Tag Archives: syukur

Bersabar di Hari yang Fitri (1/2)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.
(QS. Ali Imran: 186)

Tak terasa, sudah sampai ke penghujung Ramadhan. Banyak hal di akhir Ramadhan ini yang sebenarnya ingin dituliskan. Mulai dari kesan berbeda mengakhiri Ramadhan di masa pandemi Covid-19, penambahan kasus positif corona terbesar di Indonesia hingga menembus lebih dari 20 ribu kasus, hingga drama konser dan lelang sepeda motor Jokowi. Namun dari semua itu, potensi membawakan khutbah Idul Fitri 1441 H sepertinya akan menjadi momen langka. Melihat tren kasus corona, kebijakan pemerintah, dan aktivitas masyarakat Indonesia, pendemi Covid-19 sepertinya masih akan berlangsung lama. Rekor baru penambahan kasus positif corona juga bukan tidak mungkin akan terjadi beberapa waktu ke depan. Drama lucu dan memalukan yang dipertontonkan pemerintah juga bisa jadi masih akan terulang. Namun shalat Idul Fitri di rumah akibat pandemi semoga saja ini akan menjadi yang pertama dan terakhir.

Panduan penyelenggaraan shalat Idul Fitri di rumah, baik sendiri maupun berjama’ah sudah banyak disosialisasikan. Selain niat, pembeda shalat Idul Fitri dengan shalat sunnah lainnya hanyalah terletak pada tambahan takbir tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali di raka’at kedua, karenanya tak terlalu sulit untuk dapat dilaksanakan secara mandiri. Sementara khutbah Idul Fitri agak mirip dengan khutbah Jum’at, kecuali urutan pelaksanaannya setelah shalat dan pembacaan takbir dalam khutbah. Namun menjadi khatib relatif lebih berat ketimbang menjadi imam. Butuh keberanian dan kemampuan untuk menyampaikan. Belum lagi beratnya memberi nasihat sementara diri sendiripun masih jauh dari kesempurnaan. Bahkan jika sebatas membacakan teks khutbah yang beberapa sudah beredar pun tetap tidak mudah. Tidak heran belakangan ini justru semakin marak penjelasan bahwa khutbah Idul Fitri bukan termasuk syarat sah shalat Idul Fitri, sehingga tidak dilakukanpun shalat Ied-nya tetap sah.

Menurut penulis, membacakan teks khutbah yang dibuat oleh orang lain punya tantangan tersendiri. Pemahaman dan internalisasinya akan berbeda jika dibandingkan naskahnya dibuat sendiri. Dan menyampaikan khutbah dengan membaca teks juga punya tantangan lainnya. Di satu sisi dapat meminimalisir salah ucap, di sisi lain dapat mengganggu kepercayaan diri khatib. Karenanya penulis yang tipe visual akan menuliskan teks khutbah yang dibuat sendiri untuk memudahkan internalisasi, sehingga tidak perlu membawa teks ketika khutbah. Di sisi lainnya, naskah ini dapat menjadi salah satu referensi khutbah Idul Fitri 1441 H. Tema ‘sabar’ dipilih karena relevansinya dengan kondisi saat ini dan cenderung bersifat universal, dapat disampaikan kapanpun, dimanapun, oleh siapapun.

* * *

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan serta kesempatan untuk bertemu dengan bulan Syawal 1441 H. Di tengah pandemi Covid-19 ini, betapa banyak saudara kita yang terhalang untuk menunaikan shalat Idul Fitri karena kendala kesehatannya. Ada juga mungkin yang terkendala ilmunya, biasanya tinggal ikut shalat Idul Fitri di masjid atau lapangan, namun sekarang karena ada larangan berkumpul jadi bingung bagaimana melaksanakan shalat ‘ied di rumah. Atau bahkan barangkali ada keluarga, tetangga, kerabat, atau rekan kita yang tahun lalu masih bersama kita merayakan lebaran, namun tahun ini sudah tidak lagi membersamai kita. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni dosa kita semua.

Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah banyak mengajarkan kita bagaimana bersabar menghadapi ujian. Shalawat dan salam juga semoga tersampaikan kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan segenap umatnya yang istiqomah memegang teguh iman dan Islam. Tak lupa, khatib berpesan ke diri sendiri dan kita semua untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan penuh rasa takut dan harap dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita keimanan, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalani aktivitas kita sehari-hari.

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Al Qur’an mengandung lima hal pokok, yaitu akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan tarikh. Dan berbicara tentang akhlak, sabar merupakan akhlak yang paling banyak disebutkan dalam Al Qur’an. Dalam beberapa ayat, bahkan sabar ini disebutkan lebih dari satu kali, misalnya dalam ayat terakhir surat Ali Imran, Allah SWT berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung). Atau dalam akhir surat Al Anfal ayat 46 disebutkan: وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ… (…Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar).

Dalam beberapa ayat, sabar didekatkan dengan shalat, misalnya firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 45: وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ (Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’) dan ayat 153: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ (Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar). Dalam beberapa ayat lain, sabar didekatkan dengan syukur, juga dengan takwa.

Sabar merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa, diantaranya disebutkan dalam akhir surat Al Baqarah ayat 177: وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa). Dan yang namanya akhlak tidak mengenal tempat dan waktu. Orang-orang yang benar-benar sabar adalah mereka yang senantiasa bersabar kapanpun, dimanapun. Bukan sabar dalam satu kondisi, dan tidak sabar di kondisi yang lain. Kesabaran itu tidak ada batas, sebagaimana balasan bagi kesabaran adalah pahala yang tidak terbatas.

(bersambung)

Sibuk? Tak Punya Waktu? Masuk Sini, Gan!!

Waktu sering kali dianiaya dengan menuduhnya ‘tak ada’ padahal sebenarnya ia hadir, hanya saja kita tidak mau menemuinya” (M. Quraish Shihab)

Berbicara tentang waktu, ada kutipan menarik yang penulis ingat, “Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Kata-kata yang indah, bukan? Masalahnya adalah apakah waktu kita cukup untuk berpikir, bermain, berdo’a, belajar, mencintai dan dicintai, bersahabat, tertawa, memberi,bekerja dan beramal? Belum lagi waktu untuk makan dan minum, beribadah, mandi, dalam perjalanan, berolah raga, istirahat dan tidur. Sepertinya waktu 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk melakukan semua hal yang ingin dan harus kita kerjakan. Membuat agenda dan menyusun jadwal untuk manajemen waktu juga butuh waktu. Dan implementasinya seringkali tidak sesederhana yang tersusun rapih dalam perencanaan. Ada kesibukan dadakan lah, ada target yang belum tercapai lah, ada aktivitas yang harus diulang lah, ada kerjaan yang terhambat di luar kemampuan kita memprediksinya lah, dan berbagai kendala lain yang kerap ditemui dalam upaya mengelola waktu. Lalu harus bagaimana?

Arti pentingnya waktu tidak bisa disangkal tanpa perlu banyak dalil untuk menegaskannya. Kehidupan kita yang serba dibatasi oleh waktu sudah cukup menggambarkan betapa berharganya waktu. Umar bin Abdul Aziz pernah merasa sangat lelah di masa awal pengangkatannya sebagai khalifah sehingga setelah semalaman tidak sempat tidur, menjelang zhuhur ia hendak istirahat sejenak. Belum lagi merebahkan diri, anaknya, Abdul Malik menghampirinya dan mengingatkannya untuk segera mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi oleh khalifah sebelumnya. Umar mengatakan bahwa dirinya sudah tak punya tenaga, setelah shalat zhuhur berjama’ah nanti, hak-hak kaum muslimin akan segera dikembalikannya. Abdul Malik menimpali, “Siapa yang bisa menjamin dirimu akan hidup sampai Zuhur, wahai Amirul Mukminin?“. Serta merta Umar bangkit, mencium dan merangkul anaknya, serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku seseorang yang menolongku dalam beragama“. Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya diumumkan kepada orang-orang bahwa barangsiapa yang merasa teraniaya, hendaklah dia mengajukan perkaranya.

Begitulah kehidupan, mengejar dan dikejar waktu. Tidak ada jaminan kita akan terus memiliki waktu dan tidak ada ketentuan kapan jatah waktu itu akan habis. Waktu yang ada memang terbatas sementara kewajiban terhadap waktu tersebut sangatlah banyak. Dan kewajiban kita ibarat ombak, yang lama belum surut sudah datang lagi yang baru. Seolah tanpa istirahat. Tidak berlebihan jika Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa seorang hamba baru dapat beristirahat setelah kakinya menginjak surga. Kembali ke persoalan menyiasati waktu yang terbatas, cukuplah penulis mengingatkan nasehat Hasan Al Bana, “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan jika anda mempunyai keinginan atau tugas selesaikan segera“.

Dari nasehat tersebut, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyiasati kesibukan kita di tengah waktu yang terbatas. Pertama, kewajiban kita sangatlah banyak, baik terhadap diri kita (fisik, intelektual dan spiritual), kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia, mulai dari orang tua, keluarga, saudara, tetangga, teman hingga manusia pada umumnya. Belum lagi terhadap makhluk hidup dan benda lainnya. Sementara waktu yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Karenanya untuk menyiasati waktu yang terbatas, kita harus pandai mengatur prioritas, tidak harus ngotot memenuhi semua kewajiban secara bersamaan. Memilih prioritas aktivitas yang tepat bisa jadi menyelesaikan beberapa kewajiban sekaligus. Memang semua kewajiban, sekecil apupun, akan dimintai pertanggungjawabannya, namun memilih kewajiban yang diutamakan untuk ditunaikan juga merupakan bagian dari hal yang harus dipertanggungjawabkan.

Kedua, tidak semua hal mampu kita lakukan dan tidak segala kewajiban dapat kita selesaikan. Disinilah kita membutuhkan orang lain, mulai dari mengingatkan, mendukung, hingga secara langsung membantu kita dalam mengatur waktu, memilih prioritas dan menyiasati kesibukan. Ada kewajiban-kewajiban yang memang hanya dapat diselesaikan dengan bantuan orang lain, karenanya saling membantu menjadi kekuatan penting untuk menyelesaikan banyak kewajiban dengan waktu terbatas. Ketiga, prokrastinasi atau suka menunda merupakan musuh terbesar pengelolaan waktu. Padahal kita tidak tahu persis kapan waktu kita akan habis. Penundaan akan menyebabkan berbagai tugas akan menumpuk dan semakin sulit untuk diselesaikan. Karenanya, ‘jangan menunda’ menjadi syarat penting untuk menyiasati kesibukan yang padat di tengah waktu yang singkat.

Selain ketiga hal di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan dalam pengelolaan waktu, yaitu bijak dalam menyikapi waktu luang. Waktu luang merupakan salah satu nikmat yang kerap terabaikan (HR. Bukhari), padahal sikap sembrono terhadap waktu luang justru mempersulit terpenuhinya tugas dan kewajiban. Salah satu waktu luang yang dapat dioptimalkan untuk pemenuhan kewajiban adalah ketika menunggu dan berdiam diri (termasuk ketika di toilet) serta waktu dalam perjalanan. Potensi untuk mengoptimalkan serpihan waktu luang juga dapat kita peroleh dari aktivitas menonton TV dan menggunakan intenet yang tidak jarang kontraproduktif. Selain itu juga perlu diperhatikan pengelolaan konsentrasi dan pengoptimalan waktu tidur untuk meminimalisir penggunaan waktu yang tidak bermanfaat. Untuk dua hal terakhir, sepertinya perlu ada pembahasan khusus di lain kesempatan.

Penggunaan waktu yang tepat akan mengantarkan pada kesuksesan sementara penyelewengan terhadap waktu hanya akan mempersulit hidup. Tugas dan kewajiban yang sedemikian banyak hanya dapat disikapi dengan pandai dalam menentukan prioritas, saling membantu, tidak suka menunda dan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang kita miliki. Syarat-syarat tersebut terkesan berat, terlalu serius dan sulit untuk dilakukan. Karenanya, ada hal lain yang perlu mengimbanginya: sikap bersyukur dan menikmati segala kesibukan kita. Banyaknya kewajiban akan meningkatkan kualitas diri kita, akan memuliakan kita, karenanya patut disyukuri, layak untuk dinikmati. Waktu kita terbatas, alangkah tidak berharganya hidup tanpa amal produktif. Sikap bersyukur dan menikmati kesibukan sama artinya dengan menghargai hidup. Waktu adalah karunia yang telah diberikan oleh Sang Pemilik Waktu dan keberadaannya pasti. Kita perlu mengelolanya dan kita akan mempertanggungjawabkannya. Waktu sebenarnya selalu tersedia, hanya saja mungkin kita kurang mencarinya. Waktu selalu ada, kecuali bagi para pemalas dan mereka yang suka menunda. Dan waktu selalu hadir, bagi mereka yang senantiasa mencoba mengisinya dengan aktivitas produktif.

The man who says he never has time is the laziest man” (Lichterberg)