Tag Archives: ummu sulaim

Mengenal Shahabiyah : Ar Rumaisha (1st Person Perspective)

Kunjungan Mush’ab bin Umair ke Madinah membawa kesan tersendiri bagiku. Bukan ketampanan wajah ataupun kehalusan tutur kata yang membuatku terpesona, namun apa yang disampaikannya terasa begitu menghujam di hatiku, mungkin inilah yang disebut dengan hidayah. Namaku Ar-Rumaisha, aku termasuk wanita Anshor gelombang pertama yang menjadi muslimah. Keimanan ini membuatku harus berpisah dengan suamiku, Malik bin Nudhar yang menolak memeluk agama Islam. Ia pergi bersama gengsi dan kejahiliyahannya ke Syam sementara anak kami, Anas, ikut bersamaku di Madinah. Tak lama kemudian tersiar kabar bahwa suamiku bertemu musuh di jalan dan terbunuh, tanggung jawab memelihara Anas pun jatuh di pundakku. Demi memeliharanya, aku bertekad tak akan menikah lagi sampai Anas dewasa, memiliki ilmu pengetahuan yang baik dan menghendaki ibunya menikah. Ketika usianya 10 tahun, aku pergi ke rumah Muhammad untuk menitipkan Anas sebagai pembantu beliau agar bisa terus belajar dalam keseharian dengan utusan Allah yang mulia tersebut. Alhamdulillah, kelak anakku akan menjadi ulama besar yang meriwayatkan ribuan hadits.

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Ketika Anas bin Malik sudah beranjak dewasa, datang seorang bangsawan terhormat bernama Abu Thalhah datang melamarku. Ia berkata, ”Ya Rumaisha, Anas telah duduk dalam majelis. Bagaimana jika aku melamarmu?” Aku pun menjawab, ”Demi Allah! Orang seperti kamu ini wahai Abu Thalhah, tidak mungkin ditolak lamarannya. Hanya sayangnya kamu masih belum beriman, sementara aku adalah perempuan mukminah. Tidak halal bagiku menikah denganmu!” Tak mau menyerah, di kesempatan lain ia bertanya, ”Apakah yang menimpamu wahai Rumaisha? Apakah kau tidak suka dengan emas dan perak?” Aku pun menjawab dengan tegas, “Aku tidak suka dengan emas dan perak? Engkau adalah orang yang menyembah sesuatu yang tidak dapat berbicara, tidak dapat melihat, dan tidak sedikit pun memberi manfaat padamu. Wahai Abu Thalhah, tidaklah engkau tahu bahwa tuhan-tuhan yang kalian sembah adalah hasil pahatan seorang budak keluarga fulan? bukankah jika tuhan-tuhan itu engkau sulut dengan api, pasti terbakar? Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku. Sungguh, aku sama sekali tidak mengharapkan mahar yang lain!

Abu Thalhah nampak terkejut kemudian bertanya, ”Bagaimana dan dengan siapa aku harus menyatakan keislamanku, wahai Rumaisha?”. ”Nyatakanlah kepada Rasulullah!”, jawabku singkat. Alhamdulillah, ia segera bergegas menemui Rasulullah yang ternyata sudah menunggunya untuk menyatakan keislamannya. Abu Thalhah datang dengan wajah bersinar untuk melengkapi maharku yang disebut Tsabit Al-Banani sebagai mahar yang paling mulia. Dengan wajah ceria penuh bahagia karena Allah telah memberi petunjuk kepada Abu Thalhah, aku menoleh pada Anas seraya berkata, “Nikahkan Ibu dengan Abu Thalhah“. Singkat kata, aku pun menikah dengan Abu Thalhah yang ternyata merupakan seseorang yang berani, berkomitmen kuat dan tulus berkorban.

Pernah suatu ketika anakkku Anas mengisahkan. Sesaat setelah Allah SWT menurunkan QS. Ali Imran: 92, ayahnya berdiri menghadap Rasulullah dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku (yang bernama ‘Bairuha’, berada di dekat masjid dan memiliki air minum yang jernih di dalamnya), untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesukamu, wahai Rasulullah”. Rasulullah kemudian bersabda, “Bagus, itulah harta yang menguntungkan, itulah harta yang paling menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”. Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya. Aku pun berusaha menjadi istrinya yang setia, menyenangkan bila dipandang, taat bila diperintah, dan menjaga amanah jika ditinggalkan. Kebahagiaan kami bertambah dengan lahirnya bayi laki-laki tampan bernama Abu Umair.

Suatu ketika, Abu Umair jatuh sakit selama beberapa hari sementara ayahnya tengah mencari nafkah dan menghadiri majelis Rasulullah. Sakit anakku semakin parah dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum ayahnya tiba di rumah. Aku pun bergegas memandikan dan menyelimuti jenazah Abu Umair dengan kain, seraya meminta orang – orang untuk tidak mengabarkan berita kematian anaknya kepada Abu Thalhah. Untuk tidak menambah kesedihannya, aku pun mempersiapkan malam yang istimewa untuk suamiku. Ketika suamiku datang dan menanyakan perihal anaknya, aku berujar, ”Ia sekarang lebih tenang dari kemarin dan tengah beristirahat dengan tenteramnya!” Jawaban itu cukup membuat suamiku lega, segera ia beranjak mandi dan berbuka. Aku pun menyiapkan makanan terbaik untuknya berbuka, memakai pakaian terindah yang dimiliki, memakai minyak wangi dan berhias semenarik mungkin. Malam itu kami bercumbu dengan penuh kebahagiaan.

Di akhir malam, setelah suamiku merasa tenang, dengan hati – hati aku bertanya pada suamiku, ”Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjam sesuatu kemudian sesuatu itu diambil oleh yang memiliki. Adakah sesuatu itu tetap dipertahankan oleh yang meminjam?” Ia pun menjawab dengan tegas, ”Tidak! Peminjam harus mengembalikan barang pinjamannya dengan rela atau terpaksa. Dan itu yang semestinya dilakukan seorang peminjam!”. Aku kemudian menyampaikan, ”Maka demikianlah dengan anak kita. Ia dipinjamkan Allah kepada kita dan sekarang ia telah diambil kembali oleh Allah. Maka harapkanlah pahalanya disisi Allah!”. Suamiku nampak terkejut, sedih dan kecewa seraya berkata, ”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Engkau tinggalkan ia dan kau datangi aku hingga aku menggaulimu. Kemudian sekarang baru kau beritakan kepergiannya setelah semua berlalu. Demi Allah, aku akan mengadukan hal ini pada Rasulullah!”. Pagi harinya, suamiku mengadukan kejadian tadi malam pada Rasulullah, beliau tersenyum kemudian bersabda, ”Semoga Allah memberkatimu pada malam itu!” Alhamdulillah, doa Rasulullah terkabul, atas karunia-Nya, aku pun hamil. Menjelang masa kelahiran, suamiku sedang bersiap menemani Rasulullah ke luar kota. Melihatku kesakitan, suamiku pun menunda keberangkatannya seraya berkata, “Ya Allah, betapa inginnya aku menyertai Rasulullah, tapi hal itu tak mungkin kulakukan karena istriku sedang kesakitan.” Usai ia berkata demikian, aku tidak lagi merasakan sakit dan menyarankan suamiku untuk menyusul Rasulullah. Anehnya, begitu mereka kembali, sakitku kambuh lagi. Tak lama kemudian lahirlah dari rahimku bayi tampan yang kemudian ditahnik (mengosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit – langit mulut bayi) dan diberi nama Abdullah oleh Rasulullah langsung. Kelak, dari Abdullah aku memiliki tujuh orang cucu yang semuanya hafal Al Qur’an, alhamdulillah.  Setelah kelahiran Abdullah, aku mengandung dan melahirkan berulang-ulang sehingga memiliki banyak anak dalam perkawinannya dengan Abu Thalhah, di antaranya adalah Sulaim sehingga aku lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim.

Pada suatu malam, pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada istri – istrinya mengenai makanan yang ada di rumahnya, namun semuanya menjawab tidak memiliki apa – apa kecuali air. Kemudian Rasulullah bertanya, “Siapakah yang akan menjamu tamu ini? Semoga Allah merahmatinya”. Suamiku mengajukan diri kemudian membawa tamu tersebut ke rumah padahal saat itu kami tidak punya apa – apa selain makanan untuk anak-anak. Suamiku kemudian berkata, ”Berikanlah minuman kepada anak – anak dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu kita masuk, akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah.” Tamu tersebut datang, duduk dan makan hidangan yang disediakan sedangkan kami bermalam dalam keadaan tidak makan. Esok harinya, suamiku (dan tamunya) datang kepada Rasulullah dan beliau berkata pada suamiku, “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian”. Ternyata Allah SWT baru saja menurunkan QS. Al Hasyr: 9 yang artinya, “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” Sungguh aku tidak kuasa menahan rasa haru ketika suamiku datang menyampaikan kabar gembira tersebut. Alhamdulillah.

Aku turut bergabung dengan pasukan kaum muslimin dalam berbagai peperangan, diantaranya perang Uhud dan Hunain. Selain membantu logistik dengan mengangkuti qirbah (tempat air dari kulit) berisi air sebagai persediaan minum dan mengobati yang terluka, aku juga membawa badik (pisau belati) di balik lengan baju untuk melawan dan menghadapi musuh yang menyerang. Langsung kusampaikan pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan badik ini”. Dalam keadaan aman, aku yang masih keturunan keluarga Adi bin Najjar (pengrajin kayu dari suku Khazraj) tekun berkarya membuat kerajinan tangan. Aku memberikan hasil karyaku kepada Rasulullah setiap kali beliau datang ke rumahku. Kedekatanku dan keluargaku dengan Rasulullah SAW, membuatku turut serta meriwayatkan belasan hadits. Semoga kisahku menginspirasi segenap mujahidah untuk memberikan yang terbaik untuk Allah, Rasul-Nya, dan keluarganya. Dan akhirnya hanya kepada Allah SWT, segala ganjaran atas kebaikan kita harapkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku memasuki surga dan kudengar langkah kaki seseorang, lalu aku bertanya siapakah dia? Dan penghuni surga menjawab “dia adalah Rumaisha binti Milhan, ibunda Anas bin Malik” (Al Hadits)

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo

Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu ‘Montague’? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apa pun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalau pun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya” (Shakespeare dalam ‘Romeo & Juliet’)

Rangkaian kalimat di atas tertulis dalam teks drama yang dibuat William Shakespeare dalam roman Romeo & Juliet. Dikisahkan hubungan Romeo dari suku Montague dengan Juliet dari suku Capulet menemui jalan buntu karena kedua suku tersebut bermusuhan. Dalam keputusasaannya, Juliet mengangankan Romeo dapat mengganti namanya, apapun itu, sehingga dapat diterima oleh keluarga Juliet. Uniknya, hanya penggalan kalimat ‘Apalah arti sebuah nama?’ yang menjadi begitu terkenal, mengesankan penulisnya menjadi orang yang tidak mementingkan nama. Jika Shakespeare masih hidup, mungkin dia hanya akan geleng – geleng kepala, apalagi sebelumnya ia pernah mengingatkan, “Perhatikan arti di setiap kata, perhatikan makna di balik kalimatnya”.

Pentingnya nama seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan. Kehidupan kita dipenuhi nama, baik mahkluk hidup maupun benda mati. Tak dapat dibayangkan betapa merepotkannya jika semua benda di dunia tidak memiliki nama, bagaimana kita akan menyebut suatu benda? Pentingnya nama ini sudah jelas tergambar dari bagaimana Allah SWT mengajarkan Adam untuk mengenal nama benda dan segala sesuatu setelah penciptaannya (QS. Al Baqarah : 31). Bahkan dalam beberapa ayat, Allah SWT mengecam nama – nama sesembahan kaum musyrikin, misalnya dalam QS. An Najm : 19  – 23. Dalam beberapa hadits juga disebutkan betapa Rasulullah SAW kerap mengganti nama – nama yang buruk –bukan hanya nama orang, tapi juga nama kelompok masyarakat, bahkan nama kota– dengan nama yang lebih baik (HR. Abu Daud, Turmidzi dan beberapa ahli hadits).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa memberi nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud). Nama Abdullah dan Abdurrahman memang merupakan nama yang paling disukai dan nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam (HR. Abu Daud, Nasa’i dan lainnya), namun bukan berarti keempat nama tersebutlah yang harus digunakan dan tidak melulu harus berbahasa Arab. Purwo Udiutomo, misalnya, tidak berbahasa Arab, namun maknanya baik. Purwo (bahasa Jawa) atau Purwa (bahasa Sunda) artinya pertama atau terdahulu. Udiutomo berasal dari kata ‘ngudi’ dan ‘utomo’ (bahasa Jawa) yang berarti mencari keutamaan. Sehingga Purwo Udiutomo berarti anak pertama yang mencari keutamaan. Sebuah do’a orang tua yang baik.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo
Rumaisha dalam bahasa Arab dapat diartikan ‘yang mendamaikan’ atau ‘yang merukunkan’. Jika dipisahkan, Rumaisha terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rum’ yang dalam bahasa Kawi berarti ‘daya tarik, keindahan dan kecantikan’ dan ‘Aisha’ yang dalam bahasa Persia berarti ‘kehidupan’. Namun dasar pemberian nama Rumaisha bukanlah hal tersebut di atas, melainkan menamai dengan nama muslimah shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka” (HR. Muslim). Rumaisha (binti Milhan) atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim, adalah ibu kandung dari Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW yang meriwayatkan lebih dari 2200 hadits. Rumaisha adalah wanita yang menawan, keibuan, cerdas dan yang paling dikenang oleh para shahabat adalah wanita dengan mahar termahal, yaitu keimanan Abu Thalhah yang kemudian menjadi salah seorang pahlawan generasi sahabat. Ummu Sulaiam adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, da’iyah yang bijaksana, pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama di antara ulama Islam. Ketulusan dan komitmen Rumaisha mengantarkannya menjadi salah satu shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Profil lebih lengkap tentang Rumaisha insya Allah akan disampaikan pada tulisan selanjutnya.

Alifiandra terdiri dari dua kata, yaitu ‘Alif’ dan ‘Andra’. ‘Alif dalam bahasa Arab memiliki arti ‘ramah dan bersahabat’, sekaligus mengandung makna ‘pertama’, ‘lurus’ dan ‘benar’. Sementara ‘Andra’ dalam bahasa Skotlandia (dan beberapa negara di Eropa) berarti gagah berani. Sifat ‘ramah dan bersahabat’ dilengkapi dengan ‘gagah berani’ sehingga diharapkan dapat menghasilkan sifat ‘tidak kaku’ dan ‘dekat’, namun tetap ‘memiliki sikap dan integritas’. Sifat ‘lurus dan benar’ dioptimalkan dengan ‘gagah berani’ sehingga keistiqomahan di jalan kebenaran yang lurus tidak hanya dipertahankan, namun juga diperjuangkan dan disebarkan. Udiutomo adalah nama ayah yang umum diberikan sebagai nama belakang anak, maknanya sudah disampaikan di atas. Dalam Islam, nama ayah kerap dinisbatkan di belakang nama anak karena seseorang tidak boleh menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya (QS. Al Ahzab : 5, HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan ulama hadits lainnya). Jadi sebaiknya bukan nama suami yang dinisbatkan di belakang nama istri, tetapi nama ayah di belakang nama anak.

Nama yang baik = Awal pendidikan anak
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ditemui seorang pria yang mengadukan kenakalan anaknya. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Hai Fulan, tidak takutkah kamu kepada Allah karena berani melawan dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menimpali, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”. Umar r.a. menjawab, “Ada tiga, yakni memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya; memilihkan nama yang baik; dan mendidik mereka dengan Al Qur’an”. Mendengar uraian tersebut, sang anak menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, dan dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku, bahkan satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya”. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik, disamping berbagai hak lainnya mulai dari mendapatkan ibu yang baik hingga dinikahkan. Secara sederhana, hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan pemberian nama yang baik adalah awal pendidikan anak yang baik. Nama adalah do’a, memberi nama yang baik berarti mengharapkannya senantiasa dalam kebaikan. Dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhori – Muslim). Nama adalah motivasi yang akan mempengaruhi tindak tanduk penyandang nama. Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya“.

Semoga pemberian nama Rumaisha Alifiandra Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a’… Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

* * *

Rasulullah SAW bersabda, “Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, “Siapa itu?” Mereka berkata, “Dia adalah Rumaisha binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik”. (Al Hadits)

Wallahu a’lam bishawwab