Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (2/2)

Barangkali benar ada berbagai kebijakan pemerintah yang lamban ataupun keliru dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Namun hal itu bukan berarti sikap cerdas adalah membangkang terhadap kebijakan pemerintah, misalnya dengan tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Berpikir kritis berbeda dengan naif, apalagi malas berpikir. Barangkali benar bahwa tingkat kesembuhan akibat Covid-19 lebih tinggi daripada tingkat kematiannya. Namun bukan berarti para korban Covid-19 ini tak ada artinya. Satu nyawa saja begitu berharga, apalagi ini sampai puluhan ribu nyawa. Itu pun baru yang terdata. Bahkan jika benar bahwa ada faktor kesengajaan dalam penyebaran virus corona, atau kalaupun memang benar ada kepentingan bisnis di balik pandemi Covid-19, penyikapan seperti yang dilakukan para covidiot tetaplah tidak menyelesaikan masalah apapun.

Karenanya, tidak perlu terjebak pada teori konspirasi yang belum jelas kebenarannya, dan tidak jelas kebermanfaatannya. Tidak perlu juga terlalu pusing dengan berbagai isu kepentingan yang ada di luar kendali kita. Cukup lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan membantu diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita. Disinilah kemanusiaan mengambil peran dalam pandemi ini. Percaya atau tidak dengan adanya virus corona bisa jadi tergantung keyakinan seseorang, tetapi meyakini bahwa setiap diri kita perlu menjaga keselamatan orang lain adalah sisi kemanusiaan. Seseorang memiliki hak untuk tidak percaya dengan berita yang disampaikan media, namun secara manusiawi seseorang perlu menjaga hak orang lain untuk merasa aman dari lisan dan perbuatannya. Setiap kita boleh saja meyakini tentang adanya konspirasi global, namun bukan berarti mematikan rasa empati dan simpati dengan memaksakan keyakinannya pada orang lain, yang bahkan tidak sedikit dari mereka, keluarga mereka, atau rekan-rekan mereka yang telah menjadi korban pandemi ini.

Untungnya, aksi nyata kedermawanan sosial atas nama kemanusiaan terus hadir sejak awal masa pandemi. Mulai dari pembagian masker, penyemprotan disinfektan, paket bantuan isolasi mandiri, hingga pengadaan tabung oksigen dan rumah sakit darurat. Para pejuang kemanusiaan inilah yang menjadi secercah asa di tengah himpitan hidup. Di saat para covidiot hanya berkoar tentang konspirasi tanpa kontribusi, tanpa solusi. Bahkan di saat pemerintah tidak bisa diandalkan dalam melindungi segenap bangsa Indonesia. Inisiatif membantu ini muncul dan menyelesaikan berbagai persoalan akibat pandemi, pun barangkali skalanya terbatas. Pendekatan kemanusiaan inilah yang berperan besar dalam memelihara kehidupan, tidak memilih untuk menyerah dengan keadaan. Pejuang Covid-19 di garda terdepan, mulai dari tenaga kesehatan, relawan, hingga tukang gali kubur, mampu bertahan dan terus berjuang atas nama kemanusiaan. Sebab jika ukurannya adalah materi, sungguh nyawa lebih berharga.

Di hadapan pendekatan kemanusiaan, pendekatan konspiratif sudah tak lagi relevan, tidak simpatik sama sekali. Apalah artinya seseorang yang pandai bercakap tentang konspirasi elit global, sementara tetangganya sendiri tidak ia pedulikan. Tidak percaya adanya Covid, tidak membantu tim Satgas Covid, namun gemar membuat gaduh dengan informasi ‘kacamata kuda’ yang diyakininya. Menghabiskan energinya dengan segudang teori nirfaedah, sementara kebermanfaatannya tidak dirasakan bagi lingkungan sekitarnya. Permasalahan dalam kondisi kritis bukan persoalan apa yang benar, tetapi apa yang dibutuhkan. Karenanya, pendekatan kemanusiaan yang membawa cahaya, lebih tepat untuk diperjuangkan dibandingkan pendekatan bisnis yang oportunis ataupun pendekatan konspiratif yang hanya mengutuk kegelapan.

Dan diakui atau tidak, pandemi ini masih dan akan terus berlangsung hingga batasan takdirnya. Butuh kolaborasi dari banyak elemen sebab krisis tidak akan mampu dihadapi sendirian. Kesampingkan sejenak berbagai pendekatan konspiratif yang bisa jadi ada benarnya, untuk membantu meringankan beban banyak manusia terdampak pandemi yang sudah nyata adanya. Tidak terlalu serakah mengambil peluang dalam kesempitan orang lain. Tidak untuk suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Tetapi atas nama kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Dan kelak saat semua krisis ini berlalu, kita bisa tetap bergandengan tangan sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Setiap penyakit ada obatnya, setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Menjadi ‘obat’ atau ‘racun’, menjadi ‘solusi’ atau ‘masalah’, semuanya tergantung bagaimana peran yang kita ambil.

We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity; more than cleverness, we need kindness and gentleness. Without these qualities, life will be violent and all will be lost.
(Charlie Chaplin)

Covid: Antara Konspirasi, Bisnis, dan Kemanusiaan (1/2)

Only two things are infinite, the universe and human stupidity; and I’m not sure about the former (universe)” (Albert Einstein)

Pandemi virus corona memang kejadian luar biasa. Berdasarkan data yang rutin diupdate worldometers, hingga 7 Juli 2021 ini telah ada lebih dari 185 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia, dengan korban jiwa lebih dari 4 juta orang. Indonesia sendiri ada di urutan ke-16 dengan jumlah kasus Covid-19 lebih dari 2,3 juta kasus dan korban jiwa lebih dari 61 ribu orang. Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia berkali-kali mencatatkan rekor terbanyak, dan trennya masih terus meningkat. Jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia hanya kalah oleh Brazil dan India. Jumlah kematian pun sepekan terakhir berkali-kali mencatatkan rekor terbanyak dengan tren yang juga meningkat. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sudah dilakukan di Jawa – Bali. Rumah Sakit mulai kehabisan tempat, tenaga medis bertumbangan, ketersediaan oksigen pun menipis. Indonesia dapat dikatakan tengah menghadapi krisis Covid-19.

Dan setiap kejadian luar biasa sudah biasa ada teori konspirasi yang menyertainya. Teori konspirasi terkait virus corona ini sudah aja sejak kehadirannya mulai ramai disoroti di awal tahun lalu. Kejelasan mengenai asal munculnya virus tersebut sampai saat ini tidak ada penjelasan yang memuaskan dari WHO. Dugaan mengenai kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan, atau dari hewan yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan yang berulang kali dibantah Pemerintah Cina tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Teori konspirasi lainnya yang menuding bahwa virus corona adalah senjata biologis buatan Amerika Serikat juga tidak dapat dibuktikan secara nyata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus corona sudah diketahui keberadaannya puluhan tahun lalu, termasuk bahaya mutasi virusnya seperti dalam wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Namun memang masih banyak yang belum terjawab termasuk pertanyaan bagaimana virus menular dari kelelawar ataupun mengapa virusnya baru ‘meledak’ sekarang.

Beberapa penganut teori konspirasi lain melihat kejadian ini dari pertanyaan sederhana: siapa yang paling diuntungkan dengan pandemi ini? Memang ternyata ada berbagai pihak yang ‘diuntungkan’ dengan adanya Covid-19 ini. Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin, disinfektan, obat dan vitamin, misalnya. Kemudian perusahaan yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker. Kemudian perusahaan berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi. Bahkan perusahaan penyedia games pun diuntungkan. Disinilah dunia bisnis mengambil kesempatan dalam ‘kesempitan’ pandemi. Ketika produk tertentu seketika ramai diborong dan habis di pasaran, tentu ada kepentingan bisnis yang bermain. Ketika ketersediaan masker atau oksigen begitu terbatas, boleh jadi ada yang mengambil peluang bisnis. Dan karena keseimbangan dunia ini, jika ada yang diuntungkan, tentu ada yang dirugikan. Walaupun bisa mengancam siapa saja, nyatanya pandemi ini kian memperlebar gap antara yang miskin dengan yang kaya. Dalam perspektif bisnis yang berorientasi profit, kondisi ini bukanlah salah pihak yang diuntungkan. Mereka yang mengambil peluang untuk meraup keuntungan tidak serta merta menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan yang terjadi.

Lantas, apakah ada hubungannya dengan dunia politik? Pemilihan Kepala Negara misalnya? Boleh jadi. Yang jelas, pemegang kebijakan juga memiliki ruang besar untuk memanfaatkan pandemi ini. Korupsi dan kolusi semakin marak di masa pandemi. Bagaimana tidak, ada kucuran dana yang sangat besar yang bisa diselewengkan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Pandemi ini adalah ujian kepemimpinan. Mereka yang suka meremehkan masalah, plin plan dalam mengambil keputusan, mengambil muka pimpinan, asal bicara tanpa data, mencari aman, berpikir pragmatis, hingga mereka yang mencari kesempatan dalam kesempitan semakin mudah terlihat. Konspirasi dapat diartikan sebagai persengkokolan jahat. Dan ruang persengkokolan semacam ini makin terbuka di masa pandemi.

Persoalannya, sekadar berpikir konspiratif bukan hanya tidak memecahkan masalah, bahkan tidak jarang justru memperkeruh permasalahan. Tidak sedikit mereka yang sekadar ikut-ikutan berpikir konspiratif, justru kebablasan. Istilah tren yang menggambarkan orang-orang ini adalah ‘covidiot’. Ada beberapa indikasi dan levelisasi para covidiot ini. Mulai dari menyangkal eksistensi dari virus corona dan penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut (Covid-19). Ada pula yang menganggapnya ada, namun menyangkal bahwa dampaknya sebesar yang diberitakan media. Ada yang merasa kebal virus sampai mencoba membuktikan kekebalannya dengan tidak mematuhi protokol kesehatan, mulai dari tidak menggunakan masker, sengaja bikin acara kumpul bareng, sampai menyengaja berinteraksi erat dengan penderita Covid-19. Ada juga covidiot yang berlebihan dalam menyikapi pandemi, misalnya dengan memborong tisu, hand sanitizer, ataupun masker.

Parahnya lagi, sebagaimana Covid, covidiot ini juga menular. Opini menyesatkan dan berita hoax juga banyak dan terus diproduksi untuk semakin mendangkalkan paradigma berpikir para covidiot yang kerap sharing tanpa saring informasi yang sejalan dengan pemikirannya. Informasi yang kadang dibungkus dengan bumbu religius dan (pseudo)ilmiah semakin sulit untuk bisa diluruskan, apalagi jika ditambah benih ego dan kesombongan. Berpikir kritis terhadap kondisi di sekitar kita sebenarnya merupakan hal yang lebih baik dibandingkan berpikir naif dan terlalu polos. Hanya saja terlalu berpikir konspiratif justru sama sekali tidak memberi manfaat. Siapa yang paling diuntungkan jika alih-alih terbangun ‘herd immunity’ malah terbentuk ‘herd stupidity’ akibat masyarakat kian abai terhadap protokol kesehatan? Siapa yang paling diuntungkan dengan menuduh tenaga medis hingga pemerintah sebagai kaki tangan elit global? Kasus Covid semakin tinggi, korban semakin banyak, teori konspirasi tak kunjung terbukti. Para covidiot pun juga sama sekali tidak dapat untung.

(bersambung)

Semoga Kalian Syahid Akhirat

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Kabar duka itu kembali tiba. Tadi siang jam 10.40, Om Wagiman meninggal di RSUD Wonosari setelah 2 pekan dirawat akibat Covid. Om Wagiman adalah suami dari adik bungsu ibu saya yang tinggal berdampingan dengan rumah kakek dan nenek saya. Beliau berhenti dari pekerjaannya di Kota Yogyakarta dan memilih buka usaha di kampung seraya memperdalam agama. Istrinya pun berhenti bekerja dari salah satu bank konvensional terbesar di Wonosari untuk lebih fokus ke keluarga. Cepat sekali kabar duka itu tiba sebab baru malam Jum’at pekan lalu (17/6), Mbah Akung (ayahnya Ibu) meninggal dan dicovidkan. Dan baru seminggu sebelumnya, pada 11 Juni 2021, Bude Rani (istri dari kakak sulung Ibu) meninggal di RS. PON.

Bulan ini baru berjalan tiga pekan namun sudah banyak sekali kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Baru 3 hari lalu, Pak Yuli Pujihardi, salah seorang pimpinan Dompet Dhuafa meninggal di RS. Kartika Pulomas setelah terpapar Covid. Di awal bulan ini pada 4 Juni 2021, Mas Jojo, salah seorang tim IT senior di Dompet Dhuafa berpulang ke rahmatullah, juga terjangkit Covid. Belum lagi jika ditambah wafatnya orang tua dari teman-teman, rekan kerja di wilayah, tetangga di perumahan, hingga orang-orang yang banyak dikenal, tentu daftarnya akan semakin banyak lagi. Apalagi jika ditambahkan informasi tentang kenalan saya yang terpapar Covid di bulan ini. Tampaknya gelombang Covid bulan ini memang tidak main-main.

Salah satu hikmah dari kematian adalah pengingatan bagi mereka yang masih hidup untuk lebih siap dalam menghadapi kematian. Mendengar bagaimana testimoni orang-orang atas kebaikan mereka yang telah mendahului kita, membuat kita benar-benar merenung tentang bagaimana akhir hidup kita kelak dan akan dikenang seperti apa. Apalagi mendengar cerita tentang husnul khatimah beberapa rekan, kian membuat takut akan kesudahan su’ul khatimah. Kabar ‘bahagia’nya, orang beriman yang meninggal karena wabah akan memperoleh predikat syahid akhirat, Insya Allah. Ada ganjaran kebaikan yang menyertainya. Syahid dunia adalah seseorang yang berjuang seakan-akan di jalan Allah, akan tetapi niatnya hanya karena ingin dapat nama, ada pamrih, dan bukan karena Allah semata. Sementara mereka yang wafat karena berperang di jalan Allah akan memperoleh predikat syahid dunia akhirat, mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, serta jaminan masuk surga.

Dari Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad SAW, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho’un. Rasulullah SAW lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho’un lalu tetap tinggal disana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala di sisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid, Ya Rasulullah’’. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang syahid”. Para sahabat bertanya, “Mereka itu siapa ya Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid.” (HR. Muslim).

Hal ini bukan berarti kita cukup mengharap kematian akibat Covid saja agar dapat predikat syahid akhirat. Apalagi ada prasyarat keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk meraih predikat tersebut. Namun hal ini bisa jadi penguat optimisme dalam do’a-do’a kita. Semoga penyakit yang diderita orang yang mendahului kita dapat menggugurkan dosa-dosanya. Semoga kesabaran dalam menghadapi wabahnya dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT. Sementara bagi kita yang masih hidup, cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kematian bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Bahwa ada perjalanan panjang nan kekal setelah kehidupan di dunia fana ini. Bahwa harus ada bekal yang cukup untuk menjalaninya. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum. Allahumma la tahrimna ajrahum wala taftinna ba’dahum waghfirlana wa lahum wali ikhwaninalladzina sabaquna bil iman wala taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu Rabbana innaka ra’ufurrahim (Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, bebaskanlah dan maafkanlah mereka. Ya Allah, janganlah kiranya pahala mereka tidak sampai kepada kami dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggal mereka. Ampunilah kami dan mereka, dan juga kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang)

Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh orang, yaitu korban ath-tha’un (wabah) adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud)

Dari Niatlah Semua Berawal

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Semua berawal dari niat. Salah satu hadits masyhur tentang niat adalah hadits pertama dalam Hadits Arbain An Nawawi. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab r.a, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah SWT. Berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia, misalnya karena mengejar wanita. Dalam hadits tersebut amalan yang dicontohkan adalah hijrah. Ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Setiap amal yang dilakukan seorang muslim harus dilandasi niat yang ikhlas agar amal tersebut diterima. Imam Ahmad dan Imam Syafii mengatakan bahwa hadits di atas mencakup sepertiga ilmu. Selain itu, Imam Syafii juga menambahkan bahwa makna hadits tentang niat ini mencakup 70 bab fiqh. Bahkan tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa hadits di atas merupakan sepertiga bagian dari Islam. Karena itulah setiap orang yang menuntut ilmu wajib meluruskan kembali niat yang dimilikinya.

Suatu amal perbuatan akan diterima Allah SWT ketika niatnya benar dan caranya benar. Saat suatu ibadah atau amalan baik dilakukan karena niat selain Allah, maka ibadah atau amalan tersebut akan tertolak. Termasuk niat yang tidak ikhlas adalah berharap pujian, ketenaran, ataupun harta dunia. Di sisi lain, seseorang yang berniat melakukan amal kebaikan bisa dihitung sudah melakukan kebaikan jika niatnya ikhlas karena Allah. Misalnya saja orang yang berniat shalat malam lalu ketiduran, atau orang yang berniat shalat jamaah kemudian ketika ia sampai masjid jama’ah sudah selesai. Orang tersebut tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang yang telah melakukannya, Insya Allah.

Secara bahasa, niat artinya keinginan atau tujuan. Sedangkan makna secara istilah, niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”. Bagaimanapun, amal perbuatan menyangkut tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota badan. Sehingga niat dalam hati pun sudah merupakan salah satu dari ketiga hal tersebut. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Siapa saja yang ingin melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian pula ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”.

Dalam sebuah hadits disebutkan. ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah r.a. berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berawal dari niat, dan akhirnya pun akan ditentukan oleh niat. Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, niat itu wajib dalam ibadah. Niat merupakan syarat sah suatu ibadah. Sedangkan, dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk mendapatkan keridhaan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diharuskan memakai niat. Misalnya saat seseorang berpuasa di hari Senin, ada beberapa kemungkinan puasa yang dilakukannya. Bisa puasa Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh, puasa Daud, membayar hutang puasa, dan sebagainya. Dan puasa apa yang sejatinya orang itu lakukan adalah sesuai dengan apa yang ia niatkan. Kemudian dengan niat pula suatu perbuatan biasa bisa bernilai pahala, misalnya makan, minum, tidur, dan sebagainya. Ketika seseorang meniatkan semua perbuatan tersebut sebagai bentuk ibadah karena Allah SWT, maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah. Karenanya, mari penuhi aktivitas harian kita dengan niat beribadah, senantiasa berhati-hati atas rusaknya niat, dan terus berupaya meluruskan niat karena Allah SWT semata. Dari niatlah semua berawal dan kita akan memperoleh apa yang kita niatkan.

Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ibnul Mubarak)

Aku (Ingin Jadi) Hafizh Qur’an

Kuputuskan satu impian, aku ingin jadi hafidz Quran…
Ku akan bertahan walau sulit melelahkan, Allah beri aku kekuatan…
Kuimpikan sepasang mahkota, ‘tuk berikan di akhirat kelak…
Sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta, aku cinta engkau karena Allah…

Kucinta Umi, kucinta Abi, kuharap doamu selalu dalam hati…
Kucinta Umi, kucinta Abi, berharap bersama di Surga-Nya nanti…

I love you Umi, I love you Abi, I love my family forever in my heart…

* * *

Beberapa hari terakhir, putri keduaku kerap menyenandungkan lagu ‘Aku Hafizh Qur’an’ yang dipopulerkan oleh penyanyi religi cilik Aishwa Nahla. Bukan tanpa alasan tentunya, akhir pekan ini, Muthi akan wisuda TK B di sekolahnya. Sebuah prosesi seremonial yang sederhana mengingat masih tingginya kasus Covid-19 di negeri ini. Senandung ‘Aku Hafizh Qur’an’ menjadi salah satu penampilan para peserta didik, disamping hapalan Juz ‘Amma dan lagu ‘Guruku Tersayang’. Selain menyelesaikan studinya di TK Al Wafa, Muthi juga mendapat penghargaan sebagai siswi terbaik dalam disiplin menghapal Juz ‘Amma. Di waktu yang bersamaan dengan Wisuda Muthi, putri sulungku juga menyelenggarakan Wisuda Al Qur’an online setelah menyelesaikan hapalan juz 30.

Program menghapal Al Qur’an memang semakin menjamur. Hal ini menjadi salah satu hal yang patut disyukuri di akhir zaman ini. Jika dahulu, menghapal Al Qur’an di’monopoli’ oleh pesantren dan madrasah, saat ini tidak sedikit sekolah yang bahkan tanpa embel-embel sekolah Islam yang juga memprogramkan hapalan Al Qur’an kepada peserta didiknya. Tidak sedikit pula orang tua muslim milenial yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya dengan program hapalan Al Qur’an sebagai salah satu pertimbangannya. Bahkan ada orang tua yang secara khusus menghadirkan guru tahfizh privat bagi anaknya. Hapalan Al Qur’an menjadi tren baru di tengah ‘perang pemikiran’ yang kian marak.

Dalam beberapa hadits, para penghapal Al Qur’an memang memiliki berbagai keutamaan. Mulai dari didahulukan sebagai imam shalat, pemimpin shalat, hingga dikuburkan lebih dulu ketika syahid. Tidak hanya itu, para penghapal Al Qur’an akan dianugerahi mahkota dan pakaian kemuliaan, dan mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Bahkan mereka dapat menganugerahkan mahkota dan pakaian kemuliaan kepada kedua orang tuanya. Dari Buraidah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim). MasyaAllah…

Menghapal Al Qur’an memang merupakan salah satu bentuk interaksi positif terhadap Al Qur’an, selain membacanya, menyimaknya, mempelajarinya, mengajarkannya, mengkaji atau mentadabburinya, dan mengamalkannya. Budaya menghapal Al Qur’an juga bisa menjadi sarana syiar Islam. Bagaimana Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ), dan Musabaqoh Hifzhil Qur’an (MHQ) menjadi kompetisi produktif. Bagaimana lantunan murottal menjadi alternatif senandung positif dibandingkan lagu-lagu jahiliyah. Dan hapalan Al Qur’an ini sebaiknya dapat dipelihara, tidak hanya dihapal sesaat untuk kemudian dilupakan. “Jagalah Al-Quran ini, demi zat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya. Sesungguhnya dia lebih gampang terlepas daripada unta yang dilihat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga kita dan keluarga kita menjadi para pecinta Al Qur’an. Aamiiin…

“Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.” (HR. Turmudzi)

Si Tengah yang Unik

“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya), maka anak-anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka”. (HR Bukhari dan Muslim)

Bulan Juni selalu menjadi bulan yang spesial. Di bulan ini beberapa orang terdekat merayakan hari kelahirannya. Tentu bukan Presiden Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, dan Jokowi yang saya maksud. Cukup unik memang 4 dari 7 presiden Indonesia lahir di bulan Juni dari 12 bulan yang tersedia. Namun beberapa anggota keluarga besar saya kebetulan lahir di bulan Juni. Dari yang tertua ada ibu kandung saya dan ibu mertua yang sama-sama lahir di bulan Juni. Kemudian adik ipar dan adik kandung saya, keduanya anak bungsu. Dan yang paling muda adalah anak kedua dan ketiga saya yang juga lahir di bulan Juni. Tulisan ini akan fokus bercerita tentang anak kedua yang lahir 6 tahun lalu.

Menjadi anak ke-2 dari 3 bersaudara memang tidak mudah. Ketika anak sulung mendapatkan cinta yang berlimpah karena lahir paling awal, anak tengah tidak mendapatkannya. Bahkan tidak jarang anak tengah ini hanya dapat ‘lungsuran’ dari kakaknya, tanpa diberikan barang baru. Ketika anak bungsu relatif dimanjakan, anak tengah hanya sedikit merasakannya ketika ia menjadi anak bungsu. Pada masa itu pun barangkali ia belum mengingatnya. Apalagi, Si Tengah ku ini berjarak 3.5 tahun dari kakaknya, namun hanya berjarak 2 tahun dari adiknya. Belum cukup puas merasakan sebagai anak bungsu, adiknya keburu lahir, anak laki-laki pertama pula.

Setiap anak terlahir dengan karakteristik yang berbeda, dipengaruhi beberapa faktor seperti lingkungan sekitar, perlakuan dari setiap orang tua, atau urutan kelahiran. Ya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa urutan kelahiran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi karakteristik anak. Gunarsa dan Yulia (2008) menunjukkan bahwa anak kedua dari tiga bersaudara menunjukkan karakter yang paling berbeda dibandingkan saudaranya. Posisi terapit di antara seoarang kakak dan adik seringkali menimbulkan rasa iri. Sehingga tak jarang anak tengah memiliki jiwa yang pengertian, kuat, dan sensitif, karena harus menghadapi perlakuan sang kakak sekaligus menjadi panutan untuk sang adik. Anak tengah menurut Psikolog Anak asal USA, Dr. Kevin Leman (2012) masuk kedalam kategori anak yang sangat fleksibel. Mereka mampu bersikap ramah dan bersosialisasi dengan orang lain. Pun kadang mereka memiliki rasa malu yang cukup tinggi, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan tenang. Anak tengah juga bisa sangat sabar dan umumnya lebih memilih untuk menghindari konflik. Tak heran jika mereka lebih sering menjadi mediator atau negosiator dalam suatu masalah.

Sifat dan kepribadian anak tengah paling sulit dijabarkan. Umumnya, anak tengah memiliki kepribadian yang menyenangkan namun sedikit pemberontak dalam keluarganya. Anak tengah tumbuh lebih bahagia dalam lingkungan pertemanannya. Karenanya, anak tengah cenderung memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Anak kedua sangat tahu rasanya bersaing dan tidak berkawan, sehingga anak kedua suka bekerja dengan orang lain dan cinta persahabatan. Anak kedua akan terus berusaha untuk menyenangkan orang lain, dan akan terus berusaha untuk menjadi perekat atau penjaga persahabatan. Profesor Departemen Psikologi, Institut Penelitian Kepribadian dan Sosial California, Dr. Frank J. Sulloway, Ph.D, mengatakan bahwa anak-anak tengah mendapat skor lebih tinggi dalam hal keramahan dibandingkan kakak dan adiknya, itulah yang menyebabkan anak tengah lebih mudah dalam hal pergaulan. Penelitian ini memperkuat sebuah studi dalam The Journal of Genetic Psychology (1966) yang menemukan bahwa anak tengah cenderung lebih baik dalam situasi kelompok. Sebelumnya, sebuah studi dari Texas Christian University dan University of Minnesota (1964) juga menunjukkan bahwa anak tengah memiliki perilaku yang sangat baik dan paling bisa menyesuaikan diri dalam kelompok.

Si Tengah ku yang sementara ini bercita-cita menjadi chef tak kalah menarik. Secara kecerdasan kognitif barangkali tidak sebaik kakaknya, namun kecerdasan sosialnya luar biasa. Si Tengah adalah yang paling aktif menunjukkan rasa sayangnya kepada keluarga. Perhatian terhadap kondisi keluarganya, bahkan yang kerap membuat tertegun adalah tiba-tiba merangkul dan mengucapkan “Aku sayang Ayah” seraya mengecup pipi. Alih-alih disebut negosiator, Si Tengah ini adalah ‘provokator’ ulung yang kerap memengaruhi adiknya dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Ia relatif lebih mampu menjaga adiknya dibandingkan kakaknya. Sensitif dan kompetitif, serta memiliki inisiatif yang tinggi.

Uniknya, Si Tengah kerap terbangun di tengah malam kemudian tertawa atau menangis, apalagi tahun lalu. Entah bermimpi atau ‘diganggu’. Tatapan mata kosongnya pun cukup membuat bergidik. Berbeda dengan kakak dan adiknya, yang terlihat sangat sedih jika dimarahi Ayahnya (yang memang jarang marah). Si Tengah ini terlihat ketakutan ketika dimarahi Ayahnya, bahkan tubuhnya sampai gemetaran. Dan setahun ke depan, Si Tengah ini akan tidak bersekolah dengan pertimbangan usia, kompetensi, dan kondisi yang serba tanggung. Sepertinya akan jadi cerita lain membayangkan Si Tengah melihat kakak dan adiknya bersekolah sementara dirinya tidak.

Bagaimanapun, Si Tengah patut diapresiasi atas cinta dan perhatiannya yang besar. Plus kesabarannya dalam menjalankan peran sebagai adik sekaligus kakak. Dan urutan kelahiran sejatinya hanyalah salah satu faktor yang memengaruhi kepribadian, bukan satu-satunya. Pola pengasuhan keluarga bahkan akan lebih banyak menentukan pribadi anak yang akan dibentuk. Happy birthday, my little angel! I wish you to love life and never stop dreaming! You are braver than you believe, stronger than you seem, smarter than you think, and more loved than you’ll ever know. My happiness becomes boundless to see your healthy growth. I will be with you to guide you in the way of life, to cheer for you in the success, and to comfort you in sadness. Love you, always! Happy birthday, my little girl!

A father holds his daughter’s hand for a short while, but he holds her heart forever” (Unknown)

Menulis yang Disampaikan, Menyampaikan yang Ditulis

Tell your story. Shout it. Write it. Whisper it if you have to. But tell it. Some won’t understand it. Some will outright reject it. But many will thank you for it. And then the most magical thing will happen. One by one, voices will start whispering, ‘Me, too.’ And your tribe will gather. And you will never feel alone again.
(L.R. Knost)

Write what you do and do what you write” barangkali merupakan jargon yang banyak dikenal terutama mereka yang terlibat dalam urusan Quality Management. Harus ada bukti tertulis dari apa yang telah kita kerjakan, dan pekerjaan yang dilakukan harus didukung oleh dokumen tertulis sebagai dasar pedoman pelaksanaan. Jika kita tidak bisa membuktikan bahwa kita telah bekerja, berarti kita tidak bekerja. Dan jika kita bekerja tidak sesuai dengan dokumen tertulis, berarti ada kesalahan dalam pekerjaan kita. Penyampaian tanpa bukti tertulis juga belum bisa dianggap kebenaran. Di sisi lain, melakukan apa yang disampaikan dapat menunjukkan integritas seseorang, namun menyampaikan apa yang dilakukan tidak selamanya dinilai positif. Bisa saja justru dianggap sombong, ujub, ataupun riya’. Tulisan ini tidak hendak menyoroti relevansi dari jargon tersebut, namun coba menghubungkan menulis dengan berbicara sebagai sesama aktivitas penyampaian pesan.

Menulis dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif. Penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada pihak lain. Keduanya harus mengambil sejumlah keputusan berkaitan dengan topik, tujuan, jenis informasi yang akan disampaikan, serta cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi sasaran (pembaca atau pendengar) dan corak teksnya (eksposisi, deskripsi, narasi, argumentasi, dan persuasi). Perbedaan antara keduanya hanya dalam hal kecaraan dan medianya. Komunikasi dalam berbicara terjadi secara langsung dan respon pendengar juga dapat langsung ditangkap. Pembicara menyampaikan pesan secara lisan, sementara penulis menyampaikan pesan secara tertulis, termasuk gambar dan ilustrasi.

Menulis dan berbicara punya teknik dan tantangannya sendiri. Tidak semua orang yang hebat dalam menulis, mampu berbicara dengan fasih. Dan tidak semua orang yang hebat dalam berbicara, cakap menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Dalam berbicara, ada unsur nonverbal seperti suara, mimik, pandangan, dan gerak dapat secara langsung digunakan untuk memperjelas, mempertegas, dan menarik perhatian pendengar. Respon pendengar yang bisa langsung ditangkap juga memungkinkan pembicara untuk menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki apa yang disampaikannya. Namun implementasinya tak sesederhana itu, butuh banyak latihan dan ‘jam terbang’. Pembicara bukan hanya butuh persiapan materi atau konten pembicaraan, namun juga kesiapan mental. Asal berbicara memang mudah, namun berbicara yang baik, mencerahkan, dan menginspirasi tentu butuh pembiasaan.

Menulis tidak lebih mudah. Karena tidak langsung berhadapan dengan pembaca, dan tidak langsung mendapatkan responnya, persiapan penulis bisa lebih matang. Penulis bisa melakukan review tulisannya sebanyak yang dibutuhkan agar benar-benar siap, sebelum dipublikasikan. Namun jika pembicaraan dapat cepat diralat atas respon yang diberikan, klarifikasi tertulis butuh waktu. Ada berbagai teknik penulisan, termasuk penggunaan gaya bahasa, penambahan ilustrasi dan gambar untuk memperkuat tulisan. Namun implementasinya tak sesederhana itu, butuh banyak latihan dan ‘jam terbang’. Dan menjadi penulis butuh keberanian. Asal menulis memang mudah, namun perlu diingat bahwa ‘masa hidup’ sebuah tulisan jauh lebih lama dibandingkan pembicaraan. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Jejak digital tulisan mudah diakses siapa saja, dan penulislah yang harus mempertanggungjawabkan tulisannya. Belum lagi dengan UU ITE, tantangan menjadi penulis lebih besar. Pastikan menulis yang baik atau lebih baik diam.

Dengan berbagai tantangan dan keunggulan masing-masing, idealnya setiap diri kita mampu menjadi pembicara dan penulis yang baik. Seorang da’i atau motivator yang sering berbicara di ruang publik tentu akan mengalami batasan ruang dan waktu dalam menginspirasi. Akan berbeda jika apa yang disampaikan juga dituliskan. Inspirasinya dapat terus terjaga menembus zaman. Di sisi lain, seorang penulis produktif akan mengalami batasan dalam kolaborasi gagasan. Penulis butuh menyampaikan langsung apa yang dituliskan sehingga ada respon langsung yang dapat memperkaya gagasan. Bukankah dua kepala lebih baik daripada satu kepala? Apalagi banyak kepala. Dalam dunia akademik, keseimbangan antara menulis dengan berbicara ini sudah lama dikenal. Misalnya tugas akhir tertulis yang dibuat harus dipresentasikan dalam sidang tugas akhir. Menulis dan berbicara, tanpa kecuali. Sayangnya, momentum seperti ini kurang dibiasakan. Akhirnya, aktivitas menulis dan berbicara dilakukan ala kadarnya. Itupun masih lebih baik dibandingkan mereka yang asal menulis dan asal berbicara, tanpa manfaat, tanpa berani mempertanggungjawabkan apa yang ditulis dan diucapkannya.

Keberadaan kita di dunia ini harus memberi manfaat. Namun setiap diri kita punya keterbatasan dalam melakukan beragam kebermanfaatan tanpa melibatkan orang lain. Batas sempit itu dapat diperluas dengan aktivitas menyampaikan inspiratif, baik lisan maupun tulisan. Dan batas itu akan semakin luas jika kita optimal melakukan keduanya, berbicara dan menulis. Dengan tetap memperhatikan keteladanan perilaku atas apa yang dibicarakan ataupun ditulis, tentunya. Tidak ada dikotomi antara keduanya, semuanya bisa dilatih dan dibiasakan. Dan karena keduanya bersifat aktif-produktif, satu-satunya cara paling efektif untuk menguasai keterampilan berbicara dan menulis adalah dengan langsung mengimplementasikannya. Khazanah ilmu dapat terus berkembang dengan penyampaian secara lisan dan tulisan, dan seharusnya kita berupaya menjadi bagian darinya. Memiliki keterampilan berbicara dan menulis, dan mencerminkannya dalam keteladanan perilaku. Bismillah… Komisaris… eh bukan… Bismillah, saya siap. Bagaimana dengan Anda?

I love writing for kids. I love talking to children about what I’d written. I don’t want to leave that behind.” (J.K. Rowling)

Penyerangan Terbaik Adalah Bertahan

I don’t say we are a defensive team. I say we are a strong team in defensive terms, but at the same time lacking sufficient fluidity in attack because that will take time to come.” (Jose Mourinho)

Pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “Pertahanan terbaik adalah menyerang”? Barangkali pepatah tersebut tidak sepenuhnya tepat. Apalagi jika ukuran terbaik adalah gelar juara. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil akhir liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 ini yang telah berakhir. Dalam beberapa liga, tim yang paling produktif adalah tim yang menjuarai liga. Namun dalam banyak liga, ternyata tim juara adalah tim yang bertahan paling baik, pun belum tentu terbaik dalam menyerang. Juara liga domestik di berbagai liga sukses mengandaskan juara bertahan dengan kokohnya lini pertahanan mereka, meski kalah dalam produktivitas gol. Sekali lagi, Bundesliga dengan Bayern Munich nya adalah pengecualian. Die Roten menjadi juara Bundesliga sebagai tim paling produktif mencetak gol, namun dalam hal bertahan Bayern Munich hanya ada di urutan ke-5.

Di Premier League, Manchester City begitu dominan dengan paling banyak memasukkan gol (83 gol) dan paling sedikit kebobolan (32 gol). Dari 38 pertandingan, Manchester City berhasil cleansheet di 19 pertandingan. Selain kiper Ederson yang berhasil mencatatkan 19 cleansheet dari 36 pertandingan Premier League yang dijalaninya, ada nama bek Ruben Dias yang turut menjadi kunci kesuksesan Manchester City di musim ini. Baru didatangkan dari Benfica di awal musim, Ruben Dias sukses menjadi pemain terbaik Liga Inggris di musim perdananya. Dari 32 penampilannya di Premier League, Dias sukses mencatat 17 cleansheet, 35 intersep, 24 tekel, dan 23 blok. Peran vital Ruben Dias mengingatkan akan peran Vincent Kompany di skuad Manchester City. Musim 2019/2020 peran ini menghilang. Alih-alih menggantikan, Laporte dan John Stones justru kerap cedera, gelar juara pun sempat direbut Liverpool musim lalu.

Juara Serie A Inter Milan kalah dalam urusan produktivitas gol dibandingkan Atalanta yang finish di posisi ke-3. Namun Inter Milan menjadi klub Serie A yang paling sedikit kebobolan (35 gol). Bersama rival sekotanya AC Milan, Inter Milan mencatatkan 14 cleansheet dari 38 pertandingan. Kiper senior Handanovic (37 laga) dan bek wonderkid Alessandro Bastoni (33 laga) sama-sama mencatatkan 14 cleansheet. Bersama dengan Milan Skriniar dan Stefan de Vrij, Bastoni yang baru berusia 22 tahun sukses mengawal pertahanan Inter Milan. Musim ini Inter juga sukses mendatangkan Achraf Hakimi (22 tahun) dari Borussia Dortmund. Hakimi bisa dikatakan sebagai salah satu bek kanan terbaik di Serie A jika dilihat kontribusinya terhadap penyerangan. Selain mencatatkan 13 cleansheet, Hakimi berhasil mencetak 7 gol dan 8 assist dari 37 pertandingannya di Serie A musim ini.

Kondisi serupa terjadi di Spanyol. Dalam urusan mencetak gol, sang jawara La Liga Atletico Madrid (67 gol) kalah produktif dibandingkan Barcelona (85 gol) yang finish di posisi ke-3. Namun pertahanan Atletico begitu kokoh dengan hanya kemasukan 25 gol dari 38 pertandingan. Kiper Jan Oblak yang tampil penuh di musim ini menjadi pemain kuncinya dengan mencatatkan 100 saves dan 18 cleansheet dari 38 pertandingan La Liga. Oblak bisa dikatakan sebagai salah satu kiper terbaik dan paling konsisten saat ini. Peran pemain baru seperti Luis Suarez (21 gol, 3 assist) dan Yannick Carrasco (6 gol, 10 assist) memang penting. Namun peran Savic, Gimenez, dan Hermoso di lini pertahanan juga tak kalah vital. Ditambah Koke sebagai gelandang bertahan.

Di Liga Portugal, juara liga Sporting Lisbon (65 gol) kalah produktif dibandingkan Porto (74 gol) dan Benfica (69 gol), namun pertahanannya sangat kuat dengan hanya kemasukan 20 gol dari 34 laga. Sepeninggal pemain berkualitas seperti Bruno Fernandes (ke MU), Raphinha (ke Leeds), Marcos Acuna (ke Sevilla), dan Jeremy Mathieu (pensiun), Sporting Lisbon memperkuat skuadnya dengan baik. Kiper Antonio Adan yang baru didatangkan dari Atletico Madrid sukses mencatatkan 19 cleansheet dan 1 assist dari 32 pertandingan. Pedro Goncalves (Pote) yang baru didatangkan dari Famalicao sukses jadi top skor Liga Portugal dengan 23 gol dan 3 assistnya dari 32 laga. Pemain baru Sporting Lisbon lainnya ada gelandang serang Nuno Santos dari Rio Ave (7 gol, 6 assist), bek Zouhair Feddal dari Real Betis (19 cleansheet, 2 gol, 3 assist), dan gelandang bertahan Joao Palhinha dari Braga (1 gol, 9 kali man of the match). Kemudian ada pemain pinjaman bek kanan dari Manchester City Pedro Porro (19 cleansheet, 3 gol, 3 assist) dan gelandang bertahan dari Inter Milan Joao Mario (2 gol, 1 assist). Adapun pemain lama yang tak kalah vital adalah bek tengah Sebastian Coates yang mencatatkan 19 cleansheet dan 5 gol dari 33 pertandingan.

Liga Perancis memberikan gambaran terbaik betapa pentingnya kokohnya pertahanan dalam meraih gelar juara. Keberhasilan Lille memutus dominasi PSG di Ligue 1 tidak terlepas dari solidnya lini bertahan. Dalam urusan mencetak gol, boleh saja Lille (64 gol) tertinggal jauh dari PSG (86 gol), Lyon (81 gol), dan AS Monaco (76 gol). Namun dengan hanya kebobolan 23 gol dalam 38 pertandingan sudah cukup mengantarkan Lille menjadi juara Ligue 1 musim ini. Kiper Mike Maignan bermain penuh musim ini dan mencatatkan 21 cleansheet dari 38 laga. Terbanyak di antara liga terbaik di Eropa. Lille tercatat menang tipis 1 gol dalam 12 pertandingan, dan hanya kalah 3 kali itupun dengan selisih tipis 1 gol. Apresiasi juga perlu diberikan untuk duet bek tengah beda generasi: Jose Fonte (37 tahun) dan Sven Botman (21 tahun) yang sama-sama mencatatkan 20 cleansheet. Kapten Lille Jose Fonte dianggap mampu menjadi mentor yang sangat baik bagi Botman yang baru didatangkan dari U21 Ajax yang meminjamkannya ke Heerenveen musim sebelumnya. Ditinggal pemain utama seperti striker Osimhen ke Napoli dan bek Magalhaes ke Arsenal, Lille berhasil menjaga keseimbangan kekuatan lini serang dengan mendatangkan kombinasi Burak Yilmaz, striker gaek 35 tahun dari Besiktas (16 gol, 5 assist) dan Jonathan David, wonderkid Kanada berusia 21 tahun (13 gol, 2 assist).

Pentingnya pertahanan sebenarnya dapat dipahami secara sederhana. Mencetak gol memungkinkan tim untuk memenangi pertandingan, mungkin juga seri atau kalah. Namun tidak kebobolan memastikan tim tidak akan kalah, pilihannya hanya seri atau menang. Tim dengan pertahanan kokoh mungkin tidak seatraktif tim dengan filosofi menyerang semacam Atalanta atau Ajax Amsterdam yang kerap membantai lawannya. Namun seni bertahan juga tidak mudah. Soliditas lini bertahan perlu didukung chemistry kuat dengan lini tengah dan lini depan. Musim ini Liverpool nyaris gagal masuk 4 besar di antaranya karena badai cedera di sektor pertahanan. Kuatnya penyerangan barangkali dapat memenangkan hati penonton karena suguhan permainan yang menarik, namun kokohnya pertahanan dapat memenangkan gelar juara. Bukan semata pragmatis, namun taktis dan strategis. Sudah banyak klub yang membuktikannya. Karenanya dalam kondisi tertentu, bukanlah pertahanan terbaik adalah dengan menyerang, namun penyerangan terbaik adalah dengan bertahan.

Attack wins you games, defence wins you titles” (Sir Alex Ferguson)

Pembuktian Mereka yang Terbuang

Barcelona didn’t value me. They underestimated me and Atletico opened their doors to give me an opportunity. I will always be grateful to this club for trusting in me.” (Luis Suarez)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 usai sudah. Beberapa liga seperti Serie A Italia, Eredivisie Liga Belanda, Bundesliga Jerman, Liga Premier Inggris, ataupun Primeira Liga Portugal sudah ada kepastian juaranya jauh hari sebelum kompetisi berakhir. Namun untuk Ligue 1 Perancis dan La Liga Spanyol, penentuan juara liga baru dapat dipastikan di pertandingan terakhir. Di Ligue 1, Lille langsung tancap gas dengan gol di menit ke-10, dan digandakan semenit setelah jeda. Angers hanya bisa membalas 1 gol di menit ke-91. Di pertandingan lain, gol PSG di menit ke-37 yang digandakan di menit ke-71 tidak cukup menjadikan PSG mempertahankan gelar Ligue 1 untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Gelar juara Ligue 1 pun berpindah ke Lille yang terakhir memperolehnya 10 tahun lalu.

Di pertandingan terakhir La Liga 21 jam sebelumnya, drama terjadi di menit ke-18 ketika Real Valladolid yang butuh keajaiban untuk selamat dari jurang degradasi berhasil membobol gawang pemuncak klasemen Atletico Madrid. Namun dua menit berselang, Real Madrid yang butuh kemenangan untuk mengambil alih puncak klasemen justru kebobolan oleh Villareal yang sedang berjuang menembus 6 besar zona kompetisi eropa. Sampai turun minum, duo Madrid yang berpeluang menjadi jawara La Liga dalam posisi tertinggal. Selepas jeda, hanya butuh 12 menit bagi Atletico Madrid untuk menyamakan skor melalui Correa, dan 10 menit kemudian Luis Suarez sukses membuat Atletico berbalik unggul. Di pertandingan lain, Real Madrid baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-87 dan sukses melakukan comeback 4 menit kemudian. Duo Madrid pun menang dengan skor 2-1, Villareal gagal menembus zona kompetisi eropa, dan Real Valladolid pun terdegradasi.

Luis Suarez menjadi sorotan dalam keberhasilan Atletico Madrid meraih gelar La Liga ke-11 setelah 6 musim terakhir didominasi oleh Real Madrid dan Barcelona. Bukan hanya karena berhasil mencetak gol penentu kemenangan, Luis Suarez baru musim ini bergabung dengan Atletico Madrid setelah ‘dibuang’ Barcelona yang menganggapnya terlalu tua. Luis Suarez dengan torehan 21 golnya di pentas La Liga menjadi top skorer klub, setara dengan jumlah gol Llorente (12 gol) dan Correa (9 gol). Gol-golnya pun seringkali menentukan hasil akhir, ada 21 poin yang didapat dari 21 golnya, tertinggi dari pemain manapun di La Liga musim ini. Pun tertinggal jauh dari sahabatnya Leonel Messi (30 gol) yang memperoleh gelar El Pichichi La Liga musim ini, torehan gol Suarez ini sebanding dengan jumlah gol striker Barcelona lain yang lebih muda, yaitu Griezmann (13 gol), Dembele (6 gol), dan Braithwaite (2 gol). Pembuktian yang berkelas. Uniknya, kejadian serupa terjadi 7 tahun lalu ketika David Villa ‘dibuang’ Barcelona ke Atletico Madrid dengan kedatangan Neymar, dan membawa Atletico menjadi juara La Liga di musim pertamanya.

Masih lekat dalam ingatan pula ketika tahun lalu Barcelona dibantai Bayern Munich 2-8 di perempat final Liga Champions. Philippe Coutinho, pemain ‘buangan’ Barcelona yang berstatus pinjaman turut mencatatkan dua gol dan satu assist menghadapi tim yang meminjamkannya, pun baru diturunkan di menit ke-75 sebagai pemain pengganti. Kisah pembuktian ‘mantan’ juga bisa dilihat di Inter Milan yang dihuni beberapa pemain ‘buangan’ Liga Premier Inggris seperti Young, Lukaku, Sanchez, dan Darmian (Manchester United) dan Christian Eriksen (Tottenham Hotspur). MU dan Spurs pun sempat menjadi finalis, mengakhiri musim tanpa piala, sementara Inter Milan menjadi juara Serie A Italia setelah terakhir meraihnya 11 tahun lalu. Pembuktian ‘mantan’ juga bisa dilihat di Liga Champions, dimana Thomas Tuchel yang berhasil membawa PSG memenangkan dua gelar Ligue 1 termasuk domestic quadruple dan mengantarkan final Liga Champions musim lalu, dipecat PSG secara sepihak. Tak lama berselang, Tuchel menjadi pelatih Chelsea dan berhasil menjadi juara Liga Champions hanya dalam waktu 4 bulan masa kepelatihannya. Sementara PSG gagal di semifinal Liga Champions dan harus puas di posisi runnerup Ligue 1.

Pembuktian mereka yang terbuang ini berbeda dengan kasus pindahnya pemain karena ingin memperoleh trofi di klub lain yang dinilainya lebih potensial. Pembuktian mereka yang terbuang ini juga berbeda dengan kasus pindahnya pemain hanya karena urusan uang. Keduanya adalah pilihan pragmatis yang rasional. Tanpa perlu menyebut nama, tidak sedikit pemain yang memilih opsi ini. Mereka tidak benar-benar terbuang, pun sebagian di antara mereka memperoleh cap pengkhianat dari fans klub lamanya. Kalaupun pada akhirnya mereka sukses dengan klub barunya, nuansa pembuktiannya akan sangat berbeda dengan mereka yang pindah karena ‘terpinggirkan’. Emosinya akan berbeda.

Bagaimanapun, ada motivasi kuat setelah ‘diremehkan’. Ada kebahagiaan tersendiri mendapati diri lebih baik dari apa yang orang lain prasangkakan. Di sisi lain, menjadi penyesalan tersendiri bagi mereka yang salah dalam menilai dan membuat keputusan. Walaupun pihak ini biasanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Mengatakan turut berbahagia dengan kesuksesan mereka yang pernah dipinggirkan, pun ada sesak di hati yang tidak bisa diutarakan. Karenanya, menjadi penting untuk mengawal proses perpindahan pemain dengan cara yang baik. Sehingga kesan yang muncul pun baik. Jika pun ternyata pemain yang dilepas memperoleh kesuksesan, pihak klub akan tetap memperoleh kredit positif. Klub hebat yang menyebarkan pemain-pemain hebat. Bukan klub bodoh yang membuang dan menyia-nyiakan talenta hebat. Apalagi dalam dunia sepakbola, yang telah ‘dibuang’ mungkin saja akan ‘dipungut’ lagi di kemudian hari.

Tell me I can’t, then watch me work twice as hard to prove you wrong” (Neymar Jr.)

Pilih Topskor Atau Juara Liga?

Football is a team sport and not an individual sport. We win as a team, and every individual is better if we are part of the team” (Fernando Torres)

Gelaran liga domestik sepakbola Eropa musim 2020/2021 berakhir sudah. Selain Bundesliga dengan Bayern Munich nya, di berbagai liga top Eropa muncul klub juara baru yang mengandaskan juara bertahan. Di Serie A, Inter Milan memutus dominasi Juventus. Di La Liga, Atletico Madrid mengalahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona. Di league 1, Lille berhasil mematahkan dominasi PSG. Di Liga Portugal, Sporting Lisbon sukses mengakhiri dominasi Porto dan Benfica. Dan di setiap liga, sudah tentu ada pencetak gol terbanyak alias top scorer. Menariknya, mengesampingkan Bundesliga dengan Bayern Munich nya, banyak top scorer liga tidak berhasil membawa timnya menjuarai liga.

Cristiano Ronaldo yang merupakan pemain aktif dengan gol terbanyak di dunia, di musim ketiganya bersama Juventus akhirnya berhasil menjadi top scorer Serie A. Di musim perdananya 2018/2019, 21 gol Ronaldo kalah dari Quagliarella (Sampdoria) dan Zapata (Atalanta) yang mencetak 26 dan 23 gol. Di musim 2019/2020, 31 golnya tidak cukup untuk mengalahkan 36 gol Immobile (Lazio). Namun di dua musim sebelumnya, Ronaldo sukses membawa Juventus menjadi juara Serie A, sementara ketika Ronaldo berhasil menjadi top scorer Serie A, Juventus harus puas mengakhiri musim di posisi ke-4. Bahkan jika ditarik lagi ke belakang, terakhir kali top scorer Serie A menjuarai liga terjadi 12 tahun lalu pada musim 2008/2009, saat Ibrahimovic dengan 25 golnya berhasil membawa Inter Milan juara Serie A.

Di pentas La Liga, tanpa Ronaldo, Lionel Messi sukses menjadi top scorer La Liga dalam 5 musim terakhir. Namun torehan 30 golnya hanya mampu membawa Barcelona menutup musim di posisi ke-3, terpaut 7 dan 5 poin dari Atletico Madrid dan Real Madrid. Luis Suarez yang merupakan top skor juara La Liga Atletico Madrid dengan 21 golnya hanya ada di urutan ke-4 daftar top skor La Liga. Kondisi serupa terjadi di Ligue 1. Kylian Mbappe berhasil menjadi top scorer Ligue 1 untuk tiga musim berturut-turut. Namun 27 golnya hanya bisa mengantarkan PSG di posisi runner-up. Padahal jumlah tersebut jauh di atas Burak Yilmaz, top skor juara Ligue 1 Lille yang ‘hanya’ mencetak 16 gol.

Manchester City musim ini begitu dominan di Premier League. Paling banyak mencetak gol, paling sedikit kebobolan, ball possession dan pass accuracy tertinggi, serta sudah memastikan diri sebagai juara Premier League jauh-jauh hari. Namun Manchester City tidak dominan dalam urusan top scorer. Ilkay Gundogan yang merupakan top skor City ‘hanya’ mencetak 13 gol. Kalah jauh dari nama-nama seperi Kane, Salah, dan Fernandes. Bahkan jumlah golnya lebih sedikit dibandingkan Bamford, Son, Calvert-Lewin, Vardy, ataupun Watkins. Kondisi serupa terjadi di Liga Belanda. Ajax Amsterdam begitu mendominasi, paling banyak mencetak gol, paling sedikit kebobolan, ball possession, shot per game dan pass accuracy tertinggi, serta sudah memastikan diri sebagai juara Eredivisie jauh-jauh hari. Namun Dusan Tadic, top skor Ajax dengan 14 golnya hanya ada di peringkat ke-8 daftar top skor bersama Henk Veerman (SC Heerenveen) dan Lennart Thy (Sparta Rotterdam). Sementara top skor Eredivisie justru diperoleh Giakoumakis (26 gol) dari klub VVV-Venlo yang terdegradasi musim ini setelah hanya mencatatkan 6 kemenangan dan 5 laga imbang.

Sudah kerap terjadi, kesuksesan menjadi top skor tidak berbanding lurus dengan keberhasilan menjadi juara liga. Di Liga Champions musim ini pun juga menunjukkan bahwa Erling Haaland dengan 10 golnya berhasil menjadi top skor namun hanya mampu membawa Borussia Dortmund menjejak perempat final Liga Champions. Hal ini dapat dipahami, sosok ‘superman’ dalam tim akan memudahkan lawan membaca pola permainan. Cukup ‘matikan’ saja figur sentral seperti Ronaldo atau Messi. Atau lihat saja betapa tumpulnya Spurs tanpa sosok Kane dan atau Son. Atau bagaimana vitalnya peran Giakoumakis yang mampu mengamankan 18 poin bagi VVV-Venlo di Eredivisie musim ini. Tanpanya, VVV-Venlo akan menyudahi liga hanya dengan 5 poin hasil sekali menang dan dua kali imbang. Faktanya, VVV-Venlo kalah di semua pertandingan Eredivisie ketika Giakoumakis tidak bermain.

Lebih repotnya lagi, ego kerap muncul pada figur sentral ini. Padahal biasanya ‘superman’ ini kerap sudah difasilitasi dalam mengeksekusi penalti ataupun set piece. Kondisi berbeda diperlihatkan finalis liga champions. Tercatat ada 16 pemain Chelsea yang mencetak gol di Premier League, 6 pemain di antaranya terlibat dalam minimal 7 gol. Di Manchester City juga ada 16 pemain yang mencetak gol di Premier League, 8 di antaranya terlibat dalam minimal 8 gol. Relatif merata tanpa ada yang benar-benar menonjol. Rotasi pemain yang kerap dijalankan pun semakin memperlihatkan bahwa kedua finalis ini bermain sebagai tim. Chelsea memiliki 15 pemain yang pernah terpilih sebagai man of the match di laga premier league musim ini, sementara Manchester City ada 12 pemain.

Pada akhirnya, tim yang berorientasi pada ‘superteam’ lebih berpeluang juara dibandingkan tim yang mengandalkan ‘superman’. Gelar individu barangkali bisa diraih para ‘superman’ ini, namun tidak mudah memadukannya dengan gelar tim. Karena ada ego yang harus ditekan, kepercayaan yang perlu ditumbuhkan, dan kelapangan hati yang mesti dihidupkan. Bagaimanapun, satu tim dalam sepakbola terdiri atas 11 pemain, 1 atau 2 pemain sehebat apapun tentu tidak cukup. Para pemain sentral ini sudah memahami hal ini, bahkan tidak jarang menyampaikan statement bahwa yang terpenting adalah kemenangan tim dan bukan rekor pribadi. Sayangnya, kadang-kadang hal tersebut tidak tampak di lapangan. Apalagi mereka juga membawa bebannya sendiri sebagai pemain yang diandalkan. Padahal formulanya sederhana: tim unggul akan melahirkan pemain-pemain unggul, namun pemain unggul belum tentu dapat menghadirkan tim unggul. So, mau jadi ‘superman’ atau ‘superteam’?

No individual can win a game by himself” (Pele)