Tag Archives: Teknik Industri

Antara Teknik Industri dan Non-Governmental Organization

Industrial and systems engineering is concerned with the design, improvement and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design, to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such systems. (IISE Official Definition)

Lulusan Teknik Industri kok malah kerja di Dompet Dhuafa?”, begitu pertanyaan yang kerap diterima penulis setelah menyampaikan terkait latar belakang pendidikan. Sebagai manajer program mudah saja menjawab bahwa dalam mengelola program dibutuhkan berbagai keterampilan manajemen, mulai dari manajemen strategis, SDM, produk, keuangan, hingga manajemen pemasaran, dan kesemuanya itu relevan dengan pelajaran pada bangku kuliah. Belum lagi berbagai sistem manajemen yang diterapkan lembaga, mulai dari ISO 9001, Malcolm Baldrige, hingga Knowledge Management sangatlah sesuai dengan keilmuan Teknik Industri. Tapi kok rasanya ada yang kurang lengkap dari jawaban tersebut, setidaknya lulusan Manajemen juga bisa saja menjawab hal serupa. Lalu, apa bedanya dengan lulusan Teknik Industri?

Setelah cukup lama tidak mengkaji lebih dalam mengenai kompetensi keilmuan Teknik Industri, akhir pekan lalu penulis berkesempatan menghadiri Workshop Alumni untuk mengevaluasi kurikulum S1 Teknik Industri UI. Diskusi alumni lintas generasi (dari angkatan 1975 hingga 2016) ini dilakukan untuk melengkapi persyaratan akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology, Inc.), sesudah akreditasi nasional dan regional ASEAN telah diperoleh. Untuk memperkaya gagasan, peserta pun dipilih lintas industri, dan –seperti perkiraan—hanya penulis yang berasal dari Non-Governmental Organization (NGO) mewakili sektor ketiga.

Ada hal yang cukup ‘menenangkan’ dari hasil diskusi, ternyata hanya sekitar 5 – 10% keilmuan Teknik Industri yang diajarkan di bangku kuliah yang langsung terpakai di dunia kerja. Memang ada bagian spesifik di industri yang bisa meningkatkan kesesuaian ini hingga 50%, misalnya bagian Supply Chain Management (SCM). Pun demikian, kebutuhan akan lulusan Teknik Industri sangatlah tinggi. Bahkan beberapa perusahaan manufaktur lebih mencari HRD yang berlatar belakang Teknik Industri dibandingkan Psikologi, atau beberapa industri keuangan yang justru memilih lulusan Teknik Industri dibandingkan Manajemen. Added value lulusan Teknik Industri terletak pada kemampuan untuk memodelkan permasalahan secara unik dalam kerangka sistem atau sederhananya “kemampuan berpikir sistem”.

Tidak mengherankan Institute of Industrial Engineering (IIE) yang merupakan acuan perekayasa industri resmi berganti nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering (IISE) sejak April 2016. Teknik Industri pun berkembang menjadi Teknik Sistem dan Industri. Rekayasa sistem mulai dari Man, Material, Machine, Method, Money dan Environment pun menjadi relevan diajarkan secara menyeluruh. Menyoal sistem memang luas, pun tidak dalam. Karenanya di Teknik Industri diajarkan multi disiplin ilmu, termasuk berbagai tantangan masa depan seperti persaingan, inovasi, hingga teknologi digital. Keilmuan yang generalis (tidak spesialis) ini memang merupakan kekurangan yang justru menjadi keunggulan kompetitif lulusan Teknik Industri. Bagaimanapun, lulusan S1 memang harus melalui proses untuk mampu bekerja. Kemampuan melihat lingkup kerja sebagai suatu sistem yang komprehensif dan integral tentu akan mempercepat proses tersebut.

Lalu apa kaitannya Teknik Industri dengan NGO? Sektor ketiga saat ini masih menjadi sektor yang termarjinalkan dibandingkan sektor privat ataupun sektor publik. Beberapa pihak masih memandang sebelah mata tentang penerapan sistem manajemen dalam suatu lembaga non profit yang terkesan kental dengan budaya kekeluargaan, yang seakan berlawanan dengan kultur profesional. Padahal hal mendasar yang membedakan sektor ketiga dengan sektor publik hanya terletak pada sumber dana dan status pengelolanya. Tata kelola yang profesional, transparan dan akuntabel tetap menjadi keharusan. Penguatan sistem manajemen pun perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan dan terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Bisnis proses mulai dari supplier, input, proses, output hingga sampai ke customer pun sama dengan industri jasa ataupun manufaktur. Tahapan pengelolaan program mulai dari perencanaan hingga evaluasi pun sama dengan pengelolaan produk barang ataupun jasa. Singkatnya, NGO pun bergerak dalam kerangka sistem, dan dimana ada sistem, ada peran perekayasa industri yang menyertainya.

Lantas mana yang paling utama dari ketiga sektor tadi? Tidak ada. Semuanya bersinergi untuk saling membangun. Dan semua sektor tersebut butuh pengelolaan sistem yang handal. Ketika pengelolaan sistem ini sudah menjadi keniscayaan di sektor publik, apalagi di sektor privat, maka keberadaan perekayasa sistem di sektor ketiga menjadi sangat penting untuk menghadirkan keseimbangan. Sebab seluruh komponen kemajuan pembangunan di seluruh sektor kehidupan sejatinya terhimpun dalam sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan, pun ditopang oleh berbagai (sub) sistem lainnya. Dan di setiap (sub) sistem itulah perekayasa sistem dapat mengambil peran untuk menghadirkan perbaikan, termasuk di NGO. Untuk masa depan yang lebih baik. There is no best, but better.

Engineers make things, industrial engineers make the things better

Secercah Kenangan di Penghujung SMU (4/4)

Selasa, 12 Juni 2001

Kulangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah. Hari ini aku hendak membeli formulir UMPTN sekalian mengembalikan buku perpustakaan. Orang tuaku sudah mengingatkan untuk tidak terlalu berharap lulus PMDK dan meminta untuk segera membeli formulir UMPTN. Dan sesuai janjiku, jika hingga perpisahan sekolah belum ada pengumuman, aku akan membeli formulir UMPTN. Dan perpisahan sekolah sudah berlangsung Senin kemarin. Baru IPB, UNILA dan STT TELKOM yang memberikan pengumuman, dan ada beberapa teman non muslim disana. Sedih. Mungkin memang tahun ini tidak ada seorang siswapun yang lulus PMDK UI.

Mentari belum begitu terik ketika ku melangkahkan kaki ke ruang guru untuk mendaftar UMPTN. Sekolah masih sepi, aku segera menuju meja pendaftaran. ”Maaf Pak, saya mau daftar UMPTN”, ujarku kepada guru BK ku waktu kelas II yang menjadi konsultannya teman – teman ROHKRIS. ”IPA, IPS atau IPC?”, tanya beliau. ”Hmm, IPC, Pak!”, jawabku yang merasa ada keinginan dari orang tua agar aku ke FE, seraya memberikan biaya pendaftaran. ”Nama kamu siapa?”, tanya beliau lagi sambil menerima uang dariku dan hendak memberikannya ke guru lain di sebelahnya yang menghadap ke arah lain, asik berbincang dengan guru lain. ”Purwo Pak, eh, hmm, Purwa Udiutomo”, jawabku. Guru Sosiologiku menoleh, menerima uang pendaftaran. ”Oh, kamu yang namanya Purwa?”, tanyanya lagi. Kali ini guru Sosiologiku yang menjawab, ”Iya Pak, ini yang namanya Purwa, dipanggilnya Purwo”. Aku semakin mengerenyitkan dahi, emangnya kenapa kalo nama saya Purwa, batinku.

Belum terjawab kebingunganku, dari belakang kudengar suara memanggilku. ”Eh, ada Purwo, selamat ya…”, ujar guru Geografiku seraya sedikit berlari menghampiriku. Aku masih belum mengerti apa yang terjadi, guru – guru lain yang telah datang di ruang guru ramai menghampiriku dan mengucapkan selamat, lulus PMDK UI. Aku yang masih tidak yakin, ”Ah, jangan ’diangkat – angkat’ dulu dong kalo belum jelas, nanti jatuhnya kan sakit”, kataku. ”Iya Purwa, kamu lulus PMDK UI, sekarang surat undangannya sedang dibaca Bapak (kepala sekolah-pen)”, jelas guru BK. ”Eh, uang pendaftaran UMPTNnya gimana nih? Buat nraktir guru – guru ya?!”, seloroh guru Sosiologi. ”Ya udah, Bu. Boleh aja… hehehe…”, ujarku mencoba menenangkan jiwaku yang masih shock. Aku masih terpaku, terpana tak percaya, ketika guru Sosiologi mengembalikan uang pendaftaran UMPTNku sambil menegur, ”Eh, kok malah bengong disini, mending kamu ke musholla, sujud syukur sana…”. Aku segera bergegas ke mushalla…

* * *

Ini nyata. Kubaca berkali – kali undangan dari rektor UI di tanganku. Kini aku berada di ruang BK bersama Kepala Sekolah, beberapa guru dan dua orang teman lain yang dinyatakan lulus PMDK UI. Pengembaraan pikiranku mengalahkan wejangan yang disampaikan. Terkenang olehku bagaimana aku terlepas dari peringkat tiga besar di kelas dan memaksaku untuk melepas PMDK UI. Lalu bagaimana formulir PMDK bisa kudapatkan. Belum lagi detik – detik akhir pemilihan jurusan. Betapa mudahnya Allah memberikan jalan, betapa baiknya guru – guru dan teman – temanku yang dengan mudahnya datang membantu…

* * *

Rival beratku yang non muslim diterima di Kedokteran UI. Tapi hanya itu, tidak untuk Fasilkom, Akuntansi ataupu HI. Tidak ada lagi non muslim yang lulus PMDK UI, termasuk peraih NEM IPS tertinggi di Depok. Uniknya, temanku yang mendaftar ke Matematika dan Teknik Elektro malahan tidak lulus PMDK UI. Juga temanku yang lain, yang selalu ranking 1 dari kelas 1 SD hingga 3 SMA tak lulus PMDK Farmasi UI.

Ucapan selamat, taushiyah dan do’a terus mengalir. Kabar itu ternyata begitu cepat tersebar. Orang tuaku begitu bahagia ketika kuhubungi. Pun demikian dengan teman – temanku yang lain, juga adik – adik kelasku. Kebahagiaan ini semakin bertambah. Bahkan seniorku satu almamater, TI UI’98 yang kala itu diamanahkan sebagai kabiro PSDM FUSI FTUI segera menghubungiku. Anak – anak bola dan pecinta alam yang belakangan ini cukup dekat denganku ikut mengucapkan selamat, seorang diantara mereka cuma berujar, ”Gue sih ga kaget loe bisa lolos PMDK UI. Biar yang lain pada pinter, loe menang di do’a…”. Do’a ya? Iya, mungkin do’a kuncinya, tapi bukan do’aku, melainkan do’a orang – orang yang menyayangiku…

* * *

Maret 2008

Beberapa pekan setelah pengumuman PMDK, aku baru mengetahui dari temanku yang jauh – jauh menelpon dari Solo bahwa Teknik Industri UI termasuk jurusan favorit. Kala itu untuk IPA peringkat kedua di UI di bawah FK UI. Wah, Alhamdulillah banget, pantesan aja kayaknya pada heboh gitu aku tembus ke TI UI, kirain cuma jurusan sisa sebagaimana waktu aku memilihnya hehehe… Tapi sepenuhnya kusadari bahwa semua ini terjadi tidak bukan adalah takdir Allah… Ya, Allah telah menetapkan jalan untukku…

Jika sedikit kukenang masa – masa sebelumnya… Aku yang cuma seperti pelajar kebanyakan sebelum aku aktif di ROHIS. Motivasi terbesar masuk ROHIS karena ingin mendirikan ROHIS di SMP. Mungkin kejadiannya akan lain kalau saja saya berasal dari SMP favorit yang sudah memiliki ROHIS. Masuknya aku ke SMA juga ’kebetulan’. Aku yang sudah mengajukan keinginan melanjutkan ke SMA di Jakarta, tiba – tiba saja diarahkan untuk ke Depok oleh seorang guru yang kemudian mengurusi semuanya. Tepat hari penutupan pendaftaran. Mungkin kejadiannya akan lain kalau saja aku melanjutkan ke SMAN di Jakarta. Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, masuknya aku ke SMP juga ’kebetulan’. Aku yang sudah mengajukan keinginan melanjutkan ke SMP di Jakarta, tiba – tiba saja guru kelas 6 SD datang ke rumah dan mengarahkanku untuk ke SMP lain, beliau yang akan mengurusi semuanya. Tepat hari penutupan pendaftaran. Mungkin kejadiannya akan lain kalau saja saya melanjutkan ke SMAN di Jakarta. Ah, hidup itu penuh rangkaian ’kebetulan’… Subhanallah walhamdulillah….

Dan ’kebetulan’ nampaknya belum berakhir. Hasil UMPTN memberi jawaban. Teman yang tidak lulus PMDK Elektro dan Matematika, berhasil lulus ke Teknik Elektro UI sesuai impian mereka. Demikian pula yang berminat melanjutkan ke Farmasi UI. Namun tidak ada non muslim yang gagal PMDK tetapi lulus UMPTN. ’Kebetulan’. Bahkan ’kebetulan’ juga terjadi pada mereka yang membantuku. Teman yang memberikan inspirasi ganti ranking masuk Psikologi UI, yang ngomporin PMDK diterima FK UNS, yang ranking 3 lulus FK UNPAD, yang TOEFLnya diatas 500 jebol ke Akuntansi UI. Bahkan yang minjemin pensil dan penghapuspun lulus UMPTN. ’Kebetulan’ yang menggembirakan.

Teruntuk mereka, bagiku hanya satu hal. Bahwa Allah akan takkan mengabaikan kebaikan sekecil apapun, Ia akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik. Kita tak pernah tahu kebaikan mana yang akan menolong kita dari kesulitan, yang akan memudahkan urusan kita, yang membuat Allah ridha kepada kita. Dan akhirnya, yang namanya ikhtiar mencapai kesuksesan memang tidak dapat dipisahkan dari berbuat kebaikan. Bukan sekedar pragmatis, tapi terlalu angkuh nampaknya jika kita hanya mengandalkan hitung – hitungan kausalitas duniawi. Karena Allah-lah Zat Yang Maha Berkehendak…

Wallahu a’lam bishawwab

”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar Rahman 59 – 61)

“Si Dullah anak musholla, rajin ibadah giat berdakwah, lulus ujian dengan hasil yang prima, jadi kebanggaan sekitarnya. Si Mukhlis aktivis ROHIS, rutin puasa Senin dan Kamis, selalu belajar tak habis-habis, ini ibadawan akademis. Ini baru muslim yang sejati, seimbang akhirat dan dunia. Bikin orang timbul rasa simpati karena lihat keberhasilannya. Si Fulan ini siapa, dia diri kita tapi yang mana, apa yang mulia atau yang tercela, semua tergantung pada kita” (Kaca Diri)

Secercah Kenangan di Penghujung SMU (3/4)

Rabu, 28 Maret 2001

”Eh Wo, loe kok masih disini? Anak – anak pada kumpul di ruang BK tuh, siang ini juga formulir PMDK UI harus udah dikumpulin!”, ujar seorang teman sekelasku yang juga mengambil PMDK UI. Aku yang lagi asyik belajar setelah main bola jelas terkejut. Aku memang belum sempat memberitahukan guru BK perihal pendaftaran PMDK UI. Akibatnya aku tidak dapat informasi sama sekali. Nah lho?!

Aku bergegas ke ruang BK, nampak kesibukan mengisi formulir memenuhi ruang itu. Guru BK langsung menyodorkan formulir untuk diisi. Innalillahi, apa yang mau diisi?! Aku masih duduk memandangi teman – temanku yang sibuk mengisi formulir, salah seorang teman menegurku, ”Eh Wo, cepetan isi formulirnya, siang ini juga dikumpulin”. Aku menoleh padanya dan berujar, ”Hmm, minjem pensil dong!”. ”Parah loe Wo, niat ngambil PMDK nggak sih?”, timpal teman yang lain. Aku hanya tersenyum kemudian bergegas menuju ke ruang kelas. Sebagian besar teman – teman masih istirahat. Di depan kelas aku berujar, “Woy, ada yang bawa pensil 2B dan penghapusan ga? Saya minjem sebentar dong!”. Akhirnya aku mendapatkan pinjaman pensil 2B dan penghapus dari dua orang teman sekelasku. Aku segera kembali ke ruang BK.

Tidak ada yang aneh dalam pengisian formulir PMDK. Akupun memasukkan kode jurusan Matematika UI sebagai pilihanku. Saat sudah hampir selesai, seorang teman bertanya, ”Wo, ngambil jurusan apaan?”. Kujawab, ”Matematika UI”. Tiba – tiba teman sekelasku yang ranking 1 kemudian 2 langsung menimpali, ”Eh jangan ngambil itu Wo, loe kalah saingan ama gue…”. ”Eh, emangnya ga boleh sama ya? Saya ga kepikiran nih mo ngambil apaan”, jawabku. ”Bukan ga boleh sama Wo, tapi sayang banget kalo harus saingan ama teman sendiri, udah gitu itung – itungannya loe kalah ranking”, jelasnya.

Ya udah, kuhapus pilihan jurusanku. Inilah yang kukhawatirkan, aku belum siap untuk memilih jurusan sekarang. Mana di formulir cuma dicantumkan satu pilihan. Selama ini pas try out UMPTN saja, aku selalu ganti – ganti pilihan jurusan. Selain cuma mo menguji kemampuan, aku sebenarnya juga belum pasti hendak melanjutkan kemana. ”Hmm, kalo Teknik Elektro gimana?”, tanyaku yang sempat belajar elektro di SMP. ”Udah ada juga, gue mau pindah dari matematik ke elektro, tapi dianya ga mau ganti. Itung – itungannya gue kalah bersaing ama dia”, jawab temanku yang tadi. ”Ya udah, nt ganti jangan teknik elektro deh”, ujarku kepada teman yang mau masuk teknik elektro UI tersebut. ”Wah, ga bisa Wo. Elektro udah cita – cita gue”, jawabnya. Aku kemudian melirik penuh intrik ke arah temanku yang mau ngambil matematika UI. ”Gue juga ga bisa. Gue cuma mau ganti kalo ke teknik elektro”, ujar temanku. Aduh… aku cuma bisa manyun sambil menghela napas.

Kemudian aku mengambil kertas yang berisi daftar jurusan – jurusan di UI, IPA/ IPS. Penasaran ada apa aja sih di UI. ”Teknik Kimia udah ada yang ngambil belum?”, tanyaku. ”Udah ada, Wo!”, jawab temanku. Fisika dan Fasilkom mengalami nasib serupa. Sekarang pikiranku ga jauh – jauh dari MIPA dan Teknik. Sipil, Mesin, Arsitek, Metalurgi, …. Bingung. ”Eh, saya boleh lompat ke IPS ga?”, tanyaku. ”Boleh aja sih kalo berani saingan ama anak IPS”, jawab temanku. ”Ya udah berani aja, akuntansi udah ada belum?”, tanyaku lagi. Ternyata udah ada juga. Ketika kutanya tentang manajemen, temanku yang IPS menjawab, ”Udah ada juga. Kenapa ga coba IPA aja kan masih banyak tuh, lagian peluang lulus anak IPA di IPS tuh lebih kecil kalo saingan ama anak IPS”

Ya udah, bismillah. Aku list lagi fakultas dan jurusan IPA di UI. Aku coret FK, FKG, Biologi, Farmasi, FKM dan FIK dari list, ga minat. MIPA masih ada Kimia dan Geografi, pelajarannya bisa aja sih tapi agak kurang sreg aja. Sipil, Mesin dan Metalurgi kok kayaknya ga pas juga. Arsitek apalagi. Ke bawah lagi, pandanganku tertuju pada teknik industri, apaan tuh. ”Hmm… eh, ada yang tau ga teknik industri itu ngapain?”, tanyaku di sela – sela kesibukan di ruang BK tersebut. Sejenak tidak ada jawaban. Kemudian salah seorang temanku berujar, ”Gw ga tau pastinya sih. Tapi Om gue lulusan teknik industri, pas skripsinya dia ngitung biaya yang dibutuhkan untuk membuat suatu bangunan gitu, mulai dari bahan, instalasi listrik, semuanya deh. Kayak nggabungin ilmu teknik gitu…”. Hmm… keren juga… menarik, batinku. Tiba – tiba guru BK datang mendekat, membawa form isian lagi (tapi diisi dengan pulpen). Tampaknya formulir akan segera dikumpulkan. ”Ya udah, Teknik Industri belum ada yang ngambil kan?”, tanyaku seraya memperhatikan teman – teman yang lain. Tak ada jawaban, berarti aman. Bismillah…

* * *

Kulangkahkan kaki menuju kelas, hendak mengembalikan pensil dan penghapus yang kupinjam sekaligus mengisi form isian lagi. Berbeda dengan computerize form yang harus dikumpulkan siang ini, masih ada waktu dua hari untuk mengisi form isian ini dan melengkapinya dengan lampiran – lampiran fotocopy raport, ijazah, piagam/ sertifikat, surat keterangan sehat dan tidak buta warna dari dokter dan sebagainya. Sesampainya di kelas, teman – teman ramai menanyakan jurusan apa yang hendak kuambil. Dengan penuh percaya diri, kukatakan : “Teknik Industri, insya Allah!“. Setelah ku duduk di kursiku, aku menoleh ke teman di meja sebelah kananku. Temankupun menoleh. ”Eh, jelasin dong ke saya tentang teknik industri itu apa…”, kataku. ”GUBRAK!!”, responnya spontan…

Setelah mendapat penjelasan singkat tentang teknik industri, akupun mulai mengisi form. Alasan mengapa memilih UI (karena dekat dengan rumah bla… bla… bla..), mengapa memilih Teknik Industri (sesuai dengan minat dan kemampuan saya yang bukan eksakta murni, bla… bla… bla…), pengalaman organisasi, prestasi akademik dan non akademik, dan sebagainya. Hmm, kayaknya peluangku ga kecil – kecil amat…

* * *

Aku tertunduk. Ternyata orang tuaku kecewa karena aku tidak pernah konsultasi dengan mereka terkait pilihan jurusan yang akan menentukan masa depanku. Apalagi aku masih kesulitan untuk menjelaskan tentang pilihanku. Tapi bagaimana lagi, semua mengalir begitu cepat, semua sudah terjadi dan malam ini ada satu syarat pribadi yang harus kuperoleh : ridho kedua orang tuaku. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang dengan orang tuaku, Alhamdulillah mereka dapat menerima dan turut mendo’akan. Bahkan malam ini walau dalam kekelahan, mereka mengantarku ke rumah sakit untuk memenuhi persyaratan administratif surat keterangan sehat dan tidak buta warna. Malam yang cukup mengharukan…

(to be continued)