Tag Archives: strategi

Apa Misi Visi Anda?

Ada yang terasa janggal dari judul di atas? Ya, mungkin karena kata ‘visi’ biasanya diletakkan sebelum kata ‘misi’. Sesuai dengan urutannya, karena misi merupakan penerjemahan dari visi. Tapi tentu penulisan judul tersebut bukan tanpa alasan. Tulisan ini tidak hendak menggugat bahwa misi layak disebut lebih dulu daripada visi, namun setidaknya akan coba dipahamkan bahwa misi memiliki makna yang lebih fundamental dibandingkan visi.

Misi didefinisikan sebagai ‘reason for being’ atau ‘why do we exist?’ Pertanyaan mengenai alasan keberadaan ini sangat mendasar dan perlu dijawab sebelum panjang lebar merencanakan masa depan. Sementara visi adalah ‘what do we want to become?’ Sebuah mimpi, cita dan harapan. Pendapat yang mengatakan bahwa misi berorientasi ke belakang sementara visi berorientasi ke depan, tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun, menyadari hakikat keberadaan (organisasi) kita sejatinya menyoal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Pemahaman yang benar tentang siapa kita dan untuk apa kita diciptakan menjadi lebih fundamental dibandingkan pemahaman mengenai cita-cita hidup kita. Jati diri manusia sebagai hamba dan khalifah yang menyebarkan Rahmat Allah SWT tidaklah lekang oleh waktu, sementara cita-cita hidup kita bisa saja berubah. Bahkan jika cita-cita yang dimaksud berorientasi akhirat, misalnya mati syahid atau masuk syurga, tetap saja pemahaman terhadap misi, tugas dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan lebih penting. Ketika terjadi disorientasi, jawaban atas pertanyaan ‘siapa kita’ dan ‘mengapa kita ada’ akan lebih dalam maknanya dibandingkan sekadar ‘mau kemana kita’.

Tidak sedikit organisasi yang sibuk merancang impiannya di masa mendatang, namun melupakan hal mendasar: mengapa organisasi tersebut ada. Seorang pengikut mungkin saja tidak punya visi, karena sekadar mengikuti visi pemimpinnya. Pun demikian pengikut tersebut tetap punya misi, karena tanpa misi tak ada arti penting keberadaannya. Seorang pemimpin bisa saja hadir tanpa membawa visi, misalnya karena mengikuti visi kepemimpinan sebelumnya. Bahkan visi organisasi ini dapat dibuat bersama-sama, dengan atau tanpa melibatkan pemimpin. Namun tidak ada pemimpin tanpa misi. Misi kepemimpinan adalah memimpin, menggerakkan dan menjadi teladan. Seseorang yang tidak memimpin, tidak menggerakkan dan tidak pula menjadi teladan bukanlah seorang pemimpin.

Memang benar ada pula pengertian misi sebagai ‘our business’ ataupun ‘the chosen track’ yang bisa jadi dibuat setelah adanya visi. Di beberapa literatur ada yang membedakan antara purpose (misi sebagai alasan keberadaan) dengan mission (misi sebagai turunan visi). Tapi apapun pendekatannya, memahami jati diri organisasi tetaplah lebih utama. Pendapat yang mendefinisikan misi sebagai cara untuk mencapai visi (sehingga ada setelah visi) tidaklah tepat. Definisi tersebut justru membuat tumpang tindih antara misi dengan strategi yang didefinisikan sebagai cara (method), pola (pattern), atau taktik (ploy) untuk mencapai visi. Kesalahan lainnya dalam penyusunan misi adalah dibuat terlalu panjang seperti layaknya profil organisasi. Bukan hanya sulit untuk dihapal dan dipahami, posisi sebagai ‘the chosen track’ juga bisa kehilangan makna akibat misi yang terlalu rumit.

Suatu organisasi tanpa visi memang akan terombang-ambing karena ketidakpastian arah yang dituju, namun organisasi tanpa misi lebih buruk lagi. Sekadar visi tanpa memahami hakikat keberadaannya akan membuat organisasi berambisi untuk menggapai impian, dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Fondasi berpijaknya organisasi rapuh dan rentan lupa diri. Eksistensi organisasi yang gagal memahami ‘why do we exist?’ hanyalah ditopang oleh faktor sumber daya (SDM, keuangan, waktu, dsb) dan keberuntungan. Bisa jadi organisasi cukup beruntung tidak runtuh bahkan berhasil mencapai visi. Namun seketika bingung apa yang harus dilakukan karena alpa akan hakikat dirinya. Atau tiba-tiba tersadar bahwa apa yang telah dicapai ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diimpikannya. Dapat dibayangkan betapa besarnya sumber daya yang terkuras untuk sebuah kekosongan.

Satu visi dalam sebuah organisasi merupakan keharusan karena kita akan berjuang dalam cita yang sama, tinggal menjalankan peran masing-masing. Namun menyadari hakikat misi bersama tak kalah pentingnya. Sehingga kita menginsyafi bersama mengapa organisasi ini harus ada, untuk apa dan untuk siapa. Agar kita kian paham akan segenap tugas dan tanggung jawab yang menyertai. Dan semakin yakin akan kebenaran jalan yang ditempuh. Agar kita tetap sadar diri dalam menggapai mimpi. Dan tetap punya harga diri dalam memperjuangkan visi.

Jadi, apa misi dan visi (organisasi) Anda?

Without a mission statement, you may get to the top of the ladder and then realize it was leaning against the wrong building” (Dave Ramsey)

Ramadhan Itu Sebentar

“Ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna agar dapat kulalui dengan sempurna. Selangkah demi selangkah, setahun sudah pun berlalu. Masa yang pantas berlalu, hingga tak terasa ku berada di bulan Ramadhan semula” (‘Harapan Ramadhan’, Raihan)

Waktu begitu cepat berlari, tak terasa Ramadhan kembali datang menghampiri. Ada yang bergembira, ada yang menyambutnya biasa saja. Rasanya baru kemarin saling bermaafan di Hari Raya, kini Ramadhan sudah kembali menyapa. Banyak orang merasakan waktu berjalan begitu cepat ketika akan meninggalkan sesuatu atau menyongsong sesuatu yang lain, padahal memang demikianlah karakteristik waktu, cepat berlalu dan takkan pernah bisa kembali. Dan waktu pasti akan bergerak begitu cepat, tiba-tiba saja sekarang sudah di penghujung Ramadhan dan tak lama lagi Ramadhan akan berlalu. Jika hidup di dunia adalah pemberhentian sementara, maka Ramadhan tentu lebih singkat lagi. Ya, Ramadhan itu sebentar. Karenanya sudah sepantasnya waktu yang singkat tersebut diisi dengan berbagai aktivitas produktif.

Ramadhan itu sesaat, seperti lomba jarak menengah, sebentar sekali, karenanya harus benar – benar cerdas dalam mengoptimalkan kehadirannya. Persiapan ilmu, fisik dan mental tentu menjadi penting untuk memperbesar peluang memenangkan perlombaan. Dalam persiapan lari jarak menengah, persiapan dilakukan dengan berbagai variasi, mulai dengan lari secara terus menerus, lari dengan kecepatan dan jarak yang bervariasi hingga lari di bukit-bukit. Persiapan menghadapi Ramadhan juga sebaiknya dilakukan secara variatif, mulai dari pembiasaan dalam mengerjakan ibadah rutin, hingga optimalisasi persiapan di dua bulan terakhir. Bagaimanapun, seperti halnya lari jarak menengah, butuh konsistensi dalam menghadapi perjuangan di bulan Ramadhan. Tidak perlu ‘tancap gas’ dari awal seperti lari sprint agar tidak ‘kehabisan nafas’ lebih awal, jangan pula selambat lari marathon karena Ramadhan itu sebentar.

Dalam lari jarak menengah, ada lima faktor penting yang perlu diperhatikan, yaitu gaya (style), daya tahan tubuh (stamina), kecepatan, pertimbangan langkah, dan kepemimpinan. Gaya lebih terkait dengan keterpaduan gerak sehingga tercipta harmoni antara gerak seluruh anggota tubuh. Dalam konteks Ramadhan, harmonisasi ini erat kaitannya dengan manajemen diri. Bagaimana melakukan persiapan yang menyeluruh, mulai dari ilmu, fisik, ruhiyah, hingga materi serta bagaimana menghadirkan keseimbangan dalam mengimplementasikannya. Islam mengajarkan untuk hidup seimbang, pun demikian dengan Ramadhan. Karenanya dianjurkan mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka, karenanya umat Islam tidak dituntut untuk tidak tidur sepanjang malam. Harmonisasi ini akan menciptakan keindahan sekaligus kekuatan. Tidak mengherankan, di masa Rasulullah SAW banyak sekali peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan.

Stamina seorang pelari sangat menentukan kemampuannya untuk menempuh jarak yang tidak dekat, karenanya daya tahan tubuh ini perlu terus dilatih. Betapa banyak mereka yang penuh semangat di awal Ramadhan, namun belum sampai setengah jalan sudah terengah-engah. Beramal shalih memang banyak tantangannya, namun istiqomah jauh lebih sulit. Stamina ini erat kaitannya dengan pemahaman akan kondisi diri dan pengetahuan akan karakteristik medan yang akan ditempuh. Boros dalam menghabiskan energi, menyibukkan diri dengan perkara yang tidak penting hanya akan menguras stamina. Jika pelari jarak menengah dianjurkan untuk memeriksakan kesehatan sebelum memulai latihan daya tahan, seorang pejuang Ramadhan juga perlu mengenal diri dan kemampuannya sebelum menyusun target Ramadhan. Optimalisasi ibadah Ramadhan sangat ditentukan oleh kebugaran dan stamina, baik jasadiyah, fikriyah, maupun ruhiyah.

Kecepatan (speed) bagi pelari jarak menengah merupakan faktor utama untuk menempuh jarak dalam waktu seminimal mungkin, di dalamnya terdapat strategi dan teknik berlari. Ramadhan itu sebentar, seorang pejuang akan tertinggal jika gagal meningkatkan atau setidaknya mempertahankan kecepatannya dalam mengejar target Ramadhan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah sikap suka menunda untuk melakukan kebaikan. Kecepatan yang kurang seringkali terjadi bukan karena banyaknya rintangan sepanjang perjalanan, namun sikap santai dan jiwa yang lemahlah yang membuat langkah melambat dan kehilangan fokus. Kesadaran yang terlambat kadang memang mampu memunculkan akselerasi menjelang garis finish, namun terlalu beresiko dan capaian targetpun biasanya tidak optimal, apalagi jika kecepatan awalnya jauh dari memadai.

Pertimbangan langkah (space judgement) dalam lari jarak menengah adalah perasaan yang dapat mempertimbangkan langkah yang sedang berjalan, sehingga mengetahui kapan untuk mempercepat atau menahan langkah untuk menjaga jarak. Momentum evaluasi selalu diperlukan sehingga kita tidak tertinggal namun juga tidak tergesa-gesa sehingga justru melewatkan banyak kebaikan di sepanjang Ramadhan. Langkah dan sikap berlari harus disesuaikan dengan medan yang dihadapi. Menghadapi tikungan tentu berbeda dengan ketika di jalur lurus, menghadapi jalan berbatu tentu berbeda dengan ketika di jalan mulus. Pertimbangan dan penyesuaian ini cukup sejenak, jangan terlalu lama, karena justru akan menghambat langkah. Ramadhan harus dijalani dengan kesadaran dan perhitungan, bukan sekedar rutinitas. Man shama ramadhana imanan wahtisaban, ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi, barangsiapa berpuasa karena iman dan penuh perhitungan, maka dosa-dosanya yang lampau diampuni Allah SWT. Ihtisaban adalah mengerjakan ibadah Ramadhan secara evaluatif, yaitu selalu menilai apakah ibadah-ibadah tersebut dilaksanakan dengan benar serta telah mencapai tujuan dan kebaikan seperti yang diharapkan.

Adapun kepemimpinan dalam lari jarak menengah terkait kepandaian menggunakan strategi dan taktik berlari, misalnya posisi kepala, bahu, kaki dan tubuh yang benar. Condong ke depan, tidak perlu banyak menoleh ke belakang. Tidak tegang, tenang penuh optimisme. Salah satu teknik yang perlu dikuasai adalah teknik gerakan memasuki garis finish, di antaranya lari terus tanpa mengubah sikap lari dengan kaki dipercepat dan langkah diperlebar. Optimalisasi hari-hari terakhir di bulan Ramadhan pun keberhasilannya banyak ditentukan dengan ibadah di sepanjang Ramadhan. Lewati garis finish dengan kepala menunduk, dada dimajukan dan kedua tangan lurus ke belakang. Lalui Ramadhan dengan penuh tawadhu dan perenungan, bukan dengan hura-hura penuh kelalaian. Keberhasilan Ramadhan sangat erat kaitannya dengan kebersihan hari dan kebaikan perilaku. Setelah melewati garis finish jangan berhenti mendadak. Jangan sampai segala kebaikan di bulan Ramadhan seketika lenyap seiring berlalunya bulan Ramadhan. Menjadi hamba Allah bukan hamba Ramadhan.

Ramadhan itu sekejap. Seorang pelari jarak menengah tidak mungkin tidak sempat bersantai–santai, makan minum atau berlari sambil main smartphone. Seorang pejuang Ramadhan sejati akan mencoba mengisi setiap jenak Ramadhan dengan amal produktif, tidak sibuk dengan hal-hal remeh yang melalaikan, karena Ramadhan itu singkat. Jangan sampai kita menyesal di akhir, di saat tidak ada waktu lagi untuk berbuat dan tidak mungkin pula kembali ke masa lalu. Ramadhan sejatinya adalah berlomba melawan diri sendiri, memecahkan rekor sendiri. Memang mungkin masih ada kesempatan untuk mengikuti lomba berikutnya di kemudian hari, namun selalu ada kemungkinan bahwa perlombaan ini adalah lomba terakhir kita. Lalu, apa yang akan kita lakukan jika ternyata memang benar bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita?

Barangsiapa puasa Ramadhan kerana beriman dan penuh perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang” (HR. Bukhari – Muslim)