Kalau Ramadhan Bisa Menyapa…

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Kalau bulan bisa ngomong, ia akan mengungkapkan kecemburuannya pada Ramadhan. Bagaimana tidak, Ramadhan ini begitu spesial dan dianakemaskan. Bukan hanya berlimpah berkah dan ampunan, serta menjadi bulan yang identik dengan Al Qur’an, dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hitungan bulan seakan tak ada artinya dibandingkan dengan suatu malam di bulan Ramadhan. Jika bulan-bulan lain bisa menuntut, tentu mereka akan meminta kesetaraan, semua bulan seperti bulan Ramadhan. Dimana pintu-pintu kebaikan begitu terbuka luas. Aktivitas ibadah pun seakan begitu dimudahkan.

Kalau setan bisa protes, ia akan menggugat bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, di bulan Ramadhan ini mereka dibelenggu tak dapat leluasa menggoda manusia. Memang masih ada kepanjangan tangan mereka dari bangsa jin dan manusia, namun tentu kerjanya tidak semudah di luar bulan Ramadhan. Di bulan ini berbuat baik menjadi lumrah. Sementara perbuatan tidak baik menjadi cela. ‘Puasa ga boleh bohong’… ‘Lagi puasa jangan ngomongin orang’… ‘Kalo marah batal lho puasanya’… Jika setan-setan bisa berdemonstrasi, mereka akan melakukan aksi massa menuntut keadilan. Mengapa tidak ada semenit atau bahkan sedetikpun malaikat dibelenggu sehingga manusia sulit berbuat baik? Dan mereka harus menerima dibelenggu selama sebulan lamanya!

Kalau Ramadhan bisa menyapa, ia akan bertutur ramah kepada orang beriman yang antusias bersiap menyambutnya. Mengabarkan betapa berharganya kesempatan beramal shalih ketika pintu-pintu surga terbuka lebar sementara pintu-pintu neraka ditutup. Mengingatkan untuk dapat menjaga konsistensi berbuat baik sepanjang Ramadhan, tidak hanya giat di awal. Jika Ramadhan bisa baper, ia akan bersedih menyaksikan manusia yang membiarkannya berlalu begitu saja. Mengasihani manusia yang masih menuruti syahwatnya serta tidak bertambah kebaikannya. Padahal ia hanya datang menyapa sesaat. Sebulan adalah waktu yang teramat singkat. Sementara tidak ada jaminan tahun depan manusia akan kembali menjumpainya.

“Ya Allah, perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi)

Pegiat Zakat, Jangan Berkhianat!

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian menghianati berbagai amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal 27)

Hasil pemeriksaan medis untuk kali ketiga dalam dua pekan terakhir masih belum berhasil menunjukkan gejala penyakit apapun. Padahal sejak sakit di kaki serasa ditusuk-tusuk beberapa pekan lalu, aku belum pernah benar-benar pulih. Dan kali ini penyakitnya kembali menghampiri, demam tinggi, tidak bisa tidur, bahkan indera penciuman pun tidak berfungsi. Covid kah? Tidak. Ini sudah kali kedua dalam dua pekan ini hasil SWAB test menunjukkan hasil yang negatif. Dokter pun bingung atas apa yang terjadi. Diagnosis yang bisa disampaikan hanyalah stress, seraya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana persoalan pikiran bisa memberi dampak terhadap tubuh.

Malam ini terasa panas menyelimuti tubuh, padahal AC sudah menyala. Mungkin suara murathal Al Baqarah yang sayup-sayup terdengar di kamar sebelah yang jadi penyebabnya. Beberapa hari ini, dalam ruqyah mandiri, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Di hari kelima, aku tak sanggup lagi, ruqyah mandiri terasa sangat melelahkan. Butuh bantuan orang lain. Segera saja aku minta diantar menemui ustadz yang memang biasa membantu dalam melakukan ruqyah. Menjadi sebuah ikhtiar, bagaimanapun ruqyah hanyalah sarana karena yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Dalam keadaan setengah sadar, ada kalanya berteriak bahkan memukul diri sendiri, jin kafir dan jin muslim yang bersemayam dalam tubuhku saling bentrok. Jin kafir ini menyampaikan tiga misinya: membunuh diriku, membuatku bercerai dengan istriku, dan membuatku keluar dari tempat kerjaku. Kuteringat beberapa hari lalu betapa tiba-tiba aku membenci diriku, istriku, dan tempat kerjaku. Jin kafir ini tampak sangat membenci pekerjaanku sebagai pegiat zakat. Apalagi ada berbagai perbaikan yang kulakukan, yang bisa jadi mengusik sebagian orang. Setelah melalui waktu yang terasa panjang, akhirnya semuanya berhasil terkendali. Atas izin Allah SWT aku kembali sehat, dan semakin mantap untuk berjuang di jalan ZISWAF yang ternyata begitu dibenci para musuh Allah. Tak boleh berlalu seharipun tanpa tilawah, dzikir, dan senantiasa mengingat-Nya.

* * *

Kisah di atas adalah penggalan kisah nyata dari seorang rekan pegiat ZISWAF yang diceritakan langsung kepada penulis beberapa waktu lalu. Penyakit nonmedis memang bukan hal baru bagi penulis. Namun ada beberapa ibroh yang dapat diambil dari cerita seorang rekan ini. Pertama, ‘gangguan’ bukan hanya bisa masuk ke orang awam, namun orang ‘alim’pun dapat terkena ‘gangguan’ tersebut pada titik terlemahnya. Kedua, penyakit nonmedis memang benar ada, pun demikian, ruqyah harus tetap dipandang sebagai sarana, bukan merupakan faktor yang menentukan kesembuhan. Ketiga, jalan para pejuang syariah memang tak pernah mulus dari cobaan dan gangguan. Dan itu merupakan sunatullah dalam berjuang.

Walaupun tidak bisa dijadikan hujjah yang dapat dipercaya, ada beberapa perkataan jin dalam kasus di atas yang dapat menjadi warning sekaligus motivasi. Bukan perkataan tentang sadisnya pembunuhan 6 laskar FPI yang entah didapatnya dari mana. Namun ungkapan kebenciannya terhadap para pejuang syari’ah, para pegiat dakwah, zakat, wakaf, dan sebagainya. Di saat semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya penegakan syari’ah, pihak yang memusuhinya pun tidak sedikit, miltan, terorganisir dan sistematis. Polarisasi ideologis antara kedua kubu ini lebih dahsyat dibandingkan perang antara ‘cebong’ dengan ‘kampret’. Dan tidak ada posisi di antara hizbullah dengan hizbusysyaithan. Akan ada masa dimana manusia akan memilih dimana mereka akan berdiri.

Ujian besar bagi para pejuang syari’ah pun tampaknya tinggal menunggu waktunya. Tanda-tandanya sudah semakin kentara, seperti pembubaran beberapa ormas Islam, ditutupnya pasar muamalah, ataupun ditangkapnya Ketua salah satu Lembaga Amil Zakat karena diduga danai terorisme. Ujian ke depan bisa jadi semakin berat karena para pejuang syari’ah ini ‘diserang’ dari dalam di saat ada kepentingan eksternal untuk memanfaatkan dana umat. Tantangan terbesarnya justru datang dari para pengkhianat perjuangan. Mereka yang berada di barisan umat, namun mengedepankan kepentingan duniawi pribadi dan kelompoknya. Jumlahnya barangkali tidak besar, namun ibarat kanker yang terus merusak sel, jaringan, dan organ sehat. Syari’ah Islam yang mulia, distigmakan negatif akibat ulah oknum pengkhianat berkedok syari’ah.

Pun demikian, optimisme tetap harus dipupuk. Tidak sedikit pejuang syari’ah yang benar-benar tulus ikhlash dalam berjuang. Merekalah anasir terkuat dalam menghadapi berbagai ujian. Yang namanya jalan kebenaran memang tak pernah sepi dari aral menghadang. Godaan untuk meninggalkan medan juang dan memilih jalan yang lebih aman dan menjanjikan juga semakin besar. Perjalanan waktu nanti akan membuktikan, siapa yang benar-benar berjuang di Jalan-Nya, siapa yang mencederai amanah hanya demi kenikmatan sesaat yang semu. Semoga Allah SWT senantiasa memantapkan langkah kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Ahlan Wa Sahlan Ya Sya’ban

Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman” (Abu Bakar al Balkhi)

Tak terasa, bulan Sya’ban 1442 H telah tiba. Artinya, dalam waktu kurang dari sebulan lagi, bulan Ramadhan akan kembali menghampiri. Kata sya’ban diambil dari kata sya’bun yang artinya kelompok atau golongan. Dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Ada juga yang mengatakan, mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan. Al Munawi mengatakan, “Bulan Rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan Sya’ban, mereka berpencar ke berbagai medan peperangan”.

Bulan Sya’ban ialah bulan dimana Rasulullah SAW paling sering berpuasa sunnah. Banyak dalil yang menjelaskan mengenai hal ini, di antaranya dari Aisyah r.a. yang meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah melebihi (puasa sunnah) di bulan Sya’ban.” (HR.  Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Usamah bin Zaid r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban”. Rasulullah SAW bersabda, “Ini adalah bulan yang seringkali dilalaikan oleh banyak orang. Keberadaannya antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan, saya ingin sekali ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa” (HR. An Nasa’i).

Bulan Sya’ban memang seakan ‘kalah pamor’ dibandingkan bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab termasuk salah satu dari empat syahrul haram (bulan yang dimuliakan). Letaknya terpisah dari tiga syahrul haram lainnya yang dekat dengan pelaksanaan haji. Bulan Rajab pun memiliki momentum Isra Mi’raj yang di Indonesia banyak diperingati sebagai salah satu hari libur nasional. Sementara Ramadhan adalah Sayyidusy Syuhur (penghulunya para bulan) yang nama bulannya disebutkan langsung dalam Al Qur’an. Ramadhan juga memiliki banyak julukan, di antaranya Syahrul Qur’an, bulan dimana Al Qur’an pertama kali diturunkan. Kemudian syahrush shiyam, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Bahkan di bulan Ramadhan ada lailatul qadar, dimana satu malamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Pun tidak sepopuler bulan Rajab dan Ramadhan, bulan Sya’ban sebenarnya memegang peran vital dalam memastikan kesuksesan menjalani ibadah Ramadhan. Ibarat akan bertanding, porsi latihan harus optimal jelang menghadapi pertandingan. Ibarat akan menyelenggarakan kegiatan, gladi resik event Ramadhan sudah harus mantap di bulan Sya’ban. Ibarat akan memanen ketakwaan di bulan Ramadhan, bulan Sya’ban adalah momen penting dalam memelihara pohon ketakwaan yang bibitnya telah ditanam sejak bulan Rajab. Bagaimana mungkin panennya akan berhasil jika pemeliharaannya dilupakan? Berbagai kegiatan Tarhib Ramadhan pun banyak digelar di bulan Sya’ban ini. Pun sebenarnya Tarhib Ramadhan yang bersifat ilmu dan pengingatan lebih tepat dikondisikan sejak bulan Rajab, sehingga di bulan Sya’ban ini umat Islam bisa langsung latihan dalam menyambut Ramadhan.

Persiapan iman, ilmu, fisik, dan mental sudah benar-benar dimatangkan di bulan Sya’ban ini. Persiapan diri dan keluarga untuk menyambut Ramadhan juga harus benar-benar siap. Dengan latihan dan pemanasan yang cukup, seharusnya pertandingan dapat dijalani dengan baik. Tidak perlu khawatir ‘telat panas’ ataupun cedera. Dan bulan Sya’ban belum lama masuk, ada cukup banyak waktu untuk menguatkan bekal dan persiapan. Apalagi kondisi pandemi tidak se’mencekam’ tahun lalu. Berbagai persiapan seharusnya bisa lebih optimal. Semoga dengan pembiasaan yang baik di bulan Sya’ban ini dapat mengantarkan kita untuk bisa lebih produktif di bulan Ramadhan. Pembiasaan positif yang semoga saja dapat istiqomah dilakukan di luar Ramadhan.

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan” (HR. Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam takhrij Musnad Imam Ahmad: sanad hadits ini dhaif)

Sliver the Truth

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran.” (Jalaluddin Rumi)

Sliver the truth’ artinya sepotong kebenaran, sebuah istilah yang baru saya dapati saat berdiskusi dengan Pak Zaim Uchrowi, salah seorang pendiri Harian Republika. Beliau mengatakan bahwa ‘sliver the truth’ begitu berkembang di Indonesia, terutama di dunia maya. ‘Sliver the truth’ mengandung kebenaran, namun tidak utuh, dan menurut beliau hal ini lebih berbahaya daripada kebohongan/ hoax. Hoax ketika dibuktikan kepalsuannya akan nyata kebohongannya dan ditinggalkan. Namun sepotong kebenaran tidak benar-benar bisa dibuktikan kepalsuannya karena masih mengandung kebenaran. Mereka yang meyakini sepotong kebenaran ini pun lebih sulit untuk bersikap objektif dan menerima kebenaran yang kompleks. Sepotong kebenaran dianggap sebagai kebenaran yang utuh.

Ada istilah serupa yang saya kenal sebelumnya yaitu ‘half-truth’ atau kebenaran yang setengah-setengah. Ada pepatah lama yang mengatakan, “a half-truth is a whole lie”. Barangkali ada benarnya, sebab sepotong kebenaran lebih didominasi kepingan yang dekat dengan kebohongan dibandingkan dengan kepingan kebenarannya. Dan menjadi lebih berbahaya dibandingkan kebohongan karena kepingan kebenaran ini diyakini sebagai kebenaran sementara kepingan yang lain diyakini sebagai kebohongan. Semakin lama penggalan kebenaran ini diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, semakin jauhlah dengan kebenaran hakiki sebab mereka yang meyakininya menutup diri dari penggalan kebenaran yang lain.

Dalam realitanya, ‘sliver the truth’ ini banyak digunakan untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Belum lagi jika sudah melibatkan framing media. Kebohongan yang terus diulang akan menjadi kebenaran, apalagi jika dalam pengulangan tersebut diselipkan ‘sliver the truth’. Istilah ‘framing’ ini akhirnya dekat dengan istilah ‘paltering’ alias mempermainkan kebenaran. Mengelabui orang dengan menyatakan hal yang ‘benar’. Contoh sederhana yang lekat dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan istilah ‘On the Way (OTW)’ ketika terlambat memenuhi janji pertemuan, padahal baru saja berangkat di depan rumah. Tidak sepenuhnya salah karena memang sudah di jalan (depan rumah). Bahkan ada yang lebih ekstrim menggunakan OTW dengan maksud lagi jalan ke kamar mandi buat siap-siap. Sejenis kebohongan yang barangkali dianggap lumrah.

Sebenarnya tidak semua ‘kebohongan’ dilarang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, pernah ‘berbohong’ tiga kali: menatap langit dan mengatakan dirinya sakit ketika diajak warga untuk berhari raya menyembah berhala; ‘mengambinghitamkan’ berhala paling besar yang menghancurkan berhala-berhala; dan mengakui Sarah (istrinya) sebagai saudara perempuannya. Termasuk ‘sliver the truth’ karena Nabi Ibrahim a.s. memang merasa sakit hatinya menyaksikan kemusyrikan kaumnya. Dalam kasus penghancuran berhala, yang disampaikan Nabi Ibrahim a.s. adalah sejenis majas, bukan jawaban dusta atas sebuah pertanyaan. “Berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya:63). Secara logika, karena berhala tidak dapat berbicara, maka pernyataannya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan ada yang menafsirkan kalimat bal fa’alahu kabiruhum hadzaterdiri dari dua kalimat.Bal fa’alahumenjawab pertanyaan bahwa pelakunya adalah laki-laki, sementara kabiruhum hadzaadalah sebuah kebenaran karena Nabi Ibrahim a.s. saat itu memang menunjuk berhala paling besar yang ada disana. Kemudian untuk kasus mengakui Sarah sebagai saudarinya karena memang Sarah adalah saudara perempuan seagamanya. Saat itu bahkan Sarah memang satu-satunya saudari seiman. Jika ditambah berbagai potensi fitnah yang akan muncul jika Nabi Ibrahim a.s. menjawab ‘apa adanya’, maka keputusan untuk slivering the truthtentu akan lebih mudah dipahami. Atau dalam kisah Nabi Yusuf a.s., manipulasi kebenaran pun sempat dilakukan ketika menuduh saudaranya (Benyamin) mencuri sehingga dapat ditahan, dan pada akhirnya bisa membawa ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) ke Mesir. Itu termasuk siasat. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith r.a. mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah termasuk pendusta: orang yang mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan.” Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mentolerir kebohongan hanya dalam tiga kondisi: pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.

Hanya saja dalam kondisi saat ini, ‘slivering the truth’ ini tidak patut dibudayakan. Bukan hanya motifnya yang seringkali politis dan sangat pragmatis, kondisi masyarakat pun juga tidak mendukung. Bualan dan dusta semakin jadi fenomena biasa. Daya kritis terhadap informasi menurun sementara fanatisme golongan meningkat. Belum lagi ditambah media yang cenderung kepada satu potongan kebenaran, bukan pada kebenaran itu sendiri. Sepotong kebenaran ini ketika dipadukan dengan arogansi dan fanatisme berlebihan dapat berbahaya. Bukan hanya akan menolak kebenaran dari pihak yang berbeda, dan merendahkan pihak lain, namun akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dengan pihak lain. Polaritas antar golongan semakin kuat, seperti anjing dan kucing. Atau ibarat cebong dan kampret.

Ada istilah ‘white lies’ bahkan ‘beautiful lies’, namun ‘seputih’ apapun hal itu tetaplah sebuah kebohongan, bukan kebenaran. Kebohongan ‘baik’ yang akan diikuti oleh kebohongan lain untuk menutupinya. Kebohongan yang akan melahirkan kenyamanan semu. The truth is still the truth, even if no one believes it. A lie is still a lie, even if everyone believes it. Memang kebenaran kadang menyakitkan, karenanya tidak semua orang menyukainya. Ada pula yang namanya pembenaran, yang mampu memberi kepuasan sesaat. Dan sepotong kebenaran adalah sesuatu hal yang berbeda lagi. Bisa diarahkan membawa kebaikan, namun lebih berpotensi besar menyertai kebohongan. Karenanya, daripada menyampaikan sepotong kebenaran, lebih baik membiasakan berpikir kritis dan terbuka, tabayyun (check and recheck), serta menahan diri dari perkataan dan perilaku dusta, sekecil apapun, dalam keadaan bercanda sekalipun. Membiasakan diri untuk terus mencari, menelaah, dan menerima kebenaran. Bisa jadi ada kesalahan dari kebenaran yang kita yakini. Bisa jadi ada kebenaran dalam kesalahan yang orang lain yakini. Sebab kebenaran sejati hanya ada di sisi Allah SWT.

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Tembus Sejuta Kasus Positif Covid, Prestasi Siapa?

“...Sepanjang tahun 2020 dan memasuki tahun 2021, kita menghadapi beberapa ujian, beberapa cobaan yang sangat berat. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, 215 negara dan Indonesia, telah mengakibatkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik, tetapi permasalahan belum sepenuhnya selesai. Pandemi masih berlangsung dan kita harus waspada dan siaga…

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sambutan virtualnya pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 25 Januari lalu. Entah statement yang optimis atau gegabah mengingat kala itu kasus positif Covid-19 di Indonesia hampir menyentuh angka sejuta kasus, dengan jumlah pasien Covid-19 yang meninggal lebih dari 28 ribu jiwa. Dan benar saja, selang sehari kemudian, berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanangan Covid-19, per 26 Januari 2021, Indonesia mencatatkan penambahan 13.094 kasus baru Covid-19 yang membuat Indonesia menembus jumlah 1 juta dengan total 1.012.350 kasus. Jumlah kasus ini bahkan lebih tinggi dari penggabungan jumlah kasus dari 9 negara ASEAN lainnya yang berjumlah 920.797 kasus. Filipina yang per 6 Agustus 2020 lalu sempat memuncaki kasus Covid-19 di wilayah Asia Tenggara, saat ini kurvanya sudah mulai menurun dengan 516.166 kasus, jauh tertinggal dari Indonesia. Dengan total tes per populasi penduduk yang kurang dari setengahnya dibandingkan Filipina, kasus riil Covid-19 di Indonesia kemungkinan jauh lebih besar dari data yang dilaporkan.

Ungkapan syukur bahwa Indonesia mampu mengelola Covid-19 bukan kali itu saja disampaikan Jokowi. “…Pemerintah telah mengambil langkah untuk mengurangi dampak dari krisis ini. Walau pandemik belum berlalu tapi kita bersyukur bahwa kita termasuk negara yang mampu mengelola tantangan ini. Penanganan kesehatan yang bisa dikendalikan dengan terus meningkatkan kewaspadaan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah naik kembali sejak kuartal 3 lalu meski dalam kondisi minus…”, ucap Jokowi dalam acara HUT PDIP ke-48 10 Januari lalu. Ungkapan syukur tidak salah, namun beberapa pihak menganggapnya kurang tepat. Apalagi hingga kini belum ada permintaan maaf dari pemerintah atas penanganan pendemi Covid-19 yang terbilang sangat lamban. Belum lagi kasus korupsi dana bansos yang terkuak ke publik, pemerintah sepertinya lebih tepat untuk banyak istighfar dan meminta maaf, daripada memberikan ketenangan semu dengan prestasi semu.

Hari ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, menyampaikan permintaan maaf atas kasus dan kematian akibat virus corona yang terus bertambah. “Saya sangat menyesal atas setiap nyawa yang telah meninggal dan tentu saja, sebagai perdana menteri saya bertanggung jawab penuh atas semua yang telah dilakukan pemerintah…” ujar Johnson ketika angka kematian akibat Covid-19 di Inggris melampaui 100 ribu jiwa. September tahun lalu, Presiden Israel Reuven Rivlin, menyatakan permintaan maaf terhadap warga Israel akibat kegagalan pemerintah membendung pandemi virus corona. “Saya menyadari bahwa kami belum banyak melakukan apa-apa sebagai pemimpin yang pantas mendapat perhatian Anda. Anda percaya kami, dan kami mengecewakan Anda…”, ujar Rivlin ketika Israel menerapkan penguncian wilayah (lockdown) akibat lonjakan penularan dan kematian akibat Covid-19. Kanselir Jerman, Angela Merker pada 9 Desember lalu juga meminta maaf kepada publik atas peningkatan kematian harian akibat virus seraya menjura, membungkuk dengan menangkupkan kedua tangan. “Saya benar-benar minta maaf… tetapi jika kita membayar harga korban tewas pada 590 orang setiap hari maka itu menurut saya, tidak dapat diterima…” ujarnya dalam pidato emosional di depan parlemen.

Sikap berbeda ditunjukkan Pemerintah Indonesia. Memang berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengendalikan virus, mulai dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB proporsional, hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Presiden Jokowi juga sempat menunjuk Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan untuk menekan lonjakan kasus di beberapa daerah, namun upaya itu belum juga membuahkan hasil. Walau dianggap terlambat, Jokowi juga memecat Terawan Agus Putranto dan menunjuk Budi Gunadi Sadikin untuk menjadi Menteri Kesehatan, pun hasilnya juga belum terlihat.

Merespon data kasus Covid-19 yang sudah menembus 1 juta kasus, Menkes Budi Gunadi Sadikin berjanji akan lebih menggencarkan program 3T, yaitu testing, tracing, dan treatment untuk mengurangi laju penularan virus. “Angka ini membuat kita harus merenung dan ada dua momen penting yang harus kita sadari. Saatnya Indonesia untuk berduka. Sebab, dengan terus meningkatnya kasus, banyak sekali pasien yang meninggal dunia. Bahkan, sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan gugur dalam menghadapi pandemi ini. Dan mungkin sebagian dari keluarga dekat dan teman dekat sudah meninggalkan kita. Itu momen pertama yang harus kita lalui bahwa ada rasa duka yang mendalam dari pemerintah, dari seluruh rakyat Indonesia atas angka ini… Angka 1 juta ini memberikan satu indikasi bahwa seluruh rakyat Indonesia harus bersama dengan pemerintah bekerja bersama untuk atasi pandemi ini dengan lebih keras lagi. Kita teruskan kerja keras kita…” ujar Menkes dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden. Bukan permintaan maaf, namun mengajak masyarakat untuk merenung. Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, dibutuhkan percepatan dan keserempakan program vaksinasi Covid-19 untuk membangun kekebalan kelompok atau herd immunity. Semakin cepat herd immunity terbentuk, semakin cepat pula pandemi berakhir. “Perlu ada kecepatan. Itu kuncinya kenapa perlu cepat dilakukan vaksinasi kepada dua pertiga populasi agar memiliki antibodi,” kata Tito saat Rapat Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, Senin lalu.

Semuanya baik-baik saja. Barangkali itu pesan yang disampaikan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi Covid-19. Tanpa kesedihan dan kecemasan pun korban terus bertambah. Jika kita telusuri rekam perjalanan pandemi Covid-19 di negara ini, kita akan mendapati banyak pernyataan kontroversial dari para pejabat tinggi yang sebenarnya justru kontraproduktif dalam upaya penanganan Covid-19. Misalnya Menkes Terawan yang mengatakan tidak ada masyarakat Indonesia yang terkena virus corona karena do’a. Atau Menhub Budi Karya yang sebelum positif Covid-19 pernah berkelakar bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekebalan tubuh dari virus corona karena gemar makan nasi kucing. Bukan sebatas pernyataan, kebijakan kontroversial juga kerap dibuat. Misalnya pemberian diskon bagi wisatawan untuk menggenjor sektor pariwisata, atau anggaran untuk influencer yang mencapai 90,45 miliar rupiah. Dan pada akhirnya, kita tidak bisa terus mengutuk kegelapan. Berusaha menjadi bagian dari solusi pun keberhasilannya akan diklaim pemerintah. Apalagi menghadapi rezim yang anti kritik, yang dapat dilakukan hanya senantiasa menjaga diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita agar tetap baik-baik saja. Mematuhi protokol kesehatan karena kesadaran, bukan sekadar ikut kebijakan pemerintah yang seringkali tak tentu arah. Karena solusi mengatasi pandemi ini ada di setiap diri kita.

Alhamdulillah 243 WNI yang pulang dari Wuhan dan diobservasi 14 hari di Natuna dinyatakan bersih dari Corona. Dalam kelakarnya, Menko Perekonomian Airlangga bilang: Karena perizinan di Indonesia berbelit-belit maka virus corona tak bisa masuk. Tapi omnibus law tentang perizinan lapangan kerja jalan terus” (Mahfud MD)

Pengasuhan Positif

Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya” (HR. Muslim)

Pandemi Covid-19 bukan hanya memberi dampak negatif terhadap bidang kesehatan dan ekonomi. Kekerasan anak meningkat cukup signifikan di masa pandemi. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap anak sebesar 38 persen selama kurun 2020. Dari 2.700 kasus yang tercatat di Komnas PA, 52 persennya adalah kejahatan seksual. Angka riilnya pasti lebih besar. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menerima lebih dari 4.000 laporan kekerasan terhadap anak sepanjang 1 Januari hingga Juli 2020. Ada 3.296 anak perempuan dan 1.319 anak laki-laki menjadi korban kekerasan selama rentang waktu tersebut. Dari jumlah tersebut, 1.111 anak mengalami kekerasan fisik, 979 anak mengalami kekerasan psikis, 2.556 anak menderita kekerasan seksual, 68 anak menjadi korban eksploitasi, 73 anak menjadi korban perdagangan orang, dan 346 anak menjadi korban penelantaran. Dan 58,80% kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak itu terjadi di dalam rumah tangga.

Tidak sedikit kasus kekerasan tersebut yang dipicu oleh hal yang sepele, ada yang hanya karena ribut berebut baju dengan kakaknya, ada yang karena sakit-sakitan, ada yang karena minta dibelikan sampul buku sekolah, bahkan ada yang karena salah jemur pakaian. Sesepele apapun alasannya, dampak dari kekerasan tersebut akan memberikan bekas yang mendalam. Kesalahan dalam pola asuh ini berpotensi menjadikan korban sebagai pelaku di masa sepan. Berbagai kasus seperti seorang ayah yang mencabuli anaknya, atau seorang ibu yang menganiaya anaknya, semestinya tidak terjadi jika terjadi pengasuhan positif dalam keluarga. Pengasuhan positif akan meningkatkan kualitas interaksi yang positif antar keluarga. Ada saling pengertian dan saling menghargai. Tumbuh kembang anak akan teroptimalkan. Sementara berbagai perilaku menyimpang dan kelainan akan dapat diantisipasi dan dihindari.

Dalam prinsip pengasuhan positif, anak harus dilakukan dengan cinta dan kasih sayang, penghargaan dan saling memaafkan, bebas dari tindakan kekerasan, dan tidak membeda-bedakan. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak. Caranya adalah dengan menjaga keharmonisan keluarga, memenuhi kebutuhan anak, melakukan stimulasi/ pendidikan sesuai dengan tahap perkembangan anak, dan memberikan perlindungan dari tindakan kekerasan. Bukankah itu sama saja dengan memanjakan? Memenuhi kebutuhan bukan berarti menuruti semua kemauan anak. Melindungi anak dari tindakan kekerasan bukan berarti tidak menegur atau menasihati anak. Pengasuhan positif adalah membangun ekosistem keluarga yang penuh nilai kasih sayang, bukan menjadikan anak lebih superior dibandingkan orang tua mereka.

Ada beberapa peran yang harus dijalankan orang tua dalam pengasuhan anak. Mulai dari memenuhi kebutuhan anak akan makanan sehat dan bergizi; menanamkan nilai agama dan moral dalam kehidupan; membangun kelekatan emosi dengan anak sebagai dasar keterampilan bersosialisasi; memenuhi kebutuhan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman; menumbuhkan perilaku saling menghargai, menyayangi, toleransi, cinta kasih, kerja sama, tanggung jawab, dan kesederhanaan; hingga mengajarkan cara menyelesaikan masalah dan konflik yang dihadapi serta mengambil keputusan. Sayangnya, tidak semua orang tua mampu menjalankan peran-peran tersebut karena berbagai kendala. Ada yang terkendala ekonomi, ada yang terkendala kompetensi, ada juga yang terkendala waktu. Tidak mengherankan, pola pengasuhan positif lebih sulit diterapkan di keluarga miskin dengan pendidikan minim, atau di keluarga tanpa kehadiran orang tua.

Untuk menerapkan pengasuhan positif, orang tua perlu memberikan keteladanan yang baik dan pembiasaan yang baik. Kemudian terus melakukan pengasuhan tanpa kekerasan dan berkelanjutan. Orang tua harus memahami tahap perkembangan anak, cara berkomunikasi efektif, dan membangun disiplin positif. Anak usia 0-2 tahun adalah tahap penyesuaian diri. Anak butuh simulasi sentuhan lembut, ekspresi wajah gembira ketika berinteraksi, diajak bicara dengan suara pelan, digendong ketika menangis, distimulasi panca inderanya, disapih dengan jujur, dan diperhatikan perkembangan berjalan dan berbicaranya. Hindari mengguncang, merebut kasar, mengayun keras, meneriaki, membiarkan bayi menangis lama, memperlihatkan ekspresi marah atau dingin, menstimulasinya dengan gawai, dan mengabaikan keterlambatan perkembangan anak.

Anak usia 2-7 tahun adalah tahap mandiri dan eksplorasi. Anak butuh stimulasi gerak tubuh dan keseimbangan melalui aktivitas di luar ruangan. Orang tua perlu mengizinkan anak untuk berinisiatif mengerjakan tugas sehari-hari secara mandiri dan mempertahankan hak propertinya sendiri. Beri anak kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan pastikan anak memiliki banyak waktu bermain bebas dengan pengawasan. Stimulasi dengan gawai sebaiknya dilakukan setelah anak berusia lima tahun, itu pun dengan waktu yang sangat terbatas. Biarkan anak bermain tanpa menuntutnya dengan berbagai beban aktivitas akademis. Anak usia 7-10 tahun adalah tahap berkarya dan kepercayaan. Berikan stimulasi pemecahan masalah (problem solving) lewat diskusi, eksperimen, dan praktik langsung. Orang tua perlu lebih banyak mendengar dan memberikan kesempatan anak untuk berpendapat. Orang tua juga perlu mengenali lingkungan pertemanan anak. Orang tua tidak boleh terlalu mengekang anaknya, melarang tanpa penjelasan, ataupun mengisolasi anak dari dunia pertemanannya. Pun demikian, pengawasan anak masih tetap diperlukan.

Pengasuhan positif membutuhkan komunikasi efektif, dimana penyampaian pesan dapat dipahami oleh penerima pesan dengan nyaman. Untuk membangun komunikasi efektif dengan anak, orang tua perlu mendengar aktif dan memberikan kesempatan pada anak untuk bicara lebih banyak. Bicaralah dengan singkat dan jelas, menggunakan kata-kata yang positif. Jaga kontak mata dan posisi tubuh yang sejajar dengan anak. Cobalah berempati dan memperhatikan Bahasa tubuh anak. Hindari menyalahkan, meremehkan, memarahi, memberi label, mengejek, membandingkan, dan menyindir anak. Banyak masalah pengasuhan yang bersumber dari permasalahan komunikasi, karenanya komunikasi efektif ini sangat penting untuk diperhatikan.

Pengasuhan positif juga membutuhkan disiplin positif, yaitu pembentukan kebiasaan dan tingkah laku anak yang positif dengan kasih sayang sehingga anak dapat menjadi makhluk sosial dan tumbuh berkembang dengan optimal. Disiplin positif bukanlah mengendalikan anak dengan kekerasan atau melarang hal yang diinginkan anak atau menghukum anak yang melakukan kesalahan. Tujuan disiplin positif adalah membuat anak dapat bertanggung jawab atas tingkah lakunya, memberikan kesempatan kepada anak untuk berperilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh lingkungannya, dan mengajarkan anak bagaimana bertingkah laku, memahami mana yang benar dan salah. Orang tua membutuhkan bekal kesabaran, kepercayaan diri, ketenangan, konsistensi, dan tidak mudah menyerah dalam mendisiplinkan anak. Buatlah kesepakatan bersama dan pilihlah waktu yang tepat. Berilah contoh dan penjelasan, jangan mengungkit perilaku yang sudah berlalu. Hindari mencaci, mengecam, dan memukul anak karena bisa membuat anak membenci, dendam, dan tidak mengacuhkan orang tuanya. Apresiasi perilaku positif anak pada waktu dan proporsi yang tepat merupakan pembentukan karakter anak.

Anak adalah kehidupan. Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu. Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu,
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya. Karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi, bahkan dalam mimpi sekalipun. Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tengelam di masa lampau…
” (‘Anakmu Bukanlah Milikmu’, Kahlil Gibran)

(Masih) Menanti Kabar Baik di 2021

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

#Gempa Mag:6.2, 15-Jan-21 01:28:17 WIB, Lok:2.98 LS, 118.94 BT (Pusat gempa berada di darat 6 km TimurLaut Majene), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV-V Majene, III Palu, II Makasar #BMKG. Begitulah update informasi bencana yang viral pagi ini beserta foto dan videonya. Informasi gempa di Sulawesi Barat tersebut menambah panjang deretan bencana yang terjadi sepanjang tahun 2021 yang baru berjalan setengah bulan. Sebelumnya ada bencana banjir di beberapa wilayah tanah air seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Jember, dan Kepulauan Riau. Belum semuanya sudah teratasi, termasuk musibah longsor Sumedang. Malam ini bahkan ada informasi gempa 4.7 SR di Pangandaran.

Dan masih lekat dalam ingatan akan peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari lalu yang mengangkut 62 orang. Jangan lupakan juga bencana dunia berupa virus corona yang pada awal tahun ini memunculkan varian baru yang sudah mengeinfeksi di puluhan negara. Update dana Covid-19 di Indonesia hingga pertengahan Januari 2021 ini juga menunjukkan tren dan rekor yang memprihatinkan. Setengah bulan ini sudah beberapa kali rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia terpecahkan, mulai dari 8.854 kasus baru (6 Januari), 9.321 kasus baru (7 Januari), 10.617 kasus baru (8 Januari), 11.278 kasus baru (13 Januari), 11.557 kasus baru (14 Januari), hingga 12.818 kasus baru per hari ini. Melihat trennya, bukan tidak mungkin rekor kasus harian akan kembali terpecahkan. Rekor kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia pun sudah dua kali terpecahkan di awal tahun ini, yaitu 302 orang dan 306 orang pada 12 dan 13 Januari lalu. Total korban jiwa di seluruh dunia akibat Covid-19 di pertengahan Januari 2021 ini sudah menembus angka 2 juta jiwa, dimana korban terbesar di AS yang mencapai lebih dari 400 ribu jiwa.

Pengadaan, pendistribusian, dan penyuntikan vaksin sayangnya belum menjadi kabar baik. Banyak isu mengenai efek samping dan kontroversi vaksin yang menyertai. Belum lagi isu konspirasi. Faktanya, kasus baru dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia dan dunia terus meningkat. Vaksin yang sifatnya jangka panjang barangkali akan menjadi kabar baik di masa mendatang ketika efektivitasnya sudah mulai dirasakan. Ironisnya, tidak sedikit bencana atau musibah yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya banjir di Kalimantan Selatan yang terparah sepanjang sejarah disebabkan penebangan hutan berganti menjadi kawasan tambang dan perkebunan sawit. Kecelakaan pesawat juga bukan karena faktor alam. Belum lagi jika ada pemotongan dana bantuan bencana sebagaimana yang beberapa kali terjadi. Pada titik inilah, manusia perlu introspeksi dan berbenah. Bukan hanya pasrah, apalagi sibuk mencari kambing hitam.

Sore ini tersiar kabar wafatnya Sayyidil Walid Al Habib bin Abdurrahman Assegaf. Salah seorang ulama yang nasabnya sampai ke Rasulullah SAW sekaligus salah seorang guru dari Habib Rizieq Shihab. Berpulangnya beliau hanya berselang sehari dari meninggalnya Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber, ulama Al Hafizh kelahiran Madinah yang kerap mengisi acara Ramadhan dan bertemakan Al Qur’an di TV. Tahun lalu, beliau pernah juga menjadi korban penusukan oleh ‘orang gila’ kala berdakwah di Lampung. Bersamaan dengan dua ulama tersebut, tersiarlah kabar belasan ulama lainnya yang berpulang ke Rahmatullah sepanjang Januari 2021. Menyusul para ulama dan orang shalih yang banyak meninggal beberapa tahun terakhir. Walaupun kematian adalah sunnatullah, meninggalnya para ulama sejatinya juga merupakan musibah. Bukan hanya bagi keluarga dan kerabatnya, namun bagi umat manusia seluruhnya. Dalam sebuah hadits Riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.

Lantas sampai kapan bencana terus melanda dan musibah terus mendera? Karena kehidupan sejatinya adalah ujian, potensi bencana dan musibah akan selalu ada mengiringi perjalanan hidup manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Bisa bersabar atau lantas berputus asa? Tetap bersyukur atau malah kufur? Yang pasti, harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu ada. Bukankah semakin pekat malam, semakin dekat pula dengan fajar? Semakin berat masalah, semakin dekat dengan jalan keluar. Semakin lelah dalam berjuang, semakin dekat pula dengan kemenangan. Semuanya mudah bagi Allah SWT. Tinggal bagaimana kita mendekat pada-Nya, tidak jemu memohon dan berharap pada-Nya, tidak berhenti bersabar dan berjuang di Jalan-Nya. Ujian kehidupan memang tidak ringan, semakin Allah SWT mencintai hamba-Nya, semakin berat pula ujian yang diberikan-Nya. Semoga Allah SWT memberikan kita punggung yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai ujian.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

Pendidikan 2021, Adaptasi Pembelajaran Daring

Formal education will make you a living, self-education will make you a fortune” (Jim Rohn)

Memasuki tahun 2021, pandemi Covid-19 belum terlihat akan segera usai, termasuk di Indonesia. Data kasus harian per 6 Januari 2021 manunjukkan angka 8.854 kasus baru. Jumlah yang melampaui rekor kasus harian sebelumnya pada 3 Desember 2020 lalu sebesar 8.369 kasus. Dan jika melihat kurva Covid-19 di Indonesia yang masih terus menanjak, sepertinya tinggal menunggu waktu rekor kasus harian Covid-19 akan kembali dipecahkan. Optimisme untuk segera memulai pembelajaran tatap muka per Januari 2021 yang sempat muncul paska Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi sepertinya perlu ditahan kembali. Memperhatikan peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia dan dunia, satu per satu daerah ataupun institusi pendidikan justru menegaskan akan melanjutkan pembelajaran daring semester ini.

Dalam evaluasi pemerintah, semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi, semakin besar dampak negatif yang terjadi pada anak. Dampak negatif tersebut berupa ancaman putus sekolah, kendala tumbuh kembang, serta tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga. Memang jika dilihat dari sisi efektivitas pembelajaran, Belajar Dari Rumah (BDR) ini lebih punya banyak keterbatasan dibandingkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dari segi fasilitas misalnya, tidak semua guru dan siswa memiliki gawai yang memadai, beberapa wilayah masih terkendala sinyal, dan tidak sedikit yang terkendala kuota untuk melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran daring juga lebih terbatas waktunya. Belum lagi keterbatasan kemampuan orang tua dalam mengajar dan mendampingi selama BDR, baik dari segi waktu maupun kompetensi. Secara teknis, pembelajaran daring juga lebih sulit dalam membangun, menjaga, dan memastikan siswa fokus belajar. Siswa juga relatif lebih cepat bosan karena kehilangan suasana bersosialisasi dengan teman-temannya. Dan masih banyak catatan lain dalam implementasi pembelajaran daring.

Sayangnya, PTM bukan solusi juga untuk pendidikan di masa pandemi. Pembelajaran daring tetap harus dilanjutkan, dengan beberapa perbaikan (improvement) dari apa yang sudah berjalan mulai Maret 2020 lalu. Pembelajaran daring tahun lalu memang masih sangat kacau. Komponen pendidikan mulai dari guru, siswa, orang tua, pemerintah, hingga kurikulum dan infrastruktur seakan terkaget-kaget. Jauh dari kata siap. Tahun ini seharusnya komponen pendidikan tersebut bisa lebih beradaptasi dengan kondisi yang ada. Ekosistem pendidikan daring dapat lebih baik dipersiapkan. Komunikasi dan pembagian peran antara guru dengan orang tua juga bisa lebih apik. Metode pembelajaran yang paling tepat juga seharusnya sudah mulai terlihat. Ada karakteristik pendidikan di setiap jenjang pendidikan, di masing-masing wilayah yang dapat ditemukenali. Sehingga pendidikan di masa pendemi ini tidak hanya mengenal satu pola solusi pembelajaran.

Dalam hal kompetensi keterampilan dan praktikum, pembelajaran daring memang tidak akan seefektif pembelajaran tatap muka. Pun demikan dalam hal kompetensi sikap dan perilaku. Namun bukan berarti tak ada yang bisa dilakukan. Sebagaimana materi dan kurikulum pendidikan di masa pandemi dapat disesuaikan dan disederhanakan, pendidikan praktik dan pendidikan karakter pun dapat disesuaikan dan disederhanakan. Bukan dihilangkan karena berbagai keterbatasan. Bagaimanapun, pendidikan adalah pembelajaran yang menyeluruh. Bahkan dalam pembelajaran daring yang turut membuka akses informasi lebih luas ke peserta didik, pendidikan karakter justru harus dikuatkan.

Pembelajaran daring sebenarnya menjadi tantangan untuk optimalisasi teknologi informasi dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa jadi peluang pengembangan pendidikan terutama untuk siswa pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Di tengah begitu berkembangnya teknologi informasi, keaktifan dan kemandirian peserta didik dalam belajar juga perlu semakin dibiasakan. Bagi guru dan orang tua sebagai pendidik, kondisi ini juga dapat mengupgrade kemampuan literasi teknologi informasi dan komunikasi mereka agar tidak ketinggalan zaman. Pembelajaran daring juga mampu merangsang kreativitas dan inovasi pembelajaran. Setelah pandemi terkendali dan masa pembelajaran daring selesai, di masa transisi kemungkinan pembelajaran juga masih akan menggunakan system hybrid. Jadi sebagaimana pola Work from Home (WfH), BDR bisa jadi tidak benar-benar akan ditinggalkan. Dan jika fase transisi ini ternyata butuh waktu lebih lama, bukan tidak mungkin pola hybrid ini yang akan menjadi ‘new normal’ dalam dunia pembelajaran. Karenanya kemahiran dalam beradaptasi terhadap pembelajaran daring ini begitu krusial, tidak hanya untuk hari ini tetapi juga di masa mendatang.

Bagaimanapun, pembelajaran tatap muka memang tidak tergantikan. Ada komponen pendidikan yang seakan menghilang dengan hanya pembelajaran daring. Namun kesehatan dan keselamatan masyarakat juga perlu diutamakan. Pembelajaran daring akan lebih efektif dalam mengurangi penyebaran Covid-19 dengan catatan siswa disiplin menerapkan protokol kesehatan di lingkungan sekitarnya. Jika siswa dan masyarakat abai ya sama saja, malah pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan ketat bisa jadi lebih bermanfaat. Menjadi penting bagi stakeholder pendidikan untuk segera beradaptasi dengan pembelajaran daring dan berkolaborasi menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung pembelajaran. Kita tak tahu sampai kapan pembelajaran yang kurang ideal ini masih akan terus berlangsung. Semoga pandemi ini segera berlalu sehingga proses pendidikan dan pembelajaran bisa lebih efektif. Bukan sekadar kembali melakukan pembelajaran tatap muka yang belum tentu efektif. Namun terus memperbaiki sistem pendidikan dan pola pembelajaran agar semakin efektif.

Learning is not the product of teaching. Learning is the product of the activity of learners.” (John Holt)

2021, Tahun Masih Harus Bersabar

Aku mencari segala bentuk rezeki tetapi aku tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar
(Umar bin Khattab r.a.)

Akhirnya, tahun 2020 berlalu. Ada banyak harapan di tahun 2021 ini. Pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 benar-benar membuat dunia berselimut duka dan kekhawatiran. Banyak event nasional dan internasional di tahun 2020 yang ditunda atau dibatalkan, mulai dari konser musik, festival film, hingga Olimpiade di Tokyo. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Indonesia yang tetap berjalan barangkali termasuk anomali. Dalam kaleidoskop 2020 di bidang apapun, tidak terlepas dari dampak yang dirasakan akibat pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya bidang kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan, sosial budaya, politik, hukum, hubungan internasional, agama, hingga teknologi informasi dan olahraga tahun 2020 pasti terkait dengan persoalan pandemi ini.

Memasuki tahun 2021, pandemi belum juga berakhir. Bahkan angka statistiknya terus bertambah. Kasus Covid-19 tercatat sudah menembus 80 juta dengan korban jiwa lebih dari 1,8 juta di seluruh dunia. Di luar kasus Covid-19, awal tahun 2021 ini sebenarnya relatif lebih baik daripada awal tahun 2020. Awal tahun lalu sudah diwarnai dengan isu World War III karena memburuknya hubungan AS dengan Iran. Beberapa negara di Timur Tengah juga ikut bergejolak. Indonesia juga bersitegang dengan China yang mengklaim Laut Natuna. Awal tahun 2020 juga ditandai dengan banjir bandang di Jakarta, kebakaran hutan Australia, dan erupsi Gunung Taal di Filipina. Belum lagi kasus Reynhard Sinaga yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Semoga tidak terulang di tahun ini.

Di tahun 2021 ini sepertinya kesabaran masih akan terus diuji. Ada lebih dari 110 ribu kasus aktif Covid-19 di Indonesia dari sekitar 750 ribu kasus yang terdata, dengan korban jiwa lebih dari 22 ribu orang. Banyak ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia penuh. Itu belum termasuk klaster liburan akhir tahun. Petugas medis perlu lebih bersabar menghadapi pasien Covid-19 yang tak jua surut. Sudah 10 bulan sejak kasus pertama corona di Indonesia diumumkan, kebutuhan ekonomi harus terus terpenuhi, masyarakat tak bisa lagi ‘ditertibkan’ untuk diam saja di rumah. Butuh kesabaran untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dimana masyarakat semakin abai. Di dunia pendidikan, banyak orang tua yang sepertinya juga masih harus bersabar untuk mendidik anaknya belajar di rumah karena pembelajaran tatap muka urung dilakukan.

Masyarakat Indonesia juga masih harus bersabar menghadapi pemerintah negeri ini. Ketidaktahuan pemerintah akan masuknya mutasi virus corona di Indonesia beberapa hari lalu seakan dejavu dengan kondisi awal tahun lalu saat pemerintah menyatakan belum ada kasus Covid-19 di tanah air pun ada beberapa warga asing yang terinfeksi setelah berkunjung ke Indonesia. Keputusan menutup kedatangan Warga Negara Asing (WNA) di awal tahun ini juga terasa terlambat hampir setahun. Dan memang butuh kesabaran ekstra dalam menyikapi kebijakan pemerintah Indonesia. Sepanjang tahun 2020, sudah ada puluhan pernyataan kontroversial dari pejabat pemerintah. Belum lagi ditambah berbagai pelanggaran hukum dan kesewenang-wenangan yang dilakukan. Jika pada 2020 masih ada Donald Trump, Presiden AS yang eksentrik dan kerap jadi olok-olok. Dengan tak terpilihnya lagi Trump, bukan tak mungkin Indonesia akan banyak mendapat sorotan dunia, bukan dalam artian yang positif.

Umat Islam masih harus bersabar. Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Habib Rizieq Shihab (HRS) dipenjara tak lama setelah 6 orang pengawalnya tewas ditembak polisi. Ironis, HRS dipenjara di Rutan Narkoba karena melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, sementara beberapa bulan lalu puluhan ribu narapidana dibebaskan kerena Covid-19. HRS ditetapkan sebagai tersangka tanpa menghilangkan satupun nyawa, sementara para penembak laskar FPI tidak diusut, apalagi dihukum. Penangkapan HRS diproses begitu cepat pun tidak merugikan negara seperti kasus BLBI, Jiwasraya, e-KTP, ataupun Pelindo. Bahkan HRS sudah membayar denda 50 juta. Sementara Harun Masiku dan Sjamsul Nursalim yang jelas merugikan negara tak jua tertangkap. Menteri KKP dan Menteri Sosial yang diciduk KPK karena kasus korupsi memang di-reshuffle, namun jatah menteri dari partai lumbung koruptor tidaklah berkurang. Boro-boro ditindak atau dibubarkan, yang ada malah kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai penguasa menguap begitu saja. Apalagi kasus yang menyeret ‘anak Pak Lurah’. Barangkali harus menunggu Pak Lurah lengser dulu untuk menuntut keadilan, itupun jika Pak Lurah barunya berani menuntut.

Dan masyarakat dunia masih harus bersabar. Vaksin bukan obat. Alih-alih mengobati, vaksin lebih bersifat preventif. Butuh waktu untuk membuatnya, tambahan waktu untuk memproduksi vaksin yang efektif, tambahan waktu lagi untuk mendistribusikannya, serta lebih banyak waktu lagi untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit menular. Belum lagi adanya kelompok anti vaksin dan penganut teori konspirasi. Umat manusia perlu lebih bersabar agar tidak menimbulkan bencana lain yang lebih besar. Bagaimanapun, banyak bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Ditambah lagi potensi bencana alam. Selain pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu ada berbagai bencana dengan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit, mulai dari kebakaran, banjir bandang, badai besar, letusan gunung berapi, gempa bumi, serangan belalang, angin topan, ledakan, hingga kerusuhan sipil dan krisis kemanusiaan. Dan tidak ada jaminan bencana serupa tak terulang di tahun ini.

Lalu sampai kapan harus bersabar? Sampai kapanpun, sebab kesabaran sejatinya tiada batas. Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Sedangkan secara syari’at, sabar adalah menahan diri dalam tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian atau musibah. Jadi batas kesabaran adalah ketika tak ada lagi ketaatan yang harus dilakukan, kemaksiatan yang harus dihindari, dan musibah yang harus dihadapi. Ya, kesabaran harus ada sepanjang hayat. Kesabaran inilah yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian, tetap optimis, menikmati proses kehidupan, menjauhkan dari penyakit, keberuntungan yang baik, dan derajat tinggi di surga. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang sabar, semakin sabar di tahun ini, dan terus bersabar di tahun-tahun selanjutnya.

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku
(Ali bin Abi Thalib r.a.)

1000 Chapter One Piece

Namaku Monkey D. Luffy, aku akan melampaui kalian, dan aku akan menjadi Raja Bajak Laut…

Demikian kalimat penutup di chapter ke-1000 manga One Piece yang berjudul “Luffy Si Topi Jerami”. Bagi para fans One Piece yang berjumlah jutaan dan tersebar di seluruh dunia, banyak momen epic di chapter kali ini. Mulai dari kekuatan Marco Si Phoenix biru melawan King dan Queen, dua komandan All Stars terkuat bajak laut Beasts Kaido. Kemudian flashback obrolan Yamato dengan Ace terkait buku catatan Oden. Lalu saling berhadapannya lima Supernova Generasi Terburuk dengan dua Yonkou di atap Istana Onigashima. Plus jurus baru Luffy, Gear Third Gomu Gomu no Red Rock, yang menghempaskan “Makhluk Terkuat di Dunia” Kaido Raja Binatang Buas dalam sekali pukul. Buat saya yang merupakan ‘pembaca biasa’ manga One Piece sebenarnya punya ekspektasi lebih tinggi lagi di chapter ke-1000 ini, mulai dari munculnya mantan kru bajak laut Rocks, Shiki the Golden Lion di Onigashima; berkumpulnya para admiral Angkatan Laut, para Yonkou, para mantan Shichibukai, dan para Supernova di Wanokuni; hingga turunnya Enel dari bulan dan beraliansi dengan Luffy. Tapi kejutan besar seperti itu tampaknya lebih baik disimpan untuk pertempuran akhir yang akan sangat dahsyat.

Namun tulisan ini takkan me-review chapter ke-1000 manga One Piece atau memprediksi akhir dari Arc Wano. Bagaimanapun, 1000 chapter adalah capaian luar biasa untuk manga dengan alur yang terus hidup. Angka 1000 barangkali belum seberapa dibandingkan 13352 chapter Kobo-chan. Tapi manga seperti Kobo-chan, Doraemon, atau Crayon Shinchan yang jumlah chapternya lebih dari 1000 adalah komik dengan format cerita pendek terpisah tanpa alur. Karenanya Nobita tak jua beranjak dari kelas 4 SD dan Shinchan tetap murid TK, sepanjang apapun cerita sudah berjalan. Manga Detective Conan yang terhenti (sementara) di chapter 1054 setelah kerap hiatus beberapa tahun terakhir juga membuat Conan tertahan di kelas 1 SD dan Shinichi Kudo di kelas 2 SMA tak peduli berapa musim sudah kisahnya berlalu. Berbeda dengan One Piece yang gunung alurnya terbilang rapi, detail kecil yang terjadi di chapter terdahulu ada keterkaitan dengan peristiwa di beberapa chapter kemudian. Beberapa ‘plot hole’ yang jumlahnya hanya sedikit bahkan bisa berubah menjadi ‘plot twist’. Ending ceritanya sudah siap sehingga jalan menuju ending tersebut menjadi menarik untuk disimak dan didiskusikan. One Piece diprediksi tidak akan hiatus lama seperti halnya Hunter x Hunter, Nana, Vagabond, ataupun Berserk yang tidak jelas kelanjutannya.

Bukan tanpa alasan selama 23 tahun, One Piece menjadi manga terlaris sepanjang sejarah dan sudah terjual lebih dari 470 juta eksemplar di 43 negara. Jauh mengungguli Dragon Ball di urutan kedua sebagai manga legendaris yang menjadi salah satu inspirasi Eiichiro Oda dalam membuat One Piece. Sosok mirip Luffy bahkan sempat terlihat di ‘Perfect Cell Saga’ komik Dragon Ball Z. Sebagai manga shounen bergenre action dan adventure, karakteristik One Piece sebenarnya mainstream. Kental dengan nilai persahabatan dan tekad kuat untuk meraih cita-cita. Plus tokoh utama yang ‘konyol dan kurang cerdas’ khas manga genre comedy. Lantas apa yang membedakan One Piece dengan manga sejenis lainnya sehingga 6 tahun lalu sudah tercatat dalam Guinness World Record sebagai “The most copies published for the same comic book series by a single author”? Menurut saya sih competitive advantages One Piece terletak pada detail dan kedalaman Oda Sensei dalam membangun dunia One Piece.

Bicara tentang nilai persahabatan, banyak komik petualangan lain semisal Digimon, Pokemon, ataupun Hunter x Hunter juga kental nilai persahabatan. Uniknya di One Piece, persahabatan yang dibangun bukan hanya sesama manusia atau dengan makhluk yang menyerupai manusia, tetapi juga dengan benda. Kematian Ace atau Corazon dalam One Piece barangkali masih sebanding dengan pengorbanan Jiraiya atau Neji dalam Naruto. Solidaritas dalam penyelamatan Nami (Arc Arlong Park), Robin (Arc Ennies Lobby), atau Sanji (Arc Whole Cake Island) barangkali juga sebanding dengan beberapa petualangan Doraemon yang menyentuh nilai persahabatan. Namun perpisahan dengan Going Merry punya rasa yang tidak bisa dibandingkan. Pengukuhan persahabatan dengan benda berupa kapal, dengan cara membakarnya sangatlah epic.

Tekad kuat untuk meraih impian juga banyak diangkat menjadi tema utama manga, termasuk beberapa manga bergenre olahraga seperti Captain Tsubatsa (sepak bola), Haikyu!! (bola voli), atau Real (basket disabilitas). Bagaimana kegigihan Mashiro ingin menjadi mangaka (Bakuman), Naruto ingin menjadi Hokage, atau Gon ingin menjadi Hunter terbaik, sepertinya mirip dengan perjuangan Luffy untuk menjadi Raja Bajak Laut. Tapi One Piece tidak sesederhana itu, setiap kru bajak laut topi jerami memiliki impian masing-masing. Zoro ingin menjadi pendekar pedang terbaik di dunia, Nami bercita-cita menggambar peta dunia One Piece, Usopp ingin menjadi pahlawan pemberani di lautan, Sanji ingin menemukan All Blue, Chopper ingin mampu mengobati segala penyakit, Robin ingin mempelajari sejarah dunia termasuk Abad Kekosongan, Franky ingin membuat kapal yang mampu mengarungi seluruh lautan, sementara Brook ingin menemui ikan paus bernama Laboon. Berjuang dengan gigih untuk meraih visi pribadi atau cita-cita bersama akan mampu menginspirasi, namun kegigihan berjuang bersama untuk saling membantu mewujudkan cita-cita masing-masing tentu punya daya tarik tersendiri. Lebih tidak sederhana lagi jika kita diskusikan bahwa impian Luffy sebenarnya bukanlah untuk menjadi Raja Bajak Laut, tetapi yang akan ia lakukan dengan menjadi Raja Bajak Laut.

Tokoh utama yang ‘konyol dan kurang cerdas’ memang kerap menjadi bumbu cerita agar tidak terlalu menegangkan. Secara karakter memang ada kemiripan antara Luffy dengan tokoh utama komik lain, misalnya Naruto, Shinchan, Saitama (One Punch Man), Gintoki (Gintama), Natsu (Fairy Tail), Shiki (Edens Zero), Nobita (Doraemon), Goku (Dragon Ball), ataupun Usagi (Sailor Moon). Memang ada juga tokoh utama yang jenius semacam Light Yagami dan L (Death Note), Lelouch (Code Geass), ataupun Senku (Dr. Stone). Belum lagi tokoh detektif seperti Shinichi Kudo/ Conan Edogawa, Kindaichi, Kyu dan Ryu (Detective School Q), ataupun Toma (Q.E.D). Tapi tokoh utama jenius seperti ini lebih kuat dalam manga bergenre mystery. Masalah berikutnya, dalam manga One Piece, yang koplak bukan cuma Kapten Luffy. Hampir semua kru Bajak Laut Topi Jerami punya keabnormalannya masing-masing. Paling hanya Robin yang agak normal dan Jinbei yang bisa jadi masih jaim karena baru bergabung. Dan sebagaimana manga shounen pada umumnya, dalam One Piece juga tokoh utama punya rivalitas dengan yang lain, dan secara bertahap kekuatannya terus bertambah dari waktu ke waktu.

Hal menarik lainnya dari dunia One Piece adalah inspirasi tempat, bangunan, dan tokoh yang diambil dari dunia nyata. Untuk tempat dan bangunan ada Water Seven yang terinspirasi dari Vanesia (Italia), Dressrosa yang bernuansa Spanyol, Corrida Colosseum yang serupa dengan Colosseum di Roma (Italia), Mary Goise/ Marijoa yang mirip dengan Chateau de Chambord di Perancis, Pulau Zou yang serupa dengan Elephant Rock, Alabasta yang bernuansa Timur Tengah, dan masih banyak tempat dan bangunan lain di dunia One Piece yang terinspirasi dari dunia nyata. Tak ketinggalan Indonesia. Jika Negeri Wano identik dengan Jepang di masa lalu, Indonesia cukup banyak kemiripan dengan Pulau Langit (Arc Skypiea). Mulai dari adanya Pulau Jaya yang memiliki kota emas terinspirasi dari Irian Jaya. Burung Southbird di Pulau Jaya digambarkan mirip dengan Burung Rangkong yang hidup di Kalimantan. Pemimpin Pulau Langit, Enel, menggunakan celana bermotif batik, dengan telinga dan tutup kepala menyerupai wanita suku Dayak. Enel dan anak buahnya memiliki kekuatan aneh bernama ‘mantra’. Suku Shandia yang merupakan penduduk asli Pulau Langit memiliki warna kulit, pakaian, dan senjata yang mirip dengan Suku Dayak. Belum lagi markas Flying Fish Riders di Arc Sabaody yang terinspirasi dari rumah adat Nias. Bahkan nama Joy Boy, tokoh legendaris misterius di dunia One Piece, sangat mirip dengan nama Joyo Boyo, Raja Kediri yang adil bijaksana yang juga terkenal karena ramalannya. Coincidence? I think not!

Sementara untuk karakter One Piece yang terinspirasi dari dunia nyata ada banyak sekali. Beberapa karakter mengambil dari nama bajak laut nyata seperti Edward Teach, William Kid, Ferdinand Magellan, Bartholomew Roberts, Anne Bonny, Samuel Bellamy, dan Edward Low. Beberapa karakter memiliki penampilan yang mirip dengan orang ternama di dunia nyata, misalnya Eminem (Enel), Hulk Hogan (Shirohige), Bob Marley (Yasopp), Stevie Ray Vaughan (Ace), Yusaku Matsuda (Aokiji), Kunie Tanaka (Kizaru), Bunta Sagiwara (Akainu), Michael Jackson (Hody Jones), Valentino Rossi (Trafalgar Law), Al Capone (Capone Bege), Mahatma Gandhi dan Mikhail Gorbachev (dua orang dari Gorosei),. Beberapa karakter lain terinspirasi dari tokoh fiksi misalnya Ace Ventura yang diperankan Jim Carrey (Franky), Zatoichi yang diperankan Shintaro Katsu (Fujitora), Alex yang diperankan Malcolm McDowell (Corazon), The Pinguin yang diperankan Danny DeVito (Dr. Hogback), dan Mr. Pink yang diperankan Steve Buscemi (Sanji). Dan masih banyak lagi kemiripan dari dunia One Piece yang terinspirasi dari dunia nyata. Seiring berjalannya waktu, tempat, bangunan, dan karakter baru One Piece bermunculan. Akan semakin bertambah pula daftar kemiripan dunia One Piece dengan dunia nyata.

Tak terasa, sudah 23 tahun manga One Piece hadir dan akan menjadi legenda di masa mendatang. Ini baru menyoal 1000 chapter manga One Piece, belum anime dan filmnya. Belum lagi membahas pesan moralnya. Tapi tulisan ini sudah harus segera diakhiri. Akhirnya, sebagai ‘pembaca biasa’ saya hanya bisa mengucapkan selamat buat Oda Sensei dan manga One Piece yang sudah menghibur dan menginspirasi selama 1000 chapter. Semoga tidak kehilangan sentuhannya dalam membangun dunia One Piece yang hidup dan tetap menarik. Tidak tergesa-gesa, tidak pula terlalu diundur-undur. Eiichiro Oda memang pernah mengatakan One Piece akan tamat dalam 4-5 tahun lagi, firasat saya mengatakan tidak mungkin. Prediksi saya Arc Wano baru masuk 70% kisah One Piece. Artinya masih ada 400an chapter lagi dan butuh sekitar 10 tahunan untuk bisa menyelesaikannya. Yah, semoga Oda Sensei tetap sehat dan dapat menyelesaikan apa yang sudah dimulainya, entah kapan…

When do you think people die? When they are shot through the heart by the bullet of a pistol? No. When they are ravaged by an incurable disease? No… It’s when they’re forgotten!” (Dr. Hiluluk)