Tag Archives: tawadhu

Karakter Kepemimpinan ala Najmuddin

Rasulullah, kesempurnaan pribadimu tak henti dipujikan. Para sahabat pun musuhmu jua mengakui segala kelebihanmu. Liputan zaman dan kurun waktu, berkisah keluhuran budi pekertimu. Dalam dirimu terhimpun segala keutamaan insan mulia…” (‘Rasulullah’, Najmuddin)

Ada hal yang menggelitik ketika penulis mencoba menyelami konsep ‘kepemimpinan kenabian’ dalam beberapa buku referensi. Ada perbedaan yang cukup signifikan mengenai model kepemimpinan masing-masing nabi, tak ada standar baku. Inspirasi kepemimpinan Nabi Nuh a.s. yang gigih berdakwah hingga 950 tahun jelas berbeda dengan inspirasi kepemimpinan Nabi Yunus a.s. yang justru memperoleh banyak hikmah akibat ketidaksabarannya dalam berdakwah. Namun menjadikan kepemimpinan Nabi Nuh a.s. sebagai model terbaik juga tidak tepat. Dalam hal sederhana, misalnya tentang dakwah keluarga saja, tentu kita tidak dapat mengambil teladan dari Nabi Nuh a.s. Pun demikian jika kita coba membandingkan inspirasi kepemimpinan Nabi Sulaiman a.s. dengan segala kedigjayaannya dengan Nabi Musa a.s. yang kala itu justru tengah menggugat penguasa. Pada akhirnya, model kepemimpinan yang utuh baru akan kita dapati dalam lembar sejarah kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah pribadi paripurna yang menyempurnakan model kepemimpinan para nabi sebelumnya. Karenanya kita bisa meneladani banyak hal dari beliau termasuk yang terkait dengan keistimewaan Nabi-nabi sebelumnya. Misalnya tentang kesabaran berdakwah ala Nabi Nuh a.s, mencari dan memperjuangkan kebenaran ala Nabi Ibrahim a.s., kelapangan dada ala Nabi Yusuf a.s., keberanian revolusioner ala Nabi Daud a.s., dan sebagainya. Keteladanan Rasulullah SAW juga dikuatkan dengan berbagai dalil, bahkan dari testimoni orang-orang non muslim. Jika ada hal yang belum disepakati, itu adalah berkenaan dengan karakter utama keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW, karena ternyata shiddiq, fathonah, amanah, dan tabligh belum cukup lengkap untuk menggambarkan keteladanan kepemimpinan beliau.

Dalam sebuah nasyidnya, Najmuddin menggambarkan tentang berbagai keutamaan Rasulullah SAW yang secara sederhana terbagi dalam tiga bagian: Rasulullah SAW sebagai individu, sebagai hamba Allah, dan sebagai pemimpin. Dalam kaitannya Rasulullah SAW sebagai individu, Najmuddin mengungkapkan, “Tinta emas sejarah telah mencatat rapi keagungan budi perkerti. Kecerdasan fikiran, keutuhan pribadi, Rasul muara teladan suci”. Ada empat karakter penting individu yang perlu dimiliki: akhlak mulia, cerdas, integritas, dan keteladanan. Jika kita coba menyelami lembar demi lembar sirah Rasulllah SAW, kita akan mendapati keempat karakter ini senantiasa melekat dalam diri Rasulullah SAW sejak beliau muda. Reputasi beliau pun terbentuk karena berbagai keutamaan ini. Tidak hanya di mata manusia, tetapi juga mulia di mata Allah SWT. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al Qalam: 4).

Hamba Allah yang taat tawadhu, penyempurna risalah Allah yang suci. Pancaran pribadi agung nan tinggi, berikan teladan suci bagi insani”, begitu ungkap Najmuddin selanjutnya. Ada empat karakter penting sebagai hamba Allah: ta’at, tawadhu, gigih berdakwah, dan menenteramkan hati. Konsekuensi manusia sebagai hamba adalah ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Penghambaan juga menghancurkan kesombongan hingga tidak ada benih sekecil apapun. Namun perwujudan jati diri manusia sebagai hamba Allah tidak cukup hanya sampai pada dirinya, melainkan perlu disampaikan kepada orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun keteladanan. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Adapun terkait Rasulullah SAW sebagai pemimpin, Najmuddin mengatakan, “Pemimpin manusia bijak bersahaja, teguh berpegang pada kebenaran. Gigih menegakkan tonggak keadilan, berikan sentuhan yang mengagumkan. Dirimu telah tundukkan kepalsuan duniawi ‘tuk tuju surga yang abadi. Risalah yang kau sampaikan jaminan pembawa Rahmat bagi alam semesta”. Ada enam karakter kepemimpinan Rasulullah SAW: bijaksana, bersahaja, istiqomah, persisten, inspiratif, dan visioner. Fondasi dari karakter kepemimpinan ini adalah karakter personal dan karakter hamba, sehingga pemimpin tetap harus berakhlak mulia, cerdas, memiliki integritas dan keteladanan, ta’at kepada Allah SWT, rendah hati, menyebarkan kebaikan, dan mampu menyentuh hati.

Kebijaksanaan menjadi karakter penting bagi seorang pemimpin karena jihadnya seorang pemimpin adalah melalui kebijakannya. Kesederhanaan juga biasa melingkupi kehidupan para pemimpin besar sebab fitnah kepemimpinan sudah terlalu besar tanpa harus ditambah dengan gaya hidup glamour. Pemimpin yang kuat adalah yang punya sikap dan tegas dalam membuat keputusan. Pemimpin juga harus memberi teladan dan inspirasi, yang akan mempererat kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Menunjukkan arah tujuan beserta jalannya, sekaligus orang pertama yang memulai melangkah untuk sampai ke tujuan. Dan pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menundukkan berbagai fitnah kepemimpinan, termasuk menundukkan dirinya sendiri.

Rasulullah SAW ibarat telaga yang sangat luas dan dalam. Mengambil air ibrah darinya serasa tak ada habisnya. Karenanya, berbagai inspirasi itu sebaiknya segera diinternalisasi, beberapa pembelajaran tersebut seyogyanya dapat langsung diamalkan. Karena domain karakter kepemimpinan adalah domain amal, bukan sekadar pengetahuan, apalagi cuma hapalan. Kita memang bisa mengambil ibrah kepemimpinan dari siapa saja, namun jangan lupakan sudah ada manusia paripurna yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Semoga kita benar-benar apat menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW dengan meneladani beliau dalam diamnya ataupun bicaranya, dalam perkataannya ataupun perilakunya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab: 21)

Roda Kehidupan

“…Roda kehidupan dunia berputar, mewarnai nasib manusia, suka dan terkadang duka. Dalam kehidupan dunia, tiada insan yang bebas dari cobaan. Baik bagi si miskin ataupun yang kaya, baik bagi jelata atau yang berjaya. Lain orang lain ujian, itulah keadilan Tuhan” (‘Roda Kehidupan’, Rhoma Irama)

* * *

Kehidupan bagaikan roda, beribu zaman terus berputar…”, begitu penggalan lirik nasyid ‘Untukmu Syuhada’nya Izzatul Islam. Kita tentu mafhum, suka dan duka, tangis dan tawa silih berganti mewarnai kehidupan. Periodenya tentu saja tidak sesaklak putaran roda. Ada kalanya kebahagian cukup lama dirasakan, atau ada juga yang hidupnya banyak dihabiskan dalam kesengsaraan. Analogi roda –kadang ada di atas, kadang ada di bawah– nampaknya cukup menarik untuk dikaji, apalagi setiap hari yang namanya roda begitu mudah kita jumpai.

Roda dipercaya sebagai salah satu penemuan terbesar manusia yang sangat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan. Desain roda terus berkembang sejak zaman Mesopotamia pada tahun 3000 SM hingga saat ini. Ada beberapa bagian penting dari roda, diantaranya velg yang menjaga bentuk roda, menghubungkannya dengan poros tempatnya bisa berputar sekaligus memperindah roda. Untuk roda berisi udara, ada karet untuk mengurangi guncangan dan ada pula bagian bernama pentil yang berfungsi menjaga agar dalam keadaan normal roda hanya bisa dilalui udara dengan satu arah, yaitu masuk ke dalam roda, tidak keluar. Tulisan ini tidak akan detail membahas bagian roda, namun lebih mendalam mengupas hikmah di balik idiom ‘roda kehidupan’.

Jika kita cermati fungsi roda untuk memudahkan pergerakan, maka kita akan mendapati posisi roda akan selalu ada di bagian bawah kendaraan. Artinya, ketika roda sedang berada di atas pun, masih ada posisi yang lebih tinggi, atap kendaraan bahkan badan kendaraan itu sendiri. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk tidak sombong. Ketika posisi kita sedang di atas, kita harus menyadari bahwa masih ada yang lebih atas lagi sehingga kita tidak layak merendahkan yang ada di bawah. “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Di sisi lain, roda berputar di atas jalan, ada alas berupa tanah, aspal dan sebagainya yang dipijaknya. Artinya, ketika roda sedang berada di bawah pun, masih ada posisi yang lebih rendah, yang bahkan tergilas dan terlindas oleh roda tersebut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk bersyukur. Ketika posisi kita sedang di bawah sekalipun, kita harus menyadari bahwa masih ada yang tidak seberuntung kita. Banyak hal yang lebih layak untuk disyukuri, bukan dikeluhkan. Rasa syukur itu yang akan membawa kita pada posisi yang lebih tinggi tanpa harus tinggi hati. “Lihatlah orang yang lebih bawah daripada kamu, jangan melihat orang yang tinggi daripada kamu, karena dengan demikian kamu tidak akan lupa segala nikmat Allah kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam realitanya, ada orang yang terus diliputi kebahagiaan, berlimpah harta beberapa generasi dan sebaliknya, ada juga yang terus menderita, miskin turun temurun. Bagaimana ‘roda kehidupan’ mampu menjelaskan hal ini? Perhatikan putaran roda pesawat ketika di darat dan di udara. Ketika di darat, setinggi – tingginya putaran roda pesawat, tidak akan lebih tinggi dari roda mobil yang ada di pegunungan, apalagi bandara biasanya ada di dataran rendah dekat pantai. Sebaliknya, serendah – rendahnya roda pesawat di udara, tidak akan lebih rendah dari roda motor yang ada di darat. Artinya, wilayah beroperasinya roda akan menentukan tinggi – rendahnya posisi roda di atas permukaan laut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk berikhtiar. Jika kita tidak berusaha membawa ‘kendaraan’ kita ke tempat yang lebih tinggi, putaran roda kehidupan setinggi apapun tidak akan mengangkat kita dari tempat yang rendah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS. Ar Ra’du : 11)

Kehidupan bagaikan roda pedati, sesekali di atas, kadang – kadang di bawah. Naik turun dalam menjalani kehidupan sudah menjadi keniscayaan, tinggal bagaimana kita bijak menyikapinya. Tidak sombong ketika ada di atas, tetap bersyukur ketika ada di bawah dan terus berupaya memperbaiki kehidupan sehingga putaran roda kita semakin tinggi. Membawa roda ke tempat lebih tinggi memang tidak mudah dan butuh energi lebih, apalagi dibandingkan membawanya turun, namun pemandangan di atas sana lebih indah, banyak hikmah selama perjalanan dan roda kehidupan kitapun akan semakin kuat.

* * *

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” (Pramoedya Ananta Noer)