Daily Archives: May 31, 2012

Guru, Wajah Pendidikan Indonesia

“Menggandeng tangan, membuka pikiran, menyentuh hati, membentuk masa depan. Seorang guru berpengaruh selamanya, dia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir” (Henry Adam)

Adalah Pak Saroji, guru kelas 6 SD berwajah tirus dengan dahi yang memperlihatkan kecerdasannya datang ke rumahku. Besok adalah deadline pendaftaran masuk SMP dan nampaknya beliau kurang puas dengan pilihanku yang memang hanya berorientasi ‘biar ada teman’. Beliau mencoba meyakinkanku dan orang tuaku bahwa aku seharusnya memilih sekolah yang lebih berkualitas, walau mungkin tak ada teman SD yang menemani karena NEMku terpaut jauh dengan siswa lainnya. Tersanjung juga atas perhatian beliau, apalagi beliau jauh-jauh datang di luar jam sekolah dengan motor tuanya. Akhirnya aku pun mengikuti saran beliau yang di kemudian hari mengantarkanku ke SMA dan PTN favorit. Beda lagi kenangan dengan guru kelas 4 SD yang berdandan menor dengan pakaian seksi. Ketika pembagian raport catur wulan pertama, beliau menyampaikan “Purwo cawu ini ranking 1, cawu depan gantian ya?”. Aku bingung, ada ya guru kayak gini, bukannya memotivasi dan mengapresiasi. Benar saja, catur wulan berikutnya aku ranking 2, rivalku dari kelas 1 SD bahkan sempat stress karena keluar dari 3 besar sementara yang rangking 1 hanyalah siswi biasa dari keluarga kaya raya yang kerap memberikan hadiah bagi ibu gurunya. Kelas 5 aku pindah sekolah dan bertemu dengan guru-guru baik hati seperti Pak Rusdi dan Pak Saroji. Beberapa tahun kemudian, aku dapat informasi bahwa guru kelas 4 tersebut sudah dikeluarkan karena tertangkap basah selingkuh dengan anak dari kepala sekolah. Astaghfirullah…

Guru, mungkin merupakan sosok yang berkesan, berpengaruh dan berjasa di samping orang tua kita. Masih jelas teringat guru kelas 1 SD yang sangat sabar, guru SMP dan SMA yang dibuat menangis karena kelakuanku, guru yang sering memberikan apresiasi ataupun guru yang kerap menghukum. Dan hampir semua guru-guru itu tetap menjadi guru, entah apa motivasinya. Profesi guru di Indonesia jelas tidak menjanjikan penghasilan tinggi tetapi posisinya tetap terhormat di masyarakat. Guru juga kurang diberi kesempatan untuk pergi ke luar pulau atau negara, namun keberadaannya tetap saja menebar manfaat. Kadang ada yang menjadi guru karena tidak ada pilihan, namun banyak yang memilih untuk menjadi guru sebagai bentuk pengabdian. Motivasi untuk membuat seseorang menjadi lebih tahu inilah yang membuat profesi guru tidak henti digemari. Keinginan untuk melihat senyum anak Indonesia inilah yang menjelaskan bagaimana seorang guru rela berjalan jauh melewati jalan yang tidak nyaman hanya untuk berinteraksi dengan para siswanya.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Maraknya tawuran, narkoba dan pergaulan bebas di kalangan pelajar jelas tidak terlepas dari peran guru. Berbagai kasus ketidaksopanan pelajar, bullying hingga tindak kriminal mencerminkan bahwa pendidikan Indonesia masih menghasilkan lulusan yang kurang berkarakter. Sekolah bukannya menjadi tempat pembenahan moral justru menjadi penyemai nilai-nilai negatif dalam interaksi sosial. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Oknum guru bukannya memberi contoh, justru melakukan perbuatan tak bermoral, mulai dari kekerasan, tindakan asusila hingga mengajarkan ketidakjujuran bagi para peserta didiknya. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia berkarakter, perbaiki dulu karakter para gurunya.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Kemiskinan masih menjadi masalah besar di negeri ini. Angka kemiskinan versi pemerintah yang terus menurun dan pendapatan per kapita yang semakin tinggi justru menunjukkan ketimpangan kian terjadi. Kemiskinan dan kesenjangan ini juga berdampak ke dunia pendidikan. Banyaknya sekolah rusak, minimnya fasilitas dan sulitnya akses memperoleh pendidikan mewarnai wajah pendidikan Indonesia, namun bisa jadi tidak terjadi di kota-kota besar. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan guru, terlalu mewah malah dengan rasio guru:siswa = 1:18, lebih tinggi bahkan dari USA sekalipun. Namun jumlah guru yang lebih dari 2,6 juta ini terpusat secara kuantitas dan kualitas di kota-kota besar. Alhasil, mencari guru di daerah pelosok tetap saja sulit, apalagi mencari guru yang berkualitas. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia jauh dari ketimpangan, persebaran guru (berkualitas) harus lebih merata.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih jauh tertinggal, padahal prestasi anak bangsa tidak henti-hentinya ditorehkan. Jelas ada masalah dalam pengelolaan pendidikan sehingga gagal menghasilkan manusia yang berkualitas unggul. SDM yang jujur dimusuhi, SDM yang hendak mengabdi tidak diapresiasi, SDM yang pintar malah membodohi, SDM yang opurtunis malah diikuti. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Hasil pengujian Depdiknas 2007/ 2008 yang dimuat di Kompas bulan Oktober 2009 menyebutkan bahwa 77,85% guru SD di Indonesia tak layak jadi guru. Jika ukuran kelayakan sebatas harus lulus S1 mungkin masih bisa diperdebatkan, namun nyatanya tidak sedikit guru yang mengutamakan bisnis dan keperluannya daripada hadir tepat waktu di kelas. Ada guru yang merasa paling benar, bangga ketika ditakuti, ada juga guru yang tidak dianggap oleh siswanya. Sertifikasi juga tidak serta merta menunjukkan kualitas seorang guru, karena selembar sertifikasi bisa dibeli, namun tidak dengan kualitas mengajar. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia menghasilkan SDM yang berkualitas, proses menghasilkan guru yang berkualitas perlu benar-benar diperhatikan.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Pelajar sibuk dengan dunia khayal, mulai dari menonton acara TV yang tidak mendidik, asyik dengan situs pertemanan dan game online, hingga mengidolakan figur publik atau tim tertentu tanpa meneladani proses yang membuatnya besar. Instansi pendidikan beramai-ramai menjual mimpi dengan harga yang fantastis, visi mencerdaskan kehidupan bangsa pun kian jauh api dari asap. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Oknum guru menjual impian, oknum guru sibuk dengan dunianya kala mengajar. Budaya produktif tidak berkembang, malas membaca, malas menulis, malas mengajar. Ada juga guru yang tidak datang mengajar namun tetap lolos sertifikasi, bahkan ada guru yang sudah berhenti belajar sehingga yang disampaikan setiap tahun itu-itu saja. Jika ingin wajah pendidikan indonesia lebih kaya dengan karya, produktivitas guru menjadi keniscayaan untuk ditingkatkan.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Wajah pendidikan yang saat ini mulai tersenyum. Anggaran pendidikan semakin besar, banyak sekolah yang dibangun dan diperbaiki, biaya pendidikan mulai digratiskan, beasiswa banyak bertebaran. Guru pun mulai tersenyum, sudah ada upaya peningkatan kesejahteraan mereka, berbagai program pengembangan guru mulai bergulir. Entah kapan wajah pendidikan itu tertawa bahagia. Ketika semua warga negara memperoleh hak pendidikannya, ketika fasilitas pendidikan terpenuhi di penjuru Indonesia, ketika kualitas SDM dan pendidikan Indonesia sejajar dengan Finlandia.

Bagaimanapun, guru akan sangat menentukan wajah (pendidikan) Indonesia. Tahun 2030 nanti ketika piramida penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif, kontribusi guru hari ini lah yang akan menentukan kualitas SDM pada saat itu. Ada tiga syarat suatu bangsa menjadi maju, yaitu kemandirian bangsa yang tinggi, daya saing yang juga harus tinggi, serta kemampuan membangun peradaban yang unggul dan mulia. Ketiganya sangat ditentukan oleh SDM berkualitas unggul. Dan kualitas SDM di masa mendatang sangat ditentukan oleh kreativitas, produktivitas dan keteladanan para pendidik hari ini. Perubahan menuju (pendidikan) Indonesia yang lebih baik dapat dimulai dari ruang-ruang kelas dan dari hal-hal kecil. Aktivitas perbaikan yang dilakukan sekarang bisa jadi dampaknya baru akan terasa puluhan tahun ke depan, namun perbaikan harus tetap dilakukan segera, karena upaya penghancuran peradaban juga tidak kenal henti.

“Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. Suasana hatikulah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.” (Haim Ginott)

Ps. Terinspirasi ketika mengisi pelatihan guru di Batu Licin, Kalsel (260512)