Tag Archives: sosial

Socio-Technopreneur Leaders untuk Indonesia Emas 2045

We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.”
(Albert Einstein)

Revolusi industri 4.0 menghasilkan perubahan yang sangat cepat, disruptif sekaligus eksponensial. Perkembangan teknologi digital akan menggeser dan menggusur industri tradisional. Tidak hanya industri tradisional, berbagai pekerjaan yang repetitif seperti kasir, admin, ataupun pekerja industri manufaktur kecil dan mikro akan tergantikan dengan mesin atau robot otomasi. Bahkan profesi dan pekerjaan analitis seperti konsultan pajak, akuntan atau penerjemah akan dikerjakan oleh sistem digital yang akan mengolah data input secara lebih cepat, akurat tanpa human error, dan presisi sesuai standar. Perusahaan konsultan McKinsey menyebut akan ada sekitar lima persen pekerjaan yang akan hilang pada era ekonomi digital. Di Indonesia sendiri akan hilang sekitar 20 juta pekerjaan. Namun akan ada sekitar 46 juta pekerjaan yang akan datang pada era tersebut. Sementara itu, Lembaga Think Tank Swiss memprediksi robot akan menghilangkan 75 juta pekerjaan secara global pada tahun 2022.

Beberapa pekerjaan seperti penulis, atlet, pemuka agama, koki, guru, psikolog, pengusaha, atau seniman barangkali sulit tergantikan oleh robot. Namun yang jelas berbagai pekerjaan terkait dunia digital semakin banyak dibutuhkan. Survei LinkedIn tahun 2018 menyebutkan bahwa pekerjaan yang paling banyak dicari adalah Data Scientist, Cyber Security Specialist, UX Designer, Head of Digital, dan Content Specialist. Hal ini barangkali yang disadari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sehingga bulan lalu Balitbang SDM Kemenkominfo menggelar program beasiswa pendidikan non-gelar bertajuk “Digital Talent Scholarship”. Program beasiswa berupa pelatihan intensif selama 8 pekan ini bekerja sama dengan lima PTN di Indonesia untuk lokasi dan tenaga pengajar. Program ini juga didukung Microsoft Indonesia selaku penerbit sertifikat keahlian untuk lima tema pelatihan yang disediakan, yaitu Artificial Intelligence (AI), Big Data, Cyber Security, Cloud Computing, dan Digital Business.

Salah satu profesi yang diyakini terus berkembang dan akan terus eksis adalah entrepreneur. Walaupun masih di bawah rasio negara maju, wirausahawan di Indonesia meningkat cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Akhir tahun lalu, rasio wirausahawan Indonesia sebesar 3,1%, atau meningkat dua kali lipat dari rasio 3 tahun sebelumnya yang hanya 1,55%. Bahkan Menteri Koperasi dan UKM, AAN Puspayoga mengatakanbahwa rasio wirausaha di Indonesia terbaru sudah meningkat menjadi 7% lebih dari total penduduk Indonesia. Peningkatan ini sebagian besar didukung oleh semakin banyaknya bentuk wirausaha berbasis teknologi. Karenanya, di sektor manapun, kemampuan teknologi informasi dan jaringan ini penting dimiliki untuk terus tumbuh dan berkembang di era Revolusi Industri 4.0.

Banyaknya permasalahan di Indonesia menghadirkan bukan hanya para entrepreneur melainkan para social entrepreneur, yaitu mereka yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change). Tidak sedikit wirausahawan baru yang bergerak dengan pola ini dimana keberhasilan bisnisnya juga diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Perkembangan social entrepreneur ini berkolaborasi dengan kemajuan teknologi menghasilkan beberapa platform, diantaranya platform crowdfunding (misalnya KitaBisa), crowdlending (misalnya GandengTangan), atau platform lain semisal iGrow yang merupakan platform agrikultur yang bisa dimanfaatkan untuk menghubungkan sponsor/investor, petani, pemilik lahan, dan pembeli hasil pertanian secara bersamaan. Wirausaha sosial berbasis teknologi ini sukses bukan hanya mengelola anggaran dalam jumlah besar, namun juga melibatkan partisipasi masyarakat di lingkup yang luas.

Para wirausahawan sosial berbasis teknologi –atau lebih mudahnya kita istilahkan dengan Socio-Technopreneur—ini berpotensi untuk terus berkembang di masa depan sekaligus terus menebar kebermanfaatan. Tantangan terbesarnya justru terletak pada stakeholder pengelola dan values yang hendak diusung. Socio-technopreneur ini gagasannya didominasi oleh anak muda yang barangkali memiliki generation gap dengan para pengambil kebijakan eksisting, baik di sektor publik, sektor privat, ataupun sektor ketiga. Bentuk dukungan, arahan, ataupun penyikapan tidak bisa dilihat dari perspektif masa lalu di tengah zaman yang telah berubah. Kecuali untuk hal-hal fundamental yang tidak boleh berubah. Disinilah tantangan values bermain. Berbagai kasus kenakalan remaja dan efek negatif perubahan zaman lainnya sejatinya tidak bisa mengkambinghitamkan perubahan yang terjadi ataupun pihak lain yang menggagas perubahan. Zaman boleh berubah namun jati diri dan karakter bangsa harus tetap kokoh. Disinilah urgensi dari kepemimpinan sehingga peran yang muncul adalah pelopor perubahan dan penentu arah perubahan, bukan mereka yang ikut-ikutan terseret arus dan terombang-ambing dalam badai perubahan.

Untuk Indonesia Emas 2045, bangsa ini membutuhkan sekumpulan pemimpin yang cakap teknologi dan memiliki jiwa entrepreneurship untuk membantu menyelesaikan permasalahan bangsa. Untuk membentuk generasi socio-technopreneur leaders ini harus ada sinergi antar stakeholder untuk bersama mengambil peran yang saling menguatkan. Kurikulum boleh adaptif dengan perubahan, namun values yang diusung tidak boleh terlalu labil. Jati diri dan harkat diri harus terjaga. Hasilnya adalah generasi emas yang bukan hanya cendekia dan berkompeten, namun memiliki integritas dan mampu memberi transformasi positif di tengah masyarakat. Dan elemen kunci dari itu semua ada pada diri pendidiknya. Pendidik emas yang memang layak mengemban tugas mulia menghasilkan generasi emas. Dan pendidik ini bukan orang lain. Kita semualah para pendidik itu. Lantas, sudah pantaskah kita?

Technology is just a tool. In terms of getting the kids working together and motivating them, the teacher is the most important.” (Bill Gates)

*ditulis sebagai pengantar Ngobrol Pendidikan Indonesia (NGOPI) bertajuk “Revolusi Industri 4.0, Sarjana: Lahirnya Kaum Intelektual atau Hanya Menambah Pasar Manusia Terdidik?”

Sekilas tentang Community Development

Community Development Programs adalah program pengembangan masyarakat yang bertujuan membangun kemandirian, mengembangkan kapasitas dan mengintegrasikan masyarakat untuk membangun sendiri lingkungannya. Kegiatan ini umumnya berorientasi kepada proses dimana dikembangkan perluasan dan pemeliharaan sistem yang bertujuan untuk memapankan relasi kerjasama antar kelompok dalam suatu komunitas, menciptakan struktur pemecahan masalah komunitas yang terpelihara secara baik dalam atau oleh komunitas tersebut, menstimulasi masyarakat agar mempunyai minat & partisipasi luas terhadap isu-isu komunitas, mengembangkan sikap & perilaku suka bekerjasama & meningkatkan peranan kepemimpinan yang berasal dari komunitasnya.

Komunitas yang digarap biasanya masih berbentuk tradisional statis, dimana terjadi kemurungan dalam masyarakat & ketertutupan dari masyarakat luas. Kondisi di komunitas tersebut umumnya terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan relasi & kapasitas dalam memecahkan masalah secara demokratis. Stategi dasar yang dapat diterapkan adalah pelibatan sebanyak mungkin (kelompok) masyarakat dalam menentukan & memecahkan masalah mereka sendiri (self help) dan kooperatif berdasarkan kemauan dan kemampuan. Teknik perubahannya dengan konsensus, diskusi kelompok dan komunikasi antar kelompok & komunitas.

Adapun peran dari community worker (CW) adalah sebagai pemercepat perubahan (enabler-katalis) yang akan mengartikulasikan kebutuhan, mengidentifikasi masalah dan mengembangkan kapasitas masyarakat agar dapat menghadapi masalah dengan lebih efektif. Fungsinya adalah untuk membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka, mengembangkan dan membangkitkan organisasi dalam masyarakat, mengembangkan relasi interpersonal yang baik dan memfasilitasi perencanaan yang efektif. Selain itu, community worker juga berperan sebagai perantara (broker) untuk menghubungkan individu / kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan bantuan dengan pihak/ yayasan yang mengadakan layanan masyarakat. Selain itu, CW juga berperan sebagai koordinator dan edukator/ pendidik.

Karena peran berat yang harus dijalankan itulah seharusnya setiap CW dibekali dengan kemampuan khusus, setidaknya kemampuan komunikasi, problem solving & decision making, riset, dinamika kelompok, manajemen, administratif, dan lain sebagainya. Pendekatan yang dilakukan untuk pencapaian tujuan disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Umumnya, dilakukan upaya pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat guna memperoleh kepercayaan, dilanjutkan dengan kegiatan yang keuntungannya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, barulah memberikan pemahaman-pemahaman lebih yang pada akhirnya dapat menyadarkan masyarakat bahwa merekalah yang dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Pendekatan direktif dapat dilakukan pada masyarakat yang pasif dengan CW yang sudah cukup tahu kebutuhan masyarakat. Namun pendekatan ini potensial menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap CW, sehingga pendekatan yang banyak digunakan adalah pendekatan partisipatif dimana masyarakat turut dilibatkan dalam menentukan treatment yang sesuai bagi mereka. Pendekatan terakhir banyak memberikan keuntungan namun tetap harus dijaga ritmenya sehingga masyarakat tidak merasa terpaksa dan kontrolpun harus tetap dijalankan. Adapun tahapan intervensi komunitas dimulai dari persiapan, assessment, perencanaan alternatif program, pemformulasian rencana aksi, implementasi, evaluasi & pengawasan dan terakhir terminasi/ pemutusan. Masyarakat dapat dilibatkan tidak hanya dalam pelaksanaan tetapi juga dalam perencanaan.

Untuk optimalisasi pencapaian tujuan dibutuhkan ketersediaan kader, yaitu orang-orang yang berasal dari masyarakat yang dengan sukarela (ada kesadaran diri) bersedia ikut serta dalam pelaksanaan. Kader bertugas menjadi pelopor dalam melaksanakan kegiatan, pelaksana dan pemelihara kegiatan, menjaga keberlangsungan kegiatan dan membantu menghubungkan antara warga masyarakat dengan lembaga-lembaga yang terkait. Adapun kendala yang biasa dihadapi dalam proses pengambangan masyarakat dapat berasal dari kepribadian individu (homeostatis, kebiasaan, primacy, seleksi persepsi, ketergantungan, superego, minder, dsb) maupun dari sistem sosial (norma, kultur tertentu, kelompok kepentingan, keyakinan, penolakan intervensi, dsb).

*tulisan kala masih mengelola YDBI 13 tahun lalu