Tag Archives: tetangga

Bertetangga Sampai ke Surga (2/2)

Tetangga dalam KBBI didefinisikan sebagai orang yang tempat tinggal atau rumahnya berdekatan. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tetangga. Ada yang mengukurnya dari radius 40 rumah, ada yang membatasinya dari masih terdengarnya adzan, ada yang melihatnya dari pelaksanaan shalat berjama’ah, ada pula yang mendefinisikannya dengan batasan wilayah. Apapun pendekatannya, tetanggalah pihak di luar keluarga yang (seharusnya) paling mengenal keseharian kita. Bahkan dalam keadaan darurat, tetangga lah yang paling diharapkan untuk membantu, karena bisa jadi keluarga kita ada nun jauh di tempat lain. Tak hanya keselamatan diri, tetangga pun sangat berperan dalam memastikan keamanan rumah kita apalagi ketika kita tidak sedang berada di rumah. Dan peran penting ini tidak melihat SARA, karenanya kewajiban berbuat baik terhadap tetangga pun tidak dibatasi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Saat ini, di berbagai tempat, sekat-sekat bertetangga semakin besar. Tembok dan pagar semakin tinggi, antar tetangga tidak saling mengenal dengan dalih tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Semakin menjauh dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Alhasil, ada beberapa peristiwa tragis kematian seseorang yang baru diketahui sekian lama oleh tetangganya dari bau busuk mayatnya. Ada kisah ironis perjuangan seorang ayah yang tak mampu mengubur mayat anaknya. Ada kejadian miris seseorang baru mengetahui rumah tetangganya adalah pabrik narkoba setelah digerebek aparat. Dan berbagai cerita lain yang muncul karena tetangga tidak saling mengenal. Bagaimana bisa saling membantu jika kenal saja tidak? Bagaimana bisa hak bertetangga ditunaikan? Belum lagi jika didaftar konflik antar warga yang sebagian besarnya bermula dari hal yang remeh-temeh.

Padahal tetangga adalah salah satu wasilah menuju jannahnya. Teladan kita, Rasulullah SAW dikenal memperlakukan tetangganya dengan sangat baik, termasuk tetangga yang non muslim. Akhlak ini kemudian diwariskan ke generasi sahabat dan salafusshalih. Selain kisah Ibnul Mubarak di atas, dalam berbagai literatur kita akan mendapati berbagai kisah perbuatan baik ulama terdahulu terhadap tetangganya, di antaranya ada kisah Hasan Al Bashri, Malik bin Dinar, Sahal al Tustari, Ibnu Jad’an dan sebagainya. Imam Bukhari meriwayatkan kisah Abdullah bin ‘Amr Al Ash yang menyembelih seekor kambing kemudian berkata kepada seorang pemuda, “Akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi”. Pemuda tadi berkata, “Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?”. Abdullah bin ‘Amr berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris”.

Berbuat baik disini banyak bentuknya mulai dari tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu tetangga hingga aktif menolong tetangga yang membutuhkan. Salah satu perbuatan baik yang dianjurkan adalah berbagi makanan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim). Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi disebutkan tidaklah dikatakan beriman seseorang yang kenyang perutnya sementara tetangganya kelaparan. Karenanya, dalam bertetangga semestinya dilandasi visi akhirat. Saling mengenal, saling memahami, saling melengkapi, dan saling menolong antar tetangga bukan hanya demi terciptanya harmoni hidup bermasyarakat. Rasa aman, tenang, dan nyaman buah dari menjaga hak dan kewajiban bertetangga semoga bisa terus terpelihara hingga dipertemukan kembali di Jannah-Nya. Tempat kembali bagi mereka yang saling mencintai karena Allah, saling mengingatkan dan saling menolong karena Allah. Bertetangga karena Allah, bertetangga sampai ke surga.

Jadilah engkau orang yang wara’, niscaya akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya akan menjadi seorang mukmin. Dan bertetanggalah dengan baik terhadap tetanggamu, niscaya akan menjadi seorang muslim”.
(HR. Ibnu Majah)

Bertetangga Sampai ke Surga (1/2)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri
(QS. An Nisa: 36)

Dikisahkan, selepas melaksanakan rangkaian manasik haji, ‘Abdullah bin Al-Mubarak tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat turun dari langit. Salah seorang dari malaikat itu bertanya, “Berapa orangkah yang melaksanakan haji tahun ini?” Malaikat yang ditanya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa orang dari mereka yang ibadah hajinya diterima?” Malaikat kedua menjawab, “Tak seorang pun dari mereka”. Ibnul Mubarak terkejut dan bersedih, dalam hati berkata, “Orang-orang yang melaksanakan haji itu telah berkumpul berlelah-lelah, mereka berdatangan dari seluruh penjuru seraya membelah gurun, lantas mereka dianggap sia-sia di sisi Allah?!” Lalu ia mendengar Malaikat kedua berkata, “Namun, ada seorang lelaki tukang sol sepatu yang tinggal di Damaskus, namanya ‘Ali bin al-Muwaffaq. Dia tak ikut melaksanakan ibadah haji, tetapi Allah menuliskan baginya pahala ibadah haji secara sempurna, lalu dengan sebab keberkahan lelaki ini, Allah pun berkenan menerima ibadah haji orang-orang yang melaksanakan haji ini.”

Ibnul Mubarak terbangun dari tidurnya, bergegas pergi menuju Damaskus untuk menemui lelaki tukang sol sepatu bernama ‘Ali bin al Muwaffaq berbekal nama dan pekerjaannya. Singkat kisah, Ibnul Mubarak berhasil menemui lelaki tersebut dan berbicara dengannya. Ibnu Mubarak bertanya, “Beritahukanlah kepadaku tentang keadaanmu, sampai-sampai kau disebut dalam mimpiku”. Al-Muwaffaq pun bercerita bahwa sejak 30 tahun lalu ia bertekad untuk mengunjungi Ka’bah dan berhaji. Ia selalu menyisihkan sedikit uang hasil pekerjaannya hingga terkumpul sejumlah 350 dirham. Ia berharap bisa menggenapkannya menjadi 400 dirham sehingga bisa berangkat haji tahun ini. Saat itu, istrinya yang sedang hamil mencium bau masakan dari salah satu rumah tetangga. Istrinya sangat ingin untuk bisa mencicipi makanan itu. Al-Muwaffaq lantas mendatangi rumah tetangganya, meminta sedikit makanan tersebut seraya memberitahu tentang keinginan istrinya yang sedang hamil.

Begitu mendengar permintaan Al-Muwaffaq, perempuan pemilik rumah tersebut lantas menangis dan berkata, “Aku mempunyai beberapa orang anak yang masih kecil. Mereka yatim tak lagi punya ayah. Sudah seminggu ini mereka tak makan. Tadi aku memasuki area puing reruntuhan, lalu kutemukan di sana bangkai keledai. Aku pun mengambil sepotong dagingnya. Daging itulah yang ada di dalam periuk itu, dan itu halal bagi kami tetapi haram bagi kalian.” Setelah mendengar kisah perempuan tersebut, Al-Muwaffaq merasa iba, bergegas kembali ke rumah dan mengambil uang simpanannya. Uang sebanyak 350 dirham tersebut dibawanya dan diberikan semuanya kepada perempuan itu untuk nafkah keluarganya. Dalam hatinya ia berniat, “Dermaku inilah yang akan menunaikan bagiku kewajiban haji dan kedudukannya dengan pertolongan Allah.” Mendengar penuturan Al Muwaffaq, berkatalah Ibnul Mubarak, “Kau benar. Malaikat yang berbicara dalam mimpiku pun benar, dan Yang Maha Kuasa berlaku adil dalam hukum dan keputusan. Sungguh Allah lebih mengetahui hakikat segala sesuatu.”

Berbuat baik kepada tetangga diganjar pahala haji mabrur, kenapa tidak? Perilaku seseorang terhadap tetangganya memang mencerminkan keimanan seseorang. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”. Atau dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”. Dan keimanan ini menjadi syarat menggapai surga. “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari – Muslim). Dan tidak ada istilah sedikit atau ringan dalam hal menyakiti tetangga (HR. Thabrani). Karenanya, menjaga hak bertetangga menjadi keharusan bagi mereka yang merindukan surga.

(bersambung)

Memilih Tempat Tinggal untuk Membangun Peradaban

Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.
(HR. Ibnu Hibban)

Kebahagiaan sejati memang adanya di hati, namun ada beberapa indikator yang dapat mengakselerasi hadirnya kebahagiaan. Empat diantaranya disebut dalam hadits di atas. Di tulisan sebelumnya, penulis sudah kerap menyampaikan tentang seni mencari dan memilih istri. Tulisan ini hadir untuk membahas indikator kebahagiaan yang lainnya, yaitu bagaimana memilih tempat tinggal untuk membangun keluarga dan rumah tangga bahagia. Dan sesuai dengan hadits di atas, ada empat indikator kebahagiaan, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal.

Pertama, istri yang shalihah mencerminkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang diisi oleh pribadi-pribadi yang baik. Rumah yang berisi entitas-entitas yang baik. Porsi besar tanggung jawab untuk membangun dan membina pribadi-pribadi yang ada di dalam keluarga memang ada di pundak suami selaku kepala keluarga. Namun porsi besar untuk mengelola entitas-entitas tersebut ada pada istri selaku manajer rumah tangga. “…Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya, sedangkan perempuan adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Disinilah dibutuhkan sinergi suami istri untuk menciptakan tempat tinggal yang baik. Jadi, syarat pertama untuk memperoleh tempat tinggal yang baik adalah menghadirkan kepala keluarga dan manajer rumah tangga yang baik sehingga aktivitas di dalamnya penuh dengan kebaikan.

Kedua, tempat tinggal yang luas menunjukkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang membuat nyaman, baik secara materi maupun non-materi. Dalam memilih tempat tinggal, kenyamanan materi tentu perlu menjadi pertimbangan. Tidak perlu memaksakan jika harganya tidak terjangkau, harga yang membebani hanya akan menambah utang dan berpotensi mengacaukan pengelolaan keuangan rumah tangga. Memang materi bukan faktor penentu keharmonisan rumah tangga, namun nyatanya banyak rumah tangga berantakan karena faktor materi semata. Dan kenyamanan yang sangat penting untuk diperhatikan adalah kenyamanan non-materi. Pilihan tempat tinggal merupakan salah satu tahap yang menentukan pilihan masa depan sehingga kesepakatan penentuan tempat tinggal sebaiknya melibatkan suami istri, bukan salah satu pihak saja. Mufakat tersebut akan menjadi awal kenyamanan. Faktor keselamatan dan keamanan juga perlu menjadi perhatian. Rumah semegah apapun tidaklah akan menghadirkan kenyamanan jika berada di kawasan rawan kejahatan. Faktor-faktor lain yang menentukan kenyamanan seringkali subjektif, mulai dari keasrian lingkungan, hingga penggunaan sistem syari’ah dalam hal pembiayaan, namun faktor-faktor ini tetap penting untuk diperhatikan. Keluarga dan rumah tangga yang penuh kasih sayang dan bertabur Rahmat Allah SWT (mawaddah wa rahmah), hanya dapat diwujudkan ketika ada ketenangan dan kenyamanan (sakinah). Karenanya kenyamanan menjadi salah satu indikator penting tempat tinggal yang baik.

Ketiga, tetangga yang shalih menggambarkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang memiliki lingkungan yang baik. Lingkungan masyarakat yang religius, akrab dan saling tolong menolong. Bagaimanapun kedekatan kita dengan keluarga sedarah kita, orang-orang yang pertama kali akan menolong kita jika kita tertimpa musibah, bahkan menyolatkan dan mengurusi jenazah kita ketika kita mati adalah tetangga kita. Tidak heran dalam banyak riwayat Rasulullah SAW begitu memperhatikan adab bertetangga dan memuliakan hak tetangga, diantaranya Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris” (HR. Bukhari-Muslim). Lingkungan yang baik juga dicirikan dengan kemudahan untuk beribadah, saling berinteraksi, saling memberi, saling menasehati dan saling bantu. Lingkungan yang baik juga akan mendorong kita untuk terus mengembangkan diri dan lebih produktif.

Keempat, tunggangan yang nyaman menyiratkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang menunjang mobilitas untuk beraktivitas dan kemudahan akses terhadap berbagai fasilitas. Dalam kehidupan, ada berbagai fase yang berpotensi mempengaruhi kualitas dan produktivitas kita misalnya lulus kuliah, mulai bekerja, menikah ataupun memiliki anak. Menempati tempat tinggal yang baru juga merupakan fase hidup yang berpotensi mempengaruhi aktivitas. Tempat tinggal yang baik akan mendorong kita untuk semakin produktif dalam bekerja, berkarya, berkontribusi dan menjalankan segudang amanah kita. Berbagai fasilitas yang tersedia tentunya juga perlu menjadi perhatian. Keberadaan fasilitas seperti sarana transportasi, instansi pemerintahan, layanan pendidikan dan kesehatan, hingga fasilitas olah raga dan hiburan tentunya akan menunjang mobilitas dan produktivitas kita. Jadi, kita perlu memastikan bahwa tempat tinggal yang kita pilih tidak justu menghambat aktivitas kita dan menurunkan produktivitas kita.

Tempat Tinggal untuk Peradaban
Salah satu penyebab mandegnya pembangunan peradaban adalah ketika kebutuhan pokok atas sandang, pangan dan papan masih sulit untuk didapatkan. Ironis, mereka yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sandangnya banyak yang justru mengumbar aurat, sementara di sisi lain harga sandang yang memenuhi kaidah syari’at, misalnya jilbab, tidaklah murah. Atau perhatikan bagaimana orang-orang membuang-buang makanan sementara di belahan bumi yang lain tidak sedikit orang yang sakit atau bahkan mati karena kelaparan. Belum lagi jika kita mempersoalkan sulitnya menemukan pangan yang sehat di dunia yang penuh penyakit dan kecurangan ini. Dalam hal papan, pembangunan rumah susun dan rumah subsidi seringkali masih belum tepat sasaran. Banyak keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal karena rumah layak bagi mereka hanya sebatas impian. Padahal ketercukupan kebutuhan pokok merupakan syarat sekaligus tolok ukur kemajuan peradaban.

Dan jika kita memfokuskan pada ketersediaan papan untuk membangun peradaban, kita akan menemukan bahwa pemilihan tempat tinggal akan menentukan maju mundurnya peradaban. Pemilihan kota Mekkah dan Madinah sebagai pusat penyebaran peradaban Islam bukan tanpa alasan, ada berbagai pertimbangan strategis di dalamnya. Ketika dikaji lebih dalam, pemilihan rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai madrasah awal, pembangunan pasar dan masjid di Madinah juga menggambarkan betapa pertimbangan lokasi untuk beraktivitas menjadi penting dalam membangun peradaban. Di setiap peradaban yang tercatat dalam sejarah, selalu ada kota dan tempat tinggal yang menjadi pusat peradaban, tidak terkecuali peradaban di Mesir, Yunani ataupun Mesopotamia. Banyak tokoh pengukir sejarah berhasil membangun lingkungan tempat tinggalnya untuk membangun peradaban yang lebih maju. Ya, individu-individu hebat akan membangun diri dan lingkungannya dulu sebelum membangun peradaban.

Memilih tempat tinggal yang baik sepertinya merupakan perkara kecil bila dibandingkan dengan membangun peradaban. Namun ketika setiap orang memperhatikan tempat tinggal dan tetangganya serta membangun lingkungannya, niscaya akan tercipta kebahagiaan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dan terbentuknya peradaban yang lebih maju tinggal menunggu waktunya. Dan tugas berat membangun peradaban dari tempat tinggal memang bukan perkara yang mudah diwujudkan. Butuh sekelompok orang yang menjadi motor perubahan, butuh sekelompok keluarga yang dapat menjadi teladan dan butuh sekelompok masyarakat yang rela berjuang dan berkorban. Tidak hanya itu, peran berbagai pihak yang mengembangkan lingkungan tempat tinggal yang baik dan terjangkau masyarakat juga diperlukan. Peran pemerintah dalam memperhatikan tata kota dan ketersediaan tempat tinggal juga dibutuhkan. Dan yang menjadi keniscayaan, ketika lingkungan tempat tinggal siap untuk berubah, perbaikan dan kemajuan akan menjadi realita. Sebaliknya, ketika lingkungan tempat tinggal rusak, kehancuran peradaban tinggal menunggu waktunya saja.

Andai kota itu peradaban, rumah-rumah di dalamnya haruslah menjadi binaan budaya, dan tiang seri setiap rumah yang didirikan itu hendaklah agama, dan agama yang dimaksudkan tentulah agama yang berpaksikan tauhid
(Faisal Tehrani dalam ‘Tuhan Manusia’)