanya bagi petahanan lawan. Konsistensinya juga teruji dengan bermain bagus di beberapa klub, bahkan di level timnas Portugal. Dalam kurun waktu yang panjang. Di dalam lapangan, kepemimpinannya dapat dirasakan. Di luar lapangan, kedermawanan sosialnya tidak diragukan.

Untuk pelatih favorit, saya menyukai figur seperti Claudio Raneiri yang dengan low profile berhasil membawa klub selevel Leicester City menjadi juara Liga Inggris. Namun sebelum masanya Raneiri, ada pelatih serupa yang menurut saya lebih fenomenal. Adalah Otto Rehhagel yang telah berpartisipasi dalam lebih dari 1.000 pertandingan Bundesliga, sebagai pemain dan pelatih. King Otto berhasil mengantarkan klub medioker Werder Bremen menjadi klub papan atas Eropa dengan 2 kali juara Bundesliga, 2 kali juara DFB Pokal plus sekali juara Piala Winner. Melatih klub sebesar Bayern Munchen justru membuat Rehhegel meredup. King Otto kembali bersinar setelah mengantarkan klub promosi Kaiserslautern sebagai juara Bundesliga. Tak cukup membuat kejutan di level klub, King Otto membuat kejutan lainnya ketika mengantarkan timnas ‘anak bawang’ Yunani menjadi Juara Euro 2004 dengan mengalahkan tuan rumah Portugal yang juga diperkuat Cristiano Ronaldo.

Untuk pemain legendaris favorit, barangkali karena saya suka dengan timnas Brazil, nama pertama yang muncul adalah Edson Arantes do Nascimento atau lebih dikenal dengan Pele. Pele adalah satu-satunya pemain yang mampu meraih juara Piala Dunia sebanyak 3 kali plus Piala Jules Rimet. Pada 1999, Pele terpilih sebagai pesepakbola terbaik seabad oleh International Federation of Football History & Statistic (IFFHS) dan juga terpilih sebagai Athlete of the Century oleh Komite Olimpiade Internasional. Berdasarkan IFFHS, top skor timnas Brazil ini merupakan pencetak gol terbanyak di dunia dengan mencetak 1281 gol dari 1363 pertandingan, termasuk pertandingan tidak resmi.

Untuk kiper favorit, saya suka dengan figur kiper yang mampu memberikan rasa tenang kepada pemain lain, misalnya Edwin van der Sar dan Allison Becker. Sayangnya van der Sar belum teruji di level timnas Belanda, sementara Allison belum teruji konsistensinya. Adalah Gianluigi Buffon yang sudah teruji di level klub maupun timnas Italia, dan konsistensinya sudah teruji. Bahkan di usianya yang sudah 42 tahun, Buffon masih terus bermain dan bisa diandalkan. ‘Gigi’ juga mencerminkan kepemimpinan dan loyalitas. Saat Juventus dihukum degradasi ke Serie B, alih-alih mencari klub lain, Gigi justru melihatnya secara positif, mau merasakan menjadi juara Serie B yang belum pernah dirasakannya.

Untuk bek favorit ini agak sulit. Brazil punya Cafu dan Roberto Carlos, Italia punya Paulo Maldini dan Javier Zanetti, dan masih banyak bek hebat lainnya. Namun pilihan secara pragmatis akhirnya jatuh ke Dani Alves. Bagaimanapun, jika trofi adalah ukuran keberhasilan seorang pesepakbola, Dani Alves adalah pesepakbola tersukses. Koleksi trofi Dani Alves mencapai 42 trofi bersama enam tim berbeda, termasuk di level internasional bersama timnas Brasil. Jauh melampaui bek-bek hebat lainnya. Hingga saat ini Dani Alves masih bermain di Sao Paulo dan belum menunjukkan tanda-tanda akan gantung sepatu.

Posisi gelandang (midfielder) ini cakupannya cukup luas, mulai dari gelandang bertahan, gelandang sayap, gelandang serang, hingga playmaker. Dalam beberapa kasus bahkan posisi gelandang serang ini tumpang tindih dengan posisi striker. Karenanya, nominasi nama untuk gelandang favorit ini sangat banyak. Alasan kenapa akhirnya saya memilih Andrea Pirlo dari sekian banyak nama adalah karena posisinya sebagai gelandang bertahan sekaligus deep playmaker merupakan posisi gelandang yang tidak akan tumpang tindih dengan posisi pemain sayap, gelandang serang, apalagi striker. Sebagai gelandang, Pirlo barangkali tidak mencetak banyak gol, namun memanjakan penyerang dengan umpan cantik dan terarah. Hampir semua trofi di level klub dan timnas Italia pernah diraihnya.

Dari semua pemain sayap, saya memfavoritkan Ryan Giggs yang berhasil mengoleksi 35 trofi dari 8 ajang berbeda bersama satu klub: Manchester United. Walau di musim-musim terakhirnya, Giggs banyak bermain lebih ke dalam seperti playmaker, namun sebagian besar posisi yang dijalaninya adalah sebagai pemain sayap. Giggs adalah pemain yang paling banyak tampil membela MU. Dari 963 laga di seluruh ajang kompetisi bersama MU, Giggs mencetak 168 gol dan hebatnya tidak pernah sekalipun mendapat kartu merah. Beberapa rekor Giggs di Liga Inggris di antaranya assist terbanyak (162 assist) dan trofi Liga Inggris terbanyak (13 kali juara Liga Inggris).

Posisi playmaker ini mirip dengan gelandang, cukup banyak nominasinya. Alasan memilih Ronaldo de Assis Moreira atau lebih dikenal dengan Ronaldinho adalah karena skill dan pribadinya yang unik. Di usia 13 tahun, Ronaldinho sudah dilirik media Brazil setelah mencatatkan kemenangan 23-0 dalam laga futsal lokal dimana kesemua gol dicatat olehnya. Ronaldinho dikenal sebagai playmaker penuh trik dan sangat piawai mengolah si kulit bundar. Banyak gerakan, umpan, hingga golnya yang kreatif dan ‘kurang ajar’. Ronaldinho bisa dikatakan sebagai pesepakbola terbaik di dunia sebelum era Ronaldo dan Messi. Sesuatu yang khas darinya adalah wajahnya yang selalu tersenyum, termasuk ketika mendapat kartu merah bahkan ketika di penjara sekalipun. Di penjara Paraguay, bakat Ronaldinho masih terlihat jelas ketika membawa timnya juara pada turnamen futsal antar tahanan.

Miroslav Josef Klose barangkali tidak seproduktif Joseph Bican, Romario, Pele, Puskas, atau Gerd Muller dalam urusan mencetak gol. Bahkan dibandingkan Ronaldo atau Messi pun jumlah golnya barangkali hanya setengahnya. Klose merupakan pencetak gol terbanyak timnas Jerman dengan catatan 71 gol, sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan raihan 16 gol. Klose mencetak gol di 4 edisi Piala Dunia sekaligus membawa Jerman meraih medali (minimal masuk semifinal). Menariknya, timnas Jerman tidak pernah kalah saat Klose berhasil mencetak gol pada pertandingan tersebut. Namun yang paling berkesan dari Klose adalah sikap fair play nya, hal inilah yang menjadikannya favorit.

Itu jawaban saya, bagaimana jawaban Anda?

Celoteh Kisruh Sepakbola Indonesia

…Rencananya Indonesia, kan menuju pentas dunia. Bagaimana itu bisa, liga saja tidak ada. Apa sepak bola mirip bank swasta, tak bermodal lagi dilikuidasi. Mending merjer saja dengan binaraga, agar atlet bola bisa perkasa…” (‘Bola bola’, P-Project)

Beberapa pekan terakhir, lagu tersebut menemani kesibukanku di kantor, mulai dari membuat jurnal, merombak struktur dan jobdes, menyusun renstra dan RKAT hingga melakukan internal audit ISO 9001:2008. Kehadiran karyawan baru penggemar P-Project di ruanganku memang membawa suasana baru. Setidaknya, lagu diatas yang terdengar dari laptop sang new comer mengingatkanku pada kondisi aktual persepakbolaan nasional sehingga menginspirasi lahirnya tulisan ini. Celoteh yang hadir di tengah agenda kerja yang padat dan serius. Celoteh tentang kisruh liga Indonesia yang awalnya tak ingin ditanggapi karena bernuansa politis.

P vs S
Liga sepakbola Indonesia memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Seolah tidak mau kalah dengan pemerintah yang kerap inkonsisten dengan kebijakan, PSSI yang sebelumnya mengakui Liga Super (ISL) dan menolak Liga Primer (LPI), sekarang berbalik mengakui Liga Primer (IPL) dan menolak Liga Super (ISL). Indonesia pun akhirnya harus rela tidak ada perwakilan ke Piala Champion Asia karena Persipura yang seharusnya mewakili tetap memilih ada di ISL yang lebih kompetitif. Liga pun direncanakan kembali ke masa dua windu sebelumnya, dibagi dalam dua wilayah, barat dan timur. IPL yang sebelumnya berkoar diikuti banyak tim akhirnya mengawali turnamen hanya dengan 13 tim. Sementara ISL yang dianggap ilegal oleh PSSI, AFC dan FIFA justru diikuti 18 tim dan pemain – pemain berpengalaman. Padahal IPL dan ISL cuma beda huruf P dan S, yang dalam alfabet hanya dipisahkan huruf Q dan R. IPL dan ISL ibarat ‘kopong’ dan ‘kosong’, tak ada perbedaan makna, sama – sama tidak berisi.

Perubahan dalam kancah persepakbolaan Indonesia, bukan hal baru. Tahun 1994, era sepakbola perserikatan berhasil diganti dengan Liga Indonesia (LI), tanpa tambahan huruf S ataupun P. Selama LI, sebanyak 8 kali tim – tim sepakbola di Indonesia dibagi dalam dua wilayah, barat dan timur. Bahkan pernah 3 kali dibagi dalam tiga wilayah (barat, tengah dan timur), sementara hanya 2 kali disatukan tanpa pembagian wilayah. Pun sempat timbul gejolak di pertengahan, LI terbukti mampu bertahan belasan tahun. Kehadiran ISL pada tahun 2008 yang mengganti format liga tanpa pembagian wilayah menghadirkan semangat baru. Namun menginjak tahun keempat, kehadiran huruf S ditambah antusiasme masyarakat menyebabkan huruf P juga hendak memajukan sepakbola nasional. Polemik ISL dan LPI yang sarat kepentingan pun terjadi dan belum berakhir bahkan setelah pergantian pengurus PSSI.

Belajar dari Amerika Latin
Indonesia negara yang luas dengan 33 provinsi, tidak adil membandingkan liga sepakbolanya dengan beberapa negara seperti Perancis dan Spanyol yang luas negaranya hanya sepertiga dan seperempat Indonesia. Apalagi jika dibandingkan dengan Jerman, Italia dan Inggris yang luas negaranya kurang dari 18% dari luas wilayah Indonesia. Tidak hanya luas, wilayah di Indonesia dipisahkan oleh banyak laut, sehingga menjalankan kompetisi sepakbola dengan membagi tim dalam beberapa wilayah menjadi opsi yang dapat dipahami. Amerika Serikat yang memiliki 50 negara bagian dengan luas wilayah 5 kali luas Indonesia, membagi liga sepakbola Major League Soccer (MLS) dalam dua wilayah, timur dan barat. Namun perlu diperhatikan bahwa masing – masing wilayah MLS hanya diikuti oleh 9 tim dan masih kalah pamor dari kompetisi basket (NBA) maupun American Football yang jumlah tim dan pembagian wilayah untuk kompetisinya lebih banyak. Sementara itu, Rusia dan Cina yang luasnya 8 dan 5 kali luas Indonesia tidak menggunakan pembagian wilayah untuk divisi utama liga sepakbola mereka yang diikuti oleh 16 tim.

Dari berbagai negara terluas di dunia, terdapat dua negara amerika latin yang menjadi kiblat sepakbola dunia, yaitu Brazil dan Argentina. Kedua negara ini beberapa kali menjadi juara piala dunia dan selalu menghasilkan pemain sepakbola berkualitas, karenanya layak dijadikan referensi. Brazil 4,3 kali lebih luas dari Indonesia dan memiliki 26 negara bagian plus 1 distrik federal. Kompetisi dilakukan lewat dua jalur, nasional (national championship) dan negara bagian (state championship). National championship terdiri atas tiga divisi (A – C) yang masing – masing beranggotakan 20 tim dan satu divisi D yang diikuti 40 tim. Namun mulai dari divisi C, kompetisi dilakukan per regional. State championship yang juga membagi tim dalam 4 divisi dilakukan untuk mencari tim dan klub berbakat, diadakan per negara bagian. Sementara itu, Argentina yang luasnya 1.4 kali Indonesia dan memiliki 23 provinsi plus 1 distrik federal tidak jauh berbeda, ada 6 level divisi sepakbola Argentina. Divisi Primer A dan B masing – masing diikuti 20 tim secara nasional, divisi selanjutnya dilakukan per regional, bahkan divisi tingkat ke-5 diikuti hampir 300 tim.

Brazil dan Argentina sudah memberi contoh jelas bagaimana mengelola kompetisi sepakbola yang kompetitif sekaligus mengembangkan potensi daerah di area yang luas. Tidak seperti Rusia yang sepakbolanya hanya berkembang di wilayah barat, sepakbola sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Brazil dan Argentina. Kedua negara ini sudah membuktikan bagaimana luasnya wilayah justru menjadi kekuatan untuk terus berprestasi dan terus mencetak legenda sepakbola. Ya, kompetisi yang diadakan sangat baik untuk kaderisasi pemain, sehingga tidak ada kamus naturalisasi pemain di dua negara ini. Banyak mengekspor pemain di liga – liga top dunia dan jarang mengimpor. Padahal liga tidak hanya dikelola satu perusahaan, namun visi besar memajukan sepakbola mengeliminasi berbagai kepentingan pribadi/ golongan yang timbul.

Quo Vadis Sepakbola Indonesia?
Gengsi dan kepentingan pribadi/ golongan, dua hal yang menghambat majunya persepakbolaan Indonesia. Tidak peduli berapa kali pengurus PSSI diganti, jika orientasinya masih sempit tidak ada perubahan yang berarti. Apalagi jika motivasinya hanya sebatas uang dan keuntungan, persepakbolaan nasional takkan berkembang. Jika mengacu contoh di atas, seharusnya secara nasional hanya ada dua divisi Liga Indonesia, sebutlah A dan B yang merupakan tingkatan, bukan dua kompetisi selevel. Untuk pengembangan sepakbola, dibangun divisi C dan seterusnya per wilayah yang ada di bawah dua divisi utama. Namun untuk mengintegrasikan ISL dan IPL jelas bukan perkara mudah, butuh kelapangan hati dari semua pihak, tidak hanya PSSI dan pihak penyelenggara, namun juga pelatih, pemain, media bahkan suporter.

Akhir bulan ini di kantor ada team building yang salah satu lombanya adalah futsal. Karena karyawan laki – laki hanya puluhan orang, sistemnya dibuat setengah kompetisi, dimana tim yang dua kali menang di babak kualifikasilah yang dapat masuk ke babak final. Jadi kepikiran, mengapa sistem yang sama tidak digunakan untuk mengintegrasikan ISL dan IPL. Jadi tim yang ada akan diundi untuk bertanding dua kali di babak kualifikasi. Tim yang menang dua kali akan masuk divisi A, yang kalah dua kali akan masuk divisi B, dan yang menang/ kalah sekali akan kembali bertanding untuk memperebutkan tempat di divisi A hingga jumlah tim yang mengikuti satu divisi ideal. Saat ini masyarakat memang masih menunggu dinamika yang berkembang di atas sana. Sepakbola sebenarnya menjadi sarana yang baik untuk memupuk kebersamaan, nasionalisme sekaligus kegembiraan masyarakat yang semakin muak dengan perang gengsi dan kepentingan, himpitan ekonomi serta carut – marut politik. Semoga sepakbola nasional dapat segera berbenah dan mengukir prestasi.

“…Penonton pun harus sadar diri, berikanlah dukungan yang berarti. Dan junjunglah sportivitas yang tinggi menuju sepak bola prestasi…” (Kop dan Headen, P-Project)

*diuploadmenjelangduelmessibarcelonadenganneymarsantos