Tag Archives: work from home

Rumah Sempit yang Meluas

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan 4 perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Awalnya mungkin menyenangkan beraktivitas di rumah, namun lama-kelamaan rasa bosan datang menyertai. Kebosanan adalah hal yang lumrah, apalagi jika kita menjalankan aktivitas monoton. Namun kebosanan ini perlu dikelola sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kondisi kejiwaan. Selain gejala penyakit Covid-19, ada gejala lain yang perlu diwaspadai di masa pandemik seperti ini, yaitu gejala cabin fever. Cabin fever merupakan istilah lama yang kembali mengemuka, menggambarkan emosi atau perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama terisolasi di dalam rumah ataupun tempat tertentu. Jika sebatas bosan atau sedih tentu masih wajar, namun cabin fever ini dapat menimbulkan kegelisahan, turunnya motivasi, mudah tersinggung, mudah putus asa, sulit berkonsentrasi, pola tidur tidak teratur, lemah lesu, sulit mempercayai orang lain, tidak sabaran, bahkan depresi untuk waktu yang lama.

Cara sederhana untuk mengatasi cabin fever adalah pergi ke luar rumah, namun di tengah kondisi wabah seperti ini aktivitas ke luar rumah tentu dibatasi. Bahkan dapat dikatakan, semua aktivitas saat ini dibawa ke rumah. Kerja dari rumah, belajar di rumah, hingga beribadah di rumah. Ketika kantor dipindah ke rumah, sekolah dipindah ke rumah, sampai masjid pun pindah ke rumah, bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya rumah kita. Ruang untuk urusan pribadi, keluarga, pendidikan, kantor, hingga urusan ibadah semua bertumpuk di rumah. Jika sebelumnya barangkali ada orang-orang yang sulit memisahkan urusan pribadi atau keluarga dengan urusan kantornya, sekarang banyak orang akan mengalaminya sebab sekat antar ruang itu sudah tak lagi ada. Jika sebelumnya ada orang-orang yang cakap dalam menempatkan segala urusannya, kini mereka harus bekerja keras menatanya sebab segala urusan hanya punya satu tempat bernama rumah.

Kebosanan di rumah tampak tak terelakkan, apalagi alternatif solusi mengatasi kebosanan tampak tidak variatif. Ke luar rumah untuk berolahraga atau berkebun misalnya, punya batasan waktu dan kondisi. Atau menata ulang perabotan misalnya, selain melelahkan, jika terlalu sering dilakukan juga justru akan menimbulkan kebosanan baru. Atau bahkan tetap menjaga interaksi dengan banyak orang melalui media digital juga hanya menjadi solusi semu, sebab tentu kita bisa merasakan tidaklah sama interaksi by phone atau by video dengan interaksi langsung.

Lantas apakah kita cukup pasrah terpenjara dalam kebosanan? Tunggu dulu, kebosanan itu sejatinya hanya masalah perspektif. Dalam KBBI, bosan didefinisikan sebagai ‘sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak’. Jadi yang menentukan kadar kebosanan adalah ‘tidak suka’, ‘terlalu sering’, dan ‘terlalu banyak’, yang kesemuanya adalah sesuatu yang relatif. Tidak mengherankan cabin fever tidak termasuk dalam gangguan psikologis, sebab gejala tersebut takkan ditemukan pada mereka yang memandangnya secara positif. Dan artinya, solusi atas kebosanan ini sebenarnya sederhana, mengelola ‘kesukaan’ kita dan mengatur kadar intensitasnya.

Dari sudut pandang yang positif, ketika kantor dipindah ke rumah, sekolah dipindah ke rumah, sampai masjid pun pindah ke rumah, bisa dibayangkan betapa luasnya rumah kita sebenarnya. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan banyak spot yang bisa dieksplorasi dari bangunan luas bernama rumah, apalagi jika ditambah pekarangan dan lingkungan sekitarnya. Luar biasanya lagi, kita mempunyai kemampuan teleportasi ala pahlawan fiksi, berpindah dari rumah, sekolah, kantor, masjid, dan tempat-tempat lain dalam sekejap. Karena kebosanan adalah perkara ‘kesukaan’, semakin kita menikmati prosesnya, kebosanan akan kian menjauh.

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, demikian ungkap Bung Hatta. Bagaimana mungkin ada kebebasan dalam penjara hanya bermodalkan buku? Lagi-lagi ini hanya masalah perspektif. Penjara bagi jiwa adalah ketika kita dipaksa melalukan sesuatu yang tidak kita sukai. Karenanya ketika kita dapat melakukan apa yang kita sukai, dan menyukai apa yang kita lakukan, jiwa kita akan bebas, tidak dipenjara ataupun dikarantina. Dan ternyata sekadar ‘suka’ saja tidak cukup, aktivitas yang dilakukan perlu merangsang kreativitas agar tidak monoton. Melakukan hal yang berbeda, atau melakukan hal yang sama dengan cara berbeda dapat mengatur kadar intensitas. Karena itulah, membuat rencana aktivitas dan menata ruang yang terkesan teknis administratif bisa jadi lebih efektif dalam mengusir kebosanan dibandingkan melakukan gerakan olahraga yang itu-itu saja. Sebagaimana mengisi TTS akan lebih produktif dibandingkan menonton televisi. Dan membuat tulisan akan lebih membebaskan dibandingkan bermain game.

A house is made of bricks and beams. A home is made of hopes and dreams”, begitulah kata pepatah. Penjara kebosanan bernama rumah hanya akan muncul ketika kita gagal menjadikan harapan sebagai bata-batanya dan impian sebagai tiang-tiangnya. Rumahpun terasa sempit karena terbatasi dinding dan pagar. Lain halnya dengan rumah yang diisi dengan cinta dan kebahagiaan, energi positifnya mampu menempuh jarak yang teramat luas, sehingga rumahpun terasa lapang. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Ar Rafi’i dalam Wahyul Qalam, “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang semakin kecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya”. Kebosanan muncul dalam kesempitan dan hilang dalam kelapangan. Karenanya, rumah di surga kelak tidak menghadirkan kebosanan, sebab isinya penuh cinta dan kebahagiaan. Semoga kita mampu melapangkan rumah-rumah kita, dan membuka jalan untuk memiliki rumah yang lapang kelak di Jannah-Nya. Aamiiin…

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Dari Karantina ke Karantina

“Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.” (Emha Ainun Nadjib)

Tak terasa, Ramadhan kembali datang menyapa. Kali ini dalam kondisi yang tidak biasa. Sudah enam pekan ini aktivitas kerja dilakukan dari rumah, work from home istilah kekiniannya. Artinya, sudah lebih dari 40 hari aktivitas ke luar rumah dan bersosialisasi secara fisik dibatasi. Social distancing dan physical distancing, istilahnya. Interaksi intensif hanya dengan anggota keluarga. Dan Ramadhan tahun ini kemungkinan akan berjalan dengan pola serupa. Menikmati Ramadhan dari rumah saja. Agak ada aroma romantika libur sekolah selama berpuasa Ramadhan di zaman Gus Dur, tapi ini tidak sama. Ada virus corona yang mengancam di luar sana. Pandemi Covid-19 membuat manusia ‘terkarantina’ di rumahnya. Imbuhan ter- yang lebih bermakna ‘terpaksa’ dibandingkan ‘tidak sengaja’.

Dalam KBBI, karantina didefinisikan sebagai tempat penampungan yang lokasinya terpencil guna mencegah terjadinya penularan (pengaruh dan sebagainya) penyakit dan sebagainya. Dan tempat penampungan untuk mencegah penularan virus corona itu adalah rumah-rumah kita. Wikipedia pun menguatkan bahwa karantina adalah sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama periode waktu tertentu untuk mencegah penularan penyakit. Kata karantina berasal dari quarantena, yang dalam Bahasa Venesia abad pertengahan berarti “empat puluh hari”, merujuk pada periode yang dipersyaratkan bagi semua kapal untuk diisolasi sebelum penumpang dan kru dapat berlabuh di pantai selama epidemi Maut Hitam (Black Death). Jauh sebelumnya, mekanisme karantina ini sudah dikenal dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari – Muslim).

Lantas apa pengaruhnya karantina ini dengan ibadah Ramadhan kita? Salah satu pembeda Ramadhan dengan bulan lainnya adalah suasananya yang lebih kondusif untuk beribadah. Dan suasana itu akan terasa dari interaksi dan sosialisasi. Sesuatu yang terbatasi di masa pandemi Covid-19 ini. Shalat wajib berjama’ah dan tarawih dibatasi, bahkan dianjurkan dilakukan di rumah saja. Ifthar jama’i hingga tadarus bersama juga terkendala. Berbagai kegiatan lain yang mengumpulkan banyak orang semisal tabligh akbar, pesantren kilat, hingga pembagian ta’jil gratis pun sulit dilakukan. Alhasil, suasana dan syiar Ramadhan tidak seramai biasanya. Di satu sisi, peluang kebaikan seakan menyempit. Di sisi lain, potensi berbuat dosa terhadap sesama juga mengecil.

Dampak perubahan suasana ini adalah pada perubahan kebiasaan yang akhirnya kembali kepada diri sendiri. Misalnya, di berbagai masjid perkantoran selepas shalat zhuhur di bulan Ramadhan banyak yang berlomba-lomba tilawah Al Qur’an. Namun sekarang, selepas shalat zhuhur di rumah, pilihan untuk tidur siang bisa jadi lebih menarik untuk dilakukan. Atau jika biasanya kajian ada dimana-mana, dengan kondisi saat ini, mencari dan mengikuti kajian lebih dominan ke pilihan pribadi. Beribadah dilakukan atas kesadaran dan kemauan pribadi, bukan terpengaruh suasana apalagi sekadar ikut-ikutan. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bantuan orang lain adalah satu hal. Namun hisab di akhirat nanti menjadi tanggung jawab masing-masing adalah hal yang lain.

 

Karenanya, menjadi penting untuk menghidupkan suasana Ramadhan di rumah. Bukan hanya secara konteks dengan berbagai poster dan hiasan Ramadhan. Namun juga perlu dikuatkan dengan konten, aktivitas dan targetan Ramadhan bersama keluarga. Syiar Ramadhannya barangkali lingkupnya dipersempit, tanpa mengurangi esensi dan keutamaannya. Tazkiyatunnafs akan menjadi kunci keberhasilannya. Mulai dari mu’ahadah (mengingat perjanjian dengan Allah SWT), mujahadah (bersungguh-sungguh), muraqabah (merasa selalu diawasi Allah SWT), muhasabah (introspeksi diri), hingga mu’aqabah (memberikan sanksi). Ketika kontrol sosial relatif terbatas, maka cara efektif untuk bisa terus produktif adalah ‘ibda binasfik, memulai dari diri sendiri.

Ramadhan ini bisa dikatakan sebagai karantina lanjutan. Ya, dalam kondisi karantina kita memasuki karantina lainnya. Dengan rumah tetap menjadi tempat penampungannya. Hanya saja virus dalam karantina Ramadhan adalah hawa nafsu, yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjerumuskan ke dalam penyakit bernama dosa dan kemaksiatan. Karantina medis meningkatkan imun, karantina Ramadhan meningkatkan iman. Pribadi takwa yang menjadi tujuan karantina Ramadhan hanya bisa terwujud ketika kita sudah mampu menundukkan hawa nafsu. Apalagi dengan berkurangnya interaksi sosial dan syiar Ramadhan di luar sana, faktor individu menjadi penentu keberhasilan mengendalikan hawa nafsu. Tidak bisa bergantung dan mengandalkan orang lain.

Ramadhan tahun ini barangkali akan terasa lebih lama, karena variasi interaksi dan aktivitas tidak sedinamis biasanya. Namun bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Banyak aktivitas dan variasi interaksi yang bisa dilakukan, sebab sekat jarak sudah tidak lagi relevan di masa sekarang. Saling menyapa dan menjaga tak mesti harus bertatap muka. Saling mengingatkan dan menguatkan tidak harus berjabat tangan. Semua kebaikan bisa dilakukan kapan saja dimana saja. Atau jangan-jangan, kondisi ini adalah sebentuk jawaban atas do’a-doa kita sebelumnya, untuk bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, dan diberikan kesempatan untuk optimal beribadah di dalamnya. Optimal beribadah di rumah. Meningkatkan imun dan iman. Membentuk pribadi yang sehat dan bertakwa.

Puasa itu adalah perisai. Maka, apabila seseorang sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor pada hari itu dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki oleh orang lain dan diajak berkelahi, hendaklah ia berkata ‘aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)