Daily Archives: July 13, 2010

Menyebut Nikmat, Percaya Diri dan Sombong

Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, berarti tidak bisa mensyukuri yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur dan meninggalkannya adalah kufur. Bersatu akan membawa rahmat dan bercerai-berai akan mendatangkan adzab” (HR Ahmad)

* * *

Akhir pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan Ahmad Fuadi, penulis buku ‘Negeri 5 Menara’. Ia sempat memperlihatkan kisah perjalannya ke 30 negara, sangat inspiratif. Dalam beberapa kesempatan, ia menyampaikan bahwa pemutaran film tersebut merupakan tahadduts binni’mah (menyebut nikmat) semoga dapat memotivasi, sama sekali tidak diniatkan untuk riya’ ataupun takabur. Beberapa hari yang lalu saya menerima SMS dari salah seorang etoser yang mengabarkan bahwa ia baru saja lolos seleksi pertukaran pemuda ke Jepang. Beberapa hari sebelumnya ia juga mengabarkan bahwa ia baru saja terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama se-Sulawesi Selatan dan mohon do’a untuk pemilihan mahasiswa berprestasi nasional. Menariknya, selain selalu didahului dengan salam dan hamdalah, dalam SMS-SMS tersebut berulang kali ia berterima kasih (padahal saya tidak membantu apa – apa) dan mohon maaf atas segala kesalahan (padahal ia tidak salah apa – apa). Sama sekali tidak terlihat adanya kebanggaan telah meraih prestasi yang mungkin hanya dapat diraih oleh segelintir orang.

* * *

Tahadduts binni’mah adalah istilah untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya sehingga ia perlu menceritakan atau memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. Perintah untuk menyebut nikmat ini terdapat pada akhir surah Adh Dhuha “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” yang oleh banyak ulama tafsir dipahami sebagai menyiarkan segala jenis kenikmatan sebagai salah satu perwujudan syukur. Mayoritas ulama salaf menganjurkan untuk menyebut nikmat termasuk memberitahukan kebaikan yang dilakukan jika ia mampu menghindarkan diri dari sifat riya’, ujub dan tidak memunculkan kedengkian serta agar dapat dijadikan contoh oleh orang lain. Namun jika dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang tidak baik, maka menyembunyikan nikmat bukan termasuk sikap kufur nikmat. Hasan al Bashripun pernah berpesan, “Perbanyaklah oleh kalian menyebut-nyebut nikmat, karena sesungguhnya menyebut-nyebutnya sama dengan mensyukurinya.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian lusuh, kumal dan berpenampilan memprihatinkan. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (HR. Baihaqi). Ungkapan syukur dengan menyebut nikmat, erat kaitannya dengan kepercayaan diri seseorang. Orang yang percaya diri akan lebih mudah untuk menceritakan kebahagiaan dan kenikmatan yang dirasakannya kepada orang lain sehingga semakin meningkatkan rasa percaya dirinya sekaligus menginspirasi orang lain. Lalu apa bedanya dengan narsis dan sombong?

Kepercayaan diri lebih menekankan pada keyakinan atas kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif, termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas keputusan atau pendapatnya. Sedangkan sombong menurut KBBI adalah menghargai diri secara berlebihan yang bersinonim dengan congkak (merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya, dsb)) dan angkuh (sifat suka memandang rendah kepada orang lain). Sombong, biasa disebut juga tinggi hati yang merupakan lawan dari rendah hati, berbeda dengan percaya diri yang identik kebalikan dari rendah diri (dalam konteks kepada makhluk, bukan khalik tentunya).

Sombong dalam definisi Rasulullah SAW adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran (HR. Muslim dan Turmidzi). Dan jika menilik dari beberapa dalil, diantaranya “Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” (QS. An Naml : 31) atau “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, sehingga tidak ada seorang pun menganiaya orang lain dan tidak ada yang bersikap sombong terhadap orang lain.” (HR. Muslim) maka jelas terlihat bahwa sombong identik dengan membandingkan atau bersifat komparatif. Narsis adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan dan merupakan salah satu bentuk kesombongan. Spencer A Rathus dan Jeffrey S. Nevid menyebutkan dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000) bahwa orang yang narsis memandang dirinya secara berlebihan, gemar menyombongkan diri dan berharap orang lain memberikan pujian, senang menunjukkan kelebihannya dan khawatir jika kekurangannya diketahui orang lain. Karenanya menyebut nikmat yang sejatinya meninggikan Sang Pemberi Nikmat tidak sama dengan sombong. Karenanya percaya diri yang esensinya meyakini bahwa dirinya memiliki potensi yang diberikan oleh Allah dengan tetap mengakui potensi yang pasti juga dimiliki orang lain berbeda dengan angkuh.

Menyebut nikmat sebagai bentuk dari rasa syukur akan melipatgandakan nikmat dan meningkatkan kepercayaan diri namun tetap rendah hati karena menyadari bahwa segala nikmat termasuk semua kelebihan diri adalah pemberian Allah yang pada hakikatnya adalah kecil di hadapan Allah. Rasa syukur yang mendalam akan meningkatkan kepercayaan diri karena syukur dibuktikan dengan mengoptimalkan segala nikmat yang telah Allah berikan, termasuk memiliki impian yang tinggi dan memiliki keyakinan kuat untuk dapat meraihnya. Syukur nikmatpun akan lebih teruji ketika kita berani melangkah, berani bertanggung jawab, berani mengambil resiko dan berani mengambil keputusan. Dan itulah kepercayaan diri yang energi positifnya dapat menular ke orang lain, diantaranya dengan men-sharenya kepada orang lain.

Pun demikian kita perlu berhati – hati karena menyebut nikmat tidak semata – mata urusan lisan, tetapi juga urusan hati. Dan ujian terhadap hati seringkali halus sekali. Ketika kepercayaan diri menggiring yang bersangkutan untuk membicarakan kejelekan orang lain atau tidak menghargai (karya) orang lain dan tidak mau diingatkan (menerima kebenaran) maka sangat dimungkinkan akan terjerumus pada sikap sombong. Kemudian jika seseorang yang menyebut nikmat atau memiliki kepercayaan diri yang tinggi memposisikan dirinya sebagai objek, merisaukan penilaian orang lain dan terjebak pada hal fisik, maka yang bersangkutan sangat rentan tergolong orang yang narsis. Dan akhirnya, jika sudah berbicara hati memang menjadi urusan pribadi seorang hamba dengan Rabb-nya. Kita hanya dapat berupaya untuk meningkatkan syukur kita, mengoptimalkan potensi kita, terbuka terhadap kebenaran, berskap rendah hati dan menyadari bahwa segala kelebihan yang diberikan Allah adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan untuk dibanggakan.

* * *

Ada tiga perkara yang membinasakan yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri” (HR. Ath-Thabrani)

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Sejatinya pengingatan untuk diri sendiri… T_T