Beri Aku yang Terbaik

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah : 216)

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab. Kemudian saya tidak hanya meminta kepada Tuhan, saya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya,” HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.” Saya bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.” Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?”

Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”

Kemudian Ia berkata kepada saya, “Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu.” (sumber : anonim)

* * *

Manusia memang punya hasrat, penuh keinginan. Bagi dirinya sendiri, tentu yang terbaiklah yang diharapkan. Termasuk dalam hal jodoh. Baik disini mungkin memang relatif dan tergantung kecenderungan hati seseorang. Seorang teman bercerita bahwa dia pernah tertarik dengan seorang akhwat, kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk berproses. Gayung bersambut, sang akhwatpun menerimanya. Namun memang bukan jodoh, proses mereka terhenti di orang tua akhwat tersebut. Lain waktu, ikhwan tersebut merekomendasikan seorang akhwat kepada temannya. Merekapun berproses, tapi tak lama proses itupun gagal. Dan tanpa direncanakan, kini, ikhwan tersebut telah menikah dengan akhwat yang pernah dia rekomendasikan kepada temannya dengan proses yang begitu dimudahkan.

Lain lagi dengan kisah ikhwan yang menolak dua biodata yang diterimanya karena masih satu organisasi. Ia kemudian hendak berproses dengan akhwat ketiga yang memang tidak dia kenal. Dalam istikharahnya, ternyata akhwat pertamalah yang selalu jadi jawaban. Akhirnya (dengan malu-malu) ia menceritakannya ke murabbinya, menerima sesuatu yang pernah ditolaknya. Kini mereka telah menjadi sepasang suami isteri. Ya, demikianlah Allah menetapkan takdirnya. Jodoh takkan kemana, ia sudah tersedia. Allah dengan ilmu-Nya yang meliputi alam semesta akan memberikan yang paling sesuai dengan kita. Disitulah konsep “sekufu” lahir. Ya, jangan berharap terlalu tinggi jika diri ini masih rendah. Akhirnya, keikhlashan atas segala ketentuan-Nya dapat menjadi penguat untuk terus berusaha menjadi orang yang berazzam untuk dapat lebih baik setiap harinya…

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (Q.S. An Nur : 26)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>