Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya