‘Kampanye’ Ala Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)

Kajian Rutin Ahad pagi ini di Masjid Muniroh Abdullah Ar Rukban mengangkat tema tentang Shiroh Nabi Yusuf a.s. Tampaknya bukan kebetulan, tilawah rutin penulis hari ini juga tepat di Surah Yusuf, Surah ke-11 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 111 ayat. Dan qadarullah beberapa hari lalu, kajian kantor ba’da zhuhur di Masjid panggung Cordofa juga membahas beberapa hikmah dari kisah Nabi Yusuf a.s. yang disebutkan dalam Al Qur’an sebagai ‘kisah yang paling baik’ (ahsanal qashash). Banyak sekali pelajaran hidup dalam kisah Nabi Yusuf a.s., mulai lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Namun sesuai dengan judul, tulisan ini hanya akan dibatasi pada proses Nabi Yusuf a.s. menjadi bendaharawan Negeri Mesir, mulai dari kisah di penjara hingga pelantikan beliau.

Pengangkatan Nabi Yusuf a.s. menjadi pejabat di Mesir tidak dapat terpisahkan dari kisah beliau ketika di penjara. Integritas Nabi Yusuf a.s. dibuktikan disini, kompetensi takwil mimpi pun ditunjukkan disini. Sebagaimana dilanjutkan oleh ulama-ulama di kemudian hari, penjara menjadi medan dakwah potensial para da’i, tak terkecuali Nabi Yusuf a.s. yang begitu dicintai dan dihormati oleh para tahanan. Dalam Al Qur’an Surat Yusuf ayat 36 diceritakan, suatu ketika dua pemuda narapidana berkonsultasi pada Nabi Yusuf a.s. yang mereka nilai orang yang berbuat baik (muhsinin) tentang mimpi-mimpi mereka. Saat itu, Nabi Yusuf a.s. tidak langsung menjelaskan takwil mimpi mereka, melainkan berdakwah menguatkan fondasi akidah. Tawadhu menegaskan bahwa kompetensi takwil mimpi yang dimilikinya adalah karunia Allah SWT. Dari lima ayat yang menceritakan jawaban Nabi Yusuf a.s. atas pertanyaan dua rekannya d penjara, empat ayat pertama adalah dakwah, hanya satu ayat yang menjelaskan takwil mimpi mereka. Dalam unjuk kompetensinya, Nabi Yusuf a.s. sama sekali tidak ragu mengungkapkan jati dirinya sebagai da’i. Berbeda dengan kebanyakan politisi saat ini yang justru tersandera dengan ‘politik identitas’. “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik” (QS. Yusuf: 108).

Setelah itu, Nabi Yusuf a.s. mencoba ‘peruntungannya’ dengan menitip pesan kepada tahanan yang diketahuinya akan selamat. Namun Allah SWT sudah menetapkan bukan seperti itu jalur politik yang benar. “Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (QS. Yusuf: 42). Kampanye lewat jalur ‘orang dalam’ mungkin bisa lebih cepat sampai tujuan, namun belum tentu dibenarkan dan diridhai. Jalur instan bisa jadi menzhalimi hak orang lain, bisa jadi pula melewatkan pembelajaran penting atau keberkahan yang mengiringi proses yang lebih panjang. Malah bukan tidak mungkin, jalan yang tidak benar justru berakibat buruk, sebagaimana Nabi Yusuf a.s. yang harus mendekam dalam penjara hingga beberapa tahun lamanya.

Beberapa tahun kemudian, Raja Mesir bermimpi berulang dan berlanjut. Mimpi yang tidak dapat ditakwilkan oleh para pejabat dan tokoh agama di Mesir, namun cukup untuk mengingatkan rekan penjara Nabi Yusuf a.s. yang selamat akan kompetensi Nabi Yusuf a.s. Dalam kajian di Masjid Orchid, disebutkan bahwa Nabi Yusuf a.s. dipenjara selama 7 tahun, nama Raja Mesir saat itu adalah Aminhautib IV dan nama rekan penjara Yusuf yang menjadi pelayan Raja Mesir adalah Minarus. Singkat cerita, Raja Aminhautib IV mengutus Minarus untuk bertanya kepada Nabi Yusuf a.s. akan makna dari mimpinya. “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.” (QS. Yusuf: 46).

Mendapati pertanyaan itu, Nabi Yusuf a.s. tidak menyembunyikan ilmu dan kompetensinya. “Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan ditangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, dimana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS. Yusuf: 47-49). Menariknya, Nabi Yusuf a.s. tidak hanya menjelaskan takwil mimpi Raja, namun juga memberi solusi. Biji gandum yang telah dipanen tidak bisa bertahan lama disimpan, karenanya Nabi Yusuf a.s. menyarankan membiarkan tangkainya (tidak dipreteli) agar bisa lebih awet. Selain itu, Nabi Yusuf a.s. juga mengingatkan pentingnya menyimpan bibit untuk menghadapi masa subur kedua. Kampanye Nabi Yusuf a.s. adalah kampanye yang cerdas dan mencerdaskan, tidak hanya sampaikan gagasan namun juga solutif.

Setelah Raja Mesir mendengar penjelasannya, beliau meminta Nabi Yusuf a.s. dibebaskan dan dibawa menghadapnya. Namun bukannya senang dengan pembebasannya, Nabi Yusuf a.s. justru mengajukan ‘syarat’ pembebasannya. “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.” (QS. Yusuf: 50). Umumnya, yang memberi syarat adalah yang membebaskan sehingga disebut bebas bersyarat. Ini sudah diberikan kebebasan tanpa syarat malah minta syarat. Kampanye Nabi Yusuf a.s. sangat memperhatikan reputasi sebelum menjabat. Nama baiknya harus dibersihkan sehingga tidak menjadi ‘beban’ ke depannya. Sangat berbeda dengan politisi di Negeri Wakanda dimana politisi yang sudah terbukti korupsi atau melanggar hukum tidak malu untuk mencalonkan dirinya kembali ke pentas politik. Jika Nabi Yusuf a.s. dipenjara dulu baru jadi pejabat, di Negeri Wakanda banyak politisi yang menjabat dahulu, melakukan perbuatan melanggar hukum, baru kemudian dipenjara.

Kasus tujuh tahun sebelumnya kembali dibuka dan kebenaran pun terungkap. “Dia (raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu), “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” Mereka berkata, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Istri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar”. (Yusuf berkata), “Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah), dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS. Yusuf: 51-52). Mengkhianati amanah adalah ciri kemunafikan dan tidak ada tempat yang layak bagi seorang pengkhianat. Tidak ada rasa aman memberi amanah kepada seorang pengkhianat. Karenanya, fakta pengkhianatan ini perlu diungkapkan. Bukan untuk mempermalukan orang tua angkatnya, karena Nabi Yusuf a.s. juga tidak bisa melupakan jasa dan ketulusan mereka dalam merawat beliau. Kampanye ini dilakukan untuk memperoleh kepercayaan publik kembali, termasuk kepercayaan dari Raja Mesir. Dan Nabi Yusuf a.s. pun tidak lantas menyalahkan orang tua angkatnya. “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).

Singkat cerita, setelah berbincang-bincang dengan Nabi Yusuf a.s., Raja Mesir menjadikan Nabi Yusuf a.s. seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan terpercaya. Kemudian Nabi Yusuf a.s. berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55). Ayat ini kerap dijadikan dalil untuk memperbolehkan meminta jabatan, namun ada dua hal yang seringkali terlewatkan. Pertama, proses panjang dalam mendapat kepercayaan pemimpin dan membuktikannya. Kedua, kualifikasi personal yang dimiliki, tidak hanya aspek berpengetahuan atau berkompeten, namun juga aspek pandai menjaga atau berintegritas. Kompetensi dan karakter ini harus melekat pada diri pemimpin, keduanya, tidak boleh hanya salah satunya. Kampanye Nabi Yusuf a.s. adalah pembuktian kompetensi sekaligus karakter dan integritas beliau. “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal dimana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56).

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)

 

Tiga Dekade Detective Conan, Bilakah Berakhir?

Perlukah alasan (menolong orang)? Aku tak tahu apa alasan manusia untuk saling membunuh. Tetapi, untuk menolong seseorang tidak dibutuhkan alasan yang logis, bukan?” (Shinichi Kudo)

Begitulah salah satu quote dari Main Character (MC) komik Detective Conan yang paling berkesan bagi penulis. Menginspirasi untuk terus membantu orang lain tanpa harus mencari alasan. Tak terasa, manga Detektif Conan sudah berusia 30 tahun terhitung sejak pertama rilis di majalah Weekly Shonen Shogakukan pada 19 Januari 1994 silam. Penulis sendiri sudah membaca komik Detektif Conan sejak tahun 1998, dikenalkan teman sekelas yang mengoleksi komiknya. Manga online Detektif Conan Bahasa Indonesia yang terakhir penulis baca sudah mencapai chapter 1112. Sementara untuk versi Bahasa Inggris (komik ‘Case Closed’) yang terakhir dibaca sudah mencapai chapter 1122.

Secara ide cerita, Detektif Conan memang terbilang orisinil dan menarik. Jika komik detektif lain semisal Detektif Kindaichi dan Detective School Q, bahkan Sherlock Holmes, musuh utamanya adalah seseorang atau organisasi yang menjadi ‘konsultan’ dan ‘arsitek’ kejahatan, musuh utama Detektif Conan adalah organisasi mafia kriminal yang disebut Black Organization (Organisasi Hitam) yang membuat Detektif SMA Shinichi Kudo menjadi anak kecil setelah dipaksa meminum pil APTX 4869. Anak kecil itulah yang menjadi MC komik Detektif Conan bernama fiktif Conan Edogawa yang berasal dari nama Arthur Conan Doyle (penulis serial Sherlock Holmes) dan Edogawa Ranpo (penulis novel misteri Jepang). Jadi, alur utama Detektif Conan adalah upaya Shinichi Kudo melawan Organisasi Hitam dan kembali ke wujud aslinya.

Kisahnya semakin menarik dengan nuansa romansa karena untuk memudahkan penyelidikannya, Conan tinggal bersama Kogoro Mouri, detektif swasta konyol yang merupakan ayah dari Ran Mouri, ‘gebetan’nya Shinichi Kudo. Aoyama Gosho, penulis Detektif Conan, pada November 2016 pernah menyampaikan bahwa salah satu inspirasi Detektif Conan adalah kisah ‘Mikeneko Holmes’ karya Jiro Akagawa yang menceritakan kucing detektif yang membantu pemiliknya, seorang detektif swasta dalam memecahkan kasus. Sebagaimana Conan membantu Kogoro ‘Tidur’ dengan alat-alat canggih dari Profesor Agasa, menjadi detektif terkenal dengan deduksinya sambil tertidur. Romantika Shinichi Kudo dengan Ran Mouri dan dinamika dalam membantu Kogoro Mouri yang tidak menyukai Shinichi semakin menambah warna menarik dalam cerita Detektif Conan. Dari komik yang terbit tiap pekan, Detektif Conan kemudian berkembang menjadi manga buku, anime, movie, video game, hingga drama live-action.

Jika ada sesuatu yang kurang dari serial Detektif Conan, itu adalah karena timeline-nya ‘mati’, Conan ‘terperangkap’ di kelas 1 SD bersama grup detektif ciliknya. Sementara Shinichi Kudo, Ran Mouri, Sonoko Suzuki, dan kawan-kawannya ‘terperangkap’ di kelas 2 SMA, walaupun sudah lebih dari 1100 chapter yang diterbitkan. Sebenarnya matinya timeline tidak masalah jika komiknya ringan dan pendek-pendek semacam komik kesukaannya Pak Jokowi, Doraemon dan Crayon Shinchan. Namun untuk komik ber-genre misteri, ‘mati’nya linimasa Detektif Conan sangat mengganggu, apalagi temanya detektif yang sangat erat kaitannya dengan waktu. Alibi, waktu terjadinya kejahatan, dan waktu perkiraan kematian semuanya terkait dengan waktu. Beberapa kasus berhubungan dengan waktu, beberapa kasus lain ter-mention langsung tanggal dan bulan kejadiannya. Beberapa kasus lain disebutkan beberapa hari, pekan, atau bulan kemudian. Komik genre misteri lainnya semisal Death Note, Yakusoku no Neverland, atau Monster memiliki linimasa yang hidup, dan memang seharusnya begitu. Bahkan komik ber-genre aksi dan petualangan seperti One Piece dan Naruto pun memiliki ‘gunung alur’ dan linimasa yang jelas.

Garis waktu Detektif Conan yang tidak jelas inilah barangkali yang membuat latar waktunya juga jadi tidak jelas, mengikuti perkembangan real life walaupun linimasanya berhenti. Misalnya dulu Conan menelpon dengan telepon umum sebelum punya pager, yang mungkin gen Z sekarang sudah tidak mengenal telepon umum ataupun pager. Kemudian berkembang punya HP ‘jadul’, hingga kasus-kasus beberapa tahun terakhir sudah melibatkan smartphone. Contoh lain dulu kasus yang melibatkan file komputer disimpan dalam disket, kemudian berkembang menjadi CD, dan selanjutnya berkembang menjadi flashdisk. Perangkat yang digunakan lintas zaman, namun linimasanya tidak bergerak. Berbeda dengan One Piece-nya Eiichiro Oda yang juga sudah lebih dari 1100 chapter, Aoyama Gosho tampak tidak menyiapkan gunung alur Detektif Conan, bahkan bisa jadi ending-nya pun belum benar-benar disiapkan.

Padahal yang paling menarik dari Detective Conan adalah alur utama dan yang terkait dengan alur utama. Bukan dengan kasus recehnya Kogoro Mouri, atau Grup Detektif Cilik, atau bahkan Kaito Kid dan Heiji Hattori yang seringkali tidak berhubungan langsung dengan alur utama. Sebagai pemanis bisa dengan alur romansa Shinichi – Ran. Selebihnya bisa di spin off seperti dalam komik Detektif Conan Spesial yang berisi kasus-kasus singkat. Daripada spin off tentang Tooru Amuro/ Rei Furuya/ Zero/ Bourbon yang sebenarnya cuma ‘NPC’. Kisah tentang Conan jadi besar karena arak cina dari Heiji, kasus Black Organization di perusahaan game dan perampokan bank, atau kemunculan tokoh-tokoh Black Organization seperti Tequilla, Ai Haibara/ Miyano Shiho, Pisco, Vermouth, Bourbon, Kir, hingga Rum menjadi cerita yang sangat menarik. Belum lagi ‘bentrokan’ yang langsung melibatkan Black Organization selalu menegangkan, misalnya penyamaran Vermouth sebagai Dr. Araide, penangkapan dan pembebasan Kir, kasus di kereta misteri, ‘adu mekanik’ antara Akai dengan Bourbon, pembunuhan Kohji Haneda dan Amanda Hughes 17 tahun lalu, hingga bentrokan antara Black Organization dengan FBI.

Sebagai pembaca komik, tentunya kita berharap Detektif Conan dapat diakhiri dengan baik. Perlu diingat bahwa Aoyama Gosho sudah berusia 60 tahun, bukan lagi usia muda, pun angka harapan hidup di Jepang mencapai hampir 85 tahun. Waktu tiga dasawarsa Detektif Conan sudah cukup mendulang banyak kesuksesan. Saatnya mempersiapkan akhir yang memuaskan. Jangan sampai mangakanya lebih dulu berakhir sebelum manganya, seperti Doraemon (Fujiko F. Fujio), Berserk (Kentaro Miura), ataupun Crayon Shinchan (Yoshito Usui). Jangan pula hiatus tanpa kejelasan seperti Hunter x Hunter. Sudah sampai sejauh ini, seharusnya bisa dirampungkan dengan lebih memfokuskan pada alur utama. Selamat hari jadi yang ke-tiga dasawarsa, Detektif Conan, menemani dari masa SMA hingga sudah punya anak tiga. Semoga bisa lekas dapat label ‘tamat’.

Nyawa manusia itu berharga karena ada batasnya. Batasan itulah yang bisa membuat seseorang berjuang dalam hidupnya” (Heiji Hattori)

Antara Do’a dan Perjuangan

Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Sakit-sakit dahulu, susah-susah dahulu, baru kemudian bersenang-senang. Pahit rasanya empedu, manis rasanya gula. Sakit-sakit dahulu, susah-susah dahulu, baru kemudian berbahagia. Berjuang (berjuang), berjuang sekuat tenaga. Tetapi jangan lupa perjuangan harus pula disertai doa. Rintangan (rintangan), rintangan sudah pasti ada. Hadapilah semua dengan tabah juga dengan kebesaran jiwa” (‘Perjuangan dan Do’a’, Rhoma Irama)

Do’a tanpa berjuang adalah kosong, berjuang tanpa do’a adalah sombong’, demikianlah hubungan erat antara do’a dan perjuangan. Sejak zaman dahulu, do’a memang senantiasa mengiringi perjuangan. Dalam Al Qur’an banyak sekali lantunan do’a yang mengiringi perjuangan para Nabi. “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran: 146-147). Salah satu do’a yang mengiringi perjuangan adalah do’a pasukan Thalut ketika menghadapi pasukan Jalut yang jauh lebih banyak, mereka berdo’a, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250).

Dalam hadits juga banyak ditemukan riwayat mengenai do’a-do’a yang mengiringi perjuangan Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Salah satu do’a Rasulullah SAW yang dikenal adalah ketika perang Badar, beliau menghadap kiblat, menengadahkan kedua belah tangannya dan berdoa, “Ya Allah, wujudkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku… Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku… Ya Allah, jika Engkau binasakan tentara Islam ini, Engkau tidak akan diibadahi di muka bumi ini…” Hadits yang cukup panjang ini dimuat dalam Shahih Muslim dari Umar bin Khattab r.a, dan ditutup dengan turunnya ayat Al Qur’an sebagai pertanda diijabahnya do’a Rasulullah SAW. “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al Anfal: 9).

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya’, demikian kalimat pembuka alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Hasil akhir suatu perjuangan memang menjadi ketentuan yang Allah SWT tetapkan. Manusia hanya bisa berjuang dengan segenap kemampuan, namun Allah SWT jua yang menentukan. Do’a adalah senjata penguat perjuangan yang dapat memengaruhi hasil akhir. Karena do’a sebegitu dahsyatnya sampai bisa mengubah takdir yang masih bisa diubah. Do’a merupakan komponen penting yang menentukan keberhasilan.

Dengan mengesampingkan para materialis yang tidak meyakini do’a dan hal-hal yang sifatnya spiritual, terkait hubungan do’a dengan perjuangan ini masih ada beberapa kekeliruan dalam implementasinya. Pertama, mereka yang tidak banyak berjuang atau belum optimal dalam berjuang, namun meyakini do’a akan menutupinya sehingga kemenangan pun sudah tinggal menunggu waktunya. Mereka lupa bahwa diijabahnya suatu do’a ada serangkaian prasyaratnya, salah satunya adalah sudah maksimalnya ikhtiar. Kedua, mereka yang memandang do’a sebatas pelengkap perjuangan, hanya ada di akhir setelah lelah berjuang. Ini juga tidak tepat, sebab do’a sejatinya mengiringi perjuangan sejak awal hingga akhir. Bahkan do’a akan memperkuat langkah seseorang untuk mulai menapaki medan juang.

Ada juga mereka yang beranggapan tujuan akhir perjuangan adalah kemudahan, sehingga do’anya adalah keberhasilan yang menjanjikan kenyamanan tanpa proses yang menyulitkan. Sejatinya kehidupan adalah sekumpulan ujian, sekumpulan perjuangan. Kehidupan tidak pernah menjanjikan kemudahan, apalagi perjuangan. Alih-alih berdo’a untuk diringankan beban perjuangan, akan lebih baik untuk memohon bahu yang lebih kokoh untuk memikul beban perjuangan. Sebab besarnya ujian dan tingginya pengorbanan dalam berjuang, akan seiring dengan meningkatnya kualitas seseorang. Semoga kita diberikan kemampuan untuk terus ada di medan juang, terus berjuang, meningkat kualitasnya dengan gemblengan perjuangan, dan akhirnya dapat menikmati akhir dari kenikmatan berjuang. Di dunia. Dan di akhirat kelak. Aamiiin…

Tuhanku, bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah. Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut. Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati dan jujur dalam kemenangan. Bentuklah puteraku menjadi seorang yang kuat dan mengerti, bahwa mengetahui serta mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar. Tuhanku, janganlah puteraku Kau bimbing pada jalan yang mudah dan lunak. Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup. Bimbinglah puteraku supaya dia mampu tegak berdiri di tengah badai serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh. Bentuklah puteraku menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit. Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Seorang manusia yang mampu meraih hari depan tapi tak melupakan masa lampau. Dan setelah segala menjadi miliknya semoga puteraku dilengkapi hati yang ringan untuk bergembira serta selalu bersungguh-sungguh namun jangan sekali-kali berlebihan. Berikan kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan yang hakiki, pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya, akan berani berkata: ’hidupku tidaklah sia-sia’.” (Do’a Douglas Mac Arthur* kepada puteranya, ditulis pada masa-masa paling sulit di awal Perang Pasifik)

*Douglas Mac Arthur merupakan salah satu perwira perang dunia II dari Amerika Serikat yang akhirnya dianugerahi Jenderal Bintang Lima, dan turut berjasa merebut Papua dari cengkraman Jepang

Skuad FPL Muslim 2022/2023

I am not a superstar or an ego. I am just the same as I always was: Someone who plays football.
(N’Golo Kanté)

Kompetisi sepakbola Eropa kembali bergulir, lebih cepat daripada jadwal biasanya karena akan ada gelaran Piala Dunia 2022 di akhir tahun ini yang akan memotong jalannya kompetisi. Dari lima top liga di Eropa, menyisakan La Liga Spanyol dan Serie-A Italia yang belum memulai kompetisi, dan baru akan memulainya di pekan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Premier League mendapat sorotan besar. Apalagi Bundesliga Jerman dan Ligue 1 Perancis memulai kompetisinya dengan ‘sangat biasa’. Bayern Munich memulai Bundesliga dengan kemenangan telak 1-6 di kandang Eintracht Frankfurt. Sehari berselang, PSG membantai tuan rumah Clermont Foot lima gol tanpa balas. Bayern Munich dan PSG selaku juara bertahan mengakhiri pekan pertama sebagai pemuncak klasemen dengan selisih lima gol. Tidak menarik.

Premier League sedikit berbeda, walaupun tidak sampai level sangat mengejutkan juga. Pekan pertama diawali dengan kemenangan tandang Arsenal atas Crystal Palace dan diakhiri dengan kemenangan tandang Manchester City atas West Ham dengan skor serupa 0-2. Puncak klasemen sementara ditempati Tottenham Hotspur yang berhasil comeback dan meraih kemenangan kandang 4-1 atas Southampton. Di pertandingan lainnya, Chelsea berhasil menang di kandang Everton lewat satu gol penalti. Sementara Liverpool harus puas dengan hasil imbang di kandang tim promosi Fulham. Tim promosi lainnya, Bournemouth secara mengejutkan menumbangkan Aston Villa dua gol tanpa balas. Sementara di pertandingan lainnya, Manchester United dipermalukan Brighton 1-2 di Old Trafford.

Hal menarik yang mengiringi gelaran Premier League adalah Fantasy Premier League (FPL) yang merupakan salah satu game online yang banyak disukai dan diikuti hampir 8 juta akun di gameweek pertama. Dalam FPL ada 15 pemain yang perlu dipilih dalam satu tim yang terdiri dari 2 kiper (GK), 5 bek (DEF), 5 pemain tengah (MID), dan 3 penyerang (FWD). Dari 15 pemain tersebut dipilih starting eleven yang setidaknya memiliki 1 GK, 3 DEF, 3 MID, dan 1 FWD, sehingga memungkinkan adanya berbagai formasi: 3-4-3, 3-5-2, 4-3-3, 4-4-2, 4-5-1, 5-3-2, dan 5-4-1. Setiap user diberikan modal awal 100 juta euro untuk belanja pemain. Pemain favorit atau unggulan memiliki harga yang lebih tinggi sehingga dalam sebuah tim akan memiliki keterbatasan untuk memenuhinya dengan pemain-pemain terbaik. Menariknya, skor yang dihasilkan ditentukan oleh performa pemain dalam pertandingan sebenarnya. Dengan banyaknya pemain Premier League di berbagai posisi, tentunya akan ada banyak kombinasi pemain yang dipilih. Lantas, mungkinkah menyusun tim FPL yang berisi pemain-pemain muslim yang berlaga di Premier League?

Terdapat lebih dari 40 pesepakbola muslim yang terdaftar bermain di Liga Inggris tahun ini. Masih cukup banyak walau berkurang beberapa pemain di bursa transfer musim panas ini seperti Sadio Mane yang ke Bayern Munich dan Rudiger ke Real Madrid. Namun untuk memilih 15 pesepakbola muslim dalam satu tim FPL ternyata tidak mudah karena sebagian besar pemain tersebut ada di posisi MID dan DEF. Apalagi tidak sedikit di antaranya yang hanya jadi pemain pelapis di klubnya. Beberapa di antaranya juga belum bisa bermain akibat cedera. Alhasil, untuk posisi GKP misalnya, hanya bisa ditempati oleh Edouard Mendy (CHE/5.5) dan Asmir Begovic (EVE/4). Begovic sendiri hanyalah pelapis Pickford di Everton, musim lalu hanya bermain di tiga laga Premier League. Sementara untuk posisi FWD hanya tersedia nama Kelechi Iheanacho (LEI/6.5) dan Patson Daka (LEI/6) yang hanya menjadi pelapis Vardy di Leicester. Kemudian ada Eddie Nketiah (ARS/7) yang menjadi pelapis Jesus di Arsenal, serta Halil Dervisglu (BRE/4.5) yang menjadi pelapis Wissa di Brentford.

Di posisi bek, pesepakbola muslim yang masih jadi pemain inti di klubnya juga terbatas. Ada Rayan Ait-Nouri (WOL/4.5), Kurt Zouma (WHU/4.5), M. Salisu (SOU/4.5), Wesley Fofana (LEI/4.5), Tosin Adarabioyo (FUL/4.5), dan rekrutan anyar Chelsea K. Koulibaly (CHE/5.5). Adapun Tariq Lamptey (BHA/4.5) hanya menjadi pengganti Trossard di laga melawan MU. Sementara Caglar Soyuncu (LEI/4.5) dan Malang Sarr (CHE/5) malah belum diturunkan. Ada juga nama seperti Ibrahima Konate (LIV/5) dan Nayef Aguerd (WHU/5) yang masih cedera. Posisi MID adalah posisi favorit pesepakbola muslim. Ada M. Salah (LIV/13) yang langsung menunjukkan kualitasnya sebagai pemain termahal di FPL dan dipilih sekitar 5 dari 8 orang yang bermain FPL. Selain Salah, ada juga Ilkay Gundogan (MCI/7.5), N’golo Kante (CHE/5), Jordan Ayew (CRY/5.5), Granit Xhaka (ARS/5), Abd. Doucoure (EVE/5.5), Cheick Doucoure (CRY/5), Moussa Djenepo (SOU/5), dan Boubacar Kamara (AVL/5) yang bermain sebagai starter di klubnya masing-masing. Nama lain seperti Riyad Mahrez (MCI/8) masih menjadi pelapis Foden, Benrahma (WHU/6) masih menjadi pelapis Lanzini, dan Ibrahima Diallo (SOU/4.5) juga masih menjadi pelapis Romeu di laga perdana. Sementara itu, pesepakbola muslim lainnya seperti Hakim Ziyech (CHE/6), M. Elyounoussi (SOU/5.5), Boubakary Soumare (LEI/4.5), M. Elneny (ARS/4.5), Nampalys Mendy (LEI/4.5), Anwar El Ghazi (AVL/5), Bertrand Traore (AVL/5), Hamza Choudhury (LEI/4.5), Siriki Dembele (BOU/5), Amad Diallo (MUN/4.5), Zidane Iqbal (MUN/4.5), dan Pape Sarr (TOT/4.5) masih harus menunggu kesempatan untuk dapat bermain. Adapun Naby Keita (LIV/5) dan Adama Traore (WOL/5.5) masih dibekap cedera.

Skuad FPL 15 pesepakbola muslim terpilih hanya senilai 86 juta euro, terbilang sangat murah. Dengan formasi 4-5-1 dan Salah sebagai kaptennya, perolehan poin di gameweek 1 maksimal hanya 59 poin, hanya sedikit di atas rata-rata poin gameweek 1 (57 poin). Ada Mendy (GKP) dengan 7 poin dan Salah (MID) dengan 12 poin, pesepakbola muslim yang masuk daftar team of the week. Untuk bisa lebih bersaing, sepertinya perlu menghadirkan pesepakbola muslim di luar posisi MID. Untuk posisi GKP ada Yassine Bounou (Sevilla), Samir Handanovic (Inter Milan), atau Altay Bayindir (Fenerbahce). Untuk posisi FWD ada Karim Benzema (Real Madrid), Ben Yedder (Monaco), Moussa Dembele (Lyon), atau Mehdi Taremi (Porto) yang musim lalu mencetak lebih dari 20 gol. Akhirnya, kompetisi baru dimulai, banyak kejutan yang mungkin saja bisa terjadi. Nikmati saja permainannya tanpa fanatik berlebihan. Mari tempatkan hiburan dan permainan sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan beban yang terus menyita waktu dan pikiran.

We’re just human beings. In the end, you do your job. I do my job in the best way I can.”
(Mohamed Salah)

Selamat Tahun Baru 1444 Hijriyah

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (QS. At Taubah: 36)

Tidak seperti gegap gempita peringatan tahun baru masehi, pergantian tahun hijriyah relatif disambut ‘dingin’. Tidak seperti penetapan waktu dua hari raya yang sidang itsbatnya ramai diberitakan dan hasilnya pun dinantikan. Apalagi jika terjadi perbedaan dalam penentuan waktu Idul Fitri atau Idul Adha. Pergantian bulan Muharram berlangsung senyap. Angka ‘cantik’ 1444 juga tidak cukup mendongkrak syiar Tahun Baru Islam. Apalagi tahun ini 1 Muharram bertepatan dengan hari Sabtu, dimana banyak sekolah dan perkantoran juga libur, sehingga libur 1 Muharram semakin tidak terasa.

Memang pergantian waktu –detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun—sebenarnya  bukan sesuatu yang begitu spesial sehingga harus dirayakan secara spesial. Apa pula yang perlu dirayakan dari berkurangnya usia dan semakin dekatnya kita dengan kiamat, baik kiamat sughra maupun kiamat kubra. Pun demikian momentum syiar Islam seharusnya bisa dimanfaatkan. Jauh lebih banyaknya orang-orang yang hapal bulan dari Januari sampai Desember, dibandingkan hapal bulan dari Muharram sampai Dzulhijjah, menjadi gambaran betapa kurang tersyiarkannya kalender hijriyah ini. Padahal landasan penetapan kalender hijriyah beserta nama-nama bulannya lebih beralasan dibandingkan landasan penetapan kalender masehi beserta nama-nama bulannya. Dan ketika pergantian tahun masehi banyak diisi dengan perbuatan sia-sia, bahkan perbuatan dosa, momentum pergantian tahun hijriyah semestinya dapat diisi dengan ibadah dan perbuatan baik, serta menjadi momentum hijrah ke arah yang lebih baik.

Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan hijriyah sekaligus salah satu dari empat bulan haram (suci), sejatinya memiliki banyak keutamaan. Tidak seperti bulan lainnya, Al Muharram adalah nama pemberian Allah SWT setelah sebelumnya bulan ini dikenal sebagai Shafar Awwal. Tak heran, Muharram dijuluki Syahrullah (Bulan Allah) sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim). Tidak hanya disebut sebagai Syahrullah, dalam hadits ini juga disebutkan keutamaan puasa (sunnah) di bulan Muharram. Imam Hasan Al Bashri berkata, “Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini.”.

Di bulan Muharram juga terdapat satu hari yang mulia, yaitu hari Asyura’ tanggal 10 Muharram. Dari Ibnu Abbas r.a., beliau menceritakan, “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa.” (HR. Al Bukhari). Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW mengatakan bahwa puasa Asyura’ dapat menghapus dosa setahun yang telah berlalu. Banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan ini di antaranya diterimanya taubat Nabi Adam a.s., diselamatkannya Nabi Nuh a.s. dari banjir besar dan Nabi Yunus a.s. dari perut ikan. Namun tulisan ini tidak akan membahas detailnya, termasuk terkait puasa Tasu’a untuk menyelisihi puasanya orang Yahudi.

Berbagai keutamaan itu sebenarnya cukup untuk syi’ar Muharram sebagai momentum memperbaiki diri dan berbuat baik. Apalagi ada tradisi Idul Yatama (Hari Raya Anak Yatim) di bulan Muharram ini –terlepas dari anjuran menyantuni anak yatim adalah sepanjang tahun tidak hanya di bulan Muharram—semakin menambah banyak amunisi syi’ar kebaikan. Sayangnya, syi’ar Muharram ini masih relatif senyap. Jangankan dibandingkan dengan gegap gempita pergantian Tahun Baru Masehi yang biasanya sudah digaungkan sebelum libur Natal, bahkan dibandingkan isu ‘ga penting’ semisal perceraian artis, ulah para ABG mencari sensasi, atau kriminalitas oleh oknum aparat, syi’ar Muharram masih kalah viral. Sekadar ucapan Selamat Tahun Baru 1444 Hijriyah di media sosial saja tidak ramai. So, Happy Islamic New Year 1444 Hijriyah! Keep Spirit and do the best for the world and hereafter. May all our wishes come true and become a better person.

Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan…

Buatlah Kegaduhan, Selagi Cari Sensasi Masih Halal

Teko hanya mengeluarkan isi teko. Kata-kata mencerminkan isi hati. Hati yang baik akan mengatakan yang baik, begitu pula sebaliknya.” (Aa Gym)

Penetapan logo halal terbaru yang diterbitkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag membuat gaduh. Penetapan label halal yang dituangkan dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal dan berlaku secara nasional tersebut menuai kontroversi. Sebenarnya, standardisasi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk sertifikasi halal memang sebaiknya diselenggarakan oleh pemerintah, sementara ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menerbitkan logo halal secara legal formal adalah Organisasi Masyarakat (Ormas), bukan badan atau lembaga pemerintah.

Bukan tanpa alasan penetapan logo halal yang baru ini banyak memperoleh cibiran. Pertama, perubahan logo bukanlah hal yang urgen dan substantif. Tak heran ada meme yang menyindirnya dengan langkanya minyak goreng. Ketika ada isu besar yang menyoroti pemerintah, sudah menjadi lumrah ada kebijakan atau statement remeh tidak popular yang kemudian dikelola menjadi kegaduhan. Perubahan logo juga tidak berkolerasi langsung terhadap persoalan sertifikasi halal, berbeda dengan edukasi dan pendampingan UMKM, misalnya. Intinya, kebijakan ini dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak perlu.

Kedua, perubahan logo di tengah kondisi pemerintah yang sedang butuh uang untuk membangun Ibu Kota Negara (IKN) baru justru memunculkan spekulasi baru. Apalagi baru pekan lalu MUI mengingatkan pemerintah agar tidak cap penceramah radikal hanya karena kritik pemerintah. Imbauan ini muncul setelah pada awal bulan Maret ini Presiden Jokowi berpesan kepada TNI-Polri untuk tidak mengundang penceramah radikal dan tidak ikutan debat soal IKN. Coincidence? I think not! Terkesan ada aroma bisnis pula. Bagaimanapun, perubahan administrasi, apalagi skala nasional, adalah proyek besar. Belum lagi dampak mekanisme penerbitan sertifikasi halal ke depannya yang dikelola langsung oleh pemerintah.

Ketiga, tidak sedikit kegaduhan yang dibuat pejabat negara belakangan ini, khususnya ketika ada isu khusus yang sedang disoroti. Kegaduhan yang jika ditanggapi membuang energi, jika dibiarkan semakin menjadi-jadi. Apalagi sosok Menteri Agama bukan kali ini saja membuat gaduh. Belum ada sebulan ketika Gus Yaqut menjadi sorotan publik usai mengeluarkan pernyataan kontroversial seakan membandingkan suara toa masjid dengan gonggongan anjing. Kemudian dalam sebuah webinar yang digelar oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 24 Oktober 2021 lalu, Yaqut mengungkapkan bahwa jabatan Menteri Agama bukan merupakan hadiah negara untuk umat Islam secara keseluruhan, melainkan hanya untuk NU. Pernyataan kontroversial tersebut bahkan membuat beberapa pihak sampai mengusulkan pembubaran Kementerian Agama. 5 April 2021 lalu, Gus Yaqut juga melontarkan pernyataan kontroversi yang berharap semua agama bisa diberi kesempatan untuk memulai doa dalam suatu acara formal. Tahun lalu juga beredar video Gus Yaqut mengucapkan selamat hari raya Naw-Ruz 178 EB ke komunitas Baha’i, sementara Baha’i oleh MUI diangga sebagai aliran sesat. Bahkan sehari usai dilantik menjadi Menteri Agama pada 24 Desember 2020, Gus Yaqut menyebut jika negara harus melindungi semua kaum yang ada termasuk Syiah dan Ahmadiyah.

Keempat, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dan kehilangan kepercayaan pada pemerintah, walaupun sudah sewajarnya hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikelola oleh negara. Hal ini tentunya tidak terlepas dari track record pemerintah, terutama dalam hal penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Ironisnya, Kementerian Agama (Kemenag) termasuk yang terkorup, KPK bahkan pernah menempatkan Kemenag sebagai kementerian dengan indeks integritas terendah. Pada 2005, mencuat kasus korupsi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan Dana Abadi Umat di Departemen Agama tahun 2003-2005 yang melibatkan mantan Menteri Agama, Said Agil Husin al Munawar dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggara Haji (BIPH), Taufik Kamil yang merugikan negara hingga 719 Miliar rupiah. Said Agil ini sempat tenar ketika menjabat karena memerintakan penggalian ‘harta karun’ di kompleks Prasasti Batutulis. Kemudian pada 2011-2012, sejumlah pejabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DR) dan pejabat Kemenag mengorupsi dana untuk pengadaan Alquran dan Laboratorium Madrasah. Kemudian ada kasus Penyalahgunaan Dana Haji dan Biaya Operasional Menteri yang dilakukan oleh mantan Menteri Agama, Suryadharma Ali. Selanjutnya, pada 2019 lalu ramai kasus jual beli jabatan yang melibatkan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin, dan Kepala Kanwil Kabupaten Gresik, Muafaq Wirahadi.

Last but not least, desain logo halal baru tak kalah kontroversialnya. Penjelasan panjang dan filosofis terkait makna logo baru jauh dari kata memuaskan. Misalnya sejak kapan warna ungu bermakna keimanan. Logo halal baru memang anti-mainstream, logo halal di banyak negara –baik Islam sebagai agama mayoritas ataupun minoritas—lebih mirip dengan logo halal lama, tanpa lingkaran bertuliskan ‘Majelis Ulama Indonesia’, tentunya. Sederhana, jelas, dan umum. Halal itu jelas. Tidak sedikit pula yang mengkritisi logo baru yang kurang tepat dari perspektif seni kaligrafi. Dan menjadikan gunungan sebagai perwajahan logo halal baru bisa dikatakan sebagai blunder besar. Gunungan wayang identik dengan orang Jawa, tidak mewakili keindonesiaan. Alih-alih menghadirkan nuansa Islam nusantara, kesan yang terasa justru nilai primordialisme dan sukuisme. Alhasil, ramai netizen membuat logo halal baru sesuai kekhasan daerahnya masing-masing, semisal Sumatera Barat dengan rumah gadang-nya, atau Sumatera Selatan dengan jembatan amperanya. Akhirnya, banyak sekali dijumpai logo halal tandingan yang beredar di dunia maya.

Sekontroversial apapun, atau dikritik sebanyak apapun, logo halal baru sudah ditetapkan dan efektif digunakan per 1 Maret 2022 lalu. Belajar dari kasus Roy Suryo yang melaporkan Gus Yaqut terkait penistaan agama bulan lalu, justru balik dilaporkan karena pencemaran nama baik, tampaknya semuanya akan aman ke depannya. Para pendukung pemerintah terjamin keamanannya setidaknya sampai 2024, apalagi kalau Jokowi diperpanjang 3 periode. Karena waktu menuju 2024 semakin sempit, ‘aji mumpung’ harus dioptimalkan. Kebijakan dan legacy perlu segera dibuat mumpung masih punya kewenangan. Seperti yang sudah-sudah, toh nanti isunya akan menguap dan tergantikan. Apalagi publik di Indonesia relatif ‘mudah lupa’. Kegaduhan pun diselesaikan dengan kegaduhan yang lain. Skema ini bisa diulang berkali-kali. Setidaknya selama ‘cari sensasi’ masih halal untuk dilakukan. Hanya butuh waktu kurang dari 15 bulan, seorang Yaqut Cholil Qoumas dikenal di penjuru nusantara. Dan tampaknya masih akan ada rangkaian kegaduhan yang semakin mempopulerkan namanya ke depannya.

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)

Ramadanmu, Mau Jadi Apa?

Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu…” (Tere Liye dalam ‘Rindu’)

Apa hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita ketika disebutkan kata ‘Ramadan’? Puasa makan dan minum dari fajar hingga petang? Shalat tarawih dan lailatul qadr? Kebisingan bangunin orang untuk sahur? Ngabuburit? Ta’jil dan buka puasa bersama? THR? Mudik lebaran? Atau iklan sirup di TV? Ramadan memang bisa memberikan kesan yang berbeda pada setiap orang. Karenanya, ada yang gembira menyambutnya –dengan beragam alasan masing-masing–, ada yang biasa saja, bahkan (mungkin) ada yang terganggu akan kedatangannya. Barangkali karena shaum atau berpuasa juga bermakna ‘menahan diri’. Ada kebiasaan yang perlu ditahan, nafsu dan keserakahan yang perlu diredam, ataupun kesenangan yang perlu dibatasi.

Bagi banyak orang yang akan kembali bertemu dengan Ramadan, atau dengan kata lain tahun ini bukan Ramadan pertama baginya, tentu Ramadan sebelumnya sudah memberikan kesan tertentu. Kesan inilah yang turut menentukan apa yang dirindukan dari Ramadan. Ibarat ada tamu istimewa yang akan datang setiap tahunnya, tentu ada kesan yang tertinggal. Bisa jadi keramahtamahannya, senyumannya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, atau hal lainnya. Kesan itulah yang dirindukan. Jika tanpa kesan, barangkali memang tidak ada kerinduan. Menariknya, kesan yang dirindukan inilah yang nantinya turut menentukan apa yang nanti akan diterima. Besarnya persiapan juga seringkali berbanding lurus dengan besarnya kerinduan. Tidak bersiap-siap untuk menyambut bisa jadi menggambarkan tiada kerinduan.

Lebih jauh lagi, akan seperti apa kesudahan Ramadan, erat kaitannya pula dengan kerinduan ini. Mereka yang benar-benar rindu akan Ramadan bukan hanya akan menyambut kedatangannya dengan suka cita, namun tidak benar-benar meninggalkannya saat Ramadan harus pergi. Buat mereka, Ramadan tidak pernah benar-benar pergi, ia tetap ada disini, menanti kehadirannya kembali, meninggalkan jejak dalam aktivitas sehari-hari. Karenanya, tak perlu ada kerepotan yang luar biasa dalam menyambut kedatangannya, sebab persiapannya sudah dijaga sepanjang tahun. Pembuktian kerinduan seperti inilah yang akan memudahkan proses madrasah Ramadan untuk membentuk insan bertaqwa yang senantiasa bertambah kebaikan setiap tahunnya.

Alumni Ramadan memiliki nilai akhir yang beragam. Ada yang lulus secara memuaskan, ada yang biasa saja, ada juga yang gagal, entah disadari atau tidak. Yang paling merugi adalah mereka yang gagal dan tidak diberikan kesempatan untuk mengulang tahun depan. Karenanya dianjurkan untuk memposisikan bahwa bisa jadi Ramadan ini adalah Ramadan terakhir sehingga kita bisa optimal dalam menjalani prosesnya. Hasil akhir mutlak menjadi kewenangan Allah SWT untuk menilainya, kita hanya bisa berikhtiar dan berdo’a. Ikhtiar itu bisa diawali dengan membangun kesan positif akan kehadiran Ramadan, sehingga ada harapan yang membuncah, disertai dengan mempersiapkan segala sesuatunya seoptimal mungkin, dan membersamainya ketika datang seproduktif mungkin.

Dan tamu itu tak lama lagi akan datang, entah kesan dan hasil seperti apa yang akan ditinggalkannya kali ini. Yang jelas, waktu untuk melakukan persiapan tidak banyak, bahkan kunjungannya pun sebenarnya teramat singkat. Perlu perencanaan matang agar tiap jenak waktu berharga ke depannya bisa dimanfaatkan sesuai dengan yang kita harapkan. Agar Ramadan kita penuh makna, tidak hanya mendapat lapar dan dahaga. Agar di akhir nanti kita bisa melepas kepergiannya dengan air mata kebahagiaan, bukan penyesalan. Agar kebaikan dan keberkahannya senantiasa terus mengalir, bahkan setelah kepergiannya.

Ramadanmu, mau jadi apa? Tentunya #jadimanfaat. Bismillah…

Keunggulan kita atas orang lain tidak ditentukan oleh kenyataan bahwa kita lebih berkuasa, lebih pandai atau lebih kaya. Melainkan ditentukan oleh tingkat manfaat kita atas orang banyak.” (Cak Nun)

Dr. Stone: Akhir Perjalanan Penggila Sains

Manusia suatu saat pasti akan mati, tetapi ilmu mereka tidak akan mati” (Ishigami Senku – Dr. Stone)

Setelah lima tahun, manga berjudul ‘Dr. Stone’ yang serialnya dimuat dalam majalah Weekly Shonen Jump sejak Maret 2017 akhirnya tamat pada chapter 232 di awal Maret ini. Manga yang ditulis oleh Riichiro Inagaki dan diilustrasikan oleh Boichi ini juga sudah dianimasikan dan animenya sudah ditayangkan sejak Juli 2019 lalu. Shuonen bergenre science-fiction adventure ini menceritakan tentang seorang remaja jenius bernama Senku Ishigami bangkit dari pembatuan, 3.689 tahun 158 hari setelah kilatan cahaya hijau misterius mengubah umat manusia menjadi batu. Setengah tahun kemudian, Taiju Oki, teman sekelasnya Senku juga terbangkitkan. Petualangan mereka pun dimulai, untuk kembali membangun peradaban manusia yang telah hancur kembali ke zaman batu, menghidupkan kembali orang-orang, dan menyelesaikan misteri di balik cahaya pembatuan 3700 tahun yang lalu.

Petualangan mereka tentunya tidak sederhana, dengan kejeniusan Senku dan kekuatan fisik Taiju mereka memulai mengakselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi, mulai dari teknologi sederhana untuk bertahan hidup, hingga teknologi yang semakin kompleks seiring semakin banyaknya manusia yang dibangkitkan dan kompleksitas alur ceritanya. Ada juga permusuhan dan peperangan yang harus dihadapi dalam petualangan mereka, pun pada akhirnya lawan pun menjadi kawan dengan tujuan memecahkan misteri pembatuan 3700 tahun yang lalu. Di bagian terakhir, Stone to Space Saga – Moon Mission Arc, dikisahkan bagaimana Senku dan Kerajaan Sains berkeliling dunia mengumpulkan bahan dan sumber daya (termasuk manusia) untuk membuat satelit dan pesawat ruang angkasa ke bulan dimana sosok misterius Why-Man yang membatukan umat manusia berada.

Manga Dr. Stone memang tidak setenar manga legendaris seperti Doraemon ataupun Dragon Ball. Juga tidak sepopuler manga bergenre action advanture seperti One Piece atau Naruto. Pun demikian, tema ‘kiamat pembatuan’ ini tampak cukup orisinil dibandingkan tema isekai, kultivasi, reinkarnasi/ regresi, ataupun sistem/ game yang relatif mainstream baik di manga, manhwa, ataupun manhua. Apalagi beberapa bagian penjelasan tentang sains dalam manga Dr. Stone cukup detail dan mengharuskan pembacanya berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa penulis manga melakukan riset yang cukup dalam untuk membangun alur cerita. Namun namanya juga cerita fiksi, terdapat berbagai hal yang tidak logis di antara tema sains yang dimunculkan. Misalnya saja bagaimana Senku bisa menghitung jumlah detik dan hari yang dilalui selama pembatuan secara presisi, padahal sejenius apapun manusia tetaplah butuh mengistirahatkan otaknya. Atau bagaimana manusia yang membatu tidak tertutup vegetasi tumbuhan, tertimbun dalam tanah dan menjadi lapuk setelah ribuan tahun berlalu.

Beberapa hal yang tidak logis bahkan berpotensi menghadirkan plot hole, misalnya mengapa ayahnya Senku dan rekan-rekan astronot yang selamat dari pembatuan tidak membangun peradaban yang lebih besar dan meninggalkan warisan ilmu pengetahuan yang lebih lengkap untuk generasi selanjutnya. Atau bagaimana pembatuan dapat menyembuhkan luka bahkan menghidupkan kembali yang telah mati. Atau bagaimana hewan yang tidak terbatukan seharusnya lebih mendominasi dunia tanpa manusia. Catatan lainnya barangkali alur yang terlalu cepat di akhir-akhir seakan dikejar deadline untuk segera tamat. Plot twist yang diharapkan di akhir juga tidak terjadi, why man ternyata ‘hanyalah’ sekumpulan alat pembatuan, parasit mesin yang hidup dari baterai berlian. Yang bahkan takt ahu siapa yang menciptakannya. Alasan dibalik pembatuan dari perspektif why man jadi ‘agak awkward’, dan cerita spin off berjudul ‘Dr. Stone Reboot: Byakuya’ jadi tidak terasa istimewa.

Pun demikian, ada hal yang menarik di chapter 211. Dalam perjalanan mengumpulkan sumber daya dari seluruh dunia untuk membangun roket, pemberhentian terakhir Senku dan kawan-kawan adalah di Indonesia. Mereka membangun Kota Karet di Kalimantan. Indonesia juga dijadikan negeri penghasil beras untuk membuat onigiri. Di chapter 218, Indonesia kembali disebutkan sebagai salah satu jaringan komunitas ilmuwan yang terhubung dengan internet pertama melalui kabel bawah laut. Indonesia memang disebutkan di beberapa manga atau anime lainnya, namun setidaknya di manga Dr. Stone ini Indonesia dipersepsikan secara positif. Entah nanti bagaimana di animenya karena memang belum sampai sana jalan ceritanya.

Manga ini juga diakhiri dengan happy ending. Teman sekelas Senku, Taiju dan Yuzuriha akhirnya menjadi pasangan suami istri setelah 3700 tahun memendam rasa. Chrome dan Ruri dari Desa Ishigami juga resmi bertunangan. Sementara Senku masih sibuk dengan upayanya membuat mesin waktu. Mengingatkan kita pada banyak ilmuwan yang tidak menikah semisal Newton, Tesla, dan Voltaire. Walaupun banyak adegan humor di sepanjang jalan cerita, manga Dr. Stone ini terbilang bukan bacaan ringan, butuh pemikiran mendalam untuk memahaminya. Apalagi ada beberapa selipan filsafat yang menyertainya, termasuk hakikat Sang Pencipta dan tujuan penciptaan, dari sudut pandang sains. Jika ditelan mentah-mentah berpotensi ‘mengagungkan’ sains di atas segalanya.

I’m going to use the power of science to rescue every single person” (Ishigami Senku – Dr. Stone)

Propaganda dan Standar Ganda Konflik Ukraina

Perang perang lagi, semakin menjadi. Berita ini hari, berita jerit pengungsi. Lidah anjing kerempeng, berdecak keras beringas. Melihat tulang belulang, serdadu boneka yang malang. Tuan, tolonglah tuan, perang dihentikan. Lihatlah di tanah yang basah, air mata bercampur darah…” (‘Puing II’, Iwan Fals)

Sudah dua pekan ini media nasional dan internasional banyak menyoroti Ukraina, apalagi setelah invasi militer Rusia ke Ukraina 12 hari lalu. Berbagai macam informasi pun mengalir melalui beragam media. Berita, video dan gambar pun tersebar, dimana tidak sedikit di antaranya yang ternyata hoax. Konflik Rusia – Ukraina memang menjadi medan proxy war, berbagai macam propaganda dilakukan oleh kedua belah pihak. Di masyarakat dunia pada umumnya, simpati atas Ukraina begitu besar, apalagi ditambah sosok Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang digambarkan begitu berani, heroik, dan merakyat. Dalam hal membentuk opini publik, Rusia tampaknya masih kalah dibandingkan ‘Barat’ yang memiliki daya dukung luar biasa terhadap arus informasi dan pembentukan opini dunia.

Blok Barat dengan Blok Timur semestinya sudah tidak ada lagi setelah berakhirnya perang dingin antara keduanya yang ditandai dengan bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur dan runtuhnya Uni Soviet sebagai pemimpin Blok Timur. Namun nyatanya, konflik Rusia – Ukraina kali ini –setelah sebelumnya juga terjadi sewindu yang lalu—tidak lepas dari keterlibatan NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara. NATO adalah organisasi aliansi militer antar negara yang dibuat negara-negara Blok Barat pada 1949. Sekitar 6 tahun kemudian, negara-negara Blok Timur mendirikan Pakta Warsawa untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari aliansi NATO. Ketika Pakta Warsawa dibubarkan pada 1991, NATO tetap eksis bahkan terlibat dalam berbagai perang terbuka, misalnya dalam Perang Bosnia, Invasi Militer ke Afghanistan, hingga Perang di Libya. Padahal selama masa perang dingin, NATO tidak terlibat dalam perang terbuka.

Tak heran, Rusia yang (dipersepsikan) menyerang Ukraina, masih mendapat dukungan dari negara lain. Beberapa di antaranya adalah sekutu Rusia seperti Belarusia, Venezuela, Korea Selatan, dan Myanmar. Namun beberapa di antaranya yang lain adalah ‘korban’ Blok Barat semisal Iran dan Suriah. Bagaimana dengan Indonesia? Secara politis, Indonesia termasuk 1 dari 141 negara pendukung resolusi yang mengecam agresi Rusia ke Ukraina. Namun dengan tidak menyampaikan kata ‘invasi’ ataupun ‘Rusia’ dalam pernyataannya, Indonesia relatif masih berhati-hati dengan mengedepankan isu kemanusiaan dan keamanan. Namun cengkraman Blok Barat sepertinya masih sedemikian kuat sehingga Indonesia dengan politik bebas aktifnya malah mendukung salah satu pilihan dan bukannya abstain, apalagi mengingat intervensi Barat ke Ukraina seperti halnya intervensi Barat dalam lepasnya Timor Timur.

Sementara itu, netizen Indonesia malah tidak banyak yang pro Barat. Bagaimanapun, isu agama (Islam) dan isu ‘anti-Barat’ cukup sukses diangkat. Belum lagi kedekatan Indonesia dengan Rusia dan Cina, secara sejarah ataupun aktual. Netizen Indonesia ‘kanan’ ataupun ‘kiri’ yang biasanya berseberangan, dalam hal ini mendapati kesimpulan yang sama pun alasannya berbeda. Ditambah lagi standar ganda yang dilakukan Amerika dan sekutunya dalam menyikapi konflik Rusia-Ukraina ini menjadi tambahan amunisi untuk memposisikan ‘kejahatan’ Barat. Penerapan standar ganda inilah yang akhirnya menjadi anti-propaganda.

Seorang Osama bin Laden yang dianggap sebagai dalang peristiwa 11 September 2001 dijadikan alasan bagi Amerika dan sekutunya untuk menyerang Afghanistan. Terlepas dari berbagai teori konspirasi seputar peristiwa 9/11, Osama bukanlah pribadi yang mewakili negara, apakah layak negaranya dibombardir? Sementara ada negara yang berulang kali menyerang negara lain, namun jangankan dibombardir, negara tersebut bahkan dielu-elukan layaknya pahlawan. Bayangkan saja seandainya Indonesia kena sanksi internasional atas aksi Reynhard Sinaga yang telah memperkosa ratusan pria di Inggris. Atau bagaimana operasi militer Amerika di Irak selama bertahun-tahun hanya karena ‘dugaan’ adanya senjata pemusnah massal, sementara negara-negara yang terbukti memiliki ratusan bahkan ribuan senjata nuklir aman-aman saja. Bahkan untuk menggertak Rusia, NATO ‘meminjam tangan’ Ukraina. Atau bagaimana Rusia diberikan berbagai sanksi ekonomi dan sosial terkait invasi ke Ukraina, sementara tak ada sanksi apapun bagi Amerika menginvasi banyak negara lain, ataupun Israel yang menginvasi Palestina. Sementara dalam perspektif Rusia, yang dilakukannya hanyalah menerima kembali wilayah yang pernah dilepas karena ingin kembali bergabung, menindak tegas bekas wilayah jajahan yang mengingkari kesepakatan, dan mempertahankan wilayahnya dari campur tangan pihak asing yang bahkan sampai mendirikan pangkalan militer dilengkapi dengan berbagai persenjataan di perbatasan negaranya. Ditambah bumbu-bumbu lain seperti jalur minyak dan gas di Ukraina.

Hanya saja argumentasi ‘standar ganda’ ini tidak popular ketika dibawa ke media internasional, dimana propaganda Barat sudah begitu lekat. Klaim tentang ‘standar ganda’ ini memang tidak lantas membenarkan peperangan dan tragedi kemanusiaan yang terjadi. Belum lagi ada perspektif isu berbeda yang dimunculkan antara perang di Timur Tengah (dan Afrika) dengan perang di Eropa. Ditambah lagi, ‘kejahatan’ Amerika sudah jadi rahasia umum yang tidak bisa diapa-apakan. Amerika ibarat anak Kepala Sekolah yang suka mem-bully temannya. Tidak ada siswa yang berani melaporkan, dilaporkan pun tidak ada guru yang berani bertindak. Mengangkat argumentasi ini hanya akan berujung pada perdebatan diskriminatif kontraprduktif yang akan jauh keluar dari konteks win-win solution.

Pada akhirnya, tidak mengambil keputusan atas sesuatu yang belum benar-benar diketahui bisa jadi merupakan langkah bijak. Bukan berarti menutup mata atas tragedi kemanusiaan yang terjadi, namun tidak perlu sok tahu, sok pahlawan, dan terjun lebih dalam di pusaran konflik. Bersiap akan kemungkinan terburuk akan jauh lebih baik dibandingkan turut memperburuk keadaan. Sudah cukup banyak ‘provokator’ dan ‘sengkuni’ dalam berbagai konflik bersenjata di penjuru dunia ini. Bagaimanapun, industri pertahanan perlu konsumen, sebagaimana industri kesehatan dan farmasi butuh penyakit. Lebih baik bersiap untuk beradaptasi ‘new normal’, tidak terjebak pada isu propaganda, apalagi sampai menerapkan standar ganda. Tetap optimis bahwa dunia akan kembali aman dan damai. Tapi mungkinkah keamanan dan kedamaian dapat dicapai dengan konflik dan peperangan? Wallahu a’lam

…Perang perang lagi, mungkinkah berhenti. Bila setiap negara, berlomba dekap senjata. Dengan nafsu yang makin menggila, nuklir pun tercipta (nuklir bagai dewa). Tampaknya sang jenderal bangga, di mimbar dia berkata: Untuk perdamaian (bohong), demi perdamaian (bohong), guna perdamaian (bohong), dalih perdamaian (bohong). Mana mungkin, bisa terwujudkan. Semua hanya alasan, semua hanya bohong besar” (‘Puing II’, Iwan Fals)

Menulis Itu Mudah, Yang Susah Adalah Istiqomah

Orang-orang yang istiqomah lebih bersemangat ada masa-masa akhir mereka, dibandingkan ada masa-masa awalnya” (Ibnul Qayyim)

‘Pojok Pagi Ekselensia Indonesia’, begitu tagline tulisan salah seorang rekan menandai perpindahan amanah yang diembannya. Tak terasa, sudah 18 tulisan yang dibuatnya dalam kurun waktu 5 pekan ini. Terbilang sangat produktif jika melihat dalam 10 tahun sebelumnya bisa dihitung tulisan yang dibuatnya. Walaupun tantangan konsistensi mulai terlihat, dimana di awal tulisan rutin setiap harinya, namun belakangan sudah mulai per tiga hari. Keistimewaan tulisannya barangkali relatif, saya menyukai beberapa tulisannya yang sederhana dan mengalir misalnya ketika mengambil hikmah dari ‘upo’, butiran nasi yang tertinggal dan menempel. Namun barangkali yang lebih istimewa adalah tekadnya untuk lebih produktif menulis yang tentunya tidak mudah. Ada juga seorang rekan lain yang telah menerbitkan lebih dari 50 buku. Setiap harinya ada target untuk menulis minimal satu halaman, dan hal ini bisa istiqomah dilakukannya. Beratkah?

Istiqomah itu berat, yang ringan namanya istirahat”, demikian ungkap sebuah kutipan. Ya, banyak sekali godaan dan alasan untuk memilih ‘istirahat’ dibandingkan istiqomah. Tak perlu berbicara tentang orang lain, saya sendiri mengalaminya dan website ini menjadi contohnya. Sudah cukup lama website ini kembali vakum tanpa tulisan terbaru. Bukan karena kekurangan ide dalam membuat tulisan, setiap harinya ada banyak hal yang bisa diceritakan ataupun gagasan yang bisa dituliskan. Bukan juga karena terlalu sibuk, setiap harinya selalu waktu yang bisa lebih produktif jika dialokasikan untuk memproduksi tulisan. Sebenarnya tidak ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk tidak produktif dalam menulis, namun realitanya selalu ada saja excuse ataupun pembenaran untuk tidak melakukan. Itulah ujian konsistensi dalam produktifitas.

Berapologi dan membuat alasan itu mudah, apalagi banyak hal produktif yang sebenarnya tidak butuh alasan, lillahi ta’ala. Repotnya, sebagaimana kebohongan, satu alasan akan membawa alasan yang lain, dan ada akhirnya menjadi kebiasaan banyak alasan. Ketika sudah jadi kebiasaan maka alasan berubah menjadi sesuatu yang lumrah. Butuh tekad yang kuat dan titik tolak yang kokoh untuk kembali ke jalan penuh produktivitas. Kadang butuh motivasi eksternal. Bahkan kadang butuh mekanisme reward and punishment dan pengorbanan besar untuk kembali meniti jalan istiqomah.

The first step is always the hardest”, begitu pepatah mengatakan. Ibarat mengayuh sepeda, yang paling berat adalah kayuhan di awal, selanjutnya akan lebih ringan. Bahkan bisa jadi kayuhan awal tidaklah seberat yang dikhawatirkan. Tulisan ini misalnya, ternyata bisa diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam. Waktu yang terbilang sangat singkat jika dibandingkan dengan waktu yang saya habiskan buat menghapus lebih dari 8000 pesan spam yang masuk ke inbox website karena sudah berbulan-bulan tidak diupdate. Namun berpikir bahwa kayuhan selanjutnya akan selalu lebih mudah tidaklah tepat juga, karena jalurnya naik turun, disitulah ujian istiqomah. Akan ada masanya dimana kayuhan akan kembali berat, dan ada waktunya juga betapa kayuhan terasa dimudahkan.

Dan istiqomah menulis ini hanyalah satu dari banyak ujian keistiqomahan lain. Begitu banyak amal kebaikan yang mudah dilakukan, namun begitu mudah pula untuk ditinggalkan. Padahal amalan yang paling disukai Allah SWT adalah yang kontinyu walaupun sedikit. Semuanya diawali dengan niat dan memulainya secara bertahap, tidak perlu terlalu dipikirkan, cukup dilakukan. Bisa dikuatkan dengan keteladanan dari berbagai tokoh inspiratif dan lingkungan yang turut mendukung. Dan semakin sempurna dengan berdo’a kepada Allah SWT yang membolak-balikan hati. Dan sebagaimana kemalasan, keistiqomahan akan membawa pada konsistensi dalam hal yang lain sehingga pada akhirnya bisa membentuk pribadi yang istiqomah. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita sikap istiqomah dalam ketaatan dan kebaikan. Fastaqim kama umirta! Bismillah…

Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8 )