Monthly Archives: August 2012

Hanzhalah, Juru Tulis yang Dimandikan Malaikat

Mekkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badar dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka. Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.

Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir. Justru dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasud dengan kenabian Muhammad. Tak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam. Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.

Di tengah kesibukkannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamika, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fase kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada nikmat karunia Allah yang tak mungkin terlewatkan. Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah. Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.

Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan. Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang baru saja dinikahinya. Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Indah…
Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!” Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, supaya ia bisa mandi terlebih dahulu. Istrinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid. Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw. Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan yel-yel, seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda melesat secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan efek bak hempasan angin puting beliung. Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan. Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup untuk membalaskan dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan terpaksa melayaninya dalam duel satu lawan satu. Abu Sufyan terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan. Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, behasil menelikung gerakan hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, boom!!! Para sahabat yang berada di sekitar dirinya mencoba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti. Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru. Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan. Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.

Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?” Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!” Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.” Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash Shaf:10-12).

(Sumber : ‘Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah’ yang diterjemahkan menjadi “Dialog Islam” karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi)

Hadits Hari Ini

Hanzhalah Al-Asadi r.a. , salah seorang shahabat yang termasuk juru tulis Rasulullah SAW bertutur: “Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. “Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya (dalam hadits riwayat Turmidzi disebutkan bahwa Hanzhalah dalam keadaan menangis). “Hanzhalah ini telah berbuat nifaq”, jawabku. “Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?”, tanya Abu Bakar. “Bila kita berada di sisi Rasulullah SAW, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah SAW, istri, anak dan harta kita (sawah ladang ataupun pekerjaan) menyibukkan kita (karena kita harus memperbaiki penghidupan/ mata pencaharian kita dan mengurusi mereka), hingga kita banyak lupa/ lalai”, kataku. “Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu”, Abu Bakar menanggapi perasaan Hanzhalah (dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, “Aku juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan”)

Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah SAW hingga kami dapat masuk ke tempat beliau. “Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah”, kataku. “Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?”, tanya beliau. “Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai (seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu)”, jawabku. Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian (hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian) di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu”. Rasulullah SAW mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)

Taushiyah Hari Ini

Ada 7 (tujuh) karakter muslim profesional –belajar dari Ramadhan–, yaitu: tegar beriman, bekerja ikhlash, kendalikan nafsu, selalu jujur, teguh berdisiplin, muraqabah, dan tidak bosan berdo’a” (Dr. Amir Faishol Fath, MA.)

Bekal Cerdas Tuk Sukses Dunia Akhirat

“Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, satu akan tetap. Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap”
(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Sudah menjadi keniscayaan, setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, namun orang cerdas adalah mereka yang mempersiapkan bekal sebelum ajal menjemput. Ibnu Umar r.a. pernah bersama Rasulullah SAW ketika seorang laki-laki Anshor datang dan mengucapkan salam kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka”. Dia bertanya lagi, “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?”. Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam beberapa ayat Al Qur’an diungkapkan bahwa bekal setelah kematian terbaik adalah takwa. Jika takwa masih terlalu umum, dalam beberapa hadits disebutkan bahwa setiap perbuatan baik akan menghindarkan pelakunya dari kematian yang buruk. Rasulullah SAW bersabda, “Berbuat baik kepada manusia menghindarkan pelakunya dari kematian buruk, musibah, dan kehancuran. Dan ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat” (HR. Al-Hakim). Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan-perbuatan baik (kepada orang lain) menghindarkan dari kematian buruk. Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemarahan Allah. Silaturahim menambah umur. Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat. Ahli kemungkaran di dunia akan menjadi ahli kemungkaran di akhirat. Sedangkan orang yang pertama masuk surga adalah ahli kebaikan” (HR. Thabrani dan lainnya).

Jadi, orang yang cerdas akan membekali dirinya dengan perbuatan baik. Di antara banyaknya perbuatan baik, ada beberapa amal yang ganjaran kebaikannya terus mengalir. Menurut Imam al-Suyuti, bila semua hadits mengenai amal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia dikumpulkan, semuanya berjumlah 10 amal, yaitu: ilmu yang bermanfaat, doa anak shaleh, sedekah jariyah (wakaf), menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, mewakafkan buku, kitab atau Alquran, berjuang dan membela tanah air, membuat sumur, membuat irigasi, membangun tempat penginapan bagi para musafir, dan membangun tempat ibadah dan belajar.

Lalu, dari berbagai amal kebaikan tersebut adakah yang dapat membuat seseorang sekaligus mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat? Pada prinsipnya, ibadah dan amal kebaikan tidak hanya berguna bagi kehidupan akhirat, namun juga berdampak positif untuk kehidupan dunia. Shalat misalnya, selain menjadi amal yang pertama kali dihisab juga punya dampak untuk mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Atau ibadah puasa, selain ganjarannya langsung dari Allah SWT, juga berdampak positif terhadap kesehatan. Namun dari berbagai amal kebaikan tersebut, penulis hanya akan memaparkan tiga amal yang secara signifikan dapat memuliakan manusia, di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang membekali dirinya dengan ketiga amal ini, tidak hanya akan meraih sukses di akhirat, namun juga di dunia.

Pertama, sedekah. Selain ganjaran pahala yang berlipat ganda hingga 700 kali, sedekah juga memiliki banyak dampak positif bagi kehidupan dunia manusia, termasuk menutup 70 pintu keburukan (HR. Thabrani). Bayangkan kesuksesan yang akan diraih jika 70 pintu keburukan sudah ditutup. Bukan hanya itu, sedekah bahkan dapat mengobati penyakit. Rasulullah SAW bersabda, “Lindungi harta kamu dengan zakat, obati sakitmu dengan sedekah, dan hadapi gelombang hidup dengan tawadhu kepada Allah dan doa” (HR. Al Baihaqi). Mengenai sedekah ini, Ibnu Qayyim berkata, “Sedekah mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam menolak bencana, meskipun berasal dari orang yang suka berbuat maksiat atau kezaliman, bahkan dari seorang kafir sekalipun. Hal ini diketahui oleh semua orang. Mereka semua mengakuinya karena telah mencobanya”.

Sudah banyak sekali success story yang mengungkapkan keajaiban sedekah yang dapat melipatgandakan kekayaan. Terlalu banyak untuk disampaikan di tulisan singkat ini. Intinya, matematika sedekah berbeda dengan harta yang dikonsumsi. Semakin banyak sedekah yang dikeluarkan, semakin banyak rezeki yang mengalir. Ya, begitulah hukumnya, semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Karenanya, seseorang yang banyak sedekah, ia bukan hanya memperoleh kemuliaan di akhirat karena membantu orang lain, namun juga kemuliaan di dunia ketika menjadi hartawan yang dermawan. Saat ini sudah semakin banyak ustadz dan motivator yang memaparkan tentang keutamaan sedekah untuk membuka pintu rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Memberi sedekah, menganjurkan kebaikan, berbakti kepada orang tua, dan silaturrahmi dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, menambah berkah umur, dan menolak kejahatan” (HR. Abu Na’im)

Kedua, belajar dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Sudah umum diketahui bahwa ilmu seharusnya mendahului amal. Bahkan barangsiapa beribadah kepada Allah SWT dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan. Ilmu adalah warisan para nabi dimana yang memilikinya akan memperoleh keuntungan yang banyak. Menuntut ilmu akan membuka jalan ke surga dan Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu hingga beberapa derajat. Bayangkan kemuliaan dunia akhirat yang akan diraih jika kita memiliki warisan para nabi dan Allah SWT pun meninggikan kita beberapa derajat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ar Rabi-i’, Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah AWJ, sedangkan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat”.

Di era globalisasi saat ini, orang-orang yang menguasai ilmu dan informasilah yang akan menguasai dunia, sementara orang-orang yang hanya mengandalkan ototnya hanya akan menjadi ‘budak’ mereka yang mengoptimalkan otaknya. Manariknya, matematika belajar dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat punya pola yang unik. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang dirasa tidak diketahui. Semakin memiliki ilmu yang berkah, semakin merasa miskin ilmu. Semakin banyak ilmu yang diajarkan, semakin dalam ilmu yang dimiliki. Semakin banyak ilmu yang diamalkan, semakin abadi ilmu yang dipelajari. Penyakit orang berilmu adalah kesombongan, dan hal tersebut merupakan indikasi ilmunya tidak bermanfaat. Karenanya, orang yang terus belajar dan mengajarkan ilmu bukan hanya akan memperoleh pahala yang terus mengalir, namun juga akan memperoleh kemuliaan di dunia sebagai penghargaan atas ilmu yang dimiliki. Benarlah sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan dunia, ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kemuliaan akhirat, itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).

Ketiga, menyambung silaturahim. Menyambung silaturahim bukan sekedar berpahala dan menyambung Rahmat Allah SWT, namun juga dapat meluaskan rezeki dan memperpanjang usia. Suatu ketika, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan puasa?”. Para sahabat menjawab, “Tentu saja”. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahim” (HR. Bukhari-Muslim). Dan dalam hadits riwayat Imam Bukhari yang lain juga disebutkan dampak positif silaturahim adalah meninggalkan nama baik setelah kematiannya dan dicintai keluarganya.

Di era informasi seperti sekarang ini, ‘jaringan’ merupakan salah satu aset terbesar. Dan maintain ‘jaringan’ ini tentunya bukan sebatas membalas silaturahim, tetapi menyambung silaturahim. Silaturahim terpenting tentunya ke keluarga inti kita, termasuk kedua orang tua kita. Disinilah birr al walidain (berbuat baik pada kedua orang tua) menjadi bagian tak terpisahkan dari menyambung silaturahim, keutamaannya tentu luar biasa. Suatu saat tentu kita membutuhkan bantuan orang lain, dan pada saat itulah kekuatan silaturahim akan menolong kita. Menariknya, matematika silaturahim juga unik. Satu orang yang kita sambung silaturahimnya, akan ada orang-orang lain yang otomatis terhubung. Satu orang yang kita putus silaturahimnya, akan ada orang-orang lain yang juga terputus. Nilai tambah kita sejatinya tergambar dari testimoni orang lain, disinilah silaturahim mengambil peran memuliakan atau menghinakan. Karenanya, orang yang menyambung silaturahim bukan hanya berlimpah do’a dan pahala, namun juga akan memperoleh kesuksesan di dunia karena kemitraannya dengan banyak orang. Dan juga perlu diwaspadai banyaknya ancaman keburukan bagi mereka yang memutuskan silaturahim, diantaranya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan oleh Allah siksaannya terhadap pelakunya di dunia beserta siksaan yang disimpan (dikemudiankan/ ditangguhkan) oleh-Nya untuknya di akhirat daripada kezhaliman dan memutuskan silaturahim” (HR. At-Turmuziy).

Bekal untuk kehidupan akhirat tentunya tidak cukup hanya ketiga hal tersebut, namun jika melakukan ketiga amal tersebut dengan optimal niscaya jaminan untuk meraih kesuksesan dunia akhirat semakin terbuka lebar. Di dunia yang fana ini memang berlaku hukum sebab akibat, namun tidak semua amal kebaikan akan memenuhi logika matematika sederhana. Apalagi kecerdasan seseorang tidak diukur dari kemampuan logika dan numeriknya, namun sejauhmana ia mampu bersiap untuk menghadapi hari yang akan datang. Dan pemenang adalah mereka yang memimpikan dan menciptakan masa depan pada saat ini dengan banyak berbekal dan berbuat.

Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)

Dan Ramadhan Tetap Disini

Pada suatu waktu, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. mengenai tiga hal. Orang tersebut bertanya mengenai hari yang paling baik, bulan yang paling baik dan amal perbuatan yang paling baik. Ibnu Abbas r.a. yang dijuluki ulama generasi shahabat pun menjawab, “Hari yang paling baik adalah hari Jum’at, dan sebaik-baik bulan adalah bulan Ramadhan serta sebaik-baik amal perbuatan adalah shalat fardhu lima waktu tepat pada waktunya”. Jawaban tersebut jelas bukan tanpa dasar, semuanya ada dalilnya yang bersumber dari Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim misalnya, disebutkan bahwa hari terbaik adalah hari Jum’at, hari dimana Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga. Hari Jum’at merupakan pemuka hari-hari yang lain bagi umat Islam, didalamnya juga terdapat satu waktu khusus diijabahnya do’a. Hari Jum’at juga merupakan satu-satunya hari yang tercantum sebagai nama surah dalam Al Qur’an.

Sementara itu untuk Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah SWT mewajibkan puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikan, maka dia tidak memperoleh apa-apa” (HR. Ahmad dan An Nasa’i). Ramadhan juga merupakan satu-satunya bulan yang namanya disebut dalam Al Qur’an. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, ketika Ibnu Mas’ud r.a. bertanya mengenai amal yang paling afdhal, Rasulullah SAW menjawab shalat tepat pada waktunya, baru kemudian beliau menjawab lagi berbakti kepada kedua orang tua dan jihad fisabilillah. Ustman bin Affan r.a. berkata, “Barangsiapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah SWT akan memuliakannya dengan sembilan kemuliaan, yaitu dicintai Allah SWT, badannya selalu sehat, keberadaannya selalu dijaga malaikat, rumahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang shalih, hatinya dilunakkan oleh Allah SWT, dia akan menyeberang sirath seperti kilat, dia akan diselamatkan Allah SWT dari api neraka, dan Allah SWT akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati”.

Jelaslah sudah keutamaan hari Jum’at, bulan Ramadhan dan shalat tepat waktu tanpa harus disampaikan semua dalil yang mendukungnya. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at lainnya, Ramadhan ke Ramadhan yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi” (HR. Muslim). Ibnu Abbas r.a. wafat pada hari Jum’at, kemudian tiga hari berikutnya kabar tentang pertanyaan dan jawaban Ibnu Abbas r.a. tersebut sampai kepada Ali bin Abi Thalib r.a., lalu beliau berkata, “Apabila semua ulama, hukama dan fuqaha dari ujung barat sampai ujung timur ditanya tentang hal itu, maka mereka akan menjawab sama dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra, tapi aku punya jawaban sendiri. Sesungguhnya sebaik-sebaik amal perbuatan adalah amal perbuatanmu yang diterima Allah SWT. Sebaik-baik bulan adalah bulan dimana kamu bertaubat kepada-Nya dengan taubat nasuha. Dan hari yang terbaik adalah hari dimana kamu meninggal dunia dengan membawa iman kepada Allah SWT.

* * *

Tak terasa, Ramadhan telah berlalu padahal sepertinya baru kemarin datang menyapa. Sepeninggal Ramadhan yang baru beberapa hari ini sudah ada berbagai hal yang dirindukan, saat bangun malam bersama untuk makan sahur, masjid-masjid yang ramai dengan tadarus qur’an, waktu berbuka puasa bersama, tarawih bersama, dan sebagainya. Selepas Ramadhan yang belum genap sepekan ini sudah mulai terlihat berbagai perubahan, masjid-masjid mulai kembali sepi, acara-acara televisi kembali jauh dari nuansa religius, nafsu makan dan tidur tak lagi terkendali, Al Qur’an kembali dilupakan, shalat malam ditinggalkan dan berbagai kebiasaan lama kembali dilakukan. Ibadah Ramadhan yang belum tentu diterima pun lenyap tak berbekas. Jangan-jangan inilah yang disebut dalam sebuah hadits betapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Wahb ibnul Wardi pernah melihat sekelompok orang yang bersuka cita dan tertawa di hari Idul Fitri, ia pun berkata, “Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah SWT, apakah tindakan mereka tersebut gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya? Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya?”. Na’udzubillah

Jika kita meneladani para salafush shalih, mereka cenderung bersedih dengan perginya bulan Ramadhan, khawatir amal ibadah mereka di bulan Ramadhan tidak diterima Allah SWT. Kekhawatiran itu mendorong mereka untuk terus fokus menyempurnakan amal, sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib r.a., “Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amal kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah AWJ ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa’ (QS. Al Maidah : 27)”. Upaya untuk terus memperbaiki amal dan meningkatkan ketakwaan inilah yang membuat para salafush shalih mampu menghidupkan nuansa Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Tidak berlebihan jika sebagian ulama salaf mengatakan bahwa para shahabat berdo’a kepada Allah SWT selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan berikutnya agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima-Nya. Do’a tentunya diiringi dengan usaha sehingga sepanjang tahun nuansa Ramadhan berhasil mereka hidupkan.

Kita perlu mawas diri jika ibadah Ramadhan tidak berbekas di hari-hari setelah Ramadhan, jangan-jangan ibadah Ramadhan kita tidak diterima. Karena sesungguhnya, di antara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya. Oleh karena itu, barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama. Ramadhan memang bulan penuh ampunan dan penghapus dosa, namun bukan berarti di sebelas bulan lainnya kita bebas berbuat dosa dan kemaksiatan. Tidak salah bahwa Ramadhan adalah pemimpin para bulan yang penuh keutamaan, namun untuk memperoleh keutamaan itu tentu ada syarat yang harus dipenuhi. Tanpanya, Ramadhan hanya akan jadi bulan biasa saja. Sebaliknya, bulan-bulan selain Ramadhan bisa jadi penuh keutamaan jika kita mampu mengisinya dengan berbagai kebaikan.

Seorang sufi bernama Sheikh Bisyr Al Hafi berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun”. Pernyataan yang sangat menohok. Imam Hasan Al Basri juga menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Jadi, sungguh tidak tepat jika semangat beramal dibatasi oleh bulan Ramadhan sementara kita tidak tahu apakah amal kita diterima Allah SWT. Sungguh tidak layak jika Ramadhan hanya menjadi musim berbuat baik sementara di setiap bulan kita mampu mengisinya dengan kebaikan. Dan sungguh tidak pantas jika semangat ibadah hanya mengisi hari-hari Ramadhan sementara kita tidak tahu kapan maut kan datang menjemput.

Secara kontekstual, Ramadhan memang bulan terbaik. Namun secara lebih substansial keutamaan bulan Ramadhan dapat terus ada di bulan-bulan selanjutnya jika kita dapat terus menjaga dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Nuansa indah Ramadhan takkan kemana jika kita mampu istiqomah menghadirkannya, menghidupkan Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Dan istiqomah memang tidak mudah, karenanya Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang mampu istiqomah. Semoga kita mampu menjadi seorang Rabbani yang selalu beribadah kepada Allah SWT di setiap waktu dan setiap tempat, bukan seorang ‘Rajabi’, ‘Sya’bani’, ‘Ramadhani’ atau orang-orang yang hanya semangat beribadah di bulan tertentu saja. Karena perintah untuk bertakwa tidak hanya ada di bulan Ramadhan. Karena Allah SWT mencintai amal yang terjaga konsistensinya.

Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya: istiqomahlah dalam beramal dan berkatalah yang jujur/ benar) dan mendekatlah kalian (mendekati amalalan istiqomah dalam amal dan jujur dalam  berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun di antara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit
(HR. Bukhari)

Tamasya Ramadhan ke Negeri Impian

Aku terbangun dari tidur, kepalaku agak pening, entah apa yang terjadi tadi malam. Perlahan kesadaranku pulih. Dini hari ini hening, penuh kedamaian, hanya lantunan tilawah qur’an yang kudengar mengalun indah dari masjid dekat rumah. Bergegas ku ke kamar mandi untuk menyucikan diri, bersiap menghidupkan malam untuk bermunajat kepada-Nya. Malam ini begitu khidmat, seolah aku bisa bercengkerama langsung dengan Allah SWT. Kuhentikan dzikir dan tilawahku mendengar pengingatan dari masjid bahwa waktu shubuh sudah semakin dekat. Bersegera aku menutup shalat malam agar dapat makan sahur yang menambah keberkahan Ramadhan yang tengah kujalani. Sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, aku dan keluarga mengakhirkan sahur, namun tentunya tidak mengurangi kesiapanku untuk mendirikan shalat shubuh berjama’ah di masjid.

Jalan menuju masjid begitu ramai dipenuhi kaum muslimin yang hendak memburu shaf pertama shalat berjama’ah. Kudengar suasana seperti ini tidak dapat dirasakan di negeri sebelah. Di sepertiga malam terakhir, para pemuda disana berteriak-teriak berkeliling kampung sambil memukul-mukul apa saja yang bisa ditabuh. Sangat bising. Suara yang ditimbulkan bukan saja tidak merdu, bayi-bayi terkejut dan menangis, orang-orang yang dibangunkan menggerutu, shalat malampun terganggu. Di negeri sebelah, kebiasaan orang yang terbangun adalah langsung menuju meja makan sambil mencari remote TV. Ya, makan sahur sambil menonton TV sudah jadi kebiasaan. Tontonannyapun hanya lawakan konyol yang tidak mendidik. Dan ibarat berbekal, makan sahur harus sebanyak-banyaknya sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh selama sehari berpuasa, jika perlu dilengkapi dengan berbagai suplemen. Di negeriku, waktu imsak hanya sebagai pengingat bahwa waktu shubuh akan segera tiba, namun di negeri sebelah, waktu imsak dianggap batas waktu boleh makan sahur. Dan bukannya bersiap shalat shubuh, mungkin juga karena kekenyangan, para penduduk negeri sebelah lebih suka mengisi waktu menjelang shalat shubuh dengan tidur-tiduran yang pada akhirnya tidur beneran sehingga shalat shubuhnya kebablasan.

Tak terasa, kakiku sudah melangkah ke halaman masjid. Beberapa orang tetanggaku mengucapkan salam menyapaku. Kamipun masuk untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum shubuh berjama’ah. Shalat shubuh di masjid dekat rumahku hampir seramai shalat Jum’at, seluruh penjuru masjid dipenuhi orang-orang yang hendak beribadah. Waktu antara adzan dan iqomatpun benar-benar dimanfaatkan untuk berdzikir dan berdo’a, padahal hampir tidak ada warga yang terlambat datang ke masjid. Usai shalat shubuh yang khidmat, sebagian besar jama’ah tidak beranjak dari masjid, kami biasa i’tikaf disini hingga matahari terbit. Kabarnya, kondisi di negeri sebelah cukup berbeda. Karena tidur lebih disukai daripada shalat, tidak banyak yang mendatangi masjid ketika shubuh. Mereka yang tidak tidur memilih untuk bersiap berangkat ke kantor agar tidak terlambat mengejar dunia. Kalaupun ada yang shalat shubuh, pasti hanya segelintir orang yang sudah berumur. Anak muda yang shalat shubuh berjama’ah akan mendapat tatapan aneh karena mungkin dinilai masih banyak waktu untuk lebih menikmati dunia. Namun di awal Ramadhan kondisi agak berbeda, masjid-masjid di negeri sebelah dapat dikatakan ramai, anak-anak mudanya juga banyak, aku pernah sekali merasakannya. Namun suasananya berbeda, sulit untuk dilukiskan. Mungkin karena ketidaktenangan jama’ah ketika melakukan shalat, mungkin juga karena begitu cepatnya masjid kosong selepas salam tanpa banyak yang berdo’a dan berdzikir, atau mungkin karena banyaknya bunyi petasan yang mengganggu i’tikafku. Kabarnya, sepulang dari shalat shubuh, anak-anak muda disana malah perang petasan. Astaghfirullah…

Pagi ini entah mengapa aku benar-benar semangat, seakan aku baru saja menjadi manusia baru. Aku sangat bersyukur tinggal di negeri ini, negeri yang disiplin. Tidak ada kemacetan karena semua tertib berlalu lintas, tidak ada yang merasa gengsi naik kendaraan umum karena rendah hati dan berbagi sudah menjadi budaya disini. Berpuasa juga tidak menjadi alasan untuk menurunkan produktivitas karena di luar Ramadhanpun kami terbiasa berpuasa, kami terbiasa mengoptimalkan waktu yang kami miliki. Tidak ada yang terlambat datang ke kantor, tidak ada yang tertidur di kantor, tidak ada pekerjaan yang terbengkalai dengan dalih berpuasa. Negeri sebelah menyebut negeriku negeri idaman, padahal bagiku hal seperti ini biasa saja. Kami terbiasa menjadwalkan untuk melakukan shalat dhuha, di negeri sebelah hanya segelintir yang menyempatkannya. Padahal waktu yang tersedia sama saja, hal inilah diantaranya yang mengherankan beberapa orang dari negeri sebelah yang sempat berkunjung kesini.

Potensi negeri kami sebenarnya sama saja dengan negeri sebelah, tidak ada yang istimewa, namun entahlah mengapa suasananya berbeda. Kabarnya shalat zhuhur di negeri sebelah juga ramai, terutama di bulan Ramadhan. Bedanya, di negeri sebelah banyak yang menunggu iqomat baru beranjak ke masjid sehingga banyak yang ketinggalan takbir pertama bersama imam, sementara kami menunggu iqamat di masjid dengan shalat, dzikir dan do’a. Bedanya, di negeri sebelah, ba’da zhuhur manusianya bertebaran beristirahat bagai ikan yang sedang dijemur, sementara kami, ah ternyata banyak bedanya, sekeluarnya dari masjidpun aktivitas kami memang berbeda. Tapi aku bersikeras bahwa ini tidak aneh, penduduk negeri sebelahlah yang aneh. Warung makan bahkan tempat prostitusi bertebaran di bulan Ramadhan, laki-lakinya gemar merokok, perempuannya gemar buka aurat, pemimpinnya tidak amanah, rakyatnya tidak ta’at. Merekalah yang aneh, kejujuran dan berbuat baik adalah hal yang biasa, menolong orang lain juga tidak butuh alasan. Sungguh aneh orang-orang yang berbuat curang, merugikan orang lain dan bersikap egois, padahal mereka sadar mereka tidak dapat hidup sendirian. Keanehan itu sebenarnya berkurang ketika bulan Ramadhan, ya, hanya ketika berpuasa bohong dan menggunjing dianggap tidak boleh. Marah juga dianggap membatalkan puasa. Negeri yang aneh.

Keanehan negeri sebelah belum usai sampai disitu. Disaat kami disini mengoptimalkan waktu menjelang berbuka untuk bermunajat karena merupakan salah satu waktu diijabahnya do’a, di negeri sebelah orang-orang malah sibuk ngabuburit tidak jelas. Menghabiskan waktu tanpa manfaat. Ketika berbukapun penduduk negeri sebelah seolah kalap, melahap apa saja sehingga perut mereka kekenyangan, sementara kami hanya berbuka dengan kurma dan air putih serta makan secukupnya, itupun tidak meninggalkan shalat maghrib berjama’ah. Belum lagi shalat tarawih, di negeri sebelah, imam yang dapat menyelesaikan shalat tarawih dengan lebih cepat itu yang dicari. Sementara imam yang bacaannya tartil akan dicibir. Ayat unggulannya adalah Surah Al Ikhlash dan Al Qadr, seakan tidak sah shalat tarawih tanpa salah satu dari surah tersebut dibacakan dalam satu salam. Anak mudanya menjadikan momen tarawih sebagai kesempatan untuk ngelaba lawan jenis. Namun hal paling aneh di negara sebelah menurutku adalah budaya i’tikaf yang dipindah tempatnya dari masjid ke pusat-pusat perbelanjaan. Sepuluh malam terakhir Ramadhan habis untuk shopping dan mempersiapkan Idul Fitri, padahal ibadah Ramadhannya belum tentu diterima.

Entah mengapa malam ini aku begitu lelah, aktivitas yang kulakukan seharian ini sepertinya agak berbeda kurasakan. Dan seperti biasa, sebelum beranjak ke pembaringan, berdzikir dan muhasabah untuk selanjutnya beristirahat, aku terlebih dahulu mengisi lembar mutaba’ah yaumiyahku. Alhamdulillah, hari ini aku begitu bersemangat dan memenuhi berbagai target yang kubuat, mulai dari menjaga wudhu dan shalat berjama’ah, do’a dan dzikir, shadaqah hingga berbagai shalat sunnah. Hari ini aku juga sempat membaca setengah buku, membuat tulisan, belajar bahasa asing dan membagi ilmu ke orang lain. Berbagai target di kantor juga berhasil kuselesaikan. Lingkungan yang kondusif memang dapat meningkatkan produktivitas. Hanya target silaturahim yang belum sempat kulakukan hari ini. Tiba-tiba terbayang berbagai keunikan aktivitas silaturahim di negera sebelah, mulai dari kerelaan bermacet-macet ria untuk sekedar dapat pulang ke kampung halaman, saling bertukar makanan di malam takbiran hingga ritual maaf-maafan seusai shalat Idul Fitri. Tiba-tiba kepalaku sakit, sepertinya harus segera istirahat, entah mengapa hari ini aku begitu peduli dengan keadaan di negeri sebelah.

* * *

Aku terbangun dari tidur, kepalaku agak pening, entah apa yang terjadi tadi malam. Perlahan kesadaranku pulih. Suara berisik teriakan anak-anak yang membangunkan orang untuk makan sahur disertai bunyi tetabuhan tak beraturan seakan memekakkan telingaku. Sayup-sayup kudengar suara orang tertawa terbahak-bahak menyaksikan acara televisi pengantar makan sahur. Aku mendesah lirih, rupanya aku baru saja bermimpi, mimpi indah menjadi penduduk negeri idaman. Ingin rasanya kulanjutkan tidur dan mimpiku dan berharap kembali membuka mata di negeri impian lagi, namun batinku menolaknya. Perjalananku di alam mimpi seolah menyadarkanku bahwa negeri impian itu tidak berbeda dengan kehidupan yang kujalani, tinggal bagaimana aku memaknai dan menjalani kehidupan ini. Negeri impian itu ada disini dan hanya dapat terwujud jika aku mau beramal nyata dan berhenti berangan kosong. Negeri dimanapun akan menjadi negeri impian jika setiap elemen negerinya berbuat dan bersungguh-sungguh untuk dapat mewujudkannya. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil dan dimulai sekarang juga. Bergegas ku ke kamar mandi untuk menyucikan diri, bersiap menghidupkan malam untuk bermunajat kepada-Nya dan bertekad untuk memulai mewujudkan negeri impian yang baru saja kutinggalkan…

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus. Betapa banyak orang yang bangun (Shalat) malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.” (HR. Al-Baihaqi)

Berani Bermimpi

Kehancuran manusia yang paling berat adalah hilangnya semangat hidup karena tidak memiliki cita-cita untuk diraih. Jangan biarkan hidup menjadi layu. Tentukan target!” (Andrie Wongso)

Akhir pekan ini saya diminta mengisi acara buka puasa bersama anak-anak yatim dengan tema berani bercita-cita. Beberapa tulisan saya terkait impian dan berani bermimpi nampaknya belum cukup sebagai referensi. Saya kemudian teringat tulisan Mas Andrie Wongso dalam buku “16 Wisdom & Succes“. Saya share disini semoga dapat menginspirasi kita untuk tidak takut bercita-cita. Selamat membaca!

* * *

Alkisah, di sebuah desa miskin ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu orang tuanya mencari nafkah. Suatu hari, satu-satunya guru yang ada di sekolah itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara mengarang cerita, si guru memberikan pekerjaan rumah. “Anak-anak, pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok, hasil karangan kalian dibaca di depan kelas satu per satu…

Keesokan harinya, murid-murid maju ke depan kelas dan membacakan karangannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi guru, petani, atau pegawai pemerintah, dll. Sang guru selalu manggut-manggut tanda setuju. Lalu, tiba giliran seorang murid yang paling muda usianya. Bajunya tambal sulam, tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. “Kalau besar nanti, aku ingin punya rumah besar di atas bukit, dengan pemandangan yang indah, berdampingan dengan pondok-pondok kecil di sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. Berderet pohon cemara dan pohon-pohon yang rindang di antara rumah-rumah itu. Ada taman bunga tertata apik dengan beraneka bunga dan warna. Ada kebun buah dengan buah-buahan lezat yang bisa dipetik oleh penghuni rumah dan penduduk di sekitarnya. Saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersama dengan keluarga besar dan para tamu yang datang di sana”.

Mendengar suara lantang si murid kecil itu, kontan seisi kelas tertawa bersamaan. “Dasar pemimpi…!” ejek murid yang lain. Mereka mencemooh cita-cita si murid kecil. Melihat kegaduhan itu, si guru jadi marah-marah, la menganggap, biang kerok kegaduhan itu adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, “Yang kamu tulis itu bukan cita-cita, tapi itu impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya”. “Guru, ini adalah cita-citaku yang sebenarnya. Ini bukan hanya mimpi, ini bisa menjadi kenyataan” murid kecil bersikeras. “Heh… kamu hidup di desa yang miskin, keluargamu juga keluarga miskin. Bagaimana kamu akan mewujudkan cita-cita seperti itu? Dasar pemimpi! Buat karangan yang masuk akal saja!” teriak si guru muiai tidak sabar.

Aku tidak mau cita-cita yang lain. Ini cita-citaku tidak ada yang lain…” si murid kecil ngotot. “Besok kamu harus bawa karangan yang baru. Jika kamu tidak perbaiki karanganmu itu, kamu akan mendapat nilai jelek” si guru mulai mengancam. Namun keesokan harinya, si murid kecil ke sekolah tanpa membawa karangan baru. Walau diancam dan dipermalukan seperti itu, dia tetap pada cita-citanya semula. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Tiga puluh tahun kemudian, si guru masih tetap mengajar di sekolah dasar itu. Suatu hari, ia mengajak murid-muridnya belajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah di atas bukit yang sangat terkenal. Kebun buah itu berada di desa tetangga, tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampai di kebun buah yang luas dan indah itu, si guru dan murid-muridnya berdecak kagum. Kebun buah itu ternyata dilengkapi dengan sebuah taman bunga yang luas, dikelilingi pepohonan yang rindang nan sejuk. Yang lebih mengagumkan, di dekatnya terdapat sebuah rumah besar bak istana. Tinggi menjulang, megah, dan sangat indah arsitekturnya. “Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat. Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ini…” gumam si guru terkagum-kagum.

Tiba-tiba terdengar jawaban. “Bukan orang hebat yang membangun rumah ini, hanya seorang murid bandel yang berani bermimpi punya cita-cita yang besar. Pasti, yang lebih hebat adalah guru yang duiu mendidik bocah bandel itu. Mari masuk ke dalam rumah. Kita nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebun ini…” ujar si pemilik rumah itu dengan ramah. Mendengar ucapan itu, mendadak si guru terpana dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil yang keras kepala yang mendapat nilai jelek waktu itu. Sekarang dia telah menjelma menjadi pengusaha yang sangat sukses. Matanya berkaca-kaca, merasa bersyukur sekaligus menahan malu karena 30 tahun yang lalu dirinya melecehkan cita-cita anak itu.

Pembaca yang budiman,
Bila kita mau menyadari dan meneliti dengan cermat, sebenarnya banyak prestasi spektakuler dari abad sebelum masehi sampai abad milenium ini. Semuanya lahir dan dimulai dari sebuah embrio, yaitu berani mimpi. Karena impianlah sebuah pesawat terbang tercipta. Karena impianlah kita bisa menikmati kecanggihan komputer. Karena impianlah kita bisa berkomunikasi dengan telepon tanpa kabel. Karena impian pula kehidupan kita bisa kita ubah menjadi lebih berkualitas. Tentu, untuk merealisasikan setiap impian ini, kita membutuhkan kekuatan yang fain. Kekuatan itu harus ditumbuhkembangkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu berani mencoba, berani berjuang, berani gagal, dan terakhir berani sukses.

Seringkali terjadi, penghambat kesuksesan seseorang bukan disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Tetapi lebih karena tidak adanya cita-cita yang diyakini dengan kuat dan diperjuangkan dengan sikap pantang menyerah! Cemoohan atau kesangsian orang lain terhadap cita-cita yang tinggi sebenarnya juga selalu dihadapi oleh orang-orang besar di dunia ini. Tetapi orang-orang besar tidak pernah berhenti hanya karena ejekan atau kesangsian orang banyak atas impian-impian besarnya. Karena, bagi orang-orang besar yang bermental kaya, ejekan dan cemoohan adalah vitamin gratis yang justru mereka perlukan sebagai cambuk dan pemacu untuk berusaha lebih keras lagi. Sebab itu, jika ada orang yang mengejek atau mencemooh mimpi-mimpi kita, jangan pernah berkecil hati. Hanya satu jawabannya, kuatkan tekad dan semangat, lalu berjuang dengan sekuat tenaga, dan buktikan bahwa kita mampu dan berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi hidup kita.

Karena baik atau buruk yang telah kita berikan, itulah kelak yang akan kita dapatkan!” (Andrie Wongso)

Bocah Misterius

Akhir pekan kemarin ternyata sangat padat sehingga tidak sempat membuat tulisan baru walaupun gagasan di kepala sangat banyak. Untuk inspirasi awal pekan ini saya coba share tulisan Ust. Yusuf Mansur dalam buku ‘Wisata Hati’ yang terkait dengan aktivitas kita di bulan Ramadhan ini. Semoga bermanfaat…

* * *

Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut. Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap ba’da zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah…” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

Maaf ya, itu karena kamu melakukannya di bulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu…”. Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?!”

Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan, kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fitri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan, kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami! Tuan, sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan, sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…

Wuahh… entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada di pikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Selamat menjalankan ibadah puasa…