Monthly Archives: October 2012

“Sajak Palsu” Karya Agus R. Sarjono (1998)

“Selamat pagi, Pak! Selamat pagi, Bu!”, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.
Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.
Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.
Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah Bapak dan Ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.
Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya Pak guru dan Bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru.

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.
Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.
Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu.
Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu.
Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.

Rabbaniyah di 10 Hari Bulan Dzulhijjah

Fadhilatul Ustadz Muhammad Hamid Aliwah

الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛ سيدنا محمد بن عبد الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد

Hari-hari singkat hilal bulan Dzulhijjah telah berlalu. Hari-hari musim kebaikan kembali menghampiri kita. Bulan penuh berkah dan limpahan kebaikan berisikan seutama-utama kewajiban agama. Yaitu kewajiban berhaji dengan manasik, perjalanan iman dan ibadah, makna pengorbanan, pengabdian, jihad dan mujahadah. Sepanjang kehidupan seorang muslim penuh istimewa dengan berbagai amal shalih, ibadah-ibadah yang dianjurkan, keta’atan sepanjang waktu, perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla, tanpa ada kemalasan, keberatan, futur dan berhenti. Artinya bahwa kehidupan seorang muslim hendaknya semuanya berupa ibadah, keta’atan, amal sholeh yang mengantarkan dekat dengan Allah Azza wa Jalla.

Inilah, jamuan Allah kami persembahkan di hari-hari istimewa, hari 10 Dzulhijjah. Dari Muhammad bin Maslamah Al-Anshari ra. berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya bagi Tuhan kalian di hari-hari sepanjang tahun kalian ada nafahat –tiupan atau jamuan-, maka mendekatlah kepadanya, boleh jadi tiupan itu akan mengenaimu, sehingga kalian tidak akan pernah celaka selamanya.” (HR. At-Thabrani). Mendekat pada tiupan kasih sayang Allah dengan memperbanyak doa dan meminta pada waktu-waktu utama tersebut, dikarenakan waktu-waktu tersebut waktu yang mustajab, sebagaimana waktu tersebut menjadi kesempatan untuk taqarrub kepada Allah Allah Azza wa Jalla dengan berbagai macam ibadah yang mengantarkan seorang hamba meraih pahala dan kemuliaan taqarrub-Nya.

Fadhilah 10 Hari Dzulhijjah
Banyak hadits yang menjelaskan fadhilah sepuluh hari ini. Di antaranya diriwayatkan dari imam Al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada amal sholih yang lebih dicintai Allah dibandingkan pada hari sepuluh ini. Para sahabat bertanya; “Termasuk jihad fi sabilillah? Rasul bersabda: “Termasuk jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar berperang dengan harta dan jiwanya dan tidak tersisa darinya sedikitpun –meninggal-.” Dalam riwayat At-Thabrani:

“مَا مِنْ أَيَّامٍ يُتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ فِيهَا بِعَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ”

“Tidak ada hari-hari yang lebih afdhal di mana taqarrub kepada Allah dilaksanakan pada hari tersebut kecuali hari-hari yang sepuluh ini.”

Menurut riwayat Ad-Darimi:

“مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمَ أَجْراً مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الأَضْحَى”

“Tidak ada amal yang lebih baik di sisi Allah Azza wa Jalla dan tidak juga lebih besar pahalanya dibandingkan sepuluh hari idul Adha.”

Persepsi para sahabat bahwa jihad merupakan puncak ajaran Islam dan amal yang paling utama, sehingga mereka bertanya kepada Nabi saw. tentang amal shalih di hari-hari ini yang melebihi pahala dan derajat kewajiban jihad yang agung ini. Maka Nabi saw. menjelaskan bahwa jihad tidak mengalahkan amal shalih di hari-hari ini kecuali hanya kondisi satu saja, yaitu seorang berjihad dengan harta dan jiwanya, ia memperoleh syahadah dan hartanya habis, tidak tersisa sedikitpun darinya.

Kebutuhan Kita terhadap Rabbaniyah
Umat Islam sekarang ini melewati hari-hari baru, matahari izzah dan kemuliaan umat kembali bersinar. Itu semua mewajibkan kita untuk menguatkan Rabbaniyah dan hubungan yang intens dengan Allah Azza wa Jalla, sebagai upaya untuk meraih pertolongan dan dukungan dari Allah Azza wa Jalla secara berkelanjutan. Pada tahapan ini kita semua membutuhkan tambahan taqarrub pada Allah, meminta pertolongan kepada-Nya, merendah diri di hadapan-Nya karena Allah Dzat Pemberi pertolongan. Kita menghadap kepada-Nya dengan sepenuh hati dan anggota tubuh kita. Jika demikian, di atas jalan ibadah kita ini sejatinya kita telah memperkuat qiyadah atau kepemimpinan manusia menuju Allah Azza wa Jalla, dengan terus meminta kekuatan dari-Nya. Qiyadah Rabbaniyah yang kita berusaha mewujudkan dalam diri kita. Kita beribadah kepada Pencipta kita dengan Rabbaniyah. Allah berfirman dalam surat Al-Hajj:41, “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Amaliyah Dalam Rangka Menghidupkan Rabbaniyah Pada 10 Dzulhijjah
Atas pijakan tersebut, kami ketengahkan beberapa amal dan kegiatan yang hendaknya dilaksanakan pada hari-hari penuh berkah ini, mengajak orang lain melaksanakannya, sehingga cakupan keta’atan meluas dan manusia menghadap kepada Allah pada hari-hari penuh berkah ini. Dengan demikian, rahmat Allah akan turun kepada kami, kepada negeri dan rakyat kami:

Pertama, mempersiapkan diri untuk menjemputnya. Menghadirkan niat baik untuk bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan pada waktu tersebut. Sebelum itu, hendaknya kembali mendekat kepada Allah dengan taubatan nashuha dan mensucikan hati.

Kedua, berusaha untuk shalat berjama’ah tepat waktu di masjid pada hari-hari ini. Berusaha dengan semangat menemui takbiratul ihram Imam artinya tidak terlambat takbiratul ihram imam, kemudian menjaga shalat sunnah qabliyah dan bakdiyah 12 rakaat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: “مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلاَةِ وَالذِّكْرِ إِلاَّ تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ” رواه ابن ماجه.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw.: “Tidaklah seorang muslim berangkat ke masjid untuk shalat dan dzikir, kecuali Allah akan merindukannya sebagaimana kerinduan orang yang lama tidak berjumpa kemudian ia kembali menemuinya.” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, menjaga shalat nawafil harian, terutama shalat Dhuha, Witir dan Qiyamullail. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman, “Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai daripada menjalankan kewajibannya, dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan sunnat-sunnat, sehingga Ku sukai. Maka apabila Aku telah kasih padanya, Akulah yang menjadi pendengarannya dan penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang dijalankannya, dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan, dan jika berlindung kepada-Ku pasti kulindungi.” (HR. Bukhari)

Keempat, khotmul Qur’an dengan membacanya minimal satu kali pada 10 hari Dzulhijjah, artinya satu hari tiga juz.

Kelima, shuam pada hari-hari tersebut sesuai kemampuan kita, minimal hari Senin, Kamis dan hari Arafah. Siapa yang dikehendaki Allah shaum semuanya dengan sungguh-sungguh, maka pahalanya menjadi kewajiban bagi Allah atasnya, dan itu merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepadanya.

Keenam, berupaya untuk senantiasa berdzikir dan berdoa pada hari-hari ini, terutama dzikir pagi dan petang, berusaha dzikir kondisi tertentu, do’a khutmul Qur’an, dzikir mutlak (minimal 1000 perhari) seperti istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan memperbanyak shalawat atas nabi saw.

Ketujuh, hendaknya setiap muslim dan muslimah yang tidak berhaji menghadirkan kewajiban haji di hatinya, merasakan manasik haji dan syi’ar-syi’ar lainnya seakan-akan ia bersama mereka. Merasakan makna pengorbanan,  pengabdian dan keta’atan.

Kedelapan, semangat dalam berdo’a pada hari-hari ini, dengan memperhatikan waktu-waktu mustajab setelah shalat, ketika sujud, ketika ifthor, sahur. Jangan lupakan do’a untuk kemenangan dan kemajuan umat Islam keseluruhan, terutama saudara-saudara kita di Suriah, Palestina, Burma dan negara-negara minoritas Muslim agar kezhaliman diangkat dari mereka dan dijauhkan dari bencana.

Kesembilan, infaq fi sabilillah, terutama sadaqah rahasia, karenanya bisa memadamkan kemarahan Tuhan. Hendaknya setiap kita menyiapkan dana untuk dikeluarkan dalam rangka kebaikan.

Kesepuluh, berusaha untuk ibadah di Masjid, yaitu berdiam diri antara waktu fajar sampai matahari terbit, minimal dua kali pada hari-hari ini. Rasul bersabda:

(من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة (رواه الترمذي وصححه الألباني

“Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian duduk mengingat Allah hingga matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” (HR. Tirmidzi)

Kesebelas, menghidupkan sunnah berkorban, berazam untuk melaksanakannya dikarenakan fadhilah dan pahala yang besar. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di hari korban selain dari mengalirkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya korbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah qurban tersebut akan menetes di suatu tempat (yang diridlai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka relakanlah korban itu.” (HR. Tirmidzi)

Keduabelas, hendaknya seorang muslim menganjurkan keluarganya; istri dan anak-anaknya untuk menyambut jamuan Allah swt ini, membantu mereka untuk melaksanakan kebaikan dan keta’atan pada hari-hari ini, sehingga Rabbaniyah hidup di rumah kita. Dan hendaknya setiap muslim berusaha melaksanakan taujihat dan pesan-pesan ini di lingkungannya bersama teman-temannya, dengan tetangganya dan menganjurkan mereka melaksanakannya, karena: “Siapa yang menunjukan kebaikan baginya pahala persis seperti orang yang melakukannya” sehingga manfaatnya meluas dan suasana keta’atan melingkupi semua umat Islam. Dengan demikian kita telah menghidupkan Makna Rabbaniyah pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan umat Islam.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, saat sendiri atau dalam keramaian. Karuniakan kepada kami perkataan baik dan benar saat ridha atau ketika marah. Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menikmati jamuan-Mu di hari-hari yang baik ini. Dan do’a akhir kami bahwa segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” [io]

Taushiyah Hari Ini

Pada suatu sholat Jumat, seorang jama’ah membuka dompetnya untuk segera mengisi kotak amal yang telah berada di depannya. Dia berusaha mencari pecahan terkecil di antara pecahan 50 ribuan di dompetnya. Setelah puas menemukannya, ia segera memasukkannya ke dalam kotak amal, setelah itu ia pun berusaha segera akan menggeser kotak amal tersebut.

Tiba-tiba ia dicolek oleh seorang jamaah di belakangnya sambil menyerahkan beberapa lembar 50 ribuan. Segera saja, ia masukkan 50 ribuan tadi ke dalam kotak amal, karena dikiranya demikian niat orang dibelakang tadi dan mengeser kotak amal tersebut ke sampingnya. Namun orang tadi bilang, “Pak, itu tadi uang bapak yg tercecer setelah bapak memasukkan dompet tadi

Ps. ambil sendiri hikmahnya ^_^

SuperMan dalam SuperTeam

Sebuah tim adalah lebih dari sekedar sekumpulan orang. Ini adalah proses memberi dan menerima.” (Barbara Glacel & Emile Robert Jr)

Di sebuah hutan, ada seekor Rusa yang bersahabat dengan seekor Monyet. Suatu ketika, mereka hendak menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Ketika mereka sedang berdiskusi, tampak seekor Tupai mengamati mereka. Mereka pun meminta pandangan dari Tupai tersebut untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Si Tupai kemudian menyampaikan bahwa siapa yang paling cepat dapat mengumpulkan 10 buah kenari adalah yang lebih unggul. Tanpa dikomando, Rusa dan Monyet segera meluncur ke pohon kenari terdekat. Rusa tiba lebih dulu namun terpaku bingung bagaimana caranya mengambil buah kenari. Tak lama kemudian, Monyet datang menyusul dengan bergelayutan dari pohon ke pohon. Dalam waktu singkat, Si Monyet sudah ada di atas pohon kenari dan mulai memetik buahnya. Setelah terkumpul 10 buah, Si Monyet tersenyum pada Rusa di bawah pohon dan segera kembali ke tempat Tupai. Merasa kalah, sambil menggerutu Rusa pun kembali ke tempat Tupai.

Di tempat Tupai, Rusa bertemu dengan seekor Jerapah, sementara Si Monyet masih hanyut dalam kemenangan. Rusa protes karena kompetisi yang adil seharusnya memungkinkan setiap pesertanya meraih kemenangan, sementara kompetisi yang diajukan Si Tupai takkan mungkin dimenangkannya karena tidak dapat memanjat. Jerapah coba menengahi, dengan leher panjangnya ia melihat ada batu besar di puncak bukit. Rusa mengetahui batu yang dimaksud, dari atas pohon Si Monyet pun dapat melihatnya. Jerapah mengusulkan siapa yang lebih dulu mencapainya dialah yang lebih unggul. Rusa dan Monyet mengangguk dan langsung meluncur ke batu tersebut. Rusa lewat jalur darat, Monyet melompat-lompat dari pohon ke pohon. Ternyata untuk mencapai bukit tersebut harus melewati padang rumput luas. Rusa semakin mempercepat larinya sementara Monyet kian terengah-engah apalagi rumput yang cukup tinggi cukup menyulitkannya mengejar Rusa. Baru sampai tengah padang rumput, Rusa sudah berdiri tegak di atas batu besar di puncak bukit seraya tersenyum penuh kemenangan. Kali ini Si Monyet merasa diperlakukan tidak adil karena tidak mungkin mengalahkan kecepatan lari Rusa di padang rumput, apalagi sambil merangkak.

Rusa segera turun untuk menyapa Monyet yang masih menggerutu, tiba-tiba muncul Kancil yang dikenal cerdik dan bijak di padang rumput tersebut. Mereka pun sepakat menjadikan Kancil sebagai juri dan menceritakan perihal pertandingan yang sudah mereka lalui kepada Si Kancil. Sambil tersenyum, Si Kancil mengatakan bahwa kompetisi menentukan keunggulan haruslah yang menantang. Kancil menceritakan bahwa di seberang sungai ada pohon besar yang buahnya rendah dan berwarna-warni. Siapa yang bisa mengambil buah tersebut dialah yang lebih unggul. Rusa dan Monyet pun kembali saling berlomba. Rusa tiba lebih dulu di tepi sungai, dengan sigap ia mampu menyeberangi sungai yang cukup lebar dengan air yang cukup berlimpah. Tiba di seberang sungai, ia langsung menuju pohon besar itu dan melihat buah yang dimaksud. Buah tersebut memang cukup rendah, namun seberapa keras Rusa berusaha menggapainya, ia tetap tidak mampu. Di seberang sana, Monyet tidak mampu menyeberangi sungai yang tidak ada jembatan, bebatuan ataupun pohon yang dapat dipijaknya. Sungai yang lebar dan cukup dalam baginya, membuat Monyet hanya dapat memandangi Rusa yang kesulitan untuk mengambil buah beraneka warna. Lama tidak ada pemenang, Monyet pun menyerah, ia meminta Rusa menjemputnya dan ia akan mengambilkan buah tersebut untuk Rusa. Rusa juga mulai putus asa, akhirnya ia menyeberangi sungai untuk menjemput Monyet yang kemudian naik di atas punggungnya dan mengantarnya ke pohon besar tersebut. Tanpa kesulitan, Si Monyet mengambil buah tersebut dan memberikannya kepada Rusa. Kancil yang sudah ada di seberang sungai tersenyum dan mengatakan bahwa mereka berdua adalah pemenangnya.

* * *

Seekor kelinci, sedang bermain dan mencari makan di mulut gua. Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seekor rubah yang hendak memangsanya. Kelinci tersebut langsung lari ke dalam gua dikejar oleh Si Rubah. Terdengar perkelahian sengit di dalam gua. Lima menit kemudian, Kelinci keluar gua dengan membawa tulang paha Rubah. Beberapa waktu kemudian, tampak seekor Serigala yang kelaparan dan tengah mencari mangsa. Kelinci pun lari ke dalam gua dan dikejar Serigala. Perkelahian sengit kembali terdengar dari dalam gua. Lima belas menit kemudian, Kelinci keluar gua dengan membawa tulang kaki Serigala. Beberapa jam kemudian, muncul seekor Beruang yang tengah mencari makan. Melihat Kelinci yang melarikan diri ke dalam gua, Beruang tersebut mengejarnya. Terdengar kembali perkelahian yang sengit dari dalam gua. Setengah jam kemudian, Kelinci keluar gua dengan membawa potongan jari beruang. Tak terasa waktu berlalu, Kelinci pun mendekati mulut gua dan berkata, “Sudah petang, kita lanjutkan esok lagi!”. Tak lama kemudian dari dalam gua keluar seekor Singa bertubuh besar. “Baik, terima kasih. Besok kita lanjutkan lagi”, jawab Sang Raja Hutan yang tampak kenyang tersebut.

* * *

Berbicara tentang membangun tim, secara sederhana ada dua alasan mendasar mengapa kita perlu bekerja sama. Pertama, setiap diri kita punya keterbatasan sehingga ada hal-hal yang tidak dapat diselesaikan sendirian tanpa bantuan orang lain. Dari fakta mendasar inilah manusia diidentifikasi sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya. Kedua, ada hal-hal yang akan lebih cepat terselesaikan atau hasilnya akan lebih optimal ketika tidak dikerjakan sendirian. Disinilah optimalisasi dari zoon politikon, dimana kecenderungan manusia untuk bergaul dan bermasyarakat dapat dioptimalkan untuk meningkatkan produktivitas atau saling memberikan keuntungan.

Rusa punya keterbatasan karena tidak dapat memanjat, Monyet punya keterbatasan karena tidak dapat menyeberangi sungai. Karenanya usaha untuk dapat memetik buah di seberang sungai hanya dapat dilakukan jika Rusa dan Monyet bekerja sama. Disinilah kerja sama akan saling melengkapi karakteristik komponen-komponennya. Kelinci butuh rasa aman ketika bermain dan mencari makan, Singa butuh makan dan karena untuk mengejar mangsa membutuhkan energi besar bahkan taruhan nyawa, maka mangsa yang siap santap tentu akan lebih menguntungkan. Keduanya dapat memenuhi kebutuhannya secara optimal ketika bersinergi. Disinilah kerja sama akan mengikis perbedaan demi hasil yang saling menguntungkan.

Namun ada hal lain yang harus dicermati dalam kedua kisah di atas terkait upaya untuk membangun kerja sama. Ternyata untuk membangun tim yang kokoh, ada satu tabiat yang harus diminimalisir yaitu kesombongan. Kerja sama tidak akan terbangun dari komponen-komponen yang penuh kesombongan. Jika Rusa dan Monyet sama-sama merasa lebih unggul dari lainnya, buah di seberang sungai takkan dapat diperoleh. Butuh itikad baik dan kelapangan hati untuk memulai bangunan kerja tim yang kokoh. Jika Singa merasa besar dan hebat tentu ia tidak akan butuh kerja sama dengan Kelinci yang kecil. Butuh kebesaran jiwa dan kecerdasan emosional yang tinggi untuk mencapai hasil yang lebih besar buah dari kerja sama. Disinilah kerja sama tidak menuntut adanya SuperMan, melainkan potensi komponen-komponennya berpadu menjadi SuperTeam.

SuperMan vs SuperTeam
Perhatikan tim sepakbola yang hebat, kemampuan di setiap lininya hampir merata. Tidak hanya produktif menyerang dan kokoh bertahan, bola terus mengalir cerdas membangun penyerangan sekaligus pertahanan, dan semua komponen terlibat. Bedakan dengan tim sepakbola bertabur bintang yang tiap komponennya hendak unjuk kebolehan. Permainan kolektif tidak terjadi, kerja sama tidak terbangun, lini bertahan rapuh dan lini serang pun tumpul. Tak heran tim Indonesia All Star sering kalah ketika bertanding. Apa yang membedakan antara tim sepakbola yang hebat dengan tim bertabur bintang? Ya, dalam membangun tim, SuperTeam lebih dibutuhkan daripada SuperMan. Apalagi jika ada tim yang hanya mengandalkan seorang SuperMan dalam timnya untuk meraih kemenangan, sudah pasti akan lebih banyak kekecewaan yang diperoleh.

Ada berbagai perbedaan mendasar antara SuperMan dengan SuperTeam. SuperMan akan unjuk kebolehan diri sementara SuperTeam akan mengoptimalisasi peran komponen-komponennya. SuperMan akan fokus pada dirinya sendiri dan tidak peduli yang lain sementara SuperTeam akan memberikan perhatian pada seluruh anggota di setiap lini. Jika meraih keberhasilan, SuperMan akan menepuk dada seraya membanggakan kontribusi besarnya. Sementara itu SuperTeam akan lebih tahu diri jika meraih kesusksesan. Mereka sadar keberhasilan terwujud karena kontribusi setiap anggotanya. SuperMan akan menggerakkan orang lain untuk mengikutinya sedangkan SuperTeam akan membangun sistem yang mendorong anggotanya untuk mengikuti aturan main. Semakin jelas bahwa keunggulan SuperMan sifatnya lebih temporer dengan benefit yang terbatas, sementara SuperTeam akan membangun keunggulan jangka panjang dengan kebermanfaatan yang lebih luas dan merata.

Lalu mungkinkah ada SuperMan dalam SuperTeam? Tidak. Karena syarat utama membentuk SuperTeam adalah tiap anggotanya, sehebat apapun, harus menanggalkan jubah SuperMan-nya. Tiap personal tetap memiliki keunggulan namun tanpa embel-embel SuperMan. Tetap akan ada komponen dengan potensi di atas rata-rata timnya namun tetap dalam kerangka SuperTeam. Tetap akan ada anggota dengan karakter kepemimpinan yang menonjol namun perannya tetap terbingkai dalam tujuan bersama. Untuk mengoptimalkan peran masing-masing, tiap komponen SuperTeam bahkan harus membangun keunggulan pribadi, dan hal ini tidaklah kontraproduktif dengan aturan main SuperTeam. Bahkan mungkin saja ada suatu titik dimana pribadi yang penuh keunggulan tersebut meninggalkan SuperTeam untuk kemudian membentuk atau bergabung dengan SuperTeam lain dengan visi yang lebih besar dan sejalan. Intinya, SuperTeam tidaklah mengekang kelebihan yang dimiliki anggotanya, bahkan dapat terus mengembangkannya tanpa harus bersifat individualis.

Sebagai makhluk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya dan tentunya memiliki target hidup masing-masing, setiap kita tentunya perlu untuk terus mengembangkan kualitas diri. Menjadi manusia yang memiliki banyak keunggulan bukanlah suatu kesalahan. Menjadi SuperMan tidaklah keliru. Hanya saja dalam konteks bekerja sama, ada tujuan yang lebih besar yang diperjuangkan sehingga tidaklah perlu label SuperMan pun upaya pengembangan kualitas diri terus dilakukan. Superman –dalam film—pun tidak unjuk kemampuan dalam bermasyarakat, tidak sombong dalam interaksi dengan rekan kerjanya. Karena ia pun sadar bukan Superman yang dibutuhkan dalam membangun kerja tim, kelebihan yang diumbar hanya akan membuat batasan, mengekang optimalisasi potensi seluruh personil tim. Yuk, jadi manusia hebat yang rendah hati dan terhimpun dalam SuperTeam sehingga manfaatnya dapat lebih luas dirasakan.

Apa yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk bekerja dalam sistem, dan menjadi berarti bagi setiap orang, setiap tim, setiap platform, setiap divisi, setiap komponen yang ada tidak untuk keuntungan kompetitif individu atau pengakuan, tetapi untuk kontribusi terhadap sistem secara keseluruhan atas dasar menang-menang.
(W. Edward Deming)

Menanti Buih Jadi Gelombang

Rasulullah SAW berkata, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Dunia Islam seolah tidak pernah berhenti terkoyak. Setelah berlalunya masa-masa kritis penindasan terhadap muslim di Chechnya, Bosnia, Afghanistan, dan berbagai negara lainnya, pertumpahan darah di berbagai Negara Timur Tengah belakangan ini kian menambah deretan ironi umat ini. Sibuk dalam ketidakpedulian bahkan memusuhi saudaranya sendiri. Pada saat Muslim Rohingya Arakan dibantai umat Budha Rakhine, Bangladesh dan Pakistan yang notabene mayoritas penduduknya beragama Islam malah berebut ogah untuk membantu saudaranya dengan berbagai alasan. Di saat bersamaan, Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia malah lebih sibuk dengan berita bebasnya Ariel Peter”Porn”. Atau pada saat beredarnya kasus Save Maryam yang mencatut Indonesia sebagai sasaran empuk kristenisasi, bangsa ini malah fokus mencurigai kredibilitas program dan lembaga yang menyoroti hal tersebut. Terlepas dari data yang tidak valid, sikap introspektif dan berprasangka baik tentu seharusnya lebih dikedepankan. Atau pada saat Iran dipojokkan oleh USA dan Israel, antara Negara Timur Tengah malah saling bertikai seraya cari aman dengan menutup mata dari ketidakadilan dunia.

Dunia Islam tercabik-cabik tentu juga karena ada musuh-musuh Islam yang terus merongrong. Zionis Israel terus membantai umat Islam di Palestina, tanpa kecuali, dalam kondisi apapun. Amerika Serikat dan sekutunya turut andil dalam memicu pergolakan di Timur Tengah. Bahkan penghinaan terhadap Rasulullah SAW pun secara terang-terangan dipublikasikan untuk melihat respon dan memetakan kekuatan umat Islam. Namun perlu disadari bahwa musuh terbesar dari umat ini adalah dirinya sendiri. Mudah diadu domba, gemar bertikai dan berpecah belah. Tidak lagi merasa menjadi satu tubuh. Sibuk dengan diri sendiri dan tidak peduli dengan nasib saudaranya yang lain. Izzah sebagai seorang muslim dipandang sebagai sikap gegabah, berbagai perlakuan buruk seolah harus pasrah diterima dan itulah yang dianggap sebagai sikap bijak dan sabar. Muslim yang baik digambarkan sebagai pribadi yang tidak tersinggung ketika dihina, peduli dengan orang terdekat tidak perlu memikirkan yang jauh, lebih baik dibantai dan dizhalimi, daripada menzhalimi, berprasangka baik terhadap orang lain termasuk musuh Allah, bersikap kritis terhadap sesama umat Islam dan tidak perlu menunjukkan identitas keislamannya. Al Islamu mahjubun bil muslimin.

Bukan Sekedar Kuantitas
Secara kuantitas, jumlah umat Islam yang lebih dari 1,5 miliar (sekitar 22,5% dari total penduduk dunia) jelas tidak sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan umat Yahudi yang hanya 1/107 dari total umat Islam. Namun jika bicara tentang kualitas, umat Islam seharusnya introspeksi. Sebagian besar umat Islam masih hidup di bawah garis kemiskinan, tingkat literasinya juga rendah. Kalaupun ada yang pintar dan kaya, sebagian besar gaya hidupnya tidak Islami. Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam memang banyak yang kaya Sumber Daya Alam, tidak heran Qatar dan Uni Emirat Arab masuk dalam daftar 10 negara terkaya, sayangnya gaya hidup hedonistik dan apatis sedemikian mengakar sehingga tidak menghasilkan perbaikan bagi umat Islam kebanyakan. Tidak heran juga sebuah penelitian menghasilkan bahwa Negara paling Islami adalah Selandia Baru dilihat dari implementasi nilai-nilai kebaikan universal seperti keadilan, supremasi hukum, sistem ekonomi, pendidikan dan kesehatan, kedisiplinan dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Amerika Serikat dan Israel masuk 100 besar, lebih islami dari Indonesia dan beberapa Negara Timur Tengah. Bukannya introspeksi, umat Islam malah sibuk menuding adanya konspirasi global di balik penelitian tersebut dan menghibur diri bahwa yang terpenting dalam menilai keislaman adalah tauhid, bukan akhlak.

Indonesia sebagai Negara dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia juga terlena dengan kuantitas. Mayoritas masyarakat miskin dan bodoh di Indonesia beragama Islam, non muslim yang minoritas malah cenderung hidup sejahtera. Belum lagi jika dipersoalkan keislaman masyarakat, betapa banyak yang hanya Islam KTP, tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Betapa banyak umat Islam di Indonesia yang tidak mengerjakan shalat, padahal shalat adalah batas pembeda antara muslim dan kafir. Betapa banyak umat Islam di Indonesia yang tidak berzakat atau tidak berpuasa di Bulan Ramadhan. Betapa banyak umat Islam di Indonesia yang masih menyekutukan Allah SWT. Betapa banyak umat Islam di Indonesia yang melakukan korupsi, kejahatan dan berbagai kerusakan di muka bumi. Jika dihitung-hitung, umat Islam yang benar-benar berislam mungkin tidak sampai setengah dari penduduk Indonesia, itupun sebagian besar ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Sekali lagi, umat Islam seringkali bangga dengan kuantitas, padahal kekuatan sejati ada di kualitas. Kebanggaan dengan besarnya jumlah tanpa prestasi yang membanggakan ini jelas rapuh, karena Allah pun telah mengingatkan betapa banyak golongan yang kecil mampu mengalahkan golongan yang besar karena kualitasnya.

Kebangkitan Itu Semakin Dekat
Adalah fakta sejarah, umat Islam pernah menguasai ilmu pengetahuan yang berpengaruh di seluruh dunia. Sebut saja Al Kindi yang menemukan teori relativitas, Az Zahrawi dengan operasi bedahnya, Abbas Ibn Firnas dengan mesin terbangnya, Al Jabar dan Umar Khayam di bidang matematika, Ibn Al Haitham dengan alat optiknya, Ibnu Sina yang dijuluki medicorum principal (rajanya para dokter), Al Khazini penemu teori gravitasi, Jabir bin Hayyan sang Bapak Ilmu Kimia dan masih banyak lagi. Universitas dan observatorium dikenalkan oleh ilmuwan muslim, bahkan sikat gigi, sabun dan shampo juga ditemukan oleh ilmuwan muslim. Segala kecanggihan teknologi saat ini tidak akan terjadi jika saja Al Khawarizmi tidak menemukan angka nol yang menjadi dasar bahasa komputasi. Hanya saja seolah ada konspirasi untuk menenggelamkan fakta sejarah tersebut. Sayangnya lagi, muslim yang mengetahui fakta sejarah itu kemudian hanya terhanyut pada euphoria masa lalu dan mengutuk teori konspirasi tanpa meningkatkan produktivitas apa – apa di masa sekarang.

Dunia semakin tua dan konspirasi global memang terjadi. Lihat saja rekayasa dalam pemberian nobel perdamaian kepada Obama tahun 2009 di tengah gencarnya AS menyerang Afghanistan. Dominasi AS dan Eropa dalam memperoleh nobel juga mengundang tanda tanya besar. Tidak terlalu mengherankan hanya belasan tokoh beragama Islam yang berhasil memperoleh nobel dan kesemuanya memiliki pemikiran yang sejalan dengan dunia barat. Masyarakat dunia juga semakin cerdas melihat kesewenang-wenangan Polisi Dunia ataupun betapa tidak adilnya hak veto beberapa Negara di tengah dengung demokrasi. Kesadaran masyarakat dunia juga diiringi meningkatnya jumlah orang yang berislam, secara kualitas dan kuantitas. Ekonomi liberal juga kian dekat dengan kehancurannya ditandai dengan gelombang krisis ekonomi yang melanda. Perlawanan terhadap hegemoni barat juga semakin terlihat, dunia semakin panas. Tanda-tanda akhir zaman semakin banyak terlihat, sekaligus mengisyaratkan bahwa kebangkitan Islam itu kian dekat.

Buih itu akan jadi gelombang ketika umat Islam dapat mengobati penyakit wahn yang menjangkitinya. Semakin cinta dengan akhirat dan tidak takut mati. Kecintaan akan akhirat akan membuat umat Islam menguasai dunia. Mereka yang selamat dari tipu daya dunia akan menggenggam dunia. Kematian adalah sesuatu hal yang pasti, sikap tidak takut mati akan mendorong umat Islam berani mati dengan mengukir prestasi. Allah SWT pun akan menanamkan kembali rasa takut pada musuh-musuh Allah sehingga kepemimpinan dunia kembali dipegang oleh umat Islam. Impian yang bukan sebatas bunga tidur jika umat Islam mau bangkit tidak terus terpuruk dalam tidur panjangnya. “Apabila ummatku mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam darinya; dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, maka terdindinglah keberkahan wahyu (Al-Qur’an)” (HR. Tirmidzi)

Bermula Dari Amalan Sederhana
Gelombang kebangkitan Islam akan terjadi ketika umat Islam tak lagi merasa inferior akan identitas keislamannya, bangga sebagai muslim. Identitas yang diharapkan tentu bukan sekedar simbol, melainkan implementasi berislam dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi teladan dalam menerapkan kedisiplinan, keadilan, kepedulian, semangat menuntut ilmu dan berprestasi serta berbagai nilai-nilai kebaikan Islam yang universal. Kesempurnaan akidah dan ibadah terimplementasi dalam kemuliaan akhlak dan kebaikan dalam bermuamalah. Itulah jati diri Islam. Islam pun tak lagi terhijab oleh umat muslim. Kunci utama perbaikan adalah dari diri sendiri yang memulai berbuat baik. Perbuatan baik akan menular sebagaimana tabiat buruk dapat menular. Dan ketika nilai-nilai kebaikan Islam sudah menjadi trend, kebangkitan Islam takkan lagi terbendung.

Gelombang kebangkitan Islam akan terjadi ketika Al Qur’an tidak lagi menjadi sesuatu yang diacuhkan. Al Qur’an dikembalikan posisinya sebagai pedoman hidup dan sumber inspirasi. Interaksi umat Islam dengan Al Qur’an mencapai titik puncaknya. Dibaca dengan tartil, ditadaburi dengan khusyu, dihapal dengan istiqomah, diajarkan dengan benar, dan diamalkan dengan sempurna. Generasi Qur’ani yang unik jilid kedua akan mendorong keberkahan dan pertolongan Allah SWT sehingga kebangkitan Islam menjadi nyata. Dan kesemuanya itu dimulai dari aktivitas-aktivitas kecil kita untuk meningkatkan interaksi dengan Al Qur’an, dimulai dari satu ayat.

Gelombang kebangkitan Islam akan terjadi ketika masjid-masjid penuh dengan jama’ah dan aktivitas produktif. Ketika shalat Isya dan Shubuh berjama’ah seramai shalat Jum’at. Ketika Allah SWT benar-benar diagungkan di setiap waktu shalat, sehingga tidak ada aktivitas selain mengagungkan-Nya. Ketika ramai umat Islam berbondong-bondong mendatangi masjid, seperti ramainya saat ini orang-orang yang mendatangi pusat perbelanjaan ataupun pusat hiburan. Kekuatan umat Islam dibangun dari masjid, kualitas maupun kuantitas. Kekuatan yang tentu akan menggetarkan musuh-musuh Allah. Persatuan dan kesatuan umat Islam yang dibangun dari hidayah keimanan yang diresonansikan dari masjid-masjid tentu akan memperkokoh ukhuwah islamiyah, salah satu modal penting meraih kemenangan. Dan kesemuanya itu diawali dari langkah-langkah kecil kita mendatangi masjid setiap mendengar panggilan adzan seraya mengajak orang lain untuk turut mendatanginya.

Dan gelombang kebangkitan Islam akan terjadi ketika para ulama dan umara dapat menjadi teladan dalam berpikir dan bertindak. Kekuatan kepemimipinan ini penting. Setiap kebangkitan selalu menghadirkan pemimpin berkualitas yang berani menghadapi berbagai fitnah kepemimpinan, karena memang sebagian besar manusia cukup nyaman menjadi pengikut. Setiap perubahan selalu menghadirkan para penggerak dengan impian besar, sebab sebagian besar orang masih terlena dengan status quo. Dan dalam setiap kebangkitan, selalu ada motor perubahan yang menjadi model, mampu menggerakkan dan menyatukan hati banyak orang. Tentu akan lebih utama ketika setiap muslim berupaya menjadi ulama dan umara yang baik dan mengusung perbaikan. Namun realitanya mungkin tidak semua orang mampu menjadi pemimpin penggerak perubahan. Akhirnya, upaya kecil untuk melakukan perbaikan sebenarnya sudah cukup untuk mendukung perubahan, tidak sekedar menjadi penonton, apalagi penghambat perubahan. Dan gelombang kebangkitan itu hanya dapat dimulai oleh orang-orang yang berani, dijalankan oleh orang-orang yang cerdas, dan dimenangkan oleh orang-orang yang ikhlash.

“Akan datang pada manusia satu zaman, di kala itu Islam tidak tinggal melainkan namanya, dan al-Qur’an tidak tinggal melainkan tulisannya, masjid-masjidnya bagus namun kosong dari petunjuk, ulama-ulamanya termasuk manusia paling jelek yang berada di kolong langit, karena dari mereka timbul beberapa fitnah dan akan kembali kepada mereka”. (HR. Baihaqi)