Akhirnya, Shaf Rapat Kembali

“Luruskanlah shaf kalian. Sejajarkanlah pundak-pundak kalian. Tutuplah celah. Janganlah kalian membiarkan ada celah untuk syaitan. Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah akan menyambung hubungan dengannya dan barangsiapa memutus shaf maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya.” (HR. Abu Dawud)

Ada yang berbeda dari Jum’atan di Masjid Perumahan Muslim The Orchid Green Park siang ini. Imam masjid sudah memerintahkan jama’ah Jum’at untuk merapatkan pundak, dilanjutkan dengan rapatnya kaki. Hal ini lumrah di masa sebelum pandemi Covid-19. Namun sejak virus corona mewabah sekitar satu setengah tahun lalu, shaf-shaf jama’ah direnggangkan untuk menjaga protokol kesehatan. Bahkan kehadiran dalam shalat berjama’ah sempat dibatasi kala pandemi sempat mencapai puncaknya, shalat Jum’at pun sempat tidak diselenggarakan.

Keputusan untuk merenggangkan shaf tentunya bukan keputusan sepihak, ada fatwa MUI nomor 14 tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19 yang mendasarinya. Ditambah dengan fatwa MUI nomor 30 tahun 2020 tentang penyelenggaraan shalat Jum’at dan jama’ah untuk mencegah penularan wabah Covid-19. Mengikuti fatwa MUI yang dikeluarkan di masa awal pandemi tersebut tentu menjadi ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan, sebab MUI pastinya sudah mengkajinya secara mendalam. Pun demikian keputusan untuk kembali merapatkan shaf. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis pada 29 September lalu telah mempersilakan umat Muslim yang berada di wilayah PPKM level 1 atau zona hijau untuk merapatkan kembali shaf saat melaksanakan sholat berjamaah di masjid dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Kota Depok sejatinya masih masuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3, namun pembolehan kembali untuk merapatkan shaf ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang merindukan suasana normal tanpa kekhawatiran berlebihan mengenai pandemi Covid-19. Beberapa masjid lain sudah lebih dulu merapatkan shaf semenjak kasus Covid-19 mulai menurun dan aktivitas masyarakat berangsur berjalan seperti sediakala. Bahkan ada masjid-masjid yang sejak awal pandemi tidak merenggangkan shafnya. Masjid-masjid ini umumnya lebih mengutamakan keutamaan akan rapatnya shaf shalat berjama’ah dibandingkan kekhawatiran penularan virus corona. Apalagi masjid dianggap sebagai tempat yang terjaga kesucian dan kebersihannya. Jika pasar saja dibuka dan masyarakat ramai berbelanja, mengapa masjid harus tutup dan merenggangkan shaf ketika shalat?

Memang tidak sedikit hadits yang menyampaikan tentang keutamaan meluruskan shaf. Di antaranya hadits dari Ibnu Mas’ud r.a yang berkata, “Dahulu Rasulullah SAW memegang pundak-pundak kami sebelum shalat, dan beliau bersabda: ‘Luruskan (shaf) dan jangan bengkok, sehingga hati-hati kalian nantinya akan bengkok (berselisih) pula’” (HR. Muslim). Atau hadits muttafaqun ‘alaih yang masyhur, “Luruskanlah shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan sholat”. Adapun dalil merapatkan shaf umumnya juga terkait dengan dalil meluruskan shaf tersebut, sehingga jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjama’ah adalah sunnah.

Namun pandemi adalah kondisi darurat yang membuat aktivitas tidak dapat berjalan normal. Sebagai masyarakat awam ada baiknya mengikuti fatwa dari lembaga yang berkompeten dan berwenang, tidak egois dengan ijtihadnya sendiri. Bagaimanapun, pandemi ini banyak mengajarkan tentang kesabaran dan lapang dada. Ulama Saudi yang biasanya ‘keras’ sekalipun pada akhirnya mengalah untuk merenggangkan shaf di Masjidil Haram ketika pandemi tengah benar-benar mewabah. Beribadah sesuai dengan keyakinan memang merupakan hak individu, namun tidak perlu merasa paling benar dan sesuai sunnah hanya karena ‘berani’ merapatkan shaf di saat yang lain merenggangkan shaf. Semoga saja rapatnya kembali shaf shalat akan berdampak positif pada kuatnya kebersamaan dan toleransi terhadap perbedaan di antara umat Islam.

Bagaimanapun, pembolehan untuk kembali merapatkan shaf ini membawa optimisme baru. Bahwa kondisi kenormalan baru akan segera terbentuk. Vaksinasi semakin marak, persentase penduduk yang sudah divaksin semakin tinggi. Jumlah kasus harian ataupun kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia sudah jauh menurun dibandingkan 2-3 bulan lalu. Bahkan tingkat kesembuhan (recovery rate) saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan kasus baru yang muncul, kurva Covid pun kian melandai. Optimisme ini semoga tidak membuat lengah karena varian Covid baru dan gelombang Covid baru bisa muncul kapan saja. Namun semoga saja penyikapan positif ini menjadi pertanda baik bahwa berangsur dunia sudah beradaptasi dengan pandemi Covid. Sehingga tidak ada lagi kendala dan berbagai keterbatasan dalam beribadah dan beraktivitas.

Nu’man bin Basyir r.a. berkata, “Dulu Rasulullah SAW meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah, sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu berdiri sampai beliau hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Beliau bersabda, ‘Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih’” (HR. Muslim)

Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja. Indahnya saat itu, buatku melambung, di sisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu. Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu. Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu. Patuhi perintahmu, jauhkan godaan yang mungkin ku lakukan dalam waktuku beranjak dewasa. Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak…
(‘Yang Terbaik Bagimu’, ADA Band feat Gita Gutawa)

Alkisah, hiduplah seorang ayah bersama anak laki-laki semata wayangnya. Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu, dan semenjak anaknya kuliah di kota sebelah, ia kerap merasa kesepian. Ayah dan anak laki-lakinya ini sangat menyukai otomotif dan kerap menghadiri pameran otomotif yang bisa ditempuh oleh mobil tua ayahnya. Suatu saat di masa liburan kuliah, mereka datang ke sebuah pameran otomotif yang cukup besar. Sambil bergurau, sang ayah menanyakan mobil seperti apa yang disukai sang anak, agar bisa sering pulang menemui ayahnya di kampung. Sang anak pun menjawab dengan antusias bahwa mobil city car keluaran terbaru menjadi favoritnya. Harganya tidak terlampau mahal, namun desainnya cukup elegan. Sang ayah hanya menanggapinya dengan tersenyum.

Waktupun cepat berlalu, sang anak lulus kuliah dengan hasil memuaskan dan langsung mendapat tawaran kerja di kota. Ketika prosesi wisuda, sang ayah tak bisa hadir karena sedang sakit, sementara mobil tuanya pun sudah dijual. Sang anak tampak sangat bersedih, merasa ditinggalkan, bahkan di momen spesial pun harus diikutinya sendiri. Namun rupanya sang ayah masih sempat mengirimkan paket hadiah wisuda ke alamat tempat tinggal anaknya di kota. Sepulang wisuda, dengan bersemangat, sang anak membuka paket hadiahnya, seraya berharap sang ayah memberi kejutan besar. Setelah dibuka, hadiahnya ternyata sebuah kotak kayu yang berukir indah. Sang anak membukanya, dengan harapan ada hadiah berupa kunci mobil di dalamnya. Namun yang ada di dalamnya ternyata ‘hanya’ Al Qur’an yang terlihat bagus sebagai hiasan. Dengan kecewa, ia pun menutup kotak tersebut dan menaruhnya di sudut lemari di kamarnya. Tak lupa ia menelpon ayahnya dan berterima kasih ‘setengah hati’ kepada ayahnya.

Waktupun kian cepat berlalu, sang anak sudah sukses berkarir. Ia sudah mampu membeli mobil yang diidam-idamkannya. Namun kesibukannya seringkali membuatnya tidak sempat pulang ke kampung menjumpai ayahnya. Hingga suatu saat, ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan jatuh sakit dan kemudian meninggal. Setelah prosesi pemakaman dan menyelesaikan berbagai keperluan di kampung, sang anak pun kembali sendirian ke kota dengan penuh kesedihan. Tak terasa air mata mengalir pelan di pipinya. Memasuki rumahnya yang baru, ia mendapati kotak kayu hadiah ayahnya ketika wisuda yang ditaruhnya di pojok lemari. Ia mengusap kotak kayu berukir indah itu seraya membayangkan tangan kasar dan kokoh milik ayahnya. Membuka kotak kayu tersebut dan mengambil Al Qur’an di dalamnya. Karena tak pernah membukanya, ia baru menyadari ada semacam pembatas halaman di Al Qur’an tersebut. Ia buka Al Qur’an di pembatas halaman yang ternyata menunjukkan Surah Luqman, dan ia sangat terkejut. Ternyata kertas yang menjadi pembatas halamannya adalah selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil city car yang diidam-idamkannya, dan tertanggal persis dengan waktu wisudanya dulu. Air matanya pun tumpah.

Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah. Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan mereka meyakini adanya akhirat. Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung…” (QS. Luqman: 1-5). Terbata ia mulai membaca Al Quran yang terasa sudah sangat lama tak disentuhnya. Teringat dulu ayahnya mengajarinya dengan keras agar ia mampu membaca Al Qur’an dengan baik.

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji”. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 12-14). Isaknya semakin keras. Merasa belum banyak berbuat baik kepada ayahnya selagi masih ada kesempatan. Dan kini yang tersisa hanya penyesalan.

Sang anak baru tersadar mengapa ayahnya menjual mobil tuanya. Pantas saja seakan ada ganjalan hati yang dipendam ayahnya hingga akhir hayatnya. Dan sejak wisuda, intensitas interaksi dirinya dengan ayahnya memang sangat berkurang. Begitulah cinta seorang ayah yang kadang kala tidak dimengerti oleh anaknya. Seorang ayah mungkin hampir tidak pernah mengumbar ungkapan cinta secara verbal, namun rasa cintanya tergambar jelas dari kerja keras dan pengorbanannya. Mencoba memberi yang terbaik bagi anaknya, dan menyisakan untuk dirinya sendiri. Tak pernah terlihat mengeluh dan menangis. Bahkan ada cinta dalam amarahnya. Sejenak, berbagai kenangan masa lalunya dengan ayahnya terlintas, membawa kesyahduan yang tak terlukiskan. Sebuah memori indah yang takkan terulang kembali. Hanya ungkapan maaf dan terima kasih yang terlambat untuk disampaikan. Dan untaian do’a yang bisa dipanjatkan, semoga Allah SWT menerima segala amal baiknya, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

…Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya. Ku terus berjanji takkan khianati pintanya. Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu. Kan ku buktikan, ku mampu penuhi semua maumu. Andaikan detik itu kan bergulir kembali. Ku rindukan suasana basuh jiwaku, membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu. ‘Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
(‘Yang Terbaik Bagimu’, ADA Band feat Gita Gutawa)

Coretan Dinding Zaman Now

Coretan dinding membuat resah, resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tapi lebih resah pembaca coretannya, sebab coretan dinding adalah pemberontakan kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah, di tiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam, matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas, yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah, kucing hitam dan penindas sama-sama resah

(‘Coretan Dinding’, Iwan Fals)

Sudah sejak lama, coretan dinding menjadi sarana ekspresi. Sejak dini bahkan sudah lumrah, anak kecil mengungkapkan ekspresinya lewat coret-coretan di dinding, sekaligus melatih perkembangan motorik halusnya. Atau jika kita lihat perjalanan sejarah, coretan dinding ini sudah ada sejak zaman kuno, seperti di masa Mesir kuno, Yunani kuno, ataupun Romawi kuno. Toilet umum seringkali menjadi tempat paling favorit bagi coretan-coretan dinding. Motifnya mulai dari iseng, menyalurkan kreativitas, hingga sarana promosi dan curhat serius. Coretan-coretan seperti ini juga banyak kita temui di belakang truk yang kerapkali menjadi semacam ‘hiburan’ dalam perjalanan.

Namun coretan dinding tidaklah selamanya menghibur, apalagi jika kontennya berisi kritik sosial. Berbeda dengan pujian dan sanjungan yang kerap melenakan, yang namanya kritik, biasanya menyinggung dan mengusik. Apalagi dilakukan di ruang publik. Dan coretan dinding ini hanyalah potret masalah, bukan sejenis makalah ilmiah yang bisa memberikan rekomendasi untuk pemecahan masalah. Di saat ada yang menganggapnya sebagai kebebasan berekspresi, sebagian yang lain memandangnya sebagai kritik tanpa solusi, bahkan ada yang melihatnya sebagai vandalisme perusak reputasi.

Di berbagai negara, menandai atau mengecat properti tanpa izin dianggap oleh pemilik properti dan otoritas sipil sebagai perusakan dan vandalisme, yang merupakan kejahatan yang dapat dihukum. Memang ada juga coretan-coretan dinding yang berisi kode untuk menandai ‘wilayah kekuasaan’ misalnya, atau bahkan kode untuk mencuri dan melakukan perbuatan kriminal. Namun coretan dinding yang berisi kritik sosial ini ada di dimensi yang berbeda dengan vandalisme. Motifnya berbeda. Coretan dinding ini di satu sisi memperlihatkan aksi provokasi, di sisi lain justru memperlihatkan kondisi ketidakberdayaan.

Misalnya mural ‘TUHAN AKU LAPAR!!’ atau ‘DIPAKSA SEHAT DI NEGARA YANG SAKIT’ yang sempat viral dan sudah dihapus aparat, alih-alih terlihat sebagai coretan liar yang provokatif, justru memperlihatkan ekspresi ketidakberdayaan. Memang kurang tepat juga membandingkan coretan dinding zaman now dengan di era kemerdekaan dulu, situasi dan sasaran kritik sosialnya berbeda. Namun tetap menjadi ironi ketika ekspresi ketidakberdayaan lewat seni coretan dinding, disikapi dengan represif dan koersif. Mengebiri kemerdekaan berekspresi jelas menjadi kado yang tidak diharapkan di hari kemerdekaan Indonesia ke-76.

Kritik perlu disikapi secara kontemplatif. Bisa jadi penilaian orang lain ada benarnya, walaupun itu sesuatu tidak kita sukai. Boleh jadi kritiklah yang akan menyelamatkan di saat pujian justru menghancurkan. Tentu kita bukan mentolerir vandalisme dengan dalih kebebasan berekspresi, namun kritik sosial melalui mural atau grafiti bukanlah sesuatu yang harus disikapi secara represif dan berlebihan. Apalagi yang dikritik pernah berjanji tidak akan marah jika dikritik sekeras apapun. Pun nyatanya janji memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Sebagaimana coretan dinding anak kecil yang konstruktif bagi tumbuh kembang anak, coretan dinding berisi kritik sosial semestinya mampu disikapi dengan lebih bijak. Jeritan suara hati rakyat barangkali memang tidak menemukan kanal penyaluran selain ‘curhat’ di dinding. Seperti WC sekolah pun tidak jarang memuat curhatan para siswa. Kondisi ini juga akan sejalan dengan hukum aksi reaksi, ketika kebebasan berekspresi dibungkam, akan semakin banyak ekspresi yang akan muncul. Sikap antikritik hanya akan menyuburkan tumbuhnya kritik-kritik yang lain. Dinding mungkin tidak bisa berbicara, namun coretan dinding yang sarat makna kan terus bersuara. Dan menghapusnya hanya akan membuat semakin banyak ‘dinding’ yang bercerita.

Jika rakyat pergi ketika penguasa pidato,
kita harus hati-hati barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik ketika membicarakan masalahnya sendiri,
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan,
dituduh subversif dan mengganggu keamanan,
maka hanya ada satu kata: LAWAN!
(‘Peringatan’, Wiji Thukul)

Wahai Para Istri, Bersyukurlah!

Allah tidak akan melihat kepada perempuan yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya.” (HR. An Nasa’i dan Al Baihaqi)

Dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah karya Al Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, ada sebuah hadits panjang riwayat Al Bukhari yang berkisah tentang pernikahan Nabi Ismail a.s. dengan seorang wanita yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, Hajar, ibu Nabi Ismail a.s. meninggal dunia. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim a.s. datang untuk mengetahui kabar anaknya, namun dia tidak menemukan Nabi Ismail a.s.. Beliaupun bertanya kepada istri Nabi Ismail yang kemudian menjelaskan bahwa suaminya sedang pergi mencari nafkah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Setelah mendengarkan keluhan tentang kehidupan yang dijalani anak dan menantunya, Nabi Ibrahim a.s. berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengganti palang pintu rumahnya”. Kemudian beliau pun pergi.

Ketika Nabi Ismail a.s. datang, dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan, dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Nabi Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Nabi Ismail a.s. berkata, “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari penduduk yang tinggal di sekitar situ. Nabi Ibrahim a.s. yang pergi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah SWT datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak menemukan Nabi Ismail a.s.. Beliaupun bertanya kepada istri Nabi Ismail yang kemudian menjelaskan bahwa suaminya sedang pergi mencari nafkah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab seraya memuji Allah SWT, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup”. Nabi Ibrahim a.s. bertanya, “Apa makanan kalian?”. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Daging”. Nabi Ibrahim a.s. bertanya lagi, “Apa minuman kalian?”. Istri Nabi Ismail a.s. menjawab, “Air”. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”. Rasulullah SAW bersabda, “Saat itu belum ada biji-bijian di Mekkah dan seandainya ada tentu Nabi Ibrahim sudah mendoakannya. Dan dari doa Nabi Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorang pun penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air”.

Nabi Ibrahim a.s. selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya”. Kemudian beliau pun pergi.  Ketika Nabi Ismail a.s. datang, dia berkata, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya, tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita (seraya memuji Ibrahim). Dia bertanya kepadaku tentangmu maka aku terangkan, lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik”. Nabi Ismail a.s. bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu”. Nabi Ismail a.s. berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu”.

Kedua istri Nabi Ismail a.s. menjawab jujur pertanyaan Nabi Ibrahim a.s., namun dalam perspektif kesyukuran yang berbeda. Dan hasilnya pun bertolak belakang. Perkara kesyukuran ini ternyata sangatlah mendasar. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan sholat gerhana matahari dengan sangat panjang, beliau melihat surga dan neraka. Saat melihat neraka, beliau bersabda, “Tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Aku melihat kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita”. Sahabat bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka”. Kemudian para sahabat bertanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang, kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai), niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu’” (HR Bukhari).

Lagi-lagi perkara kesyukuran yang menyebabkan banyak wanita masuk ke neraka. Bukan berarti laki-laki atau suami sudah pasti selalu bersyukur. Namun keinginan untuk memperoleh lebih, membandingkan dengan yang lain, hingga pertimbangan berdasarkan perspektif orang lain lebih banyak dilakukan oleh para wanita. Karenanya, jika ketaatan adalah salah satu kunci surga bagi para istri, maka kesyukuran adalah tameng yang akan menyelamatkan para istri dari neraka. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni neraka”. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita”. Seorang sahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar” (HR. Ahmad).

Ketika seorang istri merasa sulit untuk berterima kasih, kerap lalai dalam beribadah, sering merasa iri, mudah mengeluh, selalu menuntut, dan menyebarkan aib suami. Bisa jadi kekufuran dan kefasikan itu sudah mulai jelas memperlihatkan tandanya. Kesyukuran tidak terbentuk. Padahal betapa banyak hal yang bisa disyukuri, tidak terhitung jumlahnya. Pekerjaan rumah menumpuk pertanda ada ladang pahala. Rumah riuh berantakan pertanda ada keaktifan. Semua gejala masalah akan terlihat berbeda ketika dipandang dari perspektif kesyukuran. Bukan menunggu nikmat datang baru bersyukur, tetapi senantiasa bersyukur sehingga nikmat kian bertambah. Wahai para istri, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sesuai) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7)

Antara ‘Ad dan Tsamud (2/2)

Kaum ‘Ad dan Tsamud diberikan tenggat waktu sebelum diazab dan mereka sama-sama tidak mau bertaubat. Ketika tanda azab berupa kekeringan menimpa ladang dan kebun kaum ‘Ad, Nabi Hud a.s. masih berusaha meyakinkan mereka, “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Kaum ‘Ad berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” (QS. Hud: 52-54). Sementara Nabi Saleh a.s. berkata, “Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat. Mereka membunuh unta itu, maka berkata Saleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 64-65).

Dan akhirnya, kesudahan kaum ‘Ad dan Tsamud pun sama, sama-sama dibinasakan. “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” (QS. Fushshilat: 13). Teknisnya memang tidak persis sama, hal ini justru menunjukkan betapa mudah dan banyaknya cara jika Allah SWT hendak mengazab suatu kaum. Kaum ‘Ad diazab dengan beragam cara. Dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, menjadikan mereka seperti sampah yang dibawa banjir (QS. Al Mu’minun: 41). Kemudian dengan angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan mereka menjadi tak tampak lagi kecuali bekas tempat tinggal mereka (QS. Al Ahqaf: 24-25), atau angin yang membinasakan, yang tidak membiarkan suatu apapun yang dilandanya dan menjadikannya seperti serbuk (QS. Adz Dzariyat: 41-42), atau angin yang sangat bergemuruh dalam beberapa hari (QS. Fushshilat: 16), atau angin kencang yang terus menerus sehingga membuat mereka bergelimpangan bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya (QS. Al Qamar: 19-20). Dikatakan pula sebagai angin topan yang sangat dingin, yang melanda selama tujuh malam delapan hari terus-menerus, dan menjadikan kaum ‘Ad mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk), serta tidak menyisakan seorang pun di antara mereka (QS. Al Haqqah: 6-8).

Kaum Tsamud tak lebih baik, azabnya juga beragam. Dalam tafsir Ibnu Katsir, selama tiga hari masa penangguhan azab, wajah mereka berubah. Menjadi kuning di hari pertama, lalu menjadi merah di hari kedua, kemudian menjadi hitam di hari ketiga. Kemudian kaum Tsamud diazab dengan gempa yang menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka (QS. Al A’raf: 78). Juga disebutkan bahwa azabnya adalah suara yang sangat keras (QS. Al Haqqah: 5), atau suara mengguntur yang menimpa sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya (QS. Hud:67), atau suara keras yang mengguntur di pagi hari (QS. Al Hijr: 83), atau suara keras mengguntur yang menjadikan mereka seperti batang-batang kering yang lapuk (QS. Al Qamar:31). Juga disebutkan mereka diazab dengan sambaran petir (QS. Fushshilat: 17), atau mereka disambar petir sedang mereka melihatnya, mereka tidak mampu bangun juga tidak mendapat pertolongan (QS. Adz Dzariyat: 44-45).

Mentadabburi ayat-ayat tentang azab umat-umat terdahulu semestinya mampu membuat kita merenung. Betapa besarnya kuasa Allah SWT dan betapa mudah bagi-Nya untuk membinasakan suatu kaum. Caranya pun banyak, mulai dari melibatkan makhluk seukuran virus atau bakteri, hingga benda langit berukuran besar. Namun jika di masa lampau, azab begitu terlihat, di masa sekarang kita perlu lebih berhati-hati. Balasan atas kekafiran dan kemaksiatan tidak sesegera itu. Melakukan perbuatan dosa pun terasa semakin ringan. Nyaman dalam kelalaian. Kisah hancurnya umat terdahulu mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur, mewawas diri dan tidak sombong. Tidak ada daya upaya yang bisa dilakukan manusia, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(QS. At Taubah: 70)

Antara ‘Ad dan Tsamud (1/2)

Kaum Tsamud dan `Ad telah mendustakan hari kiamat. Maka adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras. Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin.” (QS. Al Haqqah: 4-6)

Salah satu isi kandungan Al Qur’an adalah kisah-kisah terdahulu (Qashashul Qur’an) yang dapat diambil pelajaran (ibrah) darinya. Ibrah ini tidak melulu bisa diambil dari keteladanan pada Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Namun Al Qur’an kerap mendorong umat Islam untuk memperhatikan kesudahan umat-umat terdahulu yang mendustakan Rasul. Salah dua di antaranya adalah kisah kaum ‘Ad dan kaum Tsamud yang ternyata memiliki banyak kesamaan. Termasuk kesamaan pembelajaran.

Nabi Hud a.s. diutus kepada kaum ‘Ad, sementara Nabi Saleh a.s. diutus kepada kaum Tsamud. Kedua Nabi dan Rasul ini berasal dari Arab, merupakan keturunan Sam, anak Nabi Nuh a.s., dan diutus kepada kaumnya sendiri. Kisah keduanya diceritakan dalam berbagai surah dan ayat Al Qur’an, namun penyebutan keduanya jauh lebih sedikit dibandingkan penyebutan kaum yang didakwahinya. Contohnya dalam surah Al Haqqah di atas, ketika kaum ‘Ad dan Tsamud disebut dua kali, Nabi Hud a.s. ataupun Nabi Saleh a.s. tak ada yang disebutkan. Dalam Al Qur’an, kaum ‘Ad disebutkan sebanyak 24 kali, sementara Nabi Hud a.s. hanya disebutkan 7 kali. Kaum Tsamud disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 26 kali, sementara Nabi Saleh a.s. hanya disebutkan 9 kali. Seakan pelajaran mengenai perilaku hingga kebinasaan dua kaum ini harus lebih mendapat perhatian dibandingkan sepak terjang Nabi yang diutus ke kaum-kaum tersebut.

Menariknya lagi, tempat tinggal kedua kaum ini dijadikan nama Surah dalam Al Qur’an. Kaum ‘Ad tinggal di Al Ahqaf (bukit-bukit pasir), sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al Ahqaf ayat 21, “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Ad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Adapun kaum Tsamud tinggal di Al Hijr (pegunungan batu), sebagaimana Firman-Nya dalam Surah Al Hijr ayat 80, “Dan Sesungguhnya penduduk-penduduk negeri Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul”.

Kaum ‘Ad dan Tsamud menyembah berhala, meneruskan tradisi kemusyrikan. Berhala yang disembah kaum ‘Ad awalnya dibuat untuk menghormati nenek moyang mereka yang selamat dari banjir besar di zaman Nabi Nuh a.s., sementara kaum Tsamud menyembah berhala karena meneruskan tradisi nenek moyang mereka, termasuk kaum ‘Ad. Karenanya Nabi Hud a.s. dan Nabi Saleh a.s. diutus untuk memurnikan tauhid kepada Allah SWT, namun keduanya didustakan. Kaum ‘Ad berkata, “Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika kamu benar!” (QS. Al A’raf:70). Sementara kaum Tsamud berkata, “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (QS. Hud: 62).

Kaum ‘Ad dan Tsamud mendustakan para Rasul, tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan, berlaku sombong bahkan menantang untuk diazab. Nabi Hud a.s. berpesan kepada kaum ‘Ad, “Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab” (QS. Asy Syu’ara: 132-138). Demikian pula halnya dengan kaum Tsamud, bahkan setelah ditunjukkan mukjizat keluarnya unta dari batu besar, mereka tetap ingkar. “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)” (QS. Al A’raf: 76-77).

(bersambung)

Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (2/2)

Barangkali benar ada berbagai kebijakan pemerintah yang lamban ataupun keliru dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Namun hal itu bukan berarti sikap cerdas adalah membangkang terhadap kebijakan pemerintah, misalnya dengan tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Berpikir kritis berbeda dengan naif, apalagi malas berpikir. Barangkali benar bahwa tingkat kesembuhan akibat Covid-19 lebih tinggi daripada tingkat kematiannya. Namun bukan berarti para korban Covid-19 ini tak ada artinya. Satu nyawa saja begitu berharga, apalagi ini sampai puluhan ribu nyawa. Itu pun baru yang terdata. Bahkan jika benar bahwa ada faktor kesengajaan dalam penyebaran virus corona, atau kalaupun memang benar ada kepentingan bisnis di balik pandemi Covid-19, penyikapan seperti yang dilakukan para covidiot tetaplah tidak menyelesaikan masalah apapun.

Karenanya, tidak perlu terjebak pada teori konspirasi yang belum jelas kebenarannya, dan tidak jelas kebermanfaatannya. Tidak perlu juga terlalu pusing dengan berbagai isu kepentingan yang ada di luar kendali kita. Cukup lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan membantu diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita. Disinilah kemanusiaan mengambil peran dalam pandemi ini. Percaya atau tidak dengan adanya virus corona bisa jadi tergantung keyakinan seseorang, tetapi meyakini bahwa setiap diri kita perlu menjaga keselamatan orang lain adalah sisi kemanusiaan. Seseorang memiliki hak untuk tidak percaya dengan berita yang disampaikan media, namun secara manusiawi seseorang perlu menjaga hak orang lain untuk merasa aman dari lisan dan perbuatannya. Setiap kita boleh saja meyakini tentang adanya konspirasi global, namun bukan berarti mematikan rasa empati dan simpati dengan memaksakan keyakinannya pada orang lain, yang bahkan tidak sedikit dari mereka, keluarga mereka, atau rekan-rekan mereka yang telah menjadi korban pandemi ini.

Untungnya, aksi nyata kedermawanan sosial atas nama kemanusiaan terus hadir sejak awal masa pandemi. Mulai dari pembagian masker, penyemprotan disinfektan, paket bantuan isolasi mandiri, hingga pengadaan tabung oksigen dan rumah sakit darurat. Para pejuang kemanusiaan inilah yang menjadi secercah asa di tengah himpitan hidup. Di saat para covidiot hanya berkoar tentang konspirasi tanpa kontribusi, tanpa solusi. Bahkan di saat pemerintah tidak bisa diandalkan dalam melindungi segenap bangsa Indonesia. Inisiatif membantu ini muncul dan menyelesaikan berbagai persoalan akibat pandemi, pun barangkali skalanya terbatas. Pendekatan kemanusiaan inilah yang berperan besar dalam memelihara kehidupan, tidak memilih untuk menyerah dengan keadaan. Pejuang Covid-19 di garda terdepan, mulai dari tenaga kesehatan, relawan, hingga tukang gali kubur, mampu bertahan dan terus berjuang atas nama kemanusiaan. Sebab jika ukurannya adalah materi, sungguh nyawa lebih berharga.

Di hadapan pendekatan kemanusiaan, pendekatan konspiratif sudah tak lagi relevan, tidak simpatik sama sekali. Apalah artinya seseorang yang pandai bercakap tentang konspirasi elit global, sementara tetangganya sendiri tidak ia pedulikan. Tidak percaya adanya Covid, tidak membantu tim Satgas Covid, namun gemar membuat gaduh dengan informasi ‘kacamata kuda’ yang diyakininya. Menghabiskan energinya dengan segudang teori nirfaedah, sementara kebermanfaatannya tidak dirasakan bagi lingkungan sekitarnya. Permasalahan dalam kondisi kritis bukan persoalan apa yang benar, tetapi apa yang dibutuhkan. Karenanya, pendekatan kemanusiaan yang membawa cahaya, lebih tepat untuk diperjuangkan dibandingkan pendekatan bisnis yang oportunis ataupun pendekatan konspiratif yang hanya mengutuk kegelapan.

Dan diakui atau tidak, pandemi ini masih dan akan terus berlangsung hingga batasan takdirnya. Butuh kolaborasi dari banyak elemen sebab krisis tidak akan mampu dihadapi sendirian. Kesampingkan sejenak berbagai pendekatan konspiratif yang bisa jadi ada benarnya, untuk membantu meringankan beban banyak manusia terdampak pandemi yang sudah nyata adanya. Tidak terlalu serakah mengambil peluang dalam kesempitan orang lain. Tidak untuk suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Tetapi atas nama kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Dan kelak saat semua krisis ini berlalu, kita bisa tetap bergandengan tangan sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Setiap penyakit ada obatnya, setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Menjadi ‘obat’ atau ‘racun’, menjadi ‘solusi’ atau ‘masalah’, semuanya tergantung bagaimana peran yang kita ambil.

We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity; more than cleverness, we need kindness and gentleness. Without these qualities, life will be violent and all will be lost.
(Charlie Chaplin)

Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (1/2)

Only two things are infinite, the universe and human stupidity; and I’m not sure about the former (universe)” (Albert Einstein)

Pandemi virus corona memang kejadian luar biasa. Berdasarkan data yang rutin diupdate worldometers, hingga 7 Juli 2021 ini telah ada lebih dari 185 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia, dengan korban jiwa lebih dari 4 juta orang. Indonesia sendiri ada di urutan ke-16 dengan jumlah kasus Covid-19 lebih dari 2,3 juta kasus dan korban jiwa lebih dari 61 ribu orang. Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia berkali-kali mencatatkan rekor terbanyak, dan trennya masih terus meningkat. Jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia hanya kalah oleh Brazil dan India. Jumlah kematian pun sepekan terakhir berkali-kali mencatatkan rekor terbanyak dengan tren yang juga meningkat. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sudah dilakukan di Jawa – Bali. Rumah Sakit mulai kehabisan tempat, tenaga medis bertumbangan, ketersediaan oksigen pun menipis. Indonesia dapat dikatakan tengah menghadapi krisis Covid-19.

Dan setiap kejadian luar biasa sudah biasa ada teori konspirasi yang menyertainya. Teori konspirasi terkait virus corona ini sudah aja sejak kehadirannya mulai ramai disoroti di awal tahun lalu. Kejelasan mengenai asal munculnya virus tersebut sampai saat ini tidak ada penjelasan yang memuaskan dari WHO. Dugaan mengenai kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan, atau dari hewan yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan yang berulang kali dibantah Pemerintah Cina tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Teori konspirasi lainnya yang menuding bahwa virus corona adalah senjata biologis buatan Amerika Serikat juga tidak dapat dibuktikan secara nyata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus corona sudah diketahui keberadaannya puluhan tahun lalu, termasuk bahaya mutasi virusnya seperti dalam wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Namun memang masih banyak yang belum terjawab termasuk pertanyaan bagaimana virus menular dari kelelawar ataupun mengapa virusnya baru ‘meledak’ sekarang.

Beberapa penganut teori konspirasi lain melihat kejadian ini dari pertanyaan sederhana: siapa yang paling diuntungkan dengan pandemi ini? Memang ternyata ada berbagai pihak yang ‘diuntungkan’ dengan adanya Covid-19 ini. Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin, disinfektan, obat dan vitamin, misalnya. Kemudian perusahaan yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker. Kemudian perusahaan berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi. Bahkan perusahaan penyedia games pun diuntungkan. Disinilah dunia bisnis mengambil kesempatan dalam ‘kesempitan’ pandemi. Ketika produk tertentu seketika ramai diborong dan habis di pasaran, tentu ada kepentingan bisnis yang bermain. Ketika ketersediaan masker atau oksigen begitu terbatas, boleh jadi ada yang mengambil peluang bisnis. Dan karena keseimbangan dunia ini, jika ada yang diuntungkan, tentu ada yang dirugikan. Walaupun bisa mengancam siapa saja, nyatanya pandemi ini kian memperlebar gap antara yang miskin dengan yang kaya. Dalam perspektif bisnis yang berorientasi profit, kondisi ini bukanlah salah pihak yang diuntungkan. Mereka yang mengambil peluang untuk meraup keuntungan tidak serta merta menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan yang terjadi.

Lantas, apakah ada hubungannya dengan dunia politik? Pemilihan Kepala Negara misalnya? Boleh jadi. Yang jelas, pemegang kebijakan juga memiliki ruang besar untuk memanfaatkan pandemi ini. Korupsi dan kolusi semakin marak di masa pandemi. Bagaimana tidak, ada kucuran dana yang sangat besar yang bisa diselewengkan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Pandemi ini adalah ujian kepemimpinan. Mereka yang suka meremehkan masalah, plin plan dalam mengambil keputusan, mengambil muka pimpinan, asal bicara tanpa data, mencari aman, berpikir pragmatis, hingga mereka yang mencari kesempatan dalam kesempitan semakin mudah terlihat. Konspirasi dapat diartikan sebagai persengkokolan jahat. Dan ruang persengkokolan semacam ini makin terbuka di masa pandemi.

Persoalannya, sekadar berpikir konspiratif bukan hanya tidak memecahkan masalah, bahkan tidak jarang justru memperkeruh permasalahan. Tidak sedikit mereka yang sekadar ikut-ikutan berpikir konspiratif, justru kebablasan. Istilah tren yang menggambarkan orang-orang ini adalah ‘covidiot’. Ada beberapa indikasi dan levelisasi para covidiot ini. Mulai dari menyangkal eksistensi dari virus corona dan penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut (Covid-19). Ada pula yang menganggapnya ada, namun menyangkal bahwa dampaknya sebesar yang diberitakan media. Ada yang merasa kebal virus sampai mencoba membuktikan kekebalannya dengan tidak mematuhi protokol kesehatan, mulai dari tidak menggunakan masker, sengaja bikin acara kumpul bareng, sampai menyengaja berinteraksi erat dengan penderita Covid-19. Ada juga covidiot yang berlebihan dalam menyikapi pandemi, misalnya dengan memborong tisu, hand sanitizer, ataupun masker.

Parahnya lagi, sebagaimana Covid, covidiot ini juga menular. Opini menyesatkan dan berita hoax juga banyak dan terus diproduksi untuk semakin mendangkalkan paradigma berpikir para covidiot yang kerap sharing tanpa saring informasi yang sejalan dengan pemikirannya. Informasi yang kadang dibungkus dengan bumbu religius dan (pseudo)ilmiah semakin sulit untuk bisa diluruskan, apalagi jika ditambah benih ego dan kesombongan. Berpikir kritis terhadap kondisi di sekitar kita sebenarnya merupakan hal yang lebih baik dibandingkan berpikir naif dan terlalu polos. Hanya saja terlalu berpikir konspiratif justru sama sekali tidak memberi manfaat. Siapa yang paling diuntungkan jika alih-alih terbangun ‘herd immunity’ malah terbentuk ‘herd stupidity’ akibat masyarakat kian abai terhadap protokol kesehatan? Siapa yang paling diuntungkan dengan menuduh tenaga medis hingga pemerintah sebagai kaki tangan elit global? Kasus Covid semakin tinggi, korban semakin banyak, teori konspirasi tak kunjung terbukti. Para covidiot pun juga sama sekali tidak dapat untung.

(bersambung)

Semoga Kalian Syahid Akhirat

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Kabar duka itu kembali tiba. Tadi siang jam 10.40, Om Wagiman meninggal di RSUD Wonosari setelah 2 pekan dirawat akibat Covid. Om Wagiman adalah suami dari adik bungsu ibu saya yang tinggal berdampingan dengan rumah kakek dan nenek saya. Beliau berhenti dari pekerjaannya di Kota Yogyakarta dan memilih buka usaha di kampung seraya memperdalam agama. Istrinya pun berhenti bekerja dari salah satu bank konvensional terbesar di Wonosari untuk lebih fokus ke keluarga. Cepat sekali kabar duka itu tiba sebab baru malam Jum’at pekan lalu (17/6), Mbah Akung (ayahnya Ibu) meninggal dan dicovidkan. Dan baru seminggu sebelumnya, pada 11 Juni 2021, Bude Rani (istri dari kakak sulung Ibu) meninggal di RS. PON.

Bulan ini baru berjalan tiga pekan namun sudah banyak sekali kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Baru 3 hari lalu, Pak Yuli Pujihardi, salah seorang pimpinan Dompet Dhuafa meninggal di RS. Kartika Pulomas setelah terpapar Covid. Di awal bulan ini pada 4 Juni 2021, Mas Jojo, salah seorang tim IT senior di Dompet Dhuafa berpulang ke rahmatullah, juga terjangkit Covid. Belum lagi jika ditambah wafatnya orang tua dari teman-teman, rekan kerja di wilayah, tetangga di perumahan, hingga orang-orang yang banyak dikenal, tentu daftarnya akan semakin banyak lagi. Apalagi jika ditambahkan informasi tentang kenalan saya yang terpapar Covid di bulan ini. Tampaknya gelombang Covid bulan ini memang tidak main-main.

Salah satu hikmah dari kematian adalah pengingatan bagi mereka yang masih hidup untuk lebih siap dalam menghadapi kematian. Mendengar bagaimana testimoni orang-orang atas kebaikan mereka yang telah mendahului kita, membuat kita benar-benar merenung tentang bagaimana akhir hidup kita kelak dan akan dikenang seperti apa. Apalagi mendengar cerita tentang husnul khatimah beberapa rekan, kian membuat takut akan kesudahan su’ul khatimah. Kabar ‘bahagia’nya, orang beriman yang meninggal karena wabah akan memperoleh predikat syahid akhirat, Insya Allah. Ada ganjaran kebaikan yang menyertainya. Syahid dunia adalah seseorang yang berjuang seakan-akan di jalan Allah, akan tetapi niatnya hanya karena ingin dapat nama, ada pamrih, dan bukan karena Allah semata. Sementara mereka yang wafat karena berperang di jalan Allah akan memperoleh predikat syahid dunia akhirat, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta jaminan masuk surga.

Dari Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho’un. Rasulullah SAW lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho’un lalu tetap tinggal disana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid, Ya Rasulullah’’. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang syahid”. Para sahabat bertanya, “Mereka itu siapa ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid.” (HR. Muslim).

Hal ini bukan berarti kita cukup mengharap kematian akibat Covid saja agar dapat predikat syahid akhirat. Apalagi ada prasyarat keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk meraih predikat tersebut. Namun hal ini bisa jadi penguat optimisme dalam do’a-do’a kita. Semoga penyakit yang diderita orang yang mendahului kita dapat menggugurkan dosa-dosanya. Semoga kesabaran dalam menghadapi wabahnya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT. Sementara bagi kita yang masih hidup, cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kematian bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Bahwa ada perjalanan panjang nan kekal setelah kehidupan di dunia fana ini. Bahwa harus ada bekal yang cukup untuk menjalaninya. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma la tahrimna ajrahum wala taftinna ba’dahum waghfirlana wa lahum wali ikhwaninalladzina sabaquna bil iman wala taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu Rabbana innaka ra’ufurrahim (Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, bebaskanlah dan maafkanlah mereka. Ya Allah, janganlah kiranya pahala mereka tidak sampai kepada kami dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggal mereka. Ampunilah kami dan mereka, dan juga kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang)

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh orang, yaitu korban ath-tha’un (wabah) adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud)

Dari Niatlah Semua Berawal

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Semua berawal dari niat. Salah satu hadits masyhur tentang niat adalah hadits pertama dalam Hadits Arbain An Nawawi. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab r.a, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah SWT. Berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia, misalnya karena mengejar wanita. Dalam hadits tersebut amalan yang dicontohkan adalah hijrah. Ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Setiap amal yang dilakukan seorang muslim harus dilandasi niat yang ikhlas agar amal tersebut diterima. Imam Ahmad dan Imam Syafii mengatakan bahwa hadits di atas mencakup sepertiga ilmu. Selain itu, Imam Syafii juga menambahkan bahwa makna hadits tentang niat ini mencakup 70 bab fiqh. Bahkan tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa hadits di atas merupakan sepertiga bagian dari Islam. Karena itulah setiap orang yang menuntut ilmu wajib meluruskan kembali niat yang dimilikinya.

Suatu amal perbuatan akan diterima Allah SWT ketika niatnya benar dan caranya benar. Saat suatu ibadah atau amalan baik dilakukan karena niat selain Allah, maka ibadah atau amalan tersebut akan tertolak. Termasuk niat yang tidak ikhlas adalah berharap pujian, ketenaran, ataupun harta dunia. Di sisi lain, seseorang yang berniat melakukan amal kebaikan bisa dihitung sudah melakukan kebaikan jika niatnya ikhlas karena Allah. Misalnya saja orang yang berniat shalat malam lalu ketiduran, atau orang yang berniat shalat jamaah kemudian ketika ia sampai masjid jama’ah sudah selesai. Orang tersebut tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang yang telah melakukannya, Insya Allah.

Secara bahasa, niat artinya keinginan atau tujuan. Sedangkan makna secara istilah, niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”. Bagaimanapun, amal perbuatan menyangkut tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota badan. Sehingga niat dalam hati pun sudah merupakan salah satu dari ketiga hal tersebut. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Siapa saja yang ingin melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian pula ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”.

Dalam sebuah hadits disebutkan. ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah r.a. berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berawal dari niat, dan akhirnya pun akan ditentukan oleh niat. Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, niat itu wajib dalam ibadah. Niat merupakan syarat sah suatu ibadah. Sedangkan, dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk mendapatkan keridhaan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diharuskan memakai niat. Misalnya saat seseorang berpuasa di hari Senin, ada beberapa kemungkinan puasa yang dilakukannya. Bisa puasa Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh, puasa Daud, membayar hutang puasa, dan sebagainya. Dan puasa apa yang sejatinya orang itu lakukan adalah sesuai dengan apa yang ia niatkan. Kemudian dengan niat pula suatu perbuatan biasa bisa bernilai pahala, misalnya makan, minum, tidur, dan sebagainya. Ketika seseorang meniatkan semua perbuatan tersebut sebagai bentuk ibadah karena Allah SWT, maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah. Karenanya, mari penuhi aktivitas harian kita dengan niat beribadah, senantiasa berhati-hati atas rusaknya niat, dan terus berupaya meluruskan niat karena Allah SWT semata. Dari niatlah semua berawal dan kita akan memperoleh apa yang kita niatkan.

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ibnul Mubarak)