Jodoh yang Sempurna

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. An Nur : 26)

* * *

 

Beberapa tahun lalu, seorang ’adik’ bertanya kepadaku tentang maksud ayat di atas. Apakah menutup kemungkinan seseorang yang belum baik memperoleh seseorang yang jauh lebih baik (untuk kemudian membantunya menjadi lebih baik)? Lalu bagaimana dengan realita bahwa juga tidak sedikit laki – laki ’hebat’ yang menikah dengan wanita yang ’biasa – biasa saja’, dan sebaliknya? Bagaimana pula penjelasan tentang pernikahan antara dua orang yang tidak ’sekufu’ karena perjodohan? Lalu,apakah jodoh itu proses atau hasil? Sejujurnya, aku kesulitan menanggapinya, yang dapat kusampaikan hanyalah asbabun nuzul ayat di atas yang terkait fitnah besar yang menimpa pernikahan Rasulullah SAW. Sedangkan untuk jodoh sendiri, entahlah, aku merasakan banyak rahasia di dalamnya dan ada dominasi kehendak Allah dalam hal ini, termasuk tentang kesesuaian dalam perspektif kita yang mungkin berbeda dalam perspektif Allah.

Ada satu cerpen yang kuingat dalam buku paket Bahasa Indonesia SMA terbitan Depdiknas, judulnya ”Jodoh yang Sempurna”. Dalam cerpen yang pernah masuk menjadi salah satu soal Ebtanas ini diceritakan tentang seorang laki-laki yang mencari pasangan hidup yang sempurna baginya ke biro jodoh. Dari 110 juta wanita, komputerpun memilihkan seorang wanita yang sangat cocok dengan dirinya. Mereka memiliki banyak kesamaan, mulai dari hobi, karakter, jumlah anak yang diinginkan, pendidikan untuk anak, pakaian, tempat tinggal, makanan dan jenis musik favorit, dan berbagai kesamaan lainnya. Merekapun menikah dan sepertinya semuanya akan berakhir bahagia. Namun di akhir cerpen terjemahan karya Stephen Makler dengan judul asli ’The Perfect Match’ tersebut, dikisahkan ternyata mereka bercerai karena pernikahannya telalu ’sempurna’, tidak ada perbedaan pendapat apalagi pertengkaran karena banyaknya kesamaan mereka. Pernikahanpun jadi membosankan dan tidak dapat dipertahankan.

Mencari yang Sempurna?
Penulis pernah membaca sebuah artikel yang bercerita tentang seorang lelaki yang sedang berusaha mencari pasangan hidup yang sempurna, kesempurnaan yang mungkin dapat direpresentasikan sebagai cantik, cerdas, kaya, keturunan ningrat dan berakhlak mulia. Beberapa wanita sudah coba didekatinya, namun belum ada yang sesuai dengan kriterianya karena selalu ada kekurangannya. Suatu ketika, ia menemukan wanita idamannya yang memiliki syarat kesempurnaan yang didambakan. Lelaki itupun mengutarakan isi hatinya, termasuk upayanya mencari wanita yang sempurna. Namun, apa jawaban dari wanita tersebut? ”Mohon maaf, saya tidak dapat menerima permintaan Anda, karena saya juga sedang mengidam-idamkan seorang lelaki yang sempurna”.

Ada artikel serupa yang sempat penulis muat dalam tulisan ’Berikan Aku yang Terbaik’, tentang seseorang yang berdo’a kepada Tuhan untuk memberikannya pasangan. Tuhan menjawab, ”Engkau tidak memiliki pasangan karena kau tidak memintanya”. Kemudian orang itu tidak hanya berdo’a, tetapi juga menjelaskan kriteria pasangan yang diinginkan : baik hati, lembut, pemaaf, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh perhatian dan pengertian, pintar, humoris hingga kriteria fisik. Seiring berjalannya waktu, daftar kriteria itupun bertambah. Hingga suatu malam ketika ia berdo’a, dalam hatinya Tuhan berkata, ”Hamba-Ku, Aku tak dapat memberikan apa yang kau inginkan karena Aku adalah Tuhan Yang Maha Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh cinta kasih kepadamu padahal terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang pemaaf tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam…”.

Tuhan melanjutkan, ”Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang kau cari selama ini daripada membuat kau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulang dan dagingmu, dan kau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana kau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu. Boleh jadi kamu membenci dan tidak suka sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi kamu mencintai dan sangat mendambakan sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Aku Maha Mengetahui sedangkan kau tidak mengetahui. Sabarlah, Aku Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Ku”

Sempurna dalam Ketidaksempurnaan
Berbicara tentang kesempurnaan, sebenarnya Allah telah menciptakan manusia dengan sempurna dan memuliakannya dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain. Namun, nafsu yang menggiring kepada kemaksiatan dan pemahaman yang keliru tentang kesempurnaan itulah yang membuat manusia tak lagi sempurna. Dan karena tidak ada manusia yang tak pernah berdosa maka tidak ada manusia yang sempurna. Jika ada seseorang yang merasa dirinya sudah sempurna, disitu saja ia sejatinya sudah menunjukkan ketidaksempurnaannya. Karenanya pula, memutuskan untuk mencari pasangan yang sempurna sama halnya dengan memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.

Ketidaksempurnan kondisi ini bukan berarti manusia hanya cukup mencari pasangan yang jauh dari sempurna atau bahkan sekedar pasrah menunggu jodoh seadanya. Tidak mencari yang sempurna, bukan berarti tidak mencari yang baik dan tepat. Dalam do’a istikharah, Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk memohon kepada Allah agar memilihkan yang terbaik untuk diri, agama dan urusan kita ke depannya, bukan memilihkan yang sempurna. Baik bukan berarti sempurna, namun sempurnapun belum tentu baik. Ketika sesuatu yang sempurna sangat sulit ditemukan, sesuatu yang baik biasanya dapat ditemukan di tempat yang baik dengan cara yang baik pula. Ketika kesempurnaan hanya layak disandang oleh Yang Maha Sempurna, sesuatu yang baikpun layak diperoleh mereka yang baik.

Manusia memang memiliki hasrat dan penuh keinginan. Bagi dirinya sendiri, tentu yang terbaiklah yang diharapkan, termasuk dalam hal jodoh. Allah menghendaki kita untuk mencari dan menemukan jodoh terbaik dengan usaha terbaik. Dan hal yang tidak boleh dilupakan untuk mendapatkan yang terbaik adalah dengan terus memperbaiki diri. Tawakkal setelah berikhtiar yang terbaik, akan menghasilkan keikhlashan sehingga apapun hasilnya akan dipandang sebagai yang terbaik. Prasangka baik kepada Allah atas segala ketetapan-Nya, akan membuka pintu kebaikan selanjutnya. Hasil dari proses itu kemudian disikapi dengan baik, limpahan kebaikanpun akan terus mengalir.

Kehidupan hakikatnya adalah serangkaian proses pendewasaan, berbagai ketidaksempurnaan sejatinya merupakan pembelajaran. Kekurangan, kesalahan, kelemahan dan berbagai ketidaksempurnaan memang perlu ada untuk kehidupan yang lebih baik. Apa lagi yang dapat diperbaiki dari sesuatu yang sempurna? Karenanya, penyikapan yang baik terhadap ketidaksempurnaan, dibantu oleh sesuatu (atau seseorang) yang baik dan tepat –pun mungkin tidak sempurna– akan terus mengarahkan proses perbaikan menuju kesempurnaan. Hingga pada masanya nanti, kesempurnaan dapat tercipta melalui proses yang baik dari komponen – komponen penyusunnya yang tidak sempurna…

* * *

“Ya Allah… Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu…”

Wallahu a’lam bishawwab
Ps. Mari bertumbuh bersama… ^_^

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>