Tag Archives: Syawal

Keutamaan Ibadah di Luar Ramadhan

Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun” (Syeikh Bisyr Al Hafi)

Setiap tahun, baik dalam tarhib Ramadhan ataupun khutbah Jum’at di akhir Sya’ban atau awal Ramadhan, penceramah biasa menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan beribadah di dalamnya. Walaupun sudah mainstream, Ramadhan memang istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an, dan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. Kondisi yang tidak ditemui di bulan lain. Namun bicara tentang keutamaan ibadah di bulan Ramadhan adalah perkara lain yang dapat diperdebatkan.

Ibadah shaum Ramadhan yang hukumnya wajib dan termasuk Rukun Islam memang lebih utama dibandingkan shaum sunnah di luar Ramadhan. Berdosa jika ditinggalkan dengan sengaja dan wajib diganti jika ditinggalkan membuat shaum Ramadhan ada di level yang berbeda. Yang juga berbeda barangkali i’tikaf menghidupkan lailatul qadar yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Perbedaan ini kemudian diperkuat dengan ganjaran diampuni dosa bagi mereka yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan imanan wahtisaban.  Namun ketika menyoal tentang dampak puasa dan shalat malam terhadap fisik dan spiritual, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, diijabahnya do’a orang yang berpuasa hingga hal-hal yang perlu dijaga selama berpuasa tidaklah berbeda antara Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Bahkan beribadah di luar Ramadhan punya tantangan lebih.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Dia menimpakan cobaan kepadanya. Sedekah yang utama adalah dengan sesuatu yang paling disukai. Berat memang, karenanya menjadi istimewa. Shalat berjama’ah di masjid yang paling besar ganjarannya adalah shalat shubuh. Terjaga dan beribadah ketika orang lain nyenyak tidur tentu tidak mudah. Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Penuh risiko dan tidak sederhana, karenanya menjadikannya mulia. Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bergaul dan tidak bersabar. Begitulah sunnatullahnya. Semakin berat ujian, kian besar pengorbanan, makin banyak kesungguhan yang diperlukan, akan semakin besar ganjarannya. Belajar dari Qur’an Surah Al Balad, ketika dihadapkan pada dua jalan, tidak banyak yang memilih jalan menanjak yang sulit ditempuh dibandingkan jalan yang mudah.

Begitulah beribadah di luar Ramadhan, lebih penuh tantangan. Berpuasa sunnah ketika orang lain berpuas makan tidaklah mudah. Istiqamah tilawah selepas zhuhur di saat yang lain bergegas istirahat dan makan siang punya tantangan yang jauh berbeda dibandingkan ketika Ramadhan. Di saat lingkungan lebih kondusif untuk beribadah. Perbedaan ini jelas terlihat dari interaksi umat Islam dengan masjid dan dengan Al Qur’an, ketika dan di luar Ramadhan. Perbedaan nyata terlihat dari jama’ah shalat Shubuh dan Isya, apalagi jika diteliti qiyamul lail nya. Padahal ibadah sejatinya adalah aktivitas sepanjang hayat, bukan hanya semangat ketika lingkungan kondusif. Imam Hasan Al Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Alangkah tidak pantasnya jika gema takbir hari raya menjadi batas amal ibadah seorang muslim. Na’udzubillah

Salah satu indikator sukses Ramadhan adalah terjaganya amal ibadah selepas Ramadhan. ‘Kun Rabbaniyyan Wa Laa Takun Ramadhaniyyan’, begitulah para ulama terdahulu menyampaikan. Hendaklah kita menjadi hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi ‘penyembah’ Ramadhan. Ketahuilah, keutamaan beribadah bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Ibaratnya banyak orang berburu barang ketika cuci gudang, barang berlimpah dan banyak potongan harga. Mereka pun sekadar memperoleh barang murah yang tersedia. Sementara di hari biasa tidak banyak yang mencari barang, padahal walaupun sedikit lebih mahal, barang yang dipilih bisa lebih dijamin kualitasnya dan pelayanannya pun lebih optimal. Apalagi jika disadari bahwa barang yang dicari adalah kebutuhan sehari-hari, tidaklah tepat mengupayakannya hanya ketika cuci gudang. Ramadhan memang istimewa, namun satu tahun terdiri dari dua belas bulan, bukan hanya Ramadhan. Ada hak-hak Allah SWT yang tetap harus dijaga. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, serta membimbing kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya. Semoga kita tetap istiqamah beribadah sepanjang tahun, sepanjang hayat, serta dijauhkan dari sifat munafik. Aamiiin…

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8 )

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

SMS Idul Fitri 1430 H

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar… La ilaha illallahu allahu akbar… Allahu akbar wa lillahilhamd… Gema takbir, tahlil dan tahmid yang menggema di seluruh penjuru dunia menandakan berakhirnya bulan Ramadhan… Menarik sekali mengamati diskusi panjang penetapan 1 Syawal, memperhatikan antusiasme masyarakat memadati masjid untuk shalat Idul Fitri, mendapati banyak orang mendadak gemar bersilaturahim. Berkenaan dengan fenomena terakhir, ’silaturahim tak langsung’pun tak kalah ramainya, termasuk via SMS. Sudah beberapa tahun ini saya gemar mencatat SMS Idul Fitri yang masuk ke ponsel saya. Menarik sekali mendapati banyak orang yang mendadak menjadi sastrawan =)

Untuk tahun ini, tadinya saya pikir akan ada penurunan tajam ucapan via SMS digantikan dengan facebook yang sedang populer. Ternyata salah, ratusan SMS Idul Fitri tetap saya terima selama beberapa har terakhir. Beberapa mengirim lebih dari sekali. Nah, berikut adalah beberapa SMS yang terpilih secara subjektif menjadi SMS Idul Fitri ’ter-’ tahun 1430 H ini :

Ter – awal :
Assalamu ‘alaikum… saya meminta dengan segenap ketulusan hati & keikhlashan… Mohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan yang disengaja atau tidak, besar kecil, disadari atau tidak selama ini… Semoga kita bisa menjadi pribadi yang berakhlak mulia (^_^) (AB, 18 Sept, 10:53:04) –> Untuk menghargainya, sempat saya jadikan status FB =)

Ter – panjang :
Kala Ramadhan menyapa, sukacita kian mengisi di hati. Kita isi hari-hari Ramadhan dengan taqarub ke Ilahi, amalan sunnah dan yaumiyah setia menemani. Dan kala Ramadhan beranjak pergi, semoga lembaran kebaikan telah banyak kita isi dan mudah-mudahan kita menjadi pribadi yang fitri. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan selanjutnya dan sebelum itu tiba semoga nuansa Ramadhan mengisi hari-hari kita. Tuk tiap hati yang tersakiti, tiap tutur kata yang tak terpuji, tiap akhlak yang menzholimi, tiap amanah yang terlewati, mohon dibukakan pintu hati. Minal aidin wal faizin. Maafkan lahir dan batin (FA, 19 Sept, 19:20:31) –> Lumayan, 5 SMS dalam satu ucapan =)

Ter – curcol :
Kami yang berbahagia dan belum berkeluarga mengucapkan : Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir bathin (ZN, 19 Sept, 20:24:38) –> Hehehe… belum berkeluarga, bangga =P

Ter – salah momen :
Ass. M & family mengucapkan HAPPY NEW YEAR 1430 H. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan… Wass (M, 19 Sept, 23:15:39) –> Asli lah, kayaknya SMS 9 bulan yang lalu tuh =P

Ter – ga kreatif 1 :
Ya Rabb, izikanlah kami bersua dengan Ramadhan tahun depan. Semoga kian hari kita kian istiqomah dalam mencari Cinta Nya. Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir bathin –> dikirim oleh 2 orang yang berbeda tapi sefakultas dan seangkatan (AR & EM) dengan jeda waktu hanya 43 menit (19 Sept, 22:19:03 dan 23:02:10). Sama persis.

Ter – ga kreatif 2 :
Minal aidin wal faizin, semoga kita semua menjadi fitrah kembali (AM, 20 Sept, 06:21:55) –> Asli lah, jauh-jauh, mantan orator cuma SMS segitu =P

Ter – artistik :
_!!__
_,-’:::::::’=,_______
\_______________/
Hidup ini seperti berlayar di lautan luas, sarat dengan godaan dosa bak buih yang tak terlihat. Jika saya melabuhkan salah di hati maka dengan kerendahan hati saya memohon maaf, agar saya bisa kembali berlayar dengan selamat menuju Rabbku “Allah Tuhan Semesta Alam”. Met Idul Fitri 1430 H. ”Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin” (SA, 20 Sept, 06:59:13) –> Bukan hanya gambar dan kata – kata, pengirimpun menyelipkan namanya dalam pesan…

Ter – jauh :
Assalamu ’alaikum. Apa kabar? Semoga sehat selalu. Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir batin. Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H (AR, 20 Sept, 13:23:25) –> Dikirim dari Maluku

Ter – tanda tanya :
Yang singkat itu waktu, yang dekat itu mati, yang sulit itu ikhlash, yang mudah itu berbuat dosa, yang abadi itu amal kebajikan tetapi yang terindah itu jika kita …? Selamat hari raya. Mohon maaf lahir dan batin (PN, 21 Sept, 09:52:35) –> Serius, di SMS ditulis ’…?’ gitu, diminta ngisi atau apa ya? =) Saya sih tau jawabannya, soalnya pada 20 Sept, 15:29:39 ada orang lain yang kirim SMS mirip

Ter – bahasa planet :
Urang palidkeun kapeurih ka sagala asih, urang lokat kalepatan ku tirta ning rahmat, urang sulam kembang kanyaah ku sutra hampura… Sing kuring sarimbit neda tawakup, ngahaturkeun wilujeng boboran siam 1430 H. Hapunten samudaya kalepatan lahir tumakaning batin… (Y, 21 Sept, 11:46:35) –> Asli, ampe sekarang saya ga tau artinya =P

Ter – favorit :
Ya Allah, ini adalah saudaraku yang shalih dan mulia akhlaknya, indah tutur katanya, lembut budi pekertinya. Ya Allah, pertemukan ia dengan kemenangan sejati dan ketaqwaan, pilihlah ia menjadi kekasih-Mu, berikan kesehatan padaNya, ampunkan segala dosanya, berikanlah kelapangan rizki baginya, jadikan pendamping yang shalihah baginya dan jadikan ia penghuni syurga-Mu. Amiin Ya Allah. Taqabalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri. Mohon maafkan diri kami (SR, 20 Sept, 10:52:41) –> Amiin… dikirim oleh saudara yang terlupakan nun jauh disana… hiks, jadi terharu…

Karena hakikat silaturahim adalah memulai salam, memberi dan menyambung yang terputus, saya sebenarnya berupaya mengirim SMS lebih dulu, namun masih ada sekitar 15% yang mengirimkan SMSnya terlebih dahulu, spesial untuk mereka saya sampaikan do’a kebaikan, ”Ya Allah… Perkayalah saudaraku yang menyambung silaturahim ini dengan keimanan, hiasilah hatinya dengan kesabaran, muliakanlah wajahnya dengan ketaqwaan, perindahlah fisiknya dengan kesehatan, sempurnakanlah kebaikannya dengan keikhlashan, serta terimalah amal ibadahnya karena hanya Engkau Dzat Yang Maha Kuasa”

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih atas silaturahimnya, khususnya untuk AB, Desi, Wawan, Saiful, Ma’rufi, Yessy, Mas Fendi, Ilen, Ibot, Nugie, Indra, Pita, Dino, Tami, Dedi, Anya, Radinal, Dayat, Eka, Herika, Dian K, Dhepe, Yayah, Yuli, Alpha, Misbah, Kemas, Fina, Latri, Pak Dul, BEY, Bonny, Sufyan, Indah, Peny, Andree, 085755263919, Hendra, Fiah, Mpus, Rubby, Rose, Pak Zain, Dhita, Adis, Zahro, Iwan, Icha, Yuwa, Fia, Alwan, Riza, Nunu, Erika, Marsih, Luki, Anto, Adie, Juli, Helmi, Feni, Aca, Ustadz, Lita, Seno, Akbar, Amir, Annisa, Bolly, Catur, Deddy, Evi, Fadli, Maria, Fajar, Dina, Endang, Habibi, Hikmat, Reza, Ahmad, Amin, Agus, Dio, Febna, Erita, Erlangga, Bram, Isoh, Adji, Dikun, Bg Wasis, Firta, Ipin, Jacob, Enggar, Intan, Ginu, Mang Ujang, Masanih, Kusuma, Mita, Firman, Andi Rohman, Thya, Rama, Quni, Sari, Suci, Suyoto, Pak Ali, Bg Saijal, Luthfi, Farah, Ratih, Rangga, Pona, Witri, Laila, Feti, Rio, Sik, Yudi, Yudo, Danar, Kamarudin, Diandini, Pak Ikhsan, Azman, Tia, Jibran, Syamsu, Feni, Muf, Qway, Erna, Mursal, Alfie, Yudha, Akhiyan, Yogi, Ganesh, Fajar, Mas Tanto, Wicak, Habs, Syafrijal, Wulan, Nuris, Suryana, Yudi, Pak Heri, Hasan, Fauzi, Lek Mini, Victa, Ageng, Abdi, Juan, Nta, Richi, Baskoro, 08886168728, Rizha, Iif, Ita, Prianda, Addrei, Aji, Agus, Adhi, Vivi, Aryanto, Bg Andi, Mb Nurul, Angga, Arbi, Budiman, Bunda Nina, Dewa, Rois, Babay, Agus, Melly, Jahidin, Hasdi, 081314235555, Deni, 03191600108, Rifa, Yusuf, Maya, Budink, Naning, Prima, Ramdan, Dani, Fajri, Zainal, Ajeng, Pak Budi, Yoghi, Jumhar, Sukarna, Thika, Mas Arif, Ilham, Vini, Lintang, Vebby, Pak Boy, Pak Luthfi, Mas Veldy, Ika, Mb Dona, Woro, Vian, PW, Annay, Erlan, Dahlia, Muchsin, Zulifan, Jaka, Niken, Rita, Rimas, Indah, Hasan, Diani, Dalya, Lita, Mbak Nana, Perdana, Fitrah