Tag Archives: virus corona

Corona, Emang Gue Pikirin?!

“My head says, “Who’s cares?” But then my heart whispers, You do, stupid!”

Hebat sekali virus corona ini, setiap bulan selalu saja mencatatkan rekor baru. Tiga bulan lalu, per 9 April 2020, kasus harian corona menembus angka 300 untuk pertama kalinya, tepatnya 337 kasus baru. Padahal sebelumnya sejak awal munculnya virus corona di Indonesia ini, belum pernah sekalipun kasus harian corona menembus 250 kasus baru. Masyarakat pun menyikapinya dengan ketar-ketir. Sudah beberapa pekan sekolah diliburkan dan banyak instansi yang menerapkan bekerja dari rumah (work from home), namun kasus positif corona terus bertambah. Pemberian bantuan sosial berupa paket sembako mulai dilakukan untuk meringankan beban masyarakat. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan dan terlepas dari beberapa kasus pelanggaran, masyarakat relatif mematuhi protokol PSBB. Semua pihak bekerja sama berharap pandemi Covid-19 segera berakhir.

Dan sebulan pun berlalu. Dua bulan lalu, per 9 Mei 2020 rekor baru tercipta. Kali ini untuk pertama kalinya kasus harian corona menembus angka 500, tepatnya 533 kasus baru. Namun penyikapannya tidak sedramatis sebulan sebelumnya. Masyarakat sudah mulai bosan di rumah. Ada juga sebagian masyarakat yang lebih takut mati kelaparan dibanding meninggal dunia akibat corona. Kurva Covid-19 di berbagai negara sudah mulai menurun, bahkan beberapa negara sudah berhasil lepas dari pandemi Covid-19. Lockdown sudah terbukti berhasil di beberapa negara. Namun tidak demikian dengan Indonesia, kurvanya masih terus naik. Jumlah kasus menembus 5 digit dan korban jiwa menembus 4 digit. Namun pemerintah dan masyarakat menanggapinya santai. Beberapa ruang publik semakin ramai. Salah seorang pejabat negara pun mengatakan kondisi Indonesia masih aman, bahkan penanganan Covid-19 dianggapnya masih lebih baik dibandingkan beberapa negara dengan kasus positif corona yang jauh lebih besar.

Lantas sebulan pun berlalu. Bulan lalu, per 9 Juni 2020 virus corona kembali menorehkan rekor. Kasus harian corona akhirnya menembus 4 digit untuk pertama kalinya, tepatnya 1.043 kasus baru. Hanya beberapa hari setelah diterapkan istilah “new normal”. Kekhawatiran berbagai pihak yang mempertanyakan kelayakan “new normal” menguap begitu saja. Sebab sebagian besar masyarakat sudah tidak lagi menahan diri, pemerintah pun membiarkan masyarakat untuk berdamai dengan virus corona. Beraktivitas biasa dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Akhirnya, ketika berbagai negara telah berhasil menanggulangi penyebaran virus corona, ketika liga-liga sepakbola terbaik di dunia sudah kembali bergulir, penyebaran virus corona di Indonesia semakin menjadi-jadi. Sejak itu kasus harian corona tidak pernah kurang dari 850 kasus baru, korban jiwa harian tidak pernah kurang dari 30 orang. Pun demikian, banyak masyarakat menikmati kebebasan “new normal” tanpa ada kekhawatiran.

Akhirnya, per 9 Juli 2020 kemarin rekor baru terukir. Tidak tanggung-tanggung, kasus harian corona mencapai 2.657 kasus baru, meningkat 143.4% dibandingkan sehari sebelumnya yang sempat menjadi rekor tertinggi juga (1.853 kasus baru). Lonjakan 254.7% kasus harian corona dalam kurun waktu sebulan ini cukup mengerikan, namun ternyata tanggapan publik semakin biasa dan memaklumi. Masyarakat sudah maklum jika kasus positif Covid-19 terus bertambah. Bagaimana tidak, keseharian sudah berjalan normal. Tempat umum kembali ramai, jalanan mulai kembali macet. Yang membedakan hanya saat ini banyak orang yang menggunakan masker. Dan semakin banyak yang hobi bersepeda. Pemerintah pun biasa saja, seolah menutup mata. Tak ada rapat darurat dan sebagainya. Yang ada malah seorang Menteri mempromosikan kalung antivirus corona.

Artinya kehebatan virus corona dalam mencetak rekor semakin tidak berarti apa-apa. Tidak ada yang peduli. Jika dulu masyarakat sempat begitu berhati-hati, aktivitas #dirumahaja dijalani, kini tidak lagi. Padahal deret angka 337 – 533 – 1.043 – 2.657 bukanlah deret linier, melainkan eksponensial. Padahal puluhan korban jiwa setiap harinya sejak dua bulan lalu adalah manusia, bukan helai daun. Bukan berarti menjalani kehidupan dengan penuh kecemasan adalah lebih baik, namun ketidakpedulian terhadap kondisi diri, keluarga, dan lingkungan menjadi virus baru yang harus diwaspadai. Bahkan harus diberantas karena mematikan hati nurani.

Sempat ada pikiran liar, barangkali jika Presiden beserta beberapa ajudannya positif Covid-19 seperti terjadi di Brazil, penanganan Covid-19 di Indonesia bisa lebih serius. Bukan mendo’akan keburukan, namun gregetan saja dengan respon dan kebijakan pemerintah yang tidak memperlihatkan kesungguhan dalam menghadapi pandemi ini. Belum lagi banyaknya pernyataan kontroversial dari para pejabat di negara ini. Namun bisa jadi ga ngaruh juga sebagaimana Presiden Brazil merasa baik-baik saja dan cukup mengonsumsi obat malaria. Sudah empat bulan lalu beberapa pejabat Brazil dinyatakan positif corona, toh penanganan Covid-19 masih main-main. Status runner-up dengan lebih dari 1,8 juta kasus corona dan lebih dari 70 ribu korban jiwa akibat corona di Brazil juga tidak berarti apa-apa. Apalagi Indonesia yang jumlah kasus positif corona dan korban jiwanya hanya sepersekiannya. Belum lagi pandemi Covid-19 di Indonesia rentan dijadikan proyek. Atau bahkan dipolitisasi. Jadi ‘teguran keras’ semacam itupun bisa jadi tidak mempan di Indonesia yang dalam beberapa hal 11-12 dengan Brazil.

Atau barangkali segelintir masyarakat negara +62 yang selama ini meremehkan virus corona baru bisa insaf jika ada keluarga, kerabat, atau tetangga dekatnya yang positif terpapar Covid-19. Atau mungkin tidak juga, malah jumawa dengan imunitas tubuhnya yang sehat-sehat saja. Pun bisa jadi dirinya termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menjadi carrier virus corona bagi sekitarnya. Orang-orang semacam ini bahkan ketika dinyatakan positif Covid-19 pun kemungkinan bukannya introspeksi malahan menyalahkan pihak lain atas segala kelalaiannya. Baru tahu rasa nanti ketika ketidakpeduliannya selama ini akan kembali kepada dirinya. Saat keluarganya, kerabatnya, tetangganya dan orang-orang yang mengenalnya membiarkannya, tidak peduli terhadapnya, hingga meninggalkannya.

Semoga titik balik kepedulian itu segera tercipta, sehingga kita semua bisa menjalani new normal yang sebenarnya. Bukan kondisi kritis yang dicitrakan baik-baik saja. Semoga bulan depan, per 9 Agustus 2020, kurva penyebaran Covid-19 sudah turun dan melandai, bukan kembali berlipat mencetak rekor baru di atas 4.000 kasus baru misalnya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan serangkaian rekor yang ditorehkan virus corona. Itu hanya menunjukkan kebodohan dan kekalahan semata. Barangkali memang ada pihak tertentu yang diuntungkan dengan pandemi Covid-19 ini, tetapi itu bukan kita. Karenanya sudah sewajarnya setiap kita meningkatkan kedisiplinan dan kepedulian dalam menjaga diri kita, keluarga kita, dan lingkungan sekitar kita untuk memenangkan pertarungan dengan virus corona. Bukan bersikap lemah dan lalai dengan dalih berdamai. Karena kemenangan hanya dapat dicapai dengan kesungguhan. Stay healthy and keep caring!

“Ketika saya berhenti peduli, saat itulah kamu seharusnya mulai khawatir”

New Normal, Ilusi Penuh Harapan

Normal is an illusion. What is normal for the spider is chaos for the fly.” (Charles Addams)

Alhamdulillah, setelah dua setengah bulan mengganti shalat Jum’at dengan shalat zhuhur akibat pandemi Covid-19, akhirnya saya berkesempatan melaksanakan shalat Jum’at di masjid secara berjama’ah. Itupun karena memang sedang ada agenda rapat offline. Karena masjid perumahan juga belum menyelenggarakan shalat Jum’at berjama’ah. Tidak ada yang terlalu berbeda dari Jum’atan sebelum virus corona menyerang, kecuali tersedianya hand sanitizer dan bilik disinfektan untuk jama’ah, dan sebagian besar jama’ah menggunakan masker. Ya, tidak semua jama’ah mengikuti protokol cegah corona dengan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Social distancing antar jama’ah juga hanya terjadi di awal ketika jama’ah belum banyak yang datang. Ketika jama’ah sudah membludak, apalagi pas pelaksanaan shalat, jarak antar jama’ah hanya sekadar ‘tidak menempel’. Saya tidak akan membahas lebih baik mana shalat Jum’at di masjid atau shalat zhuhur di rumah ketika terjadi wabah. Yang ingin saya soroti adalah betapa banyak masyarakat kita yang bosan #dirumahaja dan ingin segera dapat beraktivitas di luar rumah, seperti sediakala. Apalagi saat ini pemerintah sudah membuka ruang itu dengan terminologi “new normal” atau kenormalan baru. Pun baru akan dimulai Juni mendatang, masyarakat awam sudah banyak yang ‘berani beraktivitas normal’ hanya berbekal masker.

Kenormalan baru yang dikehendaki pemerintah adalah kehidupan seperti biasanya ditambah dengan protokoler kesehatan, seperti menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan, dan tidak berkerumun. Karena obat atau vaksin corona belum pasti kapan akan ditemukan, sementara virus corona takkan hilang dalam waktu dekat, pemerintah berharap masyarakat Indonesia bisa berdamai dengan corona. Panduan menghadapi kenormalan baru pun sudah disiapkan. Kebijakan ini diharapkan menjadi solusi terbaik dalam menghadapi pandemi Covid 19 yang dampaknya bukan hanya terlihat dari perspektif dunia kesehatan, namun sektor-sektor kehidupan lainnya juga sangat terdampak, termasuk sektor ekonomi. Kenormalan baru diharapkan mampu menggeliatkan kembali perekonomian nasional yang sempat ‘mati suri’.

Kebijakan kenormalan baru ini banyak menuai kritik. Ketua DPR RI, Puan Maharani meminta pemerintah tidak terburu-buru menerapkan new normal tanpa kajian mendalam, termasuk harus ada langkah antisipasi seandainya terjadi gelombang baru penyebaran virus corona setelah penerapan new normal. Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menolak istilah new normal yang dinilainya tidak akan efektif. Sudah banyak buruh yang PHK, sebagian lainnya tidak ada yang bisa dikerjakan karena ketiadaan bahan baku, sebagiannya lagi tetap bekerja walau tanpa new normal. Sementara Relawan Laporcovid-19 yang juga Ketua Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia, Ahmad Arif menilai kondisi ke depan adalah kondisi tidak normal. Pemerintah harus mampu mengendalikan pandemi dan menurunkan penyebaran virus corona, atau alih-alih new normal, yang terjadi justru bencana baru. Organisasi Muhammadiyah juga mengkritik dan skeptis dengan kebijakan ini. Data primer dari ratusan jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah menunjukkan tren Covid 19 di Indonesia belum melandai. Berdamai dengan Covid 19 bukanlah sikap yang tepat, apalagi akan banyak nyawa masyarakat Indonesia yang dipertaruhkan. Dan masih banyak lagi kritik terhadap kebijakan kenormalan baru yang pada intinya dianggap tidak tepat waktunya karena belum memenuhi syarat untuk menerapkannya.

Sebagai catatan, ada beberapa syarat yang direkomendasikan WHO bagi negara yang hendak menerapkan new normal. Pertama, transmisi atau penularan Covid-19 terbukti sudah dapat dikendalikan. Indikator yang biasa digunakan adalah basic reproduction number (biasa dilambangkan dengan R0/ R naught) yaitu angka yang menunjukkan daya tular virus dari seseorang ke orang lain. Nilai R0 pada suatu waktu (t) atau biasa disebut effective reproduction number (Rt) haruslah lebih kecil dari 1 (satu) sehingga pelonggaran atau new normal dapat diterapkan. Bahkan idealnya, nilai Rt kurang dari 1 ini harus konsisten di bawah 1 (satu) selama dua pekan (14 hari) untuk memastikan transmisi Covid 19 sudah dapat dikendalikan. Kedua, sistem kesehatan terbukti memiliki kapasitas dalam merespon pelayanan Covid-19, mulai dari mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, hingga mengkarantina. Jangan sampai ketika terjadi gelombang baru akibat pelonggaran, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan menjadi overload. Ketiga, adanya mitigasi risiko pandemi khususnya untuk wilayah dan kelompok orang yang rentan terjangkit Covid-19, misalnya di panti jompo, fasilitas kesehatan termasuk Rumah Sakit Jiwa, ataupun pemukiman padat penduduk. Keempat, implementasi pencegahan penularan Covid-19 di tempat kerja dan tempat umum dengan penyediaan fasilitas fisik dan penerapan prosedur kesehatan. Kelima, risiko penyebaran imported case dapat dikendalikan. Keenam, adanya keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan masa transisi kenormalan baru.

Faktanya, berbagai persyaratan tersebut memang belum terpenuhi. Nilai Rt di beberapa wilayah Indonesia yang akan diterapkan new normal, termasuk DKI Jakarta, masih di atas 1 (satu). Penambahan jumlah kasus baru corona pun masih ratusan setiap harinya, lebih tinggi dibandingkan penambahan jumlah pasien yang sembuh. Kurva penyebaran virus corona pun relatif masih terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda akan melandai dalam waktu singkat. Belum lagi, rasio jumlah tes corona dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia tergolong paling rendah di antara negara-negara dengan jumlah kasus corona minimal lima digit. Artinya, bisa jadi jumlah kasus positif corona (termasuk jumlah korban jiwa akibat corona) di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan data yang selama ini dipublikasikan. Singkatnya, new normal hanyalah ilusi sebab syarat dan ketentuannya belum terpenuhi, namun tetap akan diimplementasi.

Pun demikian, kenormalan baru adalah ilusi yang bisa dipahami. Ketika masyarakat lebih takut mati karena kelaparan dibandingkan mati karena virus. Ketika pemerintah sudah tidak lagi mampu membiayai. Ketika berbagai wacana dan teori konspirasi virus corona semakin ramai dan tidak dihalangi. Ketika pemimpin bukan hanya membiarkan, namun mencontohkan untuk tidak patuh prosedur. Ketika ekonomi menjadi panglima, yang siap menumbalkan sektor lainnya termasuk kesehatan dan pendidikan. Se-absurd apapun, kenormalan baru akan mentolerir dan menjadi solusi atas itu semua.

Masyarakat tak perlu takut menghadapi virus corona, toh berbagai virus mulai dari influenza hingga HIV bisa jadi ada setiap saat di semua tempat. Karenanya sebagian masyarakat menyambut kenormalan baru dengan euforia. Tidak perlu khawatir berlebihan dalam beraktivitas, harapan hidupnya pun semakin tinggi. Ketika Covid-19 diposisikan sebagai ilusi yang menebar ancaman dan ketakutan, new normal adalah ilusi yang memberikan harapan. Harapan untuk kembali menjalani hari-hari tanpa ketakutan. Harapan berdamai dengan virus dan membentuk sistem imun. Harapan kesejahteraan ekonomi semakin membaik. Dan berbagai harapan yang bisa jadi hanya sebatas angan. Entah sekadar harapan semu atau harapan yang akan mewujud biarlah imunitas dan waktu yang menjawabnya.

Akhirnya, masyarakat termasuk garda terdepan Covid-19 hanya bisa berdamai dengan kebijakan new normal. Ya, berdamai dengan kebijakan, bukan dengan virus yang tidak mengenal negosiasi. Tak bisa melawan. Tak punya posisi tawar. Apalagi bagi mereka yang tak punya pilihan dalam menentukan aktivitas pekerjaannya. Semuanya hanya bisa bekerja sesuai dengan tupoksinya, dan biarkan kenormalan baru menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Hidup mati adalah takdir yang tak perlu ditakuti, apalagi hanya dari virus yang terlihatpun tidak. Dalam ketidakjelasan, bukankah lebih baik hidup dengan harapan dibandingkan hidup dengan ketakutan?

Karena beban tanggung jawab dipindahkan ke individu masyarakat, maka pemerintah bisa beralih fokus untuk mengerjakan proyek selanjutnya. Apalagi keberadaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) nomor 1 tahun 2020 terkait penanganan pandemi Covid 19 sangat berpihak kepada pemerintah. Mulai dari keleluasaan menggunakan anggaran dengan dalih penanganan pandemi, hingga kekebalan hukum untuk disalahkan dalam upayanya mengatasi pandemi Covid 19. Proyek-proyek bisa kembali dijalankan, termasuk proyek pilkada. Biarlah rakyat mengais recehan untuk dapat meneruskan kehidupan. Biarlah para pengangguran dan pulahan juta korban PHK mati-matian untuk survival di tengah pandemi Covid-19. Semoga saja kebijakan new normal ini sudah direncanakan dengan matang dan tidak didasari pada kepentingan pragmatis golongan. Sehingga ribuan korban jiwa, termasuk puluhan tenaga medis tidaklah mati sia-sia. Untuk kemudian menuntut haknya di akhirat. Sehingga semua pihak bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil. Tidak kemudian lepas tangan ketika kondisi memburuk. Sehingga harapan baik bukan sebatas ilusi, namun menjadi impian yang akan diperjuangkan, dan do’a yang akan terwujud. Tetap normal dalam new normal.

“Hope and fear cannot occupy the same space. Invite one to stay.” (Maya Angelau)

Ini Tentang Kita, Bukan Tentang Saya

“The only way we’re going to get through this is if we think as WE, not ME…”

Kutipan di atas saya ambil dari sebuah video pendek berjudul “Covid-19 Hoarder Rips People Off, A Stranger Teaches Him A Lesson”. Video tersebut berkisah tentang seorang anak muda yang memborong berbagai macam barang yang dibutuhkan di masa pandemi Covid-19 ini (emergency supplies) seperti tisu, toilet paper, hand sanitizer, dan sebagainya untuk dijual lebih mahal. Kemudian ada ‘a stranger’, wanita penderita diabetes yang membutuhkan insulin syringes (alat suntik insulin) dan tidak menemukannya di toko manapun. Singkat cerita, wanita ini akhirnya membeli alat suntik insulin dari anak muda dengan seluruh uang yang dimilikinya karena harganya yang dinaikkan lima kali lipat. Tak lama kemudian, anak muda tersebut dihubungi ibunya yang jatuh sakit dan segera pulang. Ternyata ibunya yang menderita diabetes kehabisan alat suntik insulin dan memaksakan dirinya mencari kemana-mana namun tidak menemukannya di toko manapun sehingga jatuh sakit. Di saat anak muda tersebut menyesali keputusannya menjual alat suntik insulin, ‘a stranger’ tadi datang dan membantu ibunya tanpa pamrih. Video ditutup dengan anak muda tadi yang memberikan emergency supplies yang dimilikinya secara gratis kepada yang membutuhkan. Terdengar klise memang, namun saya tertarik dengan kutipan di atas yang berulang kali disampaikan dalam video tersebut.

Kenyataannya, pandemi Covid-19 ini memang mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak sebagai ‘kita’, bukan sebagai pribadi masing-masing. Tidak sedikit orang yang positif terpapar virus corona atau mereka yang harus dikarantina yang lebih cepat pulih dengan masyarakat sekelilingnya yang membantu kebutuhan hariannya sementara mereka tak boleh kemana-mana. Di sisi lain juga tidak sedikit orang yang berpotensi terpapar virus corona, termasuk tenaga medis, yang diusir dari lingkungan yang tidak mendukungnya. Padahal pandemi Covid-19 ini hanya bisa kita lalui dengan saling menolong dan tidak egois, sebab tidak banyak yang punya sumber daya untuk melaluinya seorang diri.

Barangkali ada benarnya mereka yang beranggapan bahwa negara-negara sosialis lebih mampu menghadapi pandemi Covid-19 dibandingkan negara-negara liberalis yang cenderung mengakomodir ego individu. Di Asia Tenggara misalnya, Vietnam dan Laos yang berpaham sosialis berhasil mencatatkan nol kematian akibat virus corona dengan recovery rate mencapai 81.25% (Vietnam) dan 73.68% (Laos). Di Asia Tenggara hanya Kamboja yang lebih baik. Tidak perlu dibandingkan dengan Indonesia atau Filipina yang tergolong tinggi case fatality rate (CFR)nya (sekitar 6.6%), bahkan Singapura yang teknologinya lebih maju pun kesulitan menghadapi virus Corona. Singapura yang merepresentasikan kekuatan liberalis di Asia Tenggara mencatatkan kasus positif corona tertinggi di Asia Tenggara dengan 22 korban jiwa (CFR hanya 0.08%) dengan recovery rate hanya 33.3%. Kuba, negara sosialis di Amerika Utara juga kurva Covid-19nya sudah menurun. Dengan CFR 4.2% dan recovery rate hampir 80%, Kuba jauh lebih baik dibandingkan negara liberalis di Amerika Utara seperti USA dan Kanada. Bahkan China sebagai negara sosialis dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan menjadi negara dimana virus corona bermula, hanya menempati posisi ke-13 dalam urutan jumlah kasus positif corona dan jumlah korban meninggal akibat corona, dengan recovery rate mencapai 94.3%. Lebih baik dibandingkan USA dan beberapa negara liberalis di Eropa.

Memang faktor utama dalam menghadapi pandemi Covid-19 bukan perkara negara sosialis atau liberalis, lebih kepada penyikapan pemerintah dan rakyatnya. Namun kepatuhan akan larangan berkumpul dan keluar rumah tanpa keperluan, atau kebiasaan untuk saling berbagi sama rata sama rasa tentu akan mendukung terhentinya penyebaran virus corona. Disinilah pentingnya ego pribadi bisa ditekan untuk kepentingan bersama. Mereka yang hanya mementingkan dirinya tanpa peduli orang lain akan berpotensi membahayakan orang lain. Ketika merasa sehat, mereka tak mengindahkan peraturan untuk tetap di rumah walaupun berpotensi menjadi carrier bagi virus corona bahkan menjadi orang tanpa gejala. Ketika positif corona, mereka baru merasa perlu berbagi penyakit dengan orang lain, mulai dari menjilat dan meludah di sembarang tempat hingga memeluk orang lain. Ego pribadi yang justru mencelakakan orang lain.

Parahnya lagi jika penyakit mementingkan diri sendiri ini menjangkiti pejabat dan pemerintah. Kebijakan yang diambil bukan untuk kemaslahatan bersama. Menguntungkan diri dan kelompoknya tanpa peduli masyarakat semakin bingung dan kesusahan. Hukum dibuat dan diimplementasikan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di satu sisi menuntut rakyat untuk menghadapi berbagai masalah dengan gotong-royong, di sisi lain tidak mau berkorban untuk memberikan sumbangsih apapun. Kalaupun ada kontribusi, selalu ada hitung-hitungannya: tidak merugikan diri sendiri atau harus ada return yang besarnya senilai atau lebih besar. Jauh dari nilai-nilai Pancasila. Jauh dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pemerintah yang berpikir ‘saya’ ini jauh lebih berbahaya ketimbang pribadi yang berpikir ‘saya’, sebab dampak dari kebijakan akan jauh lebih besar dibandingkan dampak dari personal yang masih bisa dihadapi dengan personal lain yang berpikir ‘kita’.

Bukan hanya pemerintah, pengusaha atau pemilik perusahaan atau pemimpin dalam berbagai lingkup kepemimpinan juga bisa memberikan dampak yang besar dalam memilih untuk berpikir ‘saya’ atau ‘kita’. ‘Saya’ akan berpotensi bersikap sewenang-wenang untuk menyelamatkan diri sendiri, sementara ‘kita’ akan berupaya mencari solusi terbaik bagi semua orang. Sayangnya, sebagian besar masyarakat hanyalah ‘butiran pasir’ yang tidak memiliki kewenangan untuk memilih. Masyarakat hanya menjadi pihak yang terdampak dan bukan memberikan dampak. Karenanya ‘butiran pasir’ ini perlu bersatu dan bergotong-royong menjadi ‘kita’ yang memiliki kekuatan. Jika kekuatannya tidak cukup memberikan dampak besar, setidaknya cukup untuk saling membantu di antara ‘kita’. Sudah banyak inisiatif masyarakat yang membuat anggota masyarakatnya tetap survive menghadapi pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap krisis ekonomi masyarakat. Kepedulian masyarakat ‘kita’ sangatlah tinggi, pun dampaknya mungkin terbatas.

‘Indonesia Terserah’ adalah gambaran betapa sebagian masyarakat lelah menjadi ‘kita’ sementara sebagian masyarakat lainnya bahkan pemerintah malah memilih menjadi ‘saya’. Ketika semua masyarakat sudah lelah, ‘Indonesia Terserah’ akan menjadi ‘Indonesia Menyerah’. Memang butuh kepedulian dan keteladanan dari pemerintah untuk mengubah ‘Indonesia Terserah’ menjadi ‘Indonesia Peduli’. Namun pada akhirnya, setiap diri kita hanya bisa mengubah apa yang ada pada lingkar kendali kita. Cukup menjadi pribadi yang berpikir dan bersikap ‘kita’ untuk menyelamatkan lingkungan kita. Sehingga tidak ada keluarga, tetangga, teman, ataupun kerabat kita yang gagal melalui pandemi Covid-19 hanya karena ketidakpedulian kita. Kontribusi minimum ‘kita’ adalah dengan tidak membahayakan atau mencelakakan orang lain. Bahkan jika sebagian besar masyarakat memilih menjadi ‘saya’, mungkin akan ada satu titik dimana ‘kita’ perlu berpikir ‘saya’ untuk menyelamatkan ‘kita’. Agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap sehat dan selamat untuk mempertahankan eksistensi ‘Kita Indonesia’. Dan agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap optimis berusaha dan berdoa agar Indonesia mampu melalui pandemi Covid-19 ini.

Semoga ‘saya’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, tanpa adanya si ‘dia’…

Menjadi Manusia Kuat

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Lagu berjudul ‘Manusia Kuat’ dari Tulus itu kembali terdengar di tengah pandemi Covid-19. Lagu yang merupakan salah satu official song Asian Para Games 2018 ini memang kental nuansa motivasi untuk mengatasi segala rintangan menjadi manusia kuat. Asian Para Games adalah suatu perhelatan olahraga penyandang disabilitas terbesar di Asia. Selain ‘Manusia Kuat’, official songs Asian Para Games 2018 lainnya adalah ‘Dream High’, ‘Sang Juara’, ‘Kita Semua Sama’, dan ‘Song of Victory’. Lagu ‘Dream High’ yang dinyanyikan Sheryl Sheinafia berkolaborasi dengan penyanyi tunantra, Claudya Fritska, juga memiliki konten motivasi pantang menyerah untuk menggapai impian. Selain Claudya, penyanyi tunanetra lainnya yang turut menyanyikan official songs adalah Allafta Hidzi Sodiq (Zizi) yang mendampingi Adyla Rafa Naura Ayu (Naura) menyanyikan ‘Sang Juara’ dan Putri Ariani yang bersama artis lainnya membawakan ‘Song of Victory’. Mereka dan para atlet Asian Para Games sudah membuktikan jalan menjadi manusia kuat yang berani berjuang dalam kondisi bagaimanapun untuk meraih cita dan impian.

Kau bisa patahkan kakiku, tapi tidak mimpi-mimpiku…
Kau bisa lumpuhkan tanganku, tapi tidak mimpi-mimpiku…

Ketika lagu ‘Manusia Kuat’ ini kembali menggema di tengah wabah virus corona, pesan yang disampaikan juga sama. Selalu ada harapan di tengah segala ujian. Yang terpenting adalah menguatkan jiwa kita, dan melengkapinya dengan usaha terbaik untuk keluar sebagai pemenang. Mentalitas dan sugesti positif memiliki makna penting untuk melawan penyakit. Jangan sampai kalah sebelum berperang. Pikiran dan sikap mental negatif akan melemahkan sistem imunitas sehingga fisik lebih rentan terhadap penyakit. Relaksasi pikiran dan berdamai dengan jiwa menjadi langkah penting untuk menangkal virus corona. Tentu harus disertai dengan upaya terbaik lainnya. Sehingga yang muncul bukan sikap menyepelekan, namun tetap tenang dalam kehati-hatian.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ukuran utama manusia yang kuat bukanlah ukuran fisik, namun ukuran kebesaran jiwanya. Kemampuan mengendalikan jiwanya dalam kondisi emosi, dan keberanian untuk memaafkan. Menurut Imam Ibnu Battal, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’, hadits tersebut menunjukkan bahwa berjuang mengendalikan nafsu itu lebih berat dari pada berjuang melawan musuh. Imam Ibnu Hajar menambahkan bahwa musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan yang ada pada dirinya dan nafsunya. Sementara marah itu timbul dari keduanya. Oleh karana itu, barangsiapa yang bisa berjuang melawan amarahnya sampai bisa mengalahkannya disertai juga dengan melawan nafsunya maka ialah orang yang paling kuat.

Kau bisa merebut senyumku, tapi sungguh tak akan lama…
Kau bisa merobek hatiku, tapi aku tahu obatnya…

Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga mengendalikan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa, termasuk mengendalikan amarah. “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’” (HR. Bukhari dan Muslim). Ramadhan adalah momentum tepat untuk upgrading diri menjadi manusia kuat. Bukan hanya sehat fisik karena berpuasa, namun juga kuat jiwa karena terbiasa mengendalikan hawa nafsu.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

…Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…”, demikian salah satu petikan lirik lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, karya W.R. Supratman. Untuk membangun Indonesia, dibutuhkan jiwa-jiwa yang terbangun, dan badan-badan yang terbangun. Tentu bukan tanpa alasan kata ‘jiwa’ dituliskan lebih dulu dari kata ‘badan’. Karena bagaimanapun, bangsa yang kuat dibangun dari jiwa yang kuat, baru kemudian badan yang kuat. Semangat pantang menyerah dan berjuang hingga titik darah penghabisan adalah salah satu perwujudan dari jiwa yang kuat tersebut. Bahkan di stanza lain lagu ‘Indonesia Raya’, lirik tersebut diganti dengan “…Sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya…”. Semakin meneguhkan untuk membangun Indonesia butuh kejernihan hati dan keluhuran budi, tidak cukup hanya pembangunan fisik belaka.

Kau bisa hitamkan putihku, kau takkan gelapkan apa pun…
Kau bisa runtuhkan jalanku, ‘kan kutemukan jalan yang lain…

Berbagai macam ujian dan cobaan sejatinya adalah pupuk untuk menumbuhkan jiwa yang kuat. Bagaimanapun, pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang. Masalah dan kendala selalu ada dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Putus asa bukanlah pilihan sebab jalan keluar selalu tersedia. Jiwa yang kuat inilah yang akan membentuk pribadi yang kuat. Yang kemudian akan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara yang kuat. Perkara jiwa adalah perkara kemauan, bukan kemampuan. Karenanya, akhirnya berpulang ke pribadi masing-masing, maukah menjadi manusia kuat yang memiliki jiwa yang kuat? Sisanya, biarlah Sang Pemilik Jiwa yang akan menguatkan siapa yang dikehendaki-Nya.

“…Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Ali Imran: 13)

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (2/2)

Kurva Covid-19 di Spanyol juga sudah mulai menurun sepekan terakhir walaupun tidak sedrastis Jerman. Dengan fatality rate sebesar 10.2% dan recovery rate 57.6%, setidaknya butuh waktu sebulan bagi Spanyol untuk pulih dari pandemi Covid-19. Artinya, jika penurunan kasus Coronanya sesuai tren, rencana La Liga untuk kembali bergulir pada 6 atau 13 Juni 2020 masih mungkin terjadi. Di puncak klasemen, Barcelona sementara ini unggul dua pon dari rivalnya, Real Madrid. Sementara di dasar klasemen, Espanyol hanya berjarak enam poin dari Celta Vigo di posisi ke-17. Dengan masih adanya 11 pertandingan tersisa, klasemen akhir masih sangat mungkin berubah. Namun rencana melanjutkan La Liga sangatlah berisiko mengingat Spanyol merupakan negara dengan kasus Corona tertinggi ke-2 di dunia, kasus baru per harinya masih di atas 2.700 kasus dan jumlah korban jiwa baru setiap harinya di masih di atas 250 orang. Belum lagi, pertandingan Liga Champion yang disinyalir menyebarkan virus Corona di Eropa dua di antaranya melibatkan klub La Liga, yaitu Valencia (vs Atalanta) pada 10 Maret 2020 dan (Liverpool vs) Atletico Madrid pada 11 Maret 2020. Jika La Liga akan kembali bergulir, pengelolaannya harus sangat ketat.

Beberapa hari lalu, Perancis menyusul Belgia dan Belanda membatalkan liga domestiknya. Paris Saint-Germain (PSG) yang unggul 12 angka di atas Marseille di posisi runnerup dan masih mempunyai tabungan satu pertandingan lebih banyak baru saja disahkan menjadi juara Ligue 1. Dua peringkat terbawah, Toulouse dan Amiens terdegradasi digantikan juara Ligue 2 Lorient dan runner-upnya Lens. Nimes tetap bertahan di Ligue 1 walaupun ada di posisi ke-18 sebab tidak ada playoff promosi-degradasi dengan peringkat ke-2 Ligue 2. Seperti halnya Belgia, kurva Covid-19 baru akan mencapai puncak, dengan fatality rate 14.6% dan recovery rate 29,6%. Dengan jumlah kasus yang jauh lebih banyak dibandingkan Belgia dan Belanda, sepertinya butuh lebih dari dua bulan bagi Perancis untuk pulih dari pandemi Covid-19. Entah bagaimana nasib Lyon dan PSG di Liga Champions. Laga Liga Champions antara Lyon (vs Juventus) pada 26 Februari 2020 dan PSG (vs Dortmund) pada 11 Maret 2020 sendiri dianggap mempercepat penyebaran virus corona di Perancis.

Italia termasuk negara yang dianggap kurang baik dalam penanganan Covid-19. Kurvanya sudah mulai menurun 11 hari terakhir namun tidak signifikan. Jika trennya tetap tanpa terjadi percepatan, masih butuh sekitar 5 bulan untuk Italia agar kembali normal. Dengan fatility rate 13.6% dan recovery rate 37%, Italia sebenarnya tidak lebih buruk dari Belgia atau Perancis. Bahkan jumlah kasus baru dan korban jiwa baru di Italia masih lebih rendah dari Spanyol. Namun kecepatan pemulihannya masih sangat rendah untuk jumlah kasus yang sedemikian besar. Pemain Serie A rencana akan mulai latihan mandiri pada 4 Mei 2020 dan bersama tim pada 18 Mei 2020. Serie A sendiri rencananya akan dimulai kembali 2 Juni 2020 tanpa penonton hingga akhir tahun ini. Di klasemen sementara, Juventus memimpin klasemen dengan poin 63, dibayang-bayangi Lazio (poin 62) dan Inter Milan (poin 54, dengan 1 pertandingan lebih banyak). Sementara juru kunci Brescia (poin 16) hanya berjarak 9 poin dari Genoa di posisi ke-17. Dengan masih menyisakan 12 – 13 pertandingan, klasemen akhir masih mungkin berubah. Namun keputusan melanjutkan Liga Italia memiliki risiko yang sangat tinggi, apalagi setidaknya ada 16 pemain dari 6 klub Serie-A yang pernah dan masih positif Corona.

Sementara itu, total kasus corona di Inggris mencapai 118.343 dengan fatality rate mencapai 20.4%, tertinggi di antara negara lainnya, dengan kasus terbesar di London yang mencapai 24.297 kasus. Walaupun risikonya masih sangat tinggi, Premier League direncanakan akan dimulai kembali pada 8 atau 13 Juni 2020. Di klasemen sementara, Liverpool sendirian di puncak dengan keunggulan 25 poin dari posisi runner-up Manchester City yang memiliki satu pertandingan lebih banyak. Dengan 9 pertandingan tersisa, Liverpool hanya butuh dua kemenangan untuk mengunci gelar juara setelah penantian 30 tahun. Sementara perebutan jatah Liga Champion, Liga Eropa, dan tidak terdegradasi masih cukup ketat.

Hanya klub-klub dari lima liga terbaik di Eropa yang masuk fase gugur 16 besar Liga Champions, sementara untuk Liga Eropa jumlah negara yang terlibat lebih banyak lagi. Di fase gugur 16 besar Liga Eropa masih ada Istanbul Basaksehir (Turki), FC Copenhagen (Denmark), LASK (Austria), FC Basel (Swiss), Olympiacos (Yunani), Rangers (Skotlandia), Shakhtar Donetsk (Ukraina). Kurva Covid-19 di Turki dan Denmark mulai turun, mungkin butuh 1.5 bulan untuk kembali normal. Austria dan Swiss bahkan bisa pulih lebih cepat. Yunani dan Skotlandia juga relatif turun, hanya Ukraina yang kurva Covid-19nya masih relatif naik. Secara umum, jika kompetisi di Eropa akan dilanjutkan pada Agustus 2020 relatif masih memungkinkan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Asia, Korea Selatan dan Vietnam bersiap untuk kembali memulai liga domestiknya beberapa waktu ke depan. Dengan recovery rate di atas 80%, kedua negara ini hampir berhasil menuntaskan pandemi Covid-19 di negaranya. Indonesia sepertinya perlu lebih bersabar dan tidak tergesa-gesa untuk memulai kembali liga domestik. Walaupun fatality ratenya sudah turun ke angka 7.8%, recovery rate Indonesia baru di angka 15%. Kurva belum mencapai puncak pula. Setidaknya butuh waktu dua bulan lebih bagi Indonesia untuk kembali pulih. Bagaimanapun, lanjutnya liga domestik bukan cuma perkara olahraga, namun ada kepentingan bisnis di dalamnya. Karenanya, selain pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan, faktor keuangan dan ekonomi juga akan menjadi pertimbangan. Indonesia perlu wawas diri, tidak perlu ikut-ikutan apalagi sombong. Yakinlah, badai Corona akan berlalu, dan sepakbola akan kembali memulai babak baru.

You hear now more and more it’s not only the elderly and weaker – it’s not only that, there are younger people involved who can die of it as well. It’s not about that, it’s about just, show heart and a bit of sensibility and do the right thing: stay at home as long as we have to. And then at one point we will play football again as well, 100 per cent. I couldn’t wish more for it because of a few really good reasons, how you can imagine. I can’t wait actually, but even I have to be disciplined and I try to be as much as I can.” (Jurgen Klopp)

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (1/2)

Pemerintah dan otoritas sepak bola memperlakukan para pemain seperti kelinci percobaan selama pandemik virus corona.” (Wayne Rooney)

Per 30 April 2020, jumlah kasus corona di Indonesia menembus lima digit menjadi 10.118 kasus. Walaupun tingkat kesembuhannya sudah lebih meningkat dibandingkan dengan tingkat kematian, namun angkanya masih di bawah jumlah kasus baru. Sehingga secara umum kurvanya belum turun. Amerika Serikat masih tak terkejar di peringkat teratas dengan 1.066.885 kasus atau sekitar 32.8% dari total kasus dunia. Jika melihat jumlah kasus baru sebulan terakhir yang di atas 20 ribu setiap harinya, ditambah faktor pemerintah dan masyarakatnya, pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sepertinya masih akan lama. Tepat di bawah Amerika Serikat, negara-negara dengan kasus corona terbanyak berturut-turut adalah Spanyol (239.639 kasus), Italia (203.591), Perancis (166.420), United Kingdom (165.221), dan Jerman (161.985). Lima negara Eropa yang sekaligus memiliki liga sepakbola terbaik di Eropa. Liga-liga terbaik yang saat ini tidak dapat berlangsung terimbas pandemi Covid-19.

Tiga tahun terakhir, final liga champions 2017 – 2019 terjadi di bulan Ramadhan (1438 – 1440H), menemani makan sahur. Sementara pada Ramadhan 1437H ada gelaran Piala Eropa 2016 yang menemani santap sahur. Terlepas dari aktivitas yang lebih produktif seperti shalat dan tilawah di bulan Ramadhan, bagi para pencinta sepakbola terasa ada yang hilang selama sebulan lebih ini. Apalagi jika dalam kondisi normal, beberapa pekan ke depan seharusnya bisa ada beberapa partai penentuan juara liga-liga top dunia. UEFA berharap liga-liga domestik dilanjutkan dan diselesaikan paling lambat 2 Agustus 2020, namun yang terjadi justru beberapa negara menghentikan liga sepakbolanya. Belgia menjadi negara pertama yang membatalkan liga domestiknya pada 2 April 2020 lalu, dan menetapkan Club Brugge sebagai juara Jupiler League 2019/2020. Club Brugge memang sudah mengunci gelar sebelum Jupiler League dihentikan akibat Covid-19. Club Brugge mengakhiri kompetisi sebagai pemuncak klasemen dengan selisih 15 poin dari Gent di posisi runner-up dengan hanya satu pertandingan tersisa. Tidak ada degradasi di Jupiler League, namun dua tim teratas di Divisi II yang memang sudah menyelesaikan turnamennya akan promosi ke Jupiler League.

Belgia ada di urutan ke-13 kasus positif Corona dengan 48.519 kasus. Fatality rate yang mencapai 15.7% termasuk yang tertinggi di dunia sementara recovery ratenya hanya 23.9%. Kurvanya baru akan mencapai puncak sehingga mungkin butuh dua bulan lagi bagi Belgia untuk pulih. Pekan lalu giliran liga Belanda yang dibatalkan dan beberapa hari lalu liga Argentina juga mengambil sikap yang sama. Berbeda dengan liga Belgia, tidak ada juara dan tidak ada degradasi di liga Belanda dan liga Argentina. Keputusan ini jelas tidak menguntungkan Ajax Amsterdam yang menjadi pemuncak klasemen sementara Eredivisie dengan 56 poin yang hanya unggul selisih gol dengan AZ Alkamaar di posisi runner-up. Dengan menyisakan 9 pertandingan, Feyenoord (50 poin) dan PSV Eindhoven (49 poin) masih berpeluang mengejar. Jatah playoff Liga Eropa (posisi 4 – 7) pun masih ketat. Namun keputusan ini jelas menguntungkan RKC Waalwijk dan ADO Den Haag yang ada di posisi degradasi. Belanda ada di urutan ke-14 kasus positif Corona dengan 39.316 kasus dan fatality rate 12.2%. Kurvanya juga belum mencapai puncak dan mungkin butuh sedikit lebih lama untuk pulih dibandingkan Belgia. Sementara itu di Argentina, Boca Junior yang memimpin klasemen dengan keunggulan satu poin dari River Plate juga gagal menjadi juara Superliga. Namun dengan liga yang baru separuh jalan, apapun masih mungkin terjadi di Superliga. Memang kurva Covid-19 nya masih relatif naik, namun Argentinya sebenarnya hanya ada di urutan ke-53 kasus positif Corona dengan 4.285 kasus, fatality rate 5% dan recovery rate 28%. Jauh lebih baik dari negara Amerika Selatan lainnya semisal Brazil, Peru, atau Ekuador yang masuk peringkat 20 besar kasus Corona.

Jika melihat data dan kurva penyebaran Covid-19, dari lima liga top Eropa, barangkali hanya liga Jerman yang relatif realistis untuk melanjutkan liga. Walaupun jumlah kasus Corona di Jerman ada di peringkat ke-6 dunia dan berjarak cukup jauh dari Turki (117.589 kasus) di peringkat ke-7, namun kasus Corona yang terselesaikan di Jerman mencapai 80.3%. Case fatality ratenya hanya 4% sementara recovery ratenya mencapai 76.2%. Dalam tiga pekan terakhir, jumlah pasien yang sembuh di Jerman relatif lebih banyak dibandingkan jumlah kasus, sehingga jumlah orang yang terinfeksi menurun drastis dari 72.865 orang pada 6 April 2020 menjadi hanya 32.886 orang per 30 April 2020. Jika tren ini berlanjut, pandemi Covid-19 akan berlalu dari Jerman dalam waktu kurang dari tiga pekan ke depan. Atau mungkin sedikit lebih lama mengingat sudah lebih dari sebulan ini Jerman turut membantu merawat pasien Covid-19 dari negara lain. Liga Jerman rencana dilanjutkan pada 9 Mei 2020 tanpa penonton. Kalaupun harus diundur sampai akhir Mei 2020, dengan sisa 9 pertandingan (kecuali Eintracht Frankfurt dan Werder Bremen yang punya 1 pertandingan lebih banyak), Bundesliga masih sangat realistis diselesaikan sebelum 2 Agustus 2020. Bundesliga saat ini bisa dikatakan menjadi liga terketat dari lima liga top Eropa. Bayern Munchen di puncak klasemen (55 poin) dibayang-bayangi oleh Borussia Dortmund (51), RasenBallsport Leipzig (50), Borussia M.Gladbach (49), dan Bayer Leverkusen (47). Perebutan tempat terakhir di fase knockout Liga Eropa (peringkat 6) juga masih sangat ketat. Sementara di jurang degradasi, Paderborn, Werder Bremen, dan Fortuna Duesseldolf masih harus bekerja keras untuk bisa selamat.

(bersambung)

Titik Balik Indonesia Tanpa Corona

Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.” (Ibnu Sina)

Per 16 April 2020, kasus positif corona di Indonesia bertambah 380 kasus menjadi 5.516 kasus dengan korban jiwa mencapai 496 orang. Melihat data peningkatan jumlah kasus positif corona 11 hari terakhir yang selalu di atas 200 kasus, ditambah case fatality rate Indonesia yang hampir 9% sepertinya perjuangan Indonesia melawan wabah COVID-19 masih akan cukup panjang. Namun dibalik itu, jumlah penduduk positif corona yang sembuh mencapai 548 orang dan akhirnya telah berhasil melampaui angka kematian akibat corona. Recovery rate Indonesia memang baru 9.9%, namun capaian ini membawa harapan positif bahwa badai corona akan berlalu dari bumi Indonesia.

Greenland saat ini menjadi satu-satunya negara yang berhasil melalui badai corona ini. Negara yang secara administratif masuk dalam Kerajaan Denmark ini berhasil mencetak recovery rate 100% per 8 April 2020. Dari 11 penduduk di pulau terbesar di dunia ini, semuanya dinyatakan sembuh. Memang Greenland sangat responsif. Setelah kasus pertama ditemukan, ibukota Nuuk yang menjadi pusat penyebaran COVID 19 langsung lockdown. Mobilitas 57 ribu penduduknya langsung dibatasi, pintu buat wisatawan ditutup, penduduk yang berpotensi terpapar virus corona segera dikarantina. Alhasil, hanya dalam rentang 23 hari sejak kasus pertama diumumkan pada 17 Maret 2020, negara yang 80% wilayahnya tertutup salju ini dinyatakan bebas dari virus corona.

Terlepas dari potensi terjangkit kembali, recovery rate yang tinggi baik dibandingkan dengan kasus ataupun fatality rate akan sejalan dengan menurunnya kasus corona aktif. Hal ini jelas terlihat dari China dan Korea Selatan yang sejak bulan lalu kurva penyebaran COVID 19nya sudah menurun. Terlepas dari laporan intelijen AS yang menyatakan bahwa China berbohong tentang jumlah kasus dan jumlah korban jiwa akibat COVID 19, dari data resmi yang dilaporkan pemerintah, recovery rate China mencapai 94.6% sementara fatality ratenya hanya 4.1%. Sementara itu, recovery rate Korea Selatan di angka 73,1% dengan fatality rate hanya 2.2%. Kabar baiknya, semakin banyak negara yang memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi dan kurva penyebaran COVID 19nya sudah mulai menurun.

Jerman dengan recovery rate di angka 53,9% dan fatality rate sebesar 2,9% menjadi satu-satunya negara dengan jumlah kasus lebih dari 100 ribu yang kurva COVIDnya mulai menurun. Berbeda dengan AS, Spanyol, Italia, Perancis, dan Inggris yang perbandingan recovery rate dengan fatality ratenya tidak terlalu jauh. Padahal Jerman turut menampung pasien dari beberapa negara Eropa lain sehingga jumlah kasus dan angka kematiannya sempat meningkat signifikan. Negara lain dengan jumlah kasus positif corona mencapai lima digit namun kurvanya sudah mulai menurun adalah Iran (77.995 kasus, recovery rate 67%, fatality rate 6,2%), Brazil (30.425 kasus, recovery rate 46,1%, fatality rate 6,3%), Swiss (26.732 kasus, recovery rate 59,5%, fatality rate 4,8%), Austria (14.476 kasus, recovery rate 62.1%, fatality rate 2.8%), dan Peru (12.491 kasus, recovery rate 49%, fatality rate 2,2%).

Kabar baiknya lagi, beberapa negara tetangga Indonesia turut menunjukkan pola serupa. Australia yang memiliki 6.468 kasus dengan recovery rate 57,9% dan fatality rate hanya 0,97%, kurva penyebaran COVID 19 nya mulai menurun. Adapun negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang kurvanya juga mulai menurun adalah Malaysia (5.182 kasus, recovery rate 53,4%, fatality rate 1,6%), Thailand (2.672 kasus, recovery rate 59,6%, fatality rate 1,7%), Vietnam (268 kasus, recovery rate 66%, fatality rate 0%), Brunei Darussalam (136 kasus, recovery rate 79,4%, fatality rate 0,7%), dan Kamboja (122 kasus, recovery rate 80,3%, fatality rate 0%). Kurva penyebaran COVID 19 di Laos juga relatif sudah mulai turun, namun karena baru ada 2 orang yang sembuh dari 19 kasus (recovery rate 10,5%) maka terlalu dini untuk disimpulkan.

Ada beberapa hal menarik dari data COVID 19 di Asia Tenggara ini. Pertama, Singapura termasuk negara maju dengan case fatility rate rendah. Dari 4.427 kasus positif corona, korban jiwa hanya 10 orang atau fatality ratenya hanya 0,2%. Namun kurva penyebaran COVID 19 di Singapura belum menurun, dimana recovery ratenya baru 15,4%. Hal ini menunjukkan pentingnya memperhatikan tingkat kesembuhan untuk dapat mengentaskan wabah COVID 19. Kedua, ada beberapa negara di Asia Tenggara yang masih nihil korban jiwa akibat COVID 19, yaitu Vietnam, Kamboja, Laos, dan Timor Leste. Brunei Darussalam pun baru mencatatkan satu korban meninggal. Entah ada hubungannya dengan iklim tropis dan sistem imun di Asia Tenggara, namun setidaknya hal ini menunjukkan bahwa korban virus corona bisa diminimalisir jika penanganannya tepat.

Mengesampingkan Timor Leste yang kasus positif coronanya baru mulai meningkat, ada pelajaran yang bisa diambil dari Vietnam, Kamboja, dan Laos yang secara geografis lebih dekat dari Wuhan, China sebagai lokasi awal ditemukannya virus corona. Walaupun kurva wabah COVID 19 di Vietnam baru mulai terlihat 6 Maret 2020, namun dari awal Februari pemerintah Vietnam sudah menghentikan penerbangan dari dan ke China, meliburkan sekolah, membatasi mobilitas masyarakat, dan mengkarantina wilayah Provinsi Vinh Punc yang memiliki banyak buruh migran dari China. Laos dan Kamboja juga bergerak cepat untuk menutup pintu masuk ke negaranya saat wabah COVID 19 mulai booming di China, serta menutup tempat umum dan keramaian. Intinya kesigapan, keseriusan, dan konsistensi dalam menangani wabah COVID 19.

Hal lain yang bisa jadi pelajaran dari data COVID 19 di Asia Tenggara adalah pentingnya tes COVID 19 yang valid sebagai dasar pemetaan dan penanganan masalah. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara baru menjalankan 36.000 tes, artinya baru 132 orang per 1 juta penduduk yang dites. Dalam hal ini, Indonesia bahkan lebih parah dari Filipina (5.660 kasus, recovery rate 7,7%, fatality rate 6,4%) yang baru menjalankan 48.171 tes yang artinya hanya 440 orang per 1 juta penduduk. Angkanya jauh jika dibandingkan beberapa negara tetangga yang kurva penyebaran COVID 19nya sudah mulai menurun. Australia telah melakukan 380.003 tes (14.902/ sejuta penduduk), Malaysia 87.183 tes (2.694/ sejuta penduduk), Thailand 100.498 tes (1.440/ sejuta penduduk), Vietnam 206.253 tes (2.119/ sejuta penduduk), dan Brunei 10.826 tes (24.746/ sejuta penduduk). Ini baru jumlah tes, belum mempersoalkan validitas hasil tes.

Bagaimanapun, harapan itu masih ada. Angka kesembuhan yang sudah lebih diri dari angka kematian semoga menjadi pertanda baik bagi Indonesia. Jika tingkat kesembuhan ini dapat meningkat signifikan dibandingkan tingkat kematian, usainya wabah COVID 19 bukan isapan jempol belaka. Pun terlambat, keseriusan penanganan wabah COVID 19 sudah mulai terlihat. Jika semua pihak menjalankan perannya secara optimal, bukan tidak mungkin virus corona dapat menyingkir lebih cepat daripada berbagai prediksi yang telah muncul. Bahkan di tengah berbagai kebijakan, sikap, dan pernyataan pejabat negara yang kontroversial, bangsa Indonesia tak boleh kehilangan asa. Sebab Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya. Mengangkat musibah adalah mudah bagi-Nya. Tinggal bagaimana kita memantaskan diri untuk memperoleh pertolongan-Nya. Jangan sombong. Terus berikhtiar, bersabar, dan bersyukur. InsyaAllah, musibah akan menjadi hikmah, segera musnah dan berganti berkah. Aamiiin…

Ya Allah, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR. Bukhari)

Data COVID-19 Indonesia, Semengerikan Itu Kah?

Without data, you’re just another person with an opinion” (W. Edwards Deming)

Ada satu ‘hobi’ baru saya beberapa pekan terakhir. Sebuah aktivitas yang memang relevan untuk dilakukan saat ini. Apakah itu? Hobi mengamati data peningkatan dan penyebaran virus corona. Menurut saya, banyak hal menarik yang bisa didapat dari pengamatan data kasus COVID 19 ini.

Sampai dengan hari Selasa, 31 Maret 2020, waktu setempat, tercatat lebih dari 850 ribu orang yang terjangkit virus corona. Amerika Serikat saat ini melaju kencang sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak, lebih dari 180 ribuan orang yang positif terpapar virus ini. China, negara dimana virus corona pertama kali muncul sementara hanya ada di urutan keempat dengan 81 ribuan kasus, di bawah Italia (105 ribuan kasus) dan Spanyol (95 ribuan kasus). Melihat tren peningkatan jumlah kasus, sepertinya tinggal menunggu waktu China akan tergeser ke urutan kelima oleh Jerman yang jumlah kasusnya sudah 71 ribuan.

China yang merupakan negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia, hanya menempati posisi kelima untuk jumlah korban jiwa wabah COVID 19 ini, yakni sebesar 3.305 orang. Peringkat teratas adalah Italia dengan 12.428 orang meninggal, diikuti oleh Spanyol (8.464 orang), Amerika Serikat (3.867 orang), dan Perancis (3.523 orang). Jika melihat trend pertumbuhan kasus dan korban, selisih korban jiwa di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa sepertinya akan semakin berjarak dengan China. Kurva di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa masih terus naik, berbeda dengan kurva di China dan Korea Selatan yang mulai melandai. Sepekan terakhir saja, di Italia dan Spanyol setiap harinya ada lebih dari 650 orang yang meninggal akibat terpapar virus corona, sementara dua pekan terakhir, korban baru COVID 19 yang meninggal di China setiap harinya tidak pernah lebih dari satu digit. Akan lebih mengerikan lagi kalau korban jiwa dibandingkan dengan jumlah penduduk, 3.000an korban jiwa dari 1,4 miliar penduduk China sangat jauh lebih kecil sekali dibandingkan 12.000an korban jiwa dari 60 jutaan penduduk Italia.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan Indonesia. Jika dihitung dari jumlah penduduk yang terkonfirmasi terpapar virus corona, Indonesia ‘masih’ ada di peringkat 37 dunia. Namun ketika indikatornya adalah jumlah korban jiwa, peringkatnya meningkat drastis ke posisi 17. Artinya, tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) Indonesia sangat mengkhawatirkan. Tingkat kematian 136 orang dari 1.528 orang yang positif COVID 19 di Indonesia atau sekitar 8,9% adalah angka yang mengkhawatirkan. Tingkat kematian ini bahkan lebih tinggi dari Spanyol (8,8%) yang memiliki angka kematian sangat tinggi. Dari 80an negara dengan kasus positif virus corona tertinggi, di atas 250 kasus, CFR Indonesia ini hanya kalah oleh Italia yang mencapai 11,7%.

Sebagai perbandingan, jumlah 1.528 kasus positif corona di Indonesia bisa disejajarkan dengan Arab Saudi (1.563 kasus) dan Finlandia (1.418 kasus). Namun korban jiwa di Finlandia yang digadang-gadang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik hanya 17 orang, CFR nya hanya 1,2%. Bahkan korban jiwa di Arab Saudi hanya 10 orang sehingga CFR nya hanya 0,6%. Jika melihat jumlah 136 korban jiwa akibat COVID 19, Indonesia barangkali bisa disejajarkan dengan Austria (128 korban jiwa). Namun jumlah kasus di Austria mencapai 10.180 yang artinya CFR nya hanya 1,3%. Adapun rata-rata CFR COVID 19 di dunia adalah 4,9%, artinya tingkat kematian akibat COVID 19 di Indonesia terbilang sangat mengkhawatirkan. Tingginya CFR di Indonesia ini bisa jadi menunjukkan banyaknya kasus positif corona yang belum teridentifikasi, dan atau menunjukkan lemahnya penanganan kasus sehingga banyak yang meninggal dunia.

Sepertinya memang kurang fair membandingkan Indonesia dengan beberapa negara di atas. Indonesia tidak bisa disamakan dengan Norwegia yang memiliki Human Development Index tertinggi. Hanya ada 39 korban jiwa dari 4.641 kasus di Norwegia, atau CFR nya 0,8%. Indonesia juga berbeda dengan Jerman yang penduduknya disiplin dan teknologinya sudah maju. Walaupun Jerman termasuk top-5 negara dengan jumlah kasus terbesar, dari 71.808 kasus, CFR nya hanya 1,1% dengan 775 korban jiwa. Bahkan kurang fair membandingkan Indonesia dengan Singapura yang hanya tercatat 3 korban meninggal akibat COVID 19, salah seorang di antaranya WNI berusia 64 tahun. Dengan 926 kasus di Singapura, CFR nya hanya 0,3%. Bagaimanapun, kedisiplinan masyarakat, kemajuan teknologi, dan optimalisasi peran pemerintah dalam memastikan kesejahteraan rakyat menjadi kunci penting dalam menghadapi wabah COVID 19 ini.

Dilihat dari luasnya wilayah, banyaknya jumlah penduduk, dan kondisi sosial masyarakatnya, Indonesia barangkali bisa dibandingkan dengan Brazil. Kondisi pendidikan, ekonomi, hingga sikap pemerintah dalam menghadapi COVID 19 juga mirip. Per 31 Maret 2020 ini, ada 5.717 kasus positif corona di Brazil dengan 201 korban meninggal. CFR sebesar 3,5% ini sepertinya ditentukan oleh penanganan kasusnya. Kasus pertama di Brazil dilaporkan sepekan sebelum laporan kasus pertama di Indonesia, padahal jarak dari Brazil ke China hampir separuh keliling dunia. Artinya, identifikasi kasus di Brazil lebih baik dibandingkan Indonesia. Seorang teman yang tinggal di Brazil bercerita, ketika anaknya sakit batuk pilek biasa beberapa pekan lalu, penanganannya seperti menangani suspect COVID 19. Setelah diisolasi dan dinyatakan negative, baru dilakukan penanganan reguler. Teman saya juga bercerita bahwa alih-alih membeli dan menggunakan alat rapid test dari China yang tingkat akurasinya rendah, Brazil memilih untuk mengembangkan alat rapid test sendiri. Jika membaca media internasional, kebijakan pemerintah Brazil sebenarnya juga tidak populer, mengedepankan ekonomi dibandingkan keselamatan rakyatnya, serta kerap beda kebijakan dengan kepala daerah. Yah, 11 12 dengan Indonesia lah. Bedanya, grassroot lebih solid dan konstruktif.

Semakin banyak data dan informasi, mungkin semakin tinggi juga kekhawatiran yang akan timbul. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menjadi bijak atau paranoid. Yang jelas, dari data seharusnya kita bisa belajar. Belajar untuk mengantisipasi, sekaligus memprediksi masa depan. Sehingga data bisa bermanfaat untuk membuat keputusan terbaik. Memang tidak mudah untuk kasus di Indonesia, mengingat tidak semua data dibuka, dan tidak semua kebijakan diambil berdasarkan data. Dan dari data kita juga bisa melihat dunia dari berbagai perspektif. Negatif – positif, pesimis – optimis. Data COVID 19 di Indonesia memang mengerikan, namun masih banyak pikiran dan sikap positif yang bisa dimunculkan. Ketika kebijakan pemerintah tidak bisa diharapkan, masih ada peran individu dan masyarakat yang bisa dioptimalkan. Tetap berikhtiar dan berkontribusi dengan apa yang dimiliki. Seraya bermunajat semoga wabah ini segera teratasi.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kusta, kegilaan, lepra, dan dari segala penyakit buruk lainnya” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Menyikapi Corona: Tenang atau Waspada?

“…Dan untuk temen-temenku yang masih suka bilang, ‘Elah Tang, santai aja, nyawa kita di tangan Tuhan’, wet Paman Boboho, kalau emang itu prinsip ente, noh lu jongkok tengah jalan tol sambil bilang ‘nyawa kita di tangan Tuhan’ kalau nggak dicipok Inova lu. Emang nyawa kita di tangan Tuhan, cuma kan harus usaha kitanya, ada ikhtiar sebelum tawakal. Nah makanya lu pas pelajaran agama, jangan main QQ, kagak masuk di kepala lu. ‘Tapi gue nggak apa-apa Tang kalau meninggal’, ya gue juga nggak apa-apa kalau lu meninggal. Asal lu meninggal jasad lu nguap gitu, ngilang. Lah lu kalau meninggal karena ngeremehin Corona, yang lain bisa kena. Yang mandiin lu, yang nguburin lu, orang catering tahlilan lu, kena. Ya Allah jahat banget lu. Dia nggak ngerti apa-apa, cuma ngebungkusin lemper doang, kena. Beda cerita kalau lu udah waspada gitu kan. Pasti ada penanganannya…” (Bintang Emon)

Per hari Jum’at, 27 Maret 2020 ini, jumlah penduduk Indonesia yang positif corona menembus angka psikologis 1.000 orang, tepatnya 1.046 orang. Lebih menyedihkannya, jumlah korban meninggal akibat virus corona mencapai 87 orang sehingga case fatality rate Indonesia sebesar 8,3%. Dari 50an negara dengan kasus positif virus corona tertinggi, di atas 500 kasus, case fatality rate Indonesia ini hanya kalah oleh Italia yang mencapai 10,6%. Sebagai catatan, Italia merupakan negara dengan angka kematian akibat COVID 19 terbesar di dunia, yakni sebanyak 9.134 orang. Hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan China sebagai negara dimana wabah virus corona bermula. Jumlah kasus positif corona di Italia juga telah melampaui China dan hanya kalah oleh Amerika Serikat yang telah menembus 100 ribu kasus positif corona.

Mendapati berita terkait wabah COVID 19 selalu saja membuat hati was-was. Padahal kadang informasi memang kita butuhkan untuk lebih memahami masalah dan mencari solusi. Namun seringkali tidak mudah menyikapi informasi secara proporsional. Bukan sebatas informasi, dalam banyak hal memang tidak mudah menyikapi sesuatu secara berimbang. Padahal jika kita kaji lebih dalam, kunci pengelolaan wabah COVID 19 ini terletak pada bagaimana penyikapan kita, baik sebagai individu, masyarakat, atau sebagai negara. Sebagai individu yang menjadi bagian dalam bermasyarakat dan bernegara, saat ini ada dua kecenderungan orang dalam menyikapi wabah COVID 19 ini. Yang pertama tetap tenang, yang kedua terus waspada. Tetap tenang ini ekstrimnya santuy, sementara waspada ini ekstrimnya paranoid. Mana kira-kira penyikapan yang lebih pas?

Jika ditanya seperti itu, banyak orang barangkali akan menjawab sebaiknya ada di tengah-tengah, jangan terlalu santuy, tapi jangan juga terlalu paranoid. Atau tetap tenang namun juga waspada, atau waspada tetapi tetap tenang, dan sebagainya. Sayangnya, menyeimbangkan kedua sikap ini tidak sesederhana itu. Diucapkan memang mudah, namun perilaku yang ditunjukkan kerap cenderung ke salah satunya. Karena bagaimanapun, sikap tenang berkontradiksi dengan panik atau paranoid sementara sikap waspada berkontradiksi dengan abai atau santuy. Di satu sisi masyarakat diminta tenang dan tidak panik, di sisi lain diminta tetap waspada dan jangan cuek. Bisakah keduanya dilakukan secara simultan?

Jikalau memang sulit merealisasikan ketenangan sekaligus kewaspadaan dalam sebuah sikap yang jelas, atau dalam proporsi yang tepat disebabkan kontradiksi alami yang menyertainya, maka sikap tenang dan sikap waspada ini cukup kita tempatkan dalam dimensi yang berbeda. Perlu diingat, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sehingga kita bisa menempatkan kedua kecenderungan penyikapan tadi dalam dimensi personal dan sosial.

Secara personal, sikap tenang lebih utama. Ketenangan ini akan melahirkan kejernihan pikiran. Pribadi yang tenang akan memiliki banyak kelebihan ketika menghadapi ujian. Pribadi yang tenang akan mudah berpikir positif dan berprasangka baik. Sudah banyak fakta yang menjelaskan betapa banyak masalah dan penyakit yang muncul dari ketidaktenangan hati dan pikiran. Untuk meningkatkan imunitas, ada yang menyarankan untuk mengetuk kelenjar timus dan meridian limpa. Aktivitas sederhana ini tentu tidak sebanding dengan makan makanan dengan gizi seimbang, cukup olahraga dan cukup istirahat dalam hal peningkatan imunitas. Namun aktivitas tersebut bisa menjadi sugesti positif yang akan memberikan dampak. Bagaimanapun, sistem di dalam tubuh kita termasuk sistem imun ini erat kaitannya dengan kondisi kejiwaan. Stress akan menghambat imunitas ini. Karenanya tidak sedikit mereka yang bisa sembuh dari penyakit karena sugesti positifnya. Dan disinilah anjuran berdo’a dan berdzikir menjadi relevan untuk menghadirkan ketenangan dan kesehatan.

Selanjutnya, orang yang tenang juga relatif akan terhindar dari tindakan yang tidak bermoral dan tidak masuk akal. Masih ingat kasus langkanya masker, hand sanitizer, tisu toilet, hingga vitamin C di berbagai pusat perbelanjaan di beberapa negeri karena wabah COVID 19? Panic buying hanya dilakukan oleh mereka yang tidak tenang. Sementara orang yang bersikap tenang akan membeli masker atau makanan seperlunya di tengah wabah sekalipun karena meyakini badai pasti berlalu. Hanya mereka yang kehilangan ketenanganlah yang terpikirkan untuk meludahi atau menjilati benda-benda yang berpotensi banyak disentuh orang, agar tertular virus corona tidak sendirian. Selain itu, orang yang tenang biasanya akan lebih mudah mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian yang menimpanya.

Di sisi lain, secara sosial, sikap waspada perlu diutamakan. Pribadi yang waspada ini bukan hanya akan survive di tengah masyarakat, namun mereka dapat berkontribusi positif dalam menghadapi wabah COVID 19 ini. Menghambat penularan virus dengan kewaspadaannya, sekaligus mempercepat masa recovery dari bencana ini. Mereka yang waspada tak hanya peduli akan kesehatan dirinya, namun juga kesehatan orang-orang di sekitarnya. Mereka yang waspada bukan hanya menghindari terjangkit virus corona, namun juga akan terhindar dari aktivitas yang riskan dan tidak bermanfaat. Diam di rumah tanpa harus meningkatkan risiko tertular, menjadi carrier bagi virus, atau bahkan menularkan penyakit. Jika harus keluar rumah pun persenjataan lengkap. Ada masker, bawa hand sanitizer, jika perlu pakai baju berlapis-lapis. Senantiasa menjaga diri kapanpun dimanapun, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang ini ‘tak ada waktu’ untuk nongkrong-nongkrong gak jelas di pinggir jalan, atau pergi liburan ke tempat wisata di tengah wabah melanda. Mereka memahami keutamaan berikhtiar dan menyadari bahwa dirinya tidak boleh membawa kemudharatan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Nah, kolaborasi sikap tenang secara personal dan waspada secara sosial inilah yang dibutuhkan untuk mengatasi wabah COVID 19. Bukan hanya salah satunya. Mereka yang hanya asyik dalam ketenangan akan berpotensi abai sekaligus ngeyel. Merasa aman dari kematian karena merasa sehat-sehat saja padahal sudah banyak orang yang positif terpapar virus corona tiba-tiba tanpa gejala. Santai beraktivitas di keramaian tanpa peduli potensi dirinya membawa dan menularkan virus corona. Meyakini bahwa maut di tangan Allah, namun abai bahwa dirinya bisa menjadi perantara maut bagi orang lain. Di sisi lain, mereka yang hanya asyik dalam kewaspadaan akan berpotensi terjebak dalam aura negatif penyakit. Ke luar rumah tidak, tapi di rumah kayak lagi marahan. Mojok sambil Work From Home, sementara istri di pojokan yang lain, dan anak-anak di sudut yang lain. Ke luar rumah udah kayak mau perang, panik ketika bertemu orang, apalagi kalau ada yang batuk atau bersin. Langsung semprot sana semprot sini. Merasa berikhtiar semaksimal mungkin, namun lupa akan hubungan antar personal, atau bahkan mungkin lupa hakikat takdir.

Tantangan utama penanganan wabah COVID 19 adalah menghadirkan penyikapan yang tepat dalam menghadapi wabah ini. Dan disinilah pendidikan memegang peran. Fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian, serta peradaban yang bermartabat. Menghadirkan pribadi yang tenang secara personal sekaligus waspada secara sosial butuh edukasi, butuh pendidikan. Mereka yang masih ngeyel tetap berkeliaran di jalan tanpa keperluan, butuh penyadaran, butuh pendidikan. Mereka yang masih belum aware bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, dimana saja, butuh penyuluhan, butuh pendidikan. Mereka yang khawatir tidak bisa makan jika tidak keluar rumah, butuh pembinaan, butuh pendidikan. Semoga wabah COVID 19 ini dapat menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk kembali menjalankan fungsi utamanya: memanusiakan manusia.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Fath: 4)