Monthly Archives: April 2012

Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Bebas dengan Media Musik Instrumental

 

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN MUSIK INSTRUMENTAL PADA SISWA KELAS VB SEMESTER II SDIT BIRRUL WAALIDAIN, TAHUN PELAJARAN 2011/ 20121

Dasnah
Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Angkatan III
Email: anadasnah@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan mendeskripsikan hasil peningkatan kemampuan menulis puisi bebas pada siswa kelas VB Semester II SDIT Birrul Waalidain, Tahun Pelajaran 2011/ 2012 setelah menerapkan media pembelajaran berupa musik intrumental. Data observasi siswa dianalisis secara kualitatif menggunakan lembar observasi keaktifan siswa dan guru. Hasil menulis puisi bebas siswa, dianalisis secara kuantitatif menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan media pembelajaran musik instrumental dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa kelas VB Semester II SD IT Birrul Waalidain. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil dari 68,12% di siklus I menjadi 80, 23% di siklus II. Peningkatan kemampuan menulis puisi bebas siswa dapat terlihat, baik dalam proses belajar mengajar maupun melalui hasil karya menulis puisi bebas oleh masing-masing siswa. Pada tahap evaluasi, hasil tes siswa yang telah dievaluasi oleh observer, teman sejawat, dan peneliti menunjukkan adanya peningkatan bagi proses belajar menulis puisi bebas melalui media pembelajaran musik instrumental pada siswa kelas VB semester II SD IT Birrul Waalidain.

Kata Kunci: Keterampilan menulis, puisi bebas, media pembelajaran musik instrumental, karya siswa.

ABSTRACT

This Classroom Action Research (CAR) aims to describe the increasing in the ability to write free poem  of students semester II of SDIT Birrul Waalidain at VB class after applying instrumental music medium. Student observation data were analyzed qualitatively using the observation sheet activeness of students and teachers. The results of the students free poem, were analyzed quantitatively using descriptive analysis. Based on the results of data analysis and discussion, it can be concluded that the application of instrumental music can improve students’ ability to write free poem. This is indicated by an increase from cycle I to cycle II. The results obtained from the cycle I is 68.12% and cycle II is 80, 23%. Increased ability to write free poem can be seen, both in teaching and learning process and through the work of writing free poem by each student. In the evaluation phase, the test results of students who have been evaluated by the observers, peers and the researchers showed an increase for the teaching of writing free poem through the instrumental music medium in the semester II students of SD IT Birrul Waalidain.

Keywords: writing skills, free poem, instrumental music medium, students’ work.

Download jurnal disini

Pendidikan Ala Bang Maman

Bang Maman dari Kali Pasir tiba-tiba saja terkenal setelah meminta bantuan Patme berpura-pura sebagai istri simpanan Salim, menantunya, agar bercerai dengan Ijah, anaknya. Padahal Bang Maman hanyalah seorang tokoh fiksi dalam buku pelajaran muatan lokal “Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta” (PLBJ) kelas 2 SD. Adalah istilah ‘istri simpanan’ yang menjadi sumber kehebohan karena dinilai kurang pantas untuk dikenalkan ke siswa kelas 2 SD dan mengaburkan nilai budaya Jakarta. Mendiknas ikut heboh dan (seperti biasa) segera membentuk tim khusus, padahal Pak Akim, wali kelas 2C SD Angkasa IX –sekolah dimana kasus kisah Bang Maman mencuat– malah berani memastikan kalau cerita Bang Maman hanyalah cerita rakyat biasa yang mengandung nilai moral yang perlu diajarkan ke murid.

Ironis, apa yang dikatakan Pak Akim tidak salah, kisah “Bang Maman dari Kali Pasir” bukanlah hal yang luar biasa. Jika “istri simpanan” dianggap kurang pantas, apa lantas cerita rakyat Sangkuriang yang hendak menikahi ibu kandungnya dinilai pantas? Belum lagi kisah Jaka Tarub yang mencuri pakaian bidadari yang sedang mandi. Kisah Bang Maman mungkin memang kurang mendidik, tetapi jangan salah, kisah “Si Angkri” yang dimuat di buku PLBJ kelas I SD bisa jadi lebih kurang mendidik. “Mengenal Cerita Si Angkri” bukan hanya bercerita tentang golok dan dendam, namun juga memuat pembunuh bayaran, darah dan siasat rayuan gadis yang mencuci di sungai. Dan baik “Bang Maman” maupun “Si Angkri” dibuat berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Muatan Lokal DKI Jakarta. Dan ketika kejahatan, kekerasan dan seksualitas sudah mengisi bacaan anak kelas 1 SD di sekolah, mau jadi apa generasi muda bangsa ini?

Istilah (istri) “simpanan” sebenarnya juga tidak benar-benar baru dalam dunia anak-anak. Lihat saja iklan P*n* Ice Cup yang sudah cukup lama tayang di televisi. Sang anak yang baru merayakan ulang tahun menyampaikan kepada papanya bahwa mamanya punya “simpanan” dan serta merta membuat Sang Mama bingung dan salah tingkah. Terlepas dari yang dimaksud “simpanan” oleh anak tersebut adalah produk yang diiklankan, jika dilihat aspek kepatutan, rasanya iklan tersebut kurang pantas. Dan jika berbicara tentang iklan dan tontonan di televisi, kita akan banyak sekali menyaksikan ketidakpantasan yang sepertinya sudah banyak dimaklumi. Ya, berbagai ketidakpantasan sudah menjadi hal yang biasa, bahkan di mata orang tua dan pendidik. Pendidikan di negeri ini belum cukup tegas dalam menyaring ketidakpatutan.

Mungkin terlalu berlebihan jika penulis sampaikan bahwa sistem pendidikan anak di negeri ini justru menghasilkan generasi anak-anak kecil yang miris, “Bang Maman dari Kali Pasir” hanya kasus kecil. Pun terkesan menggeneralisir, namun seyogyanya kita introspeksi mengenai pendidikan anak-anak kita. Dua bulan lalu, seorang anak SD di Depok nyaris membunuh temannya dengan 8 tikaman pisau hanya karena diadukan mencuri HP. Tidak hanya ditikam, teman sekelasnya yang dikiranya sudah tewas dengan usus terburai tersebut dibuangnya di selokan. Beberapa bulan sebelumnya, 2 siswa SMP membunuh temannya hanya gara-gara saling ejek ketika bermain game online. Ada lagi kasus anak SD yang memperkosa teman sepermainannya. Atau puluhan siswa SD di Bekasi yang kedapatan mengonsumsi rokok, ganja dan permen yang mengandung zat aditif serta mabok menghirup lem. Belum lagi berbagai kasus bunuh diri siswa dan bullying yang dilakukan siswa sekolah, bahkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar.

Berbagai kasus tersebut mungkin hanya segelintir namun seperti fenomena gunung es. Masih ada siswa yang ‘membanggakan’ kok. Lihat saja Al, siswa SD cerdas yang dipaksa gurunya memberikan contekan kepada seluruh temannya. Ibunya, Ny. Siami, yang mencoba mengajarkan kejujuran kepada anaknya dengan melaporkan contek massal tersebut justru didemo dan diusir warga karena dianggap mencemarkan nama baik masyarakat dan sekolah. Sekolah yang sakit dan masyarakat yang sakit akan menghasilkan generasi muda yang sakit. Hukum yang sakit membuatnya semakin sempurna. Hukuman bagi anak di bawah umur yang melakukan kejahatan hanyalah dikembalikan kepada orang tua mereka, yang terbukti gagal mendidik anak.

Kembali ke Bang Maman, seharusnya berbagai pihak menyadari bahwa permasalahan pendidikan anak di Indonesia bukan hanya sebatas cerita di buku ajar. Dongeng anak seharusnya penuh dengan nilai moral positif, bukan dendam dan kelicikan. Cerita anak seharusnya memuat lebih banyak kisah kepahlawanan, bukan kebencian dan permusuhan. Jangan biarkan impian dan moral anak rusak dari awal, biarlah waktu dan perkembangan fase kehidupan yang akan mengajarkan anak tentang realita. Bijak menghadapi kenyataan dalam kerangka positif. Nilai-nilai positif dalam pendidikan anak di keluarga ini kemudian harus didukung dengan persemaian nilai-nilai positif di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Hal yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan anak adalah pemanfaatan media dengan tepat. Saat ini terlalu banyak bacaan dan tontonan tidak mendidik yang disajikan demi keuntungan materi. Kekerasan fisik, verbal dan psikologis mengisi ruang-ruang visual anak yang kemudian menganggapnya biasa. Kata-kata kotor dan melecehkan mulai menghiasi lisan anak-anak kita. Sikap tidak beretika dan tidak sesuai norma hasil meneladani tokoh fiksi di komik, TV, game online ataupun internet semakin dianggap wajar. Mengutiip perkataan Prof. Robert Billingham, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu di luar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”.

Pendidikan ala Bang Maman mengajarkan bahwa anak adalah aset untuk memperoleh kekayaan dunia. Karenanya, Ijah dinikahkan dengan Salim yang kaya raya dan diminta untuk cerai ketika Salim jatuh miskin. Pendidikan anak yang benar akan memandang anak lebih dari sekedar aset yang tidak dapat diukur dengan materi. Karenanya mengherankan jika ada orang tua yang senantiasa menyediakan waktu untuk rapat dengan klien, sementara untuk anak hanya diberikan waktu sisa, jika pun ada. Atau orang tua yang selalu siap mendengarkan keluhan pelanggan, sementara ungkapan anak-anak mereka diabaikan begitu saja. Pendidikan ala Bang Maman mengajarkan untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, selicik apapun. Pendidikan yang benar akan mengajarkan cara yang benar untuk mencapai tujuan yang benar.

Tantangan pendidikan anak di era informasi ini jelas tidak dapat disamakan dengan kondisi tiga dasawarsa lalu, orang tua dan pendidik mesti menyadarinya. Anak-anak di zaman ini cenderung lebih banyak melihat, mendengar, merasakan, mengetahui dan melakukan hal-hal yang bahkan mungkin tidak terbayangkan oleh anak-anak di masa sebelumnya. Grand design pendidikan anak bangsa sudah tentu harus cepat beradaptasi dan terus berkembang. Pun demikian, ada dua hal yang tidak berubah dalam pendidikan anak : keteladanan orang tua dan perhatian yang diberikan. Jangan salahkan anak yang tidak ramah, jika orang tua jarang bertemu muka dengan anaknya. Jangan salahkan anak yang tidak dapat mengendalikan emosi, jika orang tua kerap bertengkar di hadapan anak. Jangan harap anak bisa punya integritas, jika orang tua tidak konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Jangan harap anak akan terbuka dengan masalah yang dialaminya, jika orang tua tidak menyempatkan waktu untuk bercengkrama dengan anaknya. Dan ketika anak-anak hanya belajar dari buku tanpa ditemani atau belajar dari televisi tanpa didampingi, bersiaplah kehilangan anak yang punya jati diri.

Bila seorang anak hidup dengan kritik, ia akan belajar menghukum. Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan. Bila seorang anak hidup dengan olokan, ia belajar menjadi malu. Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah. Bila seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Bila seorang anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjalankan keadilan. Bila seorang anak hidup dengan ketentraman, ia belajar tentang iman. Bila seorang anak hidup dengan dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri. Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar untuk mencintai dunia.” (Dorothy Law Nolte)

Belajar Menata Barisan dari Masjid Islamic Village

“Luruskan shaf-shaf, karena sesungguhnya kalian berbaris sebagaimana barisannya para malaikat. Dan sejajarkan di antara bahu-bahu, isilah kekosongan, dan hendaklah kalian memberikan kesempatan orang lain untuk ikut masuk dalam shaf, dan janganlah kalian meninggalkan celah-celah untuk syaitan, barangsiapa yang menyambungkan shaf maka Allah akan menyambungkannya. Dan barangsiapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i)

Ada yang menarik dari kunjungan keduaku ke Institut Kemandirian di daerah Karawaci 9 Maret lalu. Kunjungan yang bertepatan dengan hari Jum’at tersebut mengantarkanku ke suatu masjid bercorak Timur Tengah di kawasan Islamic Village. Kawasan ini merupakan daerah khusus muslim, dimana semua orang yang beraktivitas di dalamnya beragama Islam, termasuk guru dan siswa di sekolah, dokter dan perawat di rumah sakit, petugas keamanan hingga para pedagang yang berkeliaran di kawasan tersebut beragama Islam. Siang itu, masjid ramai dikunjungi kaum muslimin yang hendak menunaikan shalat Jum’at. Suasana cukup tenang, tidak hiruk pikuk dan khatib Jum’at sangat bersemangat dalam menyampaikan khutbahnya. Namun bukan komunitas muslim ataupun isi khutbah yang menarik perhatianku di Jum’at siang tersebut.

Adalah seorang berbadan besar dan berkulit hitam yang menarik perhatian siapapun yang baru pertama kali shalat Jum’at (dan tidak tidur ketika khutbah Jum’at) disana. Di saat jama’ah lainnya khusyu’ (atau setidaknya terlihat demikian), orang yang nampaknya dari Indonesia Timur ini justru berjalan berkeliling masjid. Melewati bahu para jama’ah ketika khutbah Jum’at tengah berlangsung. Sangat mengundang perhatian, mengingat sedemikian pentingnya mendengarkan khutbah Jum’at sebagai salah satu rukun shalat Jum’at. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela)” (HR. Muslim). Jangankan berjalan-jalan, memainkan jari yang dapat mengganggu konsentrasi dalam mendengarkan khutbah saja tidak diperkenankan.

Namun tentunya bukan tanpa alasan orang ini berjalan-jalan di tengah khutbah Jum’at, dari shaf depan terus menyisir dari tepi shaf ke tepi shaf lainnya dan terus ke shaf di belakang. Ya, orang ini merapihkan shaf. Dia berdiri melihat shaf yang kosong, menghampirinya, kemudian dengan isyarat tangan menyuruh jama’ah di belakang shaf kosong tersebut untuk mengisinya. Ada pula jama’ah yang langsung ditarik bahunya atau ditepuk punggungnya untuk menegaskan perintahnya. Kadang tanpa berbicara, ia langsung mengambil sajadah jama’ah di belakang shaf kosong dan memindahkannya ke shaf yang masih kosong sebagai bentuk ‘perintah’ bagi para jama’ah untuk merapihkan dan merapatkan shaf. Walaupun beberapa orang jama’ah tampak terkejut, namun tidak ada yang marah dan membantahnya, bahkan secara otomatis shaf-shaf di belakangnya akan merapat ke depan. Di lain kesempatan, ada satu shaf yang sebenarnya sudah rapat, namun tidak lurus, ada yang terlalu ke depan, ada yang terlalu ke belakang. Pemerhati shaf ini kemudian bertepuk dan (lagi-lagi) dengan isyarat tangan meminta para jama’ah untuk meluruskan shaf. Para jama’ah, termasuk yang sedang ‘khusyu’ tertidur segera meluruskan shafnya.

Rasulullah SAW berkali-kali menyampaikan pentingnya merapihkan dan meluruskan shaf dalam berbagai kesempatan. Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik r.a. yang diriwayatkan oleh banyak ahli hadits disebutkan bahwa lurus dan rapihnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat. Dalam berbagai riwayat lain disebutkan bahwa shaf yang renggang akan membuka celah bagi syaithan untuk mengisinya. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menutup kekosongan shaf, Allah akan mengangkat derajatnya dengan hal tersebut dan akan dibangunkan sebuah istana di surga untuknya” (HR. Abu Daud). Secara maknawi, kerapihan shaf akan mencerminkan kekuatan kaum muslimin. Lurus dan rapatnya shaf berbanding lurus dengan eratnya ikatan ukhuwah, tidak terhalang perbedaan strata sosial, ekonomi ataupun pendidikan.

Penulis tentunya tidak membenarkan aktivitas yang dapat mengalihkan jama’ah dari menyimak khutbah Jum’at. Mengedarkan kotak amal ketika khutbah berlangsung saja sebenarnya kurang tepat, apalagi orang ‘berkeliaran’ di antara para jama’ah. Namun Jum’at itu pelajaran dari ‘pemerhati shaf’ terasa lebih berkesan dibandingkan khutbah Jum’at mengenai berprasangka baik kepada Allah SWT saat menghadapi ujian dan musibah termasuk dalam menghadapi rencana kenaikan harga BBM. Prasangka baik itu pula yang membuat penulis berpikir bahwa memang perlu ada orang yang senantiasa mengingatkan untuk merapatkan dan meluruskan shaf. Mengajak kepada kebaikan kecil yang bisa jadi besar nilainya di mata Allah SWT. Orang hitam itu mengingatkan penulis akan sosok Bilal r.a. yang suara terompahnya sudah terdengar di surga karena menjaga wudhu dan shalat wudhunya. Amal yang mungkin terkesan sederhana namun menjadi amal unggulan yang mengantarkannya ke surga. Ya, shalat Jum’at di Masjid Islamic Village mengajarkan penulis untuk melakukan amal-amal sederhana yang penuh keutamaan, misalnya merapihkan dan merapatkan shaf.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di Jalan-Nya dalam barisan yang teratur, laksana bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash Shaff : 4)