Daily Archives: September 25, 2012

SPBU 31 VS SPBU 34

Beberapa hari lalu di jejaring sosial media ada yang mengirimkan info seputar tips memilih pom bensin dan mengisi pom bensin yang benar. Seperti biasa, mendapati informasi dari dunia maya, apalagi via jejaring sosial, harus dicek dulu kebenarannya. Beberapa referensi yang saya dapatkan, cenderung mendukung informasi yang saya terima, walaupun ada beberapa penjelasan ilmiah yang kurang tepat, namun secara umum tidak ada data dan fakta yang melemahkan informasi tersebut. Karena artikelnya cukup panjang, berikut adalah rangkuman informasi seputar tips memilih dan mengisi bensin yang saya dapatkan.

Pertama, lebih baik mengisi bensin di SPBU berkode 31 atau angka keduanya adalah 1. Adalah fakta bahwa SPBU dengan kode 31 di wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah SPBU milik pemerintah, sedangkan SPBU dengan kode 34 dikelola oleh pihak swasta. Ada tiga kategori SPBU, yaitu COCO (Corporate Owner Corporate Operate), CODO (Corporate Owner Dealer Operate), dan DODO (Dealer Owner Dealer Operate). Informasi ini juga dapat ditemukan di website resmi Pertamina. Karena dikendalikan oleh Pertamina, kualitas SPBU model COCO dan CODO diyakini lebih baik dibanding DODO. Tanpa bermaksud menyamaratakan SPBU, dilihat dari segi bisnis hal ini dapat dimengerti. Karena ingin cepat balik modal, pihak swasta terdorong untuk berlaku curang. Karenanya, mengisi BBM di SPBU milik Pertamina (angka keduanya 1) lebih baik karena didukung oleh quality control yang lebih baik. Kabarnya, para supir taksi dan orang-orang yang pernah memeriksa kuantitas BBM mengatakan bahwa SPBU dengan kode 31 (angka kedua 1) takarannya sesuai, berbeda dengan SPBU dengan kode 34 yang kualitas dan kuantitasnya tidak pas meskipun sudah memasang logo “PASTI PAS”. Penulis artikel bahkan menambahkan contoh bahwa tarikan kendaraan yang mengisi BBM di SPBU berkode 31 akan lebih kencang dan tidak terlalu kotor dibandingkan SPBU berkode 34. Jumlah kendaraan yang mengisi BBM di SPBU berkode 31 juga lebih ramai dibandingkan SPBU berkode 34. Kualitas dan kuantitas BBM di SPBU berkode 31 juga lebih baik dibandingkan SPBU berkode 34. Para supir angkot dan supir taksi juga menilai kualitas BBM di SPBU berkode 31 lebih baik sehingga mereka cenderung mengisi BBM disana. Walaupun tidak semua SPBU berkode 34 lebih buruk.

Kedua, tiap kali mengisi BBM, sampaikan kepada petugasnya untuk melepas tuas handle dan taruh di tangki kendaraan kita, jangan ditekan-tekan karena akan mempengaruhi jumlah BBM yang keluar. Penulis artikel meyakini bahwa hal tersebut merupakan salah satu modus kecurangan dalam pengisian BBM dan tidak ditemukan di SPBU berkode 31, lain halnya dengan SPBU berkode 34. Ketiga, mengisi BBM sebaiknya dilakukan pagi hari ketika temperatur tanah masih dingin. Penulis artikel menyampaikan bahwa semua SPBU memiliki tangki penyimpanan di bawah tanah, sehingga semakin dingin tanahnya maka semakin padat/ kental bahan bakarnya. Jika temperatur mulai panas/ hangat, maka bahan bakarnya akan mengembang. Jadi, jika membeli BBM pada siang atau petang hari, BBM yang diisikan ke dalam tangki kendaraan lebih sedikit dibanding jumlah liter yang dibeli. Faktanya, pengisian BBM lebih baik di pagi hari lebih karena faktor penguapan, bukan padat/ kentalnya BBM. Selain itu, teknologi baru di SPBU sudah dapat mengatasi kemungkinan penguapan BBM ini.

Keempat, mengisi BBM saat tangki masih dalam kondisi setengah penuh karena semakin banyak BBM yang ada dalam tangki kendaraan, semakin sedikit udara yang ada di dalam tangki yang kosong. Bensin menguap lebih cepat dari yang kita bayangkan. Dalam bisnis perminyakan, tangki penyimpanan BBM biasanya mempunyai atap yang mengapung (floating roof) yang berfungsi sebagai clearance zero antara BBM dan atmosfer sehingga penguapannya dapat dikurangi, hal yang tidak terdapat di SPBU. Kelima, jangan mengisi BBM ketika ada truk bahan bakar yang sedang mengisi tangki penyimpanan. Hal ini dikarenakan BBM akan teraduk saat bahan bakar dipompakan dari truk ke tangki penyimpanan SPBU, dan kemungkinan akan ada kotoran di dasar tangki penyimpanan yang teraduk naik dan terikut masuk ke tangki kendaraan.

Saya tidak hendak mengulas seluruh informasi yang sebagian besar bukanlah informasi baru bagi saya. Penjelasan ilmiahnya juga sudah banyak dimuat. Saya hanya tertarik untuk menindaklanjuti informasi mengenai perbandingan SPBU berkode 31 dengan SPBU berkode 34. Beberapa hari yang lalu, saya menyisir SPBU yang ada antara tempat tinggal (Ciganjur, Jaksel) dengan kantor di Jl. Raya Parung – Bogor. Dari hasil survey ini ternyata ada beberapa temuan yang menarik untuk disimak.

Pertama, dari 15 SPBU yang saya lewati (termasuk 1 SPBU di wilayah Ciganjur yang tutup), ternyata hanya ada 1 SPBU yang berkode 31 (milik pemerintah). Walaupun 15 SPBU mungkin belum cukup merepresentasikan seluruh SPBU yang ada di Indonesia, namun perbedaan selisih yang terbilang jauh sudah cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa jumlah SPBU berkode 31 (milik pemerintah) pasti jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah SPBU berkode 34 (milik swasta). Artinya, tidak perlu memaksakan diri untuk mencari dan mengisi BBM di SPBU berkode 31 yang langka jika memang butuh BBM, apalagi argumen mengenai kualitas dan kuantitas SPBU berkode 31 lebih baik dari SPBU berkode 34 masih dapat diperdebatkan.

Kedua, satu-satunya SPBU berkode 31 yang saya lewati adalah SPBU yang selama ini saya hindari untuk mengisi BBM disana karena penampilannya yang kumuh, tidak terawat dan relatif sepi. Ya, jauh berbeda dengan informasi di atas. Bahkan jika saja tidak tertera logo “Pasti Pas”, saya pasti tersugesti bahwa kualitas dan kuantitas BBM di SPBU tersebut lebih buruk. Sedikit informasi mengenai “Pasti Pas” yang perlu diluruskan dari informasi di atas adalah bahwa sertifikasi “Pasti Pas” tidaklah mudah dan main-main. Teman saya di bagian Metrologi Kemendag tentu akan tersinggung jika dianggap pengukuran ketepatan SPBU tidak terstandardisasi dengan baik. Di website resmi Pasti Pas Pertamina juga dijelaskan alur dan sistem sertifikasi Pasti Pas yang bahkan melibatkan surveyor internasional yang sudah berpengalaman. Survey dilakukan acak dan tidak ditentukan tanggal dan jamnya. Sulit untuk suap ataupun main mata, selain berkaitan dengan kredibilitas sebagai surveyor internasional, bayarannya juga tidak sedikit. Uji kelayakan alat pun rutin dilakukan. Jadi kurang tepat jika logo “Pasti Pas” disamakan dengan sertifikasi lain yang dapat dibeli. Hal itulah mengapa saya menilai kualitas dan kuantitas BBM di SPBU “Pasti Pas” kurang lebih akan sama saja, kalaupun ada perbedaan tidak akan signifikan.

Kembali ke kualitas dan kuantitas SPBU berkode 31, untuk membuktikannya, saya mencoba mengisi bensin disana. Dan seperti ingatan saya selama ini, pelayanan SPBU yang berada di selatan Pasar Parung ini tidaklah istimewa, jika tidak bisa saya katakan kurang. Tidak ada senyum, tidak ada salam, menunjukkan angka nol dan tidak ada ucapan terima kasih (atau mungkin karena sudah keduluan saya). Kendaraan yang mengisi BBM disana pun sepi. Fasilitas standar seperti mushalla dan toilet sebenarnya ada, tapi entah karena perawatan SPBUnya kurang baik atau karena tidak ada fasilitas ATM dan ruko-ruko seperti terdapat di beberapa SPBU berkode 34, tampilan SPBU berkode 31 ini jauh dari menarik. Kelebihannya adalah SPBU ini buka 24 jam, sehingga memudahkan truk yang banyak melintas Jalan Raya Parung – Bogor di di malam hari. Dan karena petugasnya laki-laki semua, pada saat Jum’atan SPBU ini tutup.

Saya tidak hendak menggeneralisir bahwa SPBU berkode 31 kurang terurus, namun mengambil kesimpulan bahwa SPBU milik pemerintah lebih baik dari SPBU milik swasta nampaknya juga terlalu terburu-buru. Kita tentu kerap mendapati bahwa usaha yang dikelola swasta lebih professional dibandingkan yang dikelola pemerintah. Persaingan di antara perusahan swasta membuat mereka mengoptimalkan pelayanan untuk menggaet pelanggan. Belum lama ini saya mengisi bensin di SPBU berkode 34, dengan logo “Pasti Pas”, semua standar pelayanan mulai dari salam hingga terima kasih dilakukan, bahkan tuas handle pun dilepas ke dalam tangki ketika mengisi BBM, sesuai dengan informasi di atas. Memang ada beberapa SPBU berkode 34 yang berbuat curang kemudian kehilangan pelanggan karena dilaporkan, dimuat media, ditinggal pembeli. Seperti terjadi di salah satu SPBU yang saya sebutkan di atas, tutup karena pailit disebabkan mengurangi takaran. Konsumen dapat memilih dan masyarakatpun semakin cerdas.

Jika yang menjadi pertimbangan memilih SPBU berkode 31 adalah agar keuntungan Pertamina lebih besar, tidak salah. Namun sebenarnya keberadaan banyaknya SPBU yang dikelola swasta juga membantu Pertamina dalam mendistribusikan BBM ke seluruh pelosok Indonesia. Belum lagi posisi Pertamina selaku distributor tunggal tentunya tetap menguntungkan Pertamina. Yang perlu diwaspadai adalah kehadiran berbagai SPBU asing yang menggerogoti keuntungan monopoli Pertamina, padahal di Malaysia saja, Pertamina sangat sulit untuk mendirikan SPBU. Dan yang lebih perlu dicermati lagi adalah inefisiensi dan korupsi yang banyak tumbuh di tubuh Pertamina dan anak perusahaannya. Intinya, kualitas pengelolaanlah yang menentukan baik buruknya SPBU, bukan semata-mata kode. Dan kualitas pengelolaan ini menjadi PR besar untuk Pertamina, untuk mendistribusikan BBM terjangkau dan berkualitas ke seluruh lapisan masyarakat, untuk dapat menstandarisasi kualitas layanan di seluruh SPBU, untuk terus dapat menghasilkan keuntungan bagi Negara dan untuk dapat bersaing dengan kompetitornya di pasar global.

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. Al Isra’: 35)