Si MoBa: Bukan Sekadar Perpustakaan Keliling

Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca, sebuah kebahagiaan
(Goenawan Mohamad)

Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah, mulai dari survei PISA, UNESCO, hingga riset Central Connecticut State Univesity (CCSU). Namun bukan berarti minat baca masyarakat Indonesia rendah. Coba saja sediakan bacaan menarik di ruang tunggu dimanapun, pasti akan banyak yang membacanya. Tak heran pula acara book fair dan bazar buku selalu ramai dikunjungi. Persoalan rendahnya literasi masyarakat Indonesia memang bukan terletak pada minat baca, tetapi lebih kepada akses terhadap bacaan, terutama yang berkualitas; dan persoalan kemampuan literasi yang masih tergolong rendah.

Jumlah perpustakaan di Indonesia sebenarnya terbanyak kedua di dunia setelah India. Namun stok buku terbaru dan jumlah pustakawan di Indonesia masih timpang, padahal sebagian besar perpustakaan adanya di sekolah. Bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman dan banyak dikunjungi selayaknya pusat perbelanjaan masih menjadi PR. Percuma kalau sekadar ada namun tak terasa manfaatnya. Berbagai program literasi jemput bola semacam perpustakaan keliling belum berhasil mendongkrak tingkat literasi masyarakat Indonesia. Literasi bukan hanya kemampuan membaca, namun juga menalar. Membaca aktif, membaca untuk belajar. Literasi tidak bisa ditingkatkan hanya dengan menaruh buku bacaan tanpa aktivitas yang merangsang keterampilan literasi. Tidak cukup pula memposisikan anak sebagai objek program literasi. Karena literasi butuh pendampingan, pembiasaan, dan keteladanan, pihak orang tua, masyarakat, dan sekolah juga perlu dijadikan subjek program literasi terintegrasi.

Hadirnya Si MoBa diharapkan mampu memfasilitasi tingginya minat baca masyarakat Indonesia, dengan memberikan akses terhadap bacaan berkualitas sekaligus aktivitas yang merangsang keterampilan literasi. Si MoBa bukan sekadar perpustakaan keliling, tetapi semacam “Center of Excellence” keliling. Si MoBa merupakan program taman baca anak, sekaligus teater audio video pembelajaran, juga pusat permainan edukatif, dan sanggar kreativitas keterampilan, hingga majelis pendidikan keluarga. Si MoBa juga merupakan akademi bagi para pegiat literasi yang dinamakan ‘Teman Si MoBa’. Para pegiat literasi inilah yang tetap produktif berbagi, bahkan di masa pandemi. Dan terus menjaga konsistensi dan keberlanjutan program literasi masyarakat Indonesia di masa mendatang.

Dan akhirnya, petualangan Si MoBa harus berakhir dengan segala dinamika warnanya. Petualangan mengelola panggung literasi berjalan, mendampingi pejuang literasi, membuka akses bacaan berkualitas bagi masyarakat, hingga berbagi kebahagiaan melalui aktivitas literasi sementara ini dicukupkan. Namun perjuangan untuk mewujudkan salah satu tujuan bangsa: ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ takkan pernah usai. Terima kasih kami haturkan kepada segenap pihak yang telah membangun sinergi produktif dalam program Si MoBa ini, mulai dari Kandang Jurank Doank, Teman Si MoBa, jaringan pegiat literasi Dompet Dhuafa, pihak sekolah, tokoh masyarakat, hingga seluruh stakeholders Si MoBa yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga kontribusi kecil ini berlimpah berkah dan kebermanfaatan. Dan semoga literasi Indonesia dapat berjaya, di darat, laut, dan udara. Salam hangat dari Si MoBa.

Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures that anyone can have.” (Lloyd Alexander)

*tulisan ini dibuat sebagai pengantar buku berjudul “Petualangan Si MoBa: Cerita Inspiratif Jejak Manfaat Si Mobil Baca”

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (2/2)

Pesepakbola muslim di Liga Italia (Serie A) sebagiannya diisi pemain berpengalaman di liga lain. Misalnya Franck Ribery (Fiorentina) yang sudah memenangkan semua piala yang mungkin didapat ketika memperkuat Bayern Munchen. Edin Dzeko (AS Roma) pernah meraih gelar Bundesliga bersama Wolfsburg dan dua kali juara Premier League bersama Manchester City. Brahim Diaz (AC Milan) pernah juara Premier League 2017/2018 bersama Manchester City dan juara La Liga 2019/2020 bersama Real Madrid. Henrikh Mkhtariyan (AS Roma) pernah juara Liga Armenia (4 kali), juara Liga Ukraina (3 kali) dan juara Liga Eropa bersama Manchester United. Tiemoue Bakayoko (Napoli) pernah juara Ligue 1 bersama AS Monaco dan juara piala FA bersama Chelsea. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Serie A di antaranya Calhanoglu dan Bennacer (AC Milan); Mert Muldur, Kaan Ayhan, Mehdi Bourabia, dan Hamed Jr. Traore (Sassuolo); Merih Demiral (Juventus); Berat Djimsiti (Atalanta); Kalidou Koulibaly, Elseid Hysad, dan Ghoulam (Napoli); Hakimi dan Handanovic (Inter Milan); Koray Gunter dan Mert Cetin (Verona); Amadou Diawara (AS Roma); Keita Balde, Omar Colley dan Mehdi Leris (Sampdoria); Fares dan Strakosha (Lazio); Sofyan Amrabat (Fiorentina); Adam Ounas (Cagliari); Barrow dan Mbaye (Bologna); Gervinho (Parma); Valon Behrami (Genoa); Amer Gojak (Torino); Mamadou Coulibaly (Udinese); dan Ahmad Benali (Crotone).

Perancis, negara yang dipimpin Presiden Macron, menyumbang banyak nama-nama pesepakbola muslim. Liga Perancis (Ligue 1) sering menjadi tempat dimana bakat para pesepakbola muslim ditemukan. Di skuad PSG sebagai juara Ligue 1 tiga muslim terakhir, ada sejumlah pemain muslim di antaranya Idrissa Gueye dan Abdou Diallo. Diallo masih berseragam AS Monaco ketika menjadi juara Ligue 1 2016/2017 bersama dengan banyak pesepakbola muslim lainnya seperti Toure, Bakayoko, Mendy, Traore, Nabil Dirar dan Djibril Sidibe. Sidibe masih bertahan di AS Monaco bersama pemain muslim lainnya termasuk Ben Yedder yang menjadi top skor Ligue 1 musim lalu bersama Mbappe. Nama-nama pemain muslim lainnya yang masih aktif bermain di Ligue 1 di antaranya Zeki Celik, Burak Yilmaz, Yusuf Yazici, dan Boubakary Soumare (Lille); Nayef Aguerd, Hamari Traore, dan M’Baye Niang (Rennes); Boubacar Kamara, Saif-Eddine Khaoui, dan Pape Gueye (Marseille); Amine Gouiri, Hassane Kamara, Boudaoui, dan Youcef Atal (Nice); Aouar, Ekambi, Benlamri, dan Moussa Dembele (Lyon); Niane, Boulaya, Kouyate, Bronn, Fofana, dan Maziz (Metz); Oumar Doucoure, Sylla, Haidara, dan Seko Fofana (Lens); Boufal, Thioub, Ismael Traore, El Melali, Abdoulaye Bamba, Coulibaly, Amadou, Ali-Cho, dan Alioui (Angers); Ben Arfa, Yacine Adli, Sabaly, dan Zerkane (Bordeaux); Wahbi Khazri, dan Abdoulaye Sidibe (Saint Etienne); Haris Belkebla (Brest); Abdelhamid, Berisha, El Bilal Toure, Zeneli, dan Drammeh (Reims); Umut Bozok (Lorient); Lafont, Abeid, Louza, Abdoul Kader Bamba, Abdoulaye Toure, dan Kalifa Coulibaly (Nantes); Ferhat, Duljevic, dan Benrahou (Nimes); Habib Diallo, Simakan, Ibrahima Sissoko, Lamine Kone, Idriss Saadi, dan Majeed Waris (Strasbourg); Chafik, Ngouyamsa Nounchil, dan Moussa Konate (Dijon).

Terlihat banyak bukan, pesepakbola muslim yang aktif bermain di lima liga terbaik Eropa? Nyatanya, belum semua nama tertulis disana, masih ada puluhan nama lain. Atau bahkan ratusan nama lagi jika kita sertakan liga-liga lain di Eropa. Secara kuantitas, keberadaan pemain muslim ini jelas akan memberikan dampak terhadap persepakbolaan di Eropa. Bagaimana dengan kualitas? Indikatornya tentu tidak mudah, apalagi ada ratusan nama. Kalau kita jadikan Liga Champions musim ini sebagai kompetisi tingkat tertinggi di level Eropa, kita akan mendapati pesepakbola muslim disana. Di posisi kiper ada Mendy (Chelsea) dengan 3 cleansheet (CS), dengan cadangan Bounou (Sevilla) yang belum pernah kalah (2 CS) dan Handanovic (Inter – 1 CS). Dengan formasi 3-5-2, di posisi bek kiri ada Bansebaini (Monchengladbach – 1 CS) yang sudah mencetak 2 gol (GS), Zouma (Chelsea – 3 CS) di tengah, dan bek kanan Djimsiti (Atalanta – 1 CS). Sebagai bek cadangan ada Rudiger (Chelsea – 1 CS), Hakimi (Inter – 1 CS), Mazraoui (Ajax), Aguerd (Rennes), dan Mendy (Madrid). Di posisi gelandang bertahan ada Gundogan (Man. City – 2 GS – 2 CS) dan Pogba (Man. United – 2 assist (AS) & 1 CS). Di posisi gelandang serang ada Salah (Liverpool – 2 GS, 1 AS, 3 CS) di kanan, Ziyech (Chelsea – 1 GS & 3 CS) di tengah, dan Mane (Liverpool – 1 GS, 1 AS & 3 CS) di kanan. Sebagai cadangan ada Visca (Basaksehir – 1 GS & 1 AS), Kante (Chelsea – 3 CS), Pjanic (Barcelona – 1 CS), dan Fares (Lazio). Di posisi striker ada Thuram (Monchengladbach – 2 GS & 2 AS) dan Dembele (Barcelona – 2 GS & 1 AS). Cadangan striker ada En Nesyri (Sevilla – 2 GS), Benzema (Madrid – 2 GS), Marega (Porto – 1 GS & 1 AS), dan Berisha (Salzburg – 1 GS & 1 AS). Jika Liga Eropa dibuatkan seperti ini juga pasti kita akan mendapati banyak pemain muslim disana. Ada 48 klub yang bermain dari negara yang lebih beragam. Saat ini, top skor sementara Liga Eropa adalah pesepakbola muslim, Yusuf Yazici (Lille – 6 GS). Di bawahnya ada beberapa pemain yang telah mencetak 4 gol, di antaranya pemain muslim, Munas Dabbur (Hoffenheim).

Banyak masyarakat yang lebih tertarik dengan sepakbola daripada politik, barangkali karena bisa menghibur tanpa menyakiti. Dalam sejarah manusia, para politisi non-muslim lah yang banyak mewarnai kehancuran peradaban manusia. Pun demikian dalam sejarah dunia kemanusiaan, para pemimpin non-muslimlah yang paling banyak mengalirkan darah rakyatnya. Karenanya, stigma terorisme yang dilekatkan pada Islam tidaklah beralasan. Apalagi dalam dunia persepakbolaan, banyak pemain muslim yang menghibur dan menorehkan prestasi tanpa mengumbar kebencian dan permusuhan. Sudah saatnya Bangsa Barat yang (konon) lebih rasional dalam berpikir, bisa lebih bijaksana dalam bersikap dan mengeluarkan statement. Kedamaian dunia tidaklah hadir dari menebar kebencian, apalagi terus berprasangka buruk dan mengkambinghitamkan orang lain. Para pejabat dan politisi sepertinya perlu belajar respect dari dunia sepakbola. Bagaimana kekerasan dan rasisme akan berbuah hukuman. Bagaimana performa lebih diutamakan di atas pertimbangan yang berbau SARA. Dan akhirnya, sepakbola Eropa tanpa Muslim akan jauh tertinggal, sebagaimana dunia tanpa Islam akan jatuh pada kegelapan.

Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam” (Franck Ribery)

Sepakbola Eropa Tanpa Muslim (1/2)

I don’t have tattoos, I don’t change hairstyles, I don’t know how to dance. I just want to play football.” (Mo Salah)

Guys, who’s the most important for the French people? The teacher Samuel Paty who lost his life teaching knowledge to the kids. Or a millionaire football player Paul Pogba?”, demikian kicau akun ‘Angry Smurf’ di status twitter miliknya beberapa hari lalu seraya memention ‘The Sun Football’, media Inggris yang sempat menyebar hoax tentang mundurnya Paul Pogba dari timnas Perancis akibat komentar Presiden Macron yang dinilai menghina Islam. Twit tersebut sudah dihapus, namun jejak hasil polingnya masih bisa dilihat. Sebanyak 71,4% responden memilih Paul Pogba, dan hanya 28,6% dari lebih 12 ribu responden yang memilih Samuel Paty, guru yang disebut Presiden Perancis, Emmanuel Macron, sebagai pahlawan. Dalam kolom komentar, meski aksi terorisme banyak dikecam, tidak sedikit pula yang justru menyalahkan guru Paty yang dianggap turut menyebarkan kebencian.

Kontroversi pernyataan Presiden Macron sepertinya perlu pembahasan tersendiri, apalagi tidak sedikit negara di Eropa yang ‘tidak ramah’ dengan imigran muslim. Namun mendapati dukungan terhadap pesepakbola di atas kasus politik yang terjadi mengisyaratkan betapa banyak orang yang lebih mencintai sepak bola dibandingkan mereka yang membenci Islam. Misalnya ketika Mesut Ozil mundur dari timnas Jerman dua tahun lalu akibat diskriminasi, banyak pihak yang mendukungnya. Pun demikian ketika Ozil harus dicoret dari skuat Arsenal karena mendukung muslim Uighur. Dicoretnya Franck Ribery, Hatem Ben Arfa, Mamadou Sakho, Samir Nasri hingga Karim Benzema dari timnas Perancis yang dianggap tak lepas dari isu rasisme pun memperoleh banyak sorotan. Perancis mungkin lupa bahwa imigran muslim telah menghuni timnas Perancis sejak tahun 1936 dan sebagian besar skuad timnasnya saat ini adalah warga keturunan.

Sumbangsih ilmuwan muslim terhadap dunia sudah banyak yang mengupasnya, mulai dari Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern), Al Zahrawi (Bapak Ilmu Bedah Modern), Ibnul Haytham (Bapak Optik Modern), hingga Al Khawarizmi (Bapak Aljabar, penemu angka nol). Lantas bagaimana kiprah pemain sepakbola muslim dalam sepakbola modern? Ali Daei, pemegang rekor gol terbanyak untuk timnas (109 gol) adalah seorang muslim. Karena sedemikian banyaknya pesepakbola muslim di dunia, pembahasan kali ini akan fokus pada pesepakbola muslim yang masih aktif bermain di lima liga top eropa. Jadi nama-nama pesepakbola muslim seperti Zinedine Zidane, Frederick Kanoute, Nicolas Anelka, Eric Abidal, Yaya Toure, Kolo Toure, hingga Thierry Henry tak masuk hitungan.

Mulai dari Liga Inggris, ada empat pesepakbola muslim yang mengantarkan Liverpool menjadi juara Liga Champions 2018/2019 dan juara Liga Inggris 2019/2020. Naby Keita dan Xherdan Shaqiri barangkali hanya pemain pelapis. Namun Mohamed Salah dan Sadio Mane punya peran vital di Liverpool beberapa musim terakhir. Tanpa mereka Liverpool akan memperpanjang puasa gelar. Salah menjadi topskor Liverpool di Liga Champions 2018/2019 dengan 5 gol dan 2 assist, diikuti Mane dengan 4 gol dan 1 assist. Keita mencetak 1 gol, Shaqiri 2 assist. Di Liga Inggris 2019/2020, Salah mencetak 19 gol dan 10 assist, Mane 18 gol dan 7 assist, Keita 2 gol dan 3 assist, dan Shaqiri 1 gol. Musim ini pun Salah dan Mane masih tak tergantikan sebagai top skor klub. Manchester City selaku juara Liga Inggris 2018-2019, juara piala FA 2019, dan juara Piala Liga 2018-2020 mencatatkan setidaknya tiga pemain muslimnya. Benjamin Mendy di posisi bek, Ilkay Gundogan di posisi gelandang bertahan, dan Riyad Mahrez di posisi gelandang serang. Riyad Mahrez juga berperan penting mengantarkan Leicester City menjadi juara Liga Inggris 2015/2016 bersama pemain muslim lainnya, N’Golo Kante. Musim 2016/2017, Kante pindah ke Chelsea dan bersama bek muslim, Kurt Zouma berperan mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Inggris 2016/2017, juara piala FA 2017/2018, dan juara Piala Eropa 2018/2019. Dalam skuad Manchester United yang menjuarai Liga Eropa 2016/2017 tercatat nama pemain muslim seperti Paul Pogba, Marouane Fellaini, dan Henrikh Mkhitaryan. Sementara dalam skuad Arsenal yang menjuarai Piala FA 2019/2020 lalu ada nama pemain muslim seperti Mesut Ozil, Granit Xhaka, Shkodran Mustafi, dan Sead Kolasinac. Selain itu masih ada puluhan pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Liga Inggris, di antaranya Elneny (Arsenal); El Ghazi, El Mohamedy, Bertrand Traore dan Trezeguet (Aston Villa); Jahanbakhsh dan Tariq Lamptey (Brighton); Edouard Mendy, Rudiger dan Ziyech (Chelsea); Ayew, Kouyate dan Sakho (Crystal Palace); Doucoure dan Tosun (Everton); Kamara (Fulham); Choudhury, Nampalys Mendy, Slimani, Soyuncu, dan Under (Leicester); Djenepo (Southampton); Aurier dan Sissoko (Spurs); Ivanovic (West Brom); Said Benrahma dan Issa Diop (West Ham); serta Romain Saiss dan Adama Traore (Wolves).

Di Liga Spanyol yang klub besarnya lebih terbatas, pesepakbola muslim barangkali tidak sebanyak di Liga Inggris. Ada nama Karim Benzema yang bersama Real Madrid berhasil tiga kali menjuarai La Liga termasuk musim 2019/2020, dan empat kali juara Liga Champions termasuk juara beruntun tahun 2016-2018. Torehan 254 golnya bersama Real Madrid menunjukkan kontribusi besarnya. Sebelumnya, torehan 66 golnya berhasil mengantarkan Lyon menjuarai Ligue 1 empat musim beruntun (2004-2008). Pemain muslim lainnya di skuad Real Madrid ada Eden Hazard dan Ferland Mendy. Di klub rival, ada Miralem Pjanic dan Ousmane Dembele, pesepakbola muslim yang berseragam Barcelona. Kala terakhir menjuarai Liga Champions 2014/2015, dalam skuad Barcelona ada nama Munir El Haddadi, pesepakbola muslim yang saat ini bermain bersama Sevilla. Setelah mendapat tiga gelar La Liga bersama Barcelona, Munir berhasil menjuarai Liga Eropa 2019/2020 berseragam Sevilla bersama pesepakbola muslim lainnya, kiper Yassine Bounou dan striker Youssef En-Nesyri. Selain itu, juga masih ada nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di La Liga, di antaranya Januzaj (Real Sociedad); Nabil Fekir dan Aissa Mandi (Real Betis); Abdoulay Diaby dan Enes Unal (Getafe); Kone (Elche); Kondogbia dan Diakhaby (Valencia); Mahmoud (Deportivo); Papakouli Diop (Eibar); Yokuslu dan Emre Mor (Celta Vigo); Bardhi (Levante); dan El Yamiq (Real Valladolid).

Di Liga Jerman, pesepakbola muslim terbilang banyak, namun tidak setenar nama-nama di Liga Inggris. Di skuad Bayern Munchen, ada rekrutan baru bek muslim Bouna Sarr. Di skuad Borussia Dortmund, ada Emre Can dan Mahmoud Dahoud yang beragama Islam. Sementara di skuad Leipzig ada Amadou Haidara, Yussuf Poulsen, Dayot Upamecano, dan Ibrahima Konate. Nama-nama pesepakbola muslim lainnya yang masih aktif bermain di Bundesliga di antaranya Demirbay, Moussa Diaby, Amiri, dan Bellarabi (Leverkusen); Thuram, Bansebaini dan Ibrahima Traore (Monchengladbach); Rani Khedira (Augsburg); Al Ghoddioui (Stuttgart); Omer Toprak (Werder Bremen); Amin Younes, Aymen Barkok, dan Almamy Toure (Eintracht Frankfurt); Admir Mahmedi dan Yunus Malli (Wolfsburg); Bicakcic, Belfodil, Dabbur, dan Kasim Nuhu Adams (Hoffenheim); Amir Abrashi (Freiburg); Ellyes Skhiri dan Salih Ozcan (Koln); Amine Harit, Salif Sane, Nassim Boujellab, Suat Serdar, Vedad Ibisevic, Nabil Bentaleb, Ahmed Kutucu, Ozan Kabak, dan Hamza Mendyl (Schalke); serta Oztunali dan Niakhate (Meinz).

(bersambung)

Mencari Kebahagiaan

Untuk apa kau mengejar kemewahan? Apakah kau mencari kebahagian? Mengapa kau berduka ketika kegagalan? Apa kau tak terima takdir dari Tuhan? Mencari kekayaan, temui kegagalan. Ingin bahagia, terima kedukaan. Kekayaan tak menjanjikan kebahagian, adakala ia membawa kedukaan. Bersyukurlah dengan apa yang ada, itulah kunci kebahagian sebenarnya. Perlukan keimanan jua ketaqwaan, agar bahagia dunia akhirat. Berusahalah untuk berjaya, bersyukur dengan apa yang ada. Jika kau gagal tak perlu kecewa, itukan takdir dari Tuhan…” (‘Mencari Kebahagiaan”, Brothers)

Dimana kebahagiaan harus dicari? Bagaimana cara mendapatkannya? Ada dua kisah tentang pemuda yang mencoba mencari jawaban atas dua pertanyaan pertanyaan tersebut dan bertemu dengan orang bijak yang memberi mereka jawaban. Pada kisah pertama, orang bijak menyuruh pemuda tersebut pergi ke taman dan menangkap seekor kupu-kupu. Pemuda itu bergegas ke taman dan mulai mengejar kupu-kupu. Berlari kesana kemari, menerjang rerumputan, tanaman bunga, dan semak belukar, namun tak berhasil jua menangkap kupu-kupu. Orang bijak itupun menghentikan pemuda tersebut seraya berujar, ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari dan menerjang tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak? Mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan ia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik dalam hatimu. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.

Pada kisah kedua, orang bijak memberikan sebuah sendok kemudian menuangkan tinta di atasnya. Orang bijak tersebut meminta sang pemuda untuk mengelilingi rumahnya yang besar sambil menjaga tinta di atas sendok tersebut agar tidak tumpah. Setelah sekian waktu, pemuda tersebut berhasil mengelilingi rumah besar itu tanpa menumpahkan tinta. Namun ia gelagapan ketika ditanya tuan rumah mengenai koleksi lukisan di lorong yang menurutnya paling indah, atau kucing peliharaan yang menurutnya paling cantik, atau bahkan jumlah kamar yang dilewatinya. Orang bijak tersebut akhirnya berkata, “Nak, sadarilah bahwa banyak orang yang tidak bisa menemukan bahagia karena terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya. Mereka seperti kesulitan mencari-cari kebahagiaan, padahal bahagia itu sederhana, ada di mana-mana, di sekitarnya, dekat dengan dirinya. Sama seperti apa yang terjadi pada dirimu selama berkeliling rumah ini. Padahal ada banyak hal yang bisa engkau nikmati di sekitar, tapi kenyataannya engkau bahkan tak menyadari ada apa saja di sekitarmu.

Pesan dari dua kisah berbeda itu sama. Bahwa kebahagian itu sejatinya ada melingkupi setiap manusia, tak perlu dicari dan dikejar sedemikian rupa, cukup dimunculkan dengan rasa syukur dan kelapangan dada. Itulah mengapa banyak orang bahagia yang hidup sederhana, sementara tidak sedikit mereka yang berlimpah harta dan tahta namun tak merasa bahagia. Sebuah penelitian dari Kim dan Maglio (2018) mendapati bahwa menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir justru akan membuat seseorang tidak bahagia. Semakin dikejar semakin terasa jauh, dan waktupun semakin terasa tidak cukup. Agar lebih berbahagia, Kim dan Maglio menyarankan untuk lebih memfokuskan pada apa yang dimiliki saat ini dan mengurangi memikirkan ketercapaian tujuan akhir. Sederhananya, perbanyak bersyukur.

Tidak sedikit pula orang yang tertipu dengan kebahagiaan semu. Kebahagiaan sesaat. Ada sebuah studi yang membagi beberapa mahasiswa dalam dua grup. Grup pertama harus melakukan aktifitas yang terasosiasi dengan kebahagiaan, sementara grup kedua membuat kegiatan yang memberikan arti hidup. Para mahasiswa di grup pertama menghabiskan waktunya untuk aktivitas semacam bermain game, makan enak, atau hahahihi dengan teman-teman. Sementara mahasiswa grup kedua melakukan aktifitas seperti belajar, menolong orang, ataupun memaafkan teman. Hasilnya? Awalnya, grup pertama terlihat bahagia di saat grup kedua terlihat berjuang untuk melakukan aktifitasnya. Namun beberapa bulan kemudian, grup pertama terdeteksi mengalami penurunan mood ketika grup kedua berkata mereka jauh lebih merasa puas, tercerahkan dan emosi positif lainnya.

* * *

Seekor kelinci kecil ingin menyelidiki apa sebenarnya yang disebut dengan kebahagiaan. Pada suatu hari, ia keluar sendirian dari sarangnya untuk pergi mencari jawaban. Ketika bertemu singa, ia bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Singa berkata, “Kebahagiaan ialah semua anggota keluarga selalu berada di samping kita”. Ketika bertemu harimau, ia juga bertanya, “Apa arti kebahagiaan bagimu?”. Harimau menjawab, “Kebahagiaan ialah orang yang kamu cintai juga mencintai dirimu”. Setelah mendengar itu, kelinci melompat pulang ke rumahnya kemudian bergegas memberitahukan semua jawaban yang didengarnya kepada ibunya. Saat ia selesai bercerita, sang ibu justru berkata, “Padahal hari ini kamu sudah sangat bahagia”. Kelinci itu bertanya, “Mengapa?”. Ibunya berkata, “Karena kamu tidak diterkam oleh mereka dan bisa kembali dengan selamat”.

Bahagia itu sederhana. Tak perlu banyak definisi, cukup dirasakan. Tak perlu diburu dan dicari, cukup ditumbuhkan. Mari kita berbahagia!

The foolish man seeks happiness in the distance; the wise grows it under his feet” (James Oppenheim)

Iman Dulu Baru Imun

Dari Abdullah bin Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu. Jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah. Jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.
(HR. At Tirmidzi)

Rekor kasus harian Covid-19 di Indonesia tercipta per 8 Oktober lalu yaitu penambahan sebesar 4.850 kasus baru. Angka ini melampaui rekor harian sebelumnya sebesar 4.823 kasus baru per 25 September 2020. Penambahan kasus Covid-19 ini terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, dimana DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan 1.182 kasus baru. Ricuhnya demonstrasi Omnibus Law melengkapi kabar duka dari negeri ini.

Ada yang unik dari pandemi Covid-19 ini, pola serangannya acak, mempersulit proses tracing nya. Tidak sedikit olahragawan yang fisiknya sehat ternyata terjangkit, namun rekan-rekan yang berlatih bersamanya ternyata negatif. Dalam sebuah ruangan dimana terdapat orang yang positif corona, tidak semua orang di ruangan tersebut tertular virus corona, dan belum tentu mereka yang tertular adalah yang dekat jaraknya dengan pembawa virus. Ada yang sembuh cepat pun dengan penyakit penyerta (komorbid), ada yang lama sembuhnya walau tanpa komorbid. Ada yang abai namun selamat dari pandemi, ada yang ketat menerapkan protokol kesehatan namun masih terpapar virus.

Selama ini, sistem imun yang dimiliki seseorang lah yang dijadikan jawaban ilmiahnya. Walau sebenarnya tak bisa menjawab penyebaran virus yang memilih korbannya secara acak, termasuk mereka yang punya pola hidup sehat. Karenanya, kita perlu mengembalikan jawabannya kepada perkara yang lebih esensi, yaitu keimanan. Dalam konteks iman, keselamatan dan kecelakaan adalah hak prerogratif Allah SWT. Sakit, sembuh, dan sehat merupakan ketetapan dari Allah SWT. Sehingga kita mampu bersyukur dan tidak lalai terhadap kesehatan yang menyertai. Juga mampu bersabar, tidak berputus asa, serta senantiasa mengambil pelajaran dari setiap musibah yang melanda. Ya, jawaban mengapa ada yang positif atau negatif Covid-19 dengan beragam kondisinya dalam perspektif keimanan adalah semata karena takdir Allah SWT. Jadi bukan imun yang menentukan.

Iman adalah sesuatu yang tidak hanya diyakini dalam hati, namun juga diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Dalam aspek spiritual, keimanan ini akan menghadirkan ketenangan jiwa dalam kondisi apapun. Perasaan tenteram dari stres, cemas, dan takut berlebihan akan menguatkan sistem imun tubuh, sehingga lebih tangguh menghadapi penyakit yang menyelinap ke dalam tubuh. Pada titik inilah iman akan berdampak positif terhadap imun. Bahkan dalam kondisi terserang penyakit pun, orang dengan iman yang kuat akan tetap bisa berpikir dan bersikap positif. Alhasil, keimanannya akan kian bertambah dengan penyakitnya. Nabi Ayub a.s. ketika ditimpa ujian hidup hingga 18 tahun hanya berdo’a, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya: 83). Hanya mengadu, tanpa mengeluh, menuntut, ataupun menyalahkan. Kalaupun ada kesembuhan yang diharapkan, itupun dalam rangka keta’atan karena penyakitnya menghambatnya dalam beribadah. “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shad: 41). Hal ini menguatkan bahwa bagaimanapun, iman harus didahulukan daripada imun.

Lantas apakah mereka yang merasa aman dari virus Corona membuktikan bahwa keimanan mereka kuat? Hati-hati, dalam hal ini ‘rasa aman’ bak pisau bermata dua. Bisa hadir dari manifestasi iman dan kekuatan tawakkal. Bisa juga indikasi dari sifat ujub dan takabbur. Indikator pembedanya hanya amal shalih dan kesombongan. Raja’ dan rasa aman harus disertai amal shalih. Kisah perjalanan khalifah Umar bin Khattab r.a. ke Negeri Syam yang masyhur di masa pandemi ini dapat menjadi i’tibar. Di wilayah Saragh, Abu Ubaidah bin Al Jarrah r.a. memberitahu bahwa Negeri Syam tengah dilanda wabah tha’un. Dalam musyawarah dadakan yang digelar, para shahabat berbeda pendapat antara melanjutkan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah. Akhirnya Amirul Mukminin mengikuti saran dari sesepuh Quraisy yang hijrah sebelum fathu Makkah untuk kembali ke Madinah. Beberapa shahabat tidak puas, termasuk Abu Ubaidah r.a. yang lantas bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”. “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”, jawab Umar r.a. dengan tegas seraya memberikan analogi seseorang yang memiliki seekor unta lalu turun ke lembah yang mempunyai dua sisi, yang satu subur dan yang lain tandus. “Jika engkau menggembalakan untamu di tempat tandus adalah takdir Allah, maka bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, berarti engkau menggembala dengan takdir Allah juga?”, jelas Umar r.a. Keputusan ini dikuatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf r.a. yang datang terlambat dan menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri” (HR. Bukhari – Muslim).

Iman perlu disertai dengan amal, tawakkal perlu diiringi dengan ikhtiar. Mereka yang abai terhadap protokol kesehatan namun ‘merasa aman’ dengan hanya mengonsumsi madu dan habbatussauda misalnya, tidaklah sempurna ikhtiar dan keimanannya. Apalagi jika sampai bersikap keras kepala ketika ditegur, bahkan merendahkan orang lain. Bisa jadi ‘rasa aman’nya justru muncul dari goda’an setan. Sebab sebagaimana penyakit, kesehatan dan ‘rasa aman’ juga sejatinya merupakan ujian keimanan. Iman adalah kunci untuk memproduksi sistem imun dan rasa aman. Sebagaimana iman, imun dan aman juga merupakan nikmat Allah yang perlu dijaga. Ar-Razi berkata, “Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi. Kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan”. Dan dari semuanya, nikmat iman adalah nikmat yang paling besar. Ibnu Taimiyah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan”. Mari kita rawat iman untuk juga merawat imun.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. Al-An’am: 82)

Siapa Berani Ambil Tangung Jawab?

There are risks and costs to action. But they are far less than the long-range risks of comfortable inaction” (John F. Kennedy)

Beberapa waktu lalu saya membaca manga tentang sepakbola berjudul ‘Blue Lock’ yang menceritakan upaya Asosiasi Sepakbola Jepang (JFA) dalam mencetak striker haus gol. Berbeda dengan manga bergenre olahraga lainnya yang banyak menonjolkan tentang kerja sama tim, ‘blue lock’ justru mengajarkan bahwa striker sejati harus memiliki ego yang tinggi untuk mencetak gol. Kualitas seorang striker ditentukan oleh jumlah gol yang bisa dicetaknya, sepragmatis itu. Ketidakberanian menembak ke arah gawang ketika ada ruang tembak, dan memilih untuk mengoper ke rekan dianggap sebagai bentuk kelemahan. Cari aman. Jika rekannya bisa mencetak gol, dia akan dipuji karena tidak egois. Ketika gagal berbuah gol, dia tidak disalahkan. Padahal bentuk ketidakegoisan seorang striker adalah dengan keberanian mengambil peluang (sekaligus risiko) untuk terus mencetak gol. Dan rekan setimnya harus memahami posisi itu.

Dalam realitanya, memang banyak didapati sikap egois yang dimiliki para pemain bintang di posisi penyerang. Mulai dari menolak untuk diganti, memilih menembak bola ke gawang dibandingkan mengoper, memarahi rekan setim yang tidak memberinya bola, mengambil alih tendangan set piece, hingga tidak membantu pertahanan. Sikap malas ataupun kebanyakan gaya tidak masuk hitungan, sebab konteksnya adalah sikap yang menunjukkan ego tinggi dalam memperbesar peluang mencetak gol. Dan ego itulah yang menunjukkan gairah dan semangat untuk terus menjadi yang terbaik. Pentingnya kolektivitas tim dalam permainan sepakbola adalah satu hal, namun melihat sosok pemain yang tidak pernah puas dalam melampaui rekor demi rekor adalah sesuatu yang lain. Butuh ego, ‘keserakahan’, dan keberanian untuk dapat melakukannya.

Dalam konteks organisasi yang lebih luas, konteks ego yang seperti ini juga diperlukan oleh sosok pemimpin. Sebagai ‘ujung tombak’ suatu organisasi, pemimpin diharapkan berani mengambil tanggung jawab, bukan lantas melemparnya ke orang lain. Memang ada yang namanya mendelegasikan dan memberikan kepercayaan pada orang lain, namun itu berbeda dengan lempar tanggung jawab. Sosok pemimpin harus berani mengambil keputusan yang paling tidak populer sekalipun jika memang itu keputusan yang perlu diambil. Dan pemimpin sejati akan berdiri paling depan dalam mempertanggungjawabkan keputusannya. Keputusan yang diambil karena pemahaman dan kesadaran yang utuh. Keputusan yang bisa jadi penuh dengan risiko.

Keberanian untuk mengambil risiko menjadi modal penting untuk menjadi pemimpin. Kebijakan yang diambil bisa jadi tidak menyenangkan semua orang, bagaimanapun keputusan tetap harus dilakukan. Tidak malah menggantung sikap hanya karena ketidakberanian dalam menghadapi risiko kepemimpinan. Apalagi melarikan diri dari tanggung jawab dengan dalih apapun. Atau lepas tanggung jawab dengan alasan apapun. Menjadikan orang lain sebagai ‘tameng’ atas pilihan sikap juga tidak menunjukkan kebesaran jiwa seorang pemimpin. Termasuk memilih untuk tidak bersikap. Menunggu arah angin berhembus. Pragmatis dan oportunis.

Keputusan yang diambil belum tentu tepat, namun berani mengambil tanggung jawab atas sebuah keputusan yang diambil melalui pertimbangan yang mendalam akan jauh lebih baik dibandingkan ‘cuci tangan’ atas keputusan yang belum tentu salah. Cari aman. Seakan anggota organisasi tidak dapat menilai modus tersebut. Padahal setiap kebijakan akan ada konsekuensinya, dan setiap pilihan akan ada risikonya. Para pemimpin sejati memiliki keberanian dalam menghadapi konsekuensi dan risiko tersebut, sebab berani memimpin berarti berani untuk menderita. Leiden is lijden. Terus menjadi sorotan apapun sikap yang dipilih. Bahkan senantiasa dikritisi.

The biggest risk is not taking any risk”, demikian ungkap Mark Zuckerberg. Harus ada yang ambil risiko shooting ke gawang walaupun belum tentu gol, sebab saling oper –secantik apapun—takkan berbuah kemenangan. Tidak cukup hanya bermain aman untuk meraih kemenangan. Harus ada yang mengambil risiko kepemimpinan sepelik apapun kondisinya agar arah perubahan lebih terang benderang. Jika kualitas striker dihitung dari jumlah golnya, maka kualitas seorang pemimpin dinilai dari seberapa besar keputusan yang diambilnya mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Dan jalan perjuangan seorang pemimpin selalu menuntut keberanian dalam mengambil tanggung jawab. Bukan mencari berjuta pembenaran untuk lari dari tanggung jawab.

Leadership is taking responsibility while others are making excuses” (John C. Maxwell)

Dan FPL (Musim Ini) Pun Usai… (2/2)

Sudah banyak situs hingga akun youtube yang menjelaskan mengenai aturan main, tips & trick, hingga rekomendasi pemain terkait FPL, pun sebenarnya menganalisis dan memilih sendiri tim FPL merupakan suatu keasyikan tersendiri. Dengan poin dan peringkat yang biasa saja tentunya tidak layak bagi saya untuk banyak berkoar-koar tentang strategi dalam bermain FPL. Namun di sisi lain barangkali ada analisis dari catatan pengalaman newbie yang bisa dijadikan salah satu referensi untuk optimalisasi mendulang poin FPL.

Pertama, manajer FPL baru perlu memahami aturan main dan istilah FPL. Misalnya bench boost, free hit, wild card, blank game week, double game week, dan sebagainya. Ketentuan bagaimana poin diberikan ataupun potensi pengurangan poin juga perlu dipahami. Anggaplah sebagai bekal awal sehingga tidak terlalu coba-coba. Kedua, pastikan availability pemain. Poin FPL memang banyak ditentukan dari keterlibatan pemain terhadap gol, misalnya mencetak gol atau assist, atau melakukan aksi penyelamatan dan cleansheet. Namun memastikan pemain ikut bertanding adalah lebih mendasar. Pertandingan FPL perdana saya di pekan 1 musim 2018/2019 berantakan karena ada empat pemain yang tidak bermain atau cidera, termasuk Son Heung-Min yang ikut Asian Games 2018. Pekan berikutnya tidak lebih baik karena keempat pemain tersebut diganti (poin minus 12) namun mubazir tidak semuanya dimainkan. Di pekan-pekan berikutnya juga kurang diuntungkan ketika mengganti pemain yang ditandai cedera namun ternyata dimainkan, dengan pemain yang tidak ditandai cidera namun ternyata tidak main atau bahkan cedera. Bagaimanapun, pemain yang ikut bertanding walaupun kalah masih berpotensi mendapat poin selama tidak banyak mendapat pengurangan poin.

Ambil contoh untuk pemain musim 2019/2020 ini. Untuk posisi kiper, banyak yang bermain penuh di 38 pertandingan. Kiper Liverpool, Alisson, yang sempat cedera di awal musim hanya ada di urutan ke-12 untuk posisi goalkeepers FPL dengan 122 poin, jauh di bawah kiper Burnley, Nick Pope (170 poin). Bahkan Alisson yang mencatatkan 13 cleansheet dan hanya kebobolan 24 gol, masih kalah jumlah poinnya dibandingkan Foster, kiper Watford (137 poin) yang bermain penuh dan hanya mencatatkan 9 cleansheet, kebobolan 64 gol, dan timnya pun terdegradasi. Di posisi defenders Liverpool, van Dijk (178 poin) memang ada di bawah Trent (210 poin) dan Robertson (181 poin) yang assistnya dua digit. Namun bermodalkan bermain penuh, 5 gol dan 2 assist, van Dijk ada di atas Doherty (Wolves, 167 poin, 4 gol, 8 assist) dan Lundstram (Sheffield United, 144 poin, 5 gol, 4 assist) yang tidak selalu menjadi pilihan utama. Pun demikian dengan Tarkowski (Burnley, 143 poin, 2 gol, 3 assist) yang bermain full, total poinnya di atas beberapa pemain yang lebih banyak terlibat dalam gol namun tak bermain penuh, misalnya Azpilicueta (Chelsea, 130 poin, 2 gol, 6 assist).

Kemudian ada Ward-Prowse, midfielder yang bermain penuh untuk Southampton, mencetak 5 gol dan 4 assist dengan total poin 117. Poin ini sama dengan Bruno Fernandes (MU, 8 gol, 8 assist), dan Dele Alli (Spurs, 8 gol, 6 assist) yang waktu bermainnya jauh lebih sedikit. Antonio yang dimainkan West Ham dengan waktu bermain hanya setengah dari Ward-Prowse, walau berhasil mencetak 10 gol dan 4 assist, total poinnya hanya 111. Untuk posisi striker, ada Jimenez (194 poin) yang bermain penuh untuk Wolves. Dengan sama-sama mencetak 17 gol, Jimenez dengan 7 assistnya mengungguli Rashford (MU, 177 poin) yang memberikan 8 assist.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak perlu terlalu sering melakukan transfer pemain, kecuali kondisi urgen akibat cedera, suspensi, dan sebagainya. Atau mempertimbangkan jadwal pertandingan ke depan. Bukan hanya transfer berlebih akan ada konsekuensi pengurangan 4 poin (-4) untuk setiap kelebihan pemain, namun tidak ada jaminan pemain yang menggantikan akan lebih baik dari yang digantikan. Apalagi bola itu bulat dan konsisten bermain baik juga tidak mudah. Belum lagi jika poin akhir perolehan sama, manajer FPL yang lebih sedikit melakukan transfer akan menempati peringkat yang lebih tinggi. Selain itu, semakin banyak transfer, semakin banyak opsi, semakin membuat pusing. Hal ini terkait dengan catatan berikutnya yaitu jangan terlalu serius dalam bermain FPL. Alih-alih menjadi hiburan, yang ada malah stres. Tak perlu dipikirkan berlarut-larut, seringkali lintasan pikiran yang muncul di awal adalah intuisi yang benar. Salah pilih starter, salah pilih kapten, hingga salah transfer adalah hall umrah dalam FPL. Selanjutnya, kecermatan dalam memanfaatkan chips, DGW, dan BGW juga menjadi seni tersendiri dalam bermain FPL.

Kiper yang paling potensial biasanya bukan yang paling mahal, namun yang paling tangguh. Banyak bermain, banyak cleansheet, banyak penyelamatan, termasuk dari titik putih. Pemain defender yang paling potensial biasanya bek sayap yang kerap memberi assist, atau bek yang diandalkan dalam situasi set piece. Posisi midfielder yang paling potensial biasanya gelandang serang yang banyak terlibat dalam gol, serta eksekusi bola mati. Gelandang serang ini sangat diuntungkan dalam mendulang poin. Di satu sisi bisa berperan sebagai striker, misalnya Martial di MU dan Antonio di West Ham. Di sisi lain dapat poin dari cleansheet. Tak heran pemain dengan poin tertinggi ada di posisi ini. Musim 2018/2019 lalu ada Salah (poin 259), Hazard (238), Sterling (234), dan Mane (231). Di musim 2019/2020 ini ada De Bruyne (poin 251), Salah (233), dan Mane (221). Sementara untuk posisi striker yang paling potensial adalah yang paling produktif mencetak gol, kemudian memberikan assist. Musim lalu ada Aubameyang (23 gol) dan Aguero (22 gol), di musim ini ada Vardy (23 gol), Aubameyang (22 gol) dan Ings (22 gol). Dan yang terbaik belum tentu yang paling mahal. Pope, De Bruyne, dan Vardy bukanlah yang paling mahal di posisinya. Hanya Trent Alexander-Arnold, bek terbaik sekaligus termahal harganya di FPL.

Dan FPL musim ini akhirnya usai. Pandemi Covid-19 membuat musim ini terasa berbeda. Head to head leagues yang cukup menarik dalam bragging rights kehilangan keseruannya justru di masa-masa krusial. Namun di sisi lain, wildcard di musim ini dapat jatah tiga kali. Dan waktu jeda antar musim pun lebih singkat. Liga Inggris 2020/2021 akan dimulai kembali 12 September 2020, hanya berjarak delapan pekan dari berakhirnya musim 2019/2020. Dan hanya berselang tiga pekan dari final Liga Champions 2020. Dan karena FPL semakin dikenal luas, bahkan ternyata di kantor dan lingkungan perumahan ada mini liga FPL, manajer FPL musim depan sepertinya akan semakin meningkat. Apalagi pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir sehingga games online juga semakin diminati. Belum lagi realita persaingan Liga Inggris 2020/2021 tampaknya kian sengit. Dominasi Liverpool dan Manchester City terancam dengan menanjaknya performa tim lain semisal Chelsea dan Manchester United. Hal ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri. Dan FPL musim ini akhirnya usai, sampai jumpa di FPL musim depan. Jika ada mini liga FPL bolehlah saya ikutan. Atau jangan-jangan ada rekomendasi fantasy football lain yang cukup menarik? Saya sudah coba UCL Fantasy, masih kalah seru lah dibandingkan FPL. Salam panah hijau!

“Football is a game of mistakes. Whoever makes the fewest mistakes wins.” (Johan Cruyff)

Dan FPL (Musim Ini) Pun Usai… (1/2)

Football is a game about feelings and intelligence” (Jose Mourinho)

Berbagai liga sepakbola Eropa telah selesai. Beberapa liga bahkan selesai lebih awal akibat pandemi Covid-19. Liga Perancis (Ligue 1) selesai di pekan ke-28 dengan pertandingan Lille vs Lyon pada 8 Maret 2020 sebagai pertandingan pamungkas. PSG ditetapkan sebagai juara Ligue 1 setelah memuncaki klasemen dengan selisih 12 poin plus satu pertandingan lebih banyak dibandingkan Marseille di posisi runner-up. Hingga saat ini kasus positif corona di Perancis masih terus bertambah pun sudah melewati puncaknya. Perancis ada di urutan ke-19 dengan lebih dari 180 ribu kasus corona dan fatality rate mencapai 16,7%. Liga Belgia (Jupiler League) juga dihentikan lebih awal menyisakan satu pertandingan di babak reguler. Club Brugge yang memimpin klasemen babak reguler dengan selisih 15 poin dinobatkan sebagai juara. Biasanya setelah babak reguler, Jupiler League dilanjutkan dengan babak play-off yang mempertemukan tim 6 besar untuk menentukan juara. Kurva Covid-19 Belgia juga serupa dengan Perancis namun dengan jumlah kasus corona 65 ribuan. Liga Belanda (Eredivisie) juga berakhir lebih awal. Pertandingan FC Groningen vs PSV Eindhoven pada 8 Maret 2020 (pekan ke-26) menjadi pertandingan terakhir musim ini. Dan tidak ada juara Eredivisie musim ini.

Beberapa liga lain yang lanjut setelah sempat dihentikan akibat Covid-19 juga telah selesai. Liga Jerman (Bundesliga) yang mulai kembali bergulir 16 Mei 2020 telah selesai pada 27 Juni 2020 dengan Bayern Munchen sebagai juaranya, selisih 13 poin dari Borussia Dortmund di posisi runner-up. Kemenangan atas tuan rumah Werder Bremen 0-1 pada 16 Juni 2020 sudah memastikan gelar juara Bayern Munchen untuk delapan musim secara berturut-turut. Liga Spanyol (La Liga) yang mulai kembali bergulir 11 Juni 2020 telah selesai pada 19 Juli 2020 dengan Real Madrid sebagai jawaranya, terpaut lima poin dengan Barcelona di posisi kedua. Kemenangan 2-1 atas Villareal pada 16 Juli 2020 telah memastikan gelar La Liga ke-34 bagi Real Madrid. Liga NOS Portugal yang dimulai kembali 3 Juni 2020 baru saja berakhir kemarin dengan FC Porto sebagai juara, unggul lima poin dari Benfica di posisi kedua. Kemenangan 2-0 atas Sporting CP pada 15 Juli 2020 sudah cukup untuk memastikan gelar liga ke-29 kali bagi FC Porto. Kemenangan 2-4 atas tuan rumah Krasnodar pada 5 Juli 2020 sudah cukup mengantarkan Zenit St. Petersburg menjuarai Premier League Rusia untuk keenam kalinya pun liga baru berakhir pada 22 Juli 2020. Di klasemen akhir, Zenit unggul 15 poin atas Lokomotiv Moskow di posisi kedua.

Liga Italia (Serie A) yang baru kembali bergulir 20 Juni 2020, baru akan selesai pada 2 Agustus 2020. Namun kemenangan 2-0 Juventus atas Sampdoria tadi malam sudah cukup mengantarkan La Vecchia Signora menjadi juara Serie A untuk sembilan musim secara beruntun. Klub-klub yang mendominasi masih itu-itu saja, tidak ada kejutan berarti. Satu-satunya klub kejutan adalah Istanbul Basaksehir yang menjuarai Liga Turki (Super Lig) untuk pertama kalinya, mengalahkan dominasi Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas. Kemenangan tipis 1-0 atas Kayserispor yang diperkuat dengan kekalahan Trabzonspor 3-4 oleh Konyaspor pada 19 Juli 2020 sudah cukup mengunci gelar juara. Pun di pertandingan terakhir tadi malam Basaksehir kalah 3-2 dari tuan rumah Kasimpasa, selisih poin akhir dengan runner-up Trabzonspor masih empat poin.

Beralih ke Liga Inggris (Premier League/ EPL) yang ada kaitannya dengan judul tulisan ini, kemenangan Chelsea 2-1 atas Manchester City pada 25 Juni 2020 mengakhiri puasa gelar liga Inggris selama 30 tahun bagi Liverpool. Walaupun perebutan tiket ke kompetisi Eropa masih sengit hingga akhir, Liverpool sudah mengunci gelar juara liga Inggris yang ke-19 pada pekan ke-31. Di klasemen akhir, Liverpool unggul selisih 18 poin dari Manchester City di posisi runner-up. Liverpool merupakan tim yang paling sedikit kebobolan (33 gol) dan hanya kalah oleh Manchester City (102 gol) dalam urusan membobol gawang lawan (85 gol). Kedua bek sayap Liverpol, Trent Alexander-Arnold (13 assist) dan Andrew Robertson (12 assist), hanya kalah jumlah assistnya oleh Kevin de Bruyne (20 assist). Namun top skor Liverpool dua musim terakhir, M. Salah (19 gol) dan Sadio Mane (18 gol), kalah produktif dibandingkan Jamie Vardy (Leicester City – 23 gol), Danny Ings (Southampton – 22 gol), Aubameyang (Arsenal – 22 gol), dan Raheem Sterling (Manchester City – 20 gol).

Fantasy Premier League (FPL) adalah sebuah permainan resmi yang diselenggarakan oleh The Football Association, asosiasi sepakbola Inggris, sebagai ajang promosi Liga Primer Inggris. FPL dimainkan dengan cara memilih 15 pemain sepakbola yang bermain di Liga Primer Inggris setiap pekannya dengan aturan tertentu, untuk memaksimalkan poin sesuai dengan kontribusinya pada pertandingan sebenarnya di Liga Primer Inggris. Pada permainan ini, para pemain FPL, yang selanjutnya disebut sebagai manajer FPL, diuji kemampuan analisisnya dalam menentukan pemain-pemain yang diharapkan meraih poin tinggi di setiap pertandingan. Musim ini adalah musim kedua saya bermain FPL. Total poin yang terkumpul sebesar 2136, menempati peringkat 644.200 dari 7.628.968 pemain FPL di seluruh dunia dan peringkat 10.617 di Indonesia. Bisa dikatakan mengalami peningkatan dibandingkan musim lalu dengan 2086 poin dan hanya menempati peringkat 967.881 dari 6.324.237 pemain FPL dunia dan peringkat 22.008 di Indonesia. Tujuh jutaan manajer FPL barangkali tidak semuanya aktif dan tidak sedikit juga yang membuat lebih dari satu akun. Namun game online dengan jutaan pemain tentu dapat dikatakan populer. Apalagi FPL adalah permainan strategi yang dinamikanya sangat ditentukan oleh realitas EPL, hal ini tentu sangat menarik.

Ada berbagai publikasi baik berupa tugas akhir, hasil penelitian, hingga buku yang mengangkat tema tentang FPL. Beberapa hasilnya pun menarik. Bermain FPL ternyata membuat manajer FPL untuk menonton lebih banyak pertandingan EPL. Hal ini tentu menjadi sarana promosi EPL yang sangat efektif. 84% manajer FPL menonton pertandingan EPL lain yang bukan pertandingan tim favoritnya. 47.5% manajer FPL akan membeli pemain dari tim rival jika dinilainya menguntungkan, bahkan 41.4% manajer FPL lebih menginginkan tim fantasinya menang dibandingkan tim favoritnya. Penghianatkah? Ternyata hasil riset menyebutkan bahwa loyalitas pada tim favorit dengan loyalitas terhadap tim fantasi adalah dua hal yang berbeda. Karenanya tidak ada penurunan loyalitas fans secara nyata seperti menurunnya penjualan tiket atau merchandise dikarenakan FPL.

Pihak penyelenggara resmi FPL menyediakan hadiah utama hingga hadiah setiap pekannya. Ada juga yang menjadikan FPL sebagai sarana taruhan. Namun penelitian menyebutkan bahwa motivasi utama untuk bermain FPL adalah bragging rights. Gengsi dan pamer. Membuktikan diri lebih bisa menganalisis pemain sepakbola, lebih memahami sepakbola, lebih beruntung, dan sebagainya. Rata-rata manajer FPL menghabiskan waktu 6.9 jam per pekan untuk keperluan FPL, dimana 96.6% waktu tersebut dihabiskan ketika jam kantor/ sekolah. Namun bukan berarti FPL menurunkan produktivitas kerja karyawan. 49% manajer FPL mengatakan bahwa FPL membantu mengeratkan hubungan dengan rekan kantor atau teman sekolah. Bahkan 62% manajer FPL mengatakan bahwa kompetisi di FPL mampu meningkatkan moral mereka.

(bersambung)

Corona, Emang Gue Pikirin?!

“My head says, “Who’s cares?” But then my heart whispers, You do, stupid!”

Hebat sekali virus corona ini, setiap bulan selalu saja mencatatkan rekor baru. Tiga bulan lalu, per 9 April 2020, kasus harian corona menembus angka 300 untuk pertama kalinya, tepatnya 337 kasus baru. Padahal sebelumnya sejak awal munculnya virus corona di Indonesia ini, belum pernah sekalipun kasus harian corona menembus 250 kasus baru. Masyarakat pun menyikapinya dengan ketar-ketir. Sudah beberapa pekan sekolah diliburkan dan banyak instansi yang menerapkan bekerja dari rumah (work from home), namun kasus positif corona terus bertambah. Pemberian bantuan sosial berupa paket sembako mulai dilakukan untuk meringankan beban masyarakat. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan dan terlepas dari beberapa kasus pelanggaran, masyarakat relatif mematuhi protokol PSBB. Semua pihak bekerja sama berharap pandemi Covid-19 segera berakhir.

Dan sebulan pun berlalu. Dua bulan lalu, per 9 Mei 2020 rekor baru tercipta. Kali ini untuk pertama kalinya kasus harian corona menembus angka 500, tepatnya 533 kasus baru. Namun penyikapannya tidak sedramatis sebulan sebelumnya. Masyarakat sudah mulai bosan di rumah. Ada juga sebagian masyarakat yang lebih takut mati kelaparan dibanding meninggal dunia akibat corona. Kurva Covid-19 di berbagai negara sudah mulai menurun, bahkan beberapa negara sudah berhasil lepas dari pandemi Covid-19. Lockdown sudah terbukti berhasil di beberapa negara. Namun tidak demikian dengan Indonesia, kurvanya masih terus naik. Jumlah kasus menembus 5 digit dan korban jiwa menembus 4 digit. Namun pemerintah dan masyarakat menanggapinya santai. Beberapa ruang publik semakin ramai. Salah seorang pejabat negara pun mengatakan kondisi Indonesia masih aman, bahkan penanganan Covid-19 dianggapnya masih lebih baik dibandingkan beberapa negara dengan kasus positif corona yang jauh lebih besar.

Lantas sebulan pun berlalu. Bulan lalu, per 9 Juni 2020 virus corona kembali menorehkan rekor. Kasus harian corona akhirnya menembus 4 digit untuk pertama kalinya, tepatnya 1.043 kasus baru. Hanya beberapa hari setelah diterapkan istilah “new normal”. Kekhawatiran berbagai pihak yang mempertanyakan kelayakan “new normal” menguap begitu saja. Sebab sebagian besar masyarakat sudah tidak lagi menahan diri, pemerintah pun membiarkan masyarakat untuk berdamai dengan virus corona. Beraktivitas biasa dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Akhirnya, ketika berbagai negara telah berhasil menanggulangi penyebaran virus corona, ketika liga-liga sepakbola terbaik di dunia sudah kembali bergulir, penyebaran virus corona di Indonesia semakin menjadi-jadi. Sejak itu kasus harian corona tidak pernah kurang dari 850 kasus baru, korban jiwa harian tidak pernah kurang dari 30 orang. Pun demikian, banyak masyarakat menikmati kebebasan “new normal” tanpa ada kekhawatiran.

Akhirnya, per 9 Juli 2020 kemarin rekor baru terukir. Tidak tanggung-tanggung, kasus harian corona mencapai 2.657 kasus baru, meningkat 143.4% dibandingkan sehari sebelumnya yang sempat menjadi rekor tertinggi juga (1.853 kasus baru). Lonjakan 254.7% kasus harian corona dalam kurun waktu sebulan ini cukup mengerikan, namun ternyata tanggapan publik semakin biasa dan memaklumi. Masyarakat sudah maklum jika kasus positif Covid-19 terus bertambah. Bagaimana tidak, keseharian sudah berjalan normal. Tempat umum kembali ramai, jalanan mulai kembali macet. Yang membedakan hanya saat ini banyak orang yang menggunakan masker. Dan semakin banyak yang hobi bersepeda. Pemerintah pun biasa saja, seolah menutup mata. Tak ada rapat darurat dan sebagainya. Yang ada malah seorang Menteri mempromosikan kalung antivirus corona.

Artinya kehebatan virus corona dalam mencetak rekor semakin tidak berarti apa-apa. Tidak ada yang peduli. Jika dulu masyarakat sempat begitu berhati-hati, aktivitas #dirumahaja dijalani, kini tidak lagi. Padahal deret angka 337 – 533 – 1.043 – 2.657 bukanlah deret linier, melainkan eksponensial. Padahal puluhan korban jiwa setiap harinya sejak dua bulan lalu adalah manusia, bukan helai daun. Bukan berarti menjalani kehidupan dengan penuh kecemasan adalah lebih baik, namun ketidakpedulian terhadap kondisi diri, keluarga, dan lingkungan menjadi virus baru yang harus diwaspadai. Bahkan harus diberantas karena mematikan hati nurani.

Sempat ada pikiran liar, barangkali jika Presiden beserta beberapa ajudannya positif Covid-19 seperti terjadi di Brazil, penanganan Covid-19 di Indonesia bisa lebih serius. Bukan mendo’akan keburukan, namun gregetan saja dengan respon dan kebijakan pemerintah yang tidak memperlihatkan kesungguhan dalam menghadapi pandemi ini. Belum lagi banyaknya pernyataan kontroversial dari para pejabat di negara ini. Namun bisa jadi ga ngaruh juga sebagaimana Presiden Brazil merasa baik-baik saja dan cukup mengonsumsi obat malaria. Sudah empat bulan lalu beberapa pejabat Brazil dinyatakan positif corona, toh penanganan Covid-19 masih main-main. Status runner-up dengan lebih dari 1,8 juta kasus corona dan lebih dari 70 ribu korban jiwa akibat corona di Brazil juga tidak berarti apa-apa. Apalagi Indonesia yang jumlah kasus positif corona dan korban jiwanya hanya sepersekiannya. Belum lagi pandemi Covid-19 di Indonesia rentan dijadikan proyek. Atau bahkan dipolitisasi. Jadi ‘teguran keras’ semacam itupun bisa jadi tidak mempan di Indonesia yang dalam beberapa hal 11-12 dengan Brazil.

Atau barangkali segelintir masyarakat negara +62 yang selama ini meremehkan virus corona baru bisa insaf jika ada keluarga, kerabat, atau tetangga dekatnya yang positif terpapar Covid-19. Atau mungkin tidak juga, malah jumawa dengan imunitas tubuhnya yang sehat-sehat saja. Pun bisa jadi dirinya termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menjadi carrier virus corona bagi sekitarnya. Orang-orang semacam ini bahkan ketika dinyatakan positif Covid-19 pun kemungkinan bukannya introspeksi malahan menyalahkan pihak lain atas segala kelalaiannya. Baru tahu rasa nanti ketika ketidakpeduliannya selama ini akan kembali kepada dirinya. Saat keluarganya, kerabatnya, tetangganya dan orang-orang yang mengenalnya membiarkannya, tidak peduli terhadapnya, hingga meninggalkannya.

Semoga titik balik kepedulian itu segera tercipta, sehingga kita semua bisa menjalani new normal yang sebenarnya. Bukan kondisi kritis yang dicitrakan baik-baik saja. Semoga bulan depan, per 9 Agustus 2020, kurva penyebaran Covid-19 sudah turun dan melandai, bukan kembali berlipat mencetak rekor baru di atas 4.000 kasus baru misalnya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan serangkaian rekor yang ditorehkan virus corona. Itu hanya menunjukkan kebodohan dan kekalahan semata. Barangkali memang ada pihak tertentu yang diuntungkan dengan pandemi Covid-19 ini, tetapi itu bukan kita. Karenanya sudah sewajarnya setiap kita meningkatkan kedisiplinan dan kepedulian dalam menjaga diri kita, keluarga kita, dan lingkungan sekitar kita untuk memenangkan pertarungan dengan virus corona. Bukan bersikap lemah dan lalai dengan dalih berdamai. Karena kemenangan hanya dapat dicapai dengan kesungguhan. Stay healthy and keep caring!

“Ketika saya berhenti peduli, saat itulah kamu seharusnya mulai khawatir”

Niat Baik, Prasangka, dan Komunikasi

Kadangkala kita sendiri yang merusak jalan cerita. Yang sudah berjalan baik, tidak ada masalah, kita rusak karena tidak sabar, prasangka, terlalu sensitif dan sebagainya.” (Tere Liye)

Neng Salma bingung, Kang Dede suaminya menyampaikan bahwa tahun ini mereka tidak bisa memberikan santunan anak yatim dikarenakan pandemi Covid-19. Sementara Neng Salma sudah terlanjur menjanjikan kepada pihak panti asuhan bahwa tahun ini santunan tetap diberikan walaupun harus memperhatikan prosedur kesehatan. Dan tidak seperti biasanya, suasana hangat yang menyertai rumah tangga Kang Dede tiba-tiba menjadi dingin.

Akang, pokoknya santunan anak yatim harus tetap jadi! Eneng kan udah bilang ke Kang Mus yang dampingi anak-anak…”, ujar Neng Salma. “Bukannya Akang ga mau, tapi kan kondisi emang lagi begini. Lagian salah sendiri Eneng udah bilang duluan. Kang Mus juga pasti ngertiin kok…”, timpal Kang Dede. “Lho, bukannya pas puasa kemarin Akang dapat proyek besar, emangnya uangnya udah habis?”, tanya Neng Salma. “Neng, kebutuhan sekarang lagi pada naik. Banyak masyarakat yang butuh dibantu…”, jawab Kang Dede. “Ntuh Mpok Dona yang biasanya kasih sedekah, kemarin datang malah minta dibantu karena bisnis travelnya lagi ngap-ngapan gegara corona… Karyawan Akang juga harus dites Covid dan disiapkan APD sesuai peraturan, dan itu butuh dana…”, lanjut Kang Dede.

Dengan muka ditekuk, Neng Salma menimpali, “Kalo Akang ga mau bantu kasih santunan, biar Eneng cari sendiri deh uangnya… Lagian banyak orang kok yang mau bantu… Ngerti kalo sedekah tuh membuka pintu rejeki…”. “Dibilang bukannya Akang ga mau tapi emang uangnya ga ada… Ya udah kalo mo cari uang sendiri silakan…”, balas Kang Dede seraya menggerutu. “Ya udah, Eneng cari dana sendiri, ga usah bawa-bawa nama Akang!”, sambut Neng Salma. “Lho, gimana ga bawa-bawa Akang? Orang juga taunya Eneng istri Akang. Lagian rekening buat santuan kan selama ini pake nama Akang…”, Kang Dede menanggapi. “Ya udah, Eneng tinggal bikin rekening sendiri…”, serobot Neng Salma. “Terserah kamu aja!”, tegas Kang Dede seraya pergi tak ingin melanjutkan perdebatan. “Lho kok terserah?! Dasar nggak bertanggung jawab!!”, balas Neng Salma tak kalah sengit. Suasanapun menjadi hening…

* * *

Dasar istri tidak pengertian… Kondisi ekonomi kayak gini kok masih maksa kasih santunan… Buat makan aja susah… Mana segala kasih janji ga tanya-tanya dulu… Selama ini uangnya emang darimana, ga pernah pusing nyari duit sih… Biarin aja, emangnya gampang cari duit… Dibilangin cuma ngelawan, apa perlu cari yang lain aja ya…”, batin Kang Dede.

Dasar suami ga bertanggung jawab… Mau dibantuin jaga reputasi malah marah-marah… Emangnya Eneng ga tau uang proyeknya dipake buat apa… Lagian sok kaya utang dimana-mana… Makanya harus banyak sedekah biar rejekinya berkah… Liat aja, banyak kok yang mau bantuin. Dimana ada kemauan pasti ada jalan… Hmm, atau jangan-jangan Akang udah ga sayang Eneng ya…”, batin Neng Salma.

* * *

Sementara itu di dunia paralel…

Akang minta maaf ya Neng, sepertinya tahun ini kita ga bisa kasih santuan ke binaannya Kang Mus kayak tahun-tahun sebelumnya…”, ujar Kang Dede kepada istrinya selepas makan malam. “Kenapa Kang?”, tanya Neng Salma. “Anggarannya ga cukup. Pengeluarannya lagi banyak karena Covid dan ada beberapa prioritas lain”, jawab Kang Dede. “Oh gitu, semoga Allah memberikan kita rezeki yang berkah. Kalo Eneng bantu cari donatur gimana, Kang?”, tanya Neng Salma. “Boleh aja. Tapi ga malah ngerepotin Eneng?”, Kang Dede bertanya balik. “InsyaAllah nggak, Kang. Kalo niatnya membantu orang, pasti Allah membantu kita. Orang-orang juga pasti bantu. Nanti seberapa terkumpulnya aja disalurkan, Kang Mus pasti paham kondisinya lagi begini. Kasihan juga anak-anak kalo ga dikasih santunan, mereka juga pasti membutuhkan…”, jelas Neng Salma. “Iya, alhamdulillah, Akang senang punya istri yang pengertian kayak Eneng. Akang paling cuma bisa bantu untuk transport dan beberapa bingkisan…”, jawab Kang Dede. “Iya Akang, terima kasih udah bersedia bantu. Sekalian izin pake nomor rekening Akang ya buat penghimpunan donasi. Semoga rezeki Akang semakin lancar…”, ujar Eneng. “Terima kasih, Eneng sayang…”, balas Kang Dede seraya memeluk istrinya.

Sementara itu di tempat lain, seseorang berjubah hitam tampak menggerutu. “Haduh, itu kok rumah tangga Kang Dede masih adem ayem aja… Padahal saya udah ngomporin Neng Salma dengan informasi yang berbeda dengan yang saya sampaikan ke Kang Dede… Kalo mereka sampai cekcok kan saya bisa ambil kesempatan… Harus pake strategi lain nih…”, gumam orang itu.

Komunikasi adalah kunci untuk membuka hubungan (apapun). Lantas kepercayaan adalah kunci penggenapnya agar awet dan langgeng…” (Tere Liye)