Tag Archives: survive

Bimbingan Belajar Belajar Bertahan

It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” (Charles Darwin)

Beberapa waktu lalu, saya menerima undangan dari seorang rekan yang mengelola bimbingan belajar (bimbel) di daerah Citayam. Bukan undangan menjadi pengajar tamu, apalagi undangan membuka cabang baru, namun undangan penutupan lembaga bimbel yang pernah saya besarkan 13 tahun yang lalu. Sedih juga mendengarnya, mengingat banyak kenangan yang tergoreskan, terutama di masa-masa awal pembentukkan bimbel tersebut. Pun demikian saya maklum, mengingat sektor pendidikan memang termasuk sektor kehidupan yang cukup terdampak pandemi Covid-19 ini. Jangankan jalur pendidikan nonformal seperti lembaga kursus, pendidikan formal pun harus beradaptasi cukup keras dan cerdas dalam menghadapi perubahan pengelolaan persekolahan selama masa pandemi Covid-19.

Berbeda dengan sektor terkait pariwisata yang minim pilihan dalam menghadapi Covid-19, sektor pendidikan masih punya pilihan bertransformasi untuk bisa bertahan. Ketika pembelajaran di sekolah bisa digantikan dengan pembelajaran jarak jauh, dunia perhotelan atau maskapai penerbangan misalnya, tidak dapat mengganti layanan mereka dengan menginap atau bepergian via online. Karenanya, ketika banyak sekali industri pariwisata yang terancam gulung tikar terdampak corona, pertumbuhan situs maupun aplikasi terkait pendidikan justru melonjak 267%. Pertumbuhan ini jauh melampaui online shopping (13%), games (44%), dan kesehatan (59%).

Bagaimanapun, sekolah formal masih menjadi primadona di Indonesia. Belajar di rumah dibimbing oleh keluarga yang semestinya menggunakan pendekatan pendidikan informal, tetap kental nuansa pendidikan formal dengan silabus dan kurikulum ketat dari sekolah. Walaupun siswa tidak datang ke sekolah dan pendidik juga tidak bertatap muka dengan peserta didiknya, sekolah formal tetap eksis meski beberapa sekolah mengurangi biaya pendidikan sebagai konsekuensinya. Gagasan homeschooling sempat mengemuka ketika tersebar isu pemerintah tetap mendorong siswa mulai kembali bersekolah pada tahun ajaran baru di pertengahan Juli 2020. Orang tua yang khawatir terhadap kesehatan dan keselamatan anaknya ramai-ramai menolak, pun prosedur kesehatan tetap akan diberlakukan. Namun setelah keluar pernyataan resmi dari Kemendikbud tentang kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19, wacana homeschooling pun menguap. Bagaimanapun, pendidikan formal masih jauh lebih populer, dengan segala penyesuaian yang harus dilakukan.

Kondisi berbeda dialami oleh pendidikan nonformal, khususnya bimbel. Selain tidak ada keharusan untuk mengirimkan anak belajar di bimbel, sejak masa awal pandemi Covid-19 eksistensi bimbel sudah terancam. Pertama, kekhawatiran orang tua terhadap aktivitas berkumpul di luar rumah sehingga KBM bimbel tatap muka menjadi salah satu aktivitas yang dihindari. Kedua, peniadaan Ujian Nasional 2020 oleh pemerintah membuat alasan orang tua memberikan tambahan pembelajaran kepada anaknya melalui bimbel semakin menurun. Dalam perkembangan pandemi Covid-19, keberadaan bimbel kian kritis. Pemerintah telah menginstruksikan sekolah formal untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dimana siswa belajar dari rumah didampingi orang tuanya. Pendampingan belajar dari bimbel semakin tidak ada artinya. Ditambah lagi dampak pandemi terhadap krisis ekonomi menyebabkan kebutuhan akan bimbel bergeser menjadi sesuatu yang dianggap kurang prioritas.

Berbagai lembaga pendidikan umumnya beradaptasi di tengah pandemi Covid 19 dengan mengubah pola pembelajaran berbasis teknologi informasi. Karenanya platform pendidikan berbasis digital semakin berkembang dan banyak digunakan. Bahkan pemerintah pun mengubah pola pelatihan vokasional yang biasanya dilakukan Balai Latihan Kerja menjadi program kartu prakerja yang berbasis platform digital. Pendidikan formal dan nonformal pun beradaptasi. Namun realitanya tidak semudah itu untuk bimbel yang menjadikan layanan intensifnya sebagai keunggulan. Ketika KBM bimbel diganti online, apa bedanya dengan pembelajaran jarak jauh di sekolah? Efektif belum tentu, bosan bisa jadi. Fokus pendampingan guru terhadap siswa dan fokus belajar siswa tidak bisa dijamin lebih baik dibandingkan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan sekolah. Belum lagi ditambah fakta bahwa tidak semua bimbel siap secara sumber daya untuk segera alih teknologi. Lantas apa keunggulan bimbel?

Sebenarnya masih ada berbagai peluang bagi bimbel untuk bisa bertahan. Tersedia berbagai potensi inovasi program. Pertama, salah satu titik lemah dari pembelajaran jarak jauh adalah orang tua yang belum tentu memiliki kompetensi untuk mendampingi anaknya belajar. Bimbel bisa mengambil peran coaching dan consulting untuk efektivitas pembelajaran jarak jauh, baik terhadap siswa ataupun terhadap orang tua yang mendampingi anaknya belajar. Peran sebagai pengajar yang dalam beberapa kasus sudah tidak lagi relevan dengan kondisi aktual, digeser menjadi peran konsultatif yang ternyata masih dibutuhkan. Dari poin ini pun dapat terlihat bahwa bimbel yang sifatnya privat masih bisa dijalankan di tengah pandemi Covid-19. Kedua, titik lemah lain dari pembelajaran jarak jauh adalah spesialisasi ilmu yang tidak dimiliki orang tua padahal butuh pendalaman lebih. Berapa banyak orang tua yang bisa mendampingi anaknya belajar Fisika atau Kimia, misalnya. Bahkan pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di level tertentu pun butuh ilmu yang spesifik. Disinilah kompetensi pengajar bimbel masih dibutuhkan sebab guru di sekolah maupun orang tua di rumah sama-sama memiliki keterbatasan. Tak heran, program sukses Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang dijalankan oleh bimbel masih ramai peminat pun melalui pembelajaran online. Sebab materi ujiannya memiliki karakteristik spesifik, yang bisa jadi tidak dimiliki guru atau orang tua yang ada di generasi UMPTN atau bahkan Sipenmaru. Dan masih banyak potensi survival lainnya yang ternyata masih bisa dijalankan oleh bimbel di masa pandemi ini. Selama tidak terjebak status quo.

Semasa sekolah, saya tidak ikut bimbel. Selain alasan biaya, saya merasa telah mengetahui cara belajar mandiri yang paling efektif tanpa tergantung pengondisian eksternal. Bahkan ada guru saya yang antipati dengan bimbel. Beliau menganggap bimbel hanya mengajarkan cara praktis tanpa memberikan pemahaman. Beliau pernah membuktikan dengan memberikan soal anti-mainstream yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus cepat bimbel, tapi bisa saya selesaikan dengan kombinasi beberapa rumus sederhana dari beberapa materi pelajaran yang terpisah. Namun setelah merasakan menjadi guru bahkan mengelola bimbel, saya kemudian memahami bahwa tidak sedikit siswa yang masih membutuhkan bantuan dalam belajar, tidak cukup hanya di sekolah. Bantuan belajar mulai dari yang sifatnya materi pengetahuan, pembiasaan belajar, hingga motivasi belajar. Belum lagi beberapa program bimbel yang mengembangkan aspek mental dan spiritual serta sinergi belajar dengan orang tua menjadi penguat bahwa layanan bimbel dapat memberikan pengaruh positif. Terlepas masih ada yang menjadikan bimbel sebagai cara pragmatis untuk meningkatkan nilai, jalan pintas untuk diterima di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Terlepas masih ada bimbel yang berpikir pragmatis mengajar dengan motif bisnis.

Akhirnya, bimbel kenangan tak jadi ditutup, hanya operasionalisasinya dinonaktifkan hingga empat bulan ke depan sambil ada renovasi gedung. Namun kejadian ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi lembaga pendidikan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan. Berinovasi untuk terus berkembang menjawab tuntutan zaman. Fleksibilitas dan agilitas ini bukan hanya penting bagi bimbel namun berlaku juga untuk seluruh stakeholder pendidikan, termasuk pihak sekolah dan orang tua. Karena bisa jadi semua terdampak dan saling terkait. Jika sekarang virus corona yang menyerang, bisa jadi sesuatu yang lain di masa yang akan datang. Strategi penyikapannya pun berbeda. Jika hari ini ada kebutuhan untuk transformasi teknologi, entah ke depan butuh transformasi apa lagi. Barangkali ada benarnya bahwa tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Jangan takut berubah, jangan berhenti belajar. Sebab mereka yang berhenti belajar akan mati terkapar.

“Never stop learning because life never stops teaching”

7 Mitos dalam Berinovasi (1/2)

“Innovation distinguishes between a leader and a follower” (Steve Jobs)

Dalam KBBI, inovasi didefinisikan sebagai pembaharuan, atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi berbeda dengan penemuan (invention/ discovery) yang hanya menghasilkan pengetahuan (knowledge) baru. Inovasi merupakan sebuah proses transformasi yang memberikan nilai tambah sehingga menghasilkan produk baru, baik berupa barang, jasa, sistem, dan sebagainya.

Inovasi bukan sekedar membedakan antara pemimpin dengan pengikut sebagaimana penuturan Steve Jobs, namun inovasi akan sangat menentukan jatuh bangun bahkan hidup matinya sebuah organisasi atau perusahaan. Daur hidup produk (product life cycle) mulai dari development, introduction, growth, mature, hingga decline juga dirasakan dalam lingkup organisasi atau perusahaan. Tidak sedikit organisasi dan perusahaan yang berhasil tumbuh lalu kemudian mati karena gagal berinovasi. Terlena dengan zona nyaman, sekadar mengerjakan hal yang itu-itu saja, dan lalai dalam berinovasi sehingga tertinggal. Perusahaan game Atari mungkin salah satu contohnya, sempat menguasai pasar namun pada akhirnya tersisihkan dengan berbagi produk inovasi dari kompetitornya seperti Nintendo, Sega dan PlayStation. Hal serupa juga dialami Nokia dan BlackBerry dalam bisnis gadget dan telekomunikasi, tergerus oleh iOS dan Android. Atari dan Nokia perlahan memang mencoba bangkit namun era keemasan sudah berlalu.

Arti pentingnya inovasi untuk tetap survive di organisasi ataupun perusahaan seringkali sudah dipahami. Namun dalam implementasinya, ada berbagai mitos ataupun jebakan yang menghambat sebuah inovasi. Padahal urgensi inovasi bukan hanya menyoal baik tidaknya sebuah produk inovasi, tetapi juga cepat lambatnya inovasi dilakukan. Di tengah dunia yang semakin bergerak cepat, sedikit terlambat saja bisa jadi akan tertinggal. Berikut beberapa mitos yang kerap menjadi jebakan dalam berinovasi.

Inovasi membutuhkan kreativitas tinggi
Tidak sedikit mereka yang urung berinovasi berdalih bahwa mereka kurang kreatif dalam menelurkan sebuah karya inovatif. Apakah inovasi membutuhkan kreativitas? Bisa jadi. Namun kreativitas bukan syarat pokok. Ada tiga komponen penting inovasi: ide, implementasi, dan dampak. Ide tidak harus bersumber dari kreativitas, bahkan idealnya sumber ide inovatif adalah untuk menjawab kebutuhan atau mengatasi masalah yang dihadapi. Kondisi mendesak juga bisa memunculkan produk inovasi, misalnya uang kertas dan makanan kaleng yang merupakan produk inovasi di masa perang. Bahkan produk inovasi bisa lahir dari ketidaksengajaan, misalnya penisilin dan resep Cocacola. Jadi, kreativitas memang penting untuk melahirkan inovasi, namun ketiadaannya tidak dapat menjadi alasan untuk tidak berinovasi.

Inovasi butuh landasan riset yang rumit
Dalam organisasi konvensional, inovasi biasanya diampu oleh tim penelitian dan pengembangan, karenanya inovasi tidak terlepas dari riset dan kajian mendalam. Produk hasil inovasi dapat dipastikan mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun organisasi modern memandang inovasi lebih sederhana dan fleksibel, sehingga dapat dilakukan oleh seluruh anggota organisasi tanpa kecuali. Riset dan pengembangan tentu tetap dibutuhkan, tetapi untuk menguatkan produk inovasi, bukan membuatnya. Alhasil, semakin banyak produk inovasi yang bersumber dari ideyang sederhana, dibuat secara sederhana oleh orang-orang yang tidak harus memahami dunia penelitian dan pengembangan.

Inovasi tidak jauh dari produk teknologi
Terminologi inovasi saat ini identik dengan pembaharuan teknologi, misalnya telepon genggam, kendaraan bermotor, ataupun peralatan elektronik. Padahal inovasi banyak jenisnya, tidak hanya berupa barang hasil pembaharuan teknologi, tetapi bisa juga berupa inovasi sistem, jaringan, bisnis, hingga inovasi pendidikan, sosial ataupun budaya. Inovasi kurikulum pendidikan tentu tidak melulu bicara tentang alih teknologi, demikian pula dengan inovasi sistem lembaga keuangan syariah, misalnya. Banyak produk inovasi yang nyata bermanfaat bagi masyarakat namun tidak dihasilkan oleh para ilmuwan, insinyur, ataupun teknolog. Dimana masih ada gap atau masalah, disitulah terbuka peluang untuk melakukan inovasi.

(bersambung)